x
x
x

Cerita Dewasa Berawal dari ajaran Ibu Tiri Cantik yang Baik

cewek amoy


*nama-nama pelaku dan TKP sudah disamarkan semua.

Perkenalkan dulu namaku Chepi.

Aku tidak menyangka kalau semuanya ini bakal terjadi. Aku memang sering mengkhayalkannya. Tapi tidak pernah merencanakannya.

Begitulah kehidupanku, banyak lika-likunya, yang indah mau pun yang pedih, masih maupun pahit. Tapi aku harus mengakuinya, bahwa semua itu tampak indah.. indah sekali.

===x0x===

Aku mendengar cerita kedua orang tuaku. Mereka menikah saat Mama berusia 19 tahun dan Papa sudah berusia 41 tahun. Setahun kemudian aku lahir, ketika usia Mama sudah 20 tahun.

Kemudian pada saat aku baru berumur 9 tahun, mereka cerai. Aku yang masih kecil (kelas 3 SD), sehingga aku tidak punya inisiatif untuk bertanya kenapa mereka harus bercerai. Aku hanya menurut saja. Bahwa aku harus ikut pada Papa, meski pun Mama berusaha untuk membawaku ke rumah orang tuanya.

Dan yang sangat menyedihkan (tapi aku tak berani melawan), aku dilarang mengunjungi rumah Mama di kampung yang lumayan jauh dari kotaku. Aku menurut saja, meski hatiku berontak, karena merasa masih membutuhkan pelukan kasih sayang Mama.

Setelah aku besar, barulah aku tahu bahwa Mama minta diceraikan, karena Papa menikah lagi dengan seorang gadis, anak buah Papa sendiri di kantornya.

Hanya beberapa hari setelah Mama pulang ke rumah orang tua (kakek-nenek) di kampungnya, seorang wanita yang masih sangat muda dibawa ke rumah Papa. Wanita yang baru berusia 19 tahun itu Papa perkenalkan padaku sebagai ibu tiriku. Dan sejak saat itu aku harus memanggilnya Mamie.

Aku yang merasa sangat disayangi oleh Papa, tidak pernah complain dengan kenyataan ini.

Memang aku sering mendengar tentang kejamnya ibu tiri. Tapi ternyata aku mendapatkan ibu tiri yang sangat lembut dan baik sekali padaku. Karena itu aku tak punya alasan untuk tidak menghormati ibu tiri yang sudah dibiasakan ku panggil Mamie itu, sebagai pengganti Mama kandungku.

Aku pun tahu bahwa aku ini anak bungsu Papa. Sebelum menikah dengan Mama kandungku, Papa sudah menikah dua kali. Dari perkawinan sebelumnya itu Papa mendapatkan dua orang anak perempuan. Tapi keduanya sudah bersuami.

Aku hanya pernah berjumpa dua kali dengan kedua kakak seayah berlainan ibu itu, pada saat aku baru duduk di TK dan ketika Papa sudah membawa Mamie ke dalam rumah ini.

Kakak seayahku yang pertama bernama Susie. Sedangkan kakak seayah yang kedua bernama Nindie. Karena aku orang Jabar, aku memanggil mereka Teh Susie dan Teh Nindie.

Aku masih ingat benar, pada kedatangan yang kedua itu, kakak-kakak seayahku menasehatiku agar jangan nakal, karena aku tidak tinggal bersama ibu kandung lagi.

"Mudah-mudahan aja Mamie menyayangimu" kata Teh Susie saat itu.
“Iya Teh,” balasku.

Dan memang Mamie sangat baik padaku. Memarahiku pun tidak pernah. Bahkan aku merasa dimanjakan olehnya, baik dalam membelikan pakaian mau pun membelikan coklat atau permen buatku.

Ketika Mamie tahu aku ini senang baca komik, dia pun membelikanku beberapa buah-buku komik yang sangat ku sukai.

Tadinya ku pikir kebaikan Mamie hanya sandiwara agar Papa makin sayang padanya, tapi ternyata tidak.

Setiap kali Papa bertugas ke luar kota dan terkadang menginap sampai 3 - 4 malam di luar kota, Mamie malah semakin baik padaku. Bahkan boleh dibilang Mamie itu sangat memanjakanku pada saat Papa di luar kota.

“Tetap baik Pap,” jawabku saat papa tanya tentang Mamie.
“Makanya kamu harus bisa menyesuaikan diri ya Chep. Jangan nakal dan turuti apa pun yang Mamie minta dan suruh.”
“Iya Pap.”

Mamie memang sangat baik padaku. Jadi, tidak ada hal yang harus ku laporkan kepada Papa.

Yang paling menyenangkan, setiap aku berulang tahun, Mamie selalu memberikan kado ulang tahun yang bagus-bagus. Bahkan pada saat aku berulang tahun yang ke tujuhbelas, Mamie menghadiahkan sebuah motor bebek baru.

"cepat-cepet bikin SIM A dan C, jangan dipakai ngebut-ngebutan, karena Mamie tidak ingin melihatmu mengalami kecelakaan."
“Iya Mam,” sahutku, “Aku kan gak suka kebut - kebutan. Oh iya.. SIM A untuk apa Mam?”
“Kalau kamu sedang nyantai bisa kan nyetirin mobil mamie?”
“Owh.. siap Mam. Aku kan udah bisa nyetirin mobil Papa. Tapi belum punya SIM, karena belum tujuhbelas tahun.”
“Iya, makanya nanti sekalian bikin SIM A. untuk biayanya sih nanti mamie transfer ke rekening tabunganmu.”
“Siap Mam.”

Sebelum menikah dengan Papa, Mamie harus resign dari perusahaan. Karena di dalam perusahaan itu tidak boleh ada dua orang atau lebih yang ada pertalian darah. Tidak boleh pula ada suami-istri yang sama-sama bekerja di perusahaan itu.

Itulah sebabnya harus ada yang resign salah seorang, Papa atau Mamie. Maka Mamielah yang resign, karena kedudukannya lebih rendah daripada Papa. Gajinya juga jauh lebih kecil daripada gaji dan penghasilan sampingan Papa.

Tapi Mamie sangat rajin berbisnis. Setelah resign dari perusahaan dan menikah dengan Papa, Mamie mencari uang sendiri di rumah. Sehingga banyak ibu-ibu berdatangan ke rumah sebagai rekan bisnis Mamie.

Aku tidak tahu persis apa saja yang diolah oleh Mamie untuk bisnisnya. Kelihatannya Mamie menjual kebutuhan wanita semua.

Dan tampaknya Mamie sukses dalam bisnisnya. Sehingga ruang tamu dijadikan kantornya. Ada dua orang cewek yang bekerja di ruang tamu yang sudah dijadikan kantor itu.

Sukses Mamie memang mengagumkan. Sehingga dalam tempo singkat Mamie bisa membeli sebuah sedan yang harganya lebih mahal daripada mobil SUV Papa.

Ya.. aku kagum pada gesit dan lincahnya Mamie dalam berbisnis.

Tapi.. ada kekaguman lain yang ku rahasiakan di dalam hati. Kagum pada kecantikan Mamie yang luar biasa pengaruhnya ke dalam batinku ini.

Yang membuatku heran adalah, sudah sekian lamanya Mamie jadi istri Papa, tapi tidak hamil-hamil juga.

Apakah Mamie wanita mandul atau bagaimana? Entahlah. Aku tak berani menanyakannya.

Yang jelas, setiap kali aku berdekatan dengan Mamie, sudut mataku selalu “rajin” mencuri - curi pandang pada keelokannya.

Mamie berperawakan tinggi langsing, namun sepertinya padat berisi dan tidak kurus. Kulitnya putih kekuningan. Sepasang matanya bundar bening. Hidungnya mancung meruncing. Bibirnya tipis merekah.
1 2 3 5 >
Dan yang paling ku kagumi adalah giginya itu. Putih dan rapi sekali, seolah sudah diatur semuanya. Kalau Mamie sedang tertawa, aku suka terlongong memperhatikan dua baris gigi yang rapi dan “tertib” itu.

Namun kekagumanku tentang daya pesona Mamie itu tetap ku rahasiakan di dalam hati. Karena aku pun sadar bahwa Mamie itu milik Papa yang paling berharga.

Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan berputar terus dengan cepatnya. Tanpa terasa nanti tengah malam jam nol-nol, umurku akan 18 tahun.

Aku teringat tentang Papa yang sedang di luar kota.

Kalau usiaku 18 tahun, usia Papa pun akan genap 60 tahun, karena Papa menikah dengan Mama waktu berusia 41 tahuyn dan katika aku lahir usianya sudah menjadi 42 tahun. Sedangkan Mama waktu melahikan aku usianya baru 20 tahun. Berarti sekarang usia Mama sudah 38 tahun.

Yang membuatku lebih bersemangat, karena Papa sudah berjanji bahwa kalau usiaku sudah 18 tahun, aku boleh menemui Mama di kampungnya yang masih ku ingat jalannya. Bahkan bentuk rumahnya pun masih ku ingat (kalau belum dirombak). Pokoknya rumah Mama itu hanya terhalang 1 rumah di samping Puskesmas.

Memang jam 00.00 nanti usiaku genap 18 tahun. Tapi kegiatanku di kampus tadi sangat meletihkan. Sehingga aku hanya kuat melek sampai jam 22.00, kemudian mengganti pakaianku dengan kaus oblong dan celana pendek serba putih, lalu terlelap tidur setelah mematikan lampu utama, tinggal lampu LED biru yang cuma 2 watt ku biarkan tetap menyala seperti biasanya.

Namun rasanya baru sebentar aku tidur (sebenarnya sudah 2 jam aku tidur), tiba - tiba aku merasa bahuku digoyang-goyang disertai suara wanita memanggil-manggil namaku,

“Chep.. Chepi.. Chep.. bangun dulu sebentar..”

Dengan malas - malasan aku membuka mataku. Dan alangkah kagetnya ketika di dalam keremangan cahaya lampu biru 2 watt, ku lihat wajah.. Mamie!

“Oooh.. Ma.. Mamie..” ucapku tergagap, “Ada apa Mam?”

Aku spontan terduduk.

Mamie mengecup sepasang pipiku disusul dengan ucapan, “Selamat ulang tahun yang ke delapan belas ya Chepi Sayang. Semoga panjang umur dan sukses di masa depan.”

Aku terperangah. Karena harum parfum yang Mamie kenakan, tersiar ke penciumanku. Membuat suasana jadi berbeda dengan biasanya.

“Terima kasih Mam. Aku malah lupa kalau hari ini ulang tahunku,” ucapku berbohong.

Padahal dari tadi sore aku sudah mengingat-ingat hari yang sangat penting bagiku ini. Lalu aku turun dari bed untuk menyalakan lampu utama.

Keadaan di dalam kamarku pun menjadi terang.

Mamie berdiri dan mengusap - usap rambutku sambil bertanya,

“Kamu mau hadiah apa di ulang tahunmu kali ini? Mau tukar motor bebekmu dengan moge?”
“Nggak Mam,“ aku menggeleng, “Kalau punya moge, nanti malah jadi seneng main jauh - jauh. Motor yang ada juga masih bagus kok Mam”
“Terus mau apa dong? Ngomong aja terus terang. Apakah kamu mau dibeliin jam tangan yang seharga dengan moge?”
“Nggak Mam..”
“Terus.. mau hape yang mahal?”
“Gak juga. Hape-ku juga udah mahal dan masih bagus Mam..”
“Terus mau apa dong? Masa gak punya request sama sekali?”
“Mmm.. ada sih yang aku inginkan. Tapi bukan dalam bentuk barang.”
“Mau apa? Mau tour ke Bali atau ke Singapura atau ke Australia atau..”
“Aku pengen ngerasain tidur sama Mamie“ potongku.
“Haaa? Kok pengen tidur sama mamie? Kenapa?”

Aku berpikir sesaat, untuk mencari alasan.

Lalu berkata, “Waktu Mama belum pisah sama Papa, aku sering tidur dalam pelukannya. Terasa nyaman sekali. Tapi setelah Mama meninggalkan rumah ini, aku selalu tidur sendirian. Tidak pernah lagi me..”

Mamie memotong ucapanku, “Ya sudah sudah.. mamie mau bobo sama kamu sekarang. Mumpung Papa masih lama di luar kota. Mau tidur di mana? Di kamar mamie atau di sini aja?”

“Di sini aja. Hehehe.. beneran Mamie mau tidur di sini?“ tanyaku sambil memegang kedua tangan Mamie.
“Iya. Tapi mamie mau ganti baju dulu ya. Ini kan gaun yang sengaja mamie pakai untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Apa kamu gak mau makan di luar untuk merayakan ulang tahunmu?”
“Besok aja Mam. Sekarang udah tengah malam gini, mendingan juga bobo.”
“Oke,“ Mamie mengangguk sambil tersenyum. “Mamie mau pakai kimono dulu ya.”
“Iya Mam.”

Kemudian Mamie meninggalkan kamarku.

Aku matikan lampu utama lagi dan menyalakan lampu tidur 2 watt itu. Lalu menunggu Mamie datang lagi dengan merebahkan diri di atas bed, dengan terawangan bermacam-macam dan berkacau balau di benakku.

Apa yang harus kulakukan?
Haruskah aku berterus terang bahwa aku sering digoda oleh mimpi-mimpi jahanam yang selalu membuat celanaku basah itu?
Haruskah aku berterus terang bahwa sebenarnya aku sudah lama tergila-gila oleh Mamie?

Ah, entahlah. Aku harus menunggu sampai tiba saat yang tepat untuk membuka isi hatiku selama ini.

Tapi apakah Mamie takkan marah lalu bereubah sikap menjadi jutek padaku kelak?

Sesaat kemudian Mamie sudah masuk lagi ke dalam kamarku, dengan mengenakan kimono putihnya. Entah kenapa, aku jadi deg-degan dibuatnya. Karena ini untuk pertama kalinya Mamie akan tidur bersamaku.

“Kamu romantis juga ya. Lampu tidur juga berwarna biru,” kata Mamie sambil naik ke atas bed-ku. Lalu merebahkan diri di samping kiriku.

“Oh iya.. selama ini mamie gak pernah lihat kamu pacaran Chep.”
“Aku memang belum pernah punya pacar Mam.”
“Kenapa?“ tanya Mamie sambil menyelinapkan tangannya ke balik kaus oblongku. Dan mengusap-usap dadaku dengan lembut.

“Tapi kamu normal kan?” lanjut Mamie
“Maksud Mamie normal apanya?” tanyaku semakin deg-degan. Karena baru sekali ini Mamie mengusap-usap dadaku seperti ini.

“Normal dalam hal yang satu itu.. mmm.. kamu bukan penyuka sesama jenis kan?”
“Iiih.. amit - amit. Aku normal Mam.”
“Lalu kenapa gak pernah pacaran? Belum nemu yang sesuai dengan kriteriamu?”
“Iya Mam. Belum nemu cewek yang persis seperti Mamie dalam segalanya,” sahutku nekad.
“Haaa?” Mamie spontan bangkit. Duduk sambil menatapku dengan sorot heran.
“Kamu nyari cewek yang seperti Mamie? Memangnya bagaimana perasaanmu selama ini sama Mamie?” lanjutnya.

Aku tetap celentang dan menyahut sambil memejamkan mataku, “Sejak kecil sampai sekarang aku sayang sama Mamie. Aku juga kagum sama Mamie. Kagum sekali. Sampai sering terbawa-bawa ke dalam mimpi.”

“Oh ya?! Kamu kagum sama mamie dalam hal apanya?”
“Dalam segalanya Mam.. tapi Mamie jangan marah ya. Aku hanya ingin membuka isi hati yang sebenarnya.”
“Ya. Ngomong deh terus terang. Mamie paling suka orang yang jujur, yang selalu berterus terang dalam segala hal.”
“Sejak kecil aku mengagumi kecantikan Mamie dan gerak-gerik Mamie yang.. aah.. begitulah Mam.”
“Lalu kamu sering mimpiin mamie?”
“Iya Mam.”
“Mimpinya seperti apa?”
“Jauh.. jauh dari kenyataan Mam.”
“Pernah mimpi dicium sama mamie?”
“Sering. Lebih jauh lagi juga sering.”
“Haaa.. lebih jauh lagi itu seperti apa?”
“Malu mengatakannya Mam.”
“Jangan malu-malu dong. Jujur aja bilang, apa yang pernah kamu mimpikan tentang mamie?”
“Pokoknya.. mmm.. pagi harinya celanaku jadi basah Mam..”
“Hihihi..“ Mamie mencubit pipiku, “Kamu mimpi begituan sama mamie?”
“Iii.. iya Mam.”
“Kok bisa?!”
“Nggak tau kenapa Mam. Yang jelas mimpi - mimpi itu tidak diundang. Berdatangan sendiri dalam tidurku.”
< 1 2 3 5 >
“Kamu tentu sadar mamie ini punya papamu yang begitu menyayangimu kan?”
“Sadar kalau Mamie ini punya Papa. Aku salah ya Mam? Maaf kalau aku salah.”

Mamie rebahan lagi di sampingku. Harum parfum Mamie tersiar lagi ke penciumnanku.

Lalu Mamie melingkarkan lengannya di atas perutku sambil berkata lembut, “Kamu tidak salah Sayang. Kan mimpi itu tidak bisa diminta. Suka datang sendiri tanpa diundang. Hanya saja.. ah.. entahlah. Kamu ini bikin mamie bingung Chep."

Aku terdiam. Suasana pun jadi hening. Hanya elahan nafas Mamie dan nafasku yang terdengar.

Lalu Mamie mendekap pinggangku sambil bertanya, “Terus mamie harus gimana supaya kamu senang?”
“Nggak tau Mam. Aku juga bingung,” sahutku dalam kebingungan.

Tapi diam diam.. ada yang menegang di balik celana pendek putihku..!

“Kamu pengen merasakan ciuman bibir sama mamie?”
“Ma.. mau Mam.. ka.. kalau Ma.. Mamie gak keberatan“ aku tergagap.

Sebagai tanggapan ucapan gagapku, Mami bergerak ke atas dadaku. Menghimpitku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu.. Mamie memagut bibirku ke dalam ciumannya yang harum penyegar mulut. Membuatku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, selain mendekap pinggangnya erat-erat.

Tapi aku tahu benar bahwa penisku langsung ngaceng berat ketika sedang berpelukan dan berciuman ini.

Mamie juga tahu hal ini, karena tangannya merayap ke balik celana pendekku. Lalu tersentak kaget, “Punyamu luar biasa gedenya.. Punya Papamu juga kalah.. tidak sepanjang dan segede ini..” ucapnya setengah berbisik.

Aku terdiam sambil berharap semoga Mamie kasihan padaku dan memberikan sesuatu yang ku dambakan selama ini.

Tapi Mamie malah menghela nafas. Lalu kembali telentang di sampingku sambil mengusap-usap dahinya, seolah tengah memikirkan sesuatu.

“Kamu tau apotek yang buka duapuluhempat jam kan?” tanyanya.
“Tau Mam. Ada dua apotek yang buka duapuluhempat jam.”
“Beliin pil anti hamil gih.”
“Iya Mam,” sahutku sambil duduk, “Sekarang?”
“Iya. Ambil aja duitnya di laci meja rias mamie. Beli satu strip aja,” ucap Mamie.

Seperti biasa, aku tak pernah bertanya dan membantah kalau Mamie sudah menyuruhku.

Kemudian aku turun dan mengambil jaket kulitku yang tergantung di kapstok. Dan melangkah ke luar sambil mengenakan jaket kulit ini.

Sebenarnya aku heran juga kenapa Mamie menyuruhku membeli obat anti hamil.

Apakah dengan berciuman saja bisa menyebabkan kehamilan?
Tapi bukankah Mamie itu mandul sehingga sampai sekian lamanya jadi istri Papa tidak bisa hamil-hamil juga? Lalu buat apa pil anti hamil itu?

Entahlah. Yang jelas aku harus mengikuti perintahnya.

Beberapa saat kemudian aku sudah melarikan motorku di saat jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul satu pagi.

Jalanan yang sudah lengang membuatku bisa bergerak cepat. Sehingga tak lama kemudian aku sudah pulang sambil membawa pil yang Mamie suruh beli itu.

Mamie tampak sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas coffee late.

“Cepat sekali.. ngebut barusan?” tanyanya sambil memperhatikan bagian belakang strip pil kontrasepsi itu. Mungkin sedang membaca aturan pakainya.

“Nggak Mam. Kebetulan aja jalannya sedang kosong,” sahutku sambil duduk di samping Mamie di atas sofa.

Lalu Mamie menatapku dengan senyum.

“Chepi.. kamu sudah pernah menggauli perempuan? Ngomong aja terus terang, jangan bohong ya.”
“Belum pernah Mam. Disumpah dengan kitab suci juga aku mau.”
“Kalau ngocok aja sih suka kan?”
“Nggak Mam. Tapi me.. meletus sendiri di celana sih sering.”
“Tiap kali mimpiin mamie kamu suka basah?”
“Iya Mam.”
“Kasihan anak mamie..”

Ucap Mamie sambil memijat hidungku. Lalu mengecup bibirku.

“Sering nonton video porno?” lanjutnya.
“Jarang sekali Mam. Paling juga baru tiga kali. Soalnya kalau sudah nonton bokep, aku suka tersiksa sendiri.”
“Iya.. memang jangan sering - sering nonton bokep. Karena kamu masih sangat muda. Bokep sih untuk perangsang manusia yang sudah tua.”
“Iya Mam.”
“Kamu pernah melihat mamie telanjang?”

“Pernah, cuma satu kali. Itu juga pada waktu aku masih kecil, kalau gak salah waktu baru kelas satu SMP. Waktu itu aku mau minta uang untuk bayaran sekolah. Aku masuk ke kamar Mamie, tapi Mamie sedang mandi. Dinding kamar mandi Mamie kan terbuat dari kaca blur. Jadi kelihatan Mamie lagi mandi. Tapi samar-samar, karena kacanya blur.

“Belum pernah melihatnya secara jelas?”
“Belum.”
“Kamu ingin melihat mamie telanjang secara jelas?”
“Ka.. kalau Mamie gak keberatan.. mau banget..”
“Terus.. kalau mamie udah telanjang mau diapain?”
“Ng.. nggak tau.. mungkin mamie bisa ngajarin aku, karena aku belum pernah merasakan begituan sama perempuan. Ciuman pun baru merasakan dengan Mamie tadi.”

“Sebenarnya di usiamu sekarang ini, normal-normal aja kamu merasakan hubungan sex dengan perempuan. Yang gak normal adalah.. mamie ini istri papamu Chep. Jadi kalau kita sampai melakukan hubungan badan, berarti kita menghianati Papa.”

“Iya Mam. Aku terima salah. Mohon Mamie maafkan aku yang gak tau diri ini.”
“Kamu tidak salah juga Chep. Mungkin mimpi - mimpimu itu yang bersalah. Padahal kamu tidak pernag mengundang mimpi-mimpi itu kan?”
“Iya Mam..”

Ucapanku terputus karena Mamie menyelinapkan tangannya ke celana pendek yang biasa ku pakai tidur atau olah raga ini. Mamie langsung memegang kontolku yang memang tidak bercelana dalam ini.

“Kontolmu ini sudah ngaceng sekali. Coba buka celanamu Chep. Mamie ingin lihat secara jelas,” kata Mamie sambil mengeluarkan tangannya dari balik celana pendekku.

Ku turuti perintah ibu tiriku yang cantik itu. Ku pelorotkan celana pendekku sampai terlepas dari kedua kakiku. Sehingga aku tidak bisa menyembunyikan lagi kontolku yang sudah ngaceng sekali ini.

Mamie spontan menangkap kontolku sambil menatapnya dengan mata terbelalak..

“Wooow.. kontolmu ini luar biasa gede dan panjangnya Chep. Ereksinya pun sempurna, keras sekali. Tidak seperti punya papamu yang ereksinya setengah-setengah.”

Ku biarkan saja Mamie memegang kontol ngacengku, seperti anak kecil yang punya mainan baru. Bukan cuma dipegang. Mamie pun menciumi kepala kontolku. Bahkan juga menjilatinya, sehingga nafasku mulai tidak beraturan.

Sambil menciumi dan menjilati moncong kontolku, Mamie pun menarik tanganku ke balik kimononya. Lalu meletakkannya di antara kedua pangkal pahanya.

“Mam.. iii.. ini punya Mamie?” tanyaku gugup.
“Iya.. tapi memek mamie harus dijilatin dulu sampai basah. Karena kontolmu terlelu gede. Pasti sakit dan susah masuknya kalau tidak dijilatin dulu.”

Aku yang pernah melihat bokep cowok menjilati vagina cerweknya.

“Iya Mam.. aku siap untuk menjilati memek Mamie sampai basah.” kataku spontan.

Mamie melepaskan kontolku dari genggamannya. “Ayo di kamarmu aja, biar lebih leluasa.”

Aku pun mengambil celana pendekku yang tergeletak di sofa, tapi tidak mengenakannya lagi karena tiada perintah dari Mamie.

Setibanya di dalam kamar, Mamie menyambutku dengan pegangan di kedua tanganku.

“Kamu mau melihat mamie telanjang kan?”
“Iiii.. iya Mam,” sahutku tergagap dalam semangat yang berkobar.
“Chepi, mamie sangat sayang padamu. Karena itu mamie akan mengabulkan apa pun yang diinginkan pada ulang tahunmu yang kedelapanbelas ini,” ucap Mamie sambil melepaskan kimono putihnya. Dan..
< 1 2 3 5 >
Sekujur tubuh Mamie langsung terbuka, karena tiada apa-apa lagi di balik kimono itu selain tubuh Mamie yang aduhai.

Inilah untuk pertama kalinya aku menyaksikan Mamie telanjang secara jelas. Tanpa terhalang kaca blur. Dan aku terkagum-kagum menyaksikan tubuh indah dan putih mulus itu, seolah menyaksikan keelokan bidadari yang baru turun dari langit.

“Kok malah bengong?” tanya Mamie.

Lalu Mamie menarik pergelangan tanganku, sehingga aku terhempas ke atas dadanya yang dihiasi bukit kembar yang benar - benar seimbang dengan bentuk badannya. tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.

Mamie melepaskan kaus oblongku sambil berkata, “Kamu juga harus telanjang. Supaya kulit bertemu kulit..”

Setelah kaus oblong meninggalkan badanku, Mamie berkata lagi, “Sekarang lakukanlah apa pun yang kamu inginkan pada diri mamie..”

“Aku belum punya pengalaman, jadi.. aku tidak tau harus mulai dari mana.. karena takut salah..” sahutku sambil meraba-raba toket Mamie dengan tangan gemetaran.

“Kamu mau menyetubuhi mamie kan?“ tanya Mamie sambil mencolek bibirku dengan telunjuknya.

Aku amati wajah cantik Mamie yang itu tengah tersenyum tampak sangat menggoda.

“Mau sekali.. tapi kalau ada yang salah mohon dibetulkan ya Mam.”
“Iya.. nanti mamie ajarin. Sekarang jilatin dulu memek mamie sampai benar-benar basah ya.”
“Siap Mam..”

Aku melorot turun, sehingga wajahku berada di atas memek Mamie yang begitu bersihnya, tiada jembutnya selembar pun. Hanya ada yang baru mau tumbuh di bagian atasnya.

Aku pernah memperhatikan foto-foto wanita telanjang. Pernah juga beberapa kali nonton bokep. Tapi baru sekali inilah aku menyaksikan kemaluan wanita dalam kenyataan, dalam jarak yang sangat dekat pula dengan mataku.

Kemudian Mamie merentangkan sepasang paha mulusnya sambil menunjuk ke arah memeknya yang sudah dingangakan.

“Nih bagian-bagian ini yang harus dijilati. Ini kan bibir dalam, ini liang kecil untuk masuknya kontolmu nanti. Terus ini namanya clitoris, dalam bahasa kita biasa disebut kelentit atau itil.

“Iiii.. iya Mam..” sahutku tersendat, karena nafasku semakin sulit diatur, membayangkan kontolku akan dimasukkan ke lubang sekecil itu.

Lalu Mamie memberi petunjuk-petunjuk lain, agar aku mulai tahu bagaimana cara memperlakukan kemaluan perempuan.

Aku pun menjilati kemaluan Mamie. Mulai dari bagian dalam yang berwarna pink itu, sambil berusaha mengalirkan air liurku sebanyak mungkin, seperti petunjuk dari Mamie barusan. Begitu pula clitorisnya ku jilati segencar mungkin.

Sementara itu Mamie mulai menggeliat-geliat sambil meremas-remas rambutku yang berada di bawah perutnya.

“Iya Chep.. itilnya jilatin lagi Chep.."
"iya.. aah.. aah.. enak sekali Chepiii.. iyaaa.. jilatin terus Cheeeph.."

Cukup lama aku melakukan semuanya ini, sementara nafsuku semakin menggebu-gebu.

Sampai akhirnya Mamie mengepit kepalaku dengan kedua tangannya, sambil terengah.

“Su.. sudah cukup Sayang. Sekarang masukin kontolmu..”

Dengan perasaan masih bingung, aku menjauhkan mulutku dari memek Mamie. Kemudian mendekatkan kontolku ke memek Mamie.

Pada saat itulah Mamie memegang leher kontolku, kemudian mengarahkan kepalanya ke mulut memeknya. Mungkin sedang diarahkan ke mulut liang yang tadi Mamie tunjukkan dan tampak kecil itu.

Ketika amukan birahiku semakin menggila, terdengar suara Mamie, “Ayo dorong.. !”

Aku pun mendorong kontolku yang lehernya masih dipegang olehnya.

Perlahan - lahan zakarku melesak ke dalam liang memek Mamie yang rasanya.. aduhai luar biasa enaknya..!

Mamie pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya sambil berdesah.

“Sudah masuk sayang.. Sekarang mamie bukan hanya punya Papa, tapi juga punya Chepi..”

Entah kenapa, ucapan Mamie itu membuatku tersentuh.. sangat tersentuh. Tapi aku tidak bisa menjawabnya, karena mulai melaksanakan petunjuk Mamie.

Ya, atas petunjuk Mamie, aku pun mulai mengayun kontolku dengan hati-hati di dalam jepitan liang memeknya.

Buatku yang masih pemula, liang memek Mamie ini terasa benar dindingnya bergerinjal lunak.

“Ayo.. sekarang cepatin entotannya. Tapi jangan sampai lepas dari dalam memek Mamie ya..“ bisik Mamie.
“Iiii.. iyaaaa.. duuuh.. Mam.. me.. memek Mamie ini luar biasa enaknya.”
“Kontolmu juga luar biasa enaknya Sayaaaang,” ucap Mamie yang dilanjutkan dengan kecupan hangat di bibirku.

Aku merasa bangga mendengar ucapan Mamie itu. Tapi mungkin aku terlalu menikmati semuanya ini. Maklum, inilah untuk pertama kalinya aku merasakan berhubungan sex.

Sehingga tak lama kemudian aku menggelepar di atas perut Mamie, sambil membenamkan kontolku sedalam mungkin, disusul dengan muncratnya peju lendir kenikmatan dari moncong penisku.

Crot! Crot! Crot!

Lalu aku terkulai di dalam dekapan Mamie.

Mamie tersenyum dan mengecup bibirku. Lalu bertanya perlahan, “Udah ejakulasi?”
“Iya Mam.. ternyata aku gak kuat lama-lama,” sahutku bernada kecewa.
“Nggak apa-apa. Biasanya memang begitu kalau baru pertama kali sih. Sebentar lagi juga pasti kontolmu ngaceng lagi,” balas Mamie sambil mempererat dekapannya.

Benar saja, tak lama kemudian kontolku yang masih berada di dalam liang memek Mamie, mulai menegang lagi sedikit demi sedikit.

“Nah tuh.. udah ngaceng lagi kan?” ucap Mamie sambil menggoyangkan pinggulnya, sehingga kontolku terasa seperti diremas-remas dan dibesot - besot.

Semakin lama kontolku makin ngaceng saja dibuatnya.

“Udah keras nih,” ucap Mamie, “ayo entotin lagi.”

“Iya Mam..” kataku sambil mengayun kontolku perlahan-lahan.
“Mam.. aku yakin.. aku beneran cinta sama Mamie..” lanjutku
“Apa?” tanya Mamie sambil tersenyum.
“Aku cinta Mamie,” balasku agak keras.
“Apa?!” tanya Mamie dengan tatapan dan senyum yang menggoda.
“AKU CINTA MAMIE!!!” teriakku cukup keras.
“Shtt! Jangan teriak juga kali. Nanti kedengaran si Bibi.”
“Eh.. iya yaa.. maaf Mam..”
“Mamie hanya ingin mendengar pernyataan cintamu berulang-ulang.. karena mamie bahagia mendengarnya.”

Kenapa Mamie merasa bahagia mendengar ucapan cintaku? Apakah karena Mamie juga mencintaiku? Entahlah.

Yang jelas aku melanjutkan aksiku sambil merapatkan pipiku ke pipi hangat Mamie, sambil bergumam setengah berbisik,

“Aku cinta Mamie.. aku cinta Mamie.. aku cinta Mamie.. aaaakuuuu cintaaa Maaamie..”

Tiba - tiba Mamie memagut bibirku ke dalam ciuman hangatnya.

Disusul dengan bisikannya, “Kamu pikir mamie tidak mencintaimu? Kalau mamie tidak mencintaimu, tak mungkin mamie biarkan kamu menyetubuhi mamie Chep..”
“Ja.. jadi Mamie juga mencintaiku?” tanyaku sambil menghentikan entotanku sejenak.

Mamie menatapku sambil tersenyum. Membelai rambutku dengan lembut.

“Iya.. mami cinta dan sayang kamu Chepi..”

Entah kenapa, mendengar pengakuan Mamie itu aku jadi bahagia.. bahagia sekali.

Malam ini memang malam jahanam. Tapi duniaku terasa indah sekali.

Lalu Mamie memberitahu titik-titik yang peka di wilayah dada dan kepalanya. Dan memberitahu trik supaya Mamie merasakan nikmatnya disetubuhi olehku.

Aku pun mulai mengerti trik dan titik-titik peka itu. Mulailah aku mengayun kembali kontolku sambil menjilati leher jenjang Mamie.
< 1 3 4 5 >
Kelihatan sekali Mamie menikmatinya. Terlebih ketika aku mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya. Maka mulailah aku merasakan sesuatu yang baru. Bahwa pinggul Mami mulai bergeol - geol, meliuk - liuk dan menghempas - hempas. Liang memeknya pun terasa membesot - besot dan meremas - remas kontolku.

Cukup lama hal ini terjadi. Sementara rintihan - rintihan Mamie pun mulai terdengar.

“Aaahh.. Chepiii.. mamie juga cinta kamu Sayang.."
"entot terus Chep.. iya gitu.."
"Kontolmu luar biasa enak sayang.. aaahh.."

Entah berapa lama aku lakukan ajaran Mamie hinngga ia kelojotan sambil mendesah dan merintih.

“Aaahh.. mamie mau lepas.."

"Aaaarghh..!"

Mulutnya ternganga sementara tubuhnya mengejang, tegang sekali. Aku belum tahu harus berbuat apa, sehingga ku biarkan diam saja kontolku yang terbenam di dalam liang memeknya.

Lalu sesuatu yang sangat erotis terjadi. Liang memek Mamie terasa berkedut - kedut kencang. Disusul dengan semakin basahnya liang memek Mamie yang tengah mencengkram kontolku.

Lalu tubuh Mamie terasa melemas. Disusul dengan kecupan hangatnya di bibirku.

“Terima kasih ya Sayang.. belum pernah mamie merasakan disetubuhi yang senikmat ini.” kata Mamie pelan.
“Mamie sudah orgasme?” tanyaku sambil mengusap pipi Mamie yang mengkilap karena berkeringat.
“Iya Sayang,” balas Mamie sambil melingkarkan lengannya di leherku.
“Tapi kamu belum ejakulasi kan? Ayo entotin lagi.. jangan direndem terus..” lanjutnya.

Kembali ku ayunkan kontolku di dalam liang memeknya yang terasa lebih licin dan becek daripada tadi, bagiku lebih enak pula rasanya. Dengan sangat bergairah aku mengentot liang memek Mamie (ibu tiriku yang cantik dan selalu baik padaku itu) lebih cepat dari tadi.

“Mamie.. ini lebih enak Mam..” ucapku.
“Kon.. kontolmu juga enak sekali Chep.. bisa ketagihan mamie nanti..” balas Mamie merem melek.
“Kapan pun aku siap Mam..”
“Iya Sayang.. mamie cinta kamu.. Mamie juga jatuh cinta batang penismu.."

Mulutku beraksi lagi, menjilati bagian-bagian sensitive di tubuh Mamie, tanganku juga giat meremasi kedua gundukan toket kenayalnya.

"Genjot terus Chepi.. jilatin leher mamie kayak tadi.. aaahh..”

Kontolku masih memompa liang memek Mamie yang luar biasa enaknya ini, lidahku juga terus menjelajah sampai ketiak Mamie kujilati, ku sedot-sedot kuat, sehingga Mamie makin klepek-klepek.

Mamie juga menggoyangkan pinggulnya, rintihan dan desahan semakin berisik.

“Chepi.. Ooohh.. kamu sudah makin pandai Sayang.. Ssshh.. Mamie makin keenakan.."

Aku semakin bersemangat untuk mengentot liang kenikmatannya, keringatku semakin membasahi tubuhku.

Beberapa menit kemudian goyangan pinggul Mamie semakin menggila, memutar-mutar, meliuk-liuk, kontolku terasa dibesot-besot dan diremas-remas oleh liang memeknya.

“Chep.. mamie mau lepas lagi. Ayo barengin Chep.. biar nikmat..”

Aku yang juga sudah tak tahan akan datangnya orgasme.

Secara naluri ku percepat genjotan kontolku. Dan saat-saat terahir ku tancapkan sedalam mungkin batang kontolku di liang memek Mamie, secara sepontan Mamie mencengkram bahuku.

Tubuh kami sama-sama kejang dengan mata terpejam, kurasakan semburan lendir orgasme kami bertabrakan dan menyatu, menimbulkan kenikmatan yang tak dapan diungkapkan dengan kata-kata.

Crot! Serr! Crot! Serr! Crot! Serr!

Lalu kami sama-sama lemas setelah di terjang orgasme luar biasa.

Malam itu adalah malam yang takkan ku lupakan seumur hidupku. Pertama kalinya kontolku bersarang di memek wanita, pertama kalinya menyetubuhi Mamie, menyudahi masa perjakaku.

Jahanam memang perbuatanku ini. Mamie itu istri Papa, hal yang paling berharga baginya telah ku curi.

Aku juga tak kalah berharga bagi Papa, sangat dia sayangi, tapi beginikah aku membalasnya?

Di sisi lain, aku telah terlena dengan indahnya kenikmatan di malam jahanam ini, aku bisa merasakan sesuatu yang tadinya hanya sebatas obsesi yang mustahil terwujut.

Semakin indah lagi setelah Mamie mengajakku mandi bareng di kamar mandiku.

“Masih ingat waktu kamu sering mamie mandikan dahulu?” tanya Mamie sambil menyabuni tubuhku.
“Iya.. di pancuran di kampung Mamie. Aku masih di SD kan saat itu Mam,” balasku.
“Iya. Kamu masih kecil saat itu. Kontolmu juga masih kecil. Tapi sekarang udah panjang gede gini. Sudah bisa nakalin memek mamie pula,” ucap Mamie pada waktu menyabuni kontolku yang sudah terkulai lemas.

Tapi tak cuma menyabuni kontolku, melainkan juga mengocoknya, perlahan-lahan kontolku mulai menegang kembali.

“Hihihi.. kontolmu udah ngaceng Chep. Emang masih kepengen ngentot lagi ya?”
“Nggak tau.. kalau udah ngaceng gini berarti masih bisa ngentot lagi gak Mam?”
“Iya. Tapi sekarang sudah jam setengah tiga pagi. Mendingan tidur aja, biar kamu gak kesiangan kuliah nanti.”
“Sekarang kan tanggal merah Mam.”
“Oh iya ya. Berarti kamu libur hari ini. Ya udah.. selesaikan aja mandinya dulu. Kalau masih kepengen ngentot lagi, nanti mamie kasih."

Setelah selesai mandi, kami bersetubuh lagi di atas ranjangku. Durasinya lebih lama lagi, Mamie orgasme dua kali lagi sebelum aku ngecrot di dalam liang memeknya.

Kemudian kami tertidur nyenyak, berpelukan dan masih telanjang.

Aku bangun agak siang, kulihat Mamie masih nyenyak tidur. Aku kemudian mandi.

Setelah selesai mandi, ku kenakan baju dan celana piyama. Melihat Mamie yang masih tidur, ku kecupan mesra sepasang pipinya.

“Terima kasih Mam. Khayalanku sudah menjadi kenyataan. Bahkan lebih daripada yang pernah ku khayalkan.” bisikku

Tiba-tiba Mamie tersenyum manis, membuka matanya.

“Dengan mama kandungmu aja belum pernah dipelukin dalam keadaan sama-sama telanjang kan?”
“Iya Mam.”
“Terus.. sekarang kamu bahagia?” tanya Mamie sambil mengenakan kimononya.
“Sangat bahagia Mam.”
“Syukurlah. Mamie juga bahagia karena telah mendapatkan kebujanganmu. Tapi kalau Papa sudah datang, kita harus cari-cari kesempatan. Mungkin kalau Papa sedang di kantor dan kamu kuliah sore, baru bisa kita lakukan.”
“Iya Mam. Ohya kapan Papa pulang?”
“Katanya sih besok malam. Dipercepat dua hari, karena ingat kamu sedang berulang tahun hari ini.”

===x0x===

Besoknya Papa pulang..

Begitu masuk ke dalam rumah, Papa langsung memanggilku, entah kenapa.

Karena aku merasa sudah melakukan kesalahan besar kepada Papa, jantungku berdegup kencang saat menghampiri beliau.

Ternyata Papa memeluk dan mencium dahiku.

“Selamat ulang tahun yang kedelapanbelas, ya Chep. Semoga panjang umur dan sukses selalu. Maafkan papa karena tidak bisa pulang pada hari ulang tahunmu kemaren. Tapi papa sudah transfer dana ke rekening tabunganmu, sebagai hadiah ulang tahun. Terserah kamu mau diapakan duit itu nanti, karena kamu sekarang sudah mulai dewasa." kata Papa
“Iya Pap.. terima kasih.”
“Kapan kamu libur panjang?” tanya Papa.
“Dua minggu lagi Pap.“

“Nah.. sekarang kamu sudah besar, sudah dewasa. Jadi kamu sudah bisa menilai sendiri mana yang baik dan mana yang buruk bagimu. Karena itu sekarang papa izinkan kamu untuk berjumpa dengan mamamu. Biar bagaimana Mamamu itu adalah ibu kandungmu."

“Iya Pap. Terima kasih.“
“Kamu masih ingat rumah mamamu kan?”
“Masih Pap. Rumahnya kan yang menghadap ke jalan raya, tapi di sampingnya ada jalan kecil.“
< 1 4 5 6 >
“Iya,” jawab Papa, “Di halaman depannya banyak pohon delima dan pohon mangga. ““
“Iya Pap. Aku masih ingat semuanya.“
“Lalu kamu mau pakai apa ke sana? Pakai bus?”
“Pake motor aja Pap. Biar bebas setelah ada di rumah Mama nanti. “

===x0x===

Dua minggu kemudian, aku sudah melarikan motorku ke kampung Mama yang jaraknya 60 kilometer dari kotaku.

Jalan cukup padat dengan kendaraan roda empat mau pun roda dua. Untunglah aku memakai motor, sehingga bisa selap–selip ke kiri ke kanan.

Dalam tempo relatif cepat aku pun sudah tiba di kampung Mama. Tanpa kesulitan sedikit pun aku tiba di depan rumah Mama yang masih sangat kuingat.

Bahkan pohon mangga yang berderet di depan rumah Mama masih tetap seperti dahulu.

Ketika aku celingukan di dekat pintu depan, terdengar suara wanita dari ambang pintu itu, “Mau nyari siapa Dek?”

Aku terkejut dan mengamati wanita itu yang masih sangat kuingat. Yaaa.. dia Mama kandungku!

“Mama lupa sama aku? Ini Chepi Mam,” balasku yang disusul dengan mencium tangan Mama.
“Chepiii?! Ya Tuhan..“

Mama merangkul dan memelukku sambil menangis tersedu – sedu, “Chepiii.. hiks.. anakkuuu.. mama yakin, suatu saat kamu akan datang. hiksss.. Chepiiii.."

Mama berjalan terhuyung–huyung sambil ku dekap pinggangnya erat–erat, takut beliau jatuh.

Kemudian Mama kududukkan di sofa. Sementara aku berlutut di lantai sambil menciumi lututnya, sambil bercucuran air mata.

Dengan suara sendu aku berkata, “Baru hari ini aku diijinkan oleh Papa untuk menjumpai Mama. Bahkan Papa nyuruh untuk menghabiskan liburanku selama dua minggu di sini. “

Mama menciumi rambutku dan masih terisak – isak.

“Kekuatan apa pun takkan bisa memisahkan anak dengan ibu kandungnya. Mama memang mengerti kenapa kamu tidak diijinkan ke sini pada waktu masih kecil.. hiks.. hiks.. mama berjuang untuk menenangkan hati mama selama ini. Untung masih banyak saudara yang sering menghibur hati mama dan berusaha menabahkan mama.

“Sudah Mam. Jangan menangis terus. Sekarang aku kan sudah bisa menjumpai Mama kapan saja“

Mama pun berusaha menahan isak tangisnya. “Sekarang berapa usiamu nak?”

“Delapanbelas. Usia Mama sekarang tigapuluhdelapan ya?”
“Iya. Kok kamu bisa tau?”
“Dahulu Mama kan pernah bilang, usia Mama duapuluh tahun waktu melahirkan aku. “
“Iya, iyaaa.. sekarang kamu kuliah?”
“Iya Mam. Baru semester dua. “
“Syukurlah."

Mama masih tetap seperti dahulu, seperti waktu sebelum berpisah denganku.

Aku tak mau membanding–bandingkan fisik Mama dengan Mamie. Karena Mama dan Mamie punya kelebihan masing – masing.

Dari perawakannya saja sudah jauh berbeda. Mamie berperawakan tinggi langsing, mata agak sipit. Sedangkan Mama bertubuh tinggi montok, bermata bundar, mirip orang Pakistan.

Mama kelihatan sangat senang dengan kehadiranku di rumahnya. Lalu Mama sibuk di dapur bersama seorang pembantu yang datang pagi pulang sore, kata Mama.

Ketika hari sudah mulai sore, Mama mengajakku makan bersama. Sengaja aku duduk di samping Mama, karena aku mendadak jadi manja, ingin disuapi olehnya.

Mama ikuti saja keinginanku. Ia menyuapiku.

“Waktu masih kecil kamu seneng sekali makan abon sapi dan sambel oncom yang kering dan dihaluskan. Sekarang masih suka?” kaka Mama
“Masih Mam,” sahutku, “Tapi Mamie cuma sekali – sekali aja menyediakan makanan favoritku itu.“
“Ibu tirimu galak nggak?” tanya Mama.
“Nggak. Sejak tinggal bersama dia sampai sedewasa ini, aku gak pernah dimarahi olehnya. Apalagi kekerasan, tak pernah terjadi. Dijewer telinga aja gak pernah.“
“Syukurlah kalau begitu. Kapan – kapan ajak dia ke sini. Mama akan terima dengan baik kok. Mama sudah tidak punya perasaan dendam lagi padanya. Yang penting dia mau merawat anak mama sebaik mungkin.“
“Iya, Mama tenang aja. Mamie gak pernah memperlakukanku secara buruk.“

Lalu kami lanjutkan ngobrolnya di ruang keluarga, sambil nonton televisi yang sedikit pun tak masuk di pikiranku. Entah kenapa, aku malah teringat – ingat Mamie terus. Teringat Mamie dan segala yang pernah terjadi dengannya.

Setelah hari mulai malam, Mama hendak menempatkanku di kamar depan bekas kamar kakek dan nenek yang sudah tiada, yang sudah dibereskan serapi mungkin. Tapi aku takut tidur di kamar itu sendirian. Maka aku menolaknya.

“Kamar yang layak ditempati hanya ada dua. Apa mau di kamar mama?” tanya Mama.

Dengan gaya manja aku memeluk Mama dari belakang.

“Iya.. mau tidur sama Mama aja. Sebelum kita berpisah, aku kan masih suka tidur sama Mama. Nyaman sekali tidur dalam pelukan Mama.“ kataku
“Ya udah. Bawa tas pakaianmu ke kamar mama gih,” kata Mama sambil tersenyum.
“Iya Mam.. emwuaaah..” kataku lalu ku cium pipinya.

Malam itu aku merasa nyaman sekali tidur di dalam dekapan Mama. Setelah sembilan tahun berpisah, aku bisa merasakan lagi nyamannya dekapan dan kehangatan ibu kandung.

Malam kedua pun begitu, tapi sebelum tidur kami masih sempat ngobrol di atas tempat tidur Mama.

Dari obrolan itu aku tahu kalau Mama tak biasa hamil lagi. Jika memaksakan hamil resikonya besar dan fatal. Karena itu mama masih menjanda sampai sekarang, padahal banyak pria yang tertari dengan Mama yang memang cantik.

Di malam ketiga, aku malah duluan masuk ke kamar Mama, sementara Mama masih asyik nonton sinetron di televisi.

Pada malam ketiganya terjadi peristiwa yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, apalagi merencanakannya.

Saat itu aku sudah rebahan di ranjang Mama, dengan mata terpejam, tapi sebenarnya aku belum tidur. Hanya merem – merem ayam.

Mama masuk ke dalam kamar, menengok ke arahku yang sedang merem–merem ayam. Lalu sambil membelakangiku, Mama melepaskan pakaiaanya dan jilbabnya, disusul dengan melucuti beha dan celana dalamnya.

Entah setan mana yang merasukiku, diam – diam kontolku mulai menegang di balik celana piyamaku..!

Dalamn keadaan telanjang bulat, Mama membuka lemari pakaiannya, mengeluarkan kimono hitam yang lalu dikenakannya. Di balik kimono itu Mama tidak mengenakan apa–apa lagi.

Apa memeng sudah menjadi kebiasaannya kalau tidur..?

Ketika Mama naik ke atas tempat tidur, aku langsung bereaksi. Mendekap Mama, tapi bukan pada pinggangnya, melainkan di toket gedenya yang masih tersembunyi di balik kimono hitamnya.

Mama agak kaget.

“Belum tidur?”
“Belum,” kataku.

Aku masih memegang toket Mama.

“Pengen nenen dulu seperti masa kecil dahulu, boleh kan?”
“Hihihi.. kamu inget masa kecil?”
“Iya. Sampai kelas dua SD aku masih suka ngemut puting payudara Mama sebelum tidur,” balasku

Aku bergerak menelungkup di samping Mama. Lalu ku emut pentil toket kanannya.

Sebenarnya ini salah satu trik yang ku dapat dari Mamie. Bahwa kalau pentil toket diemut sambil dijilati, pasti perempuan itu akan terangsang dan jadi horny. Maka itulah yang ku lakukan. Ku emut pentil toket Mama sambil menjilatinya.

Mama tidak menolak. Bahkan dengan lembut dibelainya rambutku.

“Kamu anak mama satu–satunya Chep. Apa pun yang kamu inginkan, akan mama kabulkan.“ ucap Mama.

Mendengar ucapan itu spontan tanganku menelusup masuk kimononya terjulur ke bawah, hinggap tepat pada selangkangannya.

“Kalau semua keinginanku akan Mama kabulkan, ajari aku tentang cara bersetubuh ya Mam.“ kataku tanpa ragu.
“Haaaa?!“ Mama tampak kaget, “Yang begituan sih gak perlu diajarin. Nanti juga bisa sendiri.“

Pada saat itu pula aku telah berhasil menyelinapkan jari tanganku ke dalam celah memek Mama.

“Aku ingin merasakan bersetubuh Mam. Kata orang–orang sih enak sekali. Makanya aku ingin nyoba. Dimasukkannya ke sini ya Mam?” tanyaku pura–pura belum punya pengalaman dalam soal seks.

< 1 5 6 7 >
“Iya Sayaaang.. tapi mama ini kan ibumu Naaak..“
“Terus kalau ingin nyoba harus dengan pelacur?”
“Hush..! Jangan Sayang. Kalau dengan pelacur, nanti kamu bisa ketularan penyakit kotor. Hiii.. serem..! Apalagi kalau ketularan HIV.. takkan bisa disembuhkan. Ngeriiii..“
“Ya udah, kalau gitu sama Mama aja. Kan Mama sudah jadi janda. Gak ada yang punya.“
“Tapi mama ini ibumu.. yang mengandung dan melahirkanmu..“ suara Mama mulai mengambang.

Karena jari tanganku mulai ku gesek–gesekkan di celah memeknya yang mulai basah. Anehnya, Mama tidak berusaha mengeluarkan jari tanganku dari liang memeknya.

“Sayang.. jangan bikin mama bingung dong." kata Mama lirih.

Diam–diam tangan Mama menyelundup ke balik celana piyamaku.

Ketika aku sedang asyik memainkan jariku di liang memeknya yang makin basah ini, tangan Mama memegang batang kontolku yang sudah ngaceng berat.

“Chepi.. ini kontolmu diapain bisa gede dan panjang banget gini?” tanya Mama.
“Gak diapa–apain Mam.“
“Lebih gede dan lebih panjang daripada punya papamu Chep,” ucap Mama mengingatkan ucapan serupa yang terlontar Mamie.

“Mungkin karena almarhumah nenek orang Pakistan ya Mam.“
“Mungkin aja. Iiiih.. kebayang istrimu kelak, pasti ketagihan sama kontolmu ini sih.“
“Jadi Mama mau kan ngajarin aku bersetubuh? Jangan pake alesan ini itu lagi Mam. Kalau iya jawab iya, kalau tidak jawab tidak aja.“

“Kalau mama jawab tidak mau, pasti kamu merajuk ya.“
“Iyalah. Aku lagi kebelet gini, pengen ngerasain bersetubuh. Kalau Mama gak mau, aku pulang aja malam ini juga. Di kota kan gampang nyari pelacur jam berapa juga.“
“Ya udah.. tadi mama udah janji akan mengabulkan apa pun yang kamu inginkan. Demi sayangnya mama sama kamu. Lepasin dulu baju dan celanamu Chep.“

Buru–buru ku lepaskan baju dan celana piyamaku, karena takut pikiran Mama berubah.

Setelah telanjang bulat, Mama menyuruhku celentang di atas ranjang.

Lalu Mama melepaskan kimononya, sehingga tubuh pelennya tak tertutup apa–apa lagi.

Dari dekat barulah aku sadar bahwa Mama mengenakan stoking berwarna yang mirip dengan kulitnya. Namun pandanganku terfokus ke sepasang toketnya yang gede dan bergelantungan. Yang lebih fokus lagi adalah ke arah memeknya yang tembem dan bersih dari jembut.

Dalam keadaan telanjang Mama duduk di antara kedua kakiku. Lalu mendekatkan wajahnya ke kontolku yang sudah ngaceng berat.

Dan.. Cupp.. sepasang bibir tebal sensualnya mengecup kepala kontolku, lalu Mama menatapku dengan ekspresi wajahnya yang menggoda, jemari tangannya ia masukkan ke dalam mulutnya.

Lalu Mama menepatkan kedua lututnya di kanan-kiri panggulku, memeknya berada di atas kontol ngacengku.

Tadinya kupikir Mama ingin main dalam posisi WOT, ternyata tidak.

Mama bergerak terus ke atas, sehingga memeknya persis berada di atas mulutku.

“Jilatin dulu memek Mama sampai basah ya." perintah Mama.
“Siap Mam..” balasku

Mama turun sampai memeknya “hinggap” di bibirku.

Kedua tanganku menyingkap memek tembem Mama yang bersih dari jembut hingga tampak bagian dalamnya yang berwarna pink, kelentitnya tampak menonjol.

Kata Mamie, kalau kelentit sudah muncul dari persembunyiannya, berarti pemilik kelentit itu sudah horny berat. Dalam kalimat lain, Mama sudah sange, makanya bersedia mengabulkan keinginanku.

Mama mendesah ketika aku gencar menjilati memeknya, ketika aku fokus menjilati kelentitnya, desahan Mama makin berisik.

“Ooh.. iya.. jilatin terus itilnya Cheeeep.."

"Adududuuh.. kamu kok seperti sudah pengalaman.. bisa jilatin itil segala.." tanya Mama
“Aku kan sering nonton bokep Mam..” balasku

Lalu ku lanjutkan menjilati itil Mama secara lebih intensif hingga memeknya basah.

Kemudian Mama telentang diatas ranjang.

“Ayolah masukin kontolmu sini.. memek mama udah basah,” kata Mama sambil menunjuk memeknya

Aku berlagag bingung, sok polos.

Mama merentangkan kedua paha putih mulus nya, menarik kontolku dan meletakkan moncongnya di belahan memeknya, mencolek-colekkan kepala kontolku pada belahan memeknya.

“Ayo dorong kontolmu Chep.” kata Mama setela kepala kontolku sudah sedikit terselip dibibir memeknya.

Ku lakukan sesuai arahan Mama, kudorong batang kemaluanku secara perlahan.

"Susah Mam.." kataku berlagag goblok.

Bibir memek mama terasa rapat dan sempit sekali, apa karena sudah lama tidak ngewe..? Entahlah.

"Dorong yang kuat sayang.."

Kembali kudorong batang kemaluanku dengan kuat.

Bless..! setengah kontolku pun sudah terbenam di liang kewanitaan Mama.

“Auuuww.. taahan dulu Sayang,.. Oooohh..“ tangan Mama menahan perutku.
"Kenapa ma..?"
"Punyamu gede sayang. Memek Mama sedikit perih.."
"Aku cabut ya ma.." kataku sambil menarik kontolku.

Tapi ditahan Mama denga melingkarkan kakinya pada pinggulku.

"Tahan Chepi..! Jangan digerakin..!"
"Biar memek mama terbiasa dulu sama kontolmu sayang.." lanjunya.

Aku pun menuruti keinginan Mama.

"Mainin itil mama pekek jarimu sayang.."

Kembali ku lakukan perintahnya, hingga tak lama kemudian lendir memeknya terasa membanjit, kontolku seakan dilumuri pelicin alami.

"Ahh.. Anak pintar.. Ohh.. Enak sayang.." kata mama dengan tubuuh sedikit menggelijang.
"Dorong lagi yang kuat sayang.." lanjutnya.

Sesuai arahannya, kembali kudorong batang kemaluanku dengan kuat, hingga amblas seluruhnya.

"Haaaghh..!" mulut mama ternganga.

Ahh.. Memang nikmat sekali memek mama kandungku ini, saat kontolku mentok didasar liang memenya, kontolku terasa dipijit-pijit dan diempot-empot didalam sana. Sunggu sensasi yang luarbiasa nikmat.

Lalu Mama merengkuh leherku ke dalam pelukannya, merapatkan pipinya ke pipiku.

“Kita kok jadi begini ya?” bisik Mama.
“Aku ingin membahagiakan Mama dari kesepian” balasku.
“Jadi ajarilah aku untuk membahagiakan dengan cara ini ma..” lanjutku sambil perlahan ku gerakkan maju-mundur kontolku di dalam liang memeknya.

Mama menggeliat-geliat sambil berdesis, “Mama berdosa besar ini Chep. Tapi.. Aaahh.. kontolmu enak banget..”

Mungkin rasa perihnya sudah tergantikan dengan kenikmatan.

“Soal dosa, semuanya punya dosa Ma..,” balasku sambil menghentikan entotanku sejenak.
“Iya.. kenapa berhenti?”
“Memek Mama juga enak banget. Aku akan sering-sering datang menjenguk Mama, boleh Ma..?”

Mama tersenyum sambil memijat hidungku.

“Boleh sayang.. Ayo lanjutin lagi..” ucapnya sambil menepuk pahaku.

Kembali kugerakkan entotanku pada liang memek Mama terasa sangat menjepit ini.

Selain itu, ada sensasi yang sangat nyaman saat mengentot ibu kandungku ini. Tiap gesekan antara kontolku dengan dinding liang kewanitaannya, terasa nikmat dan sangat berarti bagiku.

Mama pun sepertinya juga menikmati persetubuhan ini, desahannya terdengar merdu ditelingaku.

“Chepiii.. Aaaah.. sebenarnya kita tidak boleh melakukan ini.. tapi.. aah.. persetubuhan ini nyaman dan nikmat sekali sayang.."

Dalam peretubuhan ini, Mama juga mengajariku tentang seks, sangat atraktif dengan tubuhnya yang Bohay.

Kini posisi WOT, dengan lincahnya pinggul Mama naik turun, kontolku terasa disedot-sedot oleh liang memeknya. Mama tampak binal.

< 1 6 7 8 >
Setelah Mama bercucuran keringat, ia tidur disampingku lalu miringkan tubuhnya membelakangiku, menyuruhku ngewe memeknya dari belakang.

Kembali Aku turuti perintah beliau, ngentot memeknya dari belakang.

Tak teras kami sudah melakukan persetuhan ini dengan beberapa gaya lagi, doggy, standing, dan lainnya.

Cukup lama kami bersetubuh, Mama sudah orgasme beberapakali, sementara aku masih bisa bertahan.

Akhirnya kami kembali ke posisi missionary lagi dengan mama memelukku.

“Mama udah lemes nih.. kamu kok belum ngecrot juga sih? Kamu udah pengalaman ya?” curigga Mama
“Nggak Mam, Aku hanya sering nonton bokep dan baca buku tentang masalah seks.” balasku
“Ngocok juga sering ya?”
“Sering. Daripada main sama pelacur kan lebih aman ngocok.”
“Mulai sekarang jangan ngocok lagi ya. Kalau kepengen, datang aja ke sini. Mama siap meladeni tingkah nakal anak mama ini.” dengan enkspresi wajah menggoda nakal.

Batang kemaluanku di dalam liang surgawi Mama terus bergerak kini semakin bersemangat menggerakkannya.

Beberapa menit kemudian entotanku semakin intens, Mama menyambut dengan menyodorkan selangkangannya.

Plok.. Plok.. Plok..

“Mam.. boleh crot di dalam?”
“Boleh, Mama sudah steril Sayang..”
“Ayo crot bareng sayang. Mama juga udah mau lepas lagi..“ lanjutnya.

Tak lama kemudian, tubuh Mama mengejang, tubuhku menegang. Lubang memek Mama berkedut - kedut kencang, kontolku mengejut-ngejut, meletuslah lendir kenikmatan kami.

Crot! Serr Crot! Serr Crot!

Lalu aku terkapar di atas Mama yang terkulai lemas.

Ku cium bibirnya, “Terima kasih Mama Sayang"
"Sama-sama Sayang, ternyata kamu lebih memuaskan daripada papamu.” balas Mama

Malam itu sungguh luarbiasa nikmat tak terkira. Kami melanjutkan kenikmatan terlarang itu 2 kali lagi sebelum kami tertidur.

===x0x===

Esok paginya aku duduk santai di pekarangan belakang rumah yang cukup luas dengan hijaunya rerumputan yang terawat.

BTW, Mama berasal dari keluarga yang terpandang, ayahnya (kakekku) berdarah biru, sementara ibunya (nenekku) dari Pakistan yang kaya.

Setelah kakek dan nenekku meninggal, peninggalannya pun cukup banyak. Antara lain rumah antik ala peninggalan kolonial Belanda ini.

Anaknya kakek-nenek juaga banyak, mereka sudah dapat bagian semua. Mamaku dapat Rumah dan tanah ini, di pedesaan yang asri, Karena mengingat kakek dan nenekku di masa tua sampai meninggalnya tinggal di rumah antik ini.

Sedangkan saudara-saudara Mama ada 8 orang, semuanya memilih rumah dan tanah warisan yang ada di kota-kota besar.

Di tanah ini Mama juga memelihara ayam kampung sampai ratusan jumlahnya, ada kolam ikannya juga.

Ketika aku sedang asyik menaburkan makanan ikan, terdengar Mama memanggilku.

“Chepiiii..!”
“Iya Mam,” sahutku, lalu bergegas masuk rumah.

“Ada apa Mam?” tanyaku setelah ketemu mama.
“Sayang.. mama punya nazar,” kata Mama sambil memegang bahuku, “Bahwa kalau kamu datang ke sini, mama akan membelikan sebuah mobil bagus. Sekarang ayo ke depan..”

Aku ke depan rumah. Mobil sedan hitam BMW, mirip dengan sedan Mamie, sudah menungguku.

“Mama..! Ooooh.. itu kan sedan mahal Mam..”
“Iya Sayang. Mama mau ngasih yang spesial baut anak semata wayang mama ini.." kata Mama.

Di samping mobil baru itu, ku cium sepasang pipi Mama sambil membisikinya, “Terima kasih Mama. Aku tak pernah membayangkan punya mobil sekeren ini.”
"Kamu sudah punya SIM kan?”
“Ada Mam. SIM motor punya, SIM mobil juga punya. Kan kalau di rumah suka pakai mobil Papa. Ayo kita coba mobilnya sekarang Mam.”
“Ayo“ Mama mengangguk sambil tersenyum ceria.

Tak lama kemudian kami sudah jalan-jalan lumayan jauh dari rumah.

“Bagaimana? Enak gak mobilnya?” tanya Mama.
“Enak Mam. Tapi lebih enak memek Mama sih. Hehehe..”
“Mama juga ketagihan sama kontolmu Sayang..” balas Mama tapi dengan suara lirih

Begitulah.. hari-hari liburanku disini ku lalui dengan nikmat dan crot.

===x0x===

Mamie heran melihatku pulang dengan sedan hitam yang sama persis dengan sedan miliknya yang berwarna merah, warnanya saja yang berbeda.

Untungnya garasi kami cukup luas, sehingga meski ada mobil papa dan mobil Mamie, mobilku tetap bisa masuk dengan leluasa. Bahkan ditambah satu mobil lagi pun masih bisa muat di garasi kami.

“Ini mobil siapa Chep?” tanya Mamie.
“Mobilku Mam. Hadiah dari Mama,” sahutku.
“Mmm.. mau dikasih mobil sama mamie, kamu gak mau. Dikasih mobil sama mama kandung tercinta sih mau ya,” ucap Mamie sambil mencubit perutku.

“Ini mobil tau-tau udah ada di depan rumah. Mama gak bilang sebelumnya, Mamie Sayang,” kataku sambil mendekap pinggang Mamie, “Ehhh.. Papa ada ya?”
“Ada.. lagi tidur,” sahut Mamie sambil menuntunku ke dalam kamarku.

Begitu berada di dalam kamarku, Mamie menutup dan menguncikan pintu kamarku, lalu mengajak duduk berdampingan di sofa.

“Ada yang mau mamie bicarakan..” kata Mamie
“Ada apa Mam? Kok kelihatannya ceria sekali?” tanyaku.
“Tadinya kita takut ketahuan Papa kan? Tapi sekarang justru Papa yang nyuruh mamie agar minta dihamili sama kamu Sayang.”
“Mamie serius?”
“Sangat serius.”
“Kok bisa begitu?”

Awalnya Mamie bilang pengen punya anak. Papa pun mengungkapkan rahasianya, kata Dokter kondisi usia dan spermanya sudah lemah, Papa sulit untuk mendapatkan anak lagi.

Entah apa yang ada di otaknya, dan Entah apa yang mersukinya, dengan tanpa beban Papa nyuruh mamie merayuku supaya bersedia menghamilinya. EDAN!

“Tanpa dirayu pun aku sudah sering menyetubuhi Mamie,“ batinku.

“Kira - kira Papa berucap begitu dengan hati yang ikhlas gak ya?”

“Bukan ikhlas lagi. Papa tampak gak sabar, nyuruh mamie telepon kamu supaya cepat pulang. Tapi mamie kan tahu kamu sedang sama ibu kandungmu yang sudah sembilan tahun tidak berjumpa. Makanya mamie minta Papa bersabar menunggu sampai kamu pulang.

Aku cuma mengangguk - angguk dengan perasaan masih bingung.

“Nah.. kedengarannya Papa udah bangun tuh. Nanti kalau ditanya, bilang aja kita belum pernah ngapa-ngapain ya. Tapi setelah ada restu dari Papa, kita bisa main sesuka hati. Pada waktu Papa ada di rumah pun kita masih bisa main. Gimana? Kamu seneng?” kata Mamie

“Seneng sekali Mam. Baiklah.. aku mau mandi dulu Mam.”
“Iya. Cepetan mandinya. Karena papa nanti sore akan terbang ke Medan. Jadi kita bebas mau melakukan apa pun.”
“Iya Mam.”

Sambil mandi terawanganku melayang-layang tak menentu. Tentang Mama yang begitu menyayangiku, sehingga apa pun yang ku inginkan selalu dikabulkannya, termasuk memeknya. Apalagi berita yang barusan ku dengar dari Mamie, tentang keinginan Papa yang terasa aneh bagiku.

Saat aku keluar dari kamar mandi, Papa sudah ada di dalam kamarku. Sedang duduk di sofa.

“Bagaimana keadaan mamamu Chep? Sehat?” tanya Papa.
“Sehat Pap. Malah lebih berisi..”
“Syukurlah kalau sehat sih. Sini sebentar Chep. Papa mau ngomong sebentar.”

“Iya Pap, sebentar.. ganti baju dulu,” sahutku sambil buru - buru mengenakan baju dan celana piyamaku.

Kemudian menyisir sebentar. Dan melangkah ke arah sofa yang sedang diduduki oleh Papa.

Setelah mencium tangan Papa, aku pun duduk di sampingnya.

“Kamu dibeliin mobil mahal sama mamamu?” tanya Papa.
“Iya. Mobil itu tau - tau udah nongkrong aja di depan rumah Mama. Katanya sih Mama punya nazar untuk menghadiahkan mobil kalau aku datang menjumpainya.”

< 1 7 8 9 >
“Ya syukurlah. Kalau bisa membelikan mobil mahal begitu, berarti mamamu tidak kekurangan setelah hidup sendiri.”

Papa terdiam sejenak. Lalu berkata sambil memegang bahuku, “Ohya.. papa mau minta tolong sama kamu Chep.”
“Minta tolong apa Pap?”
“Kamu kan sudah delapanbelas tahun. Papa mau bicara secara dewasa aja ya. Mamiemu itu pengen punya keturunan. Sedangkan papa sudah periksa ke dokter, hasilnya sangat mengecewakan. Kata dokter, sperma papa sudah lemah. Jadi takkan bisa membuahi lagi. Kalau dipaksakan pun nanti bayinya bisa bermasalah, bahkan bisa cacat dan sebagaInya."

Papa terdiam lagi sesaat. Lalu melanjutkan dengan suara setengah berbisik, “Papa takut kalau keinginan Mamie tidak tercapai, lama-lama bisa minta cerai nanti sama papa.”

“Iya Pap. Seorang wanita yang sudah bersuami, tentu saja punya keinginan menjadi seorang ibu,“ tanggapku.
“Nah.. kamu kan sudah jadi mahasiswa, tentu kamu bisa menganalisa keadaan ini. Jadi.. setelah papa pikirkan matang-matang, papa hanya punya satu tumpuan harapan, yakni dirimu Chep.”
“Apa yang bisa kulakukan untuk membantu Papa?”
“Papa ingin agar kamu mewakili papa untuk menghamili Mamie.”
“Wow.. itu kan berarti aku harus..”
“Harus menggauli Mamie serajin mungkin. Agar dia bisa hamil.”

Aku tertunduk sejenak. Lalu bertanya, “Memangnya Papa gak cemburu, gak marah, gak sakit hati kalau aku melakukan itu?”

“Tidak nak“ Papa menggeleng sambil tersenyum, “Kamu kan anak papa. DNAmu pasti identik dengan DNA papa. Karena kamu adalah darah daging papa.”

Aku tidak langsung setuju, karena ada perasaan kurang nyaman juga di dalam hatiku.

“Bisa kan?“ Papa menepuk bahuku, “Bisa kamu membantu papa dalam masalah yang satu itu?”

Aku menatap mata Papa. Lalu mengangguk perlahan, “Demi Papa aku mau mencoba untuk melakukannya. Tapi.. Papa udah yakin kalau Mamienya mau begituan sama aku?“

“Sudah mau. Masa dikasih anak muda setampan kamu gak mau?! Hhhh.. hhhh.. hhhh..“ Papa malah ketawa ditahan-tahan.

“Iya deh.. hitung-hitung sekalian belajar aja sama Mamie ya Pap.”
“Naaaah.. dada papa langsung plong Chep. Lakukanlah dengan tenang ya. Jangan punya perasaan ini itu. Konsentrasi saja pada Mamie yang ingin hamil. Kamu pasti bisa. Tapi ingat.. semua itu rahasia kita dengan Mamie saja. Kedua kakakmu juga jangan sampai tau.”
“Siap Pap.”

Papa tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku. “Ya udah papa mau ke Medan nanti sore, sekarang mau siap-siap dulu.”

“Iya Pap. Pulangnya bawain sirop markisa ya.”
“Iya. Lakukanlah tugas rahasiamu dengan baik, bahagiakan hati Mamie sebisamu.”
“Siap Pap.”

Papa keluar dari kamarku. Aku pun keluar menuju dapur, minta dibikinin kopi pahit sama Bi Caca, pembantu yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah ini.

===x0x===

Sekitar jam 13.00 sebuah mobil perusahaan datang menjemput dan mengantarkan Papa ke bandara.

Setelah Papa ke bandara, Mamie mengajakku ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar..

“Mamie kangen banget sama kamu sayang..”
“Aku juga Mam” sahutku sambil memeluk dan mencium bibir ibu tiriku yang jelita itu.

Kami berpelukan melepas rindu.

“Sekarang kita bisa melakukannya dengan tenang ya Mam. Tanpa rasa takut ketahuan Papa lagi.” kataku
“Iya. Tapi jangan sampai ketahuan sama Caca, dia tuh suka bocor..”
“Tentu aja Mam. Tadi Papa juga udah mewanti - wanti bahwa kita harus merahasiakan. Teh Susie dan Teh Nindie juga jangan sampai tau.”

Tapi tanpa sepengetahuan Mamie. Sebelum aku libur panjang kemarin, Papa dan Mamie sedang ada di kampung Mamie, karena ada acara perenikahan adik Mamie di kampungnya.

Jadi begini..

== FLASHBACK ==

Pada saat itulah, aku pulang kuliah, badan terasa capek sekali.

“Bi Caca bisa mijitin gak?”
“Mijit? Sedikit-sedikit sih bisa Den, Den Chepi mau dipijit?” balas Bi Caca.
“Iya Bi.. duuuh pegel kaki dan pinggangku Bi.”
“Baik Den. saya cuci tangan dulu..”
“Ku tunggu di kamar ya Bi.”
“Iya Den..”

Ku lepas pakaianku menyisakan celana dalam, tidur telungkup di atas ranjangku.

Tak lama kemudian Bi Caca masuk kamarku.

“Mau pakai minyak gosok Den?” tanyanya.
“Jangan ah, Nanti badanku berminyak dan panas. Pakai tangan aja,” kataku tetap telungkup.

Lalu Bi Caca memijati telapak kaki dan jari -jarinya, lanjutkan memijat dan mengurut betisku.

“Nahhh.. ini enak Bi.. pinter juga Bibi mijit ya..”
“Kalau ada Ibu mah mungkin saya gak disuruh mijit ya Den. Hihihi..” kata Bi Caca sambil menahan tawanya.

Aku kaget mendengar ucapan Bi Caca itu. Apa maksudnya? Apakah dia menyindirku atau asal nyeplos ngomong aja.

“Aku gak pernah dipijitin sama Mamie Bi.”
“Iii.. iya Den. Tapi Ibu memang sangat baik ya sama Den Chepi. Gak seperti ibu tiri.”
“Sangat baik gimana?”
“Ngg.. nggak pernah marahin.. hihihi..“ Bi Caca cekikikan mencurigakan.

Wah.. jangan-jangan dia tahu kalau aku dan Mamie sering ngewe.

Kalau benar dia tahu, aku harus bagaimana? dan bagaimana kalau dia menyebar gossip ke pembantu tetangga yang suka pada ngerumpi di pinggir jalan?

Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Bi Caca ini statusnya janda apa punya suami?” tanyaku.
“Punya suami Den. Tapi ketemunya juga cuma dua tahun sekali.”
“Lho kok bisa?!”
“Suami saya bekerja di Arab Den. Pulang setahun sekali aja gak bisa, karena gajinya sedikit. Tapi belakangan ini saya dengar kabar bahwa dia sudah nikah lagi, dengan TKW yang kerja di Arab juga. Gak taulah.. saya pusing kalau mikirin suami. Makanya saya bekerja di sini juga, karena butuh duit untuk anak saya."
“Punya anak berapa?” tanyaku sambil membalikkan badan jadi celentang.

“Bagian depannya juga pijitin Bi.” pintaku
“Iya Den.”
“Eeeh, tadi aku nanya punya anak berapa?”
“Cuma seorang Den baru usia empat tahun.”

“Terus sama siapa anak itu sekarang?” tanyaku.

Posisiku yang telentang dan Bi Caca yang membungkuk memijati betis dan pahaku, membuat mataku lansung terfokus pada celah atas dasternya yang menampakkan belahan bukit kembarnya mengembung seakan tak muat di BHnya.

Walau aku yakin kalau toket Bi Caca gede.

Tapi pikiranku masih penasaran seperti apa bentuknya kalau Bi Caca telanjang di depan mataku? Dan tentunya seperti apa bentuk memeknya? gimana rasanya kalau aku ewean sama dia?

Sepontan nafsu birahiku tak terkendali, kontolkku pun makin berontak. Tanpa babibu, ku keluarkan kontolku lewat celah CDku.

“Ini kalau sudah bangun begini harus diapain Bi?" kataku sambil memegang kontolku yang ngaceng. “Waauu.. Aden.. itunya kok..”
“Iya Bi.. diapain biar lemas lagi? diemut kali ya Bi?”
“Waaah.. saya belum pandai ngemut otong. Punya suami saya juga belum pernah saya emut Den.”
“Terus harus diapain? masak dientotin ke memek?”

Bi Caca mendadak bersemangat, ia pegang kontolku dengan tangan agak gemetaran.

“Memangnya Den Chepi berkenan ngentot sama saya?”
“Mau.. Bi Mau gak.. yang penting kontolku bisa lemas lagi. Kalau ngaceng begini suka pegel.” kataku
“Sekarang Den?” tanyanya memastikan.

“Tahun depan!” sahutku, “Ya sekarang lah. Kan ngacengnya juga sekarang.”
“Berarti saya harus telanjang ya Den?”
“Ya iyalah. Biar jelas semuanya. Bi Caca seksi kok malam ini.”

Bi Caca ku taksir sebaya dengan Mamie, sekitar (28th) memang pembersih dan pesolek. Pembantu zaman sekarang beda dengan babu zaman dahulu. Pembokat zaman sekarang seperti Bi Caca itu, rambut pun dicat dengan warna kecoklatan. Bibirnya tak pernah lolos dari lipstick.

< 1 8 9 10 >
Bi Caca memang tidak cantik, tapi manis, warna kulitnya coklat manis. Tubuhnya tinggi, toketnya montok, dan bokongnya bohay.

Tapi jujur, baru sekali ini aku memperhatikan Bi Caca dengan benar.

“Ayo telanjang. Aku juga udah telanjang nih,” kataku sambil melemparkan celana dalamku.

Bi Caca tak ragu lagi, segera melepas dasternya, beha dan celana dalam yang sama-sama berwarna merah.

Kini aku bisa melihat setiap detail tubuhnya, sepasang toketnya yang memang gede, memeknya tercukur bersih.

“Dia benar-benar mengikuti trend masa kini. Memeknya pun dibersihkan dari jembut, seolah menantangku untuk menjilatinya." batinku

Bi Caca cuma manis, tidak cantik. Tapi setelah telanjang bulat, telentang di atas ranjangku.. aduhai.. betapa menggiurkannya tubuh pembokat ini.

Tanpa disuruh, aku mengangkangkan kedua kakinya dan lansung membenamkan mulutku diselangkangan Bi Caca. Lalu kubuka bibir memeknya, ku jilati bagian dalamnya.

“Aaahh Adeeeen..“ seru Bi Caca tertahan.

Mungkin dia kaget karena aku menjilati memeknya yang mungkin juga dia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya.

"Jangan Den.. Memek saya kotor.. Aaahh.."

Aku tak peduli.

Kertika lidahku gencar menjilati memek serta kelentitnya, dia mendesah-desah keras.

“Aaah.. Den Chepi.. Ini enak sekali den.. baru kali ini merasakannya.."
"Oooohh.. enak sekali memekku dijilatin begini.. Den.."

Sesekali aku sedot kelentitnya, membuat Bi Caca semakin kelojotan.

Setelah memek Bi Caca sudah basah, dengan sigap aku arahkan kontolku di mulut heunceut Bi Caca yang agak tembem.

Lalu kudorong kontol ngacengku sekuatnya. Blesssss..

“Auuuh.. masuk Den..”

Kemudian ku tindih tubuhnya.

“Gak nyangka.. memek Bibi masih sempit gini ya..” ucapku sambil mengayun kontolku perlahan.

Bi Caca malah melumat bibirku, sambil melingkarkan lengannya di leherku.

"Kontol Aden enak.. Panjang, Besar, Berurat" kata Bi Caca dan kembali melumat bibirku.

Seakan gak mau pasrah, pinggul Bi Caca juga bergerak menyambut genjotanku yang semakin lama semakin cepat pada memeknya.

“Ooouuhh.. punya Aden ini.. ooh.. luar biasa rasanya.. baru kali ini saya merasakan ngewe seenak ini Den.."
“Memek Bi Caca juga enak kok..”
“Hihihi.. saya pasti ketagihan nanti Den.. pengen diewe terus sama Aden..“
“Santai aja Bi. Aku juga bakal ketagihan, pengen ngewe Bibi terus nanti.. nanti kalau aku mau ngecrot, lepasin di mana Bi?”

“Di dalem heunceut saya aja Den. Saya masih ikutan kabe kok."
"Baik Bi.."

Sesaat kemudian..

"Aduuuh Deeeen.. saya udah mau nyampek..“
“Lepasin aja Bi..” sahutku sambil mempercepat entotanku.

Pok.. pok.. pok..

Akhirnya Bi Caca mengejang, liang memeknya terasa membelit kontolku. Disusul dengan kedutan-kedutan kencang.

Setelah orgasmenya reda, Bi Caca memeluk dan mencium bibirku.

“Terima kasih Den. Duh.. belum pernah saya merasakan ditiduri senikmat barusan. Apalagi cowoknya setampan Den Chepi, punya titit luar biasa pula.”

Aku cuma tersenyum. Lalu mulai mengayun kembali kontolku yang masih jauh dari ejakulasi ini.

“Mau nyobain anjing - anjingan Den?” tanya Bi Caca.
“Boleh,” sahutku sambil menarik kontolku.

Kembali ku ayunkan batang kemaluanku didalam liang memek Bi Caca yang legit licin. Sesekali kutampar pantatnya yang membuat memeknya seakan menggigit kontolku.

“Tepok pantat saya Den.. enak.. lebih keras lagi juga gak apa-apa Den.”

Ku ikuti saja keinginan Bi Caca itu.

Dalam posisi doggy, Bi Caca kembali mendapat orgasmenya.

Setelah itu kami ganti posisi missionary. Kembali ku genjot memeknya, dan dengan tempo cepat.

Hingga kami orgasme bersamaan dan berpelukan erat dengan tubuh bercucuran keringan kami pun sama menegang dan menghangatkan satu sama lain.

“Aduuuh nikmatnya memek saya disemprot peju majikan ganteng.. mmmm.. indah sekali rasanya Den..”

Kami istirahat beberapa menit.. Dan kembali ngentot dalam beberapa gaya.. Dan kembali ku sirami rahim pembokatku yang manis itu. Dan saat tengah malam, aku yang sange, kembali kugenjot memek Bi Caca untuk yang ketiga kalinya di hari itu.

Tak cuma itu, keesokan paginya, sebelum turun dari ranjang, aku masih sempat menyetubuhinya lagi.

Beberapa hari sebelum aku berangkat ke kampung Mama, aku sempat ngentot dengan Bi Caca.

== FLASHBACK END ==

"Kok malah melamun?” tegur Mamie membuyarkan terawangan tentang segala yang telah terjadi antara Bi Caca dengan diriku.

Kini Mamie sudah bugil.

“Sekarang mamie gak minum pil kontrasepsi lagi, sekarang mamie ingin hamil.”

Setelah aku bugil, segera ku garap Mamie dengan penuh semangat dan gairah.

Beberapa kali kami lakukan gaya dan trik agar Mamie lekas hamil. Dari ngecroti pejuku saat posisi doggy, ngecroti pejuku saat posisi Missionary yang pantat Mamie diganjal bantal, sampai ngecroti pejuku dengan posisi Mamie terjungkal dipinggir ranjang (kepala dibawah, kaki diatas, bersandar diranjang)

Dan tentunya kami menyudahi kegiatan itu dengan tidur bugil.

===x0x===

Sejak aku kuliah pakai sedan hitam, mahasiswi yang sekampus denganku jadi banyak yang suka melayangkan tatapan dan senyum yang menggoda. Tapi aku pakai sedan hitam ini bukan mau nyari cewek. Katro banget rasanya nyari cewek dengan modal mobil doang.

Aku malah enek kalau ada cewek yang tadinya jutek mendadak manis setelah tahu aku punya sedan mahal ini. Entah seperti apa sikapnya kalau aku kuliah pakai motor bebek lagi.

Yama dan Gita memang ku ajak pakai mobil ini. Tapi mereka sahabatku. Tak lebih dari itu.

Walau pun begitu, pada suatu saat aku mengalami kisah yang terduga.

Ya.. sore itu aku sudah selesai kuliah dan sedang menggerakkan mobilku yang diparkir di pinggir jalan (karena mobil mahasiswa tidak boleh parkir di dalam areal kampus). Tiba - tiba pandanganku tertumbuk ke seorang wanita muda cantik, yang tak lain dari Bu Shanti, dosenku yang sudah lama menumbuhkan rasa simpatiku.

Mungkin dia sedang menunggu jemputan, atau mungkin juga sedang menunggu angkot.

Ku hentikan mobilku di depan Bu Shanti sambil membuka jendela kiri. “Mau pulang Bu?”

Bu Shanti membungkukkan kepalanya, “Chepi?! Iya mau pulang.”

“Ayo saya anterin Bu,” ajakku.
“Rumahku jauh di luar kota Chep.”
“Biarin aja,” sahutku sambil membuka pintu depan kiri, “Di luar propinsi juga saya anterin sampai rumah Ibu.”
“Beneran nih mau nganterin sampai rumah?” tanya dosen cantik itu setelah duduk di samping kiriku, sambil mengenakan seatbelt.

Harum parfumnya pun tersiar ke penciumanku.

“Khusus untuk Ibu, saya siap mengantarkan kapan pun dan ke mana pun,” jawabku sambil memindahkan tongkat matic ke D.
“Ohya?! Enak dong, kapan-kapan bisa minta diantar sama mahasiswa yang baik hati begini.”

Dari obrolan kami dalam perjalanan ini, ku tahu kalau Bu Shanti berusia 26th, dan sudah S2 diumur 25. Dosen cantik yang baru setahun ini mengajar di kampusku ternyata belum menikah dan tak punya pacar alias masih jomblo.

Aku bahagia sekali mengetahui itu. Sebab Bu Shanti sangat ku kagumi dari segi fisik yang bagaikan bidadari, sikap yang lembut, maupun cara ngajarnya yang mudah dipahami.

< 1 9 10 11 >
Akupun melancarakan SSI dan mengutarakan isi hatiku yang selama ini terpendam.

“Aku serius Bu. Serius mikirin Ibu sejak lama.”
“Masa sih? Kamu terlalu muda bagiku Chep.”
“Aku pengagum wanita yang lebih tua dariku Bu.”

Bu Shanti memegang tangan kiriku, terasa hangat tangannya. Lalu ku ciumi tangan halus yang putih bersih itu.

Bu Shanti membiarkanku menciumi tangannya. Pertanda dia memberi lampu hijau.

Saat sudah dibatas kota, tiba-tiba Bu Shanti mengecup pipiku. Membuatku kaget bercampur senang.

Saat sudah ada di kota tempat tinggal Bu Shanti, mendadak ia berkata, “Bentar lagi ada apotek. Berhenti dulu sebentar ya.”
"Baiik bu.."

Ku hentikan mobilku tepat di depan apotek.

“Tunggu sebentar ya. Cuma mau beli vitamin,” kata Bu Shanti sambil membuka pintu mobil.

Tak sampai sepuluh menit Bu Shanti sudah masuk lagi ke dalam mobilku.

“Cepat sekali? Udah dapet vitaminnya?” tanyaku.
“Sudah,” sahutnya sambil memasangkan kembali seatbelt, “Ohya.. tadi ada yang belum kutanyain sama Chepi..”

“Soal apa?”
“Chepi belum punya pacar?”
“Udah dapet.”
“Orang mana?”
“Ini yang duduk di sampingku.”

Bu Shanti ketawa cekikikan. Tampak senang sekali kelihatannya. Lalu mengecup pipi kiriku.

Perjalanan yang memakan waktu sekitar sejam ini akhirnya sampai pada tujuan. Rumah Bu Shanti minimalis yang begitu artistik penataannya, termasuk pekarangannya taman kecil dengan tanaman yang ditata secara artistik pula.

“Ayo mampir dulu,“ ajak Bu Shanti sebelum turun dari mobilku.
“Gak apa-apa nih aku mampir ke rumah Ibu?” tanyaku dengan nada ragu (padahal nggak ragu).
“Nggak apa-apa. Mau nginep juga boleh.”
“Ah, serius nih?”
“Sangat serius. Di rumah ini kan penghuninya cuma dua orang. Aku dan pembantuku.”
“Owh.. kirain tinggal sama orang tua.”
“Orang tuaku jauh di seberang lautan sana. Kapan-kapan kita main ke sana ya.”
“Boleh..”

Begitu berada di dalam rumahnya, Bu Shanti memeluk dan mencium bibirku.

"I Love You", ucapnya yang kemudian masuk ke dalam kamarnya, meninggalkanku di ruang tamu.

Aku pun duduk di sofa ruang tamu, sambil mengamati rumah ini.

Agak lama aku menunggu di ruang tamu, akhirnya Bu Shanti muncul dengan mengenakan daster yang tipis sekali, bentuk tubuh tampak membayang dengan jelas.

“Mau minum apa?” tanyanya sambil tersenyum.
“Gak usah ngerepotin Beib,” sahutku, “Tapi kalau ada sih minta black coffee aja, tanpa gula.”
“Ogitu. Sebentar ya.” Bu Shanti pergi ke dapur.

Beberapa saat kemudian Bu Shanti sudah muncul lagi, bersama seorang pembantu yang membawakan secangkir kopi panas dan dua piring snack.

Bu Shanti pun duduk di sebelah kiriku sambil berkata, “Silakan diminum Yang.”

Mendengar kata “Yang” terlontar dari mulut dosen cantikku, dadaku terasa berdenyut.

Lalu ku srupuut kopi yang masih mengepul itu seteguk.

“Nginep aja di sini ya,” kata Bu Shanti sambil memegang tangan kiriku, “Kalau kamu mau nginep di sini, kita kan bisa semakin dekat nanti.”
“Kalau tidurnya sekamar dan seranjang dengan Bu Shanti sih aku mau.”
“Nah lho.. sekarang manggil Ibu lagi. Aku kan belum punya suami, apalagi punya anak. Masa manggil Ibu terus?”
“Biar bagaimana Bu Shanti kan dosenku.”
“Di kampus aku memang dosenmu. Tapi di sini.. aku ini gadis yang sudah jatuh cinta padamu, Sayang.”

Aku tersenyum. Lalu ku ciumi tangan Bu Shanti yang sedang kupegang.

“Mau kan nginep di sini?”
“Mau, asalkan tidur seranjang denganmu Beib.” balasku
“Iya. Tadinya mau nyiapin kamar lain untukmu. Tapi kalau mau tidur bareng sama aku ya udah.. sekarang aja kita ke kamar yuk.”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Bu Shanti membawa cangkir kopi dan piring kecilnya sambil berkata, “Minuman dan snacknya bawa ke kamarku aja ya.”
“Iya,” sahutku sambil membawa dua piring berisi snack itu, lalu mengikuti langkah Bu Shanti ke dalam kamarnya.

Setibanya di dalam kamar, Kopi dan snack itu diletakkan di atas meja kecil yang membatasi dua buah sofa putih. Ketika Bu Shanti masih berdiri, aku mendekapnya dari belakang sambil membisikinya,

“Nakal juga ya dosenku ini.. Pakek daster tipis banget.. Bikin aku makin gila.”
“Daster ini baru sekarang ku pakai, aku sengaja memakainya.”
“Kalau aku terangsang dan khilaf gimana?”

“Lampiaskan aja. Aku udah pasrah sayang"
“Haaa?! Beneran nih?”
“Beneran. Aku memang sudah berjanji di dalam hati, akan menyerahkan kesucianku kepada lelaki yang ku cintai dan mencintaiku.”
“Aku memang mencintaimu Beib. Tapi untuk menikah masih lama. Mungkin kalau usiaku sudah dekat - dekat tigapuluh, baru aku mau menikah.”
“Menikah masih lama, tapi kalau kawin sih malam ini juga bisa kan?” tanya Bu Shanti sambil mencubit perutku.
“Kawin sih sekarang juga mau. Tapi bagaimana kalau Ibu hamil nanti?”

Bu Shanti malah tersenyum. “Tadi aku beli dulu vitamin di apotek kan? Nah.. sebenarnya tadi aku sekalian beli pil kontrasepsi.”
“Ohya?!” seruku girang.

Lalu aku duduk di sofa sambil merangkul pinggang Bu Shanti agar duduk di pangkuanku. Bu Shanti melingkarkan lengannya di leherku.

“Memangnya masih perawan Beib?”
“Masih. Tapi ada alasan kuat kenapa aku mau menyerahkan keperawananku padamu sekarang.”
“Apa tuh alasannya?”
“Aku mau dijodohkan dengan lelaki yang membiayai kuliah es-duaku di Inggris. Di satu pihak aku merasa berhutang budi padanya, tapi untuk dijadikan istrinya.. oi maaak.. usianya dua kali usiaku Chep.”
“Limapuluhdua tahun?”
“Ya kira - kira segitulah. Yang sangat menyebalkan, aku hanya akan dijadikan istri ketiga.”
“Wow.. jangan mau dong Beib. Kalau merasa berhutang budi sih bayar aja dengan duit yang senilai dengan biaya kuliah di Inggris itu.”
“Tapi sejak aku masih di SMP pun dia sudah banyak memberi uang kepada orang tuaku secara rutin. Kalau semuanya dijumlahkan, pasti jatuh milyaran.”

Aku cuma terlongong mendengar curhatan Bu Shanti itu.

Banyak lagi yang Bu Shanti katakan. Tapi intinya sudah kutangkap semua. Bahwa seandainya pun dia harus menikah dengan lelaki tua itu kelak, dia harus berpuas-puas menikmati masa mudanya dulu denganku.

“Oke, apa pun alasannya, yang jelas aku beneran cinta dan sayang sama Ibu?” kataku.
“Iya Sayang. Kalau kita memang berjodoh, bisa aja kelak kita menjadi suami istri..”

Lalu dengan penuh semangat kubuka kancing atas daster tipisnya.

“Udah gak sabar ya?”
“Iya Sayang.. Bukit kembarmu sejak berangkat dari kampus tadi rasanya nantangin terus.”
“Iya.. semuanya buat Chepi. Aku akan pasrah, diapain juga silakan. Asal jangan disakiti aja.”
“Duuuh.. cewek secantik ini masa tega aku menyakiti? Dosenku pula..” ucapku sambil menciumi tengkuknya.

Kemudian ku lepas dasternya, tinggal beha dan celana dalam yanhg masih melekat di badannya.

“Mmm.. kalau aku manggil Mamie, mau gak?” tanyaku sambil membuka kancing kait behanya.
“Boleh. Tapi aku juga mau manggil Papie sama kamu. Gimana?”
“Iya.. harusnya sih Mamie langsung hamil aja, biar lebih pantes dipanggil Mamie.”
“Jangan dulu ah. Aku pengen ngejar es-tiga dulu.”
“Wadooh.. Mamie haus ilmu ya?”

Saat asik memegang kedua toket Bu Shanti yang memang gede dan indah itu. Bu Shanti menarikku ke ranjangnya.

“Coba lihatin penismu sayang. Aku ingin tau seperti apa penis itu.”

Dengan semangat akupun menelanjangi diriku sendiri hingga tinggal celana dalam yang masih melekat di badanku.

Bu Shanti mengusap-usap dadaku, ku pegang toketnya, kami berciuman mesrah.

< 1 10 11 12 >
“Payudara yang luar biasa indahnya.”
“Mulai saat ini sekujur tubuhku jadi milikmu,” kata Bu Shanti lalu memegang kontol ngacengku dengan tangan yang terasa hangat dan gemetaran.

“Ada yang mau kutanyain.. Mamie kok kebule–bulean gitu?”
“Ibuku asli Belanda, ayah asli Indonesia.”
“Oooo.. pantesan,” ucapku sambil mendorong dada Bu Shanti agar celentang.

Gairahku menggebu–gebu menyaksikan tubuh putih mulus dan wajah cantik jelita yang siap untuk kunikmati.

Dia sudah lama ku idam–idamkan dalam hati. Dan kini dia seolah dikirim malaikat untuk hadir di dalam kehidupanku.

Dengan penuh gairah ku jilati memek berjembutnya yang dipotong rapi, setelah ku kangkangkan kedu kakinya. Bu Shanti awalnya kegelian, lama-kelamaan dia merasakan kenikmatan.

"Sayang udah pernah ginian ya..?" tanyanya disela-sela desahannya.
"Belum pernah." jawabku bohong.
"Aku cuma praktekin seperti yang ada di video bokep.." lanjutku.

Setelah celah memek Bu Shanti sudah basah, ku posisikan diriku diantara kedua paha mulusnya. Lalu ku sibak bibir memeknya sambil meletakkan moncong kontolku di mulut vaginanya yang ternganga pink.

"Siap mamie..?"
Bu Shanti mengangguk pasrah.

Kudesakkan batang kejantananku..

"Uuugghh.." suara Bu Shanti dengan mencengkeram keras pergelangan tangaku, mimik wajahnya meringis kesakitan.

Kepala penisku berhasil menelusup masuk, terasa sempit sekali, kontolku seakan terjepit didalamnya.

"Tahan ya.. Kata orang, sakitnya cuma bentar.. Nanti enaknya lama.." kataku menenangkannya.
Bu Shanti kembali mengangguk pasrah.

Begitu sempitnya memek perawan Bu Shanti membuatku harus bersabar dan bekerja lebih banyak agar dia tidak tersiksa, ku diamkan sejenak kontolku sambil memainkan itil memeknya dan meremasi toket serta memilin-milin putingnya.

Saat memeknya terasa rileks, ku dorong lagi kontolku hingga beberapa mili masuk lebih dalam.

Kegiatan itu berulang kali kulakukan, terkadang juga ku kenyot toketnya dan juga ku lumat bibirnya, hingga akhirnya selaput darah perawannya berhasil kujebol.

"AAAARGGKK!!" jerit Bu Shanti sambil menahan badanku agar tidak bergerak maju lagi.

Ku rangsang kembali tubuhnya untuk mengurangi sakitnya.

Setelah rasa sakitnya sedikit mereda, ku maju mundurkan kontolku didalam memek sempitnya.

“Ooohh.. pelan-pelan sayang” kata Bu Shanti, tangannya sedikit menahan laju pinggangku.
“Sakit?” tanyaku.
“sedikit..”

Liang surgawinya terasa seret sekali. Tapi lama kelamaan mulai lancar, sehingga aku pun bisa mempercepat entotanku sampai kecepatan normal.

Desisan kesakitan Bu Shanti berganti desahan kenikmatan.

“Sayaang.. Aaahh.. ternyata enak sekali ya em-el.. Aahh.. seperti melayang-layang gini Yang.."
"Enak..?"
Bu Shanti mengangguk sambil tersenyum manis.

Lansung ku lumat bibir dengan rakus, ku jilati leher jenjangnya berkeringat, tubuh indah semakin menggeliat.

Entah sudah berapa lama kami ngesex dengan posisi ini hingga gejala-gejala ia akan orgasme pun datang, liang memeknya serasa mengrijal saat bergesekan dengan batang kontolku, membuatku tak tahan, maka ku gencarkan entotanku.

Tak lama kemudian tubuh kami sama-sama menegang dengan batang penisku yang tertancam seutunya hingga menyentuh rahimnya.

"AAAAAHHKK..!!" erang kami bersamaan dengan orgasme kami yang datang bersamaan.

Liang memek Bu Shanti sedang mengedut-ngedut kencang di puncak orgasmenya, moncong kontolku pun sedang menembak-nembakkan lendir kenikmatanku.

Nafsuku begitu menggebu-gebu saat bersetubuh dengan Bu Shanti. Wajah jelitanya serta bentuk tubuhnya yang sangan indah membuatku seakan tak bisa menahan ledakan orgaseku.

Mungkin juga aku terlalu dikuasai perasaanku yang sudah lama mengidolakan dosen cantik berdarah campuran indo-belanda ini. Sehingga aku tidak bisa mengulur durasi persetubuhanku.

Aku rebahkan tubuhku di sampingnya sambil merangkul tubuh mulusnya

“Terima kasih Sayang. Virginmu untukku. I Love You.." kataku
"Love you too.." balas Bu Shanti dedngan suara lirih.
"Sama-sama sayang.. Ini pengalaman pertama serta yang ternikmat.." lanjutnya.

Memang sulit dipercaya bahwa seorang gadis yang sudah berusia duapuluhenam tahun masih bisa mempertahankan keperawanannya. Padahal dia itu indo-belanda. Dan pernah kuliah di Inggris, di mana nilai-nilai moral sudah ditinggalkan jauh.

Di Indonesia sendiri juga sudah banyak yang kebablasan. Termasuk apa yang sudah ku alami sebelum aku mendapatkan “hadiah perawan” dari Bu Shanti, yakni keperawanannya itu.

== Falsback ==

Saat itu aku dan dua sahabatku berangkat ke Jakarta, untuk mengurus acara kesenian dan pertandingan persahabatan antara kampus, universitasku dengan salah satu universitas di Jakarta yang bernaungan di yayasan yang sama.

Kebetulan yang terpilih menjadi ketua panitia adalah aku sendiri. Bendaharanya Yama, sekretarisnya Gita. Dua-duanya sahabatku.

Gita itu gokil orangnya, kalau ngomong tak kalah gokil dari cowok. Sementara Yama perilakunya anggun di mataku.

Sejak aku mulai kuliah, kedua orang cewek itu adalah teman terdekatku. Ke mana-mana kami sering bersama.

Kini kami dalam perjalanan menuju Jakarta.

“Gak usah ngebut Yam,” ucapku.
“Santai aja boss. Bersama gue, kalian aman.” balas Yama yang ada dibalik kemudi mobilku.

Sementara Gita yang duduk di sebelah kiriku, sedang asik menggoyang-goyang kepala sambil mendengarkan musik lewat earphone.

“Udah dong jangan dengerin musik mulu,” kataku pada Gita.
“Eh iya,“ Gita melepaskan earphonenya, “setelin musik Yam. Biar nyaman..”

Suara musik pun menggema di dalam mobilku. Gita pun langsung bergoyang-goyang centik, mengikuti irama musik yang tengah berkumandang.

Tak lama kemudian Gita berbisik padaku, “Daripada jadi teman baik seperti sekarang, mendingan kita jadi TTM yuk.”

Aku agak kaget mendengar bisikan Gita itu.

“Teman tapi ML?” balasku
“Iya,“ Gita mengangguk sambil tersenyum.
“Harusnya TTN. Teman tapi ngewe. hihihi..” lanjutnya.
“Lu serius?”
“Serius lah,” balasnya.
“Lu udah gak perawan lagi ya?” bisikku.
“Iya. Makanya mumpung sama-sama belum punya pasangan, kita nikmati aja masa kebebasan ini. Biar pertemanan kita semakin solid,” bisik Gita.

Sebenarnya aku agak shock mendengar ajakan dan pengakuan Gita.

“Gimana kalau Yama tahu nanti..?"
“Tenang aja.. Justru dia yang punya ide ini..”
"Haah..?! Emangnya Yama udah gak perawan juga..?"
"Wah, jangan ditanya.. dia juga udah gak perawan sejak SMA"
“Turunin celanamu kalau gitu, gue pengen tau memekmu..” bisikku.
"Tapi mau gak..?" tanya Gita memastikan.
"Ya maulah, kucing dikasih ikan ya dimakan.." balasku.

Gita tersenyum mencurigakan.

Tiba-tiba tangannya sudah melepas kancing celanaku dan membuka resletingnya.

"Ehh.. Celana lu, kok celana gue.." protesku menahan tangnnya.
“Hehehe.. Justru gue yang pengen tau kontol lu kayak apa.” kata Gita.
"Udah, nikmati aja, Gue yang jadi kucingnya.." lanjutnya sambil meremas kontolku yang tertutup sempak.

Aku mengikuti keinginan Gita. Ku pelorotkan celana sekaligus dengan celana dalamku.

“Anjrit..! Kontol lu gede banget..” ucap Gita sambil memegangi kontolku yang sudah rada ngaceng.

< 1 11 12 13 >
Semakin dipegang-pegang, tambah ngacenglah kontolku.

“Yama.. Liat nih kontol si Chepi..!” kata Gita agak teriak pada Yama yang fokus nyetir.

Yama mengurangi kecepatan, berhenti di bahu jalan TOL, lalu Yama menolah ke belakang melihat Gita yang memegang penis ngacengku.

“Liat tuh.. segini gedenya kontol si Chepi..” seru Gita.
“Waaaw..! Panjangnya! Itu kontol manusia apa kontol kuda?” seru Yama.
"Ya manusia, masak lu anggap gue ini kuda..?" balasku.
“Acara meeting di Jakarta kan besok pagi, bentar lagi kita kan masuk daerah Purwakarta. Gimana kalau kita nyari hotel di Purwakarta aja? Besok subuh kita lanjut ke Jakarta.” kata Gita bersemangat.
“Jangan ah. Mumpung jalan gak macet, mendingan cek in di Jakarta aja,” balas Yama yang kembali fokus nyetir.
“Gue udah horny nih!“ seru Gita, “Boleh gak kalau gue wikwik sama Chepi sekarang?”
“Lakuin aja. Asal jangan keliatan dari luar.” balas Yama.

Sementara itu Gita sudah menanggalkan celana jeans serta celana dalamnya. Lalu menggagahiku, dia arahkan dan colek-colekkan moncong kontolku ke memeknya. Kemudian ia menurunkan badannya, meemeknya mencaplok batang kontolku.

Gita menaik turunkan bokongnya di atas pangkuanku, sambil merapatkan bibirnya ke bibirku.

“Asyiiik.. mulai ena-ena nih?” kata Yama.
"Kontolnya berasa banget Yam.." balas Gita

"Ayo nyusu Chep.." pinta gita yang telah menanggalkan kaos dan BHnya.

Kembali ku turuti keinginan Gita. Ku kenyot dan kuremasi toket padatnya.

"Ya gitu, kenyotan lu enak Chep.." kata Gita sambil mengelus-elus rambutku.

Gita naik turun di batang kemaluanku, terasa memek semakin becek dan licin.

Belasan menit kemudian Gita mampu memainkan perannya sebagai cewek dominan. Akhirnya dia ambruk di puncak orgasmenya.

“Gila.. kontol lu terlalu enak Chep.. gue gak sanggup lama-lama..” ucap Gita sambil duduk di sampingku.

Iseng ku masukkan colok-cok memeknya yang baru mengalami oprgasme dengan jariku.

“Pengen tau seperti apa memek yang udah orgasme,” ucapku merasakan liang memek Gita becek sekali.

Lalu kutambah dengan dua jari, ternyata bisa masuk ke dalam liang memek Gita.

“Masukin aja kepalan tanganmu sekalian..!” seru Gita sambil mencubit perutku.

Aku cuma ketawa sambil mencabut lagi jariku.

“Sudah berapa macem kontol yang pernah ngentot memek lu ini Git?”
“Baru satu macem! Memangnya gue ayam kampus?!”
“Jadi gue yang kedua ya?”
“Iya. Yama juga sama, senasib sama gue. Baru diewe sama satu cowok waktu masih di SMA dulu.”
“Memek lu enak Git,” kataku dan kembali mengobel memenya dengan dua jariku.
“Sayangnya lu gak tahan lama.” ledekku
"Biarin.. Udah ah.. nanti gue horny lagi kalau diginiin memek gue,“ balas gita menjauhkan tanganku dari memeknya.

“Kok cepat-cepat banget maennya?” sahut Yama.
"Gue lemah.. Puas.." balas Gita sambil mengenakan kembali pakaiannya.

Yama dan aku seketika ketawa bersama mendengar jawaban Gita.

“Memek si Gita enak gak Chep?” tanya Yama padaku.
“Enak, Memek lu enak nggak Yam?” balasku
“Gak tau. Kan entar juga lu bakal ngentot gue. Rasain aja sendiri, enak apa nggak,” balas Yama.

Tak lama kemudian Gita tampak sudah tertidur dengan kaki diselojorkan.

Sedan hitamku yang sedang dikemudikan oleh Yama meluncur terus di jalan tol.

Sejam kemudian, kami sudah tiba di sebuah apartment dekat jembatan Semanggi, yang sudah Yama pesan lewat aplikasi online.

Sebelum masuk kamar, kami sempatkan untuk makan resto diarea apartment.

“Pinter juga lu milih tempat Yam,” ucapku setelah masuk ke dalam kamar apartemen, yang terdiri dari 2 kamar tidur, dapur lengkap dengan peralatannya dan ruang tamu yang lumayan gede.

“Iya, Kamar apartemen ini disewakan harian, dan harganya lebih murah daripada hotel bintang lima.”
“Boleh nih kapan-kapan kita nginep di sini lagi. Tapi gilanya.. kita berada di lantai tigapuluhenam ya. Serem juga..” kata Gita.
“Lu tomboy, tapi takut ketinggian..” ucapku.

“Udah ah, aku ngantuk banget nih.. tadi malem gak bisa tidur.. Gue mau tidur di kamar yang agak kecilan itu." kata Gita.
"Lu entot Yama, tuh kamar satunya lebih gede..” lanjut Gita sambil nyelonong ke kamar yang dipilihnya.

Aku dan Yama menjinjing tas pakaian masing-masing, menuju kamar yang satunya lagi, yang memang lebih besar daripada kamar yang dipakai oleh Gita.

“Sebentar.. gue mau pipis dulu ya,” ucap Yama sambil mengeluarkan sehelai kimono putih dari tasnya dan langsung masuk ke kamar mandi.

Aku tersenyum sendiri, sejak tadi aku terbayang betapa nikmatnya bisa menyetubuhi Yama yang cantik dan anggun itu.

Memang Yama punya beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan Gita.

Yama itu cantik, anggun dan jarang berkelakar. Ngomong pun jarang. Kulitnya putih bersih. Pokoknya Yama itu bening banget.

Yama ibarat buronan ibu cowok-cowok kampus yang sedang nyari menantu.

Tapi tidak berarti bahwa Gita itu jelek. Gita itu manis, ceria terus sikapnya dan gokil.

Tapi kalau rasa memeknya, entahlah.. karena aku baru mau merasakan memek Yama sebentar lagi.

Sebenarnya aku ada rasa khusus pada Yama. Tapi mengingat pertemanan kita aku takut mengatakannya. Takut kalau ditolak dan dia menjauh.

Namun seakan keberuntunganku ini masih setebal tumpukan uang koruptor maka kini yang ku dambakan itu datang sendiri.

Yama keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono putihnya, yang membuat Yama semakin cantik dan anggun.

Sikapku jadi berbeda waktu memegang kedua pergelangan tangannya. Jujur, ada perasaan yang berbeda di dalam hatiku, tak sama saat menghadapi Gita tadi.

“Persahabatan kita jangan sampai rusak nanti ya,” ucapku.
“Ya iyalah,” balas Yama sambil tersenyum.

Oooo.. betapa manisnya senyum cewek yang satu ini..

Maka dengan gairah menggelegak, kurangkul leher jenjang dan kupagut bibir sensualnya ke dalam ciumanku.

Yama pun menyambut dengan lumatan hangat.

Kedua tanganku turun dan meremas bokongnya, sambil menaikkan kimononya sedikit demi sedikit, hingga bokongnya tanpa penghalang kimono lagi.

Ternyata Yama tidak mengenakan celana dalam di balik kimononya itu, dia seakan sudah mempersiapkan diri untuk ini. Aku pun bisa memastikan bahwa beha pun tidak ada lagi di balik kimono putih itu, karena dua tonjolan pentil toketnya nyemplak dengan jelas.

Maka dengan sigap ku angkat dan ku bopong tubuh Yama ke atas ranjang. Lalu ku lepaskan kimono Yama, hingga sekujur tubuh indahnya terpampang jelas.

Tubuh Aduhai Yama sungguh tampak mulus sekali. Sehingga gairahku tak bisa dikontrol lagi, ku lucuti pakaianku sampai telanjang bulat. Lalu melompat ke atas ranjang dan menerkam tubuh mulus Yama.

“Sebenarnya udah lama gue ngebayangin beginian sama lu Chep,“ sambut Yama sambil mendekap pinggangku, “tapi gue takut merusak persahabatan kita. Makanya keinginan itu gue pendam aja di dalam hati. Ternyata sekarang terjadi juga.”

“Sama gue juga gitu. Suka bayangin paha lu yang putih mulus.. malah suka bayangin memek lu segala. Ternyata memek lu ada jembutnya tapi tipis dan halus jembut lu ini ya,” balasku sambil mengusap-usap memek Yama yang berjembut tipis dan halus itu.

“Gue boleh jilatin memek lu.?”
“Pake minta ijin segala.."

< 1 12 13 14 >
“Harusnya sih bawa pil kontrasepsi. Biar bisa ngecrot di dalem.”
“Gue bawa kok pil kontrasepsi..”

Lalu ku jilati memek berjembut tipis itu dengan lahap sambil ku jilati kelentitnya, sesekali ku sedot-sedot, membuat Yama mendesah-desah sambil meremas rambutku.

“Aaahh.. Aaahh.."

Apa lagi saat jariku bergerak-gerak di dalam liang memeknya, Yama menggeliat.

"Ouhh.. Enak Chep.. Aahh.. Terusss.."

Dan setelah terasa liang memek Yama sudah cukup basah, aku pun bergerak sambil memegangi kontolku.

"Bentar Chep.. Aku mau nyoba ngulum kontol lu.." kata Yama lalu meraih kontolku.

Dengan posisi nungging ia mulai nge-blowjob kejantananku.

Bibir sensualnya gak cuma nikmat untuk diciumi, nikmat juga pas ngulum kontol.

Karena gak tahan saking enaknya, aku menyudahi BJ mulut Yama. Lalu ku persiapkan batang penisku pada bibir memeknya yang telah kusibak denga dua jariku.

Ku setubuhi Yama dengan senikmat mungkin, ku nikmati setiap bagian tubuhnya. Dari meremas, mengelus, menjilat, mengenyot, menyupang, sampai menggigit-gigit kecil yang membekas ditubuh putih mulus indahnya ita.

Karena gairah yang menggebu-gebu bisa ngesex dengan primadona kampus dan aku punya perasaan padanya, apalagi ekspresi wajah Yama begitu indah nan sensual di mataku saat ku setubuhi, ditambah memek sempitnya terasa menggigit pada penisku, hingga aku tak bisa mengatur durasi orgasmeku.

Samapai akhirnya kami orgasme bersama dengan seling medekap tubuh yang berkeringat.

Lalu kami sama-sama terkapar dalam keadaan sama-sama telanjang bulat.

Aku ketiduran saking nikmatnya orgasme yang ku alami saat ngecrot dama memek Yama.

Dan terbangun ketika merasakan ada yang memainkan kontolku, ternyata Gita sedang menyempong kontolku.

Oralan Gita terasa trampil. Tak lama kontolku ngaceng sempurna.

Lalu Gita rebahan celentang di samping Yama yang masih tertidur.

“Ayo Chep.. Aku sange nih..” kata Gita sambil mengusap-usap memeknya.

Aku merayap ke atas perut Gita yang sudah telanjang bulat. Lalu kusodok memenya sambil memegang kontolku Dan..

Blesss..

Kontolku terbenam dan lansung ku genjot diiringi sambutan selangkangan Gita naik-turun menyambut setiap hentakanku.

Kali ini aku yang jadi kucingnya, maka ku nikamati setiap jengkal Gita yang manis ini.

Ku pagut bibirnya, ku jilati lehernya dan ku kecupi wajah manisnya. Sementara tangan kananku mulai meremas-remas toketnya yang terasa lebih padat dari toket Yama, mamaku maupun toket Mamie.

Gita mendesah-desah dengan memainkan itilnya sendiri.

Lalu mulutku ikut memainkan toket padatnya itu, cukup lama ku nikmati toketnya sambil gencar bermaju-mundur penisku di dalam liang memeknya.

Desahan Gita semakin kencang.

“Aaaah.. kontolmu Cheeeep.. terasa sekali gesekannya di memekku..”
"Enak Chep.. Teruss.. Aaahh.."
"Enak mana sama colmek pakek dildo Git..?"
“Enak kontolmu lah.. Aaakhh.. entot terus kayak gini Chep.. Ouuhh.."

Suara Gitga yang bising, membuat Yama terbangun.

Lalu Yama duduk sambil memperhatikan persetubuhan kami.

Tak lama kemudian, di yang tampak sange lansung mengarahkan memeknya padaku.

Tanpa basa-basi ku ciumi memek Yama, lalu ku selinapkan jariku ke dalam liangnya dan kukobel memeknya.

Beberapa menit kemudian Gita mendesis dengan semakin intens menggeraakkan selangkangnya..

“Ssssshh.. gue mau nyampek Chep..”

Aku pun mempercepat entotanku.

Dan.. saat memeknya berkedut-kedut ku diamkan kontolku denga posisi terdalam di dasar memek Gita yang memejamkan mata meresapi kenikmatan orgasmenya.

Setelah Gita terkulai lemas, ku cabut kontolku dan lansung ku tancapkan ke memek Yama yang sudah cukuk becek.

Yama menyambutku dengan memegangi pinggangku dengan mata merem-melek, wajah Yama makin cantik saat bersetubuh itu buatku semakin bersemangat.

Jika saja masa lalunya seperti Bu Shanti, mungkin akan ku pinang dan tak akan ku lepaskan dari genggamanku.

Tapi biarpun begitu, aku harus menikmati mahasiswi cantik jelita ini sepuas-puasnya.

== Flashback END ==

Keesokan harinya dirumah Bu Shanti..

Kini aku sedang bersama Bu Shanti di ruang fitnessnya yang ada di belakang rumahnya berdampingan dengan kolam renang.

Fitness room ini tertutup, benar-benar private, karena Bu Shanti kalau nge-GYM disini seringnya sambil telanjang, seperti sekarang.

Kolam renangnya pun tertutup, tak bisa dilihat dari luar, ya sebabnya sama, Bu Shanti yang sering berenang dalam keadaan telanjang bulat, tanpa takut ada orang yang melihatnya.

Bu Shanti melatih kebugaran fisiknya karena ikut-ikutan ibunya.

“Mamaku kelihatan bugar terus, meski usianya sudah kepala empat. Tubuhnya tampak kelihatan seperti baru berumur tigapuluhan. Ya karena rajinnya nge-GYM seperti yang kulakukan sekarang ini."

Aku cuma mengangguk paham.

Tiba-tiba handphone Bu Shanti berdering.

“Sttt.. dari Mama..!” Bu Shanti menyurhku untuk tidak bersuara.

Setelah pecakapan mereka berahir, Bu Shanti mengambil kimononya yang tergantung di kapstok, lalu mengenakannya.

“Mamaku sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju ke sini.”
“Haaa?! Terus aku harus gimana? Apakah aku standby di sini atau pulang aja?”
“Sayang, maaf ya, aku bukan ngusir. Tapi sebaiknya kamu pulang dulu, biar tidak banyak pertanyaan dari mamaku nanti.”
“Oke, aku mengerti Mam.”

Sesaat sebelum pulang, aku sempatkan melumat bibirnya dan bonus ku kenyot toketnya.

Tak lama kemudian mobilku sudah berlari di jalan raya menuju pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, tampak mobil Papa ada di garasi. Papa kalau Sabtu dan Minggu tidak masuk kantor.

Aku sendiri tadinya mau pulang besok, hari Minggu. Tapi karena mamanya Bu Shanti mendadak mau datang, terpaksa aku “mengungsi”.

Mamie menyambutku di dalam garasi dengan ciuman mesra.

“Tadi malem nginep di mana?”
“Di rumah dosen Mam. Tadinya malah harus dua malam nginepnya, karena banyak tugas. Tapi bisa dipersingkat, bisa pulang lebih cepat,” balasku bohong.

"Papa baru saja ke Medan lagi, ada urgen disana..” kata Mamie.
“Pantesan Mamie senyum-senyum. Kangen ya sama aku?”
“Ya kangenlah. Tapi ada sesuatu yang lebih penting Sayang.”
“Apa tuh yang lebih penting?”
“Mamie udah dinyatakan hamil, tapi baru empat minggu.”
“Ohya?!“ seruku girang.
“Beeneran Sayang.”
“Aku bahagia sekali mendengarnya,” ucapku, lalu mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.

Mama membawaku ke dalam kamarnya.

Mamie duduk sambil menyelonjorkan kakinya di atas bed.

“Biasanya orang yang baru hamil suka ngidam dan punya keinginan yang aneh-aneh. Mamie mau apa?” tanyaku sambil duduk di pinggiran bed, sambil mengelus paha Mamie yang terbuka.

“Belum kepengen apa-apa. Cuma kangen kontolmu..” balas Mamie sambil tersenyum dan memegang pergelangan tanganku.

Lalu kami bergumul dengan mesranya.

Setelah kontolku terbenam di dalam liang memeknya, Mamie langsung menciumi bibirku.

< 1 13 14 15 >
Sambil mengayunkan batang kemaluanku, ku balas ciumannya, ku remasi toketnya dan memainkan pentilnya.

Desah dan rintihan kami beriringan.

Persetubuhan kami terjadi dengan penuh nikmat.

Setelah itu kami berpelukan mesrah sambil mengumpulkan tenaga untuk ronde kedua.

“Bagaimana sikap Papa setelah tau Mamie hamil?” tanyaku
“Senang sekali, karena mamie dihamili oleh anak kandungnya sendiri. Darah dagingnya sendiri.”
“Nggak keliatan cemburu sedikit pun?” tanyaku.
“Papa malah tampak bahagia.”

Setelah persetubuhan kami yang kedua usai, aku menuju kamar untuk mandi dan tidur.

Tapi tiba–tiba handphoneku berdenting, ada pesan WA dari Bu Shanti.

Isinya : -Sayang, ternyata mamaku setuju kalau kamu jadi calon suamiku. Tapi dia ingin bertemu. Besok kan Minggu, datang ke rumahku pagi–pagi ya.. Tapi ingat, jangan ngomong kalau kita pernah ngesex ya–

Kujawab singkat : -Siap Mam –

Setelah meletakkan handphoneku, aku merebahkan diri sambil menerawang jauh ke depan. Aku memang sudah menyiapkan mentalku, jika pada suatu saat aku harus menikah juga dengan Bu Shanti, aku akan menyetujuinya. Tapi setahuku, Bu Shanti akan mengambil program S3 dulu, baru mau menikah.

Yah.. pokoknya aku akan mengikuti arus air saja, mengalir dari hulu ke muara. Gak rugi juga aku menikah dengan perempuan yang 8 tahun lebih tua dariku. Bu Shanti takkan menyusahkanku, dia sudah punya pekerjaan, sudah punya rumah yang mentereng pula.

Aku mulai menghitung sosok-sosok yang pernah kugauli selama ini. Sudah ada 6 orang. Mamie, Mama, Bi Caca, Bu Shanti, Gita dan Yama. Cukup banyak.

Tapi kalau dibandingkan dengan pengakuan teman karibku yang bernama Hendra, aku masih kalah jauh.

Hendra hanya lebih tua 2 tahun dariku. Tapi pengalamannya sudah segudang. Dia mengaku sudah menggauli 23 orang perempuan. Tentu saja semuanya perempuan baik–baik, maksudnya bukan PSK, amatir dan sebangsanya, karena kami sama–sama tak mau menyentuh perempuan nakal.


BESAMBUNG...

< 1 14 15 16 17 >
Klik Nomor dibawah untuk lanjutannya
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak