- Ibu Mertua Yang Luar Biasa -
Sebut saja namaku Pento (30), istriku Indri (29), kami sudah dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu ku beri nama Piko, berusia 2,5 tahun.
Pada hari yang sudah kami tentukan aku sekeluarga berangkat ke Kota S.
Penumpang kereta Argo Lawu tidak terlalu penuh! Mungkin, dikarenakan hari libur masih beberapa hari lagi, jadi aku istri dan anakku lebih leluasa beristirahat selama dalam perjalanan.
Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota S.
Kami di jemput Ibu mertuaku dan pakde Man sopir keluarga Mertuaku. Ibu mertuaku begitu bahagia dengan kedatangan kami, anak kami Piko pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Piko cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Ibu mertuaku.
Akhirnya, kami sampai juga di desa GL tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Ibu mertuaku saja.
Kelima anak bapak dan Ibu mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua. Kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah, dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Y.
“Bapak mana Bu?”. Tanya Indri istriku
“Bapakmu lagi kerumah Bupati, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!”, Jawab Ibu mertuaku.
Ibu mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Ibu mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, walau begitu, Ibu mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara.
Setelah mandi dan beristirahat kamipun makan pagi bersama. Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore.
Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa.
“Ini minum wedang buatan Ibu. Biar kalian segar saat bangun pagi harinya”.
Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Ibu mertuaku.
“Enak sekali Bu, apa ini?” Tanya Indri istriku
“Itu wedang ramuan Ibu sendiri, Gimana, seger kan?”
Kamipun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali. Istiku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur.
Aku mencoba bertahan dari rasa ngatuk dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Ibu mertuaku.
Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Akupun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat.
Tak lama aku pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur.
Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku berangapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja.
Ketika pagi harinya aku terbangun, ku lihat istri dan anakku masih lelap tertidur. Aku ke kamar mandi untuk kencing, begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering. Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan.
Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan?
Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang ku alami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam.
Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam.
Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istriku pun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Ibu mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerangku dan istriku.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang.
“Mas aku ngantuk, selamat tidur ya Mas.”.
Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Akupun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali.
Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku, apa yang sebenarnya terjadi?
Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan, hanya istri anak serta Ibu mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak pamily keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini.
Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang?
Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Ibu, batinku.
Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya akupun tertidur.
Sebut saja namaku Pento (30), istriku Indri (29), kami sudah dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu ku beri nama Piko, berusia 2,5 tahun.
Pada hari yang sudah kami tentukan aku sekeluarga berangkat ke Kota S.
Penumpang kereta Argo Lawu tidak terlalu penuh! Mungkin, dikarenakan hari libur masih beberapa hari lagi, jadi aku istri dan anakku lebih leluasa beristirahat selama dalam perjalanan.
Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota S.
Kami di jemput Ibu mertuaku dan pakde Man sopir keluarga Mertuaku. Ibu mertuaku begitu bahagia dengan kedatangan kami, anak kami Piko pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Piko cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Ibu mertuaku.
Akhirnya, kami sampai juga di desa GL tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Ibu mertuaku saja.
Kelima anak bapak dan Ibu mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua. Kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah, dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Y.
“Bapak mana Bu?”. Tanya Indri istriku
“Bapakmu lagi kerumah Bupati, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!”, Jawab Ibu mertuaku.
Ibu mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Ibu mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, walau begitu, Ibu mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara.
Setelah mandi dan beristirahat kamipun makan pagi bersama. Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore.
Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa.
“Ini minum wedang buatan Ibu. Biar kalian segar saat bangun pagi harinya”.
Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Ibu mertuaku.
“Enak sekali Bu, apa ini?” Tanya Indri istriku
“Itu wedang ramuan Ibu sendiri, Gimana, seger kan?”
Kamipun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali. Istiku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur.
Aku mencoba bertahan dari rasa ngatuk dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Ibu mertuaku.
Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Akupun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat.
Tak lama aku pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur.
Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku berangapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja.
Ketika pagi harinya aku terbangun, ku lihat istri dan anakku masih lelap tertidur. Aku ke kamar mandi untuk kencing, begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering. Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan.
Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan?
Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang ku alami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam.
Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam.
Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istriku pun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Ibu mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerangku dan istriku.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang.
“Mas aku ngantuk, selamat tidur ya Mas.”.
Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Akupun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali.
Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku, apa yang sebenarnya terjadi?
Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan, hanya istri anak serta Ibu mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak pamily keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini.
Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang?
Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Ibu, batinku.
Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya akupun tertidur.
Saat malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul dan berbincang bincang. Seperti hari kemarin-kemarin pula, Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya. Istri dan bapak mertuakupun sudah menghabiskan minumannya, sementara aku belum meminumnya.
“Kok nggak diminum Mas wedangnya?”, tanya Ibu mertuaku
Aku memang berniat untuk tidak meminum wedang tersebut. Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini.
Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang ku minum aku berjalan kearah dapaur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut.
Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit. Kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur, namun hal itu tidak terjadi denganku.
Apa karena aku tidak meminum wedang tersebut?
Aku yang masih segar dan belum mengantuk pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istriku mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata.
“Mas aku ngantuk sekali, Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas, aku ngantuk sekali Mas”
Ku kecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur.
Aku masih melamun, kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Ibu?
Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku. Langsung aku pura-pura tertidur.
Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat ku buka sedikit kelopak mataku ternyata Ibu mertuaku.
Mau apa beliau?
Aku terus pura-pura tertidur. Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Ibu mertuaku.
Deg.. jantungku berdebar saat Ibu mertuaku menghampiriku, langsung mengelus-elus burungku yang masih terbungkus celana pendek.
Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan apa yang akan dilakukan Ibu mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur.
Ibu mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istriku terbangun, atau mungkin juga Ibu mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali?
Lepas sudah celanaku, Aku telanjang, jantungkupun makin berdebar, aku terus berpura-pura terdidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Ibu mertuaku.
Aku menahan napas saat Ibu mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya.
Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Ibu mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur.
Jujur, aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Ibu mertuaku.
Ku tahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya.
OMG, mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam (kancut / cangcut / segi tiga pengaman) lagi.
Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Ibu mertuaku, apalagi ketika Ibu mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangi selangkanganku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku.
Dia gemgam batang kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesek-gesekan ke memeknya.
Aku sudah tidak tahan lagi, Ingin rasanya langsung ku sodokkan kontolku pada memeknya.
Sambil berjongkok, burungku pun dia arahkan ke lubang surgawi miliiknya, perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya.
Dia terliat sangat menikmati mili demi mili masuknya kontolku ke liang memeknya dengan mata terpejam.
“Ahh.. ahh nikmat”, jerit mertuaku, saat semua batang kontolku telah amblas masuk tertelan oleh memeknya.
Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak.
“Ahhm.." desahan tertahan Ibu mertuaku saat mulai naik turun bergoyang menikmati garukan kontolku pada dinding memeknya.
Ibu mertuaku terus menjerit, mendesah, seakan tak takut jika aku, istri dan anakku maupun bapak mertuaku bakal terbangun.
Ibu mertuaku terus bergoyang naik turun. Beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Ibu mertuaku mengejang.
“Ahh nikkmatt”, jerit panjang Ibu mertuaku.
Ibu mertua mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya lansung rebah menindih tubuhku, mencium bibirku, membelai kepalaku seperti seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya.
Aku langsung membuka mataku dan berkata, “Jadi selama ini aku tidak bermimpi dan tidak pula tidur dengan mahluk halus”.
Ibu mertuaku bangkit karena kaget.
“Ma..mass ka..kamu ndak ti..tidur? kamu nggak meminum wedang yang Ibu bikin?”.
“Tidak Bu, aku tidak meminumnya”,
Ibu mertuaku salah tingkah dan serba salah, mukanya memerah tanda beliau malu luar biasa.
Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang.
“Mass..”, Ibu mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku. “Ammpuni Ibu, Mass”.
Aku merasa kasihan melihat Ibu mertuaku seperti itu, karena aku sendiripun sudah sangat terangsang akibat permainannya tadi.
“Bu aku belum tuntas!”.
Aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya.
“Sudah Bu, jangan menangis, aku juga menikmatinya kok Bu”.
Ku lepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, ku peluk Ibu mertuaku dan kamipun berciuman dengan buasnya.
“Ahh Mas.. nikmat.. Mas..”, saat ku hisap dan ku remas tetek mertuaku yang sudah kendur.
“Ah.. Mas nikmat..”
Ku telusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus ku ciumi perutnya yang agak gendut.
“Ahh Mass”, jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, ku jilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil.
Dua jariku pun terbenam di dalam memeknya, jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya.
“Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi.. ahh.. Ibu keluarr!, aarrgghh!!”, jerit ibu mertuaku.
Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku, sampai aku susah bernapas.
“Enak Bu?”
“Enak sekali Mas”.
Kucium kembali bibir Ibu mertuaku.
“Bu.. apa Indri nanti nggak bangun?”
“Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Ibu yang paling ampuh.”
“Tidak berbahaya Bu?”
“Tidak Mas”
Ku geluti kembali mertuaku.. ku cium.. ku hisap teteknya. Ku colok-colok memeknya dengan dua jari saktiku.
“Oohh Mass.. masukin.. Ibu sudah nggak tahan, pengen lagi.."
"Mas.. Kontol mas.. Kontol..”. remgek Ibu mertuaku pengen disodok kontol.
Dengan gaya konvensional langsung ku arahkan kontolku ke lubang surgawi memek Ibu mertuaku, dengan gemas ku sentak samapai penisku masuk seutuhnya.
“Oaahs.. nikmat sekaliii..”. desahnya yang kemudian menggoyang pinggulnya.
“Kok nggak diminum Mas wedangnya?”, tanya Ibu mertuaku
Aku memang berniat untuk tidak meminum wedang tersebut. Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini.
Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang ku minum aku berjalan kearah dapaur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut.
Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit. Kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur, namun hal itu tidak terjadi denganku.
Apa karena aku tidak meminum wedang tersebut?
Aku yang masih segar dan belum mengantuk pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istriku mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata.
“Mas aku ngantuk sekali, Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas, aku ngantuk sekali Mas”
Ku kecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur.
Aku masih melamun, kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Ibu?
Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku. Langsung aku pura-pura tertidur.
Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat ku buka sedikit kelopak mataku ternyata Ibu mertuaku.
Mau apa beliau?
Aku terus pura-pura tertidur. Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Ibu mertuaku.
Deg.. jantungku berdebar saat Ibu mertuaku menghampiriku, langsung mengelus-elus burungku yang masih terbungkus celana pendek.
Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan apa yang akan dilakukan Ibu mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur.
Ibu mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istriku terbangun, atau mungkin juga Ibu mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali?
Lepas sudah celanaku, Aku telanjang, jantungkupun makin berdebar, aku terus berpura-pura terdidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Ibu mertuaku.
Aku menahan napas saat Ibu mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya.
Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Ibu mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur.
Jujur, aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Ibu mertuaku.
Ku tahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya.
OMG, mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam (kancut / cangcut / segi tiga pengaman) lagi.
Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Ibu mertuaku, apalagi ketika Ibu mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangi selangkanganku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku.
Dia gemgam batang kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesek-gesekan ke memeknya.
Aku sudah tidak tahan lagi, Ingin rasanya langsung ku sodokkan kontolku pada memeknya.
Sambil berjongkok, burungku pun dia arahkan ke lubang surgawi miliiknya, perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya.
Dia terliat sangat menikmati mili demi mili masuknya kontolku ke liang memeknya dengan mata terpejam.
“Ahh.. ahh nikmat”, jerit mertuaku, saat semua batang kontolku telah amblas masuk tertelan oleh memeknya.
Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak.
“Ahhm.." desahan tertahan Ibu mertuaku saat mulai naik turun bergoyang menikmati garukan kontolku pada dinding memeknya.
Ibu mertuaku terus menjerit, mendesah, seakan tak takut jika aku, istri dan anakku maupun bapak mertuaku bakal terbangun.
Ibu mertuaku terus bergoyang naik turun. Beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Ibu mertuaku mengejang.
“Ahh nikkmatt”, jerit panjang Ibu mertuaku.
Ibu mertua mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya lansung rebah menindih tubuhku, mencium bibirku, membelai kepalaku seperti seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya.
Aku langsung membuka mataku dan berkata, “Jadi selama ini aku tidak bermimpi dan tidak pula tidur dengan mahluk halus”.
Ibu mertuaku bangkit karena kaget.
“Ma..mass ka..kamu ndak ti..tidur? kamu nggak meminum wedang yang Ibu bikin?”.
“Tidak Bu, aku tidak meminumnya”,
Ibu mertuaku salah tingkah dan serba salah, mukanya memerah tanda beliau malu luar biasa.
Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang.
“Mass..”, Ibu mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku. “Ammpuni Ibu, Mass”.
Aku merasa kasihan melihat Ibu mertuaku seperti itu, karena aku sendiripun sudah sangat terangsang akibat permainannya tadi.
“Bu aku belum tuntas!”.
Aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya.
“Sudah Bu, jangan menangis, aku juga menikmatinya kok Bu”.
Ku lepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, ku peluk Ibu mertuaku dan kamipun berciuman dengan buasnya.
“Ahh Mas.. nikmat.. Mas..”, saat ku hisap dan ku remas tetek mertuaku yang sudah kendur.
“Ah.. Mas nikmat..”
Ku telusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus ku ciumi perutnya yang agak gendut.
“Ahh Mass”, jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, ku jilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil.
Dua jariku pun terbenam di dalam memeknya, jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya.
“Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi.. ahh.. Ibu keluarr!, aarrgghh!!”, jerit ibu mertuaku.
Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku, sampai aku susah bernapas.
“Enak Bu?”
“Enak sekali Mas”.
Kucium kembali bibir Ibu mertuaku.
“Bu.. apa Indri nanti nggak bangun?”
“Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Ibu yang paling ampuh.”
“Tidak berbahaya Bu?”
“Tidak Mas”
Ku geluti kembali mertuaku.. ku cium.. ku hisap teteknya. Ku colok-colok memeknya dengan dua jari saktiku.
“Oohh Mass.. masukin.. Ibu sudah nggak tahan, pengen lagi.."
"Mas.. Kontol mas.. Kontol..”. remgek Ibu mertuaku pengen disodok kontol.
Dengan gaya konvensional langsung ku arahkan kontolku ke lubang surgawi memek Ibu mertuaku, dengan gemas ku sentak samapai penisku masuk seutuhnya.
“Oaahs.. nikmat sekaliii..”. desahnya yang kemudian menggoyang pinggulnya.
“Bu.. memekmu nikmat sekali.., goyang terus Bu..”. balasku yang tak mau kalah juga menyodok-nyodokkan penisku.
Kami terus berpacu dalam kenikmatan lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Ibu mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami.
“Aduuhh.. Ibu mau keluar lagi..”.
Rupanya Ibu mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, aku pun tak mau kehilangan moment.
“Tahan Buu, sedikit lagi akuu juga keluarr..”, sambil ku percepat sodokan kontolku.
“Akk Mass, Ibu sudah nggak kuatt”.
Sserr serr serr
Ku rasakan batang penisku seperti di siram air hangat. Akupun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku.
“buu.. Aaagrchh"
Crot Crot Crot
Aku rubuh memeluknya.
“Bu, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Ibu yang melakukannya?”
“Iya Mas, maafin Ibu, Ibu jatuh cinta sama Mas pento sejak pertama kali Ibu melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi”.
“Kenapa harus seperti pencuri Bu?”.
“Ibu takut ditolak Mas, lagi pula Ibu malu, sudah tua kok gatel”.
“Apa semua mantu Ibu, Ibu perlakukan seperti ini?”.
Sambil melotot Ibu mertuaku berkata, “Tidak lah Mas, Mas pento adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Ibu sayangi”.
Ku cium dan ku peluk kembali tubuh hangat ibu mertuaku.
“Mulai besok Ibu jangan pakai wedang lagi, aku siap melayani, kapanpun Ibu mau”.
Kamipun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya.
Tanpa istriku tahu, didekatnya suaminya dan ibunya sedang menjerit-jerit mereguk kenikmatan peraduan batang kontol dan liang vagina.
Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat.
Lalu Ibu mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, “Mas Pento terima kasih..”.
Yah.. itulah awal hubungan sexku dengan Ibu mertuaku, walaupun ada rasa sesal, namun rasa sesal itu lenyap tertelan nikmat yang ku dapat, dan akupun jadi tahu bahwa wanita seusia Ibu mertuaku sangat nikmat untuk di setubuhi.
Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15. Ku lihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi.
Ahh.., akupun termenung mengingat kejadian semalam.
Aku masih tidak menyangka, ibu mertuaku yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya di usianya yang tak muda lagi itu dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Malah dia juga yang memulai awal perselingkuhan nikmat kami.
“Selamat pagi Ma”, sapaku saat ku lihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku, “Kok sepi pada kemana mah?”
“Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke Wonogiri, Ibu pergi ke pasar sama Piko”.
Ku pandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Ibu mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.
“Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas..”, protes istriku saat ku tarik lengannya, langsung ku peluk dan ku lumat bibirnya.
“Mas.. malu ah, nanti kalau Ibu datang bagaimana?”
Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, ku remas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Ibu mertuaku.
Ku balik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, ku singkap ke atas dasternya ku turunkan celana dalamnya.
“Uhh Mas pelan pelan dong.”
Aku tak perduli, ku turunkan celanaku sebatas lutut, langsung ku arahkan batang kejantananku yang sudah tegak berdiri ke lobang memeknya.
“Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas.”
Semakin istriku berteriak, gairahku semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah.
“Ahh..”, jeritku, saat kejantananku amblas tertelan dalam memeknya.
Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku goyang maju mundur pantatku.
“Ahh nikmat Ndri..”, ku goyang dengan keras keluar masuk kontolku.
“Mas.. enak mass.”
Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memeknya.
“Ndri.. aku mau keluarr nihh.”
“Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang”, pinta istriku.
Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian,
"Aaarghhss..!!" erangku dibarengi seluruh syaraf tubuhku menegang dan..
Crot Crot Crot ku lepas semua cairang sepermaku sambil dengan erat kupeluk tubuhnya dari belakang.
Raut wajah kekecewaan terlihat diwajah Indri istriku.
“Maaf ya sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini”, rayuku.
“Ndak apa-apa Mass..”,
ku kecup keningnya.
“Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?”, tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi.
Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan sedang ngewe sama ibu kandungnya.
Menjelang siang, setalah makan siang, istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal dilampung, saat ini sedang pulang kampung juga.
“Pada mau kemana nih?” Tanyaku
“Mumpung kita lapi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan-jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota S makan Soto gading”, Jawab mereka.
Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan ibu mertuaku.
“Dada piko jagain mamah ya..”, ku kecup anakku.
“Bu aku pergi dulu ya”, pamit istriku.
“Mas aku jalan-jalan dulu yahh, bye Mas”
Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Ibu mertuaku sedang mengunci pintu gerbang.
“Kok digembok bu?
“Biar aman”, katanya, sambil berjalan dan masuk kedalam rumah, dan klik.. pintu rumah pun di kunci olehnya.
Aku dan Ibu Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Ibu mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Ku kecup pipinya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya.
“Mas Pento, Saat-saat seperti inilah yang paling ibu tunggu-tunggu”
Ku pandangi wajah ibu mertuaku, sunguh cantik sekali, ku cecup dan ku lumat bibirnya. Kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap.
Ku angkat dan ku lepas daster yang dipakai ibu mertuaku. Terbuka sudah, ternyata dia sudah tidak memakai Bh dan celana dalam lagi. Ku ciumi payudaranya yang kendor, ku hisap pentilnya, ku jilati inhci demi inchi seluruh badannya.
“Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang..”
Ku ajak Ibu mertuaku pindah ke sofa.
“Kamu duduk Mas..”, perintahnya.
Kemudian Ibu mertuaku melepas kaos dan celanaku, kini kami sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel.
“Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap terus bu, hisap kontolku bu.. ahh”
Nikmat sekali kuluman ibu mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang, saling service.
Kami terus berpacu dalam kenikmatan lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Ibu mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami.
“Aduuhh.. Ibu mau keluar lagi..”.
Rupanya Ibu mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, aku pun tak mau kehilangan moment.
“Tahan Buu, sedikit lagi akuu juga keluarr..”, sambil ku percepat sodokan kontolku.
“Akk Mass, Ibu sudah nggak kuatt”.
Sserr serr serr
Ku rasakan batang penisku seperti di siram air hangat. Akupun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku.
“buu.. Aaagrchh"
Crot Crot Crot
Aku rubuh memeluknya.
“Bu, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Ibu yang melakukannya?”
“Iya Mas, maafin Ibu, Ibu jatuh cinta sama Mas pento sejak pertama kali Ibu melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi”.
“Kenapa harus seperti pencuri Bu?”.
“Ibu takut ditolak Mas, lagi pula Ibu malu, sudah tua kok gatel”.
“Apa semua mantu Ibu, Ibu perlakukan seperti ini?”.
Sambil melotot Ibu mertuaku berkata, “Tidak lah Mas, Mas pento adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Ibu sayangi”.
Ku cium dan ku peluk kembali tubuh hangat ibu mertuaku.
“Mulai besok Ibu jangan pakai wedang lagi, aku siap melayani, kapanpun Ibu mau”.
Kamipun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya.
Tanpa istriku tahu, didekatnya suaminya dan ibunya sedang menjerit-jerit mereguk kenikmatan peraduan batang kontol dan liang vagina.
Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat.
Lalu Ibu mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, “Mas Pento terima kasih..”.
Yah.. itulah awal hubungan sexku dengan Ibu mertuaku, walaupun ada rasa sesal, namun rasa sesal itu lenyap tertelan nikmat yang ku dapat, dan akupun jadi tahu bahwa wanita seusia Ibu mertuaku sangat nikmat untuk di setubuhi.
Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15. Ku lihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi.
Ahh.., akupun termenung mengingat kejadian semalam.
Aku masih tidak menyangka, ibu mertuaku yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya di usianya yang tak muda lagi itu dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Malah dia juga yang memulai awal perselingkuhan nikmat kami.
“Selamat pagi Ma”, sapaku saat ku lihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku, “Kok sepi pada kemana mah?”
“Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke Wonogiri, Ibu pergi ke pasar sama Piko”.
Ku pandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Ibu mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.
“Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas..”, protes istriku saat ku tarik lengannya, langsung ku peluk dan ku lumat bibirnya.
“Mas.. malu ah, nanti kalau Ibu datang bagaimana?”
Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, ku remas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Ibu mertuaku.
Ku balik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, ku singkap ke atas dasternya ku turunkan celana dalamnya.
“Uhh Mas pelan pelan dong.”
Aku tak perduli, ku turunkan celanaku sebatas lutut, langsung ku arahkan batang kejantananku yang sudah tegak berdiri ke lobang memeknya.
“Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas.”
Semakin istriku berteriak, gairahku semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah.
“Ahh..”, jeritku, saat kejantananku amblas tertelan dalam memeknya.
Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku goyang maju mundur pantatku.
“Ahh nikmat Ndri..”, ku goyang dengan keras keluar masuk kontolku.
“Mas.. enak mass.”
Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memeknya.
“Ndri.. aku mau keluarr nihh.”
“Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang”, pinta istriku.
Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian,
"Aaarghhss..!!" erangku dibarengi seluruh syaraf tubuhku menegang dan..
Crot Crot Crot ku lepas semua cairang sepermaku sambil dengan erat kupeluk tubuhnya dari belakang.
Raut wajah kekecewaan terlihat diwajah Indri istriku.
“Maaf ya sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini”, rayuku.
“Ndak apa-apa Mass..”,
ku kecup keningnya.
“Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?”, tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi.
Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan sedang ngewe sama ibu kandungnya.
Menjelang siang, setalah makan siang, istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal dilampung, saat ini sedang pulang kampung juga.
“Pada mau kemana nih?” Tanyaku
“Mumpung kita lapi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan-jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota S makan Soto gading”, Jawab mereka.
Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan ibu mertuaku.
“Dada piko jagain mamah ya..”, ku kecup anakku.
“Bu aku pergi dulu ya”, pamit istriku.
“Mas aku jalan-jalan dulu yahh, bye Mas”
Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Ibu mertuaku sedang mengunci pintu gerbang.
“Kok digembok bu?
“Biar aman”, katanya, sambil berjalan dan masuk kedalam rumah, dan klik.. pintu rumah pun di kunci olehnya.
Aku dan Ibu Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Ibu mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Ku kecup pipinya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya.
“Mas Pento, Saat-saat seperti inilah yang paling ibu tunggu-tunggu”
Ku pandangi wajah ibu mertuaku, sunguh cantik sekali, ku cecup dan ku lumat bibirnya. Kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap.
Ku angkat dan ku lepas daster yang dipakai ibu mertuaku. Terbuka sudah, ternyata dia sudah tidak memakai Bh dan celana dalam lagi. Ku ciumi payudaranya yang kendor, ku hisap pentilnya, ku jilati inhci demi inchi seluruh badannya.
“Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang..”
Ku ajak Ibu mertuaku pindah ke sofa.
“Kamu duduk Mas..”, perintahnya.
Kemudian Ibu mertuaku melepas kaos dan celanaku, kini kami sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel.
“Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap terus bu, hisap kontolku bu.. ahh”
Nikmat sekali kuluman ibu mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang, saling service.
Tak lama kemudian ku rubah posisi, ku rebahkan ibu mertuaku dilantai, kakinya mengangkang, ku pandangi memeknya yang telah melahirkan istriku sesaat. Lalu ku kecup dengan lembut memeknya, ku hisap, kujilati dengan penuh perasaan dan ku seruput semua lendir yang keluar dari lubang vaginanya.
“Ohh.. jangan siksa Ibu sayang.., Pentoo.., masukin sekarang.., Ibu sudah mau keluar sayang”
Langsung ku arahkan batang kontolku ke lubang vagina ibu mertuaku, yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Ku gesek-gesek perlahan kontolku di itilnya yang sudah mengeras dan..
belss..
"Ouhh..", rintih Ibu mertuaku saat kepala kontolku menerobos masuk.
“Masukin semuanya sayang.. jangan siksa ibu.. sayang..”
Ku hentakkan dengan kasar.
"Aaaahh..!" jeritnya saat seluruh batang kontolku amblas terbenam dijepit memeknya.
Rasa nikmat dari dinding memeknya membuat aku jadi ketagihan mengentoti ibu mertuaku. Ku peluk tubuhnya, ku lumat bibirnya, perlahan-lahan kontolku ku hujam kembali dengan keras.
“Aahh..”, jerit ibu mertuaku.
“Pento.. entotin Ibu Mass.. puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh.”
Aku jadi semakin bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Ibu mertuaku. Ku naik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar.
“Ahh.. Ibu.." jeritku, "aku mau keluar.. buu.”
“Iya sayang.. ibu juga mau keluarr.”
Ku percepat sodokan kontolku, plak.. plak.. plak..
“Ayo Mass.. keluar bareng sayang. Ahh..”
Tubuh ibu mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku.
“AAAARGHHSSM!!”, jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung.
Kembali ku sirami rahim ibu mertuaku dengan spermaku.
Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan.
“Bu..” ku lihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah-engah.
“Iya Mas..”
“Rasanya aku jatuh cinta sama ibu..”,
ibu mertuaku tersenyum. manis sekali.
“Ibu maukan jadi kekasihku bu”.
Ibu mertuakupun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata, “Mas ini nikmat sekali..”, dikecup kembali keningku.
Hari itu sampai menjelang magrib kami berdua terus berbugil ria, aku dan ibu mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur dan di kamar mandi.
Yang paling dasyat, setelah kami meminum jamu buatan ibu mertuaku. Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh. Ku kocok kontolku dilubang memeknya, sampai banjir memek Ibu mertuaku dan lebih gilanya, Ibu mertuaku memohon kepadaku agar memasukan kontolku di lubang anusnya.
Nikamat sekali.. saat ku tembakan spermaku didalam liang anus Ibu mertuaku.
Saat istriku kembali selepas isya, ku sambut istriku dan teman temannya, setelah berbincang-bincang sebentar teman-teman istriku pamit pulang. Istriku pun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan.
“Mas aku taruh Piko di kamar dulu ya..”
Ku lirik Ibu mertuaku dan ku hampiri beliau sambil berbisik.
“Bu.., Indri adalah istri pertamaku, dan Ibu istri keduaku”, ujarku.
Ibu mertuaku tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku.
Hari itu benar-benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Ibu mertuaku sudah aku rasakan.
Pada hari keenam liburan kami di desa GL, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadirannya. Mau tidak kami membatalkan semua acara liburan kami di kota S.
Ku lihat Ibu mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Padahal itu hanya akal-akalan Ibu mertuaku, dia masih belum mau berpisah denganku.
Ku rayu istriku agar membujuk Bapaknya, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan ibu mertuaku ikut kami ke Jakarta. Ibu mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku.
Besoknya, Aku memesan tiket kereta Argo Dwipangga, karena hari itu hari kerja, maka Akupun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh-oleh untuk teman teman kami.
Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Kami berkemas kemas merapikan barang yang akan dibawa ke jakarta.
Saat aku hendak menuju ke kamar mandi, aku berpapasan dengan Ibu mertua yang hari itu tampak cantik sekali, ku bisikan kepadanya, agar dia tidak usah memakai celana dalam, yang dibalas dengan tersenyum penuh arti.
Dengan diantar Pakde Man dan Bapak mertuaku, Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan.
Setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam keretapun berangkat. Ku putar bangku tempat duduk kami, biar kami bisa saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah teridur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama ibu mertua.
Setelah lewat stasiun yogyakarta, ku lihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang, akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh.
Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya. Ku lihat istri dan ibu mertuaku pun sudah tertidur.
Jam 2 pagi aku terbangun, istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan-lahan, ku colek Ibu mertua, beliau membuka matanya.
Ssstt, akupun memberi kode kepada Ibu mertuaku.
Perlahan lahan Ibu mertuaku bangkit.
“Bu.. aku kepengen.." bisikku, Ibu mertua tersenyum.
Kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong.
Setelah mendapat tempat duduk yang ku rasa aman, ku putar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya.
Langsung ku peluk Ibu mertua, kami saling berpagutan, ku remas teteknya dengan perasaan yang sangat berdebar. Lalu ku buka celanaku sampai sebatas lutut nampaklah kontolku yang sudah tegak dengan sempurna, ku angkat rok panjang Ibu mertuaku. Woww ternyata Ibu mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi.
“Kamu yang suruh.." katanya sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta, badanku bersandar pada tempat duduk, Ibu mertua pun mengangkangiku, perlahan-lahan di arahkan memeknya ke batang kontolku yang sudah tidak sabar untuk segera bermain-mainn didalam lubang memek Ibu Mertua. Diturunkan perlahan lahan dan..
Bless..
Amblas semua kontolku tertelan lubang nikmat Ibu mertua yag sudah basah.
“Aaahhss!" rintih kami bersamaan.
Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Ibu mertua menambah nikmatnya persetubuhan kami.
Dengan cepat Ibu mertuaku menaik turunkan pantatnya, kami berdua bersetubuh dengan menahan suara rintihan, takut kalau-kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami.
“Ohh.. jangan siksa Ibu sayang.., Pentoo.., masukin sekarang.., Ibu sudah mau keluar sayang”
Langsung ku arahkan batang kontolku ke lubang vagina ibu mertuaku, yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Ku gesek-gesek perlahan kontolku di itilnya yang sudah mengeras dan..
belss..
"Ouhh..", rintih Ibu mertuaku saat kepala kontolku menerobos masuk.
“Masukin semuanya sayang.. jangan siksa ibu.. sayang..”
Ku hentakkan dengan kasar.
"Aaaahh..!" jeritnya saat seluruh batang kontolku amblas terbenam dijepit memeknya.
Rasa nikmat dari dinding memeknya membuat aku jadi ketagihan mengentoti ibu mertuaku. Ku peluk tubuhnya, ku lumat bibirnya, perlahan-lahan kontolku ku hujam kembali dengan keras.
“Aahh..”, jerit ibu mertuaku.
“Pento.. entotin Ibu Mass.. puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh.”
Aku jadi semakin bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Ibu mertuaku. Ku naik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar.
“Ahh.. Ibu.." jeritku, "aku mau keluar.. buu.”
“Iya sayang.. ibu juga mau keluarr.”
Ku percepat sodokan kontolku, plak.. plak.. plak..
“Ayo Mass.. keluar bareng sayang. Ahh..”
Tubuh ibu mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku.
“AAAARGHHSSM!!”, jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung.
Kembali ku sirami rahim ibu mertuaku dengan spermaku.
Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan.
“Bu..” ku lihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah-engah.
“Iya Mas..”
“Rasanya aku jatuh cinta sama ibu..”,
ibu mertuaku tersenyum. manis sekali.
“Ibu maukan jadi kekasihku bu”.
Ibu mertuakupun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata, “Mas ini nikmat sekali..”, dikecup kembali keningku.
Hari itu sampai menjelang magrib kami berdua terus berbugil ria, aku dan ibu mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur dan di kamar mandi.
Yang paling dasyat, setelah kami meminum jamu buatan ibu mertuaku. Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh. Ku kocok kontolku dilubang memeknya, sampai banjir memek Ibu mertuaku dan lebih gilanya, Ibu mertuaku memohon kepadaku agar memasukan kontolku di lubang anusnya.
Nikamat sekali.. saat ku tembakan spermaku didalam liang anus Ibu mertuaku.
Saat istriku kembali selepas isya, ku sambut istriku dan teman temannya, setelah berbincang-bincang sebentar teman-teman istriku pamit pulang. Istriku pun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan.
“Mas aku taruh Piko di kamar dulu ya..”
Ku lirik Ibu mertuaku dan ku hampiri beliau sambil berbisik.
“Bu.., Indri adalah istri pertamaku, dan Ibu istri keduaku”, ujarku.
Ibu mertuaku tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku.
Hari itu benar-benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Ibu mertuaku sudah aku rasakan.
Pada hari keenam liburan kami di desa GL, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadirannya. Mau tidak kami membatalkan semua acara liburan kami di kota S.
Ku lihat Ibu mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Padahal itu hanya akal-akalan Ibu mertuaku, dia masih belum mau berpisah denganku.
Ku rayu istriku agar membujuk Bapaknya, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan ibu mertuaku ikut kami ke Jakarta. Ibu mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku.
Besoknya, Aku memesan tiket kereta Argo Dwipangga, karena hari itu hari kerja, maka Akupun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh-oleh untuk teman teman kami.
Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Kami berkemas kemas merapikan barang yang akan dibawa ke jakarta.
Saat aku hendak menuju ke kamar mandi, aku berpapasan dengan Ibu mertua yang hari itu tampak cantik sekali, ku bisikan kepadanya, agar dia tidak usah memakai celana dalam, yang dibalas dengan tersenyum penuh arti.
Dengan diantar Pakde Man dan Bapak mertuaku, Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan.
Setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam keretapun berangkat. Ku putar bangku tempat duduk kami, biar kami bisa saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah teridur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama ibu mertua.
Setelah lewat stasiun yogyakarta, ku lihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang, akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh.
Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya. Ku lihat istri dan ibu mertuaku pun sudah tertidur.
Jam 2 pagi aku terbangun, istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan-lahan, ku colek Ibu mertua, beliau membuka matanya.
Ssstt, akupun memberi kode kepada Ibu mertuaku.
Perlahan lahan Ibu mertuaku bangkit.
“Bu.. aku kepengen.." bisikku, Ibu mertua tersenyum.
Kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong.
Setelah mendapat tempat duduk yang ku rasa aman, ku putar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya.
Langsung ku peluk Ibu mertua, kami saling berpagutan, ku remas teteknya dengan perasaan yang sangat berdebar. Lalu ku buka celanaku sampai sebatas lutut nampaklah kontolku yang sudah tegak dengan sempurna, ku angkat rok panjang Ibu mertuaku. Woww ternyata Ibu mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi.
“Kamu yang suruh.." katanya sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta, badanku bersandar pada tempat duduk, Ibu mertua pun mengangkangiku, perlahan-lahan di arahkan memeknya ke batang kontolku yang sudah tidak sabar untuk segera bermain-mainn didalam lubang memek Ibu Mertua. Diturunkan perlahan lahan dan..
Bless..
Amblas semua kontolku tertelan lubang nikmat Ibu mertua yag sudah basah.
“Aaahhss!" rintih kami bersamaan.
Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Ibu mertua menambah nikmatnya persetubuhan kami.
Dengan cepat Ibu mertuaku menaik turunkan pantatnya, kami berdua bersetubuh dengan menahan suara rintihan, takut kalau-kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami.
Hanya beberapa menit saja..
“Aahh.. Ibuu.. aku.. mau keluarr..”.
Ku angkat badanku dan ku peluk dengan erat tubuh Ibu mertua, tanpa sadar Ibu mertua mengigit pundakku saat ejakulasi dan kami orgasme bersamaan.
“Deg-deg-deg-deg”, suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang menyadari perbuatan kami.
Buru-buru Aku dan Ibu mertuaku merapikan pakaian kami dan bergegas kembali kegerbong kami. Anak dan istriku masih lelap tertidur.
Aku dan Ibu mertuaku kembali ke posisi kami masing-masing dan tertidur dengan senyum penuh kepuasan.
Selama satu minggu Ibu Mertua berada di Jakarta, hampir setiap hari saat ada kesempatan aku dan Ibu Mertua selalu menyalurkan hasrat kami.
Apalagi saat Indri, istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantornya, Aku dan Ibu mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua semakin lupa diri.
Aku dan Ibu mertua tidur seranjang, layaknya suami istri, ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertua langsung menuntaskan hasrat kami berdua. Ku sirami terus menerus rahim Ibu Mertua dengan sperma peju kentalku.
Setelah istriku kembali dari Medan Bapak mertua minta agar Ibu mertua segera pulang ke GL, dengan berat hati akhirnya Ibu mertua pun kembali ke desa.
Setelah Ibu mertua kembali ke desa GL hari-hariku jadi sepi. Aku begitu ketagihan dengan permainan sex Ibu Mertua, Aku rindu jepitan memeknya serta pijitan anusnya pada kontolku dan jeritan jeritan joroknya saat orgasme sedang melandanya.
Pertengahan juni lalu Ibu mertua menelponku ke nomor kerjaku saat aku di kantor, aku begitu gembira sekali, tapi Ibu mertua memberikan kabar yang membuatku kaget, beliau terlambat datang bulan dan setelah diperiksa ke dokter dia positip hamil. Aku pikir dia sudah tidak bisa hamil lagi.
Jadinya semua peju yang sudah ku muntahkan didalam memeknya berakibat fatal.
Aku minta kepada Ibu mertua, agar melanjutkan saja kehamilan tersebut. Namun dia menolak karena itu sama saja dengan bunuh diri, sebab Bapak Mertua sudah lama tidak pernah lagi menggaulinya. Dan menurut dokter di usianya yang sekarang ini, sangat riskan sekali bagi Ibu mertua untuk hamil atau memiliki anak lagi, jadi Ibu mertuaku memutuskan untuk mengambil tindakan.
“Bu, apa perlu aku datang ke desa GL?”
Ibu mertua melarang, “Tidak usah sayang nanti malah bikin Bapak curiga, lagi pula ini hanya operasi kecil”.
Setelah aku yakin bahwa Ibu mertua tidak perlu ditemani, otak jorokku langsung terbayang tubuh telanjang Ibu mertua.
“Bu aku kangen sekali sama Ibu, aku kepengen banget nih Bu”
“Iya Mas, Ibu juga kangen sama Mas Pento. Tunggu ya sayang, setelah masalah ini selesai, akhir bulan Ibu datang. Mas Pento boleh entotin Ibu sepuasnya”.
Percakapan pun kami akhiri.
===xxx===
- Ngentot Bu Mila Janda Kesepian -
Saat aku sedang asyik asyiknya melamun memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Ibu mertuaku, aku dikagetkan oleh suara dering telepon dimejaku.
“Hallo, selamat pagi”.
“Pento, tolong kamu ke ruang Ibu sebentar”.
Akupun bergegas menuju rangan Bu Mila.
Bossku, Bu Mila ialah wanita setengah baya, yang sudah menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun payung di Sawangan. Aku taksir, usia Bu Mila kurang lebih 45 tahun.
Bu Mila seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun namun Bu Mila tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Bu Mila agak gemuk.
“Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya”.
“Oh nggak.., Ibu cuma mau tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan sama Bapak Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?”.
“Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya serahkan, biar tidak ada kesalahan”. Jawabku.
“Oh.. ya sudah kalau begitu, kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?”. Tanya Bu Mila.
“Tidak kok Bu.. Saya tidak apa-apa”.
“Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti malah tambah parah penyakitmu”.
“Ah.. nggak apa-apa Bu.. saya sehat kok”. Jawabku.
Saat aku hendak meninggalkan ruangan Bu Mila, aku sangat terkejut sekali, saat Bu Mila berkata,
“Makanya kalau selingkuh hati-hati dong Pen, Jangan terlalu berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil”.
Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali, aku sungguh-sungguh malu sekali.
“Dari mana Ibu tahu?” tanyaku.
“Maaf Pen, Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon kamu, kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu. Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu sendiri”.
Aku marah sekali, tapi apa daya beliau ini atasanku, selain itu Bu Mila juga saudara sepupu dari pemilik perusahaan ini, bisa-bisa aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah.
“Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu”
“Terima kasih Bu”, jawabku lirih sambil menundukkan kepala.
“Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu bicarakan dengan kamu, OK”.
“Tentang apa Bu?” tanyaku.
“Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu dan jangan menolak” pintanya tegas.
Akupun keluar dari ruangan Bu Mila dengan perasaan tidak karuan, aku marah atas perbuatan Bu Mila yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu mertua diketahui oleh orang lain.
“Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya”, Tanya Wilman sohibku.
“Ah, nggak ada apa-apa Wil Aku lagi capek aja”.
“Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu”.
“Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Bu Mila denger mati kamu”.
Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku.
Aku hanya melamun dan memikirkan Ibu mertua, kasihan sekali beliau harus dirawat sendirian, terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertua, kekasih gelapku, rasanya aku ingin terbang ke desa GL dan menemaninya, tapi apa daya dia melarangku.
Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Bu Mila, dan aku harus menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertua, uh.. rasanya mau meledak dada ini.
Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima. Ya aku hanya bisa pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.
“Kring..“, ku angkat telepon di meja kerjaku.
“Gimana? Sudah siap”, Tanya Bu Mila.
“Ya Bu saya siap”
“Ya sudah, kamu jalan duluan tunggu Ibu di ATM BNI pemuda”.
Ternyata Bu Mila tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain.
Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni, dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku, akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti biasanya.
“Aahh.. Ibuu.. aku.. mau keluarr..”.
Ku angkat badanku dan ku peluk dengan erat tubuh Ibu mertua, tanpa sadar Ibu mertua mengigit pundakku saat ejakulasi dan kami orgasme bersamaan.
“Deg-deg-deg-deg”, suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang menyadari perbuatan kami.
Buru-buru Aku dan Ibu mertuaku merapikan pakaian kami dan bergegas kembali kegerbong kami. Anak dan istriku masih lelap tertidur.
Aku dan Ibu mertuaku kembali ke posisi kami masing-masing dan tertidur dengan senyum penuh kepuasan.
Selama satu minggu Ibu Mertua berada di Jakarta, hampir setiap hari saat ada kesempatan aku dan Ibu Mertua selalu menyalurkan hasrat kami.
Apalagi saat Indri, istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantornya, Aku dan Ibu mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua semakin lupa diri.
Aku dan Ibu mertua tidur seranjang, layaknya suami istri, ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertua langsung menuntaskan hasrat kami berdua. Ku sirami terus menerus rahim Ibu Mertua dengan sperma peju kentalku.
Setelah istriku kembali dari Medan Bapak mertua minta agar Ibu mertua segera pulang ke GL, dengan berat hati akhirnya Ibu mertua pun kembali ke desa.
Setelah Ibu mertua kembali ke desa GL hari-hariku jadi sepi. Aku begitu ketagihan dengan permainan sex Ibu Mertua, Aku rindu jepitan memeknya serta pijitan anusnya pada kontolku dan jeritan jeritan joroknya saat orgasme sedang melandanya.
Pertengahan juni lalu Ibu mertua menelponku ke nomor kerjaku saat aku di kantor, aku begitu gembira sekali, tapi Ibu mertua memberikan kabar yang membuatku kaget, beliau terlambat datang bulan dan setelah diperiksa ke dokter dia positip hamil. Aku pikir dia sudah tidak bisa hamil lagi.
Jadinya semua peju yang sudah ku muntahkan didalam memeknya berakibat fatal.
Aku minta kepada Ibu mertua, agar melanjutkan saja kehamilan tersebut. Namun dia menolak karena itu sama saja dengan bunuh diri, sebab Bapak Mertua sudah lama tidak pernah lagi menggaulinya. Dan menurut dokter di usianya yang sekarang ini, sangat riskan sekali bagi Ibu mertua untuk hamil atau memiliki anak lagi, jadi Ibu mertuaku memutuskan untuk mengambil tindakan.
“Bu, apa perlu aku datang ke desa GL?”
Ibu mertua melarang, “Tidak usah sayang nanti malah bikin Bapak curiga, lagi pula ini hanya operasi kecil”.
Setelah aku yakin bahwa Ibu mertua tidak perlu ditemani, otak jorokku langsung terbayang tubuh telanjang Ibu mertua.
“Bu aku kangen sekali sama Ibu, aku kepengen banget nih Bu”
“Iya Mas, Ibu juga kangen sama Mas Pento. Tunggu ya sayang, setelah masalah ini selesai, akhir bulan Ibu datang. Mas Pento boleh entotin Ibu sepuasnya”.
Percakapan pun kami akhiri.
===xxx===
- Ngentot Bu Mila Janda Kesepian -
Saat aku sedang asyik asyiknya melamun memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Ibu mertuaku, aku dikagetkan oleh suara dering telepon dimejaku.
“Hallo, selamat pagi”.
“Pento, tolong kamu ke ruang Ibu sebentar”.
Akupun bergegas menuju rangan Bu Mila.
Bossku, Bu Mila ialah wanita setengah baya, yang sudah menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun payung di Sawangan. Aku taksir, usia Bu Mila kurang lebih 45 tahun.
Bu Mila seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun namun Bu Mila tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Bu Mila agak gemuk.
“Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya”.
“Oh nggak.., Ibu cuma mau tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan sama Bapak Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?”.
“Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya serahkan, biar tidak ada kesalahan”. Jawabku.
“Oh.. ya sudah kalau begitu, kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?”. Tanya Bu Mila.
“Tidak kok Bu.. Saya tidak apa-apa”.
“Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti malah tambah parah penyakitmu”.
“Ah.. nggak apa-apa Bu.. saya sehat kok”. Jawabku.
Saat aku hendak meninggalkan ruangan Bu Mila, aku sangat terkejut sekali, saat Bu Mila berkata,
“Makanya kalau selingkuh hati-hati dong Pen, Jangan terlalu berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil”.
Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali, aku sungguh-sungguh malu sekali.
“Dari mana Ibu tahu?” tanyaku.
“Maaf Pen, Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon kamu, kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu. Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu sendiri”.
Aku marah sekali, tapi apa daya beliau ini atasanku, selain itu Bu Mila juga saudara sepupu dari pemilik perusahaan ini, bisa-bisa aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah.
“Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu”
“Terima kasih Bu”, jawabku lirih sambil menundukkan kepala.
“Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu bicarakan dengan kamu, OK”.
“Tentang apa Bu?” tanyaku.
“Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu dan jangan menolak” pintanya tegas.
Akupun keluar dari ruangan Bu Mila dengan perasaan tidak karuan, aku marah atas perbuatan Bu Mila yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu mertua diketahui oleh orang lain.
“Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya”, Tanya Wilman sohibku.
“Ah, nggak ada apa-apa Wil Aku lagi capek aja”.
“Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu”.
“Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Bu Mila denger mati kamu”.
Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku.
Aku hanya melamun dan memikirkan Ibu mertua, kasihan sekali beliau harus dirawat sendirian, terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertua, kekasih gelapku, rasanya aku ingin terbang ke desa GL dan menemaninya, tapi apa daya dia melarangku.
Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Bu Mila, dan aku harus menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertua, uh.. rasanya mau meledak dada ini.
Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima. Ya aku hanya bisa pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.
“Kring..“, ku angkat telepon di meja kerjaku.
“Gimana? Sudah siap”, Tanya Bu Mila.
“Ya Bu saya siap”
“Ya sudah, kamu jalan duluan tunggu Ibu di ATM BNI pemuda”.
Ternyata Bu Mila tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain.
Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni, dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku, akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti biasanya.
Kurang lebih lima belas menit aku menunggu Bu Mila, tapi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, saat kesabaranku hampir habis, mobil Mercedes hitam milik Bu Mila masuk ke halaman ATM dan parkir. Bu Mila pun turun dari mobil dan berjalan kearah ATM.
“Hi.. Pento ngapain kamu disini?”, sapa Bu Mila.
Aku jadi bingung, namun Bu Mila mengedipkan matanya, akupun mengerti maksud Bu Mila, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang sedang antri mengambil uang.
“Saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga”, sahutku.
Bu Mila bergabung antri di depan ATM.
“Gimana, temenmu belum datang juga?” Saat Bu Mila keluar dari ruang ATM.
“Belum Bu”.
“Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah”.
Aku pun berjalan kearah mobil Bu Mila, aku duduk di depan disamping supir pribadi Bu Mila sementara Bu Mila sendiri duduk dibangku belakang.
“Ayo, Pak Bari kita pulang”
“Iya Nya..“, sahut Pak bari
“Untung aku ketemu kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman-temanmu kamu udah pulang”.
Uh.. batinku Bu Mila mulai bersandiwara lagi.
“Memangnya ada apa Ibu mencari saya?”.
“Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu, OK”.
Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai-sampai aku tidak tahu kalau kami sudah sampai tujuan.
“Ayo masuk”, ajak Bu Mila.
Aku sungguh terkagum-kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan megah. Aku dan Bu Mila pun masuk kerumahnya, semakin kedalam aku semakin bertambah kagum melihat isi rumah Bu Mila yang begitu antik dan mewah.
“Selamat sore Nyonya”,
“Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga, tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar Bapak Pento bekerja disana”.
“Baik Nya”.
Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem.
“Silakan Den, ini kamarnya”.
Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem. Sebuah kamar yang besar dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar.
“Kring.., kring..“, ku angkat telepon yang menempel di dinding.
“Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut”.
“iya Bu, terimakasih”.
Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.
Sudah hampir jam tujuh malam tapi Bu Mila belum muncul juga, yang ada malah Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku.
Saat aku sedang asyik menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan Bu Mila masuk kamar.
Aku benar-benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Bu Mila, tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Bu Mila datang menghampiriku dan ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Bu Mila, walaupun gendut tapi Bu Mila tetap cantik.
Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku, Bu Mila berkata kepadaku,
“Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua pakaian yang kamu kenakan”.
“Tapi Bu”, protesku.
“Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu?”.
Aku benar-benar sudah tidak punya pilihan lagi, ku lepas kaos yang ku kenakan, ku lepas juga celana pendek berikut cd ku, aku telanjang bulat sudah. Karena malu ku tutupi kontolku dengan kedua tanganku.
“Sial!”, makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Bu Mila.
“Lepas tanganmu! Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu!”, bentak Bu Mila.
“Mmmh.. lumayan juga kontolmu”.
Malu sekali aku mendengar komentar Bu Mila tentang ukuran kontolku, yang ukurannya hanya standar Indonesia.
“Nah, sekarang ceritakan semuanya”.
Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Ibu Mertua, mau tidak mau batang kontolku bangun dan tegak berdiri, karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami.
Bu Mila tampak mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Bu Mila menarik napas panjang. Tiba-tiba Bu Mila bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang dia kenakan.
Aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling berpengaruh dikantorku, sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku. Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Bu Mila membuat jakunku turun naik.
“Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu”, bentaknya lagi.
“Baik Bu”, akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Bu Mila menghampiri dan membuka kakiku kemudian mengelus-elus dan mengocok ngocok kontolku, aku sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.
“Aaahh..“, desahku tertahan saat mulut Bu Mila mulai mengulum kontolku.
“Ahh.. nikmat sekali”.
Ku angkat kepala Bu Mila, kamipun berciuman dengan liarnya, ku peluk tubuh gendut bossku.
“Bu.. kita pindah keranjang saja”, pintaku.
Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang. Ku rebahkan tubuh Bu Mila, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami.
“Ahh..“, Jerit Bu Mila saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya.
“Uhh Pento.. enak sayang”.
Ku telusuri tubuh Bu Mila dan jilatan lidahku menuju memek Bu Mila yang mulus tanpa jembut. Ku hisap memek Bu Mila dan kujilati seluruh lendir yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Bu Mila sudah sangat terangsang mendengar ceritaku.
“Ahh”, jerit Bu Mila saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku yang satu lagi meremas-remas teteknya.
Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai orgasmenya, aku makin beringas lidahku menjilati serta mengocok memeknya, sesekali mulutku menyedot-nyedot itilnya.
Usahaku berhasil, Bu Mila memohon agar aku segera mendokkan kontolku le lubang memeknya, tapi aku tidak mengindahkan keinginannya, ku percepat kocokan jari tanganku dilubang memek Bu Mila, tubuh Bu Mila makin menegang dan belingsatan.
“Aaarrgghh..! Pento!”, jerit Bu Mila, tubuhnya melenting, kakinya menjepit kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya,
Aku puas sekali melihat kondisi Bu Mila, seperti orang yang kehabisan napas, matanya terpejam, ku biarkan Bu Mila menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Tapi kontolku yang sudah kepalang ngaceng, ingin segera merasakan nikmatnya lobang vagina, maka ku cumbu kembali Bu Mila, kujilati teteknya, ku masukan lagi dua jariku kedalam memeknya yang sudah sangat basah.
“Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu”, pintanya.
Aku tidak memperdulikan permintaannya, ku balik tubuhnya hingga tengkurap.
“Jangan dulu Pentoo.. Ibu lemas sekali”.
Aku angkat tubuh tengkurapnya, Bu Mila pasrah dalam posisi nungging. Matanya masih terpejam.
“Hi.. Pento ngapain kamu disini?”, sapa Bu Mila.
Aku jadi bingung, namun Bu Mila mengedipkan matanya, akupun mengerti maksud Bu Mila, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang sedang antri mengambil uang.
“Saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga”, sahutku.
Bu Mila bergabung antri di depan ATM.
“Gimana, temenmu belum datang juga?” Saat Bu Mila keluar dari ruang ATM.
“Belum Bu”.
“Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah”.
Aku pun berjalan kearah mobil Bu Mila, aku duduk di depan disamping supir pribadi Bu Mila sementara Bu Mila sendiri duduk dibangku belakang.
“Ayo, Pak Bari kita pulang”
“Iya Nya..“, sahut Pak bari
“Untung aku ketemu kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman-temanmu kamu udah pulang”.
Uh.. batinku Bu Mila mulai bersandiwara lagi.
“Memangnya ada apa Ibu mencari saya?”.
“Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu, OK”.
Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai-sampai aku tidak tahu kalau kami sudah sampai tujuan.
“Ayo masuk”, ajak Bu Mila.
Aku sungguh terkagum-kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan megah. Aku dan Bu Mila pun masuk kerumahnya, semakin kedalam aku semakin bertambah kagum melihat isi rumah Bu Mila yang begitu antik dan mewah.
“Selamat sore Nyonya”,
“Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga, tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar Bapak Pento bekerja disana”.
“Baik Nya”.
Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem.
“Silakan Den, ini kamarnya”.
Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem. Sebuah kamar yang besar dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar.
“Kring.., kring..“, ku angkat telepon yang menempel di dinding.
“Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut”.
“iya Bu, terimakasih”.
Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.
Sudah hampir jam tujuh malam tapi Bu Mila belum muncul juga, yang ada malah Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku.
Saat aku sedang asyik menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan Bu Mila masuk kamar.
Aku benar-benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Bu Mila, tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Bu Mila datang menghampiriku dan ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Bu Mila, walaupun gendut tapi Bu Mila tetap cantik.
Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku, Bu Mila berkata kepadaku,
“Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua pakaian yang kamu kenakan”.
“Tapi Bu”, protesku.
“Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu?”.
Aku benar-benar sudah tidak punya pilihan lagi, ku lepas kaos yang ku kenakan, ku lepas juga celana pendek berikut cd ku, aku telanjang bulat sudah. Karena malu ku tutupi kontolku dengan kedua tanganku.
“Sial!”, makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Bu Mila.
“Lepas tanganmu! Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu!”, bentak Bu Mila.
“Mmmh.. lumayan juga kontolmu”.
Malu sekali aku mendengar komentar Bu Mila tentang ukuran kontolku, yang ukurannya hanya standar Indonesia.
“Nah, sekarang ceritakan semuanya”.
Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Ibu Mertua, mau tidak mau batang kontolku bangun dan tegak berdiri, karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami.
Bu Mila tampak mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Bu Mila menarik napas panjang. Tiba-tiba Bu Mila bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang dia kenakan.
Aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling berpengaruh dikantorku, sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku. Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Bu Mila membuat jakunku turun naik.
“Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu”, bentaknya lagi.
“Baik Bu”, akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Bu Mila menghampiri dan membuka kakiku kemudian mengelus-elus dan mengocok ngocok kontolku, aku sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.
“Aaahh..“, desahku tertahan saat mulut Bu Mila mulai mengulum kontolku.
“Ahh.. nikmat sekali”.
Ku angkat kepala Bu Mila, kamipun berciuman dengan liarnya, ku peluk tubuh gendut bossku.
“Bu.. kita pindah keranjang saja”, pintaku.
Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang. Ku rebahkan tubuh Bu Mila, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami.
“Ahh..“, Jerit Bu Mila saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya.
“Uhh Pento.. enak sayang”.
Ku telusuri tubuh Bu Mila dan jilatan lidahku menuju memek Bu Mila yang mulus tanpa jembut. Ku hisap memek Bu Mila dan kujilati seluruh lendir yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Bu Mila sudah sangat terangsang mendengar ceritaku.
“Ahh”, jerit Bu Mila saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku yang satu lagi meremas-remas teteknya.
Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai orgasmenya, aku makin beringas lidahku menjilati serta mengocok memeknya, sesekali mulutku menyedot-nyedot itilnya.
Usahaku berhasil, Bu Mila memohon agar aku segera mendokkan kontolku le lubang memeknya, tapi aku tidak mengindahkan keinginannya, ku percepat kocokan jari tanganku dilubang memek Bu Mila, tubuh Bu Mila makin menegang dan belingsatan.
“Aaarrgghh..! Pento!”, jerit Bu Mila, tubuhnya melenting, kakinya menjepit kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya,
Aku puas sekali melihat kondisi Bu Mila, seperti orang yang kehabisan napas, matanya terpejam, ku biarkan Bu Mila menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Tapi kontolku yang sudah kepalang ngaceng, ingin segera merasakan nikmatnya lobang vagina, maka ku cumbu kembali Bu Mila, kujilati teteknya, ku masukan lagi dua jariku kedalam memeknya yang sudah sangat basah.
“Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu”, pintanya.
Aku tidak memperdulikan permintaannya, ku balik tubuhnya hingga tengkurap.
“Jangan dulu Pentoo.. Ibu lemas sekali”.
Aku angkat tubuh tengkurapnya, Bu Mila pasrah dalam posisi nungging. Matanya masih terpejam.
Ku gesek gesekan kontolku kelubang memeknya. Ku tekan dengan keras dan.. Blesss masuk semua batang kontolku tertelan lubang nikmat memek Bu Mila.
“Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat”.
Akupun mulai mengayunkan kontolku di lubang memek Bu Mila, orang yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku. Aku puas sekali.
Ku pompa dengan cepat kontoku di lubang memeknya, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Bu Mila dengan tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku.
“Uhh..“, jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut.
Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku. Ku pompa dengan cepat kontolku, Bu Milapun makin belingsatan kepalanya bergerak kekiri dan kekanan.
“Ahh.. bu.. aku mau.. keluar.. “.
Dan tak bisa ditahan lagi, muncratlah spermaku didalam Memek Bu Mila, beberapa detik kemudian Bu Mila pun menyusul mendapatkan orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Bu Mila tidak peduli apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.
Bu Mila rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk tubuh gendut Bu Mila. Nikmat sekali.. , Orgasme yang baru saja kami raih bersamaan.
Ku lihat Bu Mila sudah lelap tertidur, dari celah belahan memek Bu Mila, air maniku masih mengalir, aku benar-benar puas karena orang yang telah melecehkanku sudah ku buat KO.
Ku ciumi kembali tubuh Bu Mila, kontolkupun tegak kembali, ku balik tubuh Bu Mila agar telentang, ku angkat dan ku kangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Bu Mila.
“Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang”, Lirih sekali suara Bu Mila.
Aku sudah tidak peduli, langsung ku tancapkan kontolku ke memek nikmat Ibu Mila.
Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Mila terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku, rasanya saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan bu Mila hanya memejamkan matanya.
Ku kocok dengan cepat dan keras keluar masuknya kontolku di lubang memek bu Mila.. dan langsung ku cabut kontolku dan ku muncratkan air maniku diatas perutnya.
Karena lelah akupun tertidur disamping tubuh telanjang Ibu Mila, sambil ku peluk tubuhnya.
Saat aku terbangun ku lihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, buru-buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan mengenakan pakaian kerjaku.
“Bu.. Bu Mila.. bangun Bu. “.
Akhirnya dengan malas Ibu Mila membuka matanya.
“Sudah malam Bu saya mau pulang”.
“Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi”. Bu Mila bangkit mengenakan pakaiannya.
Kami berdua berjalan keluar kamar.
“Tunggu sebentar ya Pento" kemudian Ibu Mila masuk kekamarnya.
Beberapa saat kemudian Ibu Mila keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang menawan.
“Ini untuk kamu”.
“Apa ini Bu?”, Tanyaku, saat Ibu Mila menyodorkan sebuah amplop kepadaku.
Aku menolak pemberian Ibu Mila, namun Ibu Mila terus memaksaku untuk menerimanya. Terpaksa ku kantongi amplop yang diberikan Ibu Mila lalu kembali kami berciuman dengan mesranya.
Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja bersetubuh dengan Ibu Mila. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku benar-benar menikmatinya.
*****
Keesokan harinya..
Ketika aku sudah tiba di kantor, aku hanya senyum-senyum sendiri membayangkan bu Mila atasanku. Orang yang begitu ditakuti di kantorku ini akhirnya menyerah pasrah dalam pelukanku, memohon-mohon agar ladangnya segera dicangkul dan disirami oleh air kehidupan yang begitu nikmat.
Aku hanya tersenyum sendiri kalau mengingat apa yang terjadi semalam antara aku dengan bu Mila.
Aku benar-benar menunggu kedatangan orang yang paling berpengaruh dikantorku dan ingin sekali melihat reaksi dan expresi bu Mila kepadaku. Setelah lewat setengah jam, bu Mila belum Muncul juga.
Dari Yena, sekretaris bu Mila aku tahu, bahwa hari ini bu Mila tidak masuk kantor karena kurang enak badan.
Banyak teman-teman yang tersenyum lepas, karena bisa bebas bekerja tanpa perlu ada yang ditakuti.
Cuma aku yang tidak senang atas peristiwa ini, karena aku ingin sekali melihat expresi wajah bu Mila.
Ya sudahlah Akupun sibuk dan larut dengan pekerjaanku.
Tanpa terasa sudah jam sepuluh pagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dering Hpku, tanda bahwa ada pesan yang masuk. Aku lihat ternyata bu Mila yang mengirim pesan, segera ku baca isi pesan tersebut..
--isi pesan--
"Pento.. kamu lumayan juga di atas ranjang.. jadi wajar kalau Ibu mertuamu sampai hamil."
"Hari ini saya nggak masuk kerja. Saya tunggu kamu di rumah saya jam satu siang. Minta izin sama Siska bilang saja kamu sakit."
"Mila."
--0--
Uh dasar Boss, Sudah jelas jelas kemarin ku buat KO di atas ranjang, masih bilang aku hanya lumayan.
Tapi aku bersyukur juga, berarti hari ini aku bisa mengentot bu Mila lagi. Langsung terbayang semua kenikmatan yang akan ku peroleh dari tubuh gendut semok bu Mila.
Dengan alasan kurang enak badan, akupun izin untuk istirahat pulang, ku telpon taksi, saat taksi sudah datang, akupun langsung cabut dari kantorku menuju rumah bu Mila.
Setelah mendapat SMS dari bu Mila, aku begitu penuh semangat, hari ini aku ingin membuat bu Mila mengemis dan mohon ampun padaku. Cuma aku sadar, kemampuan seksku tidaklah terlalu hebat. Nggak mungkinlah, aku bisa kuat ngentot berjam-jam.
Untuk menambah stamina dan daya tahan seks ku, aku mampir ke salah satu toko yang menjual obat kuat, dari uang yang diberikan bu Mila kepadaku, aku beli beberapa butir obat kuat yang cukup ampuh. Di dalam taksi langsung aku minum sebutir.
Hahaha.. rasakan nanti..! Batinku.
Jam satu kurang, aku sudah tiba di rumah bu Mila, Ku pencet bell dengan perasaan berdebar.
Saat pintu gerbang terbuka ku lihat Agus, satpam penjaga rumah bu Mila membukakan pintu.
"Eh.. Bapak Pento Silahkan masuk Pak, Ibu sudah menunggu Bapak di dalam..”
"Terimakasih Pak..” jawabku.
Akupun masuk ke dalam, jauh juga jarak dari pintu gerbang sampai kepintu rumah bu Mila. Terlihat bu Mila sudah menunggu diteras rumahnya dan melambaikan tangannya.
"Hai, kamu datang juga.. aku pikir kamu nggak datang..” sapa bu Mila.
"Aku pasti datang Bu, kalau tidak datang, bisa-bisa rahasiaku terbongkar..” candaku.
"Ayo masuk, kamu sudah makan siang belum..? Kita makan sama-sama, hari ini Ibu sudah pesankan makanan untuk kita berdua. Spesial buat kamu dan Ibu..”
Mmm.. ramah sekali bu Mila hari ini.. batinku.
Aku dan bu Mila masuk ke dalam ruangan yang begitu besar, sepertinya kamar tidur bu Mila. Di dekat jendela yang menghadap ke arah kolam renang, aku melihat sebuah meja kecil yang sudah ditata rapi, dengan nyala lilin dan sebotol wine, romantis sekali.
Aku dan bu Mila duduk berhadapan, bu Mila begitu lemah lembut, kamipun makan siang bersama, dalam suasana kamar yang begitu romantis.
"Boleh saya merokok di sini Bu?"
"Silakan Pento, dulu almarhum suami Ibu juga seorang perokok..” jawab bu Mila.
"Kamu mau Minum wine..?” tanya bu Mila.
Kemudian bu Mila memberikan segelas wine untukku, kami terus ngobrol sambil menghabiskan minuman kami.
“Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat”.
Akupun mulai mengayunkan kontolku di lubang memek Bu Mila, orang yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku. Aku puas sekali.
Ku pompa dengan cepat kontoku di lubang memeknya, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Bu Mila dengan tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku.
“Uhh..“, jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut.
Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku. Ku pompa dengan cepat kontolku, Bu Milapun makin belingsatan kepalanya bergerak kekiri dan kekanan.
“Ahh.. bu.. aku mau.. keluar.. “.
Dan tak bisa ditahan lagi, muncratlah spermaku didalam Memek Bu Mila, beberapa detik kemudian Bu Mila pun menyusul mendapatkan orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Bu Mila tidak peduli apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.
Bu Mila rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk tubuh gendut Bu Mila. Nikmat sekali.. , Orgasme yang baru saja kami raih bersamaan.
Ku lihat Bu Mila sudah lelap tertidur, dari celah belahan memek Bu Mila, air maniku masih mengalir, aku benar-benar puas karena orang yang telah melecehkanku sudah ku buat KO.
Ku ciumi kembali tubuh Bu Mila, kontolkupun tegak kembali, ku balik tubuh Bu Mila agar telentang, ku angkat dan ku kangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Bu Mila.
“Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang”, Lirih sekali suara Bu Mila.
Aku sudah tidak peduli, langsung ku tancapkan kontolku ke memek nikmat Ibu Mila.
Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Mila terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku, rasanya saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan bu Mila hanya memejamkan matanya.
Ku kocok dengan cepat dan keras keluar masuknya kontolku di lubang memek bu Mila.. dan langsung ku cabut kontolku dan ku muncratkan air maniku diatas perutnya.
Karena lelah akupun tertidur disamping tubuh telanjang Ibu Mila, sambil ku peluk tubuhnya.
Saat aku terbangun ku lihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, buru-buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan mengenakan pakaian kerjaku.
“Bu.. Bu Mila.. bangun Bu. “.
Akhirnya dengan malas Ibu Mila membuka matanya.
“Sudah malam Bu saya mau pulang”.
“Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi”. Bu Mila bangkit mengenakan pakaiannya.
Kami berdua berjalan keluar kamar.
“Tunggu sebentar ya Pento" kemudian Ibu Mila masuk kekamarnya.
Beberapa saat kemudian Ibu Mila keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang menawan.
“Ini untuk kamu”.
“Apa ini Bu?”, Tanyaku, saat Ibu Mila menyodorkan sebuah amplop kepadaku.
Aku menolak pemberian Ibu Mila, namun Ibu Mila terus memaksaku untuk menerimanya. Terpaksa ku kantongi amplop yang diberikan Ibu Mila lalu kembali kami berciuman dengan mesranya.
Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja bersetubuh dengan Ibu Mila. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku benar-benar menikmatinya.
*****
Keesokan harinya..
Ketika aku sudah tiba di kantor, aku hanya senyum-senyum sendiri membayangkan bu Mila atasanku. Orang yang begitu ditakuti di kantorku ini akhirnya menyerah pasrah dalam pelukanku, memohon-mohon agar ladangnya segera dicangkul dan disirami oleh air kehidupan yang begitu nikmat.
Aku hanya tersenyum sendiri kalau mengingat apa yang terjadi semalam antara aku dengan bu Mila.
Aku benar-benar menunggu kedatangan orang yang paling berpengaruh dikantorku dan ingin sekali melihat reaksi dan expresi bu Mila kepadaku. Setelah lewat setengah jam, bu Mila belum Muncul juga.
Dari Yena, sekretaris bu Mila aku tahu, bahwa hari ini bu Mila tidak masuk kantor karena kurang enak badan.
Banyak teman-teman yang tersenyum lepas, karena bisa bebas bekerja tanpa perlu ada yang ditakuti.
Cuma aku yang tidak senang atas peristiwa ini, karena aku ingin sekali melihat expresi wajah bu Mila.
Ya sudahlah Akupun sibuk dan larut dengan pekerjaanku.
Tanpa terasa sudah jam sepuluh pagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dering Hpku, tanda bahwa ada pesan yang masuk. Aku lihat ternyata bu Mila yang mengirim pesan, segera ku baca isi pesan tersebut..
--isi pesan--
"Pento.. kamu lumayan juga di atas ranjang.. jadi wajar kalau Ibu mertuamu sampai hamil."
"Hari ini saya nggak masuk kerja. Saya tunggu kamu di rumah saya jam satu siang. Minta izin sama Siska bilang saja kamu sakit."
"Mila."
--0--
Uh dasar Boss, Sudah jelas jelas kemarin ku buat KO di atas ranjang, masih bilang aku hanya lumayan.
Tapi aku bersyukur juga, berarti hari ini aku bisa mengentot bu Mila lagi. Langsung terbayang semua kenikmatan yang akan ku peroleh dari tubuh gendut semok bu Mila.
Dengan alasan kurang enak badan, akupun izin untuk istirahat pulang, ku telpon taksi, saat taksi sudah datang, akupun langsung cabut dari kantorku menuju rumah bu Mila.
Setelah mendapat SMS dari bu Mila, aku begitu penuh semangat, hari ini aku ingin membuat bu Mila mengemis dan mohon ampun padaku. Cuma aku sadar, kemampuan seksku tidaklah terlalu hebat. Nggak mungkinlah, aku bisa kuat ngentot berjam-jam.
Untuk menambah stamina dan daya tahan seks ku, aku mampir ke salah satu toko yang menjual obat kuat, dari uang yang diberikan bu Mila kepadaku, aku beli beberapa butir obat kuat yang cukup ampuh. Di dalam taksi langsung aku minum sebutir.
Hahaha.. rasakan nanti..! Batinku.
Jam satu kurang, aku sudah tiba di rumah bu Mila, Ku pencet bell dengan perasaan berdebar.
Saat pintu gerbang terbuka ku lihat Agus, satpam penjaga rumah bu Mila membukakan pintu.
"Eh.. Bapak Pento Silahkan masuk Pak, Ibu sudah menunggu Bapak di dalam..”
"Terimakasih Pak..” jawabku.
Akupun masuk ke dalam, jauh juga jarak dari pintu gerbang sampai kepintu rumah bu Mila. Terlihat bu Mila sudah menunggu diteras rumahnya dan melambaikan tangannya.
"Hai, kamu datang juga.. aku pikir kamu nggak datang..” sapa bu Mila.
"Aku pasti datang Bu, kalau tidak datang, bisa-bisa rahasiaku terbongkar..” candaku.
"Ayo masuk, kamu sudah makan siang belum..? Kita makan sama-sama, hari ini Ibu sudah pesankan makanan untuk kita berdua. Spesial buat kamu dan Ibu..”
Mmm.. ramah sekali bu Mila hari ini.. batinku.
Aku dan bu Mila masuk ke dalam ruangan yang begitu besar, sepertinya kamar tidur bu Mila. Di dekat jendela yang menghadap ke arah kolam renang, aku melihat sebuah meja kecil yang sudah ditata rapi, dengan nyala lilin dan sebotol wine, romantis sekali.
Aku dan bu Mila duduk berhadapan, bu Mila begitu lemah lembut, kamipun makan siang bersama, dalam suasana kamar yang begitu romantis.
"Boleh saya merokok di sini Bu?"
"Silakan Pento, dulu almarhum suami Ibu juga seorang perokok..” jawab bu Mila.
"Kamu mau Minum wine..?” tanya bu Mila.
Kemudian bu Mila memberikan segelas wine untukku, kami terus ngobrol sambil menghabiskan minuman kami.
Ku peluk tubuh bu Mila dari belakang saat bu Mila berdiri dijendela memandang keluar. Ku cium dengan lembut pipinya, bibirnya, burungku yang menempel tepat di belahan pantat bu Milapun sudah tegak berdiri, sampai sakit sekali rasanya, mungkin pengaruh obat kuat yang sudah aku minum.
"Pento, Sebenarnya Ibu mau mengajak kamu makan malam disuatu tempat yang romantis sekali.. Cuma Ibu tahu, kamu tidak punya banyak waktu kalau malam hari jadi Ibu ajak kamu makan siang di sini, dikamar Ibu dan sengaja suasananya Ibu buat seperti ini, agar tetap terkesan romantis.."
"Terimakasih Bu, Ibu baik sekali..” Jawabku.
"Kamu tahu Pen? Ini kamar tidur Ibu dan almarhum Bapak, kamu lelaki kedua setelah almahum Bapak, yang boleh masuk di kamar ini.
Ibu sudah lama suka sama kamu. Cuma Ibu nggak yakin, melihat gayamu yang cool, apa iya kamu mau sama Ibu..? Untung Ibu mendengar pembicaraan kamu dan Ibu mertuamu, yah terpaksa Ibu harus mainkan siasat, untuk mendapatkan kamu..” ungkapnya panjang lebar.
"Pento kamu mau kan.. hari ini kamu bercinta dengan Ibu tanpa merasa terpaksa..?”
Aku tersenyum dan ku pandangi wajah bu Mila, aku merasa bangga sekali, ku peluk lebih erat lagi tubuh bu Mila.
Tubuhku sudah panas rasanya, bu Mila berbalik, kami sudah saling berhadapan. Kupandangi wajah bu Mila, cantik sekali, ku kecup lembut bibir bu Mila, kami berdua sudah saling melumat.
Lama sekali kami berciuman, suasana yang begitu romantis menambah tinggi gairah kami berdua.
Ku lepas pakaian yang di kenakan bu Mila, ku ciumi lehernya, bu Mila mendesah menikmati cumbuan yang aku berikan, ku buka BHnya, ku remas dengan lembut teteknya.
Ciumanku terus turun ke arah buah dadanya, ku jilati dan ku hisap teteknya, bu Milapun semakin mengeliat dan semakin keras desahannya.
"Uh.. Pento.. Terus isap sayang.. Uhh.. Enak.. Pen..”
Setelah puas bermain-main di buah dada bu Mila ciumanku turun keperutnya. Ku jilati pusar bu Mila sambil tanganku berusaha melepas celana dalamnya yang merupakan penutup terakhir di tubuhnya.
Masih dalam posisi berdiri ku jilati memeknya, ku cecap semua lendir yang keluar, dendam yang tadinya begitu mengebu gebu hilang sudah, aku begitu lembut memperlakukan bu Mila.
"Ah.. pento.. nikmat sekali sayang, buka pakaianmu sayang..”
Jari jemari tangan bu Mila dengan lincah melepas kancing pakaianku. Satu persatu pakaian yang ku kenakan terlepas sudah. Akhirnya kami berdua sudah telanjang bulat.
Diisapnya puting dadaku, sambil tangannya meremas remas kontolku yang sudah sangat tegak berdiri.
"Pento aku ingin kita melakukannya di tempat tidur, puaskan aku sayang..”
Kami berdua berjalan menuju kepembaringan, tangan bu Mila terus memegangi kontolku. Tubuhku direbahkan di atas pembaringan, kemudian kontolku di kulum dengan lembut, nikmat sekali kuluman bu Mila.
"Oh.. Pento Ibu sudah tidak tahan lagi.. Ibu masukin ya sayang..”
Kemudian bu Mila menaiki tubuhku, digemgamnya kontolku dan diarahkan ke lubang memeknya, perlahan lahan sekali bu Mila menurunkan pantatnya, mili demi mili batang kontolku masuk meluncur ke dalam memeknya yang basah.
"Ahh..” rintih kami berdua, saat kontolku terbenam semua didalam memeknya.
Aku lihat bu Mila memejamkan mata dan mengigit bibirnya menikmati sensasi yang begitu indah.
Dia angkat pantatnya dengan perlahan sekali, menikmati gesekan batang kontolku dengan dinding memeknya, kemudian diturunkan kembali dengan sangat perlahan.
Semakin lama gerakan naik-turun pantat bu Mila semakin cepat.
"Akkhh.. Pento.. ampun..!! Enak sekali sayang.. kontolmu enak sekali sayang..”
Bu Mila terus menjerit mendesah berteriak menikmati sensasi nikmat dari pertemuan batang kontolku dengan lubang memeknya.
Kontolku yang begitu tegak perkasa terus menerus menerima gesekan demi gesekan dari lubang memek bu Mila.
"Iya.. Bu, aku juga nikmat goyang terus Bu..”
Ku remas tetek bu Mila, aku angkat badanku ku hisap teteknya, goyangan pinggul bu Mila makin menggila dan terkendali.
Jujur saja, kalau bukan karena pengaruh obat kuat yang aku minum, Mungkin aku sudah ejakulasi dan sudah tidak sanggup lagi bertahan mengimbangi goyangan pantat bu Mila yang begitu liar.
"Oh.. Pento.. Ibu.. sudah nggak sanggup lagi.. Ibu mau keluuarr..”
"Ayo.. Bu.. keluarin semuanya Bu.. Nikmatin.. Bu..”
Kuisap dengan kuat tetek bu Mila dan bu Milapun makin mempercepat goyangan pinggulnya menanti saat saat datangnya orgasme.
"Pentoo.. Arrgghh..” jerit bu Mila, memek bu Mila dengan kuat mencengkram batang kontolku.
Sungguh menyesal aku meminum obat kuat, padahal saat seperti inilah, saat yang paling nikmat untuk secara bersamaan melepaskan orgame yang sudah tertahan. Namun kalau aku tidak meminumnya, aku juga tidak tahu apakah aku sanggup bertahan dari serangan dan goyangan pantat bu Mila.
Dipeluknya aku dengan erat sekali. "Hu.. hu.. hu..” bu Mila menangis.
Aku peluk tubuhnya dengan erat. Ku rebahkan badanku, bu Mila ikut rebah sambil terus memelukku.
Ku biarkan bu Mila menikmati orgasmenya. Ku kecup kening bu Mila, ku belai rambutnya dengan penuh kasih sayang, sementara kontolku masih terus terbenam di dalam lubang memek bu Mila.
"Enak sayang..?” Tanyaku.
"Enak sekali Pen, dasyat sekali rasanya.." jawab bu Mila lirih.
"Kamu sudah keluar Pento..?”
"Belum Bu, tidak apa-apa, yang penting Ibu puas..” Jawabku.
"Ibu lemas sekali Pento, kasihan kamu belum keluar..”
"Tidak apa-apa Bu, Ibu istirahat dulu, nanti kita lanjutkan lagi, toh waktu kita masih panjang..” jawabku.
Bu Mila mengangkat tubuhnya dan langung menghempaskannya kembali di sampingku.
Kontolku masih tegak berdiri, sama sekali belum terlihat tanda-tanda hendak memuntahkan isinya.
Bu Mila merebahkan kepalanya di dadaku, ku peluk tubuh bu Mila, sambil ku belai belai rambutnya.
Akhirnya bu Milapun tertidur.
Ku pandangi wajahnya, ada senyum kepuasan di sana.
Seandainya saja dendamku belum hilang mungkin aku tidak peduli apakah bu Mila lelah atau tidak, pasti sudah ku tancapkan kembali kontolku yang masih tegak berdiri ke lubang memek bu Mila sampai Ia minta ampun dan memohon mohon padaku.
Hari itu sampai jam sepuluh malam aku dan bu Mila benar-benar menghabiskan waktu kami hanya untuk bersetubuh meraih kenikmatan demi kenikmatan. Kami berdua melakukannya dengan penuh perasaan.
Ternyata di balik ketegaran yang diperlihatkannya di kantor, bu Mila tetaplah seorang wanita yang butuh perhatian dan kasih sayang.
===xxx===
Aku semakin lama semakin tengelam dalam lumpur kehidupan yang begitu dalam. Aku benar-benar jadi ketagihan berhubungan seks dengan wanita-wanita yang usianya jauh lebih tua dariku.
Hubungan cintaku dengan Ibu mertua masih terus berlanjut sampai saat ini. Jika aku sudah sangat rindu akan tubuh Ibu mertua aku menelponnya, kami janjian untuk bertemu di salah satu hotel yang lokasinya dekat dengan bandara.
Dari pagi kami tumpahkan semua rasa rindu kami. Sehari penuh kami tidak keluar kamar, mengejar sejuta kenikmatan. Sore harinya aku segera kembali ke Jakarta.
Pernah juga, saat menunggu di pesawatku berangkat birahiku begitu tinggi, aku dan Ibu mertua masuk ke toilet Bandara yang cukup sepi. Kami ngewe ditoilet dengan gaya berdiri dan nungging, kami lakukan secepat mungkin agar tak dicurigai maupun diketahui orang.
"Pento, Sebenarnya Ibu mau mengajak kamu makan malam disuatu tempat yang romantis sekali.. Cuma Ibu tahu, kamu tidak punya banyak waktu kalau malam hari jadi Ibu ajak kamu makan siang di sini, dikamar Ibu dan sengaja suasananya Ibu buat seperti ini, agar tetap terkesan romantis.."
"Terimakasih Bu, Ibu baik sekali..” Jawabku.
"Kamu tahu Pen? Ini kamar tidur Ibu dan almarhum Bapak, kamu lelaki kedua setelah almahum Bapak, yang boleh masuk di kamar ini.
Ibu sudah lama suka sama kamu. Cuma Ibu nggak yakin, melihat gayamu yang cool, apa iya kamu mau sama Ibu..? Untung Ibu mendengar pembicaraan kamu dan Ibu mertuamu, yah terpaksa Ibu harus mainkan siasat, untuk mendapatkan kamu..” ungkapnya panjang lebar.
"Pento kamu mau kan.. hari ini kamu bercinta dengan Ibu tanpa merasa terpaksa..?”
Aku tersenyum dan ku pandangi wajah bu Mila, aku merasa bangga sekali, ku peluk lebih erat lagi tubuh bu Mila.
Tubuhku sudah panas rasanya, bu Mila berbalik, kami sudah saling berhadapan. Kupandangi wajah bu Mila, cantik sekali, ku kecup lembut bibir bu Mila, kami berdua sudah saling melumat.
Lama sekali kami berciuman, suasana yang begitu romantis menambah tinggi gairah kami berdua.
Ku lepas pakaian yang di kenakan bu Mila, ku ciumi lehernya, bu Mila mendesah menikmati cumbuan yang aku berikan, ku buka BHnya, ku remas dengan lembut teteknya.
Ciumanku terus turun ke arah buah dadanya, ku jilati dan ku hisap teteknya, bu Milapun semakin mengeliat dan semakin keras desahannya.
"Uh.. Pento.. Terus isap sayang.. Uhh.. Enak.. Pen..”
Setelah puas bermain-main di buah dada bu Mila ciumanku turun keperutnya. Ku jilati pusar bu Mila sambil tanganku berusaha melepas celana dalamnya yang merupakan penutup terakhir di tubuhnya.
Masih dalam posisi berdiri ku jilati memeknya, ku cecap semua lendir yang keluar, dendam yang tadinya begitu mengebu gebu hilang sudah, aku begitu lembut memperlakukan bu Mila.
"Ah.. pento.. nikmat sekali sayang, buka pakaianmu sayang..”
Jari jemari tangan bu Mila dengan lincah melepas kancing pakaianku. Satu persatu pakaian yang ku kenakan terlepas sudah. Akhirnya kami berdua sudah telanjang bulat.
Diisapnya puting dadaku, sambil tangannya meremas remas kontolku yang sudah sangat tegak berdiri.
"Pento aku ingin kita melakukannya di tempat tidur, puaskan aku sayang..”
Kami berdua berjalan menuju kepembaringan, tangan bu Mila terus memegangi kontolku. Tubuhku direbahkan di atas pembaringan, kemudian kontolku di kulum dengan lembut, nikmat sekali kuluman bu Mila.
"Oh.. Pento Ibu sudah tidak tahan lagi.. Ibu masukin ya sayang..”
Kemudian bu Mila menaiki tubuhku, digemgamnya kontolku dan diarahkan ke lubang memeknya, perlahan lahan sekali bu Mila menurunkan pantatnya, mili demi mili batang kontolku masuk meluncur ke dalam memeknya yang basah.
"Ahh..” rintih kami berdua, saat kontolku terbenam semua didalam memeknya.
Aku lihat bu Mila memejamkan mata dan mengigit bibirnya menikmati sensasi yang begitu indah.
Dia angkat pantatnya dengan perlahan sekali, menikmati gesekan batang kontolku dengan dinding memeknya, kemudian diturunkan kembali dengan sangat perlahan.
Semakin lama gerakan naik-turun pantat bu Mila semakin cepat.
"Akkhh.. Pento.. ampun..!! Enak sekali sayang.. kontolmu enak sekali sayang..”
Bu Mila terus menjerit mendesah berteriak menikmati sensasi nikmat dari pertemuan batang kontolku dengan lubang memeknya.
Kontolku yang begitu tegak perkasa terus menerus menerima gesekan demi gesekan dari lubang memek bu Mila.
"Iya.. Bu, aku juga nikmat goyang terus Bu..”
Ku remas tetek bu Mila, aku angkat badanku ku hisap teteknya, goyangan pinggul bu Mila makin menggila dan terkendali.
Jujur saja, kalau bukan karena pengaruh obat kuat yang aku minum, Mungkin aku sudah ejakulasi dan sudah tidak sanggup lagi bertahan mengimbangi goyangan pantat bu Mila yang begitu liar.
"Oh.. Pento.. Ibu.. sudah nggak sanggup lagi.. Ibu mau keluuarr..”
"Ayo.. Bu.. keluarin semuanya Bu.. Nikmatin.. Bu..”
Kuisap dengan kuat tetek bu Mila dan bu Milapun makin mempercepat goyangan pinggulnya menanti saat saat datangnya orgasme.
"Pentoo.. Arrgghh..” jerit bu Mila, memek bu Mila dengan kuat mencengkram batang kontolku.
Sungguh menyesal aku meminum obat kuat, padahal saat seperti inilah, saat yang paling nikmat untuk secara bersamaan melepaskan orgame yang sudah tertahan. Namun kalau aku tidak meminumnya, aku juga tidak tahu apakah aku sanggup bertahan dari serangan dan goyangan pantat bu Mila.
Dipeluknya aku dengan erat sekali. "Hu.. hu.. hu..” bu Mila menangis.
Aku peluk tubuhnya dengan erat. Ku rebahkan badanku, bu Mila ikut rebah sambil terus memelukku.
Ku biarkan bu Mila menikmati orgasmenya. Ku kecup kening bu Mila, ku belai rambutnya dengan penuh kasih sayang, sementara kontolku masih terus terbenam di dalam lubang memek bu Mila.
"Enak sayang..?” Tanyaku.
"Enak sekali Pen, dasyat sekali rasanya.." jawab bu Mila lirih.
"Kamu sudah keluar Pento..?”
"Belum Bu, tidak apa-apa, yang penting Ibu puas..” Jawabku.
"Ibu lemas sekali Pento, kasihan kamu belum keluar..”
"Tidak apa-apa Bu, Ibu istirahat dulu, nanti kita lanjutkan lagi, toh waktu kita masih panjang..” jawabku.
Bu Mila mengangkat tubuhnya dan langung menghempaskannya kembali di sampingku.
Kontolku masih tegak berdiri, sama sekali belum terlihat tanda-tanda hendak memuntahkan isinya.
Bu Mila merebahkan kepalanya di dadaku, ku peluk tubuh bu Mila, sambil ku belai belai rambutnya.
Akhirnya bu Milapun tertidur.
Ku pandangi wajahnya, ada senyum kepuasan di sana.
Seandainya saja dendamku belum hilang mungkin aku tidak peduli apakah bu Mila lelah atau tidak, pasti sudah ku tancapkan kembali kontolku yang masih tegak berdiri ke lubang memek bu Mila sampai Ia minta ampun dan memohon mohon padaku.
Hari itu sampai jam sepuluh malam aku dan bu Mila benar-benar menghabiskan waktu kami hanya untuk bersetubuh meraih kenikmatan demi kenikmatan. Kami berdua melakukannya dengan penuh perasaan.
Ternyata di balik ketegaran yang diperlihatkannya di kantor, bu Mila tetaplah seorang wanita yang butuh perhatian dan kasih sayang.
===xxx===
Aku semakin lama semakin tengelam dalam lumpur kehidupan yang begitu dalam. Aku benar-benar jadi ketagihan berhubungan seks dengan wanita-wanita yang usianya jauh lebih tua dariku.
Hubungan cintaku dengan Ibu mertua masih terus berlanjut sampai saat ini. Jika aku sudah sangat rindu akan tubuh Ibu mertua aku menelponnya, kami janjian untuk bertemu di salah satu hotel yang lokasinya dekat dengan bandara.
Dari pagi kami tumpahkan semua rasa rindu kami. Sehari penuh kami tidak keluar kamar, mengejar sejuta kenikmatan. Sore harinya aku segera kembali ke Jakarta.
Pernah juga, saat menunggu di pesawatku berangkat birahiku begitu tinggi, aku dan Ibu mertua masuk ke toilet Bandara yang cukup sepi. Kami ngewe ditoilet dengan gaya berdiri dan nungging, kami lakukan secepat mungkin agar tak dicurigai maupun diketahui orang.
Mungkin aku sudah gila, aku jatuh cinta sama Ibu mertuaku sendiri, aku terjerat kenimatan bersetubuh dengannya.
Mungkin banyak di antara pembaca sekalian yang bertanya tanya tentang hubungan seksku dengan Indri istriku.
Dalam hubungan seks.. Indri tidaklah sehebat ibunya.. Dalam bercinta istriku tidak suka dengan gaya yang aneh aneh. Bahkan Untuk melakukan oral seks saja Indri enggan melakukannya. Jijik katanya.
Kami lebih banyak mengunakan gaya konvensional dalam bercinta. Apalagi Indri istriku termasuk wanita karier yang cukup berhasil, kadang-kadang di saat aku ingin bersetubuh. istriku sering menolaknya. Capek sekali.. katanya.
Tapi bukan itu yang menjadi alasan aku harus selingkuh dengan ibunya atau dengan wanita setengah baya lainnya.
Aku bangga akan istriku. Hanya saja.. dengan Indri semua fantasi seksku tidak pernah kesampaian, terlalu monoton.
Sementara bila dengan Ibu mertuaku atau dengan wanita setengah baya lainnya yang pernah ku setubuhi, aku bebas berekspresi dan fantasi seksualku juga bisa terpenuhi. Dengan mereka aku benar-benar merasakan kepuasan seksual yang luar biasa.
Saat aku duduk sendirian melamun, seringkali aku terbayang adegan percintaanku dengan wanita-wanita setengah baya yang sudah ku sodok memeknya.
Orientasi sex-ku pun mulai berubah. Aku jadi semakin ketagihan melakukan hubungan sexual dengan wanita yang sudah berumur.
Terbersit keinginan untuk menyingkirkan hasrat sexualku tersebut. Namun semakin aku mencoba, semakin terngiang-ngiang kenikmatan yang ku peroleh dari tubuh STW.
Aku tidak bisa melupakan kenikmatan demi kenikmatan yang kuraih saat bercumbu bersama mereka.
Namun aku tetap tidak melupakan tanggungjawabku sebagai suami untuk selalu memberikan nafkah lahir dan batin buat Indri istriku.
Kasihan sekali Indri. Sering sekali aku bohongi.. bahkan tubuhku pun sudah bukan sepenuhnya lagi ia miliki.
Tubuhku sudah menjadi milik semua wanita setengah baya yang ingin tidur denganku.
Yah.. Itulah kehidupan yang aku jalani saat ini.
===xxx===
- Ganasnya Bu Lastri -
------
Dear Mas Pento,
Saya adalah penggemar cerita cerita yang Mas Pento tulis, Saya Lastri di Jakarta.
Saya mau tanya; apakah cerita Mas ini asli atau hanya sekedar khayalan..?
Kalau memang cerita asli.. saya mau mencoba segala kenekatan yang Mas Pento miliki.
Thanks
-------
Aku tersenyum membaca email yang dikirim Lastri. Langsung aku balas..
------
Dear Lastri,
Ceritaku asli..! Kalau mau coba kapan dan di mana..?
Pento
------
Setelah ku kirim, aku tidak peduli lagi, aku larut dalam pekerjaanku.
Untung hari ini Ibu Mila sedang keluar negeri mengunjungi anaknya, sehingga aku terbebas dari segala macam rutinitasku yang berhubungan dengan dia.
Setelah Istrirahat dan kembali sibuk dengan pekerjaanku, jam 1:30 kubuka emailku;
Kulihat Lastri membalas email yang aku kirim.
-------
Mas Pento, saya mau ketemu Mas Pento hari ini juga ini nomor HP saya 081582834xx ..
-------
Langsung ku hubungi nomor tersebut.
"Hallo siapa nih..?” Tanya Lastri di seberang sana
"Saya Pento..” sahutku.
"Hai.. surprais sekali..!” Serunya seolah tak percaya bahwa aku langsung menelponnya.
Setelah bercakap-cakap dan saling memperkenalkan diri, kami janjian untuk bertemu. Lastri menungguku di apartemennya di daerah Tb. Simatupang.
Jam 5 sore aku buru-buru cabut dari kantorku menuju lokasi pertemuan, yang jaraknya cukup jauh.
Untungnya supir taxi yang ku naiki cukup ahli mengemudikan mobilnya, sehingga dalam waktu yang relatif singkat aku sudah sampai di apartement Lastri.
Langsung ku hubungi dia.
"Hai Pento kamu ada di mana..?"
"Saya ada di bawah Bu, apakah saya langsung naik atau gimana..?”
"Yah naik saja. Tadi saya sudah bilang sama penjaga di bawah kalau ada yang nyariin saya bernama Pento suruh naik saja..”
Setelah meninggalkan kartu identitas langsung aku menuju lantai 12 tempat Lastri tinggal.
Setelah yakin nomor pintunya langsung kuketuk.
Saat pintu terbuka, aku terperangah menyaksikan seorang wanita yang membukakan pintu, tampak seorang wanita setengah baya dengan tubuh yang begitu gendut [tambun] sekali.
"Ayo masuk Pen, jangan bengong begitu dong..” ajak Lastri sambil menarik tanganku dan menutup pintu.
Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Apalagi melihat tubuh Lastri yang begitu besar mirip artis Tarida xx. Namun aku harus mencoba tenang agar Lastri tidak kecewa.
Lastri wanita setengah baya yang berumur kurang lebih 41 tahun, sudah menjanda dengan 2 orang anak yang semuanya kuliah di ITB bandung.
Setelah berbasa basi, aku pamit sebentar ke kamar mandi dan membasuh tubuhku.
Di dalam kamar mandi aku berpikir..
Alamak.. ini terlalu besar. Apa aku bisa memuaskannya..? Apa kontolku bisa ngaceng..? Apa iya aku bisa membuatnya puas..?
Kali ini benar-benar membuatku dilema.
Saat aku keluar dari kamar mandi, tanpa basa basi Lastri langsung menarik tanganku. Kemudian ‘menyeretku’ ke tempat tidur, langsung memeluk serta menciumi bibir dan mukaku dengan ganasnya.
Ya. Tanpa ampun dan tidak memberiku sedikit pun lagi kesempatan untuk mencumbunya.
Dengan sangat kasarnya Lastri melepaskan pakaian yang kukenakan.. slrupp.. diisapnya puting tetekku..!
Belum habis rasa terkejutku, dengan sangat kasar sekali Lastri melepaskan celana berikut celana dalamku. Kini aku telanjang bulat. Sontak saja aku benar-benar terkejut sekali dengan cara Lastri.
Burungku pun masih tertidur dan enggan untuk bangun. Tidak seperti biasanya, kali ini burungku benar-benar masih tertidur.
Kemudian Lastri melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, telanjang bulat, dan langsung menerkamku.
Ku biarkan saja dia melakukan semua aksinya. Aku tidak ingin mengecewakannya. Diisapnya kontolku dengan rakusnya.
Lama kelamaan kontolku terusik juga dari tidurnya akibat jilatan-jilatan yang begitu nikmat, hingga akhirnya kontolku pun bangkit dan tegak berdiri dengan sempurna.
Kemudian Ibu Lastri bangkit berdiri mengangkangi tubuhku yang telentang, dan bersiap-siap memasukkan kontolku ke lubang memeknya.
Aku begitu ngeri sekali membayangkan tubuh besar Lastri akan mendudukiku.
Diarahkannya batang kontolku ke lubang memeknya.. bleskkk..
Sekali tekan amblas semua batang kontolku tertelan memek Lastri yang sudah sangat basah sekali.
"Ahh..” rintihnya.
Lastri langsung menggoyang pantatnya maju mudur, memutar pantatnya dan menaik turunkan dengan sangat cepat sekali.
Berkali-kali Lastri menepis tanganku yang mencoba untuk memegangi buah dadanya.
Ku ikuti kemauannya dan aku hanya terlentang pasrah menerima gempuran gempuran dari memeknya yang semakin lama semakin nikmat.
"Ahh.. sshh.. enak Bu.." Rintihku.
"Iya.. Pen.. aku juga enak sekali.."
Beberapa menit telah berlalu, Lastri terus mengaduk aduk memeknya dengan batang kontolku. Akhirnya dengan satu tekanan yang begitu kuat batang kontolku amblas tertelan daging tebal yang empuk dan..
Lastri pun melepas orgasmenya.
"Ahh.. Pento.. im.. cumming.. im.. cumming..!!”
Keras sekali teriakan Lastri menyambut orgasmenya.
Mungkin banyak di antara pembaca sekalian yang bertanya tanya tentang hubungan seksku dengan Indri istriku.
Dalam hubungan seks.. Indri tidaklah sehebat ibunya.. Dalam bercinta istriku tidak suka dengan gaya yang aneh aneh. Bahkan Untuk melakukan oral seks saja Indri enggan melakukannya. Jijik katanya.
Kami lebih banyak mengunakan gaya konvensional dalam bercinta. Apalagi Indri istriku termasuk wanita karier yang cukup berhasil, kadang-kadang di saat aku ingin bersetubuh. istriku sering menolaknya. Capek sekali.. katanya.
Tapi bukan itu yang menjadi alasan aku harus selingkuh dengan ibunya atau dengan wanita setengah baya lainnya.
Aku bangga akan istriku. Hanya saja.. dengan Indri semua fantasi seksku tidak pernah kesampaian, terlalu monoton.
Sementara bila dengan Ibu mertuaku atau dengan wanita setengah baya lainnya yang pernah ku setubuhi, aku bebas berekspresi dan fantasi seksualku juga bisa terpenuhi. Dengan mereka aku benar-benar merasakan kepuasan seksual yang luar biasa.
Saat aku duduk sendirian melamun, seringkali aku terbayang adegan percintaanku dengan wanita-wanita setengah baya yang sudah ku sodok memeknya.
Orientasi sex-ku pun mulai berubah. Aku jadi semakin ketagihan melakukan hubungan sexual dengan wanita yang sudah berumur.
Terbersit keinginan untuk menyingkirkan hasrat sexualku tersebut. Namun semakin aku mencoba, semakin terngiang-ngiang kenikmatan yang ku peroleh dari tubuh STW.
Aku tidak bisa melupakan kenikmatan demi kenikmatan yang kuraih saat bercumbu bersama mereka.
Namun aku tetap tidak melupakan tanggungjawabku sebagai suami untuk selalu memberikan nafkah lahir dan batin buat Indri istriku.
Kasihan sekali Indri. Sering sekali aku bohongi.. bahkan tubuhku pun sudah bukan sepenuhnya lagi ia miliki.
Tubuhku sudah menjadi milik semua wanita setengah baya yang ingin tidur denganku.
Yah.. Itulah kehidupan yang aku jalani saat ini.
===xxx===
- Ganasnya Bu Lastri -
------
Dear Mas Pento,
Saya adalah penggemar cerita cerita yang Mas Pento tulis, Saya Lastri di Jakarta.
Saya mau tanya; apakah cerita Mas ini asli atau hanya sekedar khayalan..?
Kalau memang cerita asli.. saya mau mencoba segala kenekatan yang Mas Pento miliki.
Thanks
-------
Aku tersenyum membaca email yang dikirim Lastri. Langsung aku balas..
------
Dear Lastri,
Ceritaku asli..! Kalau mau coba kapan dan di mana..?
Pento
------
Setelah ku kirim, aku tidak peduli lagi, aku larut dalam pekerjaanku.
Untung hari ini Ibu Mila sedang keluar negeri mengunjungi anaknya, sehingga aku terbebas dari segala macam rutinitasku yang berhubungan dengan dia.
Setelah Istrirahat dan kembali sibuk dengan pekerjaanku, jam 1:30 kubuka emailku;
Kulihat Lastri membalas email yang aku kirim.
-------
Mas Pento, saya mau ketemu Mas Pento hari ini juga ini nomor HP saya 081582834xx ..
-------
Langsung ku hubungi nomor tersebut.
"Hallo siapa nih..?” Tanya Lastri di seberang sana
"Saya Pento..” sahutku.
"Hai.. surprais sekali..!” Serunya seolah tak percaya bahwa aku langsung menelponnya.
Setelah bercakap-cakap dan saling memperkenalkan diri, kami janjian untuk bertemu. Lastri menungguku di apartemennya di daerah Tb. Simatupang.
Jam 5 sore aku buru-buru cabut dari kantorku menuju lokasi pertemuan, yang jaraknya cukup jauh.
Untungnya supir taxi yang ku naiki cukup ahli mengemudikan mobilnya, sehingga dalam waktu yang relatif singkat aku sudah sampai di apartement Lastri.
Langsung ku hubungi dia.
"Hai Pento kamu ada di mana..?"
"Saya ada di bawah Bu, apakah saya langsung naik atau gimana..?”
"Yah naik saja. Tadi saya sudah bilang sama penjaga di bawah kalau ada yang nyariin saya bernama Pento suruh naik saja..”
Setelah meninggalkan kartu identitas langsung aku menuju lantai 12 tempat Lastri tinggal.
Setelah yakin nomor pintunya langsung kuketuk.
Saat pintu terbuka, aku terperangah menyaksikan seorang wanita yang membukakan pintu, tampak seorang wanita setengah baya dengan tubuh yang begitu gendut [tambun] sekali.
"Ayo masuk Pen, jangan bengong begitu dong..” ajak Lastri sambil menarik tanganku dan menutup pintu.
Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Apalagi melihat tubuh Lastri yang begitu besar mirip artis Tarida xx. Namun aku harus mencoba tenang agar Lastri tidak kecewa.
Lastri wanita setengah baya yang berumur kurang lebih 41 tahun, sudah menjanda dengan 2 orang anak yang semuanya kuliah di ITB bandung.
Setelah berbasa basi, aku pamit sebentar ke kamar mandi dan membasuh tubuhku.
Di dalam kamar mandi aku berpikir..
Alamak.. ini terlalu besar. Apa aku bisa memuaskannya..? Apa kontolku bisa ngaceng..? Apa iya aku bisa membuatnya puas..?
Kali ini benar-benar membuatku dilema.
Saat aku keluar dari kamar mandi, tanpa basa basi Lastri langsung menarik tanganku. Kemudian ‘menyeretku’ ke tempat tidur, langsung memeluk serta menciumi bibir dan mukaku dengan ganasnya.
Ya. Tanpa ampun dan tidak memberiku sedikit pun lagi kesempatan untuk mencumbunya.
Dengan sangat kasarnya Lastri melepaskan pakaian yang kukenakan.. slrupp.. diisapnya puting tetekku..!
Belum habis rasa terkejutku, dengan sangat kasar sekali Lastri melepaskan celana berikut celana dalamku. Kini aku telanjang bulat. Sontak saja aku benar-benar terkejut sekali dengan cara Lastri.
Burungku pun masih tertidur dan enggan untuk bangun. Tidak seperti biasanya, kali ini burungku benar-benar masih tertidur.
Kemudian Lastri melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, telanjang bulat, dan langsung menerkamku.
Ku biarkan saja dia melakukan semua aksinya. Aku tidak ingin mengecewakannya. Diisapnya kontolku dengan rakusnya.
Lama kelamaan kontolku terusik juga dari tidurnya akibat jilatan-jilatan yang begitu nikmat, hingga akhirnya kontolku pun bangkit dan tegak berdiri dengan sempurna.
Kemudian Ibu Lastri bangkit berdiri mengangkangi tubuhku yang telentang, dan bersiap-siap memasukkan kontolku ke lubang memeknya.
Aku begitu ngeri sekali membayangkan tubuh besar Lastri akan mendudukiku.
Diarahkannya batang kontolku ke lubang memeknya.. bleskkk..
Sekali tekan amblas semua batang kontolku tertelan memek Lastri yang sudah sangat basah sekali.
"Ahh..” rintihnya.
Lastri langsung menggoyang pantatnya maju mudur, memutar pantatnya dan menaik turunkan dengan sangat cepat sekali.
Berkali-kali Lastri menepis tanganku yang mencoba untuk memegangi buah dadanya.
Ku ikuti kemauannya dan aku hanya terlentang pasrah menerima gempuran gempuran dari memeknya yang semakin lama semakin nikmat.
"Ahh.. sshh.. enak Bu.." Rintihku.
"Iya.. Pen.. aku juga enak sekali.."
Beberapa menit telah berlalu, Lastri terus mengaduk aduk memeknya dengan batang kontolku. Akhirnya dengan satu tekanan yang begitu kuat batang kontolku amblas tertelan daging tebal yang empuk dan..
Lastri pun melepas orgasmenya.
"Ahh.. Pento.. im.. cumming.. im.. cumming..!!”
Keras sekali teriakan Lastri menyambut orgasmenya.
Setelah beberapa saat, tubuh Lastri rebah ke belakang.
Untung tidak rebah ke depan kalau sampe menindih tubuhku bisa semaput aku.
Aku yang belum ejakulasi langsung bangkit dan ku tindih tubuhnya yang masih rebah terlentang dengan kaki mengangkang tergolek pasrah.
Tanpa peduli dengan kondisi Lastri yang lelah, langsung ku tancapkan batang kontol ke lubang memeknya, ku pompa dengan cepat keluar masuk batang kontolku.
Lastri hanya mendesih dan memejamkan matanya.
Berkali-kali kontolku terlepas keluar dari lubang memeknya yang sangat basah dan licin sekali sekali. Namun semua itu tidak mengurangi rasa nikmat yang ku rasakan.
Ku minta Lastri untuk nungging.
Jlebb..
langsung ku tancapakan batang kontolku dengan keras dan kupompa dengan cepat.
Hingga akhirnya gairah birahi Lastri bangkit kembali.
"Ayo.. Pento.. entot yaang keras..!!”
Aku pun semakin bersemangat mengentoti Lastri yang bertubuh gemuk dengan lemak di sana sini.
Beberapa menit kemudian air kehidupan yang sudah ku tahan-tahan sejak tadi mendesak desak hendak melepaskan diri.
"bu.. saya mau.. keluar.."
"Tahan Pen.. aku juga mau keluar.."
"Ugsshh..!!" Rintih kami bersamaan.
Akhirnya aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan gelombang ejakulasiku yang sudah semakin dekat.
"Aaarrggh..!!” erangku memuncratkan spermaku.
Belum habis seluruh sperma yang ku keluarkan, tiba-tiba Lastri bangkit mendorong tubuhku sehingga aku terlentang. Dengan cepat sekali dia mendudki tubuhku dan memasukkan batang kontolku ke lubang memeknya.
Tanpa ampun lagi Lastri mengoyang pantatnya dengan cepat, aku pun berusaha menahan agar batang kontolku tidak menjadi lemas.
Ughhhh.. linu sekali rasanya. Namun aku juga tidak ingin Lastri kecewa.
Tidak berapa lama kemudian tubuh Lastri menegang, goyangan maju mundurnya makin cepat dan semakin tidak teratur.
Ngilu yang ku rasakan berubah menjadi nikmat.
Akhirnya dengan teriakan panjang Lastri melepas orgasme keduanya yang begitu panjang. Aku pun kembali mengalami ejakulasi untuk keduakalinya.
Tanpa sadar aku bangkit dan memeluk tubuh Lastri dengan eratnya sambil mengigit lehernya.
Lastri rebah ke belakang, tubuhku ikut terbawa sambil terus berpelukan kami berdua terdiam menikmati sensasi nikmat yang kami lewati.
Pandangan mataku menjadi gelap karena dalam tempo yang sangat berdekatan aku mengalami 2 kali ejakulasi yang begitu nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Saat ejakulasiku datang seluruh syaraf tubuhku menegang, Aku merasa terhempas seperti orang yang terjatuh dan kehilangan pegangan.
Apakah yang kurasakan itu adalah orgasme..? Aku sendiri tidak tau.
Setelah beristirahat aku membersihkan diriku dan mengenakan pakaianku bersiap siap pulang.
Ku lihat Lastri masih bermalas malasan di ranjangnya. Ku hampiri sambil ku lirik di memeknya, spermaku masih mengalir keluar.
"bu, saya mau pamit.."
"Kenapa buru-buru..? Kan masih sore..”
"Maaf Bu.. bu Lastri kan sering membaca ceritaku, ku harap Ibu mengerti dengan kondisi yang aku alami..”
"Oke deh.. aku maklum kok. Oh ya Pen.. yang pertama luar biasa, dan yang kedua sangat luar biasa..!”
"Ah bisa saja, bu Lastri juga hebat dan goyangannya juga luar sangat luar biasa.." pujiku balik.
"Jangan kapok sama aku ya Pen. aku sangat suka kalau aku yang agresif dalam berhubungan badan.. dan kamu mengerti sekali keinginanku..”
Lemas sekali tubuhku, Apalagi sebelum pulang dia minta menyetubuhinya sekali lagi. Mau tidak mau aku memenuhi apa yang di inginkannya.
Kembali kami berpacu dalam birahi mengejar sejuta kenikmatan. Hingga akhirnya kami berdua terkapar dalam lelah yang begitu nikmat.
Dalam perjalanan pulang aku pun tertidur karena tidak kuat menahan kantuk dan juga lemas seluruh tubuh serta rasanya lolos semua tulang-tulangku.
Untung supir taksinya baik hati.. sehingga tidak melakukan tindakan yang macam-macam. Hehehe.
===xxx===
-- bu Ayu --
Setelah pertempuranku yang sangat melelehkan dengan Lastri, aku benar-benar harus mengonsumi beberapa multi vitamin dan berolahraga agar staminaku tetap fit.
Apalagi tubuh Lastri yang begitu besar, sehingga selain capai bergoyang aku juga harus menahan bobot tubuhnya yang kelewat besar.
Dua hari setelah pertempuranku dengan Lastri Hpku berdering.
Oh ya sekarang aku harus memakai 2 HP dengan nomor yang berbeda. Yang satu khusus untuk menerima telfon dari wanita wanita yang mengajakku kencan. Dan yang satu lagi untuk keluarga dan teman-temanku.
"Hallo Pento ya..?! Ini Lastri masih ingat kan..?"
"Hallo bu Lastri apa kabar..? Tentu aku masih ingat dengan Ibu.. ada apa nih Bu..?” Tanyaku.
"Gini pen.. aku cerita sama temenku tentang kamu, dan dia tertarik mau mencobamu. Gimana, kamu mau kan..? Kalau kamu oke, temenku itu sekarang ada di hotel Horison Lantai empat..”
"Wah.. kenapa enggak Ibu aja yang ngajak saya..? bu Lastri nggak puas ya sama saya..?!” Pelan sekali suaraku takut terdengar teman-temanku yang lain.
"Ngaco kamu, kalau aku nggak puas, ngapain juga aku promosiin kamu sama temenku..! Iya kan..?!”
"Oke deh Bu Lastri saya mau, jam berapa saya bisa datang..?”
"Terserah kamu..! Kalau kamu bisa keluar dari kantor sekarang, sekarang aja kamu langsung kesana..!
Gimana jam berapa kamu bisa..?”
Setelah berpikir sejenak aku memutuskan untuk pulang kerja jam tiga sore, apalagi bu Mila belum kembali dari LN.
"Oke bu Lastri.. jam tiga saja aku pasti datang. Oh ya.. nama temen Ibu siapa..?”
"Namanya bu Ayu. Dia ada di lantai empat kamar xxx.. jangan kecewaiin, oke. aku telfon temenku dulu memberi kabar kalau kamu datang jam tigaan. Bye.”
Wah ada rejeki nih. Cuma aku jadi berpikir lagi..! Jangan-jangan temen bu Lastri sama dengannya yang bertubuh besar namun aduhai..! Bisa celaka nih.
Dengan alasan yang ku buat buat jam 2:30 aku ijin dari kantorku. Naik taksi aku meluncur ke daerah Ancol menuju hotel Horison.
Setelah masuk ke dalam Lobby aku bilang sama resepsonis kalau aku saudaranya bu Ayu di lantai empat dan mau berjumpa dengan beliau.
"Sebentar ya Pak saya tanya bu Ayu dulu..” jawab receptionist dengan ramahnya.
"Hallo sore bu Ayu.. maaf mengganggu. Ini dari lobby ada tamu yang mau bertemu Ibu.."
"Namanya Pento Bu..”
"Iya.. iya selamat sore Bu..” jawab receptionist sambil menutup pembicaraan.
"Silakan Mas..! Langsung naik saja sudah ditunggu..”
"Terimakasih Mbak..” jawabku.
Setelah sampai di atas dan berada di depan kamar bu Ayu, jantungku berdebar dengan keras. Aku agak sedikit grogi.
Ku ketuk pintu.. tidak lama kemudian pintu terbuka.
"Pento ya..? Mari masuk.. jangan bengong gitu dong. Ntar kesambet si manis jembatan ancol lu..?!” Sapa bu Ayu.
Sambil melangkah masuk ke dalam kamar hotel, aku jadi terbengong-bengong dengan apa yang aku lihat.
Apa aku nggak mimpi..?!
Karena bu Ayu yang ada di depanku ini adalah wanita setengah baya atau mungkin bisa dibilang wanita lanjut usia.
Untung tidak rebah ke depan kalau sampe menindih tubuhku bisa semaput aku.
Aku yang belum ejakulasi langsung bangkit dan ku tindih tubuhnya yang masih rebah terlentang dengan kaki mengangkang tergolek pasrah.
Tanpa peduli dengan kondisi Lastri yang lelah, langsung ku tancapkan batang kontol ke lubang memeknya, ku pompa dengan cepat keluar masuk batang kontolku.
Lastri hanya mendesih dan memejamkan matanya.
Berkali-kali kontolku terlepas keluar dari lubang memeknya yang sangat basah dan licin sekali sekali. Namun semua itu tidak mengurangi rasa nikmat yang ku rasakan.
Ku minta Lastri untuk nungging.
Jlebb..
langsung ku tancapakan batang kontolku dengan keras dan kupompa dengan cepat.
Hingga akhirnya gairah birahi Lastri bangkit kembali.
"Ayo.. Pento.. entot yaang keras..!!”
Aku pun semakin bersemangat mengentoti Lastri yang bertubuh gemuk dengan lemak di sana sini.
Beberapa menit kemudian air kehidupan yang sudah ku tahan-tahan sejak tadi mendesak desak hendak melepaskan diri.
"bu.. saya mau.. keluar.."
"Tahan Pen.. aku juga mau keluar.."
"Ugsshh..!!" Rintih kami bersamaan.
Akhirnya aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan gelombang ejakulasiku yang sudah semakin dekat.
"Aaarrggh..!!” erangku memuncratkan spermaku.
Belum habis seluruh sperma yang ku keluarkan, tiba-tiba Lastri bangkit mendorong tubuhku sehingga aku terlentang. Dengan cepat sekali dia mendudki tubuhku dan memasukkan batang kontolku ke lubang memeknya.
Tanpa ampun lagi Lastri mengoyang pantatnya dengan cepat, aku pun berusaha menahan agar batang kontolku tidak menjadi lemas.
Ughhhh.. linu sekali rasanya. Namun aku juga tidak ingin Lastri kecewa.
Tidak berapa lama kemudian tubuh Lastri menegang, goyangan maju mundurnya makin cepat dan semakin tidak teratur.
Ngilu yang ku rasakan berubah menjadi nikmat.
Akhirnya dengan teriakan panjang Lastri melepas orgasme keduanya yang begitu panjang. Aku pun kembali mengalami ejakulasi untuk keduakalinya.
Tanpa sadar aku bangkit dan memeluk tubuh Lastri dengan eratnya sambil mengigit lehernya.
Lastri rebah ke belakang, tubuhku ikut terbawa sambil terus berpelukan kami berdua terdiam menikmati sensasi nikmat yang kami lewati.
Pandangan mataku menjadi gelap karena dalam tempo yang sangat berdekatan aku mengalami 2 kali ejakulasi yang begitu nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Saat ejakulasiku datang seluruh syaraf tubuhku menegang, Aku merasa terhempas seperti orang yang terjatuh dan kehilangan pegangan.
Apakah yang kurasakan itu adalah orgasme..? Aku sendiri tidak tau.
Setelah beristirahat aku membersihkan diriku dan mengenakan pakaianku bersiap siap pulang.
Ku lihat Lastri masih bermalas malasan di ranjangnya. Ku hampiri sambil ku lirik di memeknya, spermaku masih mengalir keluar.
"bu, saya mau pamit.."
"Kenapa buru-buru..? Kan masih sore..”
"Maaf Bu.. bu Lastri kan sering membaca ceritaku, ku harap Ibu mengerti dengan kondisi yang aku alami..”
"Oke deh.. aku maklum kok. Oh ya Pen.. yang pertama luar biasa, dan yang kedua sangat luar biasa..!”
"Ah bisa saja, bu Lastri juga hebat dan goyangannya juga luar sangat luar biasa.." pujiku balik.
"Jangan kapok sama aku ya Pen. aku sangat suka kalau aku yang agresif dalam berhubungan badan.. dan kamu mengerti sekali keinginanku..”
Lemas sekali tubuhku, Apalagi sebelum pulang dia minta menyetubuhinya sekali lagi. Mau tidak mau aku memenuhi apa yang di inginkannya.
Kembali kami berpacu dalam birahi mengejar sejuta kenikmatan. Hingga akhirnya kami berdua terkapar dalam lelah yang begitu nikmat.
Dalam perjalanan pulang aku pun tertidur karena tidak kuat menahan kantuk dan juga lemas seluruh tubuh serta rasanya lolos semua tulang-tulangku.
Untung supir taksinya baik hati.. sehingga tidak melakukan tindakan yang macam-macam. Hehehe.
===xxx===
-- bu Ayu --
Setelah pertempuranku yang sangat melelehkan dengan Lastri, aku benar-benar harus mengonsumi beberapa multi vitamin dan berolahraga agar staminaku tetap fit.
Apalagi tubuh Lastri yang begitu besar, sehingga selain capai bergoyang aku juga harus menahan bobot tubuhnya yang kelewat besar.
Dua hari setelah pertempuranku dengan Lastri Hpku berdering.
Oh ya sekarang aku harus memakai 2 HP dengan nomor yang berbeda. Yang satu khusus untuk menerima telfon dari wanita wanita yang mengajakku kencan. Dan yang satu lagi untuk keluarga dan teman-temanku.
"Hallo Pento ya..?! Ini Lastri masih ingat kan..?"
"Hallo bu Lastri apa kabar..? Tentu aku masih ingat dengan Ibu.. ada apa nih Bu..?” Tanyaku.
"Gini pen.. aku cerita sama temenku tentang kamu, dan dia tertarik mau mencobamu. Gimana, kamu mau kan..? Kalau kamu oke, temenku itu sekarang ada di hotel Horison Lantai empat..”
"Wah.. kenapa enggak Ibu aja yang ngajak saya..? bu Lastri nggak puas ya sama saya..?!” Pelan sekali suaraku takut terdengar teman-temanku yang lain.
"Ngaco kamu, kalau aku nggak puas, ngapain juga aku promosiin kamu sama temenku..! Iya kan..?!”
"Oke deh Bu Lastri saya mau, jam berapa saya bisa datang..?”
"Terserah kamu..! Kalau kamu bisa keluar dari kantor sekarang, sekarang aja kamu langsung kesana..!
Gimana jam berapa kamu bisa..?”
Setelah berpikir sejenak aku memutuskan untuk pulang kerja jam tiga sore, apalagi bu Mila belum kembali dari LN.
"Oke bu Lastri.. jam tiga saja aku pasti datang. Oh ya.. nama temen Ibu siapa..?”
"Namanya bu Ayu. Dia ada di lantai empat kamar xxx.. jangan kecewaiin, oke. aku telfon temenku dulu memberi kabar kalau kamu datang jam tigaan. Bye.”
Wah ada rejeki nih. Cuma aku jadi berpikir lagi..! Jangan-jangan temen bu Lastri sama dengannya yang bertubuh besar namun aduhai..! Bisa celaka nih.
Dengan alasan yang ku buat buat jam 2:30 aku ijin dari kantorku. Naik taksi aku meluncur ke daerah Ancol menuju hotel Horison.
Setelah masuk ke dalam Lobby aku bilang sama resepsonis kalau aku saudaranya bu Ayu di lantai empat dan mau berjumpa dengan beliau.
"Sebentar ya Pak saya tanya bu Ayu dulu..” jawab receptionist dengan ramahnya.
"Hallo sore bu Ayu.. maaf mengganggu. Ini dari lobby ada tamu yang mau bertemu Ibu.."
"Namanya Pento Bu..”
"Iya.. iya selamat sore Bu..” jawab receptionist sambil menutup pembicaraan.
"Silakan Mas..! Langsung naik saja sudah ditunggu..”
"Terimakasih Mbak..” jawabku.
Setelah sampai di atas dan berada di depan kamar bu Ayu, jantungku berdebar dengan keras. Aku agak sedikit grogi.
Ku ketuk pintu.. tidak lama kemudian pintu terbuka.
"Pento ya..? Mari masuk.. jangan bengong gitu dong. Ntar kesambet si manis jembatan ancol lu..?!” Sapa bu Ayu.
Sambil melangkah masuk ke dalam kamar hotel, aku jadi terbengong-bengong dengan apa yang aku lihat.
Apa aku nggak mimpi..?!
Karena bu Ayu yang ada di depanku ini adalah wanita setengah baya atau mungkin bisa dibilang wanita lanjut usia.
Dan yang mengundangku untuk bertukar lendir kenikmatan adalah seorang pemain film. Salah seorang artis sinetron yang sangat terkenal..! *Pada masa itu*
Sekarang ini beliau sering memerankan tokoh Ibu-Ibu orang kaya dengan dandanan menor dan rambut sering disanggul.
Sudahlan.. aku tidak ingin lebih rinci lagi menjelaskan siapa bu Ayu. Aku harus tetap menjaga kerahasian konsumenku.
"Mau minum apa..?” Tanya bu Ayu.
"Apa saja Bu..” jawabku gugup
"Silakan duduk Pento rileks saja.. jangan tegang gitu dong..?!” Candanya berusaha mencairkan suasana.
Aku pun lantas duduk di sofa yang menghadap ke arah pantai, indah sekali pemandangannya.
Tak berapa lama bu Ayu datang menghampiriku dengan 2 kaleng coca cola.
Kemudian tanpa ku sangka-sangka bu Ayu langsung duduk di pangkuanku dengan gaya yang manja sekali.
"Silakan diminum Sayang.. aku mau coba apa kamu sehebat seperti yang dibilang si Lastri..” ujarnya tersenyum.
Ku taruh minumanku dan ku lepas kemejaku agar tidak kusut.
Kemudian bu Ayu menciumi bibirku dan tangannya meremas-remas burungku yang masih terbungkus celanaku.
Aku pun tidak tinggal diam, langung ku lumat bibir wanita yang sepantasnya jadi nenekku ini. Tanganku pun gerilya ke sana ke mari, meremas dan mengelus-elus tubuhnya yang sudah kendor, sembari memberi rangsangan nikmat kepadanya.
Tanpa sadar helai demi helai pakaian kami berdua sudah saling berjatuhan, aku dan bu Ayu sudah telanjang bulat.
Dalam hati aku berkata.. kalau di TV bu Ayu selalu berdandan trendi, sekarang ini beliau sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun dengan tubuh yang sudah kendor. Apalagi buah dadanya..!
Hanya kemulusan kulit tubuhnya saja yang masih tersisa.
Namun beliau adalah konsumenku.. dan aku wajib untuk memberi kepuasan kepadanya.
Ku ubah posisi kami.. sekarang bu Ayu duduk bersandar dengan kaki mengangkang.
Ku cumbu mulai dari bibir.. saling berpagutan turun ke lehernya terus turun kebuah dadanya. Ku mainkan Puting susunya ku isap bergantian kiri dan kanan sambil tanganku meremas dan mencongkel-congkel serta menusuk nusuk memeknya dengan jari jari saktiku.
Cumbuanku pun perlahan lahan turun ke bawah dan berakhir disawah ladang bu Ayu, Ku jilati dan ku isap memeknya yang licin tanpa bulu jembut yang sudah dicukur rapi.
Aku benar-benar tidak mau rugi..! Ku nikmati seluruh tubuh bu Ayu jengkal demi jengkal. Tidak ada bagian tubuhnya yang terlewati untuk kunikmati. Aku benar-benar ingin memuaskan bu Ayu.
Berlama-lama aku bermain dan memberi rangsangan kenikmatan di lubang memek dan itilnya membuat bu Ayu semakin mengelinjang dan mendesah tidak karuan.
"Uhh.. Pento.. Isap yang kuat sayang.. Ibu Mau keluar..!"
Aku sadar dengan usia bu Ayu, ku hentikan isapanku. Aku tidak mau ini berakhir dan harus menunggu lama stamina bu Ayu pulih kembali untuk memulainya lagi.
bu Ayu pun protes kepadaku.. "Kenapa dihentikan Pen..? Ibu sudah hampir sampai..” cetusnya.
"Maaf Bu..! Aku mau Ibu orgasme dengan kontolku bukan dengan lidahku..” ujarku tenang.
"Ihh.. ternyata kamu nakal juga ya..” Balasnya dengan suara manja.
Aku bangkit dan duduk bersandar di sofa.
Saat tanganku hendak meraih kondom yang sudah ku siapkan di meja, bu Ayu melarangku mengunakan kondom.
"Tak usah pakai kondom Pen, kurang nikmat..! Ibu percaya kamu bersih.. dan kamu juga harus percaya Ibu juga bersih..”
Kemudian bu Ayu bangkit berdiri lalu menduduki tubuhku sambil berusaha memasukkan batang kontol ku ke lubang memeknya.
"Ahhhh..!"
Rintih kami bersamaan saat batang kontolku membelah dan masuk ke dalam lubang memek bu Ayu.
Dalam posisi duduk ini.. aku bisa lebih leluasa mengisap teteknya dan meremas remas pantatnya.
Digoyangnya perlahan-lahan kemudian diputar pantatnya.. dan sesekali dinaik turunkan pantatnya.
"Uhh.. Pento.. enak sayang..” rintihnya.
Ku sedot puting susunya dengan kuat sambil tanganku membelai punggung dan meremas pantatnya.
Kami terus berpacu mengejar sejuta nikmat yang begitu fantastis yang selalu dikhayalkan hampir semua orang.
Hingga akhirnya..
"Arrgghhh Pento.. enak sekali.. sayang..!! Ibu.. mau keluar.. nih..!!” Erangnya keras.
"Tahan Bu saya juga mau keluar..!”
Yah..! Hari ini aku tidak meminum obat kuat. Aku ingin menikmati secara alami gesekan dinding memek bu Ayu dengan batang kontolku.
Goyangan pantat bu Ayu semakin lama semakin cepat, dan gesekan gesekan dinding memeknya dengan batang kontolku semakin membuatku terbang melayang.
Beruntung sekali aku bisa merasakan memek orang terkenal. Walau pun bu Ayu bisa dibilang sudah tua, bagiku memek tetaplah memek..! Thanks buat bu Lastri.
Akhirnya sekujur tubuhku menegang. Urat-urat di batang kontolku semakin sensitif menanti ledakan nikmat yang sebentar lagi akan keluar.
"Arrgghhhh Pento.. Ibu sampee..!” Bu Ayu mengerang keras.
"Errgghh buu.. saya jugaaa..!!" Lenguhku hampir bersamaan dengan bu Ayu.
Aku dan Ibu Ayu menjerit hampir bersamaan melepas orgasmenya dan ejakulasiku penuh nikmat. Dipeluknya tubuhku erat sekali.. dan aku pun memeluknya dengan erat.
Setelah lewat beberapa menit kami masih belum mengubah posisi, masih terus berpelukan dengan napas terengah-engah kami mengatur nafas kami yang tidak teratur.
"Pento.. rasanya damai sekali berpelukan seperti ini. Thanks ya kamu udah bikin Ibu meraihnya..”
"Sama-sama Bu. Saya juga..” ku belai rambutnya dan ku kecup keningnya.
Hari itu aku dan bu Ayu mengulangi dua kali lagi persetubuhan kami.. di tempat tidur dan di kamar mandi.
Persetubuhanku yang terakhir di kamar mandi dengannya sangat fantastis.
Selayaknya seorang gadis muda bu Ayu mencoba bermacam-macam gaya. Yang terakhir Ibu Ayu memintaku memasukkan batang kontolku ke lubang anusnya.
Ternyata lubang anus Ibu Ayu sudah cukup longgar. Mungkin suaminya suka main di lubang yang satu ini.
Atau mungkin juga dengan lelaki lain yang dia sewa. Terserahlah.
Setelah ku kenakan kondom.. tanpa kesulitan yang berarti.. perlahan-lahan namun pasti batang kontolku masuk menembus lubang anusnya.
Kudiamkan sesaat sambil kunikmati sensasinya.. kemudian aku pompa maju mundur.
Jepitan lubang anus bu Ayu mencengkeram dengan kuat batang kontolku. Walau pun aku mencoba untuk bertahan lebih lama akhirnya aku sudah tidak sanggup lagi menahannya.
Dengan satu teriakan panjang sambil ku benamkan dalam dalam batang kontolku di lubang anusnya aku melepas ejakulasiku di lubang pantatnya.
Dan Ibu Ayu melepas orgasme panjangnya sambil menangis tersedu-sedu.
Aku benar-benar merasa puas bisa membuat Ibu Ayu mencapai titik yang diinginkannya. Dan satu hal harus ku akui ‘kehebatannya’ adalah stamina bu Ayu yang sangat kuat sekali.
Setelah beristirahat beberapa jam.. sekira pukul 12 malam aku pun pamit hendak pulang.
Walau pun bu Ayu mencoba menahanku agar aku menginap bersamanya, setelah aku ceritakan sedikit tentang diriku.. bu Ayu pun mau mengerti dan memahami kondisiku.
Dengan satu perjanjian: aku harus bersedia memberikan kepuasan birahi kepadanya saat bu Ayu membutuhkannya.
Setelah ku berikan Nomor ponselku.. ku kecup kening bu Ayu dan aku pun pamit pulang.
Di dalam taksi aku masih tidak habis pikir:
Bahwa Orang seperti Ibu Ayu yang merupakan public figur dan artis terkenal juga nenek dari beberapa orang cucu, ternyata masih membutuhkan orang sepertiku untuk melampiaskan dan melepas nafsu birahinya.
Tapi sudahlah. Bukankah tiap orang punya Masalah dan Seleranya sendiri-sendiri. Ya nggak..?!
TAMAT
Sekarang ini beliau sering memerankan tokoh Ibu-Ibu orang kaya dengan dandanan menor dan rambut sering disanggul.
Sudahlan.. aku tidak ingin lebih rinci lagi menjelaskan siapa bu Ayu. Aku harus tetap menjaga kerahasian konsumenku.
"Mau minum apa..?” Tanya bu Ayu.
"Apa saja Bu..” jawabku gugup
"Silakan duduk Pento rileks saja.. jangan tegang gitu dong..?!” Candanya berusaha mencairkan suasana.
Aku pun lantas duduk di sofa yang menghadap ke arah pantai, indah sekali pemandangannya.
Tak berapa lama bu Ayu datang menghampiriku dengan 2 kaleng coca cola.
Kemudian tanpa ku sangka-sangka bu Ayu langsung duduk di pangkuanku dengan gaya yang manja sekali.
"Silakan diminum Sayang.. aku mau coba apa kamu sehebat seperti yang dibilang si Lastri..” ujarnya tersenyum.
Ku taruh minumanku dan ku lepas kemejaku agar tidak kusut.
Kemudian bu Ayu menciumi bibirku dan tangannya meremas-remas burungku yang masih terbungkus celanaku.
Aku pun tidak tinggal diam, langung ku lumat bibir wanita yang sepantasnya jadi nenekku ini. Tanganku pun gerilya ke sana ke mari, meremas dan mengelus-elus tubuhnya yang sudah kendor, sembari memberi rangsangan nikmat kepadanya.
Tanpa sadar helai demi helai pakaian kami berdua sudah saling berjatuhan, aku dan bu Ayu sudah telanjang bulat.
Dalam hati aku berkata.. kalau di TV bu Ayu selalu berdandan trendi, sekarang ini beliau sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun dengan tubuh yang sudah kendor. Apalagi buah dadanya..!
Hanya kemulusan kulit tubuhnya saja yang masih tersisa.
Namun beliau adalah konsumenku.. dan aku wajib untuk memberi kepuasan kepadanya.
Ku ubah posisi kami.. sekarang bu Ayu duduk bersandar dengan kaki mengangkang.
Ku cumbu mulai dari bibir.. saling berpagutan turun ke lehernya terus turun kebuah dadanya. Ku mainkan Puting susunya ku isap bergantian kiri dan kanan sambil tanganku meremas dan mencongkel-congkel serta menusuk nusuk memeknya dengan jari jari saktiku.
Cumbuanku pun perlahan lahan turun ke bawah dan berakhir disawah ladang bu Ayu, Ku jilati dan ku isap memeknya yang licin tanpa bulu jembut yang sudah dicukur rapi.
Aku benar-benar tidak mau rugi..! Ku nikmati seluruh tubuh bu Ayu jengkal demi jengkal. Tidak ada bagian tubuhnya yang terlewati untuk kunikmati. Aku benar-benar ingin memuaskan bu Ayu.
Berlama-lama aku bermain dan memberi rangsangan kenikmatan di lubang memek dan itilnya membuat bu Ayu semakin mengelinjang dan mendesah tidak karuan.
"Uhh.. Pento.. Isap yang kuat sayang.. Ibu Mau keluar..!"
Aku sadar dengan usia bu Ayu, ku hentikan isapanku. Aku tidak mau ini berakhir dan harus menunggu lama stamina bu Ayu pulih kembali untuk memulainya lagi.
bu Ayu pun protes kepadaku.. "Kenapa dihentikan Pen..? Ibu sudah hampir sampai..” cetusnya.
"Maaf Bu..! Aku mau Ibu orgasme dengan kontolku bukan dengan lidahku..” ujarku tenang.
"Ihh.. ternyata kamu nakal juga ya..” Balasnya dengan suara manja.
Aku bangkit dan duduk bersandar di sofa.
Saat tanganku hendak meraih kondom yang sudah ku siapkan di meja, bu Ayu melarangku mengunakan kondom.
"Tak usah pakai kondom Pen, kurang nikmat..! Ibu percaya kamu bersih.. dan kamu juga harus percaya Ibu juga bersih..”
Kemudian bu Ayu bangkit berdiri lalu menduduki tubuhku sambil berusaha memasukkan batang kontol ku ke lubang memeknya.
"Ahhhh..!"
Rintih kami bersamaan saat batang kontolku membelah dan masuk ke dalam lubang memek bu Ayu.
Dalam posisi duduk ini.. aku bisa lebih leluasa mengisap teteknya dan meremas remas pantatnya.
Digoyangnya perlahan-lahan kemudian diputar pantatnya.. dan sesekali dinaik turunkan pantatnya.
"Uhh.. Pento.. enak sayang..” rintihnya.
Ku sedot puting susunya dengan kuat sambil tanganku membelai punggung dan meremas pantatnya.
Kami terus berpacu mengejar sejuta nikmat yang begitu fantastis yang selalu dikhayalkan hampir semua orang.
Hingga akhirnya..
"Arrgghhh Pento.. enak sekali.. sayang..!! Ibu.. mau keluar.. nih..!!” Erangnya keras.
"Tahan Bu saya juga mau keluar..!”
Yah..! Hari ini aku tidak meminum obat kuat. Aku ingin menikmati secara alami gesekan dinding memek bu Ayu dengan batang kontolku.
Goyangan pantat bu Ayu semakin lama semakin cepat, dan gesekan gesekan dinding memeknya dengan batang kontolku semakin membuatku terbang melayang.
Beruntung sekali aku bisa merasakan memek orang terkenal. Walau pun bu Ayu bisa dibilang sudah tua, bagiku memek tetaplah memek..! Thanks buat bu Lastri.
Akhirnya sekujur tubuhku menegang. Urat-urat di batang kontolku semakin sensitif menanti ledakan nikmat yang sebentar lagi akan keluar.
"Arrgghhhh Pento.. Ibu sampee..!” Bu Ayu mengerang keras.
"Errgghh buu.. saya jugaaa..!!" Lenguhku hampir bersamaan dengan bu Ayu.
Aku dan Ibu Ayu menjerit hampir bersamaan melepas orgasmenya dan ejakulasiku penuh nikmat. Dipeluknya tubuhku erat sekali.. dan aku pun memeluknya dengan erat.
Setelah lewat beberapa menit kami masih belum mengubah posisi, masih terus berpelukan dengan napas terengah-engah kami mengatur nafas kami yang tidak teratur.
"Pento.. rasanya damai sekali berpelukan seperti ini. Thanks ya kamu udah bikin Ibu meraihnya..”
"Sama-sama Bu. Saya juga..” ku belai rambutnya dan ku kecup keningnya.
Hari itu aku dan bu Ayu mengulangi dua kali lagi persetubuhan kami.. di tempat tidur dan di kamar mandi.
Persetubuhanku yang terakhir di kamar mandi dengannya sangat fantastis.
Selayaknya seorang gadis muda bu Ayu mencoba bermacam-macam gaya. Yang terakhir Ibu Ayu memintaku memasukkan batang kontolku ke lubang anusnya.
Ternyata lubang anus Ibu Ayu sudah cukup longgar. Mungkin suaminya suka main di lubang yang satu ini.
Atau mungkin juga dengan lelaki lain yang dia sewa. Terserahlah.
Setelah ku kenakan kondom.. tanpa kesulitan yang berarti.. perlahan-lahan namun pasti batang kontolku masuk menembus lubang anusnya.
Kudiamkan sesaat sambil kunikmati sensasinya.. kemudian aku pompa maju mundur.
Jepitan lubang anus bu Ayu mencengkeram dengan kuat batang kontolku. Walau pun aku mencoba untuk bertahan lebih lama akhirnya aku sudah tidak sanggup lagi menahannya.
Dengan satu teriakan panjang sambil ku benamkan dalam dalam batang kontolku di lubang anusnya aku melepas ejakulasiku di lubang pantatnya.
Dan Ibu Ayu melepas orgasme panjangnya sambil menangis tersedu-sedu.
Aku benar-benar merasa puas bisa membuat Ibu Ayu mencapai titik yang diinginkannya. Dan satu hal harus ku akui ‘kehebatannya’ adalah stamina bu Ayu yang sangat kuat sekali.
Setelah beristirahat beberapa jam.. sekira pukul 12 malam aku pun pamit hendak pulang.
Walau pun bu Ayu mencoba menahanku agar aku menginap bersamanya, setelah aku ceritakan sedikit tentang diriku.. bu Ayu pun mau mengerti dan memahami kondisiku.
Dengan satu perjanjian: aku harus bersedia memberikan kepuasan birahi kepadanya saat bu Ayu membutuhkannya.
Setelah ku berikan Nomor ponselku.. ku kecup kening bu Ayu dan aku pun pamit pulang.
Di dalam taksi aku masih tidak habis pikir:
Bahwa Orang seperti Ibu Ayu yang merupakan public figur dan artis terkenal juga nenek dari beberapa orang cucu, ternyata masih membutuhkan orang sepertiku untuk melampiaskan dan melepas nafsu birahinya.
Tapi sudahlah. Bukankah tiap orang punya Masalah dan Seleranya sendiri-sendiri. Ya nggak..?!
TAMAT
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru
