Pak Reman pemburu Wanita Berjilbab 1
- Anggi, Bella dan Citra -
Dikantor..
Pak Reman duduk dikursinya dengan penuh senyum.
Sudah beberapa bulan ini kehidupanya berubah. Adanya 3 wanita muda yang semuanya sangat cantik dan siap setiap saat kapanpun dia butuhkan untuk melayani nafsu seksnya.
Ketiga wanita itu terlihat sopan dan alim jika diluar, tapi jika sudah bersama Pak Reman akan berubah total menjadi binal.
Apalagi ketiga budak seksnya itu masih tergolong pengantin baru yang belum terlalu sering disentuh suaminya masing-masing, menjadikan tubuh mereka masih sangat padat dan lubang surganya masih sangat sempit.
Sedang asyik melamun tiba-tiba Pak Reman dipanggil oleh seseorang, yang tak lain adalah Bu Anggi, boss besarnya dikantor.
“Pak Reman tolong keruangan saya sebentar” perintah bu Anggi.
“Ada apa bu?” tanya Pak Reman.
“Nanti saya sampaikan didalam saja” jawab Bu Anggi.
Pak Reman jadi heran tapi dia sudah menebak apa yang mau disampaikan Bu Anggi.
"Ini pasti karena seminggu lebih dia tidak masuk kerja." pikirnya.
Rencananya memang Pak Reman cuma bolos 3 hari untuk bersenang-senang dengan Fika setelah berhasil memperkosanya tempo hari, tapi ternyata tubuh Fika bikin dia ketagihan, dia belum puas dan terus-terusan berada dirumah Fika sampai seminggu lebih. Untungnya anak istrinya sedang pulang ke kampung jadi dia bebas menginap dirumah Fika.
Eva yang sekarang jadi atasannya juga tidak bertanya karena sudah tau apa yang dilakukan Pak Reman. Tapi ternyata Bu Anggi yang mempermasalahkannya. Akhirnya Pak Remanpun pergi menyusul Bu Anggi keruangannya.
“Ada apa bu manggil saya?” tanya Pak Reman.
“Bapak kemana seminggu lebih nggak masuk kerja?” tanya balik Bu Anggi.
“Saya nggak enak badan aja bu” jawab Pak Reman.
“Sampai seminggu lebih? Kenapa nggak ada surat dokter?” tanya Bu Anggi.
“Saya nggak sempet ke dokter, nggak ada yang ngantar, anak istri saya lagi pulang kampung, lagian saya udah ngasih tau Bu Eva” jawab Pak Reman.
“Iya Bu Eva memang udah bilang, tapi saya tetep nggak terima karena bapak nggak ada surat dokternya, jadi saya anggap bapak bolos tanpa keterangan selama 8 hari” kata Bu Anggi.
“Lho kok gitu sih?” protes Pak Reman.
“Kantor kita ini punya aturan pak, meskipun bapak ini masih saudara sama suami saya, tetap saja kalo nggak masuk harus ada keterangannya. Ini sakit seminggu lebih nggak pake surat. Jadi bapak terpaksa saya kasih SP lagi” jawab Bu Anggi.
“Lho ya nggak bisa gitu dong bu”
“Maaf pak, ini udah aturan. Bahkan saya masih bermurah hati nggak mecat bapak. silahkan terima surat ini” kata Bu Anggi sambil memberikan surat peringatan itu kepada Pak Reman.
“Ini sudah SP2 ya pak, saya harap bapak nggak ngelakuin kesalahan lagi dalam sebulan ini, karena kalo sampai kena SP lagi, mau nggak mau bapak harus dipecat” lanjut Bu Anggi.
Tanpa berkata apapun Pak Reman langsung mengambil surat itu dan langsung keluar dari ruangan Bu Anggi. Mukanya merah terlihat marah. Diapun mencari Eva untuk memprotesnya, kenapa selama tidak masuk dia tidak melindunginya.
“Va, ikut saya bentar”
“Eh kenapa pak?” tanya Eva.
“Udah ikut aja dulu”
Eva yang kebingungan langsung saja mengikuti Pak Reman, ternyata lelaki itu menuju ke gudang belakang kantor yang dipakai untuk menyimpan barang-barang bekas. Karena memang Pak Reman adalah penanggungjawab gudang itu maka mudah saja dia membuka kunci dan masuk.
Evapun mengikuti Pak Reman, lalu lelaki itu menutup kembali pintu gudang.
“Ada apa sih pak?” tanya Eva masih kebingungan.
“Aku dapet SP lagi” jawab Pak Reman.
“Lho kok bisa?” tanya Eva.
“Anggi nggak terima alesanku nggak masuk kemarin soalnya nggak ada surat dokternya. Kamu kenapa nggak bikinin surat buat aku?” tanya Pak Reman.
“Waduh iya, saya lupa pak” jawab Eva.
“Lupa? Gimana bisa? Kamu ini kan pegawai teladan disini, masak gitu aja bisa lupa?”
“Yaa gimana pak, saya pas lagi banyak kerjaan setelah nggak masuk 3 hari yang kita nginep ditempat Fika itu. Saya aja sampe lembur lho pak, jadinya kelupaan” jawab Eva.
“Alah banyak alesan kamu. Pokoknya kamu harus dihukum sekarang”
“Dihukum apa pak?”
“Buka baju kamu” perintah Pak Reman.
“Loh pak disini? Jangan disini pak, jangan sekarang, nanti ketahuan orang” tolak Eva.
“Udah nurut aja. Udah jam makan siang juga, yang lain udah pada keluar nyari makan, kita punya waktu 1 jam, cepetan”
“Tapi pak, apa nggak entar aja sekalian pulang kantor? saya janji bakal ngelayanin bapak”
“Nggak, aku maunya sekarang, buruan”
Eva tahu kalau Pak Reman sudah menyuruh maka sulit untuk bisa ditolaknya. Akhirnya dia menurut saja, dia buka satu persatu pakaian kerjanya itu. Didalamnya dia sudah tidak memakai beha dan celana dalam lagi, karena sejak diperkosa oleh Pak Reman, dia memang tidak boleh memakai kedua pakaian dalam itu kalau dikantor.
Kini Eva sudah telanjang bulat, terlihat bentuk perutnya yang mulai sedikit membuncit karena hamil anak Pak Reman.
“Kamu ini lagi hamil malah tambah nafsuin ya Va. Sekarang kesini, isepin kontolku” perintah Pak Reman.
Tanpa membantah Eva langsung menurunkan celana Pak Reman. Penisnya yang belum keras itu langsung dipegangnya. Dikocok-kocok perlahan sambil dijilati kepalanya. Eva yang belum pernah melakukan ini kepada suaminya sekarang semakin mahir mengulum penis Pak Reman.
Beberapa saat dikocok dan dijilati membuat penis itu mulai tegang.
Pak Reman langsung saja memegang kepala Eva dan menggenjot penisnya pada mulut Eva dengan kasar.
Eva tak siap tapi tidak melawan, dia sudah tahu kelakuan Pak Reman yang seperti ini.
Dikantor..
Pak Reman duduk dikursinya dengan penuh senyum.
Sudah beberapa bulan ini kehidupanya berubah. Adanya 3 wanita muda yang semuanya sangat cantik dan siap setiap saat kapanpun dia butuhkan untuk melayani nafsu seksnya.
Ketiga wanita itu terlihat sopan dan alim jika diluar, tapi jika sudah bersama Pak Reman akan berubah total menjadi binal.
Apalagi ketiga budak seksnya itu masih tergolong pengantin baru yang belum terlalu sering disentuh suaminya masing-masing, menjadikan tubuh mereka masih sangat padat dan lubang surganya masih sangat sempit.
Sedang asyik melamun tiba-tiba Pak Reman dipanggil oleh seseorang, yang tak lain adalah Bu Anggi, boss besarnya dikantor.
“Pak Reman tolong keruangan saya sebentar” perintah bu Anggi.
“Ada apa bu?” tanya Pak Reman.
“Nanti saya sampaikan didalam saja” jawab Bu Anggi.
Pak Reman jadi heran tapi dia sudah menebak apa yang mau disampaikan Bu Anggi.
"Ini pasti karena seminggu lebih dia tidak masuk kerja." pikirnya.
Rencananya memang Pak Reman cuma bolos 3 hari untuk bersenang-senang dengan Fika setelah berhasil memperkosanya tempo hari, tapi ternyata tubuh Fika bikin dia ketagihan, dia belum puas dan terus-terusan berada dirumah Fika sampai seminggu lebih. Untungnya anak istrinya sedang pulang ke kampung jadi dia bebas menginap dirumah Fika.
Eva yang sekarang jadi atasannya juga tidak bertanya karena sudah tau apa yang dilakukan Pak Reman. Tapi ternyata Bu Anggi yang mempermasalahkannya. Akhirnya Pak Remanpun pergi menyusul Bu Anggi keruangannya.
“Ada apa bu manggil saya?” tanya Pak Reman.
“Bapak kemana seminggu lebih nggak masuk kerja?” tanya balik Bu Anggi.
“Saya nggak enak badan aja bu” jawab Pak Reman.
“Sampai seminggu lebih? Kenapa nggak ada surat dokter?” tanya Bu Anggi.
“Saya nggak sempet ke dokter, nggak ada yang ngantar, anak istri saya lagi pulang kampung, lagian saya udah ngasih tau Bu Eva” jawab Pak Reman.
“Iya Bu Eva memang udah bilang, tapi saya tetep nggak terima karena bapak nggak ada surat dokternya, jadi saya anggap bapak bolos tanpa keterangan selama 8 hari” kata Bu Anggi.
“Lho kok gitu sih?” protes Pak Reman.
“Kantor kita ini punya aturan pak, meskipun bapak ini masih saudara sama suami saya, tetap saja kalo nggak masuk harus ada keterangannya. Ini sakit seminggu lebih nggak pake surat. Jadi bapak terpaksa saya kasih SP lagi” jawab Bu Anggi.
“Lho ya nggak bisa gitu dong bu”
“Maaf pak, ini udah aturan. Bahkan saya masih bermurah hati nggak mecat bapak. silahkan terima surat ini” kata Bu Anggi sambil memberikan surat peringatan itu kepada Pak Reman.
“Ini sudah SP2 ya pak, saya harap bapak nggak ngelakuin kesalahan lagi dalam sebulan ini, karena kalo sampai kena SP lagi, mau nggak mau bapak harus dipecat” lanjut Bu Anggi.
Tanpa berkata apapun Pak Reman langsung mengambil surat itu dan langsung keluar dari ruangan Bu Anggi. Mukanya merah terlihat marah. Diapun mencari Eva untuk memprotesnya, kenapa selama tidak masuk dia tidak melindunginya.
“Va, ikut saya bentar”
“Eh kenapa pak?” tanya Eva.
“Udah ikut aja dulu”
Eva yang kebingungan langsung saja mengikuti Pak Reman, ternyata lelaki itu menuju ke gudang belakang kantor yang dipakai untuk menyimpan barang-barang bekas. Karena memang Pak Reman adalah penanggungjawab gudang itu maka mudah saja dia membuka kunci dan masuk.
Evapun mengikuti Pak Reman, lalu lelaki itu menutup kembali pintu gudang.
“Ada apa sih pak?” tanya Eva masih kebingungan.
“Aku dapet SP lagi” jawab Pak Reman.
“Lho kok bisa?” tanya Eva.
“Anggi nggak terima alesanku nggak masuk kemarin soalnya nggak ada surat dokternya. Kamu kenapa nggak bikinin surat buat aku?” tanya Pak Reman.
“Waduh iya, saya lupa pak” jawab Eva.
“Lupa? Gimana bisa? Kamu ini kan pegawai teladan disini, masak gitu aja bisa lupa?”
“Yaa gimana pak, saya pas lagi banyak kerjaan setelah nggak masuk 3 hari yang kita nginep ditempat Fika itu. Saya aja sampe lembur lho pak, jadinya kelupaan” jawab Eva.
“Alah banyak alesan kamu. Pokoknya kamu harus dihukum sekarang”
“Dihukum apa pak?”
“Buka baju kamu” perintah Pak Reman.
“Loh pak disini? Jangan disini pak, jangan sekarang, nanti ketahuan orang” tolak Eva.
“Udah nurut aja. Udah jam makan siang juga, yang lain udah pada keluar nyari makan, kita punya waktu 1 jam, cepetan”
“Tapi pak, apa nggak entar aja sekalian pulang kantor? saya janji bakal ngelayanin bapak”
“Nggak, aku maunya sekarang, buruan”
Eva tahu kalau Pak Reman sudah menyuruh maka sulit untuk bisa ditolaknya. Akhirnya dia menurut saja, dia buka satu persatu pakaian kerjanya itu. Didalamnya dia sudah tidak memakai beha dan celana dalam lagi, karena sejak diperkosa oleh Pak Reman, dia memang tidak boleh memakai kedua pakaian dalam itu kalau dikantor.
Kini Eva sudah telanjang bulat, terlihat bentuk perutnya yang mulai sedikit membuncit karena hamil anak Pak Reman.
“Kamu ini lagi hamil malah tambah nafsuin ya Va. Sekarang kesini, isepin kontolku” perintah Pak Reman.
Tanpa membantah Eva langsung menurunkan celana Pak Reman. Penisnya yang belum keras itu langsung dipegangnya. Dikocok-kocok perlahan sambil dijilati kepalanya. Eva yang belum pernah melakukan ini kepada suaminya sekarang semakin mahir mengulum penis Pak Reman.
Beberapa saat dikocok dan dijilati membuat penis itu mulai tegang.
Pak Reman langsung saja memegang kepala Eva dan menggenjot penisnya pada mulut Eva dengan kasar.
Eva tak siap tapi tidak melawan, dia sudah tahu kelakuan Pak Reman yang seperti ini.
Pemandangan digudang ini sungguh mengundang birahi. Seorang wanita cantik yang sedang hamil muda dengan keadaan telanjang bulat sedang berjongkok mengulum penis seorang pria yang usianya jauh diatasnya, yang bahkan bukan suaminya.
Eva benar-benar sudah pasrah kepada Pak Reman, bahkan terlihat dia mulai menikmati waktu Pak Reman menyodokan penisnya dengan kasar.
Beberapa saat kemudian penis itu sudah tegang maksimal. Pak Remanpun menarik penisnya dan membuat Eva berdiri, kemudian dibalikan badan Eva hingga membelakangi Pak Reman.
Dengan tubuh yang sedikit membungkuk, vagina Eva yang belum basah itu mulai digesek-gesek penis Pak Reman.
Eva hanya merem melek menikmatinya. Dia sudah siap sepenuhnya untuk dimasuki lelaki yang telah menghamilinya itu, tapi ternyata Pak Reman punya keinginan lain.
“Eh pak, bapak ngapain? Jangan disitu pak” Eva panik waktu Pak Reman malah mengarahkan penisnya ke lubang anusnya yang belum pernah dijamah.
“Ini hukuman buat kamu Va, aku pengen ngambil jatah dari belakang. Aku pengen merawani bool kamu sekarang”
“Jangan pak. AAAAARHH! pelaan, sakit paaak!”
“Ssstt, diam. Jangan teriak-teriak, entar kedengaran dari luar”
Eva meraih bajunya yang kebetulan tak jauh dari situ. Dia langsung menggigit baju itu dengan keras supaya tidak bersuara ketika disodomi oleh Pak Reman.
Meskipun dengan susah payah tapi penis itu hanya masuk separuhnya.
Eva begitu kesakitan pada anusnya, dia mulai menangis menahan rasa sakit itu. Tangannya menahan sejenak tubuh Pak Reman agar tidak maju lagi karena masih menyesuaikan agar tidak terlalu sakit.
Tapi Pak Reman tak peduli, dia terus saja mendorong penisnya hingga masuk seluruhnya. Pak Reman langsung menggoyangkan penisnya maju mundur.
Tubuh Eva kejang karena kesakitan. Tangis Eva semakin keras dengan mulut masih menggigit bajunya supaya tidak terlalu keras suaranya keluar dan bisa didengar oleh orang lain di luar gudang tersebut. Meskipun kondisi kantor sedang sepi tapi dia tidak mau mengambil resiko. Bisa gawat kalau sampai ketahuan apa yang dia lakukan sekarang ini dengan Pak Reman.
“Uuhh, bener-bener sempit Va. Kamu emang bener-bener nikmat. Nggak salah kamu jadi budakku. Kalian bertiga benar-benar sempurna”
Pak Reman meracau sendiri sambil terus menyodomi Eva. Dia tak peduli kalau wanita itu sedang sangat kesakitan, karena baginya yang penting adalah kepuasannya sendiri.
Tangan Pak Reman tak mau tinggal diam. Kedua buah dada Eva yang padat nan kenyal itu dia remas dari belakang. Sesekali putingnya itu dipilin-pilin supaya Eva tidak terlalu kesakitan. Tapi semua itu masih percuma saja karena lubang anus Eva yang masih sangat sempit itu dipaksa menerima penis Pak Reman yang begitu besar.
Plok plok plok plok
Suara benturan antara kelamin kedua orang itu terdengar jelas didalam gudang. Pak Reman begitu bersemangat sementara Eva sedang mati-matian menahan rasa sakitnya.
Sekitar 5 menit kemudian Eva sudah mulai merasakan sakitnya sedikit berkurang, tapi tetap saja masih terasa sakit. Tangan Pak Reman yang sesekali mengocok vaginanya dengan jarinya memang sedikit membantu, tapi karena kasarnya sodokan kontolnya tetap belum bisa menghilangkan rasa sakit yang diterima oleh Eva.
Pak Reman yang tidak berniat menyiksa Eva lebih lama, karena itulah dia semakin mempercepat sodokanya. Dia ingin secepatnya mendapat orgasme.
Tapi hal itu berkebalikan dengan Eva. Dia merasakan sodokan Pak Reman yang semakin kencang dan kasar itu justru semakin menyakitinya.
“Aaahhh Vaa, aku keluaaaarr”
Akhirnya Pak Reman menyemprotkan spermanya didalam anus Eva.
Saat lelaki itu mencabut penisnya, lubang anus Eva tampak menganga lebar.
Eva sendiri belum bergerak dari posisinya karena masih merasakan sakit disekujur tubuhnya. Setelah diperkosa pertama kali dulu, ini adalah untuk kedua kalinya apa yang dilakukan Pak Reman sangat menyakitinya.
Tapi belum habis rasa sakit Eva, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam gudang itu.
“Wah wah Pak Reman, enak-enakan kok nggak ngajak-ngajak sih? Sama si bos lagi”
“Oalah kamu tho Gus. Udah sini ikutan aja nggak usah banyak omong” jawab Pak Reman yang tadinya kaget, kini lega setelah melihat siapa yang datang.
“Wuiih, badan Bu Eva bagus bener. Lagi hamil, malah bikin nafsu”
“Mas Agus ngapain disini?” tanya Eva panik mencoba menutupi tubuhnya sebisanya.
“Tadi saya denger suara-suara aneh, makanya saya masuk. Ternyata kalian berdua lagi seneng-seneng disini. Jadi pengen ikutan saya” jawab Agus.
Agus adalah salah satu anak buah Eva, sama seperti Pak Reman. Dia juga memiliki kunci gudang ini. Sebenarnya dia tadi cuma ingin mengambil beberapa barang untuk dia bawa pulang nantinya, tapi malah melihat persetubuhan yang dilakukan oleh Eva dan Pak Reman.
Agus yang selama ini melihat Eva sebagai seorang wanita alim yang selalu tertutup penampilannya sempat tak percaya karena selama ini dia cukup mengagumi Eva.
Saat melihat keindahan tubuh Eva yang putih bersih itu membuat nafsu birahinya naik. Apalagi Agus tinggal berjauhan dengan istrinya dan sudah beberapa minggu ini tidak bertemu.
“Yaudah Gus, kamu main-main aja dulu sama Eva, aku ada urusan. Terserah mau kamu apain dia, yang penting kamu jangan cerita sama orang lain, cukup kita aja. Kalo kamu tetep diam, nanti ada bonus buat kamu. Dan kamu Va, layani Agus seperti kamu ngelayanin aku ya”
Setelah itu Pak Reman kembali memakai celananya dan pergi meninggalkan gudang itu membiarkan Agus dan Eva untuk melanjutkan permainan.
Pak Reman cukup lega karena yang memergokinya adalah Agus, yang sering ke lokalisasi bareng dia untuk menyalurkan hasrat mereka.
Pak Reman sebenarnya tidak ada niat untuk berbagi budaknya, tapi demi keamanannya sendiri dia terpaksa membaginya dengan Agus.
===x0x===
Beberapa hari kemudian Agus diberi bonus sesuai janji Pak Reman.
“Gimana Gus? Puas kamu sama gundik-gundikku?”
“Wah puas banget pak, apalagi sama Fika. Sayang banget dia ada suaminya disini, jadi nggak bisa sering-sering”
“Lha kan masih ada Eva sama Shinta”
“Shinta susunya kecil pak, kurang selera saya. Kalo Eva sama Fika, itu pas. Tapi kalo sama Eva terus bosen juga lama-lama”
“Halah, kamu bilangnya bosen tapi sampe kemarin masih suka aja main digudang”
“Hehe ya gimana lagi pak, namanya butuh penyaluran”
“Gini Gus, karena kamu udah tau semua, jadi aku mau kamu bantuin aku”
“Bantuin apa pak?”
“Cari mangsa baru”
“Wah boleh tuh pak. Siapa emang targetnya?”
“Si Anggi”
“Hah, Bu Anggi? bos kita?”
“Iya, gimana?”
“Waduh, gimana ya pak? Bukanya nggak mau, tapi ya, nggak enak pak, masak Bu Anggi sih? Nggak ada yang lain pak?”
“Yang lain siapa? Aku maunya si Anggi. Kamu udah aku kasih 3 gundikku semua lho, masak nggak mau bantu?”
“Emang kenapa harus dia sih pak?”
“Aku ada dendam sama dia. Dia tu kayaknya nggak suka banget aku ada dikantor ini dan sering cari gara-gara, makanya aku mau ngasih pelajaran buat dia”
“Tapi bukanya dia masih saudaranya Pak Reman?”
“Yang saudaraku itu suaminya. Aku sebenarnya juga nggak enak sama suaminya, tapi mau gimana lagi, si Anggi ini rese banget orangnya. Pokoknya aku mau kasih dia pelajaran, dan kamu harus bantuin aku”
Eva benar-benar sudah pasrah kepada Pak Reman, bahkan terlihat dia mulai menikmati waktu Pak Reman menyodokan penisnya dengan kasar.
Beberapa saat kemudian penis itu sudah tegang maksimal. Pak Remanpun menarik penisnya dan membuat Eva berdiri, kemudian dibalikan badan Eva hingga membelakangi Pak Reman.
Dengan tubuh yang sedikit membungkuk, vagina Eva yang belum basah itu mulai digesek-gesek penis Pak Reman.
Eva hanya merem melek menikmatinya. Dia sudah siap sepenuhnya untuk dimasuki lelaki yang telah menghamilinya itu, tapi ternyata Pak Reman punya keinginan lain.
“Eh pak, bapak ngapain? Jangan disitu pak” Eva panik waktu Pak Reman malah mengarahkan penisnya ke lubang anusnya yang belum pernah dijamah.
“Ini hukuman buat kamu Va, aku pengen ngambil jatah dari belakang. Aku pengen merawani bool kamu sekarang”
“Jangan pak. AAAAARHH! pelaan, sakit paaak!”
“Ssstt, diam. Jangan teriak-teriak, entar kedengaran dari luar”
Eva meraih bajunya yang kebetulan tak jauh dari situ. Dia langsung menggigit baju itu dengan keras supaya tidak bersuara ketika disodomi oleh Pak Reman.
Meskipun dengan susah payah tapi penis itu hanya masuk separuhnya.
Eva begitu kesakitan pada anusnya, dia mulai menangis menahan rasa sakit itu. Tangannya menahan sejenak tubuh Pak Reman agar tidak maju lagi karena masih menyesuaikan agar tidak terlalu sakit.
Tapi Pak Reman tak peduli, dia terus saja mendorong penisnya hingga masuk seluruhnya. Pak Reman langsung menggoyangkan penisnya maju mundur.
Tubuh Eva kejang karena kesakitan. Tangis Eva semakin keras dengan mulut masih menggigit bajunya supaya tidak terlalu keras suaranya keluar dan bisa didengar oleh orang lain di luar gudang tersebut. Meskipun kondisi kantor sedang sepi tapi dia tidak mau mengambil resiko. Bisa gawat kalau sampai ketahuan apa yang dia lakukan sekarang ini dengan Pak Reman.
“Uuhh, bener-bener sempit Va. Kamu emang bener-bener nikmat. Nggak salah kamu jadi budakku. Kalian bertiga benar-benar sempurna”
Pak Reman meracau sendiri sambil terus menyodomi Eva. Dia tak peduli kalau wanita itu sedang sangat kesakitan, karena baginya yang penting adalah kepuasannya sendiri.
Tangan Pak Reman tak mau tinggal diam. Kedua buah dada Eva yang padat nan kenyal itu dia remas dari belakang. Sesekali putingnya itu dipilin-pilin supaya Eva tidak terlalu kesakitan. Tapi semua itu masih percuma saja karena lubang anus Eva yang masih sangat sempit itu dipaksa menerima penis Pak Reman yang begitu besar.
Plok plok plok plok
Suara benturan antara kelamin kedua orang itu terdengar jelas didalam gudang. Pak Reman begitu bersemangat sementara Eva sedang mati-matian menahan rasa sakitnya.
Sekitar 5 menit kemudian Eva sudah mulai merasakan sakitnya sedikit berkurang, tapi tetap saja masih terasa sakit. Tangan Pak Reman yang sesekali mengocok vaginanya dengan jarinya memang sedikit membantu, tapi karena kasarnya sodokan kontolnya tetap belum bisa menghilangkan rasa sakit yang diterima oleh Eva.
Pak Reman yang tidak berniat menyiksa Eva lebih lama, karena itulah dia semakin mempercepat sodokanya. Dia ingin secepatnya mendapat orgasme.
Tapi hal itu berkebalikan dengan Eva. Dia merasakan sodokan Pak Reman yang semakin kencang dan kasar itu justru semakin menyakitinya.
“Aaahhh Vaa, aku keluaaaarr”
Akhirnya Pak Reman menyemprotkan spermanya didalam anus Eva.
Saat lelaki itu mencabut penisnya, lubang anus Eva tampak menganga lebar.
Eva sendiri belum bergerak dari posisinya karena masih merasakan sakit disekujur tubuhnya. Setelah diperkosa pertama kali dulu, ini adalah untuk kedua kalinya apa yang dilakukan Pak Reman sangat menyakitinya.
Tapi belum habis rasa sakit Eva, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam gudang itu.
“Wah wah Pak Reman, enak-enakan kok nggak ngajak-ngajak sih? Sama si bos lagi”
“Oalah kamu tho Gus. Udah sini ikutan aja nggak usah banyak omong” jawab Pak Reman yang tadinya kaget, kini lega setelah melihat siapa yang datang.
“Wuiih, badan Bu Eva bagus bener. Lagi hamil, malah bikin nafsu”
“Mas Agus ngapain disini?” tanya Eva panik mencoba menutupi tubuhnya sebisanya.
“Tadi saya denger suara-suara aneh, makanya saya masuk. Ternyata kalian berdua lagi seneng-seneng disini. Jadi pengen ikutan saya” jawab Agus.
Agus adalah salah satu anak buah Eva, sama seperti Pak Reman. Dia juga memiliki kunci gudang ini. Sebenarnya dia tadi cuma ingin mengambil beberapa barang untuk dia bawa pulang nantinya, tapi malah melihat persetubuhan yang dilakukan oleh Eva dan Pak Reman.
Agus yang selama ini melihat Eva sebagai seorang wanita alim yang selalu tertutup penampilannya sempat tak percaya karena selama ini dia cukup mengagumi Eva.
Saat melihat keindahan tubuh Eva yang putih bersih itu membuat nafsu birahinya naik. Apalagi Agus tinggal berjauhan dengan istrinya dan sudah beberapa minggu ini tidak bertemu.
“Yaudah Gus, kamu main-main aja dulu sama Eva, aku ada urusan. Terserah mau kamu apain dia, yang penting kamu jangan cerita sama orang lain, cukup kita aja. Kalo kamu tetep diam, nanti ada bonus buat kamu. Dan kamu Va, layani Agus seperti kamu ngelayanin aku ya”
Setelah itu Pak Reman kembali memakai celananya dan pergi meninggalkan gudang itu membiarkan Agus dan Eva untuk melanjutkan permainan.
Pak Reman cukup lega karena yang memergokinya adalah Agus, yang sering ke lokalisasi bareng dia untuk menyalurkan hasrat mereka.
Pak Reman sebenarnya tidak ada niat untuk berbagi budaknya, tapi demi keamanannya sendiri dia terpaksa membaginya dengan Agus.
===x0x===
Beberapa hari kemudian Agus diberi bonus sesuai janji Pak Reman.
“Gimana Gus? Puas kamu sama gundik-gundikku?”
“Wah puas banget pak, apalagi sama Fika. Sayang banget dia ada suaminya disini, jadi nggak bisa sering-sering”
“Lha kan masih ada Eva sama Shinta”
“Shinta susunya kecil pak, kurang selera saya. Kalo Eva sama Fika, itu pas. Tapi kalo sama Eva terus bosen juga lama-lama”
“Halah, kamu bilangnya bosen tapi sampe kemarin masih suka aja main digudang”
“Hehe ya gimana lagi pak, namanya butuh penyaluran”
“Gini Gus, karena kamu udah tau semua, jadi aku mau kamu bantuin aku”
“Bantuin apa pak?”
“Cari mangsa baru”
“Wah boleh tuh pak. Siapa emang targetnya?”
“Si Anggi”
“Hah, Bu Anggi? bos kita?”
“Iya, gimana?”
“Waduh, gimana ya pak? Bukanya nggak mau, tapi ya, nggak enak pak, masak Bu Anggi sih? Nggak ada yang lain pak?”
“Yang lain siapa? Aku maunya si Anggi. Kamu udah aku kasih 3 gundikku semua lho, masak nggak mau bantu?”
“Emang kenapa harus dia sih pak?”
“Aku ada dendam sama dia. Dia tu kayaknya nggak suka banget aku ada dikantor ini dan sering cari gara-gara, makanya aku mau ngasih pelajaran buat dia”
“Tapi bukanya dia masih saudaranya Pak Reman?”
“Yang saudaraku itu suaminya. Aku sebenarnya juga nggak enak sama suaminya, tapi mau gimana lagi, si Anggi ini rese banget orangnya. Pokoknya aku mau kasih dia pelajaran, dan kamu harus bantuin aku”
“Tapi, aman nggak pak? Saya nggak mau kenapa-kenapa lho nanti”
“Kamu nggak percaya sama aku? Buktinya kamu bisa nikmatin 3 wanita cantik itu”
“Yaudah deh, tapi kalo ada apa-apa jangan bawa-bawa saya lho pak”
“Gampang, kalo ada masalah saya nggak akan nyebut nama kamu”
“Oke deh pak, saya ikut aja”
===x0x===
Hujan deras mengguyur jalanan..
Di warung depan kantor, Pak Reman dan Agus sedang nongkrong menghabiskan kopi dan rokok mereka setelah menyalurkan nafsunya kepada Eva.
Kini mereka sedang menunggu hujan reda karena pulangnya naik motor. Eva sudah pulang duluan dengan naik taksi karena suaminya malam ini akan datang.
Pak Reman yang sudah memiliki rencana untuk memberi pelajaran kepada Anggi. Kini dia menyusun rencananya dengan Agus. Mereka saling membagi tugas.
Agus yang tadinya ragu-ragu sekarang terlihat lebih mantap lagi untuk ikut dengan rencana Pak Reman ini. Dia cukup yakin jika rencana ini nantinya akan aman dan tidak perlu takut kalo Anggi akan macam-macam dengan mereka.
Sebenarnya Agus masih sungkan karena Anggi adalah atasannya, tapi pengalamannya menikmati tubuh gundik-gundik cantik milik Pak Reman membuat Agus jadi semangat.
"Kalau rencana ini berhasil maka tidak perlu lagi ke lokalisasi untuk menyalurkan hasrat yang resiko tertular penyakit sangat besar dan berbayar pula. Jika bisa membantu Pak Reman pasti bisa dapat menikmati gundiknya dan jelas-jelas mereka bersih, pasti lebih aman." pikir Agus.
===xx===
Anggi, wanita berusia 40 tahun yang tak lain adalah istri dari saudaranya itu semakin lama membuatnya semakin jengkel. Dia awalnya tidak mau macam-macam dengan wanita itu karena masih ada hubungan kerabat, tapi lama-lama dia tak tahan juga.
Selain itu Pak Reman memang ingin mencari sarang baru untuk burungnya karena mengingat kondisi Eva Shinta dan Fika yang sekarang sedang hamil muda. Dia khawatir kalau terus menerus memaksa ketiga wanita itu untuk melayani nafsunya dan Agus akan berakibat buruk pada kehamilan mereka.
Saat ini pilihan Pak Reman jatuh kepada Anggi, sekaligus membalas sakit hatinya.
Anggi yang baru saja menginjak kepala 4 bulan kemarin masih terlihat cantik. Badannya juga masih bagus karena rutin ikut senam dan yoga.
Anggi memang merawat dirinya dengan baik karena selalu ingin tampil cantik didepan suaminya. Suaminya adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa perusahaan, dimana salah satu adalah yang dia pegang sekarang, dimana Pak Reman bekerja.
Sebagai pengusaha sukses tentu suaminya sering bertemu dengan para koleganya, dan selalu ditemani oleh Anggi. Karena itulah dengan selalu tampil cantik Anggi ingin membuat suaminya bangga.
Selain itu dia juga tidak ingin suaminya berpaling karena sehari-hari selalu dikelilingi wanita cantik dan masih muda di pekerjaannya.
Anggi menikah dengan suaminya saat masih berusia 22 tahun, saat baru saja lulus kuliah. Dan sekarang mereka sudah memiliki 2 orang anak. Yang pertama bernama Anissa (17) dan yang kedua namanya Farid (12).
Kedua anak mereka sejak kecil ikut kakek neneknya yang kebetulan memiliki sebuah pondok pesantren di desanya. Hanya saat liburan saja mereka datang atau sesekali Anggi dan suaminya mengunjungi mereka.
Anggi memiliki 2 orang adik yang keduanya adalah perempuan. Adiknya yang pertama bernama Bella (34), sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Sedangkan adiknya yang bungsu bernama Citra (28) dan sebentar lagi akan menikah.
Kedua adiknya ini tak kalah cantik dengan Anggi. Penampilan merekapun sama, serba tertutup.
===xx===
Akhirnya pada hari yang telah direncanakan, Pak Reman dan Agus pergi ke rumah Anggi. Rencana mereka semakin mudah karena kebetulan Agus disuruh untuk mengantar beberapa dokumen kantor kepada Anggi yang ada di rumah.
Maka mereka sudah tidak perlu pusing mencari-cari cara untuk bisa masuk ke rumah tersebut.
Kini Agus sudah berada didepan rumah Anggi. Rumah itu sangat besar dan mewah, mencerminkan kekayaan pemiliknya. Dia sudah beberapa kali memencet bel dan sedang menunggu dibukakan gerbangnya.
Sedangkan Pak Reman menunggu disebuah warung yang tak jauh dari rumah itu.
Beberapa saat kemudian munculah pembantu Anggi.
“Selamat malam mbak”
“Iya malam mas. Cari siapa ya?”
“Saya mau ketemu Bu Anggi, tadi disuruh nganter dokumen kantor”
“Oh Mas Agus ya?”
“Iya mbak bener”
“Mari silahkan masuk mas. Bu Anggi udah nunggu di dalem”
“Makasih mbak”
Aguspun masuk mengikuti pembantu Anggi itu.
Sementara Pak Reman tersenyum melihat dari jauh. Dia tinggal menunggu saja Agus membukakan gerbangnya nanti supaya bisa masuk kerumah itu. Dia sudah tahu kalau suami Anggi yang merupakan saudaranya itu sedang keluar kota, sehingga malam ini mereka akan bebas untuk memberi pelajaran kepada wanita itu.
Sesampainya didalam rumah, Agus dipersilahkan duduk diruang tamu. Dia menunggu sejenak sambil menyiapkan dokumen yang akan dia serahkan kepada Anggi.
Tak lama kemudian Anggi keluar menemui Agus.
Agus cukup terkesima dengan penampilan Anggi yang berbeda dengan penampilan sehari-hari dikantornya.
Jika biasanya Anggi memakai pakaian kerja yang formal, kali ini terlihat lebih santai dengan kaos lengan panjang yang cukup mencetak tubuh seksinya, rok panjang dan juga jilbab yang menutupi kepalanya.
Anggi terlihat begitu cantik dan segar. Aroma parfumnya yang harum mengusik kelelakian Agus. Tapi dia harus bersabar dulu, harus melakukan sesuai dengan rencananya dengan Pak Reman.
“Malem bu”
“Malem Gus. Udah kamu bawa semua?”
“Udah bu, ini silahkan dicek dulu”
“Oke bentar saya cek dulu”
Anggi kemudian duduk berseberangan dengan Agus. Dia dengan teliti mengamati satu persatu dokumen yang dibawa oleh Agus. Sesekali dia mengangguk menunjukkan kepuasannya. Namun dilembar terakhir dia mengernyitkan dahinya.
“Loh Gus yang laporan bulan ini belum selesai ya?” tanya Anggi.
“Udah kok bu, udah saya kerjakan dan saya serahkan ke Bu Eva kemarin” jawab Agus.
“Tapi kok ini nggak ada ya?” tanya Anggi.
“Masak sih bu?”
Agus kemudian melihat dokumen yang ditunjukan oleh Anggi. Dan ternyata memang belum selesai laporannya.
Sebenarnya itu hanya akal-akalan Agus dan Pak Reman saja. Dia sengaja membawa dokumen yang belum lengkap agar bisa agak lama berada di dirumah itu.
“Wah iya ya. Jangan-jangan Bu Eva salah ngeprint ini” kata Agus.
“Waduh kok bisa gitu? Kamu bawa laptop nggak Gus?” tanya Anggi.
“Bawa sih bu, tapi kerjaan yang terbaru saya simpen di komputer kantor. saya cuma ada formatnya aja ini” jawab Agus.
“Kalo ngerjain disini pake data dari dokumen-dokumen ini bisa kan?” tanya Anggi.
“Bisa kok bu” jawab Agus.
“Yaudah kalo gitu kamu kerjain dulu ya, nggak lama kan?” tanya Anggi.
“Baik bu. Ada colokan nggak bu? Laptop saya nggak bisa nyala kalo nggak dicolokin listrik”
“Wah disini nggak ada, diruang tengah adanya. Kamu kerjain disana aja ya?”
“Nggak papa nih bu saya kerjain disana?”
“Nggak papa kok. Ayo ikut saya”
Aguspun mengikuti Anggi.
“Kamu nggak percaya sama aku? Buktinya kamu bisa nikmatin 3 wanita cantik itu”
“Yaudah deh, tapi kalo ada apa-apa jangan bawa-bawa saya lho pak”
“Gampang, kalo ada masalah saya nggak akan nyebut nama kamu”
“Oke deh pak, saya ikut aja”
===x0x===
Hujan deras mengguyur jalanan..
Di warung depan kantor, Pak Reman dan Agus sedang nongkrong menghabiskan kopi dan rokok mereka setelah menyalurkan nafsunya kepada Eva.
Kini mereka sedang menunggu hujan reda karena pulangnya naik motor. Eva sudah pulang duluan dengan naik taksi karena suaminya malam ini akan datang.
Pak Reman yang sudah memiliki rencana untuk memberi pelajaran kepada Anggi. Kini dia menyusun rencananya dengan Agus. Mereka saling membagi tugas.
Agus yang tadinya ragu-ragu sekarang terlihat lebih mantap lagi untuk ikut dengan rencana Pak Reman ini. Dia cukup yakin jika rencana ini nantinya akan aman dan tidak perlu takut kalo Anggi akan macam-macam dengan mereka.
Sebenarnya Agus masih sungkan karena Anggi adalah atasannya, tapi pengalamannya menikmati tubuh gundik-gundik cantik milik Pak Reman membuat Agus jadi semangat.
"Kalau rencana ini berhasil maka tidak perlu lagi ke lokalisasi untuk menyalurkan hasrat yang resiko tertular penyakit sangat besar dan berbayar pula. Jika bisa membantu Pak Reman pasti bisa dapat menikmati gundiknya dan jelas-jelas mereka bersih, pasti lebih aman." pikir Agus.
===xx===
Anggi, wanita berusia 40 tahun yang tak lain adalah istri dari saudaranya itu semakin lama membuatnya semakin jengkel. Dia awalnya tidak mau macam-macam dengan wanita itu karena masih ada hubungan kerabat, tapi lama-lama dia tak tahan juga.
Selain itu Pak Reman memang ingin mencari sarang baru untuk burungnya karena mengingat kondisi Eva Shinta dan Fika yang sekarang sedang hamil muda. Dia khawatir kalau terus menerus memaksa ketiga wanita itu untuk melayani nafsunya dan Agus akan berakibat buruk pada kehamilan mereka.
Saat ini pilihan Pak Reman jatuh kepada Anggi, sekaligus membalas sakit hatinya.
Anggi yang baru saja menginjak kepala 4 bulan kemarin masih terlihat cantik. Badannya juga masih bagus karena rutin ikut senam dan yoga.
Anggi memang merawat dirinya dengan baik karena selalu ingin tampil cantik didepan suaminya. Suaminya adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa perusahaan, dimana salah satu adalah yang dia pegang sekarang, dimana Pak Reman bekerja.
Sebagai pengusaha sukses tentu suaminya sering bertemu dengan para koleganya, dan selalu ditemani oleh Anggi. Karena itulah dengan selalu tampil cantik Anggi ingin membuat suaminya bangga.
Selain itu dia juga tidak ingin suaminya berpaling karena sehari-hari selalu dikelilingi wanita cantik dan masih muda di pekerjaannya.
Anggi menikah dengan suaminya saat masih berusia 22 tahun, saat baru saja lulus kuliah. Dan sekarang mereka sudah memiliki 2 orang anak. Yang pertama bernama Anissa (17) dan yang kedua namanya Farid (12).
Kedua anak mereka sejak kecil ikut kakek neneknya yang kebetulan memiliki sebuah pondok pesantren di desanya. Hanya saat liburan saja mereka datang atau sesekali Anggi dan suaminya mengunjungi mereka.
Anggi memiliki 2 orang adik yang keduanya adalah perempuan. Adiknya yang pertama bernama Bella (34), sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Sedangkan adiknya yang bungsu bernama Citra (28) dan sebentar lagi akan menikah.
Kedua adiknya ini tak kalah cantik dengan Anggi. Penampilan merekapun sama, serba tertutup.
===xx===
Akhirnya pada hari yang telah direncanakan, Pak Reman dan Agus pergi ke rumah Anggi. Rencana mereka semakin mudah karena kebetulan Agus disuruh untuk mengantar beberapa dokumen kantor kepada Anggi yang ada di rumah.
Maka mereka sudah tidak perlu pusing mencari-cari cara untuk bisa masuk ke rumah tersebut.
Kini Agus sudah berada didepan rumah Anggi. Rumah itu sangat besar dan mewah, mencerminkan kekayaan pemiliknya. Dia sudah beberapa kali memencet bel dan sedang menunggu dibukakan gerbangnya.
Sedangkan Pak Reman menunggu disebuah warung yang tak jauh dari rumah itu.
Beberapa saat kemudian munculah pembantu Anggi.
“Selamat malam mbak”
“Iya malam mas. Cari siapa ya?”
“Saya mau ketemu Bu Anggi, tadi disuruh nganter dokumen kantor”
“Oh Mas Agus ya?”
“Iya mbak bener”
“Mari silahkan masuk mas. Bu Anggi udah nunggu di dalem”
“Makasih mbak”
Aguspun masuk mengikuti pembantu Anggi itu.
Sementara Pak Reman tersenyum melihat dari jauh. Dia tinggal menunggu saja Agus membukakan gerbangnya nanti supaya bisa masuk kerumah itu. Dia sudah tahu kalau suami Anggi yang merupakan saudaranya itu sedang keluar kota, sehingga malam ini mereka akan bebas untuk memberi pelajaran kepada wanita itu.
Sesampainya didalam rumah, Agus dipersilahkan duduk diruang tamu. Dia menunggu sejenak sambil menyiapkan dokumen yang akan dia serahkan kepada Anggi.
Tak lama kemudian Anggi keluar menemui Agus.
Agus cukup terkesima dengan penampilan Anggi yang berbeda dengan penampilan sehari-hari dikantornya.
Jika biasanya Anggi memakai pakaian kerja yang formal, kali ini terlihat lebih santai dengan kaos lengan panjang yang cukup mencetak tubuh seksinya, rok panjang dan juga jilbab yang menutupi kepalanya.
Anggi terlihat begitu cantik dan segar. Aroma parfumnya yang harum mengusik kelelakian Agus. Tapi dia harus bersabar dulu, harus melakukan sesuai dengan rencananya dengan Pak Reman.
“Malem bu”
“Malem Gus. Udah kamu bawa semua?”
“Udah bu, ini silahkan dicek dulu”
“Oke bentar saya cek dulu”
Anggi kemudian duduk berseberangan dengan Agus. Dia dengan teliti mengamati satu persatu dokumen yang dibawa oleh Agus. Sesekali dia mengangguk menunjukkan kepuasannya. Namun dilembar terakhir dia mengernyitkan dahinya.
“Loh Gus yang laporan bulan ini belum selesai ya?” tanya Anggi.
“Udah kok bu, udah saya kerjakan dan saya serahkan ke Bu Eva kemarin” jawab Agus.
“Tapi kok ini nggak ada ya?” tanya Anggi.
“Masak sih bu?”
Agus kemudian melihat dokumen yang ditunjukan oleh Anggi. Dan ternyata memang belum selesai laporannya.
Sebenarnya itu hanya akal-akalan Agus dan Pak Reman saja. Dia sengaja membawa dokumen yang belum lengkap agar bisa agak lama berada di dirumah itu.
“Wah iya ya. Jangan-jangan Bu Eva salah ngeprint ini” kata Agus.
“Waduh kok bisa gitu? Kamu bawa laptop nggak Gus?” tanya Anggi.
“Bawa sih bu, tapi kerjaan yang terbaru saya simpen di komputer kantor. saya cuma ada formatnya aja ini” jawab Agus.
“Kalo ngerjain disini pake data dari dokumen-dokumen ini bisa kan?” tanya Anggi.
“Bisa kok bu” jawab Agus.
“Yaudah kalo gitu kamu kerjain dulu ya, nggak lama kan?” tanya Anggi.
“Baik bu. Ada colokan nggak bu? Laptop saya nggak bisa nyala kalo nggak dicolokin listrik”
“Wah disini nggak ada, diruang tengah adanya. Kamu kerjain disana aja ya?”
“Nggak papa nih bu saya kerjain disana?”
“Nggak papa kok. Ayo ikut saya”
Aguspun mengikuti Anggi.
Semua ini sebenarnya sudah direncanakan oleh Agus dan Pak Reman. Pak Reman sudah beberapa kali berkunjung kerumah ini jadi tahu bagaiaman kondisinya. Karena itulah mereka membuat Agus harus mengerjakan dokumen itu diruang tengah rumah ini, sekalian untuk melihat bagaimana situasinya.
Tapi begitu Agus masuk dia agak terkejut, karena didalam ternyata ada 2 orang wanita lagi. Agus tak mengenalnya, tapi mereka ini adalah kedua adik dari Anggi, Bella dan Citra.
“Eh mbak, siapa ini?” tanya Bella.
“Oh ini Mas Agus Bel, orang kantor. dia mau ngerjain laporan bentar. Didepan nggak ada colokan listrik soalnya. Mas Agus, ini adik-adik saya, Bella sama Citra” jawab Anggi.
“Oh iya, malam Mbak Bella, malam Mbak Citra” sapa Agus.
“Malem mas” jawab Bella dan Citra.
“Maaf ya saya jadi ngganggu ini” kata Agus.
“Udah nggak papa kok mas, kita lagi nyantai, lagi ngebahas nikahannya si bontot nih” jawab Bella.
“Yaudah Gus, kamu kerjain dulu aja ya. Bel, Cit, entar jangan terlalu berisik, biar nggak ganggu Agus”
Lalu Agus menuju kesalah satu kursi yang paling dekat dengan colokan listrik.
Setelah menyalakan laptopnya, dia tidak segera mengerjakannya tapi mengambil HPnya untu mengabari Pak Reman.
Pak Reman yang mendapat kabar dari Agus juga sedikit terkejut karena sama sekali tidak tahu kalau ada kedua adik Anggi disitu. Dia tahunya Anggi hanya bersama dengan pembantunya saja. Kalau seperti ini rencana mereka bisa berantakan.
Tapi kemudian dia berpikir dengan cepat. Jika ada yang lain, kenapa tidak sekalian dimangsa saja, apalagi setahu dia adik bungsunya Anggi ini belum menikah, siapa tahu bisa dapat perawan nantinya.
Pak Remanpun memberitahu rencana yang dia pikirkan kepada Agus.
Sekarang tinggal Agus yang cari agar bisa melumpuhkan ketiga wanita itu sebelum membukakan gerbang untuk Pak Reman.
Agus jadi kebingungan sekarang. Bukan dengan pekerjaannya karena sebenarnya laporan yang harus dia kerjakan sekarang itu sudah ada dilaptopnya. Tapi dia bingung bagaimana harus menjalankan rencana barunya itu.
Untungnya beberapa saat kemudian Anggi memanggil pembantunya, memintanya untuk membuatkan minuman untuk mereka bertiga dan juga Agus. Langsung Agus bergerak cepat.
“Maaf bu, saya mau numpang toilet”
“Oh itu dibelakang Gus, ikuti aja pembantu saya tadi, nanti kamu tanya dia”
“Baik bu”
Agus segera menuju ke dapur tempat pembantu Anggi membuatkan minuman. Agus berbasa-basi sejenak dengan pembantu itu sambil menyiapkan sesuatu di kantong celananya. Diam-diam agus mengeluarkan sebuah plastik kecil yang didalamnya ada semacam bubuk putih.
Saat pembantu itu lengah, Agus dengan cekatan memasukan bubuk itu ke 3 gelas yang berisi teh untuk ketiga wanita itu. Satu gelas lagi adalah berisi kopi yang jelas-jelas untuk dirinya karena tadi memang minta kopi.
Setelah itu Agus menuju ke toilet yang ditunjuk si pembantu.
Di dalam toilet Agus mengabari Pak Reman. Mereka nantinya harus bergerak cepat karena bubuk putih yang merupakan obat tidur itu tadinya mereka siapkan hanya untuk Anggi. Tapi karena dibagi menjadi 3 resikonya adalah ketiga wanita itu tidak akan lama tertidur, seperti yang direncanakan Pak Reman dan Agus.
Setelah itu Agus kembali ke ruang tengah. Dia melihat ketiga wanita itu sedang asyik ngobrol. Mereka bertiga tidak terlalu mempedulikan adanya Agus disitu, tapi Aguspun tak peduli. Dia hanya menunggu obat tidur yang dia berikan tadi segera bereaksi.
Agus menunggu beberapa saat hingga ketiga wanita itu mulai menguap bergantian. Dia masih terlihat sibuk dengan laptopnya padahal sedang tidak mengerjakan apa-apa.
Agus segera menghubungi Pak Reman memnitanya supaya bersiap didekat gerbang karena sebentar lagi dia akan membukakanya.
Tak lama kemudian pada akhirnya ketiga wanita itu mulai tak sadarkan diri. Dimulai dari Bella, kemudian Citra dan yang terakhir Anggi.
Setelah Anggi tertidur dengan cepat Agus menuju kedepan untuk membukakan gerbang.
Setelah Pak Reman masuk mereka pun menguncinya kembali. Motor Aguspun juga dimasukan ke garasi supaya tidak membuat curiga satpam komplek yang sering patroli.
Sesampainya didalam rumah, Pak Reman cukup terkesima dengan ketiga wanita yang sedang tertidur itu. Kalau dengan Anggi dia sudah sering melihat, tapi kedua adiknya ini sudah lama dia tak melihat mereka, dan ternyata keduanya kini semakin cantik dalam balutan pakaian yang menutupi seluruh tubuh mereka dari kepala hingga kaki.
Sedangkan Agus beranjak kebelakang untuk mengurus pembantu Anggi. Setelah itu dia kembali kedepan lagi.
“Gimana Gus, pembantunya udah beres?” tanya Pak Reman.
“Beres pak, udah saya bikin pingsan. Saya iket juga tadi dikamarnya” jawab Agus.
“Bagus, berarti sekarang nggak ada lagi yang bakalan gangguin kita” kata Pak Reman.
“Gimana nih pak mau disini aja apa kita bawa ke kamar?” tanya Agus.
“Kita bawa ke kamar atas aja, biar nggak kedengeran kalo sampai ada yang teriak” jawab Pak Reman.
Mereka membawa ketiga wanita itu ke kamar atas yang merupakan kamar Anggi dan suaminya.
Kamar itu cukup luas dan terlihat sangat mewah. Berbeda jauh dengan kamar Pak Reman, apalagi kamar kos Agus.
Setelah ketiganya dibawa kekamar, Pak Reman dan Agus kemudian mengikat tubuh dan menutup mulut Bella dan Citra.
Mereka ingin menggarap Anggi terlebih dahulu. Sedangkan Bella nanti akan digarap oleh Agus dan Citra oleh Pak Reman.
Pak Reman sudah sangat tertarik dengan Citra dan ingin memerawani gadis itu, tapi dia lebih dulu harus memberi Anggi pelajaran.
Sambil mengikat Bella rupanya tangan Agus bergerilya di dada dan pantat Bella yang montok. Dia sangat bernafsu kepada ibu muda itu. Tapi harus bersabar karena akan menggarap bosnya terlebih dahulu bersama Pak Reman.
Pak Remanpun demikian. Sambil mengikat dia terus meremasi dada Citra yang selama ini belum pernah disentuh oleh siapapun.
Setelah mengikat kedua wanita itu, kini Pak Reman dan Agus menuju ke Anggi yang sedang terbaring diranjangnya. Dengan segera mereka berdua menelanjangi Anggi hingga telanjang bulat.
Agus cukup terkesima dengan tubuh polos bosnya dikantor itu. Dia tidak menyangka diumur Anggi yang sudah kepala 4 ternyata memiliki tubuh indah tak kalah dengan yang muda, tapi jika dibandingkan dengan 3 wanita gundik Pak Reman yang pernah dia nikmati Anggi masih kalah. Meski begitu kecantikan dan keseksian Anggi ini masih lebih jika dibandingkan dengan istrinya.
Pak Reman segera menelanjangi dirinya sendiri dan langsung menciumi tubuh telanjang Anggi.
Kali ini Agus mundur dulu membiarkan seniornya itu puas mencumbu Anggi.
Sambil menonton Pak Reman yang sedang menciumi tubuh Anggi, Agus menuju ke Bella. Dia ciumi wajah Bella yang masih tertidur itu. Bibir wanita itupun dia lumat dengan ganas.
Agus merasakan sensasi tersendiri mencumbui wanita cantik yang masih berpakaian lengkap itu, meski tanpa ada perlawanan karena Bella masih tak sadarkan diri. Tangannya meremas-remas toket Bella yang cukup besar dan montok itu.
Diranjang, Pak Reman sudah tidak sabar lagi. Dia kemudian memasukkan penisnya yang besar itu ke vagina Anggi. Vagina itu memang tidak sesempit Eva, Shinta dan Fika saat pertama kali dia perkosa, tapi tetap saja Pak Reman menikmatinya.
Tapi begitu Agus masuk dia agak terkejut, karena didalam ternyata ada 2 orang wanita lagi. Agus tak mengenalnya, tapi mereka ini adalah kedua adik dari Anggi, Bella dan Citra.
“Eh mbak, siapa ini?” tanya Bella.
“Oh ini Mas Agus Bel, orang kantor. dia mau ngerjain laporan bentar. Didepan nggak ada colokan listrik soalnya. Mas Agus, ini adik-adik saya, Bella sama Citra” jawab Anggi.
“Oh iya, malam Mbak Bella, malam Mbak Citra” sapa Agus.
“Malem mas” jawab Bella dan Citra.
“Maaf ya saya jadi ngganggu ini” kata Agus.
“Udah nggak papa kok mas, kita lagi nyantai, lagi ngebahas nikahannya si bontot nih” jawab Bella.
“Yaudah Gus, kamu kerjain dulu aja ya. Bel, Cit, entar jangan terlalu berisik, biar nggak ganggu Agus”
Lalu Agus menuju kesalah satu kursi yang paling dekat dengan colokan listrik.
Setelah menyalakan laptopnya, dia tidak segera mengerjakannya tapi mengambil HPnya untu mengabari Pak Reman.
Pak Reman yang mendapat kabar dari Agus juga sedikit terkejut karena sama sekali tidak tahu kalau ada kedua adik Anggi disitu. Dia tahunya Anggi hanya bersama dengan pembantunya saja. Kalau seperti ini rencana mereka bisa berantakan.
Tapi kemudian dia berpikir dengan cepat. Jika ada yang lain, kenapa tidak sekalian dimangsa saja, apalagi setahu dia adik bungsunya Anggi ini belum menikah, siapa tahu bisa dapat perawan nantinya.
Pak Remanpun memberitahu rencana yang dia pikirkan kepada Agus.
Sekarang tinggal Agus yang cari agar bisa melumpuhkan ketiga wanita itu sebelum membukakan gerbang untuk Pak Reman.
Agus jadi kebingungan sekarang. Bukan dengan pekerjaannya karena sebenarnya laporan yang harus dia kerjakan sekarang itu sudah ada dilaptopnya. Tapi dia bingung bagaimana harus menjalankan rencana barunya itu.
Untungnya beberapa saat kemudian Anggi memanggil pembantunya, memintanya untuk membuatkan minuman untuk mereka bertiga dan juga Agus. Langsung Agus bergerak cepat.
“Maaf bu, saya mau numpang toilet”
“Oh itu dibelakang Gus, ikuti aja pembantu saya tadi, nanti kamu tanya dia”
“Baik bu”
Agus segera menuju ke dapur tempat pembantu Anggi membuatkan minuman. Agus berbasa-basi sejenak dengan pembantu itu sambil menyiapkan sesuatu di kantong celananya. Diam-diam agus mengeluarkan sebuah plastik kecil yang didalamnya ada semacam bubuk putih.
Saat pembantu itu lengah, Agus dengan cekatan memasukan bubuk itu ke 3 gelas yang berisi teh untuk ketiga wanita itu. Satu gelas lagi adalah berisi kopi yang jelas-jelas untuk dirinya karena tadi memang minta kopi.
Setelah itu Agus menuju ke toilet yang ditunjuk si pembantu.
Di dalam toilet Agus mengabari Pak Reman. Mereka nantinya harus bergerak cepat karena bubuk putih yang merupakan obat tidur itu tadinya mereka siapkan hanya untuk Anggi. Tapi karena dibagi menjadi 3 resikonya adalah ketiga wanita itu tidak akan lama tertidur, seperti yang direncanakan Pak Reman dan Agus.
Setelah itu Agus kembali ke ruang tengah. Dia melihat ketiga wanita itu sedang asyik ngobrol. Mereka bertiga tidak terlalu mempedulikan adanya Agus disitu, tapi Aguspun tak peduli. Dia hanya menunggu obat tidur yang dia berikan tadi segera bereaksi.
Agus menunggu beberapa saat hingga ketiga wanita itu mulai menguap bergantian. Dia masih terlihat sibuk dengan laptopnya padahal sedang tidak mengerjakan apa-apa.
Agus segera menghubungi Pak Reman memnitanya supaya bersiap didekat gerbang karena sebentar lagi dia akan membukakanya.
Tak lama kemudian pada akhirnya ketiga wanita itu mulai tak sadarkan diri. Dimulai dari Bella, kemudian Citra dan yang terakhir Anggi.
Setelah Anggi tertidur dengan cepat Agus menuju kedepan untuk membukakan gerbang.
Setelah Pak Reman masuk mereka pun menguncinya kembali. Motor Aguspun juga dimasukan ke garasi supaya tidak membuat curiga satpam komplek yang sering patroli.
Sesampainya didalam rumah, Pak Reman cukup terkesima dengan ketiga wanita yang sedang tertidur itu. Kalau dengan Anggi dia sudah sering melihat, tapi kedua adiknya ini sudah lama dia tak melihat mereka, dan ternyata keduanya kini semakin cantik dalam balutan pakaian yang menutupi seluruh tubuh mereka dari kepala hingga kaki.
Sedangkan Agus beranjak kebelakang untuk mengurus pembantu Anggi. Setelah itu dia kembali kedepan lagi.
“Gimana Gus, pembantunya udah beres?” tanya Pak Reman.
“Beres pak, udah saya bikin pingsan. Saya iket juga tadi dikamarnya” jawab Agus.
“Bagus, berarti sekarang nggak ada lagi yang bakalan gangguin kita” kata Pak Reman.
“Gimana nih pak mau disini aja apa kita bawa ke kamar?” tanya Agus.
“Kita bawa ke kamar atas aja, biar nggak kedengeran kalo sampai ada yang teriak” jawab Pak Reman.
Mereka membawa ketiga wanita itu ke kamar atas yang merupakan kamar Anggi dan suaminya.
Kamar itu cukup luas dan terlihat sangat mewah. Berbeda jauh dengan kamar Pak Reman, apalagi kamar kos Agus.
Setelah ketiganya dibawa kekamar, Pak Reman dan Agus kemudian mengikat tubuh dan menutup mulut Bella dan Citra.
Mereka ingin menggarap Anggi terlebih dahulu. Sedangkan Bella nanti akan digarap oleh Agus dan Citra oleh Pak Reman.
Pak Reman sudah sangat tertarik dengan Citra dan ingin memerawani gadis itu, tapi dia lebih dulu harus memberi Anggi pelajaran.
Sambil mengikat Bella rupanya tangan Agus bergerilya di dada dan pantat Bella yang montok. Dia sangat bernafsu kepada ibu muda itu. Tapi harus bersabar karena akan menggarap bosnya terlebih dahulu bersama Pak Reman.
Pak Remanpun demikian. Sambil mengikat dia terus meremasi dada Citra yang selama ini belum pernah disentuh oleh siapapun.
Setelah mengikat kedua wanita itu, kini Pak Reman dan Agus menuju ke Anggi yang sedang terbaring diranjangnya. Dengan segera mereka berdua menelanjangi Anggi hingga telanjang bulat.
Agus cukup terkesima dengan tubuh polos bosnya dikantor itu. Dia tidak menyangka diumur Anggi yang sudah kepala 4 ternyata memiliki tubuh indah tak kalah dengan yang muda, tapi jika dibandingkan dengan 3 wanita gundik Pak Reman yang pernah dia nikmati Anggi masih kalah. Meski begitu kecantikan dan keseksian Anggi ini masih lebih jika dibandingkan dengan istrinya.
Pak Reman segera menelanjangi dirinya sendiri dan langsung menciumi tubuh telanjang Anggi.
Kali ini Agus mundur dulu membiarkan seniornya itu puas mencumbu Anggi.
Sambil menonton Pak Reman yang sedang menciumi tubuh Anggi, Agus menuju ke Bella. Dia ciumi wajah Bella yang masih tertidur itu. Bibir wanita itupun dia lumat dengan ganas.
Agus merasakan sensasi tersendiri mencumbui wanita cantik yang masih berpakaian lengkap itu, meski tanpa ada perlawanan karena Bella masih tak sadarkan diri. Tangannya meremas-remas toket Bella yang cukup besar dan montok itu.
Diranjang, Pak Reman sudah tidak sabar lagi. Dia kemudian memasukkan penisnya yang besar itu ke vagina Anggi. Vagina itu memang tidak sesempit Eva, Shinta dan Fika saat pertama kali dia perkosa, tapi tetap saja Pak Reman menikmatinya.
Tubuh Anggi yang tak sadarkan diri itu terlonjak mengikuti irama genjotan Pak Reman yang kasar. Jika dalam keadaan sadar mungkin perempuan itu sudah teriak-teriak mengetahui dirinya sedang disetubuhi orang lain, padahal selama ini hanya suaminya saja yang pernah menikmati tubuh indahnya itu.
“Gimana pak? Enak nggak si bos?” tanya Agus.
“Uuhh masih enak Gus. Si Anggi ini sering senam dan yoga, badannya masih lumayan kenceng, memeknya juga masih legit” jawab Pak Reman yang masih terus menggenjot Anggi.
Sementara Agus yang tak tahan lagi, dia mulai melepaskan kancing kemeja Bella satu persatu hingga bagian depan tubuhnya terbuka. Dia singkap BH yang menutupi kedua payudara Bella, terpampanglah dua gundukan yang cukup besar dengan puting yang kecoklatan.
Meskipun sudah pernah melahirkan dan menyusui tapi kedua buah dada Bella ini masih cukup kencang.
“Wuiih ni cewek susunya mantep Pak Reman” kata Agus.
“Yaudah sana kenyotin. Tapi simpen dulu tenagamu buat ngerjain si Anggi ini” jawab Pak Reman.
Aguspun mengerjai kedua buah dada Bella. Wajahnya yang jauh dari kata ganteng itupun bergantian menciumi dan menjilati buah dada Bella kiri dan kanan sambil meremasi kedua buah dada montok itu.
Agus begitu bernafsu dengan Bella, hingga beberapa kali membuat cupangan di dada yang putih mulus itu.
Sementara itu Pak Reman masih dengan semangatnya menggenjot tubuh Anggi. Dia mengangkat kedua kaki Anggi dan menekuknya hingga ke dadanya. Dengan begitu Pak Reman semakin meningkatkan tempo genjotannya sambil sesekali meremas buah dada Anggi yang membusung indah.
Entah sudah berapa lama Pak Reman menggenjot tubuh Anggi dan sekarang dia sudah tidak tahan lagi. Akhirnya dengan sentakan-sentakan keras dia keluarkan cairan kentalnya didalam vagina Anggi.
Beberapa saat Pak Reman membiarkan penisnya didalam vagina Anggi yang sedikit berkedut itu.
Setelah beberapa saat Pak Reman kemudian mencabut penis itu. Terlihat lelehan spermanya keluar dari vagina Anggi. Dia cukup puas telah berhasil menikmati tubuh istri saudaranya itu.
Tapi ini baru awalan saja. Permainan yang sebenarnya baru akan dimulai. Dia melihat Agus yang sedang mencumbui Bella dengan tangannya yang mengobok-obok vagina Bella.
“Gus, udahan dulu. Ayo kita garap Anggi berdua”
Mendengar itu Agus meninggalkan tubuh Bella dan menuju ke ranjang. Sebelum naik ke ranjang dia melepaskan semua pakaianya, terlihatlah penisnya sudah tegang walau tak sebesar punya Pak Reman.
Agus kemudian berbaring disamping tubuh Anggi. Dengan bantuan Pak Reman tubuh Anggi diangkat mendekap Agus. Agus kemudian memasukan penisnya ke vagina Anggi yang sudah basah oleh sperma Pak Reman dan cairan cintanya sendiri.
Setelah itu Agus menggenjot tubuh wanita itu dari bawah sambil menciumi wajahnya.
Agus masih tak percaya bisa menyetubuhi atasannya yang selama ini dia hormati itu. Agus belum pernah membayangkan bisa melakukan ini. Kalau bukan ajakan dari Pak Reman mungkin tidak akan pernah dia bisa menikmati tubuh indah bosnya itu.
Sementara itu Pak Reman berdiri mengambil baby oil yang ada di meja rias Anggi.
Rupana Anggi sudah pernah melakukan anal sex dengan suaminya. Memang Anggi bersedia melakukan apapun untuk sang suami. Meskipun sebenarnya dia keberatan tapi akhirnya sebagai istri dia rela juga. Dia ingin agar suaminya tak sampai pindah kelain hari, makanya dia mau-mau saja menuruti semua keinginan suaminya diranjang.
Tapi Pak Reman belum mau melakukan apapun. Dia masih menunggu Anggi terbangun, karena ingin menyodomi Anggi dalam keadaan sadar. Hanya jarinya saja yang mencolok-colok lubang anus Anggi yang bergerak-gerak karena gerakan Agus yang menyetubuhinya dari bawah.
“Hmm, aahh hhmm” Suara desahan Anggi mulai terdengar.
Wanita itu sudah mulai terbangun meskipun belum sadar sepenuhnya. Rasa nikmat yang dia rasakan divaginanya membuatnya mulai membalas ciuman dari Agus.
Dalam mimpinya dia sedang bercinta dengan suaminya. Tapi kemudian alam bawah sadarnya memaksanya untuk bangun karena saat ini suaminya sedang tidak ada dirumah.
Anggi begitu terkejut saat membuka matanya. Yang dia lihat saat itu bukanlah suaminya, tapi wajah orang yang dia kenal, dan itu adalah pegawainya dikantor, Agus.
“Aguss, aahh aahh apa-apaan ini. Lepasin ahh aahh”
“Wah udah sadar ya bu. Kalo gini kan lebih enak, hahaha”
Anggi mencoba berontak tapi Agus mendekapnya dengan sangat kuat.
Saat kedua tangan Anggi mau memukul Agus tiba-tiba dipegang oleh seseorang. Anggipun menoleh kebelakang dan semakin terkejutnya dia karena melihat orang yang memegang tangannya adalah Pak Reman, saudara dari suaminya sendiri.
“Pak Reman, lepasin. Apa apaan ini”
“Udah Nggi nikmatin aja. Sekarang aku kasih yang lebih enak”
Kedua tangan Anggi ditelikung kebelakang dan dipegang erat dengan satu tangan Pak Reman. Tangannya yang satunya mengambil botol baby oil yang sudah terbuka dan meneteskannya dibibir lubang anus Anggi.
Anggi yang menyadari apa yang akan dilakukan Pak Reman kembali mencoba berontak tapi sia-sia karena tubuhnya dipegangi dengan kuat oleh Pak Reman dan Agus.
“Aaahh, jangaan, jangaan disituu aaaaahh”
“Uuhhh bool kamu udah dijebol suamimu ya Nggi? Tapi masih sempit aja ini”
Dengan bantuan baby oil dan lubangnya yang memang sudah tidak perawan membuat Pak Reman dengan mudah memasukan seluruh penisnya.
"AAAARGH! SAKKIIIITT!!”
Anggi berteriak merasakan kesakitan pada anusnya karena penis Pak Reman yang lebih besar dari milik suaminya.
Anggi teriak-teriak saking sakitnya.
“CABUT! UDAH! AAARGKMMM...”
Tapi mulutnya lansung dilumat Agus.
Agus dan Pak Reman kemudian menggerakan penisnya bersamaan, seperti yang pernah mereka lakukan kepada Fika dan Eva.
Anggi benar-benar tak berdaya menghadapi kedua lelaki yang bukan suaminya itu. Dia menangis sejadi-jadinya. Tubuh yang dia jaga selama menikah dengan suaminya itu kini dinikmati begitu saja oleh kedua lelaki bawahannya.
Padahal selama ini tidak sedikit kolega dari suaminya yang merupakan para pengusaha sukses sering menggodanya, tapi dia acuhkan karena kesetiaanya kepada sang suami.
Tapi lama-kelamaan Anggi merasakan sebuah sensasi yang lain yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Memang saat melakukan anal dengan suaminya, Anggi pernah dipaksa oleh sang suami memasukan sebuah vibrator ataupun dildo kedalam vaginanya. Tapi kali ini yang menggarap kedua lubangnya adalah kontol asli yang berukuran cukup besar.
Anggi mencoba melawan sensasi itu karena ini adalah sebuah perkosaan. Tapi genjotan yang diberikan oleh Pak Reman dan Agus dengan tempo yang sama membuat vaginanya membanjir dengan sendirinya, birahinya tak terkendali.
Lama kelamaan Anggi menyerah pada sensasi itu. Dia kemudian membalas ciuman Agus yang buas itu. Wanita alim yang selalu menjaga dirinya dan selalu terlihat tegas dikantor ini menikmati juga permainan mereka.
Melihat reaksi dari Anggi membuat Pak Reman tersenyum.
“Aahh aahh udaahh paak, Guus udaah cukupp aahh aahh” ucap Anggi saat lumatan bibir Agus terlepas.
“Udah apa Nggi? Kamu juga keenakan gitu kok” ejek Pak Reman.
“Nggak, ini nggak enaak, aahh aahh, sakiit aaahh aahh” sangkal Anggi.
“Nggak enak kok mendesah gitu bu? Gimana kalo enak? Haha” Aguspun mengejeknya.
“Gimana pak? Enak nggak si bos?” tanya Agus.
“Uuhh masih enak Gus. Si Anggi ini sering senam dan yoga, badannya masih lumayan kenceng, memeknya juga masih legit” jawab Pak Reman yang masih terus menggenjot Anggi.
Sementara Agus yang tak tahan lagi, dia mulai melepaskan kancing kemeja Bella satu persatu hingga bagian depan tubuhnya terbuka. Dia singkap BH yang menutupi kedua payudara Bella, terpampanglah dua gundukan yang cukup besar dengan puting yang kecoklatan.
Meskipun sudah pernah melahirkan dan menyusui tapi kedua buah dada Bella ini masih cukup kencang.
“Wuiih ni cewek susunya mantep Pak Reman” kata Agus.
“Yaudah sana kenyotin. Tapi simpen dulu tenagamu buat ngerjain si Anggi ini” jawab Pak Reman.
Aguspun mengerjai kedua buah dada Bella. Wajahnya yang jauh dari kata ganteng itupun bergantian menciumi dan menjilati buah dada Bella kiri dan kanan sambil meremasi kedua buah dada montok itu.
Agus begitu bernafsu dengan Bella, hingga beberapa kali membuat cupangan di dada yang putih mulus itu.
Sementara itu Pak Reman masih dengan semangatnya menggenjot tubuh Anggi. Dia mengangkat kedua kaki Anggi dan menekuknya hingga ke dadanya. Dengan begitu Pak Reman semakin meningkatkan tempo genjotannya sambil sesekali meremas buah dada Anggi yang membusung indah.
Entah sudah berapa lama Pak Reman menggenjot tubuh Anggi dan sekarang dia sudah tidak tahan lagi. Akhirnya dengan sentakan-sentakan keras dia keluarkan cairan kentalnya didalam vagina Anggi.
Beberapa saat Pak Reman membiarkan penisnya didalam vagina Anggi yang sedikit berkedut itu.
Setelah beberapa saat Pak Reman kemudian mencabut penis itu. Terlihat lelehan spermanya keluar dari vagina Anggi. Dia cukup puas telah berhasil menikmati tubuh istri saudaranya itu.
Tapi ini baru awalan saja. Permainan yang sebenarnya baru akan dimulai. Dia melihat Agus yang sedang mencumbui Bella dengan tangannya yang mengobok-obok vagina Bella.
“Gus, udahan dulu. Ayo kita garap Anggi berdua”
Mendengar itu Agus meninggalkan tubuh Bella dan menuju ke ranjang. Sebelum naik ke ranjang dia melepaskan semua pakaianya, terlihatlah penisnya sudah tegang walau tak sebesar punya Pak Reman.
Agus kemudian berbaring disamping tubuh Anggi. Dengan bantuan Pak Reman tubuh Anggi diangkat mendekap Agus. Agus kemudian memasukan penisnya ke vagina Anggi yang sudah basah oleh sperma Pak Reman dan cairan cintanya sendiri.
Setelah itu Agus menggenjot tubuh wanita itu dari bawah sambil menciumi wajahnya.
Agus masih tak percaya bisa menyetubuhi atasannya yang selama ini dia hormati itu. Agus belum pernah membayangkan bisa melakukan ini. Kalau bukan ajakan dari Pak Reman mungkin tidak akan pernah dia bisa menikmati tubuh indah bosnya itu.
Sementara itu Pak Reman berdiri mengambil baby oil yang ada di meja rias Anggi.
Rupana Anggi sudah pernah melakukan anal sex dengan suaminya. Memang Anggi bersedia melakukan apapun untuk sang suami. Meskipun sebenarnya dia keberatan tapi akhirnya sebagai istri dia rela juga. Dia ingin agar suaminya tak sampai pindah kelain hari, makanya dia mau-mau saja menuruti semua keinginan suaminya diranjang.
Tapi Pak Reman belum mau melakukan apapun. Dia masih menunggu Anggi terbangun, karena ingin menyodomi Anggi dalam keadaan sadar. Hanya jarinya saja yang mencolok-colok lubang anus Anggi yang bergerak-gerak karena gerakan Agus yang menyetubuhinya dari bawah.
“Hmm, aahh hhmm” Suara desahan Anggi mulai terdengar.
Wanita itu sudah mulai terbangun meskipun belum sadar sepenuhnya. Rasa nikmat yang dia rasakan divaginanya membuatnya mulai membalas ciuman dari Agus.
Dalam mimpinya dia sedang bercinta dengan suaminya. Tapi kemudian alam bawah sadarnya memaksanya untuk bangun karena saat ini suaminya sedang tidak ada dirumah.
Anggi begitu terkejut saat membuka matanya. Yang dia lihat saat itu bukanlah suaminya, tapi wajah orang yang dia kenal, dan itu adalah pegawainya dikantor, Agus.
“Aguss, aahh aahh apa-apaan ini. Lepasin ahh aahh”
“Wah udah sadar ya bu. Kalo gini kan lebih enak, hahaha”
Anggi mencoba berontak tapi Agus mendekapnya dengan sangat kuat.
Saat kedua tangan Anggi mau memukul Agus tiba-tiba dipegang oleh seseorang. Anggipun menoleh kebelakang dan semakin terkejutnya dia karena melihat orang yang memegang tangannya adalah Pak Reman, saudara dari suaminya sendiri.
“Pak Reman, lepasin. Apa apaan ini”
“Udah Nggi nikmatin aja. Sekarang aku kasih yang lebih enak”
Kedua tangan Anggi ditelikung kebelakang dan dipegang erat dengan satu tangan Pak Reman. Tangannya yang satunya mengambil botol baby oil yang sudah terbuka dan meneteskannya dibibir lubang anus Anggi.
Anggi yang menyadari apa yang akan dilakukan Pak Reman kembali mencoba berontak tapi sia-sia karena tubuhnya dipegangi dengan kuat oleh Pak Reman dan Agus.
“Aaahh, jangaan, jangaan disituu aaaaahh”
“Uuhhh bool kamu udah dijebol suamimu ya Nggi? Tapi masih sempit aja ini”
Dengan bantuan baby oil dan lubangnya yang memang sudah tidak perawan membuat Pak Reman dengan mudah memasukan seluruh penisnya.
"AAAARGH! SAKKIIIITT!!”
Anggi berteriak merasakan kesakitan pada anusnya karena penis Pak Reman yang lebih besar dari milik suaminya.
Anggi teriak-teriak saking sakitnya.
“CABUT! UDAH! AAARGKMMM...”
Tapi mulutnya lansung dilumat Agus.
Agus dan Pak Reman kemudian menggerakan penisnya bersamaan, seperti yang pernah mereka lakukan kepada Fika dan Eva.
Anggi benar-benar tak berdaya menghadapi kedua lelaki yang bukan suaminya itu. Dia menangis sejadi-jadinya. Tubuh yang dia jaga selama menikah dengan suaminya itu kini dinikmati begitu saja oleh kedua lelaki bawahannya.
Padahal selama ini tidak sedikit kolega dari suaminya yang merupakan para pengusaha sukses sering menggodanya, tapi dia acuhkan karena kesetiaanya kepada sang suami.
Tapi lama-kelamaan Anggi merasakan sebuah sensasi yang lain yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Memang saat melakukan anal dengan suaminya, Anggi pernah dipaksa oleh sang suami memasukan sebuah vibrator ataupun dildo kedalam vaginanya. Tapi kali ini yang menggarap kedua lubangnya adalah kontol asli yang berukuran cukup besar.
Anggi mencoba melawan sensasi itu karena ini adalah sebuah perkosaan. Tapi genjotan yang diberikan oleh Pak Reman dan Agus dengan tempo yang sama membuat vaginanya membanjir dengan sendirinya, birahinya tak terkendali.
Lama kelamaan Anggi menyerah pada sensasi itu. Dia kemudian membalas ciuman Agus yang buas itu. Wanita alim yang selalu menjaga dirinya dan selalu terlihat tegas dikantor ini menikmati juga permainan mereka.
Melihat reaksi dari Anggi membuat Pak Reman tersenyum.
“Aahh aahh udaahh paak, Guus udaah cukupp aahh aahh” ucap Anggi saat lumatan bibir Agus terlepas.
“Udah apa Nggi? Kamu juga keenakan gitu kok” ejek Pak Reman.
“Nggak, ini nggak enaak, aahh aahh, sakiit aaahh aahh” sangkal Anggi.
“Nggak enak kok mendesah gitu bu? Gimana kalo enak? Haha” Aguspun mengejeknya.
Anggi menangis disela desahannya sebab merasa malu karena mulai menikmati permainan kedua lelaki itu.
Tak bisa dipungkiri dirinya memang termasuk wanita yang haus akan seks, tapi selama ini masih mampu dipuaskan oleh suaminya. Tapi sekarang dia menemukan sensasi yang lain, dengan dikeroyok seperti ini. Sejak melepas keperawanannya dulu ini pertama kalinya dia di double penetration seperti ini, dan ternyata rasanya nikmat tiada tara.
“Udaahh aahh aahh, cukupp aahh aahh”
“Kenapa Nggi? Enak ya?”
“Nggak aahh aahh aahh, paakk aahh nggak enaakhh aahh aahh”
Pak Reman kemudian memberi kode kepada Agus untuk menghentikan gerakan mereka.
Seketika Anggi merasakan ada yang hilang dari kenikmatan baru yang baru saja dia rasakan. Dia ingin protes tapi rasanya tidak mungkin seorang istri baik-baik yang selama ini setia seperti dirinya meminta untuk kembali disetubuhi. Dia hanya menatap dengan nanar kearah Agus yang hanya tersenyum melihatnya.
“Aahh aahh udaahh aahh aahh”
Anggi kembali mendesah saat kedua lelaki itu kembali menggenjot vaginanya. Kedua tangannya yang sudah dilepaskan oleh Pak Reman tidak melakukan perlawanan apa-apa malah hanya meremas sprei karena kenikmatan yang dia rasakan.
Anggi menutup matanya sambil pinggulnya mulai mengikuti gerakan dari kedua lelaki itu. Tapi kemudian sekali lagi kedua pria itu menghentikan gerakannya. Tanpa sadar justru Anggi sendiri yang bergerak mencari kenikmatan.
“Katanya udah Nggi? Kok gerak sendiri? Keenakan ya?” ucap Pak Reman.
Anggi terkejut dan langsung menghentikan gerakannya. Tatapannya semakin nanar kepada Agus meminta agar mereka kembali melanjutkan gerakannya. Anggi begitu tersiksa karena dia sedikit lagi bisa mencapai orgasmenya, tapi kedua pria itu benar-benar ingin mempermaikannya.
Anggi menarik napasnya dalam-dalam, sesaat kemudian pinggulnya bergerak sendiri perlahan. Dia menutup matanya saking malu terutama saat sempat melihat Agus tersenyum lebar ketika pinggulnya mulai bergerak. Mulutnya mendesis, dia mencoba menahan desahannya.
Pak Reman tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat Anggi kalah oleh nafsunya sendiri.
“Aahh aahh enaakkhh aahh aahh teruuss”
Spontan Anggi mendesah keenakan dan minta terus disodok saat kedua lelaki yang tadinya diam itu tiba-tiba menggenjotnya dengan kencang. Anggi sudah benar-benar kalah oleh nafsunya sendiri.
Kini desahannya terdengar tanpa bisa ditahan. Semua ini terlalu nikmat untuk bisa dia tolak. Harga dirinya sudah entah kemana, yang kini ada dikepalanya hanyalah mengejar kepuasannya sendiri, bahkan dia sudah lupa dengan suaminya yang sedang berada diluar kota.
“Aahh aahh Gus terusshh aahh aahh Pak Remaanh aahh enaakk”
“Apanya yang enak Nggi?” tanya Pak Reman.
“Aahh aaahh kontol, kontol kalian enaak aahh aahh”
“Astagaa, Mbak Anggi, apa apaan ini?” tiba-tiba terdengar teriakan Bella yang ternyata sudah terbangun.
Teriakan Bella itu membuat Anggi, Pak Reman dan Agus menoleh kearahnya.
Bella nampak begitu terkejut melihat kakak kandungnya itu sudah telanjang dan sedang disetubuhi depan belakang oleh dua orang lelaki. Dari tempatnya dia bisa melihat dua batang kehitaman yang keluar masuk di pantat dan selangkangan kakaknya itu.
Tapi Bella lebih terkejut lagi ketika menyadari keadaan dirinya. Kemejanya sudah terbuka, BHnya sudah terangkat mempertontonkan kedua buah dadanya yang montok dan membusung indah. Rok yang dipakainya juga sudah tersingkap sampai ke pinggang dan celana dalamnya sudah turun sampai sebatas lutut.
“Mbak Anggi, apa ini mbak?” tanya Bella panik.
“Aahh aahh mbaak lagi diperkosa Bel aahh aahh” jawab Anggi yang terus mendesah disetubuhi kedua pria itu.
“Kok diperkosa sih Nggi? Ayo bilang yang bener diapain” perintah Pak Reman.
“Aahh aahh entot. Aahh aahh mbak lagi dientot Bel aahh aahh” ucap Anggi begitu saja.
“Enak nggak bu dientot sama kami?” tanya Agus.
“Aahh enaakkhh aahh aah enak bangett aahh aahh”
Bella benar-benar tak percaya dengan apa yang dia dengar itu. Anggi yang selama ini dia ketahui sebagai istri yang setia, sopan tutur kata dan perilakunya bisa berkata sedemikian kotor.
Belum pernah Bella mendengar kata-kata sekotor itu, dan sekarang dia harus mendengarnya, dari kakak kandungnya sendiri dan sedang disetubuhi oleh lelaki yang bukan suaminya, depan belakang.
“Tuh Bel kakakmu keenakan dientot sama kami. Habis ini giliran kamu yaa, haha”
“Nggak, nggak mau. Lepasin saya. Tolooong” Bella tentu saja tak rela diperlakukan seperti kakaknya.
“Haha percuma aja teriak-teriak Bel, nggak akan ada yang denger. Kamar kakakmu ini kedap suara. Haha” ucap Pak Reman yang memang mengetahui bagaimana kondisi rumah ini.
Bella menangis dengan apa yang terjadi dikamar. Dia yakin kakaknya sedang diperkosa, tapi dia bingung kenapa kakaknya malah keenakan seperti itu. Dia yakin, setelah ini dirinya juga akan mendapatkan perlakuan yang sama. Apalagi dia melihat disitu ada adiknya yang kondisinya terikat tangan dan kakinya, sama seperti dirinya, tapi mulut adiknya itu masih tertutup oleh lakban.
“Aahh aahh aku mau keluar aahh aahh terussin aahh aahh”
“Aku juga Nggi, tahan bentar”
“Saya juga bu, kita keluar bareng-bareng”
Kedua pria itu semakin mempercepat genjotannya, membuat Anggi semakin kehilangan kontrol pada dirinya sendiri. Dia sudah tak peduli lagi kalau apa yang terjadi ini sedang dilihat oleh adiknya. Dia tak peduli bagaimana pandangan adiknya setelah melihatnya seperti ini, yang dia inginkan saat ini hanyalah puncak kepuasan dengan disemprotnya kedua lubangnya dengan cairan kental dari kedua lelaki itu.
“AAAAAAAAARGGHHHH!!!”
Ketiga orang itu berteriak panjang saat masing-masing mendapatkan orgasmenya.
Beberapa kali sperma menyemprot di kedua lubangnya membuat Anggi mendapatkan orgasme yang begitu dahsyat. Lebih hebat dari orgasme yang selama ini dia dapatkan dari suaminya.
Ketiga orang itu mengejang badannya menikmati puncak kepuasannya masing-masing.
“Mmmppp mmppp mmmppp” suara Citra, si bungsu yang baru saja terbangun dan matanya terbuka bersamaan dengan teriakan kepuasan dari ketiga orang yang bersetubuh diranjang.
Ketiga orang yang berada diranjang serta Bella menoleh ke sumber suara itu.
Citra begitu terkejut melihat kakak sulungnya sedang dalam keadaan telanjang bulat disetubuhi oleh 2 orang pria. Sedangkan kakak keduanya Bella sedang terikat sama seperti dirinya dengan kondisi pakaian yang sudah terbuka disana sini memperlihatkan area-area pribadinya. Hanya tinggal dia dikamar ini yang pakaiannya masih lengkap sempurna menutupi tubuhnya yang masih suci belum terjamah oleh siapapun.
“Aahh aahh paakh aahh”
Tiba-tiba desahan Anggi terdengar lagi karena Pak Reman kembali menyodokan penisnya yang masih keras di lubang pantatnya. Begitupun Agus yang sudah diberi ramuan khusus dari Pak Reman membuat penisnya masih keras dan kembali menghajar vagina Anggi.
Anggi tak mengerti bagaimana kedua lelaki ini bisa cepat sekali kerasnya lagi setelah orgasme tadi. Tapi dia tak sempat berpikir lagi karena harus kembali diamuk birahi.
Tak bisa dipungkiri dirinya memang termasuk wanita yang haus akan seks, tapi selama ini masih mampu dipuaskan oleh suaminya. Tapi sekarang dia menemukan sensasi yang lain, dengan dikeroyok seperti ini. Sejak melepas keperawanannya dulu ini pertama kalinya dia di double penetration seperti ini, dan ternyata rasanya nikmat tiada tara.
“Udaahh aahh aahh, cukupp aahh aahh”
“Kenapa Nggi? Enak ya?”
“Nggak aahh aahh aahh, paakk aahh nggak enaakhh aahh aahh”
Pak Reman kemudian memberi kode kepada Agus untuk menghentikan gerakan mereka.
Seketika Anggi merasakan ada yang hilang dari kenikmatan baru yang baru saja dia rasakan. Dia ingin protes tapi rasanya tidak mungkin seorang istri baik-baik yang selama ini setia seperti dirinya meminta untuk kembali disetubuhi. Dia hanya menatap dengan nanar kearah Agus yang hanya tersenyum melihatnya.
“Aahh aahh udaahh aahh aahh”
Anggi kembali mendesah saat kedua lelaki itu kembali menggenjot vaginanya. Kedua tangannya yang sudah dilepaskan oleh Pak Reman tidak melakukan perlawanan apa-apa malah hanya meremas sprei karena kenikmatan yang dia rasakan.
Anggi menutup matanya sambil pinggulnya mulai mengikuti gerakan dari kedua lelaki itu. Tapi kemudian sekali lagi kedua pria itu menghentikan gerakannya. Tanpa sadar justru Anggi sendiri yang bergerak mencari kenikmatan.
“Katanya udah Nggi? Kok gerak sendiri? Keenakan ya?” ucap Pak Reman.
Anggi terkejut dan langsung menghentikan gerakannya. Tatapannya semakin nanar kepada Agus meminta agar mereka kembali melanjutkan gerakannya. Anggi begitu tersiksa karena dia sedikit lagi bisa mencapai orgasmenya, tapi kedua pria itu benar-benar ingin mempermaikannya.
Anggi menarik napasnya dalam-dalam, sesaat kemudian pinggulnya bergerak sendiri perlahan. Dia menutup matanya saking malu terutama saat sempat melihat Agus tersenyum lebar ketika pinggulnya mulai bergerak. Mulutnya mendesis, dia mencoba menahan desahannya.
Pak Reman tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat Anggi kalah oleh nafsunya sendiri.
“Aahh aahh enaakkhh aahh aahh teruuss”
Spontan Anggi mendesah keenakan dan minta terus disodok saat kedua lelaki yang tadinya diam itu tiba-tiba menggenjotnya dengan kencang. Anggi sudah benar-benar kalah oleh nafsunya sendiri.
Kini desahannya terdengar tanpa bisa ditahan. Semua ini terlalu nikmat untuk bisa dia tolak. Harga dirinya sudah entah kemana, yang kini ada dikepalanya hanyalah mengejar kepuasannya sendiri, bahkan dia sudah lupa dengan suaminya yang sedang berada diluar kota.
“Aahh aahh Gus terusshh aahh aahh Pak Remaanh aahh enaakk”
“Apanya yang enak Nggi?” tanya Pak Reman.
“Aahh aaahh kontol, kontol kalian enaak aahh aahh”
“Astagaa, Mbak Anggi, apa apaan ini?” tiba-tiba terdengar teriakan Bella yang ternyata sudah terbangun.
Teriakan Bella itu membuat Anggi, Pak Reman dan Agus menoleh kearahnya.
Bella nampak begitu terkejut melihat kakak kandungnya itu sudah telanjang dan sedang disetubuhi depan belakang oleh dua orang lelaki. Dari tempatnya dia bisa melihat dua batang kehitaman yang keluar masuk di pantat dan selangkangan kakaknya itu.
Tapi Bella lebih terkejut lagi ketika menyadari keadaan dirinya. Kemejanya sudah terbuka, BHnya sudah terangkat mempertontonkan kedua buah dadanya yang montok dan membusung indah. Rok yang dipakainya juga sudah tersingkap sampai ke pinggang dan celana dalamnya sudah turun sampai sebatas lutut.
“Mbak Anggi, apa ini mbak?” tanya Bella panik.
“Aahh aahh mbaak lagi diperkosa Bel aahh aahh” jawab Anggi yang terus mendesah disetubuhi kedua pria itu.
“Kok diperkosa sih Nggi? Ayo bilang yang bener diapain” perintah Pak Reman.
“Aahh aahh entot. Aahh aahh mbak lagi dientot Bel aahh aahh” ucap Anggi begitu saja.
“Enak nggak bu dientot sama kami?” tanya Agus.
“Aahh enaakkhh aahh aah enak bangett aahh aahh”
Bella benar-benar tak percaya dengan apa yang dia dengar itu. Anggi yang selama ini dia ketahui sebagai istri yang setia, sopan tutur kata dan perilakunya bisa berkata sedemikian kotor.
Belum pernah Bella mendengar kata-kata sekotor itu, dan sekarang dia harus mendengarnya, dari kakak kandungnya sendiri dan sedang disetubuhi oleh lelaki yang bukan suaminya, depan belakang.
“Tuh Bel kakakmu keenakan dientot sama kami. Habis ini giliran kamu yaa, haha”
“Nggak, nggak mau. Lepasin saya. Tolooong” Bella tentu saja tak rela diperlakukan seperti kakaknya.
“Haha percuma aja teriak-teriak Bel, nggak akan ada yang denger. Kamar kakakmu ini kedap suara. Haha” ucap Pak Reman yang memang mengetahui bagaimana kondisi rumah ini.
Bella menangis dengan apa yang terjadi dikamar. Dia yakin kakaknya sedang diperkosa, tapi dia bingung kenapa kakaknya malah keenakan seperti itu. Dia yakin, setelah ini dirinya juga akan mendapatkan perlakuan yang sama. Apalagi dia melihat disitu ada adiknya yang kondisinya terikat tangan dan kakinya, sama seperti dirinya, tapi mulut adiknya itu masih tertutup oleh lakban.
“Aahh aahh aku mau keluar aahh aahh terussin aahh aahh”
“Aku juga Nggi, tahan bentar”
“Saya juga bu, kita keluar bareng-bareng”
Kedua pria itu semakin mempercepat genjotannya, membuat Anggi semakin kehilangan kontrol pada dirinya sendiri. Dia sudah tak peduli lagi kalau apa yang terjadi ini sedang dilihat oleh adiknya. Dia tak peduli bagaimana pandangan adiknya setelah melihatnya seperti ini, yang dia inginkan saat ini hanyalah puncak kepuasan dengan disemprotnya kedua lubangnya dengan cairan kental dari kedua lelaki itu.
“AAAAAAAAARGGHHHH!!!”
Ketiga orang itu berteriak panjang saat masing-masing mendapatkan orgasmenya.
Beberapa kali sperma menyemprot di kedua lubangnya membuat Anggi mendapatkan orgasme yang begitu dahsyat. Lebih hebat dari orgasme yang selama ini dia dapatkan dari suaminya.
Ketiga orang itu mengejang badannya menikmati puncak kepuasannya masing-masing.
“Mmmppp mmppp mmmppp” suara Citra, si bungsu yang baru saja terbangun dan matanya terbuka bersamaan dengan teriakan kepuasan dari ketiga orang yang bersetubuh diranjang.
Ketiga orang yang berada diranjang serta Bella menoleh ke sumber suara itu.
Citra begitu terkejut melihat kakak sulungnya sedang dalam keadaan telanjang bulat disetubuhi oleh 2 orang pria. Sedangkan kakak keduanya Bella sedang terikat sama seperti dirinya dengan kondisi pakaian yang sudah terbuka disana sini memperlihatkan area-area pribadinya. Hanya tinggal dia dikamar ini yang pakaiannya masih lengkap sempurna menutupi tubuhnya yang masih suci belum terjamah oleh siapapun.
“Aahh aahh paakh aahh”
Tiba-tiba desahan Anggi terdengar lagi karena Pak Reman kembali menyodokan penisnya yang masih keras di lubang pantatnya. Begitupun Agus yang sudah diberi ramuan khusus dari Pak Reman membuat penisnya masih keras dan kembali menghajar vagina Anggi.
Anggi tak mengerti bagaimana kedua lelaki ini bisa cepat sekali kerasnya lagi setelah orgasme tadi. Tapi dia tak sempat berpikir lagi karena harus kembali diamuk birahi.
Anggi sudah benar-benar dikuasai oleh nafsunya sendiri, tidak ingat disitu ada adik-adiknya yang melihat, dia menurut saja waktu Agus menarik dan menciuminya. Bahkan Anggi juga membalasnya dengan tak kalah ganas. Pinggulnya juga bergerak liar merespon gerakan dari Agus dan Pak Reman.
Melihat kakaknya seperti itu membuat Citra menangis tak percaya. Bagaimana bisa kakaknya yang dia kagumi sebagai wanita yang setia kini dengan sukarela melayani 2 pria asing sekaligus.
Anggi pernah cerita kepada Citra dan Bella tentang banyaknya teman lelaki suaminya yang mencoba menggodanya, tapi selalu ditolak. Anggi cerita seperti itu supaya menjadi pesan buat Bella dan Citra agar mereka juga setia sama suaminya. Tapi yang terjadi sekarang benar-benar kebalikannya.
Citra mengira kalau awalnya kakaknya memang diperkosa selama dia pingsan tadi, tapi sekarang terlihat kakaknya sama sekali tak terpaksa melakukan itu dan tampak begitu menikmati.
Berbeda dengan Citra, Bella merasakan hal yang lain. Dia memang terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia lihat itu. Dia marah kepada 2 laki-laki yang telah memaksa kakaknya itu tidak setia lagi. Tapi dia juga merasakan sesuatu yang lain.
Dia yang sudah menikah dan sering berhubungan badan dengan suaminya jadi penasaran bagaimana rasanya digenjot depan belakang seperti kakaknya itu, apalagi kedua penis yang sedang menggarap kakaknya itu lebih besar daripada milik suaminya, dan suami Anggi.
Ya, tanpa diketahui oleh siapapun, Bella sebenarnya pernah bercinta dengan kakak iparnya itu. Awalnya dipaksa tapi lama-lama ketagihan juga karena lebih memuaskan ketimbang suaminya sendiri. Tapi itu sudah lama, waktu dia masih awal-awal hamil anak pertama. Setelah melahirkan anak pertamanya hingga kini mereka tak pernah berhubungan badan lagi.
Sekarang, melihat kakaknya digenjot seperti itu, tanpa terasa birahi Bella perlahan naik. Beberapa kali dia menggesekan kedua pahanya karena vaginanya terasa agak gatal.
Bella hampir saja membuang pikiran itu saat melihat Pak Reman menarik penisnya yang besar dari anus Anggi.
Bella terkesima melihat ukuran penis itu, benar-benar besar. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika penis itu mengacak-acak liang vaginanya.
Kemudian Bella melihat kakaknya yang masih bergoyang diatas tubuh Agus disuruh untuk mengulum penis Pak Reman, dan Anggi melakukan begitu saja. Bahkan terlihat Anggi begitu rakus menjilati dan menghisap penis besar itu, sambil bergoyang liar memanjakan penis Agus.
Bella terbelalak melihat pemandangan itu, dia tak percaya kakaknya bisa seliar itu dengan 2 pria sekaligus.
Melihat semua itu membuat vagina Bella semakin gatal. Semakin sering dia menggesekan kedua pahanya, vaginanya terasa semakin basah, puting susunya juga mengeras. Dia terangsang melihat kakak kandungnya sedang disetubuhi oleh 2 orang pria yang bukan suaminya. Dalam benaknya terbayang dia ada diposisi Anggi.
Entah kenapa Bella jadi tidak ingat lagi dengan suami dan anak-anaknya. Rasanya dia ingin sekali menggantikan posisi sang kakak dan mendapatkan kenikmatan yang sama.
Bella melihat Anggi bergoyang semakin liar. Sepertinya kakaknya akan segera orgasme lagi. Begitupun Agus yang menyodoknya dari bawah, dan Pak Reman yang sedang dikulum penisnya oleh Anggi. Mereka nampaknya sebentar lagi akan orgasme bersamaan lagi.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian ketiga tubuh itu kembali mengejang. Agus dan Pak Reman mendesah panjang sedangkan desahan Anggi tertahan oleh penis Pak Reman yang masih berada di mulutnya dan menumpahkan sperma di dalamnya. Anggi langsung menelan habis semua cairan itu, lalu menjilati penis Pak Reman untuk membersihkannya.
Selesai itu Agus mencabut penisnya dari vagina Anggi dan membaringkan wanita itu tidur terlentang.
Kontol Pak Reman yang masih keras langsung menggagahi Anggi lagi.
Anggi terkejut karena penis itu baru saja menyemprotkan sperma dimulutnya, tapi sudah langsung menghujam vaginanya lagi. Dia benar-benar kagum dengan keperkasaan Pak Reman.
Akhirnya Anggi benar-benar menyerah dan takluk untuk melayani Pak Reman sepenuh hatinya, karena dia sendiri juga senang bisa terpuaskan nafsunya yang meledak-ledak itu.
Desahan Anggi terdengar dengan jelas dan erotis saat Pak Reman menggenjot vaginanya dengan kencang.
Sedangkan Agus dengan penis yang juga masih mengacung tegak berjalan mendekati Bella. Bella yang sebenarnya ketakutan justru terpaku pada batang penis Agus. Semakin Agus mendekat semakin jantungnya berdebar kencang. Hingga akhirnya lelaki yang baru saja menyetubuhi kakak kandungnya itu berada tepat didepannya.
“Ma..mau apa kamu?” tanya Bella dengan nada bergetar.
“Aku tau Mbak Bella sedari tadi sudah pengen kan. Sekarang giliran Mbak Bella yang aku puasin” jawab Agus.
“Jangan ngawur kamu ngomong. Cepet lepasin ikatanku atau aku bakalan laporin kalian ke polisi” ancam Bella.
“Mau lapor apaan mbak? Perkosaan? Itu liat aja sendiri kakakmu malah keenakan kami entot. Kalo kamu lapor apa nggak kakakmu yang malu?” Agus dengan santainya.
“Hmmmmpp” Bella terkejut dan menahan desahannya ketika tangan Agus dengan seenaknya meremas buah dadanya dan memilin putingnya yang sudah mulai mengeras.
Agus tersenyum melihat itu, lalu tangannya merogoh ke vaginanya yang sudah terbuka. Ternyata sudah cukup basah disana.
“Walah walah, ternyata kamu horni juga ya mbak lihat kakakmu kami entot tadi, pengen juga ya kamu?” tanya Agus mengejek.
“Enggak ahh, lepasin Gus” jawab Bella.
“Udah mbak Bella nggak usah mungkir. Buktinya pentilmu udah keras, memekmu juga udah basah”
Bella menutup erat mulutnya agar tak sampai keluar desahannya. Dia hanya bisa menggeleng saja karena sekarang jari tengah Agus sudah masuk di vaginanya dan mengocoknya dengan pelan. Bella merem melek menerima itu.
Tapi kemudian tiba-tiba Agus menarik jarinya dan membuat Bella menarik nafas lega. Agus kemudian menarik kepala Bella hingga berada didepan penisnya yang mengacung. Agus membelai kepala Bella yang masih tertutup jilbab itu sambil mendekatkan penisnya ke mulut Bella.
“Ayo buka mulutnya, isepin kontolku kayak kakakmu tadi ngisepin kontol Pak Reman”
Bella masih menutup rapat mulutnya. Dia masih mencoba menyelamatkan harga dirinya meskipun tak dia pungkiri kalau birahinya sudah naik gara-gara rangsangan Agus barusan. Apalagi melihat Anggi yang sedang bercinta dengan Pak Reman tampak benar-benar menikmati meskipun terlihat sudah begitu lemas.
Agus tahu wanita itu hanya masih mempertahankan gengsinya saja, karena dia lihat puting susu Bella sudah semakin keras dan vaginanya juga sudah sangat basah.
Bella tersentak saat penis Agus tiba-tiba terasa menyentuh bibirnya. Dia langsung memalingkan wajahnya kearah Citra. Kebetulan sekali Citra juga sedang menatapnya sambil menangis terisak.
Citra menggelengkan kepalanya, meminta agar Bella tidak menuruti kemauan Agus.
Kemudian Bella rasakan penis Agus digesek-gesekan dipipinya. Aroma dari penis Agus tercium kuat dihidungnya, membuat libido ibu 2 anak itu semakin naik. Dia kembali menatap Citra yang masih menangis dan menggelengkan kepalanya. Bellapun ikut menangis. Tapi dia menangis karena tubuhnya sudah semakin menolak perintah otaknya.
Melihat kakaknya seperti itu membuat Citra menangis tak percaya. Bagaimana bisa kakaknya yang dia kagumi sebagai wanita yang setia kini dengan sukarela melayani 2 pria asing sekaligus.
Anggi pernah cerita kepada Citra dan Bella tentang banyaknya teman lelaki suaminya yang mencoba menggodanya, tapi selalu ditolak. Anggi cerita seperti itu supaya menjadi pesan buat Bella dan Citra agar mereka juga setia sama suaminya. Tapi yang terjadi sekarang benar-benar kebalikannya.
Citra mengira kalau awalnya kakaknya memang diperkosa selama dia pingsan tadi, tapi sekarang terlihat kakaknya sama sekali tak terpaksa melakukan itu dan tampak begitu menikmati.
Berbeda dengan Citra, Bella merasakan hal yang lain. Dia memang terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia lihat itu. Dia marah kepada 2 laki-laki yang telah memaksa kakaknya itu tidak setia lagi. Tapi dia juga merasakan sesuatu yang lain.
Dia yang sudah menikah dan sering berhubungan badan dengan suaminya jadi penasaran bagaimana rasanya digenjot depan belakang seperti kakaknya itu, apalagi kedua penis yang sedang menggarap kakaknya itu lebih besar daripada milik suaminya, dan suami Anggi.
Ya, tanpa diketahui oleh siapapun, Bella sebenarnya pernah bercinta dengan kakak iparnya itu. Awalnya dipaksa tapi lama-lama ketagihan juga karena lebih memuaskan ketimbang suaminya sendiri. Tapi itu sudah lama, waktu dia masih awal-awal hamil anak pertama. Setelah melahirkan anak pertamanya hingga kini mereka tak pernah berhubungan badan lagi.
Sekarang, melihat kakaknya digenjot seperti itu, tanpa terasa birahi Bella perlahan naik. Beberapa kali dia menggesekan kedua pahanya karena vaginanya terasa agak gatal.
Bella hampir saja membuang pikiran itu saat melihat Pak Reman menarik penisnya yang besar dari anus Anggi.
Bella terkesima melihat ukuran penis itu, benar-benar besar. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika penis itu mengacak-acak liang vaginanya.
Kemudian Bella melihat kakaknya yang masih bergoyang diatas tubuh Agus disuruh untuk mengulum penis Pak Reman, dan Anggi melakukan begitu saja. Bahkan terlihat Anggi begitu rakus menjilati dan menghisap penis besar itu, sambil bergoyang liar memanjakan penis Agus.
Bella terbelalak melihat pemandangan itu, dia tak percaya kakaknya bisa seliar itu dengan 2 pria sekaligus.
Melihat semua itu membuat vagina Bella semakin gatal. Semakin sering dia menggesekan kedua pahanya, vaginanya terasa semakin basah, puting susunya juga mengeras. Dia terangsang melihat kakak kandungnya sedang disetubuhi oleh 2 orang pria yang bukan suaminya. Dalam benaknya terbayang dia ada diposisi Anggi.
Entah kenapa Bella jadi tidak ingat lagi dengan suami dan anak-anaknya. Rasanya dia ingin sekali menggantikan posisi sang kakak dan mendapatkan kenikmatan yang sama.
Bella melihat Anggi bergoyang semakin liar. Sepertinya kakaknya akan segera orgasme lagi. Begitupun Agus yang menyodoknya dari bawah, dan Pak Reman yang sedang dikulum penisnya oleh Anggi. Mereka nampaknya sebentar lagi akan orgasme bersamaan lagi.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian ketiga tubuh itu kembali mengejang. Agus dan Pak Reman mendesah panjang sedangkan desahan Anggi tertahan oleh penis Pak Reman yang masih berada di mulutnya dan menumpahkan sperma di dalamnya. Anggi langsung menelan habis semua cairan itu, lalu menjilati penis Pak Reman untuk membersihkannya.
Selesai itu Agus mencabut penisnya dari vagina Anggi dan membaringkan wanita itu tidur terlentang.
Kontol Pak Reman yang masih keras langsung menggagahi Anggi lagi.
Anggi terkejut karena penis itu baru saja menyemprotkan sperma dimulutnya, tapi sudah langsung menghujam vaginanya lagi. Dia benar-benar kagum dengan keperkasaan Pak Reman.
Akhirnya Anggi benar-benar menyerah dan takluk untuk melayani Pak Reman sepenuh hatinya, karena dia sendiri juga senang bisa terpuaskan nafsunya yang meledak-ledak itu.
Desahan Anggi terdengar dengan jelas dan erotis saat Pak Reman menggenjot vaginanya dengan kencang.
Sedangkan Agus dengan penis yang juga masih mengacung tegak berjalan mendekati Bella. Bella yang sebenarnya ketakutan justru terpaku pada batang penis Agus. Semakin Agus mendekat semakin jantungnya berdebar kencang. Hingga akhirnya lelaki yang baru saja menyetubuhi kakak kandungnya itu berada tepat didepannya.
“Ma..mau apa kamu?” tanya Bella dengan nada bergetar.
“Aku tau Mbak Bella sedari tadi sudah pengen kan. Sekarang giliran Mbak Bella yang aku puasin” jawab Agus.
“Jangan ngawur kamu ngomong. Cepet lepasin ikatanku atau aku bakalan laporin kalian ke polisi” ancam Bella.
“Mau lapor apaan mbak? Perkosaan? Itu liat aja sendiri kakakmu malah keenakan kami entot. Kalo kamu lapor apa nggak kakakmu yang malu?” Agus dengan santainya.
“Hmmmmpp” Bella terkejut dan menahan desahannya ketika tangan Agus dengan seenaknya meremas buah dadanya dan memilin putingnya yang sudah mulai mengeras.
Agus tersenyum melihat itu, lalu tangannya merogoh ke vaginanya yang sudah terbuka. Ternyata sudah cukup basah disana.
“Walah walah, ternyata kamu horni juga ya mbak lihat kakakmu kami entot tadi, pengen juga ya kamu?” tanya Agus mengejek.
“Enggak ahh, lepasin Gus” jawab Bella.
“Udah mbak Bella nggak usah mungkir. Buktinya pentilmu udah keras, memekmu juga udah basah”
Bella menutup erat mulutnya agar tak sampai keluar desahannya. Dia hanya bisa menggeleng saja karena sekarang jari tengah Agus sudah masuk di vaginanya dan mengocoknya dengan pelan. Bella merem melek menerima itu.
Tapi kemudian tiba-tiba Agus menarik jarinya dan membuat Bella menarik nafas lega. Agus kemudian menarik kepala Bella hingga berada didepan penisnya yang mengacung. Agus membelai kepala Bella yang masih tertutup jilbab itu sambil mendekatkan penisnya ke mulut Bella.
“Ayo buka mulutnya, isepin kontolku kayak kakakmu tadi ngisepin kontol Pak Reman”
Bella masih menutup rapat mulutnya. Dia masih mencoba menyelamatkan harga dirinya meskipun tak dia pungkiri kalau birahinya sudah naik gara-gara rangsangan Agus barusan. Apalagi melihat Anggi yang sedang bercinta dengan Pak Reman tampak benar-benar menikmati meskipun terlihat sudah begitu lemas.
Agus tahu wanita itu hanya masih mempertahankan gengsinya saja, karena dia lihat puting susu Bella sudah semakin keras dan vaginanya juga sudah sangat basah.
Bella tersentak saat penis Agus tiba-tiba terasa menyentuh bibirnya. Dia langsung memalingkan wajahnya kearah Citra. Kebetulan sekali Citra juga sedang menatapnya sambil menangis terisak.
Citra menggelengkan kepalanya, meminta agar Bella tidak menuruti kemauan Agus.
Kemudian Bella rasakan penis Agus digesek-gesekan dipipinya. Aroma dari penis Agus tercium kuat dihidungnya, membuat libido ibu 2 anak itu semakin naik. Dia kembali menatap Citra yang masih menangis dan menggelengkan kepalanya. Bellapun ikut menangis. Tapi dia menangis karena tubuhnya sudah semakin menolak perintah otaknya.
Bella kemudian menutup matanya, dan perlahan kembali memalingkan wajahnya kearah penis Agus hingga penis itu kembali menyentuh bibirnya. Dia masih belum mau membuka mulutnya. Dia berharap Agus memaksa penisnya untuk masuk jadi tidak terlihat kalau dia sukarela membuka mulutnya.
Tapi ternyata Agus tidak mau melakukannya. Dia hanya menggesekan kepala penisnya itu mengusap bibir lembut Bella.
Akhirnya Bella menyerah pada nafsunya. Perlahan dia buka sendiri mulutnya. Bella masih memejamkan matanya dan dia membayangkan penis yang sedang menyentuh bibirnya itu adalah milik suaminya yang jauh lebih ganteng daripada Agus.
“Keluarin lidahmu mbak, jilat kontolku” pinta Agus dengan santainya.
Bella menurutinya begitu saja. Dia keluarkan lidahnya dan langsung bersentuhan dengan kepala penis Agus.
“Mbak Bella jangaaan, hiks hiks” suara Citra melarangnya.
Bukannya berhenti Bella justru mulai menjilati penis pria yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu itu. Bella sudah tak bisa lagi melawan, dia sudah benar-benar kalah oleh nafsunya.
Bella memang tidak terlalu jago dalam urusan blowjob. Tapi itu justru jadi sensasi tersendiri untuk Agus. Apalagi Bella melakukannya masih dengan memakai jilbab dikepalanya, meskipun pakaiannya sudah terbuka disana sini.
Sluurpp sluurpp
Bella mulai mengulum penis itu. Tanpa paksaan sama sekali dia masukan penis itu kedalam mulutnya. Dia maju mundurkan kepalanya. Sebenarnya Bella berharap Agus yang menggerakan penisnya. Tapi setelah lama Agus tak bergerak akhirnya Bella sendiri yang bergerak.
Teknik blowjob Bella sebenarnya terbilang payah karena beberapa kali Agus meringis waktu penisnya terkena giginya. Tapi sekali lagi, dengan kepolosan Bella ini justru membuat Agus semakin bernafsu.
Sementara itu diranjang, Anggi sudah benar-benar tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dengan posisi sekarang diatas tubuh Pak Reman, dia menggoyangkan pinggulnya dengan liar.
Anggi seperti baru menemukan kenikmatan bercinta yang sejati dari Pak Reman. Dia ingin sekali mengejar kenikmatan yang paling nikmat yang pernah dia rasakan.
Anggi tak lagi dia peduli pada Citra yang menangis dan apa yang terjadi pada Bella. Sekarang ini cuma birahinya yang menguasainya yang memintanya terus bergoyang dengan liar.
“Aaahh aahh Pak Remaan, aahh aahh”
“Uuggh goyanganmu sedap bener Nggi, gimana kontolku enak?”
“Aahh enak banget pak, kontol Pak Reman enak banget, Anggi sukaa aahh aahh”
“Mau kamu enak kayak gini terus Nggi?”
“Mau banget paakh, ahhh”
“Mau ngerasain kapan aja?”
“Iya pak aku mauu aahh aahh”
“Jadi kamu sekarang budakku, bener kan?”
“Iyaa pak, saya budaknya Pak Reman sekarang, bapak bebas mau make saya kapan aja, saya pasti mau, aahh aahh enaak banget, aaaaahhhhh”
Anggi sudah orgasme lagi, entah yang keberapa kali. Tubuhnya langsung lunglai di atas tubuh Pak Reman. Dia sangat lemas, tapi benar-benar puas, terlihat dari senyum diwajahnya.
Kemudian Pak Reman memposisikan Anggi tidur terletang dan kedua pahanya langsung dibuka lebar-lebar. Tanpa menunggu lagi Pak Reman langsung menghujamkan penisnya kedalam vagina Anggi yang sudah sangat becek. Anggi sudah pasrah menerima apa yang dilakukan Pak Reman padanya.
Pak Reman menggenjot Anggi dengan sekuat tenaga, membuatnya meringis disela desahannya. Masih ada sedikit rasa sakit kalau Pak Reman menggoyangnya sekasar ini, tapi entah kenapa dia mulai suka dikasari oleh Pak Reman. Ada sensasi tersendiri yang baru saja dia rasakan yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya selama ini.
Anggi sangat menikmati permainan Pak Reman hingga tak lama kemudian dia mendapatkan orgasmenya lagi.
Melihat Anggi yang sudah sangat-sangat lemas, bukanya berhenti Pak Reman malah bersemangat merojok kemaluan Anggi dengan kasar.
Anggi tak percaya lelaki yang lebih tua darinya ini benar-benar kuat dalam bercinta, padahal dia sudah berulang kali orgasme sampai lemas tapi lelaki ini masih saja perkasa menggaulinya.
Sampai pada akhirnya Pak Reman melenguh panjang menghujam keras-keras penisnya dalam-dalam di vagina Anggi dan menembakkan peju kental nan hangatnya disana, yang kembali membuat Anggi mengejang karena orgasme yang kesekian kali.
Anggi sudah hampir hilang kesadaran saking lelahnya melayani lelaki tua itu. Dia tak pernah membayangkan sebelumnya ternyata seenak ini bercinta dengan orang lain selain suaminya sendiri. Entah apakah lelaki lain yang sering menggodanya juga bisa seperti Pak Reman, tapi yang jelas malam ini lelaki itu benar-benar sukses menghidupkan sisi liar yang selama ini terpendam dalam dirinya.
Anggi tergeletak tak berdaya menikmati kepuasan yang diberikan oleh Pak Reman.
Sementara Bella kini sudah siap untuk dikontolin Agus. Kaki dan tangannya yang tadi terikat sekarang sudah dilepaskan oleh Agus.
Agus merasa yakin kalau wanita ini sudah masuk kedalam genggamannya sehingga tidak khawatir waktu melepaskan ikatannya.
Benar saja, begitu ikatannya lepas bukannya berontak dan melawan, Bella malah diam saja. Bahkan waktu Agus melepaskan pakaian yang masih menempel ditubuhnya diapun diam saja.
Sekarang Bella sudah telanjang sepenuhnya kecuali jilbab yang memang sengaja tidak dilepas oleh Agus.
Bella pasrah saja saat Agus membuka kedua pahanya lebar-lebar dan mendekatkan kepalanya pada selangkangannya. Bella hanya bisa melihat wajah Agus yang tersenyum melihat daerah kewanitaannya yang bersih dari bulu karena baru tadi sore dia cukur.
Vaginanya yang sudah pernah melahirkan 2 anak itu terlihat masih begitu indah, tak kalah dengan vagina gadis perawan.
“Sluurrp sluurrp hmm" lidah Agus menyapu vagina Bella.
“Aahhhhh.. Guuuusshhh..” spontan Bella mendesah keras.
Dia merasa geli sekali diperlakukan seperti itu. Sudah cukup lama dia tidak mendapatkan jilatan seperti itu di vaginanya.
“Sluurrp sluurrp hmm, enak banget memekmu mbak, wangi, hmm sluurrp”
Bella memejamkan mata menikmati perlakuan Agus. Dia sudah benar-benar lupa bahwa yang sedang mengerjai daerah pribadinya itu adalah lelaki yang bukan suaminya dan baru dikenalnya.
“Mbaak Bellaa, jangaan, udah mbaaak” suara tangis Citra melihat kakaknya yang hanya pasrah saja dikerjai oleh Agus. Jelas terlihat olehnya kalau Bella sama sekali tidak melakukan perlawanan.
Citra heran pada Bella yang jadi seperti itu. Padahal baru tadi sebelum Agus datang kedua kakaknya itu memberinya nasehat untuk setelah menikah nanti selalu menjaga kesetiaan dan harga dirinya hanya untuk suaminya saja. Tapi sekarang kedua kakaknya malah menyerah pada nafsu dan membiarkan pria lain menjamah dan menikmati tubuh mereka.
“Aahh Ciiit, aahh aahh teruussh enaak aahh”
Bella sempat menatap Citra tapi kemudian terpejam lagi tak kuat menahan kenikmatan yang diberikan Agus. Meskipun sebelumnya pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari suaminya tapi yang dia rasakan dari Agus ini sangat berbeda, sangat nikmat.
Lidah Agus dengan lincah menari-nari di vagina Bella dan sesekali menghisap klitorisnya.
Tapi ternyata Agus tidak mau melakukannya. Dia hanya menggesekan kepala penisnya itu mengusap bibir lembut Bella.
Akhirnya Bella menyerah pada nafsunya. Perlahan dia buka sendiri mulutnya. Bella masih memejamkan matanya dan dia membayangkan penis yang sedang menyentuh bibirnya itu adalah milik suaminya yang jauh lebih ganteng daripada Agus.
“Keluarin lidahmu mbak, jilat kontolku” pinta Agus dengan santainya.
Bella menurutinya begitu saja. Dia keluarkan lidahnya dan langsung bersentuhan dengan kepala penis Agus.
“Mbak Bella jangaaan, hiks hiks” suara Citra melarangnya.
Bukannya berhenti Bella justru mulai menjilati penis pria yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu itu. Bella sudah tak bisa lagi melawan, dia sudah benar-benar kalah oleh nafsunya.
Bella memang tidak terlalu jago dalam urusan blowjob. Tapi itu justru jadi sensasi tersendiri untuk Agus. Apalagi Bella melakukannya masih dengan memakai jilbab dikepalanya, meskipun pakaiannya sudah terbuka disana sini.
Sluurpp sluurpp
Bella mulai mengulum penis itu. Tanpa paksaan sama sekali dia masukan penis itu kedalam mulutnya. Dia maju mundurkan kepalanya. Sebenarnya Bella berharap Agus yang menggerakan penisnya. Tapi setelah lama Agus tak bergerak akhirnya Bella sendiri yang bergerak.
Teknik blowjob Bella sebenarnya terbilang payah karena beberapa kali Agus meringis waktu penisnya terkena giginya. Tapi sekali lagi, dengan kepolosan Bella ini justru membuat Agus semakin bernafsu.
Sementara itu diranjang, Anggi sudah benar-benar tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dengan posisi sekarang diatas tubuh Pak Reman, dia menggoyangkan pinggulnya dengan liar.
Anggi seperti baru menemukan kenikmatan bercinta yang sejati dari Pak Reman. Dia ingin sekali mengejar kenikmatan yang paling nikmat yang pernah dia rasakan.
Anggi tak lagi dia peduli pada Citra yang menangis dan apa yang terjadi pada Bella. Sekarang ini cuma birahinya yang menguasainya yang memintanya terus bergoyang dengan liar.
“Aaahh aahh Pak Remaan, aahh aahh”
“Uuggh goyanganmu sedap bener Nggi, gimana kontolku enak?”
“Aahh enak banget pak, kontol Pak Reman enak banget, Anggi sukaa aahh aahh”
“Mau kamu enak kayak gini terus Nggi?”
“Mau banget paakh, ahhh”
“Mau ngerasain kapan aja?”
“Iya pak aku mauu aahh aahh”
“Jadi kamu sekarang budakku, bener kan?”
“Iyaa pak, saya budaknya Pak Reman sekarang, bapak bebas mau make saya kapan aja, saya pasti mau, aahh aahh enaak banget, aaaaahhhhh”
Anggi sudah orgasme lagi, entah yang keberapa kali. Tubuhnya langsung lunglai di atas tubuh Pak Reman. Dia sangat lemas, tapi benar-benar puas, terlihat dari senyum diwajahnya.
Kemudian Pak Reman memposisikan Anggi tidur terletang dan kedua pahanya langsung dibuka lebar-lebar. Tanpa menunggu lagi Pak Reman langsung menghujamkan penisnya kedalam vagina Anggi yang sudah sangat becek. Anggi sudah pasrah menerima apa yang dilakukan Pak Reman padanya.
Pak Reman menggenjot Anggi dengan sekuat tenaga, membuatnya meringis disela desahannya. Masih ada sedikit rasa sakit kalau Pak Reman menggoyangnya sekasar ini, tapi entah kenapa dia mulai suka dikasari oleh Pak Reman. Ada sensasi tersendiri yang baru saja dia rasakan yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya selama ini.
Anggi sangat menikmati permainan Pak Reman hingga tak lama kemudian dia mendapatkan orgasmenya lagi.
Melihat Anggi yang sudah sangat-sangat lemas, bukanya berhenti Pak Reman malah bersemangat merojok kemaluan Anggi dengan kasar.
Anggi tak percaya lelaki yang lebih tua darinya ini benar-benar kuat dalam bercinta, padahal dia sudah berulang kali orgasme sampai lemas tapi lelaki ini masih saja perkasa menggaulinya.
Sampai pada akhirnya Pak Reman melenguh panjang menghujam keras-keras penisnya dalam-dalam di vagina Anggi dan menembakkan peju kental nan hangatnya disana, yang kembali membuat Anggi mengejang karena orgasme yang kesekian kali.
Anggi sudah hampir hilang kesadaran saking lelahnya melayani lelaki tua itu. Dia tak pernah membayangkan sebelumnya ternyata seenak ini bercinta dengan orang lain selain suaminya sendiri. Entah apakah lelaki lain yang sering menggodanya juga bisa seperti Pak Reman, tapi yang jelas malam ini lelaki itu benar-benar sukses menghidupkan sisi liar yang selama ini terpendam dalam dirinya.
Anggi tergeletak tak berdaya menikmati kepuasan yang diberikan oleh Pak Reman.
Sementara Bella kini sudah siap untuk dikontolin Agus. Kaki dan tangannya yang tadi terikat sekarang sudah dilepaskan oleh Agus.
Agus merasa yakin kalau wanita ini sudah masuk kedalam genggamannya sehingga tidak khawatir waktu melepaskan ikatannya.
Benar saja, begitu ikatannya lepas bukannya berontak dan melawan, Bella malah diam saja. Bahkan waktu Agus melepaskan pakaian yang masih menempel ditubuhnya diapun diam saja.
Sekarang Bella sudah telanjang sepenuhnya kecuali jilbab yang memang sengaja tidak dilepas oleh Agus.
Bella pasrah saja saat Agus membuka kedua pahanya lebar-lebar dan mendekatkan kepalanya pada selangkangannya. Bella hanya bisa melihat wajah Agus yang tersenyum melihat daerah kewanitaannya yang bersih dari bulu karena baru tadi sore dia cukur.
Vaginanya yang sudah pernah melahirkan 2 anak itu terlihat masih begitu indah, tak kalah dengan vagina gadis perawan.
“Sluurrp sluurrp hmm" lidah Agus menyapu vagina Bella.
“Aahhhhh.. Guuuusshhh..” spontan Bella mendesah keras.
Dia merasa geli sekali diperlakukan seperti itu. Sudah cukup lama dia tidak mendapatkan jilatan seperti itu di vaginanya.
“Sluurrp sluurrp hmm, enak banget memekmu mbak, wangi, hmm sluurrp”
Bella memejamkan mata menikmati perlakuan Agus. Dia sudah benar-benar lupa bahwa yang sedang mengerjai daerah pribadinya itu adalah lelaki yang bukan suaminya dan baru dikenalnya.
“Mbaak Bellaa, jangaan, udah mbaaak” suara tangis Citra melihat kakaknya yang hanya pasrah saja dikerjai oleh Agus. Jelas terlihat olehnya kalau Bella sama sekali tidak melakukan perlawanan.
Citra heran pada Bella yang jadi seperti itu. Padahal baru tadi sebelum Agus datang kedua kakaknya itu memberinya nasehat untuk setelah menikah nanti selalu menjaga kesetiaan dan harga dirinya hanya untuk suaminya saja. Tapi sekarang kedua kakaknya malah menyerah pada nafsu dan membiarkan pria lain menjamah dan menikmati tubuh mereka.
“Aahh Ciiit, aahh aahh teruussh enaak aahh”
Bella sempat menatap Citra tapi kemudian terpejam lagi tak kuat menahan kenikmatan yang diberikan Agus. Meskipun sebelumnya pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari suaminya tapi yang dia rasakan dari Agus ini sangat berbeda, sangat nikmat.
Lidah Agus dengan lincah menari-nari di vagina Bella dan sesekali menghisap klitorisnya.
Beberapa saat kemudian Agus menyudahi jilatannya yang membuat Bella merasa kecewa karena sebentar lagi dia akan mendapat orgasme hanya dari lidah Agus. Kini Agus sudah bersiap-siap dengan menggesekan penisnya yang sudah keras dibibir vagina Bella.
“Udah siap mbak? Sekarang waktunya menu utama. Bakal aku bawa kamu kepuncak kenikmatan dengan kontolku ini, hmmpp”
“Aaaaahhhh pelaan Guuss, punyamu besaarr aahhhh”
Meskipun vaginanya sudah cukup basah, tapi Bella masih merasa kesakitan karena penis yang masuk itu ukurannya lebih besar dan panjang ketimbang 2 penis yang pernah dia rasakan sebelumnya. Apalagi Agus melakukannya dengan kasar, sekali masuk kepalanya langsung dia hujamkan hingga seluruh penisnya tenggelam divagina Bella yang masih legit itu.
“Apanya yang besar mbak?”
“Aahh, pe, penismu besar Guuss, pelaan, sakiit”
“Penis? Penis itu apa mbak?”
“Ii, itu, yang masuk ke vaginaku, pelanin Guss aahh aahh”
“Ini bukan penis, tapi kontol. Punyamu juga bukan vagina, tapi memek. Ayo bilang yang bener kalo nggak aku tambah kasarin kamu nanti”
“Aahh aahh sakiiitt, Guuss aahh ko, kontolmu gede bangeet di memekku Guss, pelanin aahh aahh”
Bella sendiri tak percaya bisa mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang menurutnya sangat kotor dan tabu untuk diucapkan oleh perempuan alim seperti dirinya. Tapi kini gara-gara seorang pria yang baru dikenalnya dalam hitungan jam dia menjadi seperti ini, dan entah seperti apa lagi nantinya.
Anehnya, dengan mengatakan hal-hal seperti itu membuat dadanya berdesir dan vaginanya bereaksi. Dia tak tahu apa itu, tapi sepertinya menambah kenikmatan yang sedang dia rasakan sekarang.
“Nah gitu kan pinter mbak, mulai sekarang biasain ngomong kayak gitu ya, aku bakalan lembut sama kamu”
“He’em” Bella hanya bisa menganggukan kepalanya karena masih beradaptasi dengan penis besar milik Agus.
“Jadi kontolku gede? Lebih gede dari kontol suamimu?”
“He’em”
“Ayo bilang dong, kalo nggak mau aku kasarin lagi”
“Iyaa Guss, kontolmu lebih gede dari kontol suamiku, aahh”
Sekali lagi waktu mengucapkan kata-kata itu membuat dada Bella kembali berdesir, dan dia merasa mulai menyukai desiran itu.
Agus menggerakan penisnya dengan perlahan divagina Bella. Dia ingin wanita itu merasa nyaman dulu sebelum nanti memberinya kenikmatan yang lebih lagi, seperti yang tadi dirassakan oleh Anggi dari Pak Reman.
Setelah beberapa saat Agus menggoyang badannya dan terlihat Bella sudah mulai nyaman, dia semakin meningkatkan tempo goyanganya perlahan.
Desahan dari Bella makin lama makin terdengar tanpa malu-malu lagi. Bella sudah tidak merasa sakit lagi bahkan sekarang berganti dengan rasa nikmat.
Agus langsung menggerakan penisnya dengan lebih cepat dan kasar, membuat tubuh wanita itu terlonjak-lonjak.
Bella yang semakin tak bisa menahan desahannya, tangannya memegangi lengan Agus yang sedang meremas-remas kedua buah dadanya yang montok sambil menggenjot kontolnya pada memeknya.
Kepala Bella menggeleng kiri dan kanan, bukan kesakitan tapi karena nikmat tiada tara yang dia rasakan sekarang ini. Tiba-tiba kedua kaki Bella melingkar memeluk tubuh Agus yang masih menggenjotnya.
Mengetahui Bella akan orgasme, Agus semakin mempercepat tempo genjotanya.
Hingga saat akhirnya tubuh Bella mengejang, mulutnya terbuka membentuk huruf O, dan cairan hangat terasa mengalir membasahi penis Agus didalam vaginanya.
“AAAAAAARHHH!” lenguh panjang Bella.
Bagi Bella, ini adalah orgasme ternikmat yang pernah dia rasakan, dan dia dapatkan dari lelaki lain, bukan dari suaminya.
Dia pejamkan matanya untuk mersapi rasa nikmat yang luarbiasa itu, tapi bayangan wajah suami dan kedua anak-anaknya terlintas di benaknya, perasaan bersalah membuat air matanya merembes keluar.
Tapi tubuh Bella berkata lain, terliat kedua kakinya masih dengan erat melingkar memeluk tubuh Agus, seakan tak ingin lepas dan ingin kembali mendapan kenikmatan serupa.
Agus tak peduli dengan apa yang terjadi pada Bella. Dengan kontolnya yang masih tegang tertancap di dalam vagina Bella, ia mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya berjalan ke ranjang dimana Anggi masih tergeletak tak berdaya disana.
Sebelum Agus menurunkan tubuh Bella diatas ranjang, dia sempatkan menggenjot memek wanita itu beberapa saat.
Bella kembali mendesah merasakan nikmat dari permainan Agus, bayangan wajah suami dan kedua anak-anaknya langsung hilang.
Dia merangkul leher Agus dan dengan penuh nafsu dia gerakkan tubuhnya naik turun. Gerakannya terliat begitu binal mirip lonte profesianal (pornstar). Tanpa malu-malu lagi dia mengecupi dan melumat bibir Agus.
Dalam posisi digendong begini, penis Agus terasa menancap lebih dalam hingga menyentuh pintu rahimnya.
Gerakan naik turun Bella semakin liar menandakan wanita 2 anak itu segera mendapatkan orgasmenya lagi.
Agus yang mengetahui hal itu merespon dengan mengimbangi gerakan Bella.
Suara benturan kedua kelamin ini terdengar makin jelas seiring dengan makin liarnya gerakan dari keduanya.
Tak berapa lama kemudian rangkul Bella pada Agus semakin kuat dan menghisap dalam-dalam bibir Agus diiringi tubuhnya yang bergetar hebat saat gelombang orgasme mengalir dikemaluannya. Orgasme dengan begitu dahsyat dalam posisi ini. Sebuah pengalaman baru dan memabukkan bagi Bella.
Bella tak habis pikir bagaimana bisa dia orgasme lagi secepat itu setelah yang pertama tadi. Padahal jika bercinta dengan suaminya, suaminya harus bekerja keras untuk membuatnya orgasme lebih dari sekali, tapi kali ini rasanya gampang sekali dia mencapai puncak kenikmatan.
Setelah mendiamkan beberapa saat Bella yang dilanda orgasme, Agus lalu merebahkan tubuhnya berjejer disamping Anggi.
Agus lansung menggenjot kembali kontolnya yang masih tertanam di vagina Bella membuat ranjang tersebut bergetar. Bella menoleh ke kakakya sambil mendesah lirih.
Getaran ranjang membuat Anggi dengan matanya setengah terbuka menoleh ke sumbernya.
Mata Anggi menemukan adiknya yang hanya memakai jilbab sedang digenjot oleh Agus, dia tersenyum, sebelum kemudian memejamkan matanya lagi karena dia benar-benar kelelahan.
Walau jilbab yang dipakai Bella sudah acak-acakan, Agus tak berniat untuk melepasnya. Baginya menyetubuhi wanita ini dengan masih memakai jilbab memberinya sensasi tambahan.
Apalagi mangsanya tersebut terbaring lemas tanpa perlawanan karena 2 kali orgasme yang dia rasakan tadi dan hanya bisa mendesah lirih. Terasa ada sensasi unik baginya.
Agus terus menghajar Bella. Dengan kontolnya dia mengaduk divagina Bella dan dengan mulut serta kedua tangannya dia mermas, menampar, memilin, menarik dan hisap-hisap payudara montoknya.
Bella dibuat semakin tak karuan. Dia sudah benar-benar tak bisa berpikir jernih. Kepalanya sudah diisi oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Agus, yang selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya ataupun saat berselingkuh dengan suami Anggi dulu.
Gerakan Agus semakin cepat menggenjot vagina Bella.
Wanita itu tahu lelaki itu akan menyemburkan pejunya didalam vaginanya, tapi dia tidak khawatir karena setelah melahirkan anak keduanya tahun lalu dia sudah memasang alat KB sehingga tak perlu takut hamil.
“Udah siap mbak? Sekarang waktunya menu utama. Bakal aku bawa kamu kepuncak kenikmatan dengan kontolku ini, hmmpp”
“Aaaaahhhh pelaan Guuss, punyamu besaarr aahhhh”
Meskipun vaginanya sudah cukup basah, tapi Bella masih merasa kesakitan karena penis yang masuk itu ukurannya lebih besar dan panjang ketimbang 2 penis yang pernah dia rasakan sebelumnya. Apalagi Agus melakukannya dengan kasar, sekali masuk kepalanya langsung dia hujamkan hingga seluruh penisnya tenggelam divagina Bella yang masih legit itu.
“Apanya yang besar mbak?”
“Aahh, pe, penismu besar Guuss, pelaan, sakiit”
“Penis? Penis itu apa mbak?”
“Ii, itu, yang masuk ke vaginaku, pelanin Guss aahh aahh”
“Ini bukan penis, tapi kontol. Punyamu juga bukan vagina, tapi memek. Ayo bilang yang bener kalo nggak aku tambah kasarin kamu nanti”
“Aahh aahh sakiiitt, Guuss aahh ko, kontolmu gede bangeet di memekku Guss, pelanin aahh aahh”
Bella sendiri tak percaya bisa mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang menurutnya sangat kotor dan tabu untuk diucapkan oleh perempuan alim seperti dirinya. Tapi kini gara-gara seorang pria yang baru dikenalnya dalam hitungan jam dia menjadi seperti ini, dan entah seperti apa lagi nantinya.
Anehnya, dengan mengatakan hal-hal seperti itu membuat dadanya berdesir dan vaginanya bereaksi. Dia tak tahu apa itu, tapi sepertinya menambah kenikmatan yang sedang dia rasakan sekarang.
“Nah gitu kan pinter mbak, mulai sekarang biasain ngomong kayak gitu ya, aku bakalan lembut sama kamu”
“He’em” Bella hanya bisa menganggukan kepalanya karena masih beradaptasi dengan penis besar milik Agus.
“Jadi kontolku gede? Lebih gede dari kontol suamimu?”
“He’em”
“Ayo bilang dong, kalo nggak mau aku kasarin lagi”
“Iyaa Guss, kontolmu lebih gede dari kontol suamiku, aahh”
Sekali lagi waktu mengucapkan kata-kata itu membuat dada Bella kembali berdesir, dan dia merasa mulai menyukai desiran itu.
Agus menggerakan penisnya dengan perlahan divagina Bella. Dia ingin wanita itu merasa nyaman dulu sebelum nanti memberinya kenikmatan yang lebih lagi, seperti yang tadi dirassakan oleh Anggi dari Pak Reman.
Setelah beberapa saat Agus menggoyang badannya dan terlihat Bella sudah mulai nyaman, dia semakin meningkatkan tempo goyanganya perlahan.
Desahan dari Bella makin lama makin terdengar tanpa malu-malu lagi. Bella sudah tidak merasa sakit lagi bahkan sekarang berganti dengan rasa nikmat.
Agus langsung menggerakan penisnya dengan lebih cepat dan kasar, membuat tubuh wanita itu terlonjak-lonjak.
Bella yang semakin tak bisa menahan desahannya, tangannya memegangi lengan Agus yang sedang meremas-remas kedua buah dadanya yang montok sambil menggenjot kontolnya pada memeknya.
Kepala Bella menggeleng kiri dan kanan, bukan kesakitan tapi karena nikmat tiada tara yang dia rasakan sekarang ini. Tiba-tiba kedua kaki Bella melingkar memeluk tubuh Agus yang masih menggenjotnya.
Mengetahui Bella akan orgasme, Agus semakin mempercepat tempo genjotanya.
Hingga saat akhirnya tubuh Bella mengejang, mulutnya terbuka membentuk huruf O, dan cairan hangat terasa mengalir membasahi penis Agus didalam vaginanya.
“AAAAAAARHHH!” lenguh panjang Bella.
Bagi Bella, ini adalah orgasme ternikmat yang pernah dia rasakan, dan dia dapatkan dari lelaki lain, bukan dari suaminya.
Dia pejamkan matanya untuk mersapi rasa nikmat yang luarbiasa itu, tapi bayangan wajah suami dan kedua anak-anaknya terlintas di benaknya, perasaan bersalah membuat air matanya merembes keluar.
Tapi tubuh Bella berkata lain, terliat kedua kakinya masih dengan erat melingkar memeluk tubuh Agus, seakan tak ingin lepas dan ingin kembali mendapan kenikmatan serupa.
Agus tak peduli dengan apa yang terjadi pada Bella. Dengan kontolnya yang masih tegang tertancap di dalam vagina Bella, ia mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya berjalan ke ranjang dimana Anggi masih tergeletak tak berdaya disana.
Sebelum Agus menurunkan tubuh Bella diatas ranjang, dia sempatkan menggenjot memek wanita itu beberapa saat.
Bella kembali mendesah merasakan nikmat dari permainan Agus, bayangan wajah suami dan kedua anak-anaknya langsung hilang.
Dia merangkul leher Agus dan dengan penuh nafsu dia gerakkan tubuhnya naik turun. Gerakannya terliat begitu binal mirip lonte profesianal (pornstar). Tanpa malu-malu lagi dia mengecupi dan melumat bibir Agus.
Dalam posisi digendong begini, penis Agus terasa menancap lebih dalam hingga menyentuh pintu rahimnya.
Gerakan naik turun Bella semakin liar menandakan wanita 2 anak itu segera mendapatkan orgasmenya lagi.
Agus yang mengetahui hal itu merespon dengan mengimbangi gerakan Bella.
Suara benturan kedua kelamin ini terdengar makin jelas seiring dengan makin liarnya gerakan dari keduanya.
Tak berapa lama kemudian rangkul Bella pada Agus semakin kuat dan menghisap dalam-dalam bibir Agus diiringi tubuhnya yang bergetar hebat saat gelombang orgasme mengalir dikemaluannya. Orgasme dengan begitu dahsyat dalam posisi ini. Sebuah pengalaman baru dan memabukkan bagi Bella.
Bella tak habis pikir bagaimana bisa dia orgasme lagi secepat itu setelah yang pertama tadi. Padahal jika bercinta dengan suaminya, suaminya harus bekerja keras untuk membuatnya orgasme lebih dari sekali, tapi kali ini rasanya gampang sekali dia mencapai puncak kenikmatan.
Setelah mendiamkan beberapa saat Bella yang dilanda orgasme, Agus lalu merebahkan tubuhnya berjejer disamping Anggi.
Agus lansung menggenjot kembali kontolnya yang masih tertanam di vagina Bella membuat ranjang tersebut bergetar. Bella menoleh ke kakakya sambil mendesah lirih.
Getaran ranjang membuat Anggi dengan matanya setengah terbuka menoleh ke sumbernya.
Mata Anggi menemukan adiknya yang hanya memakai jilbab sedang digenjot oleh Agus, dia tersenyum, sebelum kemudian memejamkan matanya lagi karena dia benar-benar kelelahan.
Walau jilbab yang dipakai Bella sudah acak-acakan, Agus tak berniat untuk melepasnya. Baginya menyetubuhi wanita ini dengan masih memakai jilbab memberinya sensasi tambahan.
Apalagi mangsanya tersebut terbaring lemas tanpa perlawanan karena 2 kali orgasme yang dia rasakan tadi dan hanya bisa mendesah lirih. Terasa ada sensasi unik baginya.
Agus terus menghajar Bella. Dengan kontolnya dia mengaduk divagina Bella dan dengan mulut serta kedua tangannya dia mermas, menampar, memilin, menarik dan hisap-hisap payudara montoknya.
Bella dibuat semakin tak karuan. Dia sudah benar-benar tak bisa berpikir jernih. Kepalanya sudah diisi oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Agus, yang selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya ataupun saat berselingkuh dengan suami Anggi dulu.
Gerakan Agus semakin cepat menggenjot vagina Bella.
Wanita itu tahu lelaki itu akan menyemburkan pejunya didalam vaginanya, tapi dia tidak khawatir karena setelah melahirkan anak keduanya tahun lalu dia sudah memasang alat KB sehingga tak perlu takut hamil.
Gerakan Agus yang semakin cepat itu mau tak mau membuat Bella mendapatkan orgasmenya lagi, tapi Agus tak menghentikan gerakannya karena dia sendiri sudah mau orgasme, hingga akhirnya sebuah sodokan keras penisnya menggedor rahim Bella.
“AAAAAAAHGHHH!” Agus melenguh panjang saat peju kentalnya memenuhi rahim Bella.
Semprotan cairan hangat dari Agus kembali membuat Bella mendapat orgasmenya yang entah keberapa kali. Bella benar-benar lemas tak mampu lagi bergerak, sedangkan Agus masih membenamkan penisnya divagina yang dindingnya berkedut memijat penisnya agar menghabiskan sisa-sisa cairan sperma yang masih tertinggal.
Setelah beberapa saat Agus menarik keluar penisnya dan terlihat cairan putih kentalnya mengalir perlahan dibibir vagina Bella. Dia tersenyum puas telah melepaskan benihnya didalam wanita itu, dia merasa bangga bisa membuat wanita itu takluk akan keperkasaannya.
Sesaat Agus melihat sekitar tapi tak menemukan Pak Reman dikamar itu. Tapi baru mau beranjak mencarinya Pak Reman sudah kembali dengan membawa sebuah botol berisi air minum.
“Udah Gus?”
“Udah nih pak, baru beres. Gimana terusnya?”
“Yaudah sesuai rencana, kalo kamu masih kuat”
“Masihlah pak, kan udah dikasih jamu tadi sebelum kesini, hahaha”
Kedua lelaki itu tersenyum lebar melihat 2 orang wanita cantik terkapar tak berdaya diranjang gara-gara keperkasaan mereka.
Kedua wanita yang sehari-hari adalah istri setia dan alim yang selalu menjaga penampilannya itu telah terbuka semua kecuali Bella yang masih memakai jilbabnya.
Kini tinggal seorang lagi yang masih belum mereka sentuh, yang akan jadi hidangan utama setelah Pak Reman mendadak merubah rencananya tadi.
Kedua lelaki yang masih dengan penisnya belum loyo. Selain karena memang memiliki stamina bagus, birahi yang menggelora dan tentunya berkat ramuan rahasia milik Pak Reman yang telah mereka minum.
Malam ini Pak Reman berniat menguasai Citra sendirian.
Agus tak keberatan dengan itu karena meskipun memiliki wajah yang sangat cantik dan manis, namun bentuk dada Citra yang tak sebesar kedua kakaknya membuat Agus yang memang pecinta toge ini kurang tertarik.
Dengan adanya Anggi dan Bella yang memiliki ukuran dada lebih besar dan montok sudah cukup untuk memuaskan Agus malam ini.
Bella dan Anggi yang masih terbaring lemas tak tahu lagi mereka akan diapakan oleh kedua lelaki itu.
Bellapun pasrah waktu Agus mengangkat tubuhnya dan membuatnya tengkurap diatas tubuh telanjang Anggi. Agus kemudian meraih tangan Anggi, lalu membuatnya seperti sedang memeluk Bella. Tapi yang membuat Anggi merasa agak aneh adalah Agus ternyata mengikat tangannya dengan cukup kuat.
Bella sendiri menyadari itu juga bingung apa yang diinginkan oleh Agus. Tapi kemudian rasa penasarannya terjawab saat jari Agus mulai menggesek-gesek lubang pantatnya.
Bella menjadi panik. Dia mau bergerak tapi tubuhnya tak bisa digerakan karena pelukan erat dari Anggi, apalagi kedua tangan Anggi terikat kuat.
“Gus, kamu mau ngapain? Jangan macem-macem Gus?”
“Nggak macem-macem kok mbak, cuma mau ngerasain lubang kamu yang tersisa aja. Kan mulut sama memekmu udah, tinggal pantatmu ini yang belum aku rasain, hehe”
“Gus jangan Gus, plis jangan disitu”
Melihat Bella yang panik tentu saja Agus tahu kalau lubang yang satu itu belum pernah dijamah sebelumnya.
Sementara Anggi yang mendengar percapakan mereka ikut panik. Melihat reaksi Bella Anggi tahu kalau dia belum pernah melakukan anal sex sebelumnya, beda dengan dirinya.
“Gus, jangan Gus, kamu pake pantatku aja, jangan punya Bella”
“Udah deh bu, Bu Anggi kan udah pernah ngerasain disodok boolnya. Adik ibu juga harus ngerasain juga dong, biar kalian sama-sama punya pengalaman, hahaha”
Melihat lubang pantat Bella yang masih terlihat sempit itu membuatnya tak tahan untuk segera menjebolnya, karena selama ini hanya mendapatkan sisa dari Pak Reman. Kali ini dia ingin jadi yang pertama, memerawani lubang pantat wanita cantik.
Agus langsung mengambil posisi dan menekan penisnya.
“Aguuuss jangaaan. Sakiiiiit”
Teriakan Bella langsung pecah saat dirasakan lubang anusnya dipaksa untuk menerima kepala penis Agus. Bella merasakan sakit yang luar biasa.
Belum pernah dia melakukan sebelumnya, apalagi saat ini Agus tidak melumasi lubang itu terlebih dahulu.
“Aduuuh, sakiiiiit! udah gus, cabuuut sekarang!”
Agus tak peduli dengan perlahan-lahan terus memasukan penisnya. Terasa penisnya agak nyeri karena sempitnya lubang anus Bella. Tapi dia tak mau berhenti sampai seluruh penisnya bisa masuk.
Diapun terus memaksa. Semakin dalam penis itu masuk semakin keras teriakan dari Bella.
Bella merasa tubuhnya seperti robek saat akhirnya penis yang tadi memberinya kenikmatan tiada tara itu sekarang membuatnya kesakitan minta ampun.
Anggi yang melihat penderitaan adiknya didepan matanya itu menjadi tak tega, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena tangannya terikat.
Bella melampiaskan rasa sakitnya itu dengan memeluk kakaknya sekuat-kuatnya.
Anggi mencoba untuk membuat Bella lebih tenang dan rileks. Meskipun belum pernah melakukan sebelumnya, akhirnya Anggi terpaksa mencium bibir adiknya.
Bella sempat tersentak kaget dan tak percaya, tapi kemudian membalas lumatan kakaknya itu.
Teriakan Bella mulai teredam oleh lumatan Anggi.
Agus yang merasa keenakan dengan lubang sempit Bella itu langsung menggerakan penisnya maju mundur dengan pelan karena dia masih sedikit merasa nyeri dipenisnya.
Setelah beberapa saat Aguspun semakin mempercepat goyangannya.
Bella yang masih kesakitan hanya bisa memejamkan matanya yang terus mengeluarkan air mata sambil dengan ganas melumat bibir kakaknya untuk melampiaskan apa yang dia rasakan.
Akibat sodokan dari Agus membuat tubuh Bella terlonjak naik turun. Buah dadanya bergesekan dengan buah dada milik Anggi, yang lama-lama membuat birahi keduanya naik lagi. Dapat mereka rasakan masing-masing kalau puting susu mereka kembali mengeras dan vagina mereka mulai basah.
“Aaaaahhh! jangaaan! Kamu mau apa?” teriakan Citra membuat Anggi dan Bella menghentikan ciuman mereka dan menengok.
Anggi dan Bella benar-benar lupa kalau masih ada Citra dikamar itu, dan tentu saja masih ada Pak Reman yang masih dengan penis ngacengnya. Mereka melihat Pak Reman yang sudah didekat Citra meraih tubuh adiknya itu dan menyeretnya kearah ranjang.
“Pak Reman mau ngapain? Jangan apa-apain Citra pak, dia masih perawan. Bapak pake saya aja pak, saya bakal layanin apapun mau Pak Reman” Anggi yang khawatir terhadap adiknya itu mencoba membujuk Pak Reman.
“Iya pak aakhh jangan apa-apain Citraa aahh, pake kami aja sesuka kalian tapi jangan aahhh, jangan Citra, sebentar lagi dia mau nikaahhh” Bella yang sedang disodok lubang pantatnya juga ikut membujuk Pak Reman.
“Walah walah, mau nikah tho nduk? Kebetulan, biar aku ajarin kamu caranya muasin suami kamu nanti, hahaha”
“Nggak mau! Citra nggak maauuu! biadab kalian semuaaa!!”
Citra terus mencoba melawan tapi apa daya tangan dan kakinya terikat sehingga tak mampu berbuat apa-apa, hanya teriakan sumpah serapah yang dapat dia lakukan kepada Pak Reman dan Agus.
Kedua lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“AAAAAAAHGHHH!” Agus melenguh panjang saat peju kentalnya memenuhi rahim Bella.
Semprotan cairan hangat dari Agus kembali membuat Bella mendapat orgasmenya yang entah keberapa kali. Bella benar-benar lemas tak mampu lagi bergerak, sedangkan Agus masih membenamkan penisnya divagina yang dindingnya berkedut memijat penisnya agar menghabiskan sisa-sisa cairan sperma yang masih tertinggal.
Setelah beberapa saat Agus menarik keluar penisnya dan terlihat cairan putih kentalnya mengalir perlahan dibibir vagina Bella. Dia tersenyum puas telah melepaskan benihnya didalam wanita itu, dia merasa bangga bisa membuat wanita itu takluk akan keperkasaannya.
Sesaat Agus melihat sekitar tapi tak menemukan Pak Reman dikamar itu. Tapi baru mau beranjak mencarinya Pak Reman sudah kembali dengan membawa sebuah botol berisi air minum.
“Udah Gus?”
“Udah nih pak, baru beres. Gimana terusnya?”
“Yaudah sesuai rencana, kalo kamu masih kuat”
“Masihlah pak, kan udah dikasih jamu tadi sebelum kesini, hahaha”
Kedua lelaki itu tersenyum lebar melihat 2 orang wanita cantik terkapar tak berdaya diranjang gara-gara keperkasaan mereka.
Kedua wanita yang sehari-hari adalah istri setia dan alim yang selalu menjaga penampilannya itu telah terbuka semua kecuali Bella yang masih memakai jilbabnya.
Kini tinggal seorang lagi yang masih belum mereka sentuh, yang akan jadi hidangan utama setelah Pak Reman mendadak merubah rencananya tadi.
Kedua lelaki yang masih dengan penisnya belum loyo. Selain karena memang memiliki stamina bagus, birahi yang menggelora dan tentunya berkat ramuan rahasia milik Pak Reman yang telah mereka minum.
Malam ini Pak Reman berniat menguasai Citra sendirian.
Agus tak keberatan dengan itu karena meskipun memiliki wajah yang sangat cantik dan manis, namun bentuk dada Citra yang tak sebesar kedua kakaknya membuat Agus yang memang pecinta toge ini kurang tertarik.
Dengan adanya Anggi dan Bella yang memiliki ukuran dada lebih besar dan montok sudah cukup untuk memuaskan Agus malam ini.
Bella dan Anggi yang masih terbaring lemas tak tahu lagi mereka akan diapakan oleh kedua lelaki itu.
Bellapun pasrah waktu Agus mengangkat tubuhnya dan membuatnya tengkurap diatas tubuh telanjang Anggi. Agus kemudian meraih tangan Anggi, lalu membuatnya seperti sedang memeluk Bella. Tapi yang membuat Anggi merasa agak aneh adalah Agus ternyata mengikat tangannya dengan cukup kuat.
Bella sendiri menyadari itu juga bingung apa yang diinginkan oleh Agus. Tapi kemudian rasa penasarannya terjawab saat jari Agus mulai menggesek-gesek lubang pantatnya.
Bella menjadi panik. Dia mau bergerak tapi tubuhnya tak bisa digerakan karena pelukan erat dari Anggi, apalagi kedua tangan Anggi terikat kuat.
“Gus, kamu mau ngapain? Jangan macem-macem Gus?”
“Nggak macem-macem kok mbak, cuma mau ngerasain lubang kamu yang tersisa aja. Kan mulut sama memekmu udah, tinggal pantatmu ini yang belum aku rasain, hehe”
“Gus jangan Gus, plis jangan disitu”
Melihat Bella yang panik tentu saja Agus tahu kalau lubang yang satu itu belum pernah dijamah sebelumnya.
Sementara Anggi yang mendengar percapakan mereka ikut panik. Melihat reaksi Bella Anggi tahu kalau dia belum pernah melakukan anal sex sebelumnya, beda dengan dirinya.
“Gus, jangan Gus, kamu pake pantatku aja, jangan punya Bella”
“Udah deh bu, Bu Anggi kan udah pernah ngerasain disodok boolnya. Adik ibu juga harus ngerasain juga dong, biar kalian sama-sama punya pengalaman, hahaha”
Melihat lubang pantat Bella yang masih terlihat sempit itu membuatnya tak tahan untuk segera menjebolnya, karena selama ini hanya mendapatkan sisa dari Pak Reman. Kali ini dia ingin jadi yang pertama, memerawani lubang pantat wanita cantik.
Agus langsung mengambil posisi dan menekan penisnya.
“Aguuuss jangaaan. Sakiiiiit”
Teriakan Bella langsung pecah saat dirasakan lubang anusnya dipaksa untuk menerima kepala penis Agus. Bella merasakan sakit yang luar biasa.
Belum pernah dia melakukan sebelumnya, apalagi saat ini Agus tidak melumasi lubang itu terlebih dahulu.
“Aduuuh, sakiiiiit! udah gus, cabuuut sekarang!”
Agus tak peduli dengan perlahan-lahan terus memasukan penisnya. Terasa penisnya agak nyeri karena sempitnya lubang anus Bella. Tapi dia tak mau berhenti sampai seluruh penisnya bisa masuk.
Diapun terus memaksa. Semakin dalam penis itu masuk semakin keras teriakan dari Bella.
Bella merasa tubuhnya seperti robek saat akhirnya penis yang tadi memberinya kenikmatan tiada tara itu sekarang membuatnya kesakitan minta ampun.
Anggi yang melihat penderitaan adiknya didepan matanya itu menjadi tak tega, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena tangannya terikat.
Bella melampiaskan rasa sakitnya itu dengan memeluk kakaknya sekuat-kuatnya.
Anggi mencoba untuk membuat Bella lebih tenang dan rileks. Meskipun belum pernah melakukan sebelumnya, akhirnya Anggi terpaksa mencium bibir adiknya.
Bella sempat tersentak kaget dan tak percaya, tapi kemudian membalas lumatan kakaknya itu.
Teriakan Bella mulai teredam oleh lumatan Anggi.
Agus yang merasa keenakan dengan lubang sempit Bella itu langsung menggerakan penisnya maju mundur dengan pelan karena dia masih sedikit merasa nyeri dipenisnya.
Setelah beberapa saat Aguspun semakin mempercepat goyangannya.
Bella yang masih kesakitan hanya bisa memejamkan matanya yang terus mengeluarkan air mata sambil dengan ganas melumat bibir kakaknya untuk melampiaskan apa yang dia rasakan.
Akibat sodokan dari Agus membuat tubuh Bella terlonjak naik turun. Buah dadanya bergesekan dengan buah dada milik Anggi, yang lama-lama membuat birahi keduanya naik lagi. Dapat mereka rasakan masing-masing kalau puting susu mereka kembali mengeras dan vagina mereka mulai basah.
“Aaaaahhh! jangaaan! Kamu mau apa?” teriakan Citra membuat Anggi dan Bella menghentikan ciuman mereka dan menengok.
Anggi dan Bella benar-benar lupa kalau masih ada Citra dikamar itu, dan tentu saja masih ada Pak Reman yang masih dengan penis ngacengnya. Mereka melihat Pak Reman yang sudah didekat Citra meraih tubuh adiknya itu dan menyeretnya kearah ranjang.
“Pak Reman mau ngapain? Jangan apa-apain Citra pak, dia masih perawan. Bapak pake saya aja pak, saya bakal layanin apapun mau Pak Reman” Anggi yang khawatir terhadap adiknya itu mencoba membujuk Pak Reman.
“Iya pak aakhh jangan apa-apain Citraa aahh, pake kami aja sesuka kalian tapi jangan aahhh, jangan Citra, sebentar lagi dia mau nikaahhh” Bella yang sedang disodok lubang pantatnya juga ikut membujuk Pak Reman.
“Walah walah, mau nikah tho nduk? Kebetulan, biar aku ajarin kamu caranya muasin suami kamu nanti, hahaha”
“Nggak mau! Citra nggak maauuu! biadab kalian semuaaa!!”
Citra terus mencoba melawan tapi apa daya tangan dan kakinya terikat sehingga tak mampu berbuat apa-apa, hanya teriakan sumpah serapah yang dapat dia lakukan kepada Pak Reman dan Agus.
Kedua lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
Pak Reman mengangkat tubuh langsung Citra dan dibantingkan diranjang. Segera saja dia membaringkan tubuh wanita muda yang masih polos itu disamping kedua kakaknya yang sedang digenjot oleh Agus.
Tubuh Citra lebih tinggi dari Anggi dan Bella, tapi lebih kurus. Kulitnya terlihat lebih putih dan wajahnya lebih manis. Tapi bagian dada maupun pantat masih kalah dari kedua kakaknya. Citra memang tidak semontok kedua kakaknya.
Bagi Pak Reman keperawanan Citra adalah keistimeaan. Dari sekian wanita yang kini menjadi budak seksnya, semua sudah menikah. Karena itulah dengan Citra yang tubuhnya belum pernah terjamah oleh siapapun itu membuat Pak Reman begitu bernafsu dengan gadis muda ini.
Pak Reman meraih tangan Citra yang terikat dan mengangkatnya keatas. Setelah itu tangannya yang satu lagi langsung meremas buah dada padat dan kenyal Citra yang tidak terlalu besar itu.
Citra terus berteriak-teriak dan menacaci maki Pak Reman, karena pria itu melakukannya dengan sangat kasar membuatnya begitu tak rela dan kesakitan.
Setelah itu Pak Reman merobek kaos lengan panjang yang dipakai Citra. Didalamnya dia masih memakai tanktop berwarna hitam, namun segera dinaikan oleh Pak Reman hingga buah dadanya yang tertutup beha berwarna hitam terlihat.
Kontras sekali antara beha hitam dan kulit Citra yang putih itu.
Dengan sekali tarikan keatas BH itupun tak bisa lagi menutupi buah dada Citra yang terlihat begitu indah. Puting susunya yang mungil berwarna merah muda menghiasi buah dada yang begitu putih itu, bahkan terlihat baluran berwarna biru kehijauan disekitar buah dada gadis itu.
“Aaaahhh jangaaann! biadaaaaab!”
Citra berteriak saat mulut Pak Reman menciumi gundukan indah itu dan meninggalkan beberapa cupangan disana.
Pak Reman juga sesekali menjilat dan menghisap kuat puting mungil itu, membuat Citra kesakitan.
Citra tak pernah membayangkan kalau orang pertama yang akan menyentuh bagian intim tubuhnya itu adalah seorang lelaki tua yang masih saudara dari kakak iparnya yang wajahnya jauh dari kata ganteng itu.
“Pak Reman udah pak, jangan sentuh Citra lagi, hiks hiks”
Anggi mulai menangis melihat adiknya yang masih perawan itu dicabuli oleh Pak Reman. Dia begitu menyesal dan marah karena tak bisa melindungi adik bungsunya itu.
Yang lebih menyakitkan, sekarang dia harus melihat sendiri bagaimana adiknya diperawani oleh lelaki yang tadi baru saja menikmati tubuhnya, lelaki yang sebenarnya adalah saudara dari suaminya sendiri.
Anggi menyalahkan dirinya sendiri jika saja dia tidak bersikap tidak baik pada Pak Reman, tak mungkin dirinya dan adik-adiknya berada dalam masalah besar seperti sekarang ini.
Bella sendiri juga sudah menangis melihat adiknya itu, tapi untuk melawan dia juga tidak bisa apa-apa. Apalagi sekarang dia sendiri sedang dikerjai lubang pantatnya oleh Agus.
Dia yang tadinya sudah merasa rileks karena cumbuan Anggi kini kembali merasakan sakit karena Agus menggenjotnya dengan semakin kasar.
Yang keluar dari mulut Bella sekarang hanyalah rintihan-rintihan kesakitan akibat perbuatan Agus.
Citra hanya bisa menangis saat Pak Reman dengan bebas mengenyoti kedua payudaranya.
Pak Reman tampak menikmati sekali menjilati dan menghisap buah dada itu. Baru kali ini Pak Reman menikmati lagi seorang gadis perawan selain istrinya saat malam pertama.
Wanita-wanita yang pernah dia setubuhi sebelumnya hanyalah para PSK dan binor.
Pak Reman merasa beruntung bisa mendapatkan gadis perawan untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya.
Setelah puas dengan dada Citra, tangan Pak Reman kemudian menyingkap rok panjangnya sampai ke pinggang.
Citra masih memakai leging didalamnya. Dengan sekali tarik maka turunlah leging itu beserta dengan CD hitam milik Citra. Terlihat bibir vaginanya yang masih rapat dengan jembut tipis dan tertata rapi.
Tubuh Citra bergerak tak karuan mencoba memberontak. Dia sama sekali tak rela organ intimnya itu dilihat oleh orang yang tidak berhak. Tapi karena kakinya yang juga terikat dan juga tenaganya kalah dari Pak Reman, maka tak bisa menghalangi Pak Reman untuk menikmati pemandangan indah itu.
Jari Pak Reman kemudian bergerak menggesek-gesek bibir vagina Citra. Waktu dia menemukan tonjolan kecil diselangkangan Citra dia langsung memainkannya, membuat Citra kembali berteriak-teriak tak jelas.
Selanjutnya Pak Reman membuka ikatan dikaki Citra. Kesempatan ini digunakan oleh Citra untuk melawan dan menendang-nendang kearah Pak Reman. Tapi lelaki itu sudah bersiap dan dengan mudah melumpuhkan perlawanan Citra.
Dengan kuat dan kasar Pak Reman buka kedua paha Citra lebar-lebar. Dengan cepat Pak Reman mengarahkan kepalanya ke kemaluan Citra dan menjilatinya.
“Aaaahhh jangan, nggak mau, Citra nggak mauuuu!”
Citra terus menolak dan berusaha menghindar tapi tenaganya benar-benar tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Pak Reman.
Pak Reman begitu menikmati kemaluan Citra dengan mulut dan lidahnya. Sesekali biji klitoris Citra dijilat dan dihisap dengan gemas. Dia suka sekali memainkan bagian itu, terutama milik Citra yang belum pernah dijamah oleh siapapun.
Kini saatnya Pak Reman masuk ke menu utamanya. Dia memposisikan tubuhnya diantara kedua kaki Citra yang terbuka.
Anggi dan Bella menatapnya dengan cemas. Anggi masih terus memohon kepada Pak Reman agar tidak melanjutkan perbuatannya itu, tapi sama sekali tak dihiraukan oleh Pak Reman.
Bella juga ingin melakukan hal yang sama tapi mulutnya masih sibuk merintih karena sodokan Agus di lubang pantatnya yang semakin kasar.
Pak Reman mulai mendorong kontolnya.
“Aaaaaarrrhhhh!! udaaaaahhhh..! sakiiiiiiiiiitt!!”
Teriakan Citra terdengar melengking saat kepala penis Pak Reman berhasil masuk kedalam vaginanya setelah memaksa bibir vaginanya yang masih rapat itu terbelah. Citra merasakan sakit yang luar biasa.
Penis itu terasa terlalu besar untuk vaginanya yang masih perawan.
Pak Reman justru merasakan kenikmatan tiada tara.
Perlahan-lahan Pak Reman terus memasukan penisnya ke vagina perawan Citra diiringi oleh teriakan kesakitan Citra yang semakin menyiksa.
Sampai akhirnya penis Pak Reman terhenti karena terhalang oleh sesuatu. Pak Reman menarik lagi penisnya hingga tinggal kepalanya saja, lalu perlahan dimasukan lagi.
Citra semakin berteriak dan menangis merasakan tubuhnya seperti terbelah.
“Udah siap kamu nduk? Ini akan jadi malam pertama yang nggak akan pernah kamu lupain. Setelah ini kamu akan jadi wanita dewasa. Dan kamu nggak akan bingung kalo nanti melayani suami kamu, hahaha”
“Udaaah paaak, udaaaah jangaan diterussiiiin. Sakiiiiiiit!!” pinta Citra.
Tapi Pak Reman tak menggubrisnya. Dan dengan dorongan kuat kontol besarnya merobek selaput dara perawan Citra sampai tertancap seluruhnya didalam vagina sempit itu.
“Aaaaaaaaarrrrhhhhhhhhh!!”
Lengkingan panjang teriakan Citra bergema dikamar itu. Tubuhnya sampai melenting keatas saking tak kuatnya menahan rasa sakit. Air matanya langsung keluar dengan begitu derasnya.
Pak Reman mendiamkan sejenak penisnya didalam vagina Citra merasakan pijatan nikmat dari nding vagina Citra.
Tubuh Citra lebih tinggi dari Anggi dan Bella, tapi lebih kurus. Kulitnya terlihat lebih putih dan wajahnya lebih manis. Tapi bagian dada maupun pantat masih kalah dari kedua kakaknya. Citra memang tidak semontok kedua kakaknya.
Bagi Pak Reman keperawanan Citra adalah keistimeaan. Dari sekian wanita yang kini menjadi budak seksnya, semua sudah menikah. Karena itulah dengan Citra yang tubuhnya belum pernah terjamah oleh siapapun itu membuat Pak Reman begitu bernafsu dengan gadis muda ini.
Pak Reman meraih tangan Citra yang terikat dan mengangkatnya keatas. Setelah itu tangannya yang satu lagi langsung meremas buah dada padat dan kenyal Citra yang tidak terlalu besar itu.
Citra terus berteriak-teriak dan menacaci maki Pak Reman, karena pria itu melakukannya dengan sangat kasar membuatnya begitu tak rela dan kesakitan.
Setelah itu Pak Reman merobek kaos lengan panjang yang dipakai Citra. Didalamnya dia masih memakai tanktop berwarna hitam, namun segera dinaikan oleh Pak Reman hingga buah dadanya yang tertutup beha berwarna hitam terlihat.
Kontras sekali antara beha hitam dan kulit Citra yang putih itu.
Dengan sekali tarikan keatas BH itupun tak bisa lagi menutupi buah dada Citra yang terlihat begitu indah. Puting susunya yang mungil berwarna merah muda menghiasi buah dada yang begitu putih itu, bahkan terlihat baluran berwarna biru kehijauan disekitar buah dada gadis itu.
“Aaaahhh jangaaann! biadaaaaab!”
Citra berteriak saat mulut Pak Reman menciumi gundukan indah itu dan meninggalkan beberapa cupangan disana.
Pak Reman juga sesekali menjilat dan menghisap kuat puting mungil itu, membuat Citra kesakitan.
Citra tak pernah membayangkan kalau orang pertama yang akan menyentuh bagian intim tubuhnya itu adalah seorang lelaki tua yang masih saudara dari kakak iparnya yang wajahnya jauh dari kata ganteng itu.
“Pak Reman udah pak, jangan sentuh Citra lagi, hiks hiks”
Anggi mulai menangis melihat adiknya yang masih perawan itu dicabuli oleh Pak Reman. Dia begitu menyesal dan marah karena tak bisa melindungi adik bungsunya itu.
Yang lebih menyakitkan, sekarang dia harus melihat sendiri bagaimana adiknya diperawani oleh lelaki yang tadi baru saja menikmati tubuhnya, lelaki yang sebenarnya adalah saudara dari suaminya sendiri.
Anggi menyalahkan dirinya sendiri jika saja dia tidak bersikap tidak baik pada Pak Reman, tak mungkin dirinya dan adik-adiknya berada dalam masalah besar seperti sekarang ini.
Bella sendiri juga sudah menangis melihat adiknya itu, tapi untuk melawan dia juga tidak bisa apa-apa. Apalagi sekarang dia sendiri sedang dikerjai lubang pantatnya oleh Agus.
Dia yang tadinya sudah merasa rileks karena cumbuan Anggi kini kembali merasakan sakit karena Agus menggenjotnya dengan semakin kasar.
Yang keluar dari mulut Bella sekarang hanyalah rintihan-rintihan kesakitan akibat perbuatan Agus.
Citra hanya bisa menangis saat Pak Reman dengan bebas mengenyoti kedua payudaranya.
Pak Reman tampak menikmati sekali menjilati dan menghisap buah dada itu. Baru kali ini Pak Reman menikmati lagi seorang gadis perawan selain istrinya saat malam pertama.
Wanita-wanita yang pernah dia setubuhi sebelumnya hanyalah para PSK dan binor.
Pak Reman merasa beruntung bisa mendapatkan gadis perawan untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya.
Setelah puas dengan dada Citra, tangan Pak Reman kemudian menyingkap rok panjangnya sampai ke pinggang.
Citra masih memakai leging didalamnya. Dengan sekali tarik maka turunlah leging itu beserta dengan CD hitam milik Citra. Terlihat bibir vaginanya yang masih rapat dengan jembut tipis dan tertata rapi.
Tubuh Citra bergerak tak karuan mencoba memberontak. Dia sama sekali tak rela organ intimnya itu dilihat oleh orang yang tidak berhak. Tapi karena kakinya yang juga terikat dan juga tenaganya kalah dari Pak Reman, maka tak bisa menghalangi Pak Reman untuk menikmati pemandangan indah itu.
Jari Pak Reman kemudian bergerak menggesek-gesek bibir vagina Citra. Waktu dia menemukan tonjolan kecil diselangkangan Citra dia langsung memainkannya, membuat Citra kembali berteriak-teriak tak jelas.
Selanjutnya Pak Reman membuka ikatan dikaki Citra. Kesempatan ini digunakan oleh Citra untuk melawan dan menendang-nendang kearah Pak Reman. Tapi lelaki itu sudah bersiap dan dengan mudah melumpuhkan perlawanan Citra.
Dengan kuat dan kasar Pak Reman buka kedua paha Citra lebar-lebar. Dengan cepat Pak Reman mengarahkan kepalanya ke kemaluan Citra dan menjilatinya.
“Aaaahhh jangan, nggak mau, Citra nggak mauuuu!”
Citra terus menolak dan berusaha menghindar tapi tenaganya benar-benar tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Pak Reman.
Pak Reman begitu menikmati kemaluan Citra dengan mulut dan lidahnya. Sesekali biji klitoris Citra dijilat dan dihisap dengan gemas. Dia suka sekali memainkan bagian itu, terutama milik Citra yang belum pernah dijamah oleh siapapun.
Kini saatnya Pak Reman masuk ke menu utamanya. Dia memposisikan tubuhnya diantara kedua kaki Citra yang terbuka.
Anggi dan Bella menatapnya dengan cemas. Anggi masih terus memohon kepada Pak Reman agar tidak melanjutkan perbuatannya itu, tapi sama sekali tak dihiraukan oleh Pak Reman.
Bella juga ingin melakukan hal yang sama tapi mulutnya masih sibuk merintih karena sodokan Agus di lubang pantatnya yang semakin kasar.
Pak Reman mulai mendorong kontolnya.
“Aaaaaarrrhhhh!! udaaaaahhhh..! sakiiiiiiiiiitt!!”
Teriakan Citra terdengar melengking saat kepala penis Pak Reman berhasil masuk kedalam vaginanya setelah memaksa bibir vaginanya yang masih rapat itu terbelah. Citra merasakan sakit yang luar biasa.
Penis itu terasa terlalu besar untuk vaginanya yang masih perawan.
Pak Reman justru merasakan kenikmatan tiada tara.
Perlahan-lahan Pak Reman terus memasukan penisnya ke vagina perawan Citra diiringi oleh teriakan kesakitan Citra yang semakin menyiksa.
Sampai akhirnya penis Pak Reman terhenti karena terhalang oleh sesuatu. Pak Reman menarik lagi penisnya hingga tinggal kepalanya saja, lalu perlahan dimasukan lagi.
Citra semakin berteriak dan menangis merasakan tubuhnya seperti terbelah.
“Udah siap kamu nduk? Ini akan jadi malam pertama yang nggak akan pernah kamu lupain. Setelah ini kamu akan jadi wanita dewasa. Dan kamu nggak akan bingung kalo nanti melayani suami kamu, hahaha”
“Udaaah paaak, udaaaah jangaan diterussiiiin. Sakiiiiiiit!!” pinta Citra.
Tapi Pak Reman tak menggubrisnya. Dan dengan dorongan kuat kontol besarnya merobek selaput dara perawan Citra sampai tertancap seluruhnya didalam vagina sempit itu.
“Aaaaaaaaarrrrhhhhhhhhh!!”
Lengkingan panjang teriakan Citra bergema dikamar itu. Tubuhnya sampai melenting keatas saking tak kuatnya menahan rasa sakit. Air matanya langsung keluar dengan begitu derasnya.
Pak Reman mendiamkan sejenak penisnya didalam vagina Citra merasakan pijatan nikmat dari nding vagina Citra.
Citra sendiri menangis meraung-raung merasakan rasa sakit yang diderita diliang surganya. Tak pernah dia menyangka akan kehilangan keperawanan dengan cara seperti ini. Bayangan indah pernikahannya yang tinggal 2 bulan lagi mendadak buyar karena ulah Pak Reman.
Anggi dan Bella yang melihat secara langsung bagaimana adik bungsunya diperawani dengan cara seperti itu ikut menangis. Mereka menyesal tak bisa melindungi adik kesayangannya itu. Lebih menyesal lagi karena sebelumnya mereka menikmati perkosaan yang mereka alami didepan mata adik bungsunya itu.
Pak Reman tanpa menunda lebih lama lagi dia langsung menggerakan penisnya maju mundur dengan tempo sedang. Pak Reman tersenyum bangga melihat selangkangan Citra, ada lelehan darah keperawanan yang mengalir disana.
Citra tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dia tahu apapun yang dia katakan untuk meminta Pak Reman berhenti tidak akan didengar oleh lelaki biadab itu. Semua yang telah dia jaga selama ini telah direnggut dengan paksa oleh lelaki yang umurnya lebih pantas menjadi ayahnya itu.
“Aaahh aahh, uedyaan tenan. Memek perawan emang paling top”
“Gimana pak? Mantep?”
“Mantep banget Gus”
Pak Reman terus menggenjot Citra kali ini dengan tempo yang lebih cepat.
Citra masih tak henti-hentinya menangis karena rasa sakit yang tak terkira. Sakit disekujur tubuh maupun sakit dihatinya.
Agus asyik menggenjot dengan tempo cepat dan kasar lubang pantat Bella, menikmati jepitan dari lubang pantat yang tadi juga baru dia perawani itu.
Rintihan kesakitan Bella yang kini bersama dengan tangisnya karena melihat penderitaan adik bungsunya menambah kenikmatan bagi Agus.
Hingga akhirnya Agus merasakan segera orgasme.
Agus memegang pantat Bella yang sekal sambil sesekali meremasnya. Dia makin cepat memaju mundurkan pantatnya menghujamkan penisnya ke lubang anus Bella.
Bella yang tahu itu, dia menggerakan dinding anusnya. Bukan karena dia menikmati tapi karena ingin lelaki itu segera menyudahi permainannya dan mengakhiri penderitaannya.
Tapi saat akan mencapai puncaknya, Agus mencabut penisnya dan segera langsung memasukannya ke lubang vagina Bella sudah mulai kering dan kembali menggenjotnya sesaat.
Dalam hitungan detik kemudian Agus mencengkram kuat pantat Bella dan menembakkan benihnya dirahim Bella.
Tusukan yang singkat dan semprotan sperma Agus pada memeknya itu lagi-lagi membuat Bella ikutan orgasme dan reflek dia membekap bibir Anggi dan langsung melumatnya.
Sementara itu Citra masih menangis dengan mata terpejam. Dia begitu jijik dan tak ingin melihat pria biadab yang telah berhasil mengoyak perawannya.
Sakit dilubang vaginanya begitu menyiksa akibat kontol laknat menyodok-nyodok dengan kasar. Ditambah lagi sakit dipayudaranya karena tangan Pak Reman meremasnya kasar.
Entah sudah berapa lama sodokan demi sodokan dari penis besar Pak Reman dia terima hingga kini vaginanya mulai basah oleh lendirnya sendiri.
Tangisan Citra masih terdengar meskipun kini tidak sekeras tadi. Dia sudah sangat lelah oleh rasa sakit yang diberikan oleh Pak Reman yang kasar.
Jika tadi keperkasaan Pak Reman membuat Anggi merasakan kenikmatan, tapi kini justru menjadi siksaan bagi Citra karena lelaki itu tak juga menyudahi permainan kasarnya.
Agus saja yang tadi sempat beristirahat sejenak sekarang sudah kembali memasukan penisnya ke vagina Anggi dan Bella secara bergantian. Posisi kedua wanita yang masih saling berpelukan itu memudahkan Agus untuk berpindah-pindah mana lubang yang ingin dia tusuk.
Anggi dan Bella sudah tak terlalu memperhatikan kondisi Citra karena mereka kembali diamuk birahi. Kedua wanita itu bahkan beberapa kali terlihat saling berciuman dengan begitu sensual.
Pak Reman senang melihat itu, kedua wanita itu semakin dikuasai oleh nafsunya sendiri dan semakin jatuh kedalam pelukannya dan Agus. Tinggal kini dirinya berusaha membuat gadis yang sedang disetubuhinya itu menjadi seperti kedua kakaknya.
Tak beberapa lama kemudian, diantara suara tangis Citra, sesekali terdengar desahan samar. Vaginanya juga sudah semakin basah, putingnya juga semakin mengeras menandakan birahinya mulai bangkit.
Dia berusaha mati-matian menekannya dan tidak ingin kalah oleh nafsu birahinya sendiri tapi sangat sulit karena Pak Reman terus merangsang daerah-daerah sensitifnya.
Ketika Pak Reman mencium bibirnya dia tak lagi menutupnya rapat-rapat seperti tadi, membiarkan bibir lelaki itu untuk menghisap bibirnya yang tipis, sambil sesekali melilit dan menghisap lidahnya.
Genjotan Pak Reman juga sudah mulai berirama meskipun temponya masih cepat. Kedua tangannya bergantian meremas buah dada kenyal milik Citra.
Citra yang berusaha keras menolak birahinya habis-habisan itu secara tak sadar kadang-kadang menggoyang pinggulnya merespon gerakan Pak Reman.
Pak Reman tersenyum karena sebentar lagi mangsa barunya ini bakalan segera takluk oleh nafsunya sendiri. Karena itulah dia semakin gencar menyerang daerah-daerah sensitif Citra.
Permainan Pak Reman pada dirinya yang terasa nikmat membuat gadis muda itu tak mampu bertahan lagi dari birahinya sendiri. Apalagi dirinya yang lugu dan belum pernah dijamah sama sekali sebelumnya membuat semua sentuhan Pak Reman merangsang birahinya tak terkendali.
Rasa sakit masih sedikit dirasakan Citra divaginanya, tapi juga mulai muncul sebuah kenikmatan yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Citra sesekali mulai membalas lumatan bibir Pak Reman. Gerakan pinggulnya juga semakin kentara.
Mengetahui mangsanya yang sudah semakin takluk membuat Pak Reman semakin bersemangat menggenjot gadis yang beberapa menit lalu masih perawan itu.
Entah sudah berapa lama Pak Reman menggenjot Citra. Vaginanya yang sempit itu membuat Pak Reman lama-lama tak tahan juga. Nafasnya semakin memburu dan semakin rakus menciumi bibir Citra. Genjotannya semakin cepat.
Terasa oleh Citra penis itu berkedut-kedut didalam vaginanya. Citra memang belum pengalaman sama sekali dan baru sekali ini merasakan rasanya disetubuhi, tapi dia merasa kalau Pak Reman akan segera berejakulasi.
Mengetahui hal itu mendadak kesadaran Citra kembali. Dia sadar Pak Reman bisa saja mengeluarkan spermanya didalam vaginanya, dan bisa saja itu membuat dirinya hamil. Citra kembali memberontak dan berusaha melepaskan lumatan bibir Pak Reman untuk memintanya mencabut penisnya.
Tapi Pak Reman tak membiarkan Citra melepas ciumannya. Ia pegang kepala Citra dengan erat agar tak bergerak dan lepas dari ciumanya.
“Hmmppp hmmmpp hmmppp”
Hanya itu yang terdengar dari mulut Citra yang masih dibekap oleh mulut Pak Reman. Dia mencoba menggelengkan kepalanya tapi tak bisa. Citra semakin panik dan mencoba untuk melawan, tapi tenaganya sudah benar-benar hilang, sehingga dia tak bisa melakukan apa-apa lagi.
“Hhmmmmmpphh”
Erangan panjang Pak Reman dan Citra secara bersamaan terdengar tertahan karena mulut mereka yang masih berciuman.
Pak Reman menusukan dalam-dalam penisnya dan menumpahkan semua cairan spermanya yang bergitu kental nan hangat didalam vagina Citra.
Tangis Citra langsung pecah karena tak bisa menahan Pak Reman agar mengeluarkan sperma diluar vaginanya.
Anggi dan Bella yang melihat secara langsung bagaimana adik bungsunya diperawani dengan cara seperti itu ikut menangis. Mereka menyesal tak bisa melindungi adik kesayangannya itu. Lebih menyesal lagi karena sebelumnya mereka menikmati perkosaan yang mereka alami didepan mata adik bungsunya itu.
Pak Reman tanpa menunda lebih lama lagi dia langsung menggerakan penisnya maju mundur dengan tempo sedang. Pak Reman tersenyum bangga melihat selangkangan Citra, ada lelehan darah keperawanan yang mengalir disana.
Citra tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dia tahu apapun yang dia katakan untuk meminta Pak Reman berhenti tidak akan didengar oleh lelaki biadab itu. Semua yang telah dia jaga selama ini telah direnggut dengan paksa oleh lelaki yang umurnya lebih pantas menjadi ayahnya itu.
“Aaahh aahh, uedyaan tenan. Memek perawan emang paling top”
“Gimana pak? Mantep?”
“Mantep banget Gus”
Pak Reman terus menggenjot Citra kali ini dengan tempo yang lebih cepat.
Citra masih tak henti-hentinya menangis karena rasa sakit yang tak terkira. Sakit disekujur tubuh maupun sakit dihatinya.
Agus asyik menggenjot dengan tempo cepat dan kasar lubang pantat Bella, menikmati jepitan dari lubang pantat yang tadi juga baru dia perawani itu.
Rintihan kesakitan Bella yang kini bersama dengan tangisnya karena melihat penderitaan adik bungsunya menambah kenikmatan bagi Agus.
Hingga akhirnya Agus merasakan segera orgasme.
Agus memegang pantat Bella yang sekal sambil sesekali meremasnya. Dia makin cepat memaju mundurkan pantatnya menghujamkan penisnya ke lubang anus Bella.
Bella yang tahu itu, dia menggerakan dinding anusnya. Bukan karena dia menikmati tapi karena ingin lelaki itu segera menyudahi permainannya dan mengakhiri penderitaannya.
Tapi saat akan mencapai puncaknya, Agus mencabut penisnya dan segera langsung memasukannya ke lubang vagina Bella sudah mulai kering dan kembali menggenjotnya sesaat.
Dalam hitungan detik kemudian Agus mencengkram kuat pantat Bella dan menembakkan benihnya dirahim Bella.
Tusukan yang singkat dan semprotan sperma Agus pada memeknya itu lagi-lagi membuat Bella ikutan orgasme dan reflek dia membekap bibir Anggi dan langsung melumatnya.
Sementara itu Citra masih menangis dengan mata terpejam. Dia begitu jijik dan tak ingin melihat pria biadab yang telah berhasil mengoyak perawannya.
Sakit dilubang vaginanya begitu menyiksa akibat kontol laknat menyodok-nyodok dengan kasar. Ditambah lagi sakit dipayudaranya karena tangan Pak Reman meremasnya kasar.
Entah sudah berapa lama sodokan demi sodokan dari penis besar Pak Reman dia terima hingga kini vaginanya mulai basah oleh lendirnya sendiri.
Tangisan Citra masih terdengar meskipun kini tidak sekeras tadi. Dia sudah sangat lelah oleh rasa sakit yang diberikan oleh Pak Reman yang kasar.
Jika tadi keperkasaan Pak Reman membuat Anggi merasakan kenikmatan, tapi kini justru menjadi siksaan bagi Citra karena lelaki itu tak juga menyudahi permainan kasarnya.
Agus saja yang tadi sempat beristirahat sejenak sekarang sudah kembali memasukan penisnya ke vagina Anggi dan Bella secara bergantian. Posisi kedua wanita yang masih saling berpelukan itu memudahkan Agus untuk berpindah-pindah mana lubang yang ingin dia tusuk.
Anggi dan Bella sudah tak terlalu memperhatikan kondisi Citra karena mereka kembali diamuk birahi. Kedua wanita itu bahkan beberapa kali terlihat saling berciuman dengan begitu sensual.
Pak Reman senang melihat itu, kedua wanita itu semakin dikuasai oleh nafsunya sendiri dan semakin jatuh kedalam pelukannya dan Agus. Tinggal kini dirinya berusaha membuat gadis yang sedang disetubuhinya itu menjadi seperti kedua kakaknya.
Tak beberapa lama kemudian, diantara suara tangis Citra, sesekali terdengar desahan samar. Vaginanya juga sudah semakin basah, putingnya juga semakin mengeras menandakan birahinya mulai bangkit.
Dia berusaha mati-matian menekannya dan tidak ingin kalah oleh nafsu birahinya sendiri tapi sangat sulit karena Pak Reman terus merangsang daerah-daerah sensitifnya.
Ketika Pak Reman mencium bibirnya dia tak lagi menutupnya rapat-rapat seperti tadi, membiarkan bibir lelaki itu untuk menghisap bibirnya yang tipis, sambil sesekali melilit dan menghisap lidahnya.
Genjotan Pak Reman juga sudah mulai berirama meskipun temponya masih cepat. Kedua tangannya bergantian meremas buah dada kenyal milik Citra.
Citra yang berusaha keras menolak birahinya habis-habisan itu secara tak sadar kadang-kadang menggoyang pinggulnya merespon gerakan Pak Reman.
Pak Reman tersenyum karena sebentar lagi mangsa barunya ini bakalan segera takluk oleh nafsunya sendiri. Karena itulah dia semakin gencar menyerang daerah-daerah sensitif Citra.
Permainan Pak Reman pada dirinya yang terasa nikmat membuat gadis muda itu tak mampu bertahan lagi dari birahinya sendiri. Apalagi dirinya yang lugu dan belum pernah dijamah sama sekali sebelumnya membuat semua sentuhan Pak Reman merangsang birahinya tak terkendali.
Rasa sakit masih sedikit dirasakan Citra divaginanya, tapi juga mulai muncul sebuah kenikmatan yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Citra sesekali mulai membalas lumatan bibir Pak Reman. Gerakan pinggulnya juga semakin kentara.
Mengetahui mangsanya yang sudah semakin takluk membuat Pak Reman semakin bersemangat menggenjot gadis yang beberapa menit lalu masih perawan itu.
Entah sudah berapa lama Pak Reman menggenjot Citra. Vaginanya yang sempit itu membuat Pak Reman lama-lama tak tahan juga. Nafasnya semakin memburu dan semakin rakus menciumi bibir Citra. Genjotannya semakin cepat.
Terasa oleh Citra penis itu berkedut-kedut didalam vaginanya. Citra memang belum pengalaman sama sekali dan baru sekali ini merasakan rasanya disetubuhi, tapi dia merasa kalau Pak Reman akan segera berejakulasi.
Mengetahui hal itu mendadak kesadaran Citra kembali. Dia sadar Pak Reman bisa saja mengeluarkan spermanya didalam vaginanya, dan bisa saja itu membuat dirinya hamil. Citra kembali memberontak dan berusaha melepaskan lumatan bibir Pak Reman untuk memintanya mencabut penisnya.
Tapi Pak Reman tak membiarkan Citra melepas ciumannya. Ia pegang kepala Citra dengan erat agar tak bergerak dan lepas dari ciumanya.
“Hmmppp hmmmpp hmmppp”
Hanya itu yang terdengar dari mulut Citra yang masih dibekap oleh mulut Pak Reman. Dia mencoba menggelengkan kepalanya tapi tak bisa. Citra semakin panik dan mencoba untuk melawan, tapi tenaganya sudah benar-benar hilang, sehingga dia tak bisa melakukan apa-apa lagi.
“Hhmmmmmpphh”
Erangan panjang Pak Reman dan Citra secara bersamaan terdengar tertahan karena mulut mereka yang masih berciuman.
Pak Reman menusukan dalam-dalam penisnya dan menumpahkan semua cairan spermanya yang bergitu kental nan hangat didalam vagina Citra.
Tangis Citra langsung pecah karena tak bisa menahan Pak Reman agar mengeluarkan sperma diluar vaginanya.
Sedihnya lagi, dia telah benar-benar kalah oleh nafsunya karena saat Pak Reman orgasme dia juga ikut merasakan orgasme yang sangat dahsyat. Belum pernah dia merasakan kenikmatan seperti itu sepanjang hidupnya.
“Hiks hiks, bapak jahat, kenapa keluar didalem?” ucap Citra terdengar lirih namun masih terdengar cukup jelas ditelinga Pak Reman.
“Nggak papa Cit, aku sayang sama kamu, biar itu jadi anak kita” jawab Pak Reman yang juga lirih ditelinga Citra yang masih tertutup jilbab itu yang membuat gadis itu semakin menangis.
Citra tak bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya benar-benar hamil oleh Pak Reman. Apa yang akan dia katakan kepada calon suaminya nanti jika tahu kalau dirinya sudah tidak perawan lagi. Semua bayangan-bayangan itu membuat gadis cantik itu terus menangis.
Pikirian Citra sangat kalut, dia hanya bisa diam dan pasrah saat penis Pak Reman yang masih tegang sempurna didalam vaginanya kembali menusuk-nusuknya. Dia bahkan tidak berusaha melawan maupun melarikan diri setelah ikatan di kedua tangannya dilepaskan.
Dalam sesenggukan tangis Citra kadang terdengar desahan merdu menikmati genjotan penis Pak Reman.
Saat Pak Reman kembali orgasme dia menumpahkan cairan pejunya didalam vagina Citra lagi.
Pemandangan dikamar itu malam itu sungguh sangat erotis dimana sekarang ini Anggi yang terbaring lemas telanjang bulat ditengah-tengah ranjang.
Sementara itu disamping kanannya Agus yang bugil sedang terbaring dengan Bella yang hanya memakai jilbab bergoyang diatasnya. Disebelah kiri Anggi ada Pak Reman yang juga bugil dengan Citra yang pakaiannya masih lengkap walau tersingkap semuanya sedang bergoyang diatas Pak Reman.
Pakaian Citra masih terpakai hanya kaosnya yang robek dibagian depan dan tanktop dan behanya tersingkap keatas, sedangkan rok panjangnya juga belum dilepas.
Ketiga perempuan itu tidak tahu kalau sebelum memperkosa Citra tadi Pak Reman sudah memasang kamera pemberian dari Fika untuk merekam semua yang mereka lakukan. Ketiga wanita itu terlalu larut dalam kenikmatan yang diberikan oleh kedua lelaki perkasa yang buruk rupa itu sehingga tidak sadar dengan keadaan disekitarnya.
Permainan mereka berlangsung semalam suntuk.
Citra yang tadinya sama sekali tidak mengenal seks mulai diajari oleh Pak Reman bagaimana melayani lelaki. Anggi bahkan ikut mengajari Citra bagaimana cara mengulum penis yang benar sehingga Pak Reman benar-benar merasa keenakan dengan emutan bibir Citra.
Permainan itu baru selesai menjelang subuh saat kelima orang itu sudah kehabisan tenaga mereka. Kelimanya tidur sambil berpelukan dalam satu ranjang dengan kondisi telanjang bulat.
Bahkan Pak Reman tertidur dengan penis masih berada didalam vagina Citra. Sedangkan Bella tertidur dengan tangannya masih menggenggam penis Agus. Ketiga wajah wanita cantik itu sama-sama belepotan seperma dari kedua lelaki.
Keesokan harinya Anggi terbangun karena merasa ranjangnya bergoyang-goyang lagi. Disebelah kanannya Pak Reman sedang menyetubuhi Bella dengan posisi menungging.
Sedangkan disebelah kirinya, ada Agus yang juga sedang menyetubuhi Citra dengan posisi sama.
Kini Citra sudah bugil mempertontonkan tubuh langsingnya dengan jilbabnya yang masih terpasang, sama seperti Bella.
Kedua lelaki itu bertukar korban. Semalam Bella belum merasakan kejantanan Pak Reman dan Citra yang juga hanya dikuasai oleh Pak Reman, pagi ini mereka merasakan penis yang lainnya.
Bella merasakan kenikmatan yang lebih karena penis Pak Reman yang lebih besar daripada milik Agus, sedangkan Citra merasa penis Agus yang lebih kecil dan permainanya yang lebih lembut itu membuatnya lebih bisa menikmati setiap gesekan antar kelamin mereka.
Agus juga mulai merubah pandanganya terhadap wanita yang buah dada dan pantatnya tidak terlalu besar. Dia merasakan kenikmatan yang tiada tara saat menyetubuhi Citra dari belakang.
Melihat kedua adiknya sedang disetubuhi oleh lelaki yang sebenarnya tidak berhak atas tubuh mereka itu membuat nafsu birahi Anggi ikutan naik.
Anggi merabai dirinya sendiri, mulai dari daerah dada sampai daerah selangkangannya. Dia mengocok sendiri vaginanya sambil melihat ekspresi nikmat dari wajah Citra. Wajah adik bungsunya yang lugu itu terlihat begitu sensual menikmati sodokan penis Agus dari belakang.
Sedangkan desahan dari Bella yang semakin keras membuat Anggi semakin bertambah nafsu.
“Kamu kenapa Nggi? Pengen juga?” tanya Pak Reman.
“Iyaa aahh paak, Anggi juga pengen” jawab Anggi.
“Pengen apa bu?” tanya Agus.
“Pengen aahh dientotin kontol besar kalian aahh aahh” jawab Anggi.
“Mau punyaku apa punya Agus Nggi?” tanya Pak Reman.
“Terserah, siapa aja boleh” jawab Anggi.
“Siapa aja? Jadi mulai sekarang kamu nggak bakal nolak kan kalo aku suruh ngelayanin siapa aja laki-laki yang pengen ngerasain tubuh kamu?” tanya Pak Reman.
“Terserah Pak Reman aja asal bisa muasin saya. Anggi milik Pak Reman sekarang” jawab Anggi.
“Bel, kamu denger kakakmu tadi kan? Kamu sendiri gimana? Mau juga kayak kakakmu?” tanya Pak Reman pada Bella yang sedang digenjotnya.
“Terserah Pak Reman. Bella juga milik Pak Reman sekarang” jawab Bella.
“Citra gimana pak?” tanya Agus pada Pak Reman.
“Citra nanti dulu Gus, dia masih perlu aku latih biar makin jago muasin laki-laki, haha”
Kedua pria itu tertawa puas melihat ketiga wanita alim itu kini menjadi budak seks mereka, bergabung dengan 3 wanita muda sebelumnya yaitu Eva, Shinta dan juga Fika yang sekarang sedang hamil benih dari Pak Reman.
Didalam benak Pak Reman sudah banyak rencana jahat yang tersusun untuk wanita-wanitanya itu, membuat Pak Reman semakin lebar tertawa.
Seharian itu mereka terus meregukk kenikmatan duniawi. Mereka hanya berhenti untuk makan saja.
Pembantu Anggi yang sudah sadarpun dipaksa untuk menurut dan tidak menceritakannya kepada siapapun. Untuk menjamin itu Agus juga memperkosa pembantu Anggi yang janda itu, sehingga sekarang dirumah itu ada 4 orang wanita telanjang yang selalu siap melayani kedua majikan barunya itu.
Seharian keenam orang itu beraktivitas didalam rumah dengan keadaan telanjang bulat.
Anggi dan kedua adiknya semakin pasrah saat Pak Reman memperlihatkan video yang dia rekam dari semalam. Mereka bertiga sudah pasrah menjadi budak seks kedua lelaki itu.
Tak terbayang oleh ketiganya bagaimana menjalani hari-hari kedepannya, tapi yang pasti mereka harus siap kapanpun Pak Reman ataupun Agus membutuhkannya.
BERSAMBUNG..
“Hiks hiks, bapak jahat, kenapa keluar didalem?” ucap Citra terdengar lirih namun masih terdengar cukup jelas ditelinga Pak Reman.
“Nggak papa Cit, aku sayang sama kamu, biar itu jadi anak kita” jawab Pak Reman yang juga lirih ditelinga Citra yang masih tertutup jilbab itu yang membuat gadis itu semakin menangis.
Citra tak bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya benar-benar hamil oleh Pak Reman. Apa yang akan dia katakan kepada calon suaminya nanti jika tahu kalau dirinya sudah tidak perawan lagi. Semua bayangan-bayangan itu membuat gadis cantik itu terus menangis.
Pikirian Citra sangat kalut, dia hanya bisa diam dan pasrah saat penis Pak Reman yang masih tegang sempurna didalam vaginanya kembali menusuk-nusuknya. Dia bahkan tidak berusaha melawan maupun melarikan diri setelah ikatan di kedua tangannya dilepaskan.
Dalam sesenggukan tangis Citra kadang terdengar desahan merdu menikmati genjotan penis Pak Reman.
Saat Pak Reman kembali orgasme dia menumpahkan cairan pejunya didalam vagina Citra lagi.
Pemandangan dikamar itu malam itu sungguh sangat erotis dimana sekarang ini Anggi yang terbaring lemas telanjang bulat ditengah-tengah ranjang.
Sementara itu disamping kanannya Agus yang bugil sedang terbaring dengan Bella yang hanya memakai jilbab bergoyang diatasnya. Disebelah kiri Anggi ada Pak Reman yang juga bugil dengan Citra yang pakaiannya masih lengkap walau tersingkap semuanya sedang bergoyang diatas Pak Reman.
Pakaian Citra masih terpakai hanya kaosnya yang robek dibagian depan dan tanktop dan behanya tersingkap keatas, sedangkan rok panjangnya juga belum dilepas.
Ketiga perempuan itu tidak tahu kalau sebelum memperkosa Citra tadi Pak Reman sudah memasang kamera pemberian dari Fika untuk merekam semua yang mereka lakukan. Ketiga wanita itu terlalu larut dalam kenikmatan yang diberikan oleh kedua lelaki perkasa yang buruk rupa itu sehingga tidak sadar dengan keadaan disekitarnya.
Permainan mereka berlangsung semalam suntuk.
Citra yang tadinya sama sekali tidak mengenal seks mulai diajari oleh Pak Reman bagaimana melayani lelaki. Anggi bahkan ikut mengajari Citra bagaimana cara mengulum penis yang benar sehingga Pak Reman benar-benar merasa keenakan dengan emutan bibir Citra.
Permainan itu baru selesai menjelang subuh saat kelima orang itu sudah kehabisan tenaga mereka. Kelimanya tidur sambil berpelukan dalam satu ranjang dengan kondisi telanjang bulat.
Bahkan Pak Reman tertidur dengan penis masih berada didalam vagina Citra. Sedangkan Bella tertidur dengan tangannya masih menggenggam penis Agus. Ketiga wajah wanita cantik itu sama-sama belepotan seperma dari kedua lelaki.
Keesokan harinya Anggi terbangun karena merasa ranjangnya bergoyang-goyang lagi. Disebelah kanannya Pak Reman sedang menyetubuhi Bella dengan posisi menungging.
Sedangkan disebelah kirinya, ada Agus yang juga sedang menyetubuhi Citra dengan posisi sama.
Kini Citra sudah bugil mempertontonkan tubuh langsingnya dengan jilbabnya yang masih terpasang, sama seperti Bella.
Kedua lelaki itu bertukar korban. Semalam Bella belum merasakan kejantanan Pak Reman dan Citra yang juga hanya dikuasai oleh Pak Reman, pagi ini mereka merasakan penis yang lainnya.
Bella merasakan kenikmatan yang lebih karena penis Pak Reman yang lebih besar daripada milik Agus, sedangkan Citra merasa penis Agus yang lebih kecil dan permainanya yang lebih lembut itu membuatnya lebih bisa menikmati setiap gesekan antar kelamin mereka.
Agus juga mulai merubah pandanganya terhadap wanita yang buah dada dan pantatnya tidak terlalu besar. Dia merasakan kenikmatan yang tiada tara saat menyetubuhi Citra dari belakang.
Melihat kedua adiknya sedang disetubuhi oleh lelaki yang sebenarnya tidak berhak atas tubuh mereka itu membuat nafsu birahi Anggi ikutan naik.
Anggi merabai dirinya sendiri, mulai dari daerah dada sampai daerah selangkangannya. Dia mengocok sendiri vaginanya sambil melihat ekspresi nikmat dari wajah Citra. Wajah adik bungsunya yang lugu itu terlihat begitu sensual menikmati sodokan penis Agus dari belakang.
Sedangkan desahan dari Bella yang semakin keras membuat Anggi semakin bertambah nafsu.
“Kamu kenapa Nggi? Pengen juga?” tanya Pak Reman.
“Iyaa aahh paak, Anggi juga pengen” jawab Anggi.
“Pengen apa bu?” tanya Agus.
“Pengen aahh dientotin kontol besar kalian aahh aahh” jawab Anggi.
“Mau punyaku apa punya Agus Nggi?” tanya Pak Reman.
“Terserah, siapa aja boleh” jawab Anggi.
“Siapa aja? Jadi mulai sekarang kamu nggak bakal nolak kan kalo aku suruh ngelayanin siapa aja laki-laki yang pengen ngerasain tubuh kamu?” tanya Pak Reman.
“Terserah Pak Reman aja asal bisa muasin saya. Anggi milik Pak Reman sekarang” jawab Anggi.
“Bel, kamu denger kakakmu tadi kan? Kamu sendiri gimana? Mau juga kayak kakakmu?” tanya Pak Reman pada Bella yang sedang digenjotnya.
“Terserah Pak Reman. Bella juga milik Pak Reman sekarang” jawab Bella.
“Citra gimana pak?” tanya Agus pada Pak Reman.
“Citra nanti dulu Gus, dia masih perlu aku latih biar makin jago muasin laki-laki, haha”
Kedua pria itu tertawa puas melihat ketiga wanita alim itu kini menjadi budak seks mereka, bergabung dengan 3 wanita muda sebelumnya yaitu Eva, Shinta dan juga Fika yang sekarang sedang hamil benih dari Pak Reman.
Didalam benak Pak Reman sudah banyak rencana jahat yang tersusun untuk wanita-wanitanya itu, membuat Pak Reman semakin lebar tertawa.
Seharian itu mereka terus meregukk kenikmatan duniawi. Mereka hanya berhenti untuk makan saja.
Pembantu Anggi yang sudah sadarpun dipaksa untuk menurut dan tidak menceritakannya kepada siapapun. Untuk menjamin itu Agus juga memperkosa pembantu Anggi yang janda itu, sehingga sekarang dirumah itu ada 4 orang wanita telanjang yang selalu siap melayani kedua majikan barunya itu.
Seharian keenam orang itu beraktivitas didalam rumah dengan keadaan telanjang bulat.
Anggi dan kedua adiknya semakin pasrah saat Pak Reman memperlihatkan video yang dia rekam dari semalam. Mereka bertiga sudah pasrah menjadi budak seks kedua lelaki itu.
Tak terbayang oleh ketiganya bagaimana menjalani hari-hari kedepannya, tapi yang pasti mereka harus siap kapanpun Pak Reman ataupun Agus membutuhkannya.
BERSAMBUNG..
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru
