x
x

Pak Jamal memuaskan Janda Semok dan Menantu Seksinya

cewek amoy


Bunyi gemercik hujan di luar masih terdengar, udara dingin berbanding terbalik dengan suhu ruangan dalam sebuah rumah petak. Kedua tangan Alvi merangkul erat belakang kepala suaminya, tak mau membiarkan Darto lolos dari lumatan bibirnya. Nafas mereka saling memburu. Pikiran sudah buntu, nafsu telah menguasai.

“Dek..” Darto berhasil meloloskan bibirnya. Dia menatap dalam wajah Alvi yang memerah karena nafsu.

“Kenapa Mas?”

“Jangan di sini, nanti kalo dilihat Bapak gimana?” Darto bangkit dari kursi ruang tamu, meraih tangan istrinya untuk berpindah ke dalam kamar.

“Sampai kapan Bapakmu tinggal di sini Mas? Kita jadi nggak bisa sebebas biasanya.” Gerutu Alvi.

Darto mengelus lembut rambut hitam istrinya sebelum kemudian mengecup kening wanita cantik itu.

“Sabar ya, Bapak masih butuh teman. Dia merasa kesepian kalo di rumah sendirian.” Ujar Darto.

“Aku sih nggak apa-apa sebenarnya kalo Bapakmu tinggal di sini, tapi makin lama dia makin kurang ajar kepadaku.” Ucap Alvi mengadukan kelakukan Pak Jamal yang tadi siang mengintipnya saat berganti pakaian di dalam kamar.

“Hahaha! Mungkin Bapak nafsu lihat kamu Dek. Wajar kan, dia juga laki-laki sama sepertiku.”

“Mas! Tapi dia Bapakmu! Mertuaku sendiri! Kamu mau lihat aku diewe dia?”

“Hmmm, sepertinya menarik. Tapi nggak mungkin lah, Bapakku sudah tua, kontolnya udah nggak bisa ngaceng lagi Dek.” Balas Darto dengan canda.

Alvi makin cemberut.

“Kata siapa dia nggak bisa ngaceng? Dua hari lalu aku pergoki dia lagi coli di kamar mandi sambil nyiumin celana dalamku Mas!”

“Hahaha! Jadi kalian sama-sama mengintip?”

“Aku nggak sengaja itu! Issh! Kamu pasti nggak bisa serius kalo diajak diskusi kayak gini.” Gerutu Alvi sambil membenahi daster tipisnya yang sempat acak-acakan.

“Jangan marah dong sayang, ayo kita lanjutin aja di kamar aja. Mumpung masih hujan.”

Pasangan suami istri yang baru menikah satu tahun terakhir itu pun masuk ke dalam kamar mereka untuk bercinta.

Sementara itu di kamar lain, tanpa mereka sadari Pak Jamal mengintip dari balik pintu. Pria tua dengan kepala botak itu sudah bersiap untuk masturbasi sedari tadi, berharap Darto dan Alvi bersetubuh di ruang tamu. Namun ternyata harapannya pupus begitu saja.

“Semprul!” Umpat Pak Jamal seraya melihat batang penisnya yang terlanjur menegang.

Sejak tinggal di rumah Darto sejak kematian istrinya, Pak Jamal memang tak bisa menahan hasratnya kala melihat Alvi. Menantunya itu tak hanya cantik, tapi paras wajahnya juga sangat sensual.

Apalagi lekuk tubuh wanita berusia 25 tahun itu juga tak kalah sempurna jika dibandingkan selebgram-selebgram seksi yang sering dilihatnya di instagram dan Tiktok.

Awalnya Pak Jamal hanya berani curi-curi pandang, namun belakangan pria tua itu mulai berani mengintip Alvi saat sedang berganti pakaian atau mandi. Tentu saja hal itu dilakukan saat Darto tak berada di rumah. Lambat laun, fantasi Pak Jamal berubah jadi sebuah obsesi.

Bahkan beberapa hari terakhir Pak Jamal sudah berani mengambil pakaian dalam Alvi dan menggunakannya untuk bermasturbasi.

“Liat aja, besok pagi bakal Aku tidurin lonte itu.” Gumam Pak Jamal sebelum memasukkan kembali batang penisnya ke dalam celana.

Pria bertubuh tambun dengan perut membuncit itu kemudian pergi dari rumah menuju warung kopi milik Zaenab yang berada di ujung jalan.

Sementara itu di dalam kamar lain, Alvi rupanya sudah tak tahan untuk segera melakukan rutinitasnya setiap malam bersama sang suami. Begitu pintu ditutup, Alvi langsung menyergap bibir Darto, melumatnya penuh birahi. Kedua tangannya memegangi erat kepala sang pejantan. Darto membalas lumatannya, bertukar liur, dan lidah mereka beradu di dalam mulut masing-masing.

Tangan Darto yang bebas mulai bergerak nakal menuju payudara istrinya.

“Mmmhh.. Aaahh.. Mmhh.. Uhh..” Desahan keduanya mengalir memenuhi udara kamar.

Ditengah lumatan bibir, tangan Darto bebas meremasi payudara Alvi yang masih terbungkus kain tipis daster.

Pria yang sebulan terakhir tak bekerja karena di PHK itu kemudian membimbing Alvi menuju atas ranjang. Darto buru-buru menelanjangi tubuh istrinya.

Sementara Alvi tak mau kalah dengan ikut melepas kaos serta celana yang dikenakan oleh Darto.

Meskipun sudah seringkali bercinta tapi Darto masih saja berdebar saat menyaksikan tubuh bugil Alvi terlentang pasrah di hadapannya. Payudara begitu menggoda dengan dua puting berwarna merah muda. Pinggul serta pantat Alvi jadi daya tarik tersendiri dengan kesemokan yang memikat mata tiap lelaki.

Alvi mundur ke belakang, kedua pahanya yang mulus terbuka lebar mempertontonkan celah surgawi dengan bulu-bulu halus tercukur rapi.

“Kamu mau ngewe apa liat aku colmek aja?” Goda Alvi sembari memainkan ujung jarinya pada permukaan vagina, menggeseknya perlahan, sambil sesekali menatap binal ke arah Darto.
1 2 3 5 >
“Lebih enak pake jari apa kontolku?” Tanya Darto, tangan kanannya mengocok penisnya yang sudah mengeras dan tegang.

“Emmmchh.. Nggak tau..”

Alvi sengaja menggoda ego sang suami, dua jarinya sudah menelusup masuk ke dalam vagina. Dia mengocok vaginanya sendiri, sesekali tubuhnya melengkung ke atas disertai desahan manja, seolah sedang menikmati cumbuan jemarinya sendiri.

Darto menatap nanar menyaksikan polah binal Alvi yang sedari masa pacaran memang sudah sangat “terlatih” untuk urusan sex.

“Occhhh! Anjing! Enak banget Maass!”

Jemari Alvi bergerak makin cepat mengocok bagian dalam vagina, satu tangannya yang lain menjamah payudaranya sendiri. Meremas, memilin puting kiri dan kanan secara bergantian. Di hadapannya, Darto melihatnya bermasturbasi sambil mengocok penisnya.

Pria itu kemudian mendekati tubuh Alvi, merundukkan kepalanya, mengganti jari sang istri dengan lidahnya.

“Ouucchhh Mas! Iya jilatin itilku Mas! Enak banget Mass!”

Lidah Darto menjilati permukaan vagina Alvi yang telah basah kuyup. Pria itu memfokuskan jilatannya pada area klitoris, tak hanya menjilat saja, Darto juga menghisapnya kencang-kencang hingga membuat tubuh Alvi melenting pasrah beberapa kali diiringi lenguhan panjang.

Tak puas hanya dengan menggunakan lidah saja, Darto juga memasukkan dua ruas jarinya ke dalam vagina. Ukuran jari yang lebih besar dibanding milik Alvi membuat tubuh sang istri kelejotan bak cacing kepanasan.

Darto mengocok, mengobel, menghujami isi vagina Alvi dengan kecepatan penuh sambil lidahnya mejilati bagian klitoris.

“Aaachh! Aaampun Mas! Ampuunn!”

Tubuh Alvi melonjak-lonjak tak karuan hingga membuat permukaan ranjang berantakan.

Darto begitu puas melihat istrinya seperti itu, gerakan jarinya makin cepat dan dalam. Tak jarang pria itu menelusupkan jauh sangat dalam, menyentakknya kasar, lalu melanjutkan dengan gerakan cepat nan kasar.

“Aaachh! Udah Mas! Ampuunn!” Jerit Alvi putus asa.

Darto menyudahi aksi cabul jemarinya. Pria itu mengambil posisi di atas tubuh sang istri. Dibasahinya kepala penisnya dengan air liur sebelum kemudian menggesek-gesekkan pada permukaan vagina.

Wajah Alvi terlihat begitu frustasi dipermainkan seperti itu. Menagih untuk segera disetubuhi.

“Ayo Mas.. Masukin kontolmu..”

“Udah nggak tahan ya?” Goda Darto.

“Ayo Mas.. Memekku udah gatel banget!” Racau Alvi.

Darto menurunkan pinggulnya, menekannya ke bawah sembari mengarahkan ujung penisnya dengan tangan agar memasuki liang vagina sang istri.

Alvi memejamkan kedua matanya, menggigit bibirnya sendiri kala alat kawinnya mulai disesaki oleh batang kontol Darto.

“Ouucchhh!”

Tubuh Darto menelungkupi tubuh Alvi dari atas, pinggulnya bergerak naik turun dengan perlahan. Penisnya terasa diremasi dari dalam oleh dinding-dinding vagina Alvi yang sempit dan basah.

Kedua tangan Alvi memeluk tubuh Darto, dadanya terhimpit dada sang suami, sesekali keduanya saling berpagut mesra seiring gerakan tubuh Darto yang makin konstan dan cepat.

“Gimana kalo Bapak yang ngentotin kamu Dek..?” Tanya Darto tiba-tiba.

Alvi tak punya waktu banyak berpikir, otaknya sudah terpengaruh birahi.

“Kamu rela aku dikontolin Bapakmu?” Ujar Alvi balik bertanya.

“Ouucchh! Bakal seru banget kayaknya.” Balas Darto.

Membayangkan tubuh istrinya disetubuhi oleh Pak Jamal malah makin membuatnya bernfasu.

“Nanti kalo aku ketagihan sama kontol Bapakmu gimana? Aaacchh! Anjing!”

“Emang memek lonte nggak pernah puas ya sama satu kontol doang?”

“I-Iya, aku nggak puas sama kontolmu doang Mas!”

Alvi sama sekali tak merasa direndahkan oleh ucapan Darto, itu justru jadi pemicu birahi sempurna.

Darto sedikit mangangkat tubuhnya, kini tubuhnya tepat berada di depan selangkangan Alvi yang masih terlentang pasrah. Ditariknya sedikit batangnya keluar dari vagina lalu meludahinya.

Pria berkulit sawo matang itu kemudian kembali menggerakkan tubuhnya maju mundur, dia menggunakan ibu jarinya untuk menekan serta menggosok kelentit Alvi.

“Aaaachhh! Maass! Aaacchh!”

Diperlakukan seperti itu membuat tubuh Alvi kembali kelejotan. Apalagi tekanan penis Darto di dalam vaginanya semakin cepat dan kasar. Kombinasi antara lesakan penis dipadu gesekan pada klitoris sukses membuat Alvi diterjang badai orgasme hebat.

Wanita itu melenguh panjang, tubuhnya menegang, melenting ke atas, payudaranya membusung diiringi lenguhan panjang nan parau.

“Maaasss!! Aaampuuunn!”

Darto belum puas, tubuh Alvi yang masih lemas setelah mendapat serangan orgasme segera dibalik hingga menungging membelakanginya. Sesaat pria itu menjilati lubang vagina sang istri, Alvi mendesis-desis menikmati sapuan lidah Darto yang makin bernafsu.

Setelah merasa jika lubang surgawi sang istri kembali basah kuyup, Darto memposisikan penisnya agar kembali menyesaki vagina. Dua tangannya memegangi pinggul semok Alvi, sebelum kemudian penisnya kembali menerobos masuk ke dalam liang senggama.

“Aaachhh!!” Kepala Alvi mendongak ke atas, mulutnya megap-megap seolah kekurangan oksigen.

Di belakang, Darto menggenjot tubuh istrinya langsung dengan kecepatan tinggi. Racauan serta lenguhan Alvi yang sudah lemas sekali tak diindahkan.

Bahkan dengan sengaja satu tangannya menjambak rambut Alvi, menarik kepalanya ke belakang sambil terus menggenjot vagina.

“Enak dek? Hmmm? Kamu masih mau ngrasain kontol lain selain kontolku?”

“Aaacchh! Maas!! Anjing!!” Alvi sudah tak bisa mencerna segala macam pertanyaan cabul dari sang suami, tubuhnya sudah dihajar habis-habisan oleh gelombang kenikmatan.

Satu tangan Darto bergerak merangkul tubuh Alvi dari belakang, meremasi payudara sang istri yang bergantung bebas.

Kini posisi keduanya duduk saling membelakangi, sesekali keduanya juga menguas lidah di tengah gerakan penis Darto yang entah kenapa tak kunjung menunjukkan tanda-tanda ejakulasi.

“Maass.. Buruan keluarin..” Desak Alvi yang sudah tak kuasa melayani birahi Darto.

“Kenapa? Biasanya kamu suka yang lama-lama.”

“Be-Besok aku shift pagi Mas..”

Setelah Darto di PHK dari tempat kerja, Alvi lah yang kini jadi tulang punggung pereknomian. Wanita cantik itu sudah hampir dua minggu bekerja di sebuah pabrik pengolahan plastik sebagai operator mesin.

Meskipun capek karena harus membanting tulang tapi Alvi mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja, untungnya beberapa teman SMA nya dulu juga berkerja di tempat yang sama.

“Jadi besok pagi aku nggak bisa dapat jatah dong Dek?” Goda Darto.

“Jangan Mas.. Besok pagi waktunya Bapak yang dapat jatah..” Entah kenapa kalimat cabul itu meluncur begitu saja dari mulut Alvi.

Mendengar hal itu Darto makin bersemangat.

“Kamu serius? Kamu mau dikontolin Bapak?” Pekik Darto masih tak percaya.”

“Eeemmchh! Tergantung, kalo kontol Bapak masih bisa ngaceng.” Balas Alvi frontal.

“Acchh! Kamu memang istriku dek!”
< 1 2 3 5 >
“Maass! Keluarin pejumu! Aku besok pagi harus ngelayani kontol Bapakmu loh..”

Darto kembali merundukkan tubuh Alvi agar menungging. Tanpa ampun dia hajar kembali liang senggama sang istri dengan lesakan-lesakan kuat penisnya.

Membayangkan tubuh Alvi disetubuhi oleh Pak Jamal jadi candu yang membakar birahi, bahkan itu membuat Darto yak kuasa membendung ejakulasinya.

“Aaargghtt! Deekk!”

“Ayo Mas keluarin pejumu!!”

Benar saja, tak butuh waktu lama saat penis Darto berkedut hebat sebelum kemudian menyemprotkan begitu banyak cairan sperma di dalam rahim Alvi. Pria itu kemudian mencabut batang penisnya dari dalam vagina.

Alvi sigap berbalik badan dan langsung menjilati alat kawin sang suami. Dijilatinya kepala penis Darto, menghisap sisa-sisa sperma yang tertinggal tanpa perasdaan jijik sedikitpun.

“Terima kasih Dek.. Kamu binal banget malam ini.” Puji Dartp seraya membelai kepala Alvi.

“Sudah tugasku buat muasin kamu Mas..”

“Dek..”

“Ya Mas?”

“Kamu serius nanti pagi mau ngrasain kontol Bapak?”


===o000o===


Sementara itu di tempat lain, sebuah warung kopi kecil milik janda semok bernama Zubaedah berdiri dengan lampu redup yang menyinari halaman depan. Suara jangkrik terdengar riuh di kejauhan, mengiringi desiran angin malam yang sesekali menyentuh wajah.

Warung kopi itu sederhana, hanya beberapa meja kayu yang tersebar di dalamnya, dengan kursi-kursi kayu yang sudah sedikit usang, namun tetap nyaman.

Meskipun kecil, tapi seperti malam-malam sebelumnya warung milik Zubaedah selalu dipenuhi oleh para pengunjung yang kebanyakan adalah para pria di sekitar lingkungan.

Bukan saja karena racikan kopi Zubaedah yang enak dan murah, tapi juga karena penampilan janda berusia 35 tahun itu yang selalu menarik perhatian lawan jenis.

Maka jangan heran, jika malam sudah menjelang, warung kopi itu selalu dipenuhi oleh para pelanggan. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati segelas kopi atau mengobrol saja, tapi mereka juga datang untuk melihat kemolekan tubuh sang pemilik warung yang tak jarang mengenakan pakaian ketat menggugah selera.

Pak Jamal yang baru beberapa minggu tinggal di lingkungan itu jadi salah satu “fans baru” Zubaedah.

Hampir setiap malam, pria tua itu selalu mendatangi warung meskipun saat di rumah Darto, Alvi tak pernah lupa menyiapkan kopi untuknya.

Berbeda dengan para pengunjung lain yang secara terang-terangan selalu memuji penampilan Zubaedah, Pak Jamal bergerak dalam senyap, sama sekali tak terdeksi, namun sangat efektif.

Satu minggu yang lalu saat kebetulan warung masih sepi, Zubaedah menceritakan masalahnya pada Pak Jamal.

Zubaedah secara terbuka menceritakan mantan suaminya yang sudah mati dan meninggalkan setumpuk hutang.

Pak Jamal menyimak tiap detail cerita janda semok itu dengan seksama, sebagai mantan “Don Juan” di masa muda tak sulit bagi Pak Jamal untuk jadi sosok yang terkesan mengayomi, jadi pendengar yang baik untuk tiap keluh kesah Zubaedah.

“Berapa sisa hutang suamimu?” Tanya Pak Jamal kala itu.

“Lumayan lah Mas, makanya ini aku pusing banget. Apalagi bulan depan anakku yang kecil udah mau masuk sekolah.”

“Ya lumayan itu berapa?” Todong Pak Jamal tanpa basa-basi, dia tau inilah kesempatan baginya untuk jadi sosok pahlawan bagi janda semok itu.

“Hmmm, masih ada sekitar dua puluh jutaan mungkin.” Ujar Zubaedah berterus terang.

Nominal sebesar itu sebenarnya tak cukup membuat Pak Jamal kaget. Uang segitu tak ada artinya bagi pria yang memiliki banyak sawah di kampung tersebut.

Pak Jamal hanya terdiam, sambil otaknya berputar bagaimana cara memanfaatkan momen seperti ini. Bantuannya harus berbuah hasil manis, dia sadar betul akan hal tersebut.

“Kalo aku yang nutup hutangmu gimana?”

Zubaedah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bola matanya berbinar, rasa putus asanya kini ada penawarnya.

“Serius Mas??”

Pak Jamal tersenyum, dia tau Zubaedah akan segera masuk ke dalam “perangkapnya.”

“Serius dong..” Pak Jamal menyeruput sisa kopinya di dalam cangkir kecil.

“Wah kalo beneran aku bakal terima kasih banget sih. Tapi apa kamu yakin mau bantu aku? Dua puluh juta tu banyak loh? Nanti apa kata Darto sama menantumu?” Cerocos Zubaedah.

“Ah, uang segitu nggak ada masalah buatku. Lagipula Darto nggak pernah ikut campur urusanku, jadi ya nggak masalah.” Balas Pak Jamal santai.

Mendengar hal itu Zubaedah mengambil posisi duduk dekat, bahkan sangat dekat dengan Pak Jamal. Bahkan siku pria tua itu bisa menyentuh gundukan payudaranya yang terbungkus kain kemben seksi. Zubaedah tau betul caranya berterima kasih.

Sepanjang usia pernikahannya dengan mendiang suaminya tak sekalipun mendapat nafkah lahir sebanyak ini, dan sekarang ada seorang pria tua yang dengan senang hati memberinya uang tanpa banyak bicara.

“Aku tau jaman sekarang nggak ada yang gratis Mas. Kamu mau apa dari aku?” Ujar Zubaedah tanpa basa-basi. Kerling matanya menggoda.

Tangan kanannya mulai berani memegang paha Pak Jamal, mengelusnya secara perlahan.

“Hahaha! Kamu tau aja kalo aku sudah lama nggak ngrasain perempuan.” Balas Pak Jamal.

Malam itu jadi tonggak hubungan baru antara Pak Jamal dan Zubaedah.

Keesokan harinya pria tua itu menepati janji dengan menyerahkan uang untuk membayar semua hutang-hutang mendiang suami Zubaedah, bahkan jumlahnya lebih besar dari yang dijanjikan.

Apa yang diberikan oleh Pak Jamal bukannya tanpa pamrih, Zubaedah pun tau akan hal tersebut. Maka, setelah hari itu, apapun yang diinginkan oleh Pak Jamal maka Zubaedah akan menurutinya. Apapun itu.

“Wah Mbak Zubaedah kalo make hijab kayak gini jadi makin cakep.” Celetuk Rohmat, seorang PNS Kabupaten yang setiap malam rajin mendatangi warung kopi milik Zubaedah.

“Setuju! Makin adem ngeliatnya.” Sahut Roby, pemuda berusia 20 tahun yang tinggal di dekat warung.

“Diliat aja ya bro, nggak boleh dipegang.” Pak RT ikut menimpali, pria berambut tipis dan beruban itu sudah tiga hari terakhir mulai sering mendatangi warung.

Malam ini Zubaedah memang merubah penampilannya. Sebuah rok sepan panjang ketat dipadu kemeja berkancing minimalis serta hijab gelap yang menutupi kepalanya bukan hanya menambah aura kecantikannya, tapi juga makin merojok fantasi-fantasi liar para pengunjung warung.

Pak Jamal yang meminta Zubaedah memakai pakaian tersebut, bukan tanpa alasan, pria tua itu terobsesi pada penampilan Alvi yang sering menegenakan hijab saat bekerja di pabrik.

“Kalian jangan suka gombal ah, inget istri di rumah.” Rajuk Zubaedah seraya menyerahkan secangkir kopi untuk pengunjung warungnya.

“Bukan gombal kok Mbak, tapi ini kenyataan yang harus diungkapkan.” Ujar Rohmat dengan bahasa sok inteleknya yang langsung disambut senyuman sinis para pengunjung warung lain.

Di sudut meja, sedari tadi Pak Jamal hanya mengamati interaksi antara Zubaedah dengan para pengunjung warung sambil sesekali melirik janda semok itu.

Keduanya memang telah bersepakat untuk merahasiakan “hubungan” mereka. Alhasil mereka baru bisa mengumbar kemesraan ketika warung sudah sepi atau saat Pak Jamal mendatangi rumah Zubaedah secara diam-diam.

“Mbak, boleh pinjam kamar mandinya?” Pak Jamal maju ke depan, berpura-pura minta ijin pada Zubaedah.
< 1 2 3 5 >
“Oh silahkan Pak, ada di belakang, mari saya antar.” Zubaedah tersenyum penuh arti.

“Walah, udah tua kok pake diantar segala Mbak?” Celetuk Tomi.

“Hush! Karena sudah tua harus didampingi, siapa tau dia nggak bisa megangin barangnya sendiri.” Sahut Pak RT yang langsung disambut gelak tawa para pengunjung warung lain.

Guyonan Pak RT dan Tomi sama sekali tak ditanggapi oleh Pak Jamal.

Pria tua itu lebih memilih mengabaikan mereka daripada terlibat pertengkaran yang tak perlu. Toh, apa yang sedang difantasikan oleh pria-pria tersebut pada tubuh Zubaedah telah dilakukannya berkali-kali tanpa ada satupun orang yang tau.

“Mas mau minta jatah sekarang? Warung masih rame loh.” Ujar Zubaedah saat sudah berada di depan pintu kamar mandi.

“Sebentar aja, kontolku udah ngaceng banget liat kamu pake jilbab kayak gini.” Balas Pak Jamal.

“Ah! Mas Jamal mana pernah sebentar kalo ngewe.”

“Ayo buruan!” Pak Jamal sudah tak sabar dan langsung menarik tubuh sintal Zubaedah masuk ke dalam kamar mandi.

Begitu sudah berada di dalam kamar mandi, Pak Jamal tanpa sungkan-sungkan langsung mempreteli kancing kemeja Zubaedah yang terlihat kekecilan. Tanpa melepas BH terlebih dahulu, pria tua itu menarik keluar gundukan payudara si janda semok dengan sangat antusias.

“Palan Mas.. Sakiiitt..” Keluh Zubaedah.

“Aku udah nggak tahan..”

Mulut Pak Jamal langsung mencaplok payudara Zubaedah, menghisap puting janda itu secara bergantian, sementara satu tangannya ikut meremasi aset terindah Zubaedah.

Diperlakukan seperti itu, Zubaedah sebenarnya ingin mengerang atau setidaknya mendesah sebagai aktualisasi ekspresi kebinalannya, tapi hal itu tak dilakukannya. Tangan kanannya menutup mulutnya sendiri, mencegah suaranya terdengar dari luar.

Seluruh tubuh Zubaedah bergetar hebat dalam sensasi nikmat yang dipancarkan melalui sentuhan lidah pada ujung pentil payudaranya.

Pak Jamal yang sudah lama tak merasakan payudara seorang wanita memanfaatkan waktu yang ia miliki, ia mengecup, menjilat, mencium, melumat, menyapu hingga menghisap. Lidahnya mengular, melintir, mengoles ke semua arah.

Setiap apa yang ia lakukan, menyebarkan sentakan elektris ke sekujur badan Zubaedah. Sang janda itu pun memeluk kepala Pak Jamal, menekannya ke dada, membantu sang pejantan untuk menikmati ranumnya buah dada.

“Eeemmchhh.. Eeemmcchhh..”

Puting Zubaedah makin mengeras, apalagi hisapan mulut Pak Jamal sesekali ditambah dengan gigitan-gigitan kecil lalu diakhiri membetot puting. Pak Jamal merapatkan tubuhnya, tonjolan penis dari balik celananya menyentuh paha Zubaedah.

Janda semok itu meremasinya dengan tangan kiri.

“Emutin aja, aku akan cepat kali ini.” Ucap Pak Jamal beberapa saat kemudian sambil melepas celananya hinga bagian bawah tubuhnya terbuka.

Zubaedah hendak melepas hijabnya namun Pak Jamal buru-buru mencegahnya.

“Nggak usah dibuka, aku makin sange kalo liat kamu make hijab kayak gini.” Zubaedah mengrenyitkan dahi.

“Tapi nanti kotor Mas..”

“Udah ayo buruan, nggak usah banyak protes.” Pak Jamal tak mau merusak fantasinya sedari tadi.

Zubaedah bergerak merundukkan badannya, terpaksa dia menuruti kemauan pria tua itu.

Meskipun sudah tua, tapi penis Pak Jamal bisa dikatakan tak kalah dengan penis-penis pria yang usianya jauh lebih muda. Saat ereksi batang penisnya menunjukkan urat-urat tipis, bagian ujungnya mengembang seperti kepala jamur berwarna kecokelatan. Memang tak sebesar milik bintang porno dari luar, tapi itu sudah cukup menggelitik birahi Zubaedah.

Tanpa diperintah lagi, Zubaedah membelai benda itu. Indera perabanya merasakan urat-urat di sekujur batang penis Pak Jamal berdenyut mengalirkan darah. Semakin dibelai daging kenyal itu semakin keras. Zubaedah sesekali menampar pipi dan mulutnya menggunakan penis itu.

"Occhhh! Enak sayang!"

Zubaedah tanpa ragu mendaratkan lidahnya di kepala penis Pak Jamal, menyapu daerah itu dengan ekspresi binal. Meskipun aroma alat kawin pejantan tua itu sedikit pesing, Zubaedah terus menciuminya dengan sepenuh hati tanpa sekalipun merasakan jijik.

Payudaranya yang menggantung bebas jadi sasaran remasan kasar jemari Pak Jamal.

“Eeemmcchh.. Eeemmchhh..” Hanya itu yang terdengar dari bibir Zubaedah.

Rangsangan jemari Pak Jamal pada payudaranya memicu Zubaedah untuk melanjutkan tugas, maka ia pun membuka mulutnya dan memasukkan penis itu ke dalam mulutnya.

Kepala Zubaedah bergerak maju mundur menservis penis Pak Jamal, kuluman dan jilatannya begitu memanjakan pria tua itu hingga membuatnya melenguh keenakan dengan tubuh bergetar.

“Ouuchh! Terus! Isepin kontolku!” Racau Pak Jamal, satu tangannya membelai kepala si janda semok yang masih tertutup hijab.

Sesekali Zubaedah melirik ke arah Pak Jamal, ekspresi mata binalnya makin membuat birahi pria tua itu terbakar. Apalagi saat Zubaedah memainkan lidahnya di sekitar lubang kencing, menjilatinya perlahan sebelum kemudian kembali mengulumnya.

Tangan janda itu kini ikut mencengkram alat kawin Pak Jamal, meremasnya lalu mengocoknya sambil terus meberikan kuluman serta hisapan dengan mulutnya.

Suara desahan parau Pak Jamal saling bersahutan dengan bunyi kecipak mulut Zubaedah yang sibuk di bawah sana.

Selang beberapa waktu Pak Jamal merasakan desakan kuat dari dalam penisnya. Kedua tangannya mencengkram kepala Zubaedah, kemudian menggantikan kocokan tangan wanita itu dengan goyangan pinggulnya. Kini Pak Jamal terlihat sedang menyutubuhi mulut Zubaedah.

“Orrgghht!! Orrgghhtt!” Ujung penis Pak Jamal nyaris menyentuh kerongkongan Zubaedah, mulutnya megap-megap disesaki penis sang pejantan.

“Aku mau keluar! Aku mau keluar!”

Buru-buru Pak Jamal melepas batang penisnya, mengocoknya sesaat dan mengarahkan bagian ujung penisnya pada mulut Zubaedah yang sudah terbuka dan bersiap di bawah tubuhnya.

“HAAAAAHHH!!!”

Crott.. Crott.. Crott..

Semprotan demi semprotan cairan kental berwarna putih memenuhi rongga mulut Zubaedah. Janda cantik itu menelannya hingga tandas. Beberapa ceceran sperma juga membasahi wajahnya.

Tubuh Pak Jamal mengejang beberapa saat, nyaris gontai, beruntung satu tangannya sigap berpegangan pada dinding kamar hingga membuat keseimbangan tubuhnya tak goyah.

Setelah menelan seluruh sperma Pak Jamal, Zubaedah masih melanjutkan serviznya dengan menjilati bagian kepala penis. Dibersihkannya sisa-sisa sperma pria tua itu dengan lidahnya.

Tubuh Pak Jamal bergidik, sesnsai geli sekaligus ngilu menyergap tubuhnya. Untuk urusan sex, Zubaedah memang tak pernah setengah hati, dia bakal melayani pejantannya hingga benar-benar puas.

“Terima kasih sayang..”

“Sama-sama Mas..”

===x0x===

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat para pengunjung warung mulai membubarkan diri satu persatu. Zubaedah pun mulai mengemasi beberapa barang dagangannya dan menutup warungnya sebelum kemudian pulang menuju rumahnya yang berada tak jauh dari tempatnya berusaha.

Di ujung jalan, Pak Jamal terlihat masih menikmati sebatang rokok kretek, udara dingin karena efek hujan sama sekali tak membuat tubuhnya menggigil.
< 1 3 4 5 >
Tadi, setelah keluar dari kamar mandi, Zubaedah menyanggupi untuk memberinya jatah bersetubuh hari ini. Sama seperti biasanya, Pak Jamal menunggu Zubaedah menutup warungnya, lalu secara diam-diam dia mendatangi rumah janda semok itu.

“Kok nggak pulang Pak?”

Pak Jamal menoleh ke belakang dan mendapati Roby dan Rohmat berdiri sambil tersenyum.

“Oh kalian, iya masih males.” Jawab Pak Jamal mencoba menepis keterkejutannya.

“Apa nggak dicariin Mas Darto nanti Pak?” Roby mendekat, satu tangannya merogoh kantong dan mengeluarkan ponsel.

“Ah nggak, udah biasa pulang malam. Kalian kenapa tumben belum pulang juga?” Ujar Pak Jamal sambil membuang puntung rokoknya.

Dalam hatinya berharapa agar kedua pelanggan tetap warung Zubaedah ini segera menyingkir agar rencananya menyetubuhi sang janda semok tak berantakan.

“Masih sore ini Pak, malam masih panjang. Hehehe.” Jawab Rohmat.

“Mau rokok?” Pak Jamal menawarkan rokok pada kedua pria yang usianya jauh lebih muda darinya itu namun ditolak dengan halus.

“Terima kasih Pak, tapi saya sudah punya rokok sendiri.” Ucap Rohmat sembari mengeluarkan bungkus rokok dari kantong bajunya.

“Ngomong-ngomong, tadi kok di kamar mandi lama banget Pak?” Pertanyaan dari Roby membuat kening Pak Jamal mengkerut.

“Maksudnya?”

“Hahaha! Saya sih nggak nyangka kalo selera Mbak Zubaedah pria tua kayak Pak Jamal.” Ujar Roby tanpa basa-basi lagi.

“Heh! Maksudmu apa?!” Emosi Pak Jamal terpancing melihat tingkah kurang ajar dari Roby.

“Tenang Pak, kami cuma becanda aja. Nggak perlu emosi. Sabar..” Rohmat berjalan mendekat mencoba menenagkan emosi pria tua itu.

“Iya Pak Jamal, saya cuma heran dengan ini, dan mau tau rahasianya apa. Hehehe.”

Roby menunjukkan layar ponselnya pada Pak Jamal, betapa terkejutnya pria tua itu saat melihat kegiatan cabulnya tadi di kamar mandi bersama Zubaedah ternyata direkam oleh Roby lewat lubang angin. Pak Jamal bahkan tak menduga akan melihat hal seperti ini, emosinya makin terpantik.

Tanpa pikir panjang dia langsung mencengkram kerah baju Roby, mendorongnya ke belakang. Pria muda itu sama sekali tak melawan, bahkan tawanya makin meledak.

“Bajingan! Berani-beraninya kamu ngrekam! Hapus sekarang juga! Hapus!” Hardik Pak Jamal dengan tatapan penuh kemarahan.

Rohmat mencoba memisahkan keduanya.

“Lepasin Pak, malu nanti kalo dilihat orang.” Ucap Rohmat.

Sementara Roby masih tertawa cengengesan, sama sekali tak merasa terintimidasi oleh kemarahan Pak Jamal.

“Brengsek!” Umpat Pak Jamal sekali lagi sebelum melepas cengkramannya pada kerah baju Roby.

“Oke, kalo udah tenang kita bisa ngobrol enak sekarang.” Ucap Roby dengan santai.

“Ayo hapus sekarang video itu!” Perintah Pak Jamal masih dengan wajah tegang.

“Nanti pasti Roby hapus Pak tenang saja, asal Pak Jamal mau menuruti kemauan kami.” Pak Jamal mengalihkan pandangannya pada Rohmat.

“Kalian sedang mengancamku?”

“Oh nggak Pak, sama sekali nggak. Kami hanya ingin merasakan apa yang telah dirasakan oleh Pak Jamal.”

“Jangan pikir kami nggak tau apa yang sering Bapak lakukan setiap malam saat mendatangi rumah Mbak Zubaedah. Kalo warga kampung sini tau bisa gempar Pak, apalagi sekarang ada bukti video ini.” Celetuk Roby sembari kembali menunjukkan layar ponselnya yang masih memutar adegan blowjob Zubaedah pada penis Pak Jamal.

“Sontoloyo! Kalian mau apa? Uang?! Berapa kalian minta?! Hah?!”

“Kami nggak butuh uangmu Pak tua, kami ingin ikut menikmati tubuh Mbak Zubaedah. Lonte itu sedang menunggumu di rumahnya kan?” Roby maju ke depan, kali ini senyumnya sudah hilang dari wajahnya.

“Nggak mungkin! Zubaedah nggak akan mau!” Tolak Pak Jamal mentah-mentah.

“Nah itu jadi tugas Pak Jamal, kami nggak mau tau gimana caranya. Hehehe.” Seloroh Rohmat.

Sejenak Pak Jamal terdiam, dia tau betul jika sekarang sedang berada keadaan dilema. Tak menuruti permintaan Rohmat dan Roby maka dia harus bersiap diri jika skandalnya dengan Zubaedah jadi konsumsi warga kampung.

Pak Jamal mungkin bisa langsung menghilang dari kampung, tapi bagaimana dengan nasib Zubaedah? Wanita itu tak punya kemampuan seperti itu, apalagi dia juga sudah memiliki anak.

“Oke! Aku setuju, habis ini kalian bisa ikut aku ke rumah Zubaedah. Tapi dengan satu syarat, kamu hapus video tadi.” Ujar Pak Jamal.

“Nggak ada masalah, langsung saya hapus sekarang Pak.” Roby menanggapi dengan langsung menekan tombol deleted pada file video pada layar ponselnya.

===x0x===

Zubaedah baru saja beres bersolek, setelah selesai mandi dan mengganti pakaian. Di kamar lain, dua anaknya sudah terlelap tidur.

Meskipun capek setelah hampir seharian menjaga warung, tapi wanita bertubuh sintal itu masih sabar menunggu kehadiran Pak Jamal. Kehadiran sosok pria tua itu nyatanya membuat kehidupan Zubaedah berubah. Tak hanya perekonomian keluarganya saja yang sangat terbantu, tapi juga Zubaedah mendapatkan sosok pria dewasa yang mampu mengayominya. Sesuatu yang selama ini tak pernah didapatkannya dari sosok sang mendiang suami.

Hanya saja, saat dipancing untuk melangkah ke jenjang hubungan yang lebih serius, Pak Jamal selalu mengelak. Alasannya dia masih butuh waktu untuk saling mengenal dan lain sebagainya. Zubaedah tak punya kuasa atau keberanian untuk mendesak Pak Jamal meskipun hubungan keduanya sudah sangat dekat bahkan sampai pada hubungan badan.

Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Zubaedah sekarang hanyalah menjaga keberadaan Pak Jamal agar tak berpaling pada perempuan lain. Maka, apapun yang diminta oleh pria tua itu, sebisa mungkin dituruti.

TOK TOK TOK

Zubaedah memastikan penampilannya cukup menggoda di depan cermin sebelum kemudian beranjak menuju pintu rumahnya untuk menyambut kedatangan sang pejantan tua pujaan hatinya.

Namun betapa terkejutnya Zubaedah saat membuka pintu rumah tak hanya sosok Pak Jamal yang ada di sana, tapi juga ada Rohmat dan Roby, dua pria pelanggan setia warungnya.

“Loh..? Kalian?”

“Malem Mbak Zubaedah.. Wah nafsuin banget pakaiannya.” Ujar Roby tanpa malu-malu saat menyaksikan tubuh semok Zubaedah hanya terbalut daster tipis motif bunga sebatas lutut. Puting payudaranya tercetak jelas karena Zubaedah sengaja tak memakai pakaian dalam apapun.

“Aku perlu ngomong denganmu sekarang.” Tak mau berlama-lama terlihat berada di depan rumah, Pak Jamal langsung menarik tangan Zubaedah menuju ke dalam kamar.

“Kalian tunggu di luar, jangan masuk sebelum aku perintahkan.” Pesan Pak Jamal pada Roby dan Rohmat.

“Siap boss!!” Sahut Rohmat tak kalah antusias setelah melihat Zubaedah.

“Ada apa ini Mas? Kenapa mereka berdua ada di sini?” Cerca Zubaedah saat sudah berada di dalam kamar bersama Pak Jamal.

“Aku minta maaf kepadamu, tapi mereka berdua tau dengan semua yang telah kita lakukan.” Pak Jamal menggenggam erat tangan Zubaedah.

“Tau gimana maksudmu?”

“Ya mereka tau semuanya, bahkan Roby tadi sempat merekam kejadian di kamar mandi.”

“Hah?! Kurang ajar! Biar aku labrak bajingan itu!”

Zubaedah yang kaget dan emosi hendak keluar dari kamar namun tangan Pak Jamal lebih cepat mencegahnya.

“Tunggu! Kita nggak boleh gegabah, mereka mengancam akan menyebarkan video itu! Pikirkan nasib anak-anakmu.”
< 1 4 5 6 >
“Mas.. Ta-Tapi..” Pelupuk mata Zubaedah mulai berair, sama sekali tak menduga akan berada dalam situasi sepelik ini.

“Tenang, aku sudah bernegosiasi dengan mereka agar mau tutup mulut dan menghapus video kita. Tapi mereka mau..”

“Mau apa Mas?” Potong Zubaedah.

“Mereka mau menidurimu malam ini.”

***

“Duh! Nggak sabar pengen buru-buru masuk!”

“Sabar bro, si pak tua itu lagi nego. Tenang saja, malam ini kita pasti bisa ngewein Mbak Zubaedah.”

“Kamu liat nggak tadi pakaiannya? Bener-bener nafsuin! Aku yakin lonte itu nggak pake daleman!” Ujar Rohmat antusias.

“Hehehe, nggak nyangka setelah sekian lama cuma bisa liat doang, sebentar lagi aku akan bisa ngrasain memek Mbak Zubaedah!” Balas Roby sembari mengepulkan asap rokok dari dalam mulutnya.

Tak lama, pintu rumah terbuka, Pak Jamal muncul dengan wajah tegang.

“Kalian boleh masuk, langsung masuk ke kamar dan jangan ribut karena anak-anak Zubaedah sudah tidur.” Ujar pria tua itu dengan dingin.

“Hehehe, terima kasih Pak Jamal. Ayo bro! Waktunya beraksi.” Rohmat dan Roby tak mau menunggu lama dan langsung berjalan masuk menuju kamar Zubaedah di bagian ujung rumah.

Saat sudah berada di dalam kamar, Rohmat dan Robi langsung disajikan sebuah pemandangan eksotis yang selama ini hanya bisa mereka bayangkan sembari melakukan masturbasi. Zubaedah sudah berdiri pasrah hanya dnegan mengenakan daster tipis, saking tipisnya bahkan lekukan tubuh janda semok itu sampai terlihat.

“Oke, kalian mau apa sekarang?” Tantang Zubaedah, sudah kepalang tanggung, dia juga tak bisa menolak permintaan kedua pelanggan warungnya itu.

“Buka aja dasternya Mbak, biar makin hot.” Perintah Rohmat

Roby tersenyum bahagia, sesaat lagi mereka akan menyaksikan tubuh indah Zubaedah telanjang bulat.

Zubaedah mulai melepas dasternya begitu saja menyisakan tubuh mulus tanpa penghalang mata. Decak kagum terdengar dari mulut Roby dan Roby yang baru pertama ini melihat tubuh telanjang Zubaedah.

Tak sabar, Roby langsung mendekati tubuh Zubaedah. Jari-jari kekarnya mulai menjamah bongkahan bulat nan padat di dada janda cantik itu. Meremasnya secara perlahan.

Pintu kamar terbuka, sosok Pak Jamal hadir menyaksikan tubuh wanita yang harusnya dia jamah sendirian kini sedang disentuh oleh pria lain.

“Eeemcchhh..”

Zubaedah melenguh pasrah, apalagi saat Rohmat mulai ikut mendekat dan ikut mencumbui tengkuk serta lehernya.

Roby yang sudah diburu nafsu langsung menghisap puting Zubaedah secara bergantian kiri dan kanan. Lidah pemuda yang sehari-hari jadi preman pasar itu mengais-ngais tiap jengkal daging kecil yang mulai mengeras dengan jilatan lidah kasarnya.

“Ouuccchhh!” Desis Zubaedah.

Matanya terpejam, tak mampu menatap wajah Pak Jamal yang entah kenapa terlihat begitu tenang dan tak emosi sama sekali.

Rohmat meraih kepala janda cantik itu kemudian langsung mengulum bibirnya dari belakang.

Zubaedah tanggap, mengikuti kemana alur lidah pria itu bergerak menjelajahi tiap jengkal bagian mulut. Lidah mereka saling membelit, menjilat penuh hasrat, bertukar liur yang membaur deru nafsu.

Bibir tebal Roby bergerak menyusur ke bawah, sementara kedua tangannya masih betah menangkup payudara Zubaedah dan terus meremasnya. Aroma semerbak khas vagina langsung tercium oleh pemuda itu saat kepalanya yang tertunduk sudah sampai di depan liang senggama.

Zubaedah mengangkat satu kakinya dan meletakkan pada pundak Roby yang berlutut di bawah tubuhnya.

Dengan rakus Roby langsung menyergap vagina Zubaedah, menjilatinya penuh nafsu, lidahnya seperti menari-nari di mulut lubang peranakan sang janda sintal. Zubaedah sampai harus memejamkan matanya kala Roby mulai mengeksplore clitorisnya dengan hisapan-hisapan lembut.

Setelah beberapa saat, Zubaedah akhirnya tak tahan untuk menjadi leader dalam permainan. Janda itu mulai berlutut di bawah tubuh Rohmat dan Roby. Dengan cekatan Zubaedah melepas celana mereka satu persatu. Penis gemuk milik Rohmat, dan penis kekar hitam legam milik Roby langsung mencuat keluar, keras sempurna.

Pak Jamal ikut mendekat, pria tua itu ternyata sudah telanjang bulat sedari tadi, penisnya pun mulai menegang.

Lidah Zubaedah mulai menjilati batang kekar milik Roby, lidahnya bergerak dari bagian pangkal hingga lubang kencing milik pemuda itu. Sementara dua tangannya mengocok tak beraturan dua penis milik Rohmat dan Pak Jamal.

“Eeemcchhh! Eeemmcch!”

Kepala Zubaedah lalu berpindah mengarah pada penis gemuk milik Rohmat, janda cantik itu langsung mengulumnya. Menghisapnya kuat-kuat hingga membuat Rohmat melenguh menahan nikmat.

Ini mungkin bukan pertama kalinya Rohmat merasakan blowjob dari seorang wanita, tapi hisapan Zubaedah membuatnya begitu keenakan. Apalagi saat mulut Zubaedah mengulum dua buah bola pelirnya lalu dengan sengaja menyedotnya. Ngilu, tapi sekaligus nikmat.

“Edan! Mbak Zubaedah bener-bener binal!”

Puji Roby masih tak percaya jika wanita cantik yang selama ini sering dia bayangkan sambil masturbasi sekarang sudah berlutut di bawah tubuhnya sambil mengocoki batang penisnya. Khayalan yang jadi kenyataan.

“Ayo giliranku! Emutin ini!” Perintah Pak Jamal sambil menyodorkan penisnya pada mulut Zubaedah yang masih dipenuhi penis Rohmat.

Zubaedah melepas genggaman tangannya pada penis Roby yang paling besar diantara pria-pria lain. Segera diraihnya penis Pak Jamal, hanya dengan satu gerakan penis itu langsung dikulumnya. Disedot sampai ke pangkalnya, tak sulit karena dia sudah begitu terbiasa melayani penis Pak Jamal. Kepala Zubaedah maju mundur mengulum penis Pak Jamal, ia memutarkan lidahnya mengitari kepala penis yang bersunat seperti jamur membuat pemiliknya bergetar menahan nikmat.

Roby bergerak ke belakang tubuh Zubaedah.

Janda itu langsung sedikit menunggingkan badannya, bongkahan padat pantat bulat langsung terpampang jelas di hadapan Roby. Lipatan vagina basah yang ditumbuhi bulu-bulu halus membuat pemuda itu kembali terkesima.

Zubaedah sendiri masih disibukkan dengan oral sexnya pada penis Rohmat dan Pak Jamal. Secara bergantian dua pria berbeda usia itu menikmati serviz mulut Zubaedah yang semakin binal.

“Egghhh!!” Zubaedah melirik ke belakang, Roby sudah melesakkan batang penis kekarnya ke dalam vagina.

Roby menyentakkan pinggulnya hingga penisnya amblas seluruhnya di vagina Zubaedah diiringi erangan panjang wanita itu.

Sesaat kemudian Roby sudah mengaduk-aduk vaginanya dengan penisnya yang perkasa. Zubaedah dapat merasakan urat-urat yang menonjol pada penis itu bergesekan dengan dinding vaginanya. Berangsur-angsur rasa ngilu itu memudar berganti dengan kenikmatan yang tak terlukiskan, terutama ketika kepala penis yang seperti jamur itu bertumbukan dengan G-spotnya, hal itu membuatnya tak tahan untuk tak menjerit.

Genjotan Roby begitu bertenaga sehingga tubuh Zubaedah ikut tersentak-sentak, payudaranya pun bergoyang seirama tubuhnya.

< 1 5 6 7 >
Pemandangan tersebut membuat Rohmat gregetan, ia berlutut lalu mulai mengenyoti payudara Zubaedah.

Terkadang remasan Rohmat begitu keras saking gemasnya sehingga Zubaedah merintih kesakitan, namun itu juga menambah nikmat persetubuhan, rasa sakit bercampur baur menjadi satu dengan nikmatnya gesekan-gesekan alat kelamin mereka dan sentuhan-sentuhan erotis di tubuhnya. Genjotan Roby yang bertenaga membuat tubuhnya bergerak liar maju mundur.

“Eeemcchhh! Aaachh!”

Lenguhan Zubaedah tak bisa berlanjut lebih lama karena langsung disumpal oleh penis Pak Jamal.

Pria tua itu mencengkram kepala sang janda lalu dengan sekuat tenaga mulai menggerakkan pinggulnya persis seperti apa yang dilakukan oleh Roby pada vagina Zubaedah.

Alhasil, Zubaedah dibuat gelapan bukan main karena dua lubang pada tubuhnya disetubuhi secara brutal oleh dua penis sekaligus. Mata Zubaedah hanya bisa terpejam menikmati dinding vaginanya disesaki penis kekar nan panjang milik Roby, sementara mulutnya diperkosa oleh penis Pak Jamal.

“Aaarghhtt!! Aaarghhtt!!”

Zubaedah memukul-mukul paha Pak Jamal yang menekan pinggulnya kuat-kuat hingga membuat penisnya terdorong masuk begitu dalam, nyaris menyentuh kerongkongan. Zubaedah megap-megap dengan liur menetes setelah Pak Jamal melepas batang penisnya dari dalam mulut.

Pria tua itu tersenyum senang melihat ekspresi wajah Zubaedah yang nampak kewalahan mengambil nafas.

“Bro, gantian dong! Aku juga pengen ngentot!” Rajuk Rohmat yang belum mendapat jatah merasakan sempitnya vagina Zubaedah.

“Hehehe, iya bentar lagi.” Sahut Roby sambil terus menggenjot tubuh Zubaedah dari belakang.

Selang beberapa waktu pemuda itu akhirnya melepas batang penisnya dari lubang peranakan milik sang janda.

Nafas Zubaedah tersenggal luar biasa, namun belum sampai mengambil waktu istrirahat lebih, Rohmat sudah menariknya menuju ranjang. Rohmat langsung terlentang, menunjukkan batang penisnya yang sudah mengacung, siap untuk dipakai.

Tanpa menunggu perintah, Zubaedah menaiki tubuh Rohmat yang terlentang di sampingnya. Janda cantik itu memegang penis Rohmat dari atas kemudian mengarahkannya pada liang vaginanya yang sudah sangat basah, hanya dengan sekali gerakan menekan ke bawah seluruh batang penis pria tambun itu langsung tertelan oleh vagina Zubaedah.

“Oouuchh..” lenguh Zubaedah.

Wanita cantik itu mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun, menggenjot penis Rohmat dari atas.

Roby yang belum tuntas menyelesaikan hajatnya tadi tampak belum puas, segera dia berdiri di samping tubuh Zubaedah dan mengarahkan batang penisnya ke mulut wanita cantik itu. Zubaedah langsung menyambutnya dengan kuluman serta hisapan sambil terus bergerak naik turun di atas tubuh Rohmat.

Pak Jamal yang sedari tadi hanya bisa merasakan hisapan mulut Zubaedah pada penisnya beringsut di belakang tubuh Zubaedah. Di saat Zubaedah masih menggenjot tubuh Rohmat, diam-diam Pak Jamal mulai memainkan ujung jarinya pada lubang anus wanita cantik itu.

Zubaedah menoleh ke belakang karena merasakan ada jemari yang mencoba menerobos lubang analnya.

“Emmcchhh.. Geli.. Pake kontol aja Mas sekalian biar puas..” Tantang Zubaedah pada Pak Jamal.

Zubaedah menghentikan goyangan tubuhnya

Seperti tau akan kemauan Zubaedah, Rohmat langsung mendekap punggung wanita cantik itu, membuatnya kini berada dalam posisi seperti sedang bersujud dengan alas tubuh tambun Rohmat.

Tak mau menyia-nyiakan momen, Pak Jamal segera membasahi ujung penisnya dengan air liur sebelum akhirnya melesakkanya ke dalam liang anal Zubaedah yang sudah menantang. Sedikit kesulitan Pak Jamal untuk memasukkannya karena satu lubang tubuh Zubaedah sudah tersumpal penis lain, pria itu menambah tekanan agar penisnya segera masuk ke dalam liang anal Zubaedah.

“Aaacchhg!! Pelan!! Sakiitt!!” Lenguh Zubaedah menahan dorongan batang penis Pak Jamal yang berusaha memasuki liang analnya.

“Tahan sebentar sayang, hehehe..” Ucap Rohmat.

Pria tambun itu lalu meraih kepala Zubaedah agar mendekati wajahnya. Dengan sangat rakus Rohmat menjilati bibir Zubaedah dengan lidahnya, Zubaedah tak mau kalah, disambutnya lidah Rohmat dengan hisapan-hisapan lembut.

Disaat tengah asyik berciuman dengan Rohmat, Zubaedah dikejutkan oleh lesakan benda tumpul yang menerobos liang analnya, Pak Jamal dengan susah payah berhasil memasukkan seluruh batangnya.

“Ouuchhh!! Eemcchhh!!”

Zubaedah sampai harus menggigit bibirnya sendiri akibat dua lubang pada tubuhnya kini telah disesaki oleh batang penis. Tubuhnya seperti sasak hidup yang dihujami oleh sodokan demi sodokan penis Rohmat dan Pak Jamal. Sensasi yang selama ini belum pernah dia rasakan seumur hidup.

“Ooochhh!! Oocchh!! Iya!! Kencengin!! Aaacchhh!!” Racau Zubaedah tak karuan.

Tubuhnya terhuyung maju mundur hingga naik turun mengikuti irama gerakan Pak Jamal yang menyodok lubang analnya dari belakang, dan liukan pinggul Rohmat dari bawah.

Roby seperti sudah tak tahan, segera dia mendekati tubuh Zubaedah sambil terus mengocok batang penisnya yang semakin keras, diarahkannya ujung penis pada wajah Zubaedah.

“Eeeemmcchhh!! Ayo sini muncratin sayang!! muncratin yang banyak!” Ucap Zubaedah menggoda birahi Roby dengan tatapan mesum, wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar siap menelan semprotan sperma yang akan keluar dari penis.

“Oooocchhh!! Oocchhh!!”

Roby melenguh panjang, “Aaaacchhh!! Aaacchhh!!” satu tangannya menjambak rambut Zubaedah kemudian detik berikutnya..

Crot.. Crot.. Crot.. sperma keluar begitu saja membasahi mulut dan wajah cantik Zubaedah. Basah, kental, hangat.

Zubaedah tak mau membuang sisa sperma yang masih leleh di ujung penis Roby, langsung saja dia lahap dan mengulum batang penis pemuda itu sambil memberi sedotan yang cukup kuat hingga membuat Roby menahan ngilu dan geli yang teramat sangat.

“Oocchhh! Gila! Enak banget Mbak!” Puji Roby gelagapan.

Dengan wajah belepotan sperma, tubuh Zubaedah masih bergerak liar karena masih digenjot oleh Rohmat dan Pak Jamal. Ketiganya mulai memacu tubuh masing-masing, semakin lama goyangan mereka semakin liar. Zubaedah mendesah tak karuan merasakan kedua penis itu keluar masuk mengocok-ngocok kedua lubangnya.

Selama hampir seperempat jam kedua pria itu men-sandwich tubuh mulus Zubaedah. Genjotan demi genjotan kedua penis itu membawanya kian ke puncak, tubuhnya mulai mengejang pertanda gelombang orgasme sudah akan segera tiba.

“Aaachh!! Anjing!! Anjing!! Aach!!”

“Bos dia mau keluar!” Pekik Rohmat yang merasakan tubuh Zubaedah mulai tegang.

“Hehehe! Ayo keluarin bareng! Kita penuhin lubang lonte ini dengan peju!” Seloroh Pak Jamal.

Peluh sudah membasahi ketiganya, terlebih Zubaedah yang tubuhnya dihimpit dua tubuh pria sekaligus. Lenguhan dan erangan terdengar silih berganti memenuhi kamar. Dinginnya AC ternyata tak cukup meredam panasnya perzinahan mereka.

“Aaachhh! Keluar! Aku keluar!!” Pekikan Zubaedah disertai tubuhnya yang menegang hebat, menggelepar tak berdaya, beruntung Rohmat sigap memeluknya dari bawah.

Di belakang, Pak Jamal menghentakkan seluruh batang penisnya ke dalam anus Zubaedah sekuat tenaga sebelum akhirnya lenguhan panjang juga terdengar dari mulutnya bebarengan dengan semprotan sperma yang meluber, memenuhi lubang pembuangan si cantik.

< 1 6 7 8 >
Rohmat mengehentak kuat dari bawah, penisnya sedikit leluasa bergerak naik turun setelah Pak Jamal sudah menyelesaikan hajatnya. Diraihnya kepala Zubaedah sebelum kembali menciumi bibir janda cantik itu dengan buas. Tak ada rasa jijik sedikitpun meskipun wajah Zubaedah sudah belepotan sperma Roby. Sesaat kemudian muntahlah peluru keperkasaan si pria tambun, menyemprot kuat di dalam vagina Zubaedah.

“Hah!! Haah!!”

Tubuh Zubaedah masih tertelungkup di atas badan Rohmat, sementara Pak Jamal sudah mencabut penisnya dari dalam anus. Nafas Zubaedah dan Rohmat saling memburu setelah memacu birahi bersama-sama.

Namun itu belum usai karena Roby masih penasaran meskipun sudah sempat berejakulasi di wajah si cantik. Pemuda berbadan kekar itu menarik tubuh Zubaedah dari dekapan Rohmat dan langsung menelentangkannya di atas ranjang.

“Heeghh!!” Zubaedah terpekik kaget ketika Roby langsung menancapkan batang penisnya yang jauh lebih besar dibanding milik Rohmat maupun Pak Jamal.

Tanpa aba-aba Roby langsung menggenjot tubuh si cantik dilesakkan penisnya yang besar ke dalam vagina.

Zubaedah merem melek karena tidak bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh Roby. Seluruh liang senggamanya seakan sesak terisi penuh oleh penis Roby.

Zubaedah bisa merasakan denyutan demi denyutan penis sang pejantan di dalam liang cintanya. Vaginanya terus memeras penis Roby yang keluar masuk dengan cepat. Tiap kali digerakkan, seakan tusukan Roby makin ke dalam, membuat Zubaedah mendesah-desah karena tak tahan.

Desahan si cantik itu membuat Roby makin cepat memompa vagina.

"Aaaccchh!!" Zubaedah sampai harus meremas permukaan seprei yang sudah berantakan.

Hentakan demi hentakan pinggul Roby dengan kecepatan tinggi membuat vagina Zubaedah layaknya sasaran tembak rapuh bagi pusaka pria itu. Seringai mesum Roby kembali terlihat ketika Zubaedah mulai meracau tak karuan sambil memeluk leher kekarnya, kemenangan telak karena membuat Zubaedah ikut larut menikmati persetubuhan.

"Ampun! Ampuuunn!! Aaachh!!" Pekik Zubaedah, kedua matanya nyaris mendelik.

Teriakan itu justru membuat Roby makin dalam menancapkan batang penisnya pada liang vagina, hingga satu hentakan keras kembali membuat wanita cantik itu merasakan orgasme untuk kedua kalinya.

"Aaachhh! Anjing!!"

Nafas Zubaedah tersenggal hebat, bulir peluh sudah membasahi tubuh moleknya yang tak berdaya dihantam gelombang orgasme.

Pak Jamal yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi kembali mendekati tubuh Zubaedah. Segera dijejalkannya penis ke dalam mulut janda cantik itu.

Sambil menikmati genjotan penis Roby, Zubaedah mulai mengulum penis pria tua itu.

Rohmat yang sedari tadi hanya melihat pergumulan juga ikut mendekat, kali ini dia menyasar payudara montok milik Zubaedah yang tergoncang-goncang akibat sodokan badan Roby.

Tubuh Zubaedah kembali digumuli tiga pria sekaligus, menjadi budak sex bagi pria-pria mesum yang selama ini hanya bisa melihatnya pakaian sexy saat menjaga warung dan tentu saja memberi jatah bagi pria idamannya, Pak Jamal.

Birahi sudah terbang tinggi merusak sekat-sekat kepatutan antar anak manusia. Zubaedah menikmati dosa ini, apalagi tiga pria beruntung yang kini sedang menjamah tubuhnya tanpa henti seolah memiliki stamina berlebih, memacu nafsu hingga lupa waktu.


===xo0ox===


Adzan shubuh baru berkumandang saat Pak Jamal sampai di rumah Darto. Hampir tiga jam lebih pria tua itu menggumuli Zubaedah bersama Roby dan Rohmat. Pak Jamal memilih pulang lebih dulu karena tak ingin melewati momen berharga bersama Alvi.

Sementara Roby dan Rohmat masih bertahan di rumah Zubaedah, dua pria yang jauh lebih muda itu nampaknya masih belum puas menikmati tubuh Zubaedah.

Pak Jamal hendak membuka pintu rumah namun sebelum dia melakukannya Darto sudah muncul dari dalam dengan sudah mengenakan pakaian rapi dan tas ransel berada di pundaknya.

“Mau kemana kamu?”

“Mau ke Bekasi Pak, ada interview kerjaan.” Jawab Darto sambil memasang tali sepatunya.

Pak Jamal tersenyum puas, inilah momen yang ditunggu-tunggu, berduaan saja bersama Alvi saat Darto tak berada di rumah.

“Ya wis, hati-hati di jalan. Ini buat ongkos.” Pak Jamal menyerahkan empat lembar uang lima puluh ribuan dari kantong celana namun Darto menolak dengan halus.

“Nggak usah Pak, aku masih ada uang kok. Bapak simpan saja uangnya buat beli rokok.”

“Oalah, udah kamu bawa aja, siapa tau nanti kamu butuh buat di jalan.” Pak Jamal memaksa dan langsung memasukkan uang ke dalam kantong baju Darto.

“Makasih Pak. Aku pamit dulu kalo gitu. Oh ya, nitip rumah sama Alvi ya Pak.” Darto mencium tangan Pak Jamal sebelum melangkah pergi.

“Iya, kamu tenang saja. Hati-hati di jalan.”

Senyum mengembang di wajah Pak Jamal begitu punggung Darto menjauh dari rumah, hal yang dinanti-nantikan kini sudah tiba. Maka tak mau menunggu lebih lama lagi, pria tua itu bergegas masuk ke dalam rumah.

Perlahan dia melewati kamar utama tempat tidur Alvi dan Darto. Terdengar gemercik suara air mengalir dari kamar mandi yang berada dekat daour.

Pak Jamal melirik ke dalam kamar, kosong melommpong, namun ada sebuah benda yang menarik perhatiannya di atas tempat tidur. Di atas ranjang terdapat BH dan celana dalam tipis berwarna putih milik Alvi.

Perlahan dia masuk ke dalam kamar dan mengambil celana dalam itu. Dada Pak Jamal bergemuruh, diciuminya pembungkus area selangkangan milik Alvi itu sambil membayangkan bagaimana nikmatnya aroma vagina sang menantu. Penisnya mengeras sebagai respon birahi, tak berpikir panjang dia gunakan celana dalam tersebut untuk mengocok batang penisnya sendiri.

Detak jantung Pak Jamal makin cepat karena ia tahu menantunya sedang mandi sementara dia coli menggunakan celana dalam yang akan dipakai Alvi.

Gerakan Pak Jamal makin meningkat cepat karena saat mengocok batangnya dia membayangkan enaknya menikmati tubuh Alvi di ranjang dan bagaimana rasanya memeluk menantunya yang cantik itu. Pak Jamal membayangkan asyiknya melihat tubuh molek Alvi terhentak-hentak didera sodokan penisnya.

Tak puas hanya dengan membayangkan saja, langkah pria tua itu beralih menuju kamar mandi. Alvi rupanya lalai dan membiarkan pintu kamar mandi sedikit terbuka, memudahkan akses bagi mertuanya itu mengintip. Pak Jamal mendapati Alvi sedang menyabuni buah dadanya yang bulat dan kenyal.

“Gila! Badan Alvi benar-benar indah!” Gumam Pak Jamal dalm hati.

Pak Jamal melanjutkan mengocok batyang penisnya menggunakan alas celana dalam milik Alvi, kedua matanya nanar menatap tubuh basah Alvi yang telanjang bulat.

Tubuh istri Darto itu sedikit membungkuk karena menyabuni paha serta kedua kaki jenjangnya, dalam posisi seperti itu Pak Jamal bisa melihat bulatan semok pantat sekaligus lipatan vagina sang menantu.

Dada Pak Jamal makin bergemuruh karena setelah menyabuni kakinya, Alvi bersandar pada dinding kamar mandi dengan kedua paha yang sedikit melebar. Tangan kirinya menangkup payudaranya, meremasinya, sementara jemarinya sengaja memainkan puting, memilin serta menariknya perlahan berulang kali.

Pak Jamal makin terpana saat tangan kanan Alvi bergerak menuruni perut lalu masuk ke selangkangan.

< 1 7 8 9 >
“Aaaahhh!” Alvi mendesah kecil.

Tangan kiri Alvi yang penuh gelembung sabun kini memilin dan meremas-remas puting payudaranya hingga mengeras, lalu meremas buah dadanya bergantian. Tangan kanan Alvi masih berada di selangkangan. Wanita cantik itu semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang, Alvi membentangkan kakinya sedikit.

Pak Jamal bisa melihat bagaimana jemari lentik menantunya mulai keluar masuk di dalam liang senggama. Pria tua itu terpesona melihat Alvi menggunakan jempolnya untuk menggosok dan menekan daging menonjol yang beada di ujung atas bibir vagina.

“Ah! Ah! Ehm! Ehm! Oooohh!!” Gerakan jemari Alvi yang mengobel vaginanya sendiri makin cepat dan kencang.

Kedua mata wanita cantik itu terpejam seolah sedang meresapi tiap sensasi yang tengah dirasakan oleh tubuhnya. Sesekali dia tarik tangan kanannya kemudian mengulum jari yang sudah terlumuri cairan kewanitaan sebelum kembali meneruskan aksi kocok mengocok pada liang senggama.

Pak Jamal menyaksikan pemandangan erotis itu dengan dada berdebar, sementara tangannya juga sibuk mengocok penisnya sendiri. Sebisa mungkin dia tidak ingin muncrat lebih dulu sebelum melihat Alvi orgasme di hadapan matanya.

Benar saja, selang beberapa lama tubuh Alvi mengejang, badannya melorot hingga ke lantai kamar mandi.

“Ouuucchh!! Ouucchhh!”

Tangan kanannya masih sibuk mengocok bagian dalam vaginanya sementara tangan kirinya memilih untuk memilin putingnya berulang kali. Lalu diiringi desahan panjang Alvi menuntaskan hajat birahinya.

Di depan pintu, Pak Jamal tak mau kalah dengan mempercepat kocokan tangan pada batang penisnya hingga kemudia ejakulasinya tak dapat lagi dibendung. Spermanya menyemprot membasahi celana dalam Alvi.

Tak mau ketauan sedang mengintip, pria tua itu buru-buru melangkah pergi meninggalkan pintu kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamarnya sendiri, Pak Jamal melempar celana dalam Alvi kembali ke atas ranjang, dia seolah ingin memberi tanda pada menantunya itu jika begitu terobsesi dengan apa yang dipakai oleh Alvi.

***

1 JAM SEBELUMNYA

“Nggak ah Mas! Aku cuma becanda semalam.” Wajah Alvi nampak cemberut di atas ranjang.

“Ayolah Dek, aku pengen liat kamu ngrasain kontol Bapak.”

“Udah gila kamu ya Mas? Kemarin tu hanya fantasi aja, nggak lebih!” Alvi memilih untuk turun dari ranjang yang berantakan karena semalam dia melayani Darto dengan sangat antusias.

“Kalo aku yang ngewein perempuan lain, kamu marah juga nggak?” Alvi langsung berbalik badan dan menatap tajam wajah suaminya yang masih duduk di atas ranjang dalam kondisi telanjang.

“Nggak usah ngawur kamu Mas! Lagipula kalo aku ngewe sama Bapak apa kamu nggak cemburu?!” Suara Alvi makin meninggi.

“Nggak Dek.. Aku justru bakal makin terangsang..”

“Udah gila kamu Mas!”

“Dek.. Aku mohon kabulin permintaanku kali ini. Kalo kamu nggak mau, aku kayaknya bakal nyobain tidur dengan wanita lain.” Ujar Darto dengan wajah memelas.

Melihat hal itu Alvi jadi tak tega.

Seumur usia pernikahan mereka, tak sekalipun Alvi menolak perintah sang suami. Bahkan saat Darto di PHK pun Alvi rela mengambil pekerjaan lagi untuuk berperan sebagai tulang punggung Bimonomi keluarga.

Tapi kali ini berbeda, Alvi berada di persimpangan, dia begitu mencintai Darto, tapi kalau karena cinta itu dia harus dengan tidur laki-laki lain rasanya akan sangat berat sekali. Lebih gilanya lagi, pria yang diinginkan oleh Darto adalah bapaknya sendiri.

“Oke, akan aku coba tapi ada syaratnya.” Ucap Alvi setelah menghela nafas panjang.

“Katakan apa syaratnya Dek.. Aku akan memenuhinya.. Apapun itu..” Raut wajah Darto yang sempat muram kini mendadak jadi begitu sumringah.

“Aku nggak mau kamu ada di rumah saat aku melakukannya. Aku nggak akan sanggup kalo masih ada kamu disini.”

Kening Darto mengkerut, cita-citanya untuk menyaksikan Alvi bersetubuh dengan pria lain secara langsung harus ditubda lebih dulu.

“Oke, nggak masalah. Nanti aku kan pura-pura pergi kemana gitu.” Sahut Darto tanpa pikir panjang.

“Syarat yang kedua, kamu nggak boleh tidur sama wanita manapun selain aku! Kalo kamu sampai nglakuin itu, aku akan minta cerai!”

“Nggak mungkin lah Dek.. Kamu itu udah sempurna banget. Aku nggak akan tidur dengan wanita manapun di dunia ini.” Darto mendekati tubuh Alvi dan memeluknya mesra.

“Mas.. Kamu yakin dengan ini semua? Karena setelah terjadi pasti ada yang berubah di antara kita.” Ujar Alvi lirih.

Darto mengelus lembut kepala sang istri sebelum mengecup kening dengan mesra.

“Iya, pasti ada yang berubah Dek. Aku bakal makin sayang dan nafsu sama kamu setelah kamu nglakuin itu.”

“Mas.. tapi..”

“Dek, untuk kali ini percaya ya sama aku. Semua akan baik-baik saja.”

Alvi memejamkan matanya, seolah ingin mempercayai apa yang dikatakan oleh Darto, pun begitu pula dengan usahanya untuk meneguhkan hati. Namun, perlahan ada getaran perasaan aneh yang tiba-tiba merayap pelan.

Alvi mulai membayangkan bagaimana rasanya nanti jika Pak Jamal menyetubuhinya. Apakah akan senikmat saat melakukannya dengan Darto, atau malah akan jauh lebih nikmat?

***

Alvi keluar dari kamar mandi hanya dengan membalut tubuhnya dengan seutas handuk.

Di luar, sosok Pak Jamal sudah tak lagi terlihat, tanpa disadari oleh pria tua itu sebenarnya sedari tadi Alvi mengetahui keberadaanya yang mengintip dari celah pintu kamar mandi yang sengaja tak ditutupnya secara rapat. Alvi sudah merencanakan semuanya.

Alvi tersenyum, ternyata sensasi melakukan masturbasi sambil disaksikan oleh sosok mertuanya itu membuatnya benar-benar terangsang hebat. Sebuah sensasi yang selama ini tak pernah dirasakannya jala bersama Darto.

Langkah kakinya kemudian mengarah menuju kamar tidur. Di atas ranjang perhatiannya langsung tertuju pada celana dalam yang tadi digunakan oleh Pak Jamal untuk melakukan onani.

Alvi mengambil celana dalam yang masih basah dan lengket karena semprotan sperma mertuanya itu. Alvi menciumnya, merasakan aroma sari birahi sang mertua, tak sampai di situ saja karena lidahnya terjulur menjilati sisa sperma yang tertinggal.

“Eeemchh..” Cecap Alvi, lidahnya merasakan asin dan sedikit pahit. Aroma sperma yang pekat membuat birahinya kembali terpancing.

“Oke, sekarang waktunya menu utama.” Gumam Alvi dalam hati.

Alvi melirik ke pintu kamarnya yang sedikit terbuka, lalu dia melepas handuk yang menutupi tubuhnya. Kini wanita itu kembali telanjang bulat.

“Tolooong!! Bapaakk!! Tolooong!!”

Tiba-tiba Alvi berteriak kencang meminta tolong sambil melompat-lompat sembarangan di dekat ranjang.

Benar saja, secepat kilat Pak Jamal mendatanginya dengan wajah panik.

“Ada apa?” Pak Jamal yang datang tervuru setelah mendegar teriakan sang menantu begitu terkejut saat mendapati Alvi sudah telanjang bulat.

“Ada tikus gede banget Paak! Takuuutt!” Alvi tanpa malu-malu langsung merapat ke tubuh Pak Jamal dan memeluknya.

“Mana? Biar ku pukul tikusnya!”

“U-Udah kabur ke dapur Pak..”

Dipeluk oleh wanita telanjang yang selama ini jadi obsesi sekaligus fantasinya membuat penis Pak Jamal langsung mengeras. Tubuh Alvi mendesaknya, dada bulat sang menantu menekan dadanya. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh pria tua itu sedari dulu, bahkan kini tanpa usaha lebih, Alvi sudah berada dalam pelukannya.

< 1 8 9 10 >
“Ohh Pak.. maaf.” Alvi berpura-pura canggung sembari melepas pelukannya dari tubuh Pak Jamal, namun pria tua itu malah menarik tangannnya agar kembali mendekat.

“Kamu nggak ngrasain kalo kontol bapak udah ngaceng ya?”

“Aaaiihh Bapakk..” Rajuk Alvi masih berpura-pura tak menginginkan hal ini terjadi.

“Aku tadi liat kamu colmek di kamar mandi sambil coli.” Ucap Pak Jamal berterus terang.

“Iihh.. bapak mesum!”

“Kenapa? Kamu nggak dikasih jatah ya sama Darto?” Tangan keriput Pak Jamal mulai membelai pinggul serta perut Alvi yang terbuka tanpa penghalang.

“I-Iya Pak.. Mas Darto buru-buru pergi.”

Alvi merasakan sensasi nikmat kala tubuhnya dijamah oleh tangan selain suaminya. Wanita cantik itu menggigit bibirnya sendiri.

“Hmmm, bagaimana kalo pagi ini aku yang ngasih jatah kamu?” Tawar Pak Jamal dengan senyum mesum merekah di wajahnya.

“Jangan Pak..”

Alvi memainkan peran sebagai istri yang setia dan pemalu dengan sangat baik, meskipun sentuha jari Pak Jamal pada tubuhnya sama sekali tak tertolak, namun Alvi masih berlagak tak ingin melakukan perzinahan dengan mertuanya sendiri.

“Ayolah, sekali saja. Ayo coba pegang kontolku.”

“Aaiihhh Paakk!” Alvi memekik saat Pak Jamal menarik tangan kanannya dan meletakkannya di selangkangan.

Alvi bisa merasakan bagaimana penis sang mertua sudah mengeras di balik celana.

“Remesin..” Perintah Pak Jamal.

Dada Alvi bergemuruh, inilah kali pertama dia merasakan gundukan kenyal sang mertua.

“Kok udah keras sih Pak?” Pancing Alvi berpura-pura polos.

“Gimana nggak keras kalo liat tubuh seindah ini?” Jemari Pak Jamal kembali menjamah tubuh Alvi, kali ini menyasar gundukan payudara wanita cantik itu.

“Bapak suka dengan tubuhku?”

Pak Jamal mengangguk. “Kamu mau kan ngewe sama Bapak?”

Alvi menatap wajah pria tua itu, tersenyum penuh arti sebelum kemudian mengangguk pasrah.

“Tapi Bapak punya permintaan, boleh?”

“Apa pak?”

“Bapak mau lihat kamu make hijab yang biasa kamu pakai waktu kerja.”

“Aneh ih Pak, masak telanjang tapi pake hijab?” Protes Alvi.

“Ayolah, bapak suka liat kamu kalo make hijab. Makin nafsuin."

“Hmm, ya udah deh.”

Tak punya pilihan lain, Alvi berbalik badan dan menuju lemari pakaian. Wanita cantik itu kemudian mengambil selembar kain penutup kepala yang biasa dia gunakan saat bekerja lalu memakainya.

Pak Jamal menatap dengan penuh nafsu. Pria tua itu berjalan mendekati Alvi dan langsung mencumbu bibirnya.

“Eeemmchh.. Eeemmchh..”

Alvi kewalahan mengimbangi permainan lidah dan bibir sang mertua, namun tubuhnya mulai bisa menikmati kegilaan ini. Tiap cumbuan dan sentuhan Pak Jamal seperti membawanya ke surga birahi, sensasi dijamah pria selain suaminya ternyata benar-benar nikmat.

Pak Jamal membenamkan wajahnya di belahan payudara Alvi. Bibirnya merambat, menciumi permukaan gundukan daging kenyal yang halus dan mulus. Kehangatan dan kekenyalannya membuat Pak Jamal terlena. Dia menjelajahinya inci demi inci, pelan dari atas ke bawah, bergantian antara yang kanan dan yang kiri.

Alvi kegelian saat Pak Jamal mulai mencucup putingnya, wanita cantik itu mendesah dengan tubuh menggelinjang.

“Ahh, Pak!”

“Sebentar, biar ku buka celanaku.” Ujar Pak Jamal.

Pria tua itu buru-buru melepas pakaian dan celananya hingga telanjang bulat.

Alvi termangu menyaksikan batang penis sang mertua yang sudah menegang dengan otot-otot tipis menyembul di sekujur batang kemaluan. Meskipun ini bukanlah kali pertama dia menyaksikan penis Pak Jamal tapi tetap saja dadanya berdebar kencang karena membayangkan bagaimana rasanya nanti saat Pak Jamal menyetubuhinya dengan penis itu.

“Kenapa? Kecil ya?” Tanya Pak Jamal seraya memamerkan alat kawinnya.

“Nggak kok Pak, lumayan gede ini.” Jawab Alvi seraya mendekati Pak Jamal dan meremas batang penisnya.

“Ouucchhh.. Sebentar lagi kontolku akan bikin kamu keenakan.” Desis Pak Jamal

Alvi tersenyum.

“Oh ya? Emang masih bisa bikin enak?” Goda Alvi sedikit menantang, menggelitik sisi ego Pak Jamal.

“Kita buktiin aja sekarang.” Ujar Pak Jamal.

Ingin segera membuktikan keperkasaannya pada Alvi, pria tua itu mengajak sang memantu naik ke atas peraduan.

Alvi berbaring di ranjang, telentang, dengan kaki terbuka lebar. Sementara Pak Jamal, terbengong-bengong memandangi tubuh bidadari cantik di depannya dengan mulut melongo dan mata tak berkedip.

“Bapak cuma mau ngliatin memekku saja?” goda Alvi sambil membuka kaki lebih lebar, dengan 2 jarinya ia membuka bibir memeknya memperlihatkan rongga kemaluannya yang merah merona, dan kini sudah nampak basah.

Pak Jamal melihatnya sambil menelan ludah, ia berusaha untuk menahan detak jantungnya agar tidak berhenti. Laki-laki tua itu mengulurkan jari telunjuknya menuju liang senggama menantunya tersebut.

“Oh, indah sekali.” dia mencoleknya sedikit.

“Auw!” Alvi merintih manja.

Wanita itu menahan tangan Pak Jamal agar terus mengusap-usap selangkangannya.

“Masukkan ke dalam.” dia menyuruh Pak Jamal agar mengobok-obok vaginanya dengan jari.

Dengan penuh semangat, mertuanya itu pun melakukannya. Dia memasukkan jari telunjuknya, disusul kemudian dengan jari tengahnya, dan diakhiri dengan jari manisnya. Total tiga jari yang kini bersemayam di dalam vagina Alvi.

“Uhh..” wanita cantik itu melenguh saat Pak Jamal mulai memutar jari-jarinya, mengocoknya maju mundur, dan menggesek-geseknya untuk mengorek liang vagina Alvi yang mempesona.

Tak lama Pak Jamal mengobel vagina Alvi, pria tua itu kemudian memutar tubuhnya, selangkangannya mengarah pada mulut Alvi, sementara kepalanya menyasar vagina sang menantu.

“Emutin kontolku..” Perintah Pak Jamal.

Alvi melakukan tugasnya dengan sangat baik, mulutnya mulai mengulum batang penis sang mertua cabul. Tak hanya mengulum, sesekali wanita cantik itu juga menjilati batang penis Pak Jamal dari atas hingga ke bawah, bagian pelir pun tak ketinggalan.

Di bawah, jemari serta lidah Pak Jamal juga makin sibuk memainkan liang senggama Alvi.

“Memekmu sempit sekali, jarang dipake ya?” Pak Jamal bertanya sambil membuka bibir kemaluan Alvi hingga bisa dilihatnya lubang kencing sang menantu yang berukuran mungil tampak sempit.

“Sering kok, Mas Darto tiap hari minta jatah.” jawab Alvi terus terang.

Pak Jamal tersenyum, tanpa menunggu dia menjulurkan lidahnya untuk mencicipi bagian dalam kewanitaan menantunya itu.

“Aaachhh! Bapaaakk!” Tubuh Alvi langsung menggelinjang.

Pak Jamal terus menusuk-nusukkan lidahnya, ia tak peduli dengan tubuh Alvi yang kelejotan tak karuan di bawah tubuhnya. Dia sudah terlanjur enak. Ternyata, selain sempit, vagina wanita itu juga begitu harum. Pak Jamal makin betah memainkannya berlama-lama.

Pria tua itu terus menjilat dan menghisap. Lidahnya terus bergerak liar, menjelajahi liang rahim Alvi, membuatnya jadi licin dan basah dalam waktu singkat.

“Sudah, Pak. Geli!” Alvi kembali merintih.

Alvi berhenti mengulum penis Pak Jamal untuk menikmati setiap permainan mertuanya itu di selangkangannya. Matanya terpejam, sementara keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya, membuatnya makin kelihatan cantik dan seksi.

< 1 9 10 11 >
“Tunggu sebentar lagi.”

Pak Jamal menyeruput cairan kental yang mengalir keluar dari dalam vagina dan menelannya tanpa ragu. Uhm, rasanya gurih, membuat laki-laki itu jadi ketagihan. Lidahnya kembali bergerak dan menjilat dengan rakus, berusaha untuk mencari cairan itu dan menelannya lebih banyak lagi.

Tindakannya tersebut membuat tubuh Alvi makin menggelinjang hebat.

“Aaahhh!!” Alvi memekik tertahan.

Pak Jamal menarik kepalanya. Bibirnya basah oleh air liur yang bercampur dengan cairan kewanitaan. Laki-laki itu berbalik menghadap Alvi dan menunduk untuk mencium. Bibir mereka bertemu, saling mencumbu mesra, lidah bertaut, bertukar air liur.

Di bawah, tangan Pak Jamal bergerak meremas payudara sang menantu. Laki-laki itu melakukannya dengan lembut sambil sesekali memijit dan memilin-milin puting yang mungil kemerahan.

Alvi terpejam dan merintih keenakan.

“Uhhh..” tubuh Alvi bergetar, dia membuka mulutnya, membiarkan lidah Pak Jamal yang kasar menyusup untuk menghisap bibirnya.

Mereka saling melumat dan memagut satu sama lain. Lidah mereka bertemu dan bibir mereka bersatu rapat. Saat terlepas, air liur lengket membasahi hidung, pipi dan leher Alvi yang jenjang.

Wanita cantik itu memandang Pak Jamal sambil terengah-engah, masih tak menyangka jika bercumbu dengan mertuanya sendiri akan senikmat ini.

Sementara yang dipandang, tampak tidak peduli sama sekali, dan meneruskan sapuan bibirnya menuju gundukan kenyyal di dada Alvi.

“Aahhh!! Bapaaakkk!” Alvi menggelinjang begitu Pak Jamal mencaplok dan menggelitik puting payudaranya.

Lidah sang mertua bergerak memutar, membasahi benda mungil itu, sambil sesekali mencucup dan menghisap-hisapnya, membuat Alvi makin merintih dan mendesis kegelian.

“Sudah Paakkk.. Aku nggak tahan lagi!” Tangan Alvi bergerak mengurut penis Pak Jamal dan membimbingnya menuju liang kewanitaanya yang sudah sangat basah.

Pak Jamal mengangguk. Tapi sebelum itu, ia menyuruh Alvi agar menjilati penisnya sebentar.

“Eeemmcchh! Eeemmchh!” Mulut Alvi disesaki penis Pak Jamal yang makin mengeras.

Setelah dirasa sudah cukup basah, Alvi melepas kulumannya.

Pak Jamal mengambil posisi mengangkangi tubuh Alvi yang rebah di bawah tubuhnya. Dengan perlahan, Pak Jamal mendorong kontolnya, seolah ingin membuat menantunya itu merasakan titik rangsang nyaman.

“Tahan, ya..” Pak Jamal mendorong terus.

Sudah sebagian penisnya yang masuk sekarang. Rasanya sungguh luar biasa, seret sekali. Penisnya serasa dijepit dan dipijat-pijat daging lembut yang hangat dan licin. Pak Jamal sampai menggigit bibirnya karena saking enaknya.

Sementara di bawah, Alvi memejamkan matanya sambil tangannya berpegangan erat pada kain seprei. Wanita itu mengernyit. Inilah kali pertama rahimnya disesaki penis selain milik Darto.

“Terus, Pak! Dorong terus! Entotin Alvi Pak..”

Sambil menahan nafas, Pak Jamal menghunjamkan sisa penisnya.

Alvi langsung memekik saat ujung penis laki-laki itu menabrak ujung rahimnya dengan keras. Tapi belum sempat dia mengaduh, Pak Jamal sudah menggoyangkan pinggulnya dan menarik-mendorong penisnya untuk menjelajahi vaginanya yang hangat.

“Ahhh.. ahhh.. aahhh!!” akhirnya, cuma jerit penuh kenikmatan yang keluar dari mulut Alvi.

Pak Jamal segera membungkam rintihan wanita itu dengan ciuman panas yang bertubi-tubi. Dia melumat bibir tipis Alvi dan mencucupnya dengan rakus.

Tangannya yang bebas bergerak liar, meremas dan memijit-mijit buah dada Alvi yang bergoyang-goyang indah karena hentakannya. Jarinya menjepit, memilin dan menarik-narik puting Alvi hingga benda mungil kemerahan itu makin mencuat ke atas.

“Aahhh!!” tubuh Alvi melenting.

Karena di bawah, Pak Jamal terus menusukkan penisnya makin dalam dan makin cepat saja. Rasa sakit sudah meninggalkan tubuhnya sejak tadi, berganti dengan rasa nikmat yang luar biasa. Setiap tusukan Pak Jamal, disambut teriakan histeris oleh wanita itu.

“Ayo balik badan!” Pak Jamal menyuruh agar wanita itu menungging, dia ingin menusuknya dari belakang.

Sepertinya bakalan nikmat sekali menggoyang tubuh Alvi sambil berpegangan pada bokongnya yang bulat. pikir Pak Jamal

Wanita itu menuruti tanpa memprotes.

“Pelan-pelan ya..” bisik Alvi sambil berusaha mengatur nafasnya yang putus-putus.

Pak Jamal mengangguk, dan kembali memasukkan penisnya.

Kali ini lancar tanpa hambatan karena vagina Alvi sudah sangat basah. Dengan posisi begini, jepitan vagina menjadi kian terasa, membuat Pak Jamal makin menggeram dan merem melek keenakan. Dia merangkul tubuh wanita itu dan menggunakan payudaranya yang menggantung indah sebagai pegangan.

“Goyang terus, Pak. Ohhh, yah.. gitu, goyang terus.” Alvi mulai menceracau.

Pak Jamal terus menggerakkan pinggulnya. Nafasnya yang berat mulai memburu, tanda kalau pertahanan laki-laki tua itu sudah hampir habis. Di ujung penisnya, vagina Alvi terus memijat dan mengurut, memaksa alat kawinnya untuk cepat-cepat memuntahkan sperma.

Tapi Pak Jamal tidak mau menyerah, dengan cepat dia merubah posisi. Dia kini berbaring di bawah, dengan Alvi duduk tepat di atas kemaluannya.

Mereka saling berhadap-hadapan, hingga ketika Alvi mulai menggoyang, Pak Jamal tetap bisa memegangi buah dadanya.

“Uhhh.. ”

Dalam posisi begini, Alvi bisa merasakan penis Pak Jamal yang panjang, menusuk mentok hingga ke dasar kemaluannya. Benar-benar nikmat. Wanita itu pun terus menggerakkan pinggulnya dengan liar, mengaduk dan memelintir penis Pak Jamal hingga laki-laki itu menggeram tak karuan.

“Enak sekali! Ohhh!! Teruuuss!”

Pak Jamal meremas payudara Alvi sebagai pelampiasan.

Detik-detik yang terus berlalu membuat laki-laki itu makin tak kuasa untuk menahan desakan hasrat yang terkumpul dalam kemaluannya. Akibatnya, tak lama kemudian, dengan diiringi jeritan panjang dan tubuh gemetaran, Pak Jamal pun melepaskan spermanya.

“AARRGGHHH!!”

Crot.. Crot.. Crot..

tubuhnya melenting seiring tembakan air mani yang menyembur memenuhi liang rahim Alvi.

Wanita cantik itu mendelik dan menjerit lirih saat menerimanya.

“Tahan sebentar Pak, aku juga mau keluar.”

Alvi terus menggoyang pinggulnya. Bisa dirasakannya penis Pak Jamal yang masih berkedut-kedut mengeluarkan isinya. Dia berkejaran dengan waktu, jangan sampai penis itu lemas duluan sebelum dia orgasme.

“T-tenang saja. K-kontolku ini a-awet kok te-tegangnya.” bisik Pak Jamal putus-putus di sela-sela rintihannya.

“Benarkah?” Alvi bertanya tak percaya.

Pak Jamal cuma menjawab dengan seringai mesumnya yang khas. Dibiarkannya Alvi untuk membuktikannya sendiri. Dan memang benar, setelah satu menit berlalu, tampak tidak ada perubahan yang berarti pada penis itu. Penis Pak Jamal masih tetap tegang dan kencang seperti tadi, kecuali mungkin panjangnya yang sekarang sedikit agak berkurang.

< 1 10 11 12 >
Tapi Alvi tidak mempermasalahkannya, karena itu sudah cukup untuk mengantarkan wanita cantik berdada indah itu pada nikmatnya orgasme.

“AHHRRGGHHHHH!!”

Dengan didahului jerit panjang yang menggetarkan, tubuh Alvi melengkung dan ambruk setelah beberapa kali berkedut-kedut.

Srrt.. Srrt.. Ssrt.. Dari dalam kemaluannya, mengalir cairan cinta yang menyembur deras memenuhi rahimnya, bercampur dengan sperma Pak Jamal yang kental hingga membuat vagina wanita itu jadi basah sejadi-jadinya.

“Hahh.. Hahh..”

Alvi menikmati sisa-sisa orgasmenya dengan memeluk erat tubuh Pak Jamal yang berada di bawah tubuhnya. Dia membiarkan saja tangan Pak Jamal merambat mengusap-usap bokong dan pinggulnya.

“Terima kasih. Benar-benar nikmat.” bisik Pak Jamal.

“Justru aku yang berterima kasih.” Alvi membalas.

“Bapak hebat ngewenya, aku puas banget.. ”

Mereka berciuman.

Di bawah, penis Pak Jamal perlahan mengecil dan akhirnya copot dengan sendirinya. Alvi yang kelelahan, ambruk terkapar di samping tubuh laki-laki itu. Mereka berpelukan menikmati sisa-sisa dosa terindah yang baru saja mereka lakukan.

“Aku mandi dulu ya Pak, udah siang, nanti terlambat kerja.”

“Mandi lagi?”

“Iyalah Pak, pejumu banyak banget di memekku.”

“Hehehe, maaf ya.”

“Dasar mertua mesum!” Rajuk Alvi dengan mimik wajah manja langsung disambut kecupan mesra Pak Jamal di bibirnya.

“Mulai sekarang, kamu harus melayani dua kontol di rumah ini.” Ucap Pak Jamal tanpa basa-basi.

“Hahaha! Kalo Mas Darto tau gimana Pak?” Alvi kembali memainkan peran, seolah suaminya tak tau menahu dengan kejadian barusan.

Pak Jamal sesaat terdiam, seperti memikirkan sesuatu.

“Biar nanti aku yang ngatur, kamu tenang saja.”

“Oke deh Pak..” Alvi melepas hijab yang sedari tadi melilit kepalanya sebelum kemudian melangkah pergi menuju kamar mandi.

***

Pak Jamal keluar dari dalam kamar Alvi masih dengan keadaan telanjang bulat. Di dapur, Alvi sedang merebus air. Istri Darto itu baru saja beres mandi, rambutnya terlihat basah sementara tubuhnya yang seksi hanya terlilit seutas handuk berwarna putih. Perlahan Pak Jamal mendekatinya.

“Bapak mau dibuatin kopi?” Tanya Alvi ramah.

Pak Jamal tidak menjawab, tapi langsung mendekap dan memeluk tubuh sang menantu dari belakang. Bau wangi sabun mandi meruap dari tubuh Alvi. Pak Jamal mengendusnya sebentar sebelum tangannya melingkar dan meremas-remas payudara wanita itu dengan gemas.

“Ahhh.. Bapak..” Alvi merintih.

“Aku nanti kesiangan Pak..” protes Alvi tapi tidak dengan tubuhnya.

Tubuh Alvi menggelinjang karena salah satu tangan Pak Jamal kini menyelinap masuk ke sela-sela pahanya dan merambat untuk mengusap vaginanya.

”Aku masih belum puas.. Pengen lagi..” Ujar Pak Jamal sambil menekan penisnya pada pantat Alvi.

“Ihh.. Bapak..”

Alvi tidak mencoba menepis tangan Pak Jamal yang bergerak makin liar di area selangkangannya. Alvi bahkan merasa terkejut dengan stamina seksualitas sang mertua karena baru saja mendapatkan ejakulasi tapi sekarang alat kawinnya sudah kembali berdiri tegak.

“Kamu mau kan nglayani bapak sekali lagi?”

Pak Jamal mencium dan menjilati leher Alvi yang jenjang, membuat wanita seksi itu mendesis dan merintih kegelian.

”Ahhh.. Pakk.. Aku mau kerja..” Alvi meraih penis Pak Jamal menegang dan sejak tadi mengganjal di belakang bokongnya.

“Ayolah, sebentar saja..” rajuk Pak Jamal

Alvi mengocok penis Pak Jamal pelan.

“Ouuchh.. Pak, kok udah keras banget kontolnya?”

Pak Jamal mencium pipi wanita itu.

”Kamu nafsuin banget..”

Alvi tersenyum, “Bapak nakal..”

Pak Jamal mulai mencium bibir tipis Alvi dengan rakus. Alvi membalas dengan mejulurkan lidahnya, mengajak Pak Jamal untuk saling membelit dan menghisap. Tubuh mereka makin merapat hingga tampak sulit untuk dipisahkan.

Secara pelan Pak Jamal menarik turun handuk yang dipakai Alvi hingga tubuh wanita cantik itu kini telanjang bulat sama seperti dirinya. Dengan manja Alvi bersandar di meja makan dan membuka kakinya, memamerkan kemaluannya yang ternyata sudah sangat basah.

”Jilatin dulu ya Pak..” pintanya pelan.

Pak Jamal mengangguk mengiyakan dan segera menunduk untuk mencicipi vagina sang menantu. Dengan tangan gemetar, Pak Jamal merabanya.

Vagina Alvi terasa hangat dan licin, celah kecil di lubang vaginanya terlihat mulus dan utuh, tanda jika terawat dengan baik. Bibir luarnya mungil dan tipis, bentuknya masih sempurna, merah agak kehitaman dengan kerutan-kerutan kecil yang makin menambah daya tarik, membuat Pak Jamal makin penasaran untuk segera menyentuhnya.

”Ahhh..” Alvi merintih saat merasakan lidah kasap Pak Jamal mulai bermain di sana.

Laki-laki itu menjilati klitnya yang mencuat dengan rakus, dua jari Pak Jamal pun masuk menusuk-nusuk dan mengobok-obok bagian dalam vagina, membuatnya semakin basah dan memerah.

”Ahhh! Enak banget Paakk!!” Alvi menggelinjang.

”Terus! Jilat terus!” Alvi menekan kepala Pak Jamal agar makin menusukkan lidahnya.

Pak Jamal menyapukan lidahnya pada kerut-kerut di bibir vagina. Laki-laki itu menggerakkan lidahnya naik turun, menggelitik, dan menyapu seluruh lubang kemaluan Alvi.

”Sekarang kamu nungging ya..” pinta Pak Jamal setelah puas mengobok-obok vagina dan menjadikan lubang kewanitaan sempit itu dibanjiri lendir cinta yang bercampur dengan air liurnya.

Tanpa perlawanan, Alvi menuruti perintah sang mertua.

Sesaat Pak Jamal menatap pantat semok Alvi yang tersaji di hadapannya. Lubang duburnya berwarna coklat kehitaman tetapi terlihat cukup bersih. Ditopang dua paha yang mulus dan panjang, pantat Alvi terlihat begitu sempurna. Pak Jamal sudah tak ingin berlama-lama lagi, sambil memeluk tubuh ramping Alvi, dia menusukkan seluruh batang penisnya ke dalam vagina.

”Ahhh!!” Alvi langsung merintih saat batang Pak Jamal yang kekar perlahan menembus vaginanya.

Dengan sentakan lumayan keras, batang itu amblas, masuk menusuk vaginanya yang hangat dan basah.

”Sakit?” tanya laki-laki itu sambil perlahan mulai menggoyang pinggulnya.

”Hssshhh.. e-enak banget, Pak.” lirih Alvi dengan mata terpejam dan wajah memerah.

”Terus. Oohhh.. Terus!” Wanita cantik berdada indah itu mengerang-erang saat Pak Jamal meraih susunya yang berayun-ayun dan meremas-remasnya dengan gemas.

Sambil terus mengayun, Pak Jamal mencium punggung Alvi yang terbuka dan terus merambat ke atas hingga ke tengkuknya. Di sana, Pak Jamal menjilati anak rambut Alvi sambil sesekali menggelitik telinga menantunya itu.

”Aahhsss!” Alvi kembali menggelinjang.

Dari mulutnya keluar erangan-erangan erotis yang makin membuat Pak Jamal jadi bergairah.

Sambil terus meremasi payudara, Pak Jamal mempercepat sodokannya. Dengan sekuat tenaga dia menghujamkan penisnya hingga membuat tubuh sintal Alvi terlontar-lontar kesana-kemari. Benturan antara pinggang depannya dengan pantat besar Alvi terbukti menambah seru permainan.

”Hhssshhh.. enak banget Pak! Terus! Tusuk lebih dalam!” ceracau Alvi dengan nafas memburu.

Di bawah, vaginanya terus berkontraksi dengan hebat, meremas dan menjepit penis Pak Jamal dengan ketat, hingga membuat alat kawin itu seperti dicekik dan dipijat-pijat.

< 1 11 12 13 >
Rasanya yang nikmat membuat Pak Jamal jadi merem melek. Seumur hidup, baru kali ini dia merasakan vagina seperti ini, bahkan vagina Zubaedah pun tak mampu menandinginya. Vagina Alvi seperti hidup, terus berdenyut dan menggelitik penisnya. Kalau terus seperti ini, berapa kalipun dia menyetubuhi Alvi, dia tidak akan pernah bosan.

”Ahhhgggh!” Alvi kembali merintih.

Sentakan penis Pak Jamal di dalam vaginanya terasa makin kencang. Tusukannya juga makin kuat. Beberapa kali ujung penis Pak Jamal mentok menabrak dinding rahimnya.

”A-Aku mau keluar..” bisik Pak Jamal serak. Keringat sudah membanjiri tubuhnya.

Begitu juga dengan Alvi, punggungnya tampak mengkilat, membuatnya berkilauan seperti permata.

”He-eh! Keluarin Pak! Keluarin pejumu!” Alvi mengangguk, memberi ijin pada Pak Jamal untuk keluar di dalam vaginanya.

Dan akhirnya, dengan didahului genjotan penutup yang penuh tenaga, Pak Jamal pun ejakulasi untuk kedua kalinya.

Crott!! Crott!! Crot! Dari dalam penisnya menyembur sperma kental yang tanpa ampun langsung memenuhi liang rahim Alvi.

Tubuh laki-laki itu bergetar dan berkedut-kedut beberapa kali sebelum akhirnya ambruk memeluk tubuh Alvi dari belakang.

”Uahhh.. memekmu enak banget.” bisiknya dengan nafas memburu. Tangannya terulur untuk mengusap-usap payudara Alvi yang menggantung indah.

Di bawahnya, Alvi terus memutar pantatnya. Dia juga hampir sampai. Semprotan peju Pak Jamal makin memperdekat rasa itu.

”K-kontol bapak juga e-enak. Saya suka!” bisik Alvi tak kalah manja.

Dia merintih saat merasakan tangan kanan Pak Jamal meluncur ke bawah dan menggosok-gosok bibir vaginanya yang memerah. Laki-laki itu mencabut penisnya yang mulai melemah dan menggantikannya dengan dua jari.

Dengan tusukan cepat, jari-jari itu bermain di dalam dan menjentik-jentik liar untuk mengusap itil Alvi yang tampak semakin mencuat.

”Uaahhrghhh!” tubuh Alvi melenting dan setelah mengerang panjang, wanita cantik itupun orgasme.

Cryet! Cryet! Cryet!

< 1 11 12 13
Klik Nomor untuk lanjutannya
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak