x
x

Pak Reman pemburu Wanita Berjilbab 1

cewek amoy


- Eva dan Shinta -

Eva berangkat kerja hari ini dengan senyum terkembang di bibirnya. Dia baru saja mendapat promosi jabatan minggu ini, padahal belum 2 tahun dia bekerja di perusahaan itu.

Promosi itu melengkapi kebahagiaannya yang juga baru menikah 6 bulan lalu.

Sebelum menikah Eva dan Wahyu sempat berdiskusi apakah Eva harus berhenti bekerja setelah menikah karena jika terus bekerja maka mereka harus tinggal terpisah. Tapi ternyata Wahyu memberinya ijin untuk terus bekerja, dan promosi inipun membuat Wahyu ikut senang dan semakin bangga dengan istrinya itu.

Di kantornya Eva memang terkenal sebagai pegawai yang ulet dan selalu bekerja keras. Dia juga baik dan ramah kepada semua orang.

Sikapnya itu rupanya membuat Bu Anggi, pemilik perusahaan menyukainya, dan ketika ada jabatan kosong karena ditinggal pensiun salah satu pegawainya Bu Anggi langsung memilih Eva untuk menempatinya.

Tapi, tentu saja tidak semua orang menyukai hal itu. Salahsatunya dalah Pak Reman, pegawai senior yang selama ini memang kurang suka dengan adanya Eva.

Awalnya Pak Reman senang ketika Eva masuk ke kantor ini dan bergabung sedivisi dengannya. Hal itu karena Eva yang memiliki paras cantik dan manis membuat Pak Reman bisa cuci mata setiap hari disela-sela banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi setelah melihat bagaimana hasil pekerjaan Eva, Pak Reman justru merasa terancam dengan kehadiran wanita cantik itu.

Benar saja, Bu Anggi lebih memilih Eva untuk dipromosikan ketimbang dirinya yang sudah 10 tahun lebih bekerja di kantor itu.

Keputusan Bu Anggi ini memang cukup beralasan, karena meskipun pegawai senior, tapi hasil pekerjaan Pak Reman tidak pernah bisa membuat Bu Anggi terkesan. Terlebih lagi latar belakang pendidikan Pak Reman yang bahkan tidak lulus SMA. Pak Reman bisa bekerja disana juga karena dia merupakan saudara jauh dari suaminya Bu Anggi.

Bahkan Pak Reman lebih sering merepotkan pegawai lain dan bahkan Bu Anggi sendiri karena pekerjaannya sering tak beres. Sudah beberapa kali Bu Anggi ingin memecat Pak Reman, tapi selalu dilarang oleh suaminya, karena alasan tak enak dengan keluarga besarnya.

Setelah tahu Eva yang dipromosikan untuk jabatan baru itu, membuat Pak Reman semakin malas-malasan untuk bekerja. Pria yang sudah beristri dan memiliki 2 orang anak ini rupanya benar-benar tak terima dengan apa yang didapat oleh Eva.

Melihat Pak Reman yang semakin malas itu sebenarnya membuat Bu Anggi dan pegawai yang lain jengah, namun mereka mencoba memaklumi karena posisi Pak Reman yang tidak bisa "disentuh" di kantor itu.

Eva sendiri yang sekarang menjadi atasan Pak Reman sudah diberi tahu oleh Bu Anggi tentang Pak Reman. Dia pun berusaha untuk memakluminya. Terlebih kemarin dia juga sudah mendapat nasehat dari suaminya bagaimana memperlakukan pegawai seperti itu, karena di tempat kerjanya, suami Eva juga sering mendapati pegawai yang seperti itu.

Eva berusaha untuk tidak merubah sikapnya meskipun sudah naik jabatan, dia tetap bekerja seperti sebelumnya.

Pak Reman semakin tidak nyaman bekerja di bawah Eva. Beberapa kali dia kena tegur meskipun dengan bahasa yang santun karena sikap malas-malasan dan juga hasil pekerjaannya yang sering kacau. Dia ingin sekali membalas dendam, dan membuat wanita itu tak lagi berani untuk macam-macam dengannya, tapi dia bingung harus melakukan apa.

Suatu hari, saat sedang duduk bermalas-malasan di kursinya Pak Reman dipanggil oleh Bu Anggun ke ruangan rapat. Saat itu memang sedang ada rapat mingguan kepala divisi. Dia bertanya-tanya kenapa sampai dipanggil, seingatnya kali ini dia tidak sedang membuat masalah dengan Eva kepala divisinya.

Tok Tok Tok...

"Yaa masuk" terdengar suara Bu Anggi dari dalam.

"Manggil saya bu?" tanya Pak Reman.

"Iya Pak Reman, silahkan duduk di samping Bu Eva" jawab Bu Anggi.

Pak Reman kemudian duduk di kursi sebelah Eva yang kebetulan memang satu-satunya kursi yang kosong. Dia heran kenapa semua yang ada di ruangan itu menatap dirinya.

"Ada apa ya bu?"

"Jadi gini pak, saya selaku pimpinan perusahaan ada yang mau disampaikan terkait kinerja Pak Reman belakangan ini"

"Kinerja saya? Memang kenapa dengan kinerja saya?" tanya Pak Reman dengan cueknya.

"Saya sudah dengar laporan, baik dari Bu Eva maupun dari kepala divisi lain yang sering melihat Pak Reman. Sudah hampir sebulan ini pekerjaan bapak berantakan, dan bapak juga terlihat malas-malasan dalam bekerja, saya ingin minta penjelasan untuk semua itu" Bu Anggi menjelaskan alasannya memanggil Pak Reman

"Penjelasan yang seperti apa bu?" tanya Pak Reman masih dengan gaya cueknya.

"Ya penjelasan, alasan kenapa kinerja bapak seperti itu sekarang" jawab Bu Anggi yang mulai kesal.

"Ah saya nggak ngerasa kayak gitu kok, sama aja seperti yang dulu-dulu, benar kan Va?" Pak Reman tersenyum sambil melihat Eva.

Meskipun sekarang sudah menjadi atasannya, Pak Reman tak mau memanggilnya dengan sebutan Bu.

"Pak Reman tolong yang sopan ya, Bu Eva itu atasan bapak, dan kita sekarang masih jam kerja dan sedang rapat, jadi tolong untuk profesional" Bu Anggi menyela karena semakin jengkel pada Pak Reman.

"Lho nggak papa kan? Eva aja nggak keberatan kok" jawab Pak Reman dengan angkuhnya.

"Nggak bisa gitu pak" bantah Bu Anggi yang mulai emosi.

"Udah bu nggak papa" Eva menyela karena tidak ingin kondisi semakin ruwet.
1 2 3 5 >
"Jangan gitu Bu Eva, meskipun anda lebih muda tapi anda ini atasannya, harus profesional lah"

"Itu kita bahas nanti saja bu, kan bukan itu tujuan kita memanggil Pak Reman kesini" ucap Eva mencoba mendinginkan suasana.

Ucapan Eva itu bukannya membuat Pak Reman senang tapi justru semakin tidak suka kepadanya. Dia merasa Eva hanya sedang cari muka saja di depan pimpinan dan kepala divisi yang lainnya.

"Hah.. ya sudahlah. Jadi gimana penjelasannya Pak Reman?" Bu Anggi mencoba untuk menahan emosinya dan kembali ke tujuannya memanggil Pak Reman.

"Lho penjelasan apalagi? Kan tadi saya sudah bilang saya masih sama kayak yang dulu-dulu, tanya aja sama Eva"

Jawaban Pak Reman itu semakin memancing emosi, tak hanya Bu Anggi tapi hampir semua peserta rapat.

"Gimana Bu Eva?" tanya Bu Anggi.

"Maaf Pak Reman, tapi memang sejak sebulan ini kinerja Pak Reman sangat menurun. Saya sudah hampir 2 tahun bekerja dengan bapak, dan belum pernah saya lihat kerjaan bapak seberantakan ini" jawab Eva yang kini membuat Pak Reman emosi.

"Nah sudah jelas kan Pak Reman?" tanya Bu Anggi.

"Ya kalau kalian beranggapan seperti itu silahkan saja" jawab Pak Reman dengan cueknya.

"Karena itu saya ingin memberi surat peringatan kepada bapak, dan saya harap bapak bisa merubah sikap bapak jadi lebih baik lagi"

Bu Anggi kemudian menyerahkan sebuah amplop yang berisi surat peringatan kepada Pak Reman.

"Ya terserah kalian saja lah" tanpa mengambil surat itu, Pak Reman langsung berdiri dan pergi dari ruangan rapat.

Tentu saja hal itu membuat semua yang ada di ruangan rapat geleng-geleng kepala. Sayang sekali dia masih saudara dari suami Bu Anggi, kalau tidak mungkin sudah dari dulu dia dipecat dari kantor ini.

Di luar, Pak Reman tidak kembali ke kursinya melainkan langsung pergi menuju ke warung yang ada di samping kantor. Dia benar-benar kehilangan mood untuk bekerja kembali.

Yang dia rasakan kini semakin membenci para atasannya itu, terutama pada Eva. Dia benar-benar ingin menghancurkan wanita itu, meskipun belum tahu bagaimana caranya.

Sesampainya di warung Pak Reman langsung memesan kopi dan menyalakan rokoknya. Dia mengambil sebuah surat kabar yang ada di meja itu.

Beberapa kali membolak balik halaman koran itu sampai dia membaca sebuah berita, yang kemudian membuatnya tersenyum.

"Tunggu saja pembalasan dariku Va, setelah ini kamu nggak akan lagi berani macam-macam sama aku" terlihat senyum licik dari Pak Reman.

Beberapa hari setelah dipanggil dan diberi surat peringatan itu, Pak Reman tidak masuk kerja dengan alasan keluar kota untuk menghadiri acara keluarga.

Sebenarnya Bu Anggi tahu betul, tidak ada acara keluarga dan Pak Reman hanya bermalas-malasan di rumah. Tapi dia mencoba memakluminya, karena mungkin lelaki itu sedang marah dan kecewa terhadap keputusannya.

Bu Anggi bahkan sempat bertengkar kecil dengan suaminya karena Pak Reman di SP, tapi kemudian suami Bu Anggi memaklumi alasan yang diberikan olehnya.

Hari sabtu pagi, Eva sedang berada di rumah kontrakannya. Di kota ini dia memang mengontrak rumah berdua dengan sahabatnya yang bernama Shinta. Dia dan Shinta sudah berteman sejak SMA. Sama seperti Eva, Shinta juga sudah menikah dan tinggal berjauhan dengan suaminya yang bekerja di sebuah pertambangan di luar pulau.

Eva masih lebih beruntung ketimbang Shinta karena Wahyu masih menyempatkan sebulan sekali atau dua kali mengunjunginya, sedangkan suami Shinta kadang tiga bulan sekali baru bisa datang.

Shinta seumuran dengan Eva, baru 26 thn. Dia juga belum setahun ini menikah.

Baik Shinta maupun Eva rupanya kompak untuk menunda memiliki momongan, sehingga setiap suaminya datang, mereka meminum pil KB sebelum berhubungan badan. Keduanya, maupun suami mereka memang berkeinginan untuk mengejar karir terlebih dahulu sebelum kemudian nantinya memiliki momongan.

Tinggal berjauhan dengan suami masing-masing juga menjadi ketakutkan keduanya jika nanti memiliki anak dan kesulitan untuk mengurusnya.

Karena sudah bersahabat sejak sekolah, mereka berdua sudah sangat dekat seperti layaknya saudara. Shinta juga sudah mengenal baik Wahyu, begitu juga Eva mengenal dengan baik suami Shinta. Jika Wahyu datang, maka Shinta pengertian dan menginap di rumah temannya untuk memberi kesempatan kepada Eva dan Wahyu bermesraan, begitu juga saat suami Shinta datang, giliran Eva yang pergi.

Selama ini suami mereka memang belum pernah datang bersamaan, dan pastinya mereka akan bingung jika keduanya datang bersama, siapa yang harus pergi.

Pagi itu seperti biasanya mereka berdua sibuk untuk membersihkan rumah. Eva berada di belakang untuk membereskan dapur, sedangkan Shinta berada di depan untuk menyapu halaman.

Tak lama kemudian datanglah seorang pria mengendarai sepeda motor. Pria itu memasuki halaman rumah dan memarkirkan motornya disitu. Shinta tidak mengenali pria itu.

"Selamat pagi mbak"

"Iya selamat pagi. Maaf cari siapa ya pak?" tanya Shinta dengan sopan.

"Evanya ada mbak?"

"Oh iya ada, maaf dengan bapak siapa ya?" tanya Shinta.

"Saya Reman, teman kantornya Eva. Dan ini dengan mbak siapa?"

"Saya Shinta pak. Kalau gitu saya panggilkan Eva dulu, bapak silahkan tunggu disini" jawab Shinta sambil menyuruh Pak Reman untuk duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.

Shinta kemudian masuk untuk memanggil Eva.

Shinta memang sudah sering mendengar tentang Pak Reman tapi baru bertemu dengannya sekarang. Hampir setiap hari Eva mengeluh kepadanya tentang seorang pegawai yang selalu menyusahkannya. Karena itu Shinta bertanya-tanya untuk apa Pak Reman datang kesini, karena menurut cerita Eva sudah hampir seminggu Pak Reman tidak masuk kerja.

Pak Reman sendiri sebenarnya sudah tahu kalau Eva tinggal berdua bersama temannya di rumah ini, tapi baru kali ini dia melihat dan mengetahui namanya. Sedari tadi dia memperhatikan Shinta yang sama cantiknya dengan Eva.

Saat itu Shinta memakai kaos ungu yang agak ketat dengan celana training hitam dan jilbab putih yang menutupi kepalanya membuat Pak Reman terpesona. Terlebih lagi kaos yang dipakai Shinta tadi cukup mencetak lekuk tubuhnya terutama di daerah dadanya. Meskipun tak sebesar milik Eva, tapi cukup membuat jakunnya naik turun. Apalagi pantatnya yang terlihat semok membuat Pak Reman terus menatapnya saat Shinta berjalan masuk untuk memanggil Eva.

"Eh Pak Reman, tumben kok kesini, ada apa ya Pak?" tanya Eva begitu bertemu Pak Reman.

"Ada yang mau aku omongin Va" jawab Pak Reman.

"Ya udah kalau gitu masuk aja Pak, ngobrol di dalem aja" ajak Eva.

Pak Remanpun mengikuti Eva masuk ke ruang tamu. Kembali mata nakal Pak Reman mengarah pada pantat Eva yang tak kalah semok dengan Shinta.

Hari itu Eva memakai pakaian yang hampir sama dengan Shinta, dengan kaos lengan panjang dan celana training serta jilbab yang menutupi kepalanya. Meskipun kaosnya tak seketat yang dipakai Shinta, tapi masih cukup mencetak dada Eva yang cukup montok itu.

"Silahkan duduk pak" Eva mempersilahkan Pak Reman duduk.

"Iya makasih" jawab Pak Reman.

"Jadi, ada perlu apa ya pak?" tanya Eva.
< 1 2 3 5 >
"Hmm, gini Va, aku mau minta maaf sama sikapku belakangan ini di kantor. ya aku tahu aku udah keterlaluan. Sebenarnya aku iri sama kamu Va, baru masuk tapi udah dapet promosi. Kemarin aku nggak masuk kerja itu bukan karena ada acara keluarga, tapi emang cuma dirumah aja" jawab Pak Reman menjelaskan maksud kedatangannya.

"Beberapa hari ini aku mikir, ternyata emang aku yang salah. Kamu emang layak dapat promosi itu. Dan aku juga sadar kalau selama ini udah nyusahin kamu dan teman-teman yang lain. Makanya aku dateng kesini mau minta maaf sama kamu" ucap Pak Reman.

"Oh gitu. Saya udah maafin Pak Reman kok. Tapi kalau boleh saya minta, Pak Reman jangan kayak gitu lagi ya? Bukan apa-apa pak, tapi kasihan temen-temen yang lainnya" jawab Eva.

"Iya Va, aku usahain. Tapi kamu tahu sendiri kalau kemampuanku kan cuma segitu aja, jadi mungkin nanti tetep bakal ngerepotin kalian, tapi aku usahain nggak bersikap males lagi dan nggak ngebuat masalah lagi" ucap Pak Reman.

"Syukurlah kalau gitu pak. Nggak papa, nanti masalah pekerjaan bisa kita selesain bareng-bareng, yang penting bapak berubah, nggak kayak gini lagi" jawab Eva.

Eva merasa senang karena Pak Reman sudah menyadari kesalahannya dan berjanji untuk berubah. Dia tahu Pak Reman memang memiliki keterbatasan dalam pekerjaan, tapi jika sikapnya di kantor bisa berubah, itu tak jadi masalah buatnya.

Tapi sayangnya Eva tak tahu kalau itu hanya sekedar ucapan pemanis dari Pak Reman saja, dia tak menyadari maksud sebenarnya dari lelaki itu mendatanginya hari ini.

Mereka pun asyik ngobrol berdua.

Dulu waktu pertama kali masuk kerja, Pak Reman memang dikenal Eva sebagai teman yang enak untuk ngobrol, tapi sejak perasaan iri mulai dirasakan Pak Reman, sikap lelaki itu berubah dan jarang ngobrol dengannya. Tapi kali ini Eva merasa Pak Reman sudah kembali seperti dulu lagi.

"Lingkungan disini emang sepi ya Va? Tadi aku lewat kok kayaknya rumah-rumah di sekitar sini pada tutupan semua?" tanya Pak Reman.

"Sebenarnya disini cukup rame pak, tapi yaa rata-rata mereka sama kayak saya dan Shinta, orang kontrakan. Kalau weekend gini mereka pada pulang pak makanya kelihatan sepi" jawab Eva.

"Lha kamu sama Shinta kok nggak pulang?" tanya Pak Reman.

"Tadinya mau pulang, tapi besok kami ada acara pak, ada nikahan temen makanya nggak pulang" jawab Eva.

"Oh gitu, pantesan" jawab Pak Reman.

Pak Reman tersenyum dalam hati, berarti tak akan ada yang mengganggu rencananya hari ini. Tadinya dia sudah ketar ketir karena melihat kondisi perumahan yang cukup padat, dia khawatir nanti akan mengundang perhatian para tetangga Eva. Tapi setelah tahu rumah-rumah di sekitar pada sepi, diapun mantap untuk melanjutkan rencananya.

Tak terasa sudah hampir satu jam Pak Reman berada di rumah itu.

Sebenarnya Eva merasa risih karena belum mandi setelah melakukan pekerjaan rumahnya, tapi dia sungkan kalau meminta Pak Reman untuk pulang, apalagi lelaki itu terlihat masih antusias ngobrol dengannya.

"Lha temenmu tadi mana Va?" tanya Pak Reman yang tak melihat lagi Shinta.

"Tadi sih mandi pak, kayaknya lagi di kamar dia" jawab Eva.

"Oh iya, kamunya belum mandi ya?" tanya Pak Reman lagi.

"Hehe, belum pak" jawab Eva, berharap dengan begitu Pak Reman segera pamit pulang.

"Ah ya nggak papa, belum mandi aja masih cantik gitu kok," jawab Pak Reman.

"Ah bapak bisa aja" jawab Eva yang semakin risih, karena menyadari perubahan dari tatapan Pak Reman kepadanya.

"Hmm, jadi gini Va, selain untuk minta maaf dan bersilaturahmi, aku kesini juga ingin menebus yang kemarin-kemarin terjadi antara kita" ucap Pak Reman.

"Menebus? Maksudnya pak?" tanya Eva tak mengerti.

"Ya kemarin-kemarin kan bisa dibilang kita nggak akur, makanya aku pengen menebus supaya kita bisa akur lagi, kalau bisa lebih dekat dan akrab lagi" jawab Pak Reman.

"Hmm, maksudnya gimana ya Pak? Saya masih belum paham" tanya Eva yang masih tak mengerti maksud Pak Reman.

"Jadi maksudku gini Va" ujar Pak Reman sambil berdiri dan tiba-tiba melangkah ke arah Eva.

"Loh Pak Reman ngapain? Apa-apaan ini pak?" pekik Eva saat tiba-tiba Pak Reman menariknya berdiri dan memeluknya, berusaha untuk mencium bibirnya.

"Maksudnya biar lebih akrab, kamu harus nebus semuanya pakai tubuh kamu Va, aku pengen ngerasain tubuh kamu, aku pengen ngentotin kamu"

"Pak Reman stop, jangammph" Eva tak sempat menyelesaikan ucapannya karena bibirnya sudah dilumat oleh Pak Reman.

Eva berusaha berontak namun tenaganya kalah kuat dari pelukan Pak Reman. Dia berusaha mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak rela diciumi oleh lelaki itu.

Selain suaminya, belum pernah ada lelaki lain yang menyentuh tubuhnya seperti ini. Tapi Pak Reman terus memaksa meskipun punggungnya dipukul-puluk oleh Eva.

"Va, ada apa kok teriak? Astaga Eva" tiba-tiba Shinta muncul dari dalam karena mendengar teriakan Eva.

"Diam kamu Shin, kalau nggak mau Eva kenapa-napa" ucap Pak Reman sambil mengeluarkan sebuah pisau dan menempelkannya di leher Eva.

Entah sejak kapan lelaki itu menyiapkan pisau itu.

"Pak Reman jangan pak, ampuni saya pak" ucap Eva memelas dalam pelukan Pak Reman.

"Udah diem kamu. Sekarang ikuti perintah saya. Shinta, masuk ke kamar kamu cepat" perintah Pak Reman.

Shinta tak bisa berbuat apa-apa karena Pak Reman mengancam akan melukai Eva jika dia macam-macam. Shintapun menurut dan berjalan perlahan masuk ke kamarnya, diikuti oleh Pak Reman yang menyeret Eva.

Sesampainya di kamar, tanpa menutup pintu Pak Reman yang masuk memeluk Eva sambil menempelkan pisau ke lehernya menyuruh Shinta untuk telungkup di kasurnya.

"Sekarang kamu telungkup, dan taruh kedua tangan kamu di punggung, cepat" perintah Pak Reman.

Tanpa berani melawan Shintapun melakukan perintah Pak Reman. Dia masih terus menatap lelaki itu, menunggu apa yang mau dilakukannya. Dan Shinta begitu terkejut saat tiba-tiba Pak Reman yang melepaskan pelukannya kepada Eva langsung menampar pipi Eva hingga terjatuh di kasur.

Tak hanya sekali, Pak Reman menarik Eva lagi dan kemudian menamparnya sekali lagi, membuat tangis Eva langsung pecah.

Eva merasa pusing karena kedua tamparan itu. Kedua sisi pipinya yang putih kini nampak merah. Belum selesai, Pak Reman kembali menariknya. Sekali lagi dia ditampar, dan tanpa membiarkan Eva jatuh, Pak Reman memukul perut Eva hingga wanita itu merasakan sakit yang luar biasa.

Eva terjatuh di kasur sambil memegangi perutnya.

Melihat temannya disiksa Shinta bangkit dan mencoba melawan Pak Reman. Namun tangan yang hendak memukul Pak Reman itu langsung ditangkap, dan Shintapun mendapatkan perlakuan yang sama.

Kini kedua wanita itu tersungkur di kasur dengan memegangi perut mereka. Merasakan sakit di perut dan juga wajah karena pukulan dan tamparan dari Pak Reman.

Sesaat Pak Reman keluar dari kamar untuk menutup pintu depan, lalu kembali lagi ke kamar itu. Dia tersenyum melihat kedua wanita muda itu masih merintih menahan sakitnya.

"Tadinya aku cuma mau main-main sama Eva, tapi ternyata ada kamu juga Shin, jadi terpaksa kamu harus ikut permainan ini. Kalau mau menyalahkan orang, salahkan saja temanmu itu, hahaha"

Kedua wanita itu masih menangis, merasakan sesuatu yang sangat buruk akan menimpa keduanya. Tapi mereka tak bisa melawan, karena sudah disakiti oleh Pak Reman terlebih dahulu. Pak Reman yang bertubuh tinggi besar dan jago berkelahi itu tentu bukan lawan yang sepadan untuk mereka berdua.
< 1 2 3 5 >
Tiba-tiba saja Pak Reman meraih tubuh Eva, menarik paksa jilbabnya hingga terlepas dan terurailah rambut hitam sepunggungnya.

Eva yang masih lemas karena rasa sakit yang dirasakan diperutnya tak bisa melawan ketika tangan Pak Reman menarik paksa kaosnya hingga terlepas dari tubuhnya.

"Jangan pak, udah cukup hiks" tangan Eva mencoba menahan Pak Reman ketika hendak menarik turun celana trainingnya.

"Jangan ngelawan kamu."

Buugg! sebuah pukulan kembali diarahkan ke perut Eva, membuat wanita itu meringkuk kesakitan.

Saat baru saja berhasil menarik lepas celana panjang yang dipakai Eva, tiba-tiba Pak Risman merasa tubuhnya diserang dari belakang. Rupanya Shinta mencoba memukulinya, namun karena tenaganya lemah pukulan itu seperti tak berasa bagi Pak Reman.

Segera Pak Reman menangkap tangan Shinta dan kembali memukulinya.

"Berani benar kamu ngelawan aku Shin? Baiklah, kamu dulu yang harus dikasih pelajaran" Pak Reman langsung menarik lepas semua pakaian Shinta hingga wanita itu telanjang bulat.

Terlihat tubuh putih mulusnya yang indah, dengan pantat yang semok dan buah dada yang padat menantang. Vagina Shinta yang dihiasi bulu tipis yang tercukur rapi benar-benar mengundang lelaki itu untuk segera menjamahnya.

Pemandangan itu langsung membuat penis Pak Reman mengeras di balik celananya. Segera dia menelanjangi dirinya sendiri, hingga terlihatlah penisnya yang besar tegak mengacung.

Shinta yang masih merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya sama sekali tak bisa melawan ketika Pak Reman membuka paksa kedua pahanya.

"Jangan pak, jangan" Shinta mencoba bangkit dan menahan tubuh Pak Reman saat dirasakan sesuatu yang keras menempel di bibir vaginanya.

Alangkah terkejutnya Shinta melihat batang penis Pak Reman yang jauh lebih besar dan panjang dibandingkan milik suaminya.

Plak!! Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Shinta, membuat wanita itu kembali terbaring pasrah di kasur. Air matanya kian deras menetes merasakan sakit yang teramat sangat di pipinya.

Shinta kembali merasakan kepala penis Pak Reman mulai membuka bibir vaginanya. Dia meringis merasakan nyeri di selangkangannya itu.

Dengan gerakan tiba-tiba, langsung saja Pak Reman menghujamkan penisnya dengan keras ke vagina Shinta yang sempit dan masih kering itu.

"Aaarrgh! sakiiiit..! udah pak, sakiit!" tangis Shinta semakin meledak saat merasakan sakit luar biasa yang dirasakan oleh vaginanya.

Selain karena penis Pak Reman yang terlalu besar untuknya, vaginanya juga masih kering sehingga gesekan kelamin itu membuat dinding vaginanya perih mungkin lecet.

"Uugh.. sempit banget memekmu Shin, kontol suamimu kecil ya?" Pak Reman merasakan betapa sempitnya jepitan vagina Shinta.

Tanpa menunggu lebih lama lagi Pak Reman langsung menggoyangkan penisnya keluar masuk dengan cepat, membuat Shinta semakin berteriak kesakitan.

"Ampuun pak, udah. Sakiiit!"

Teriakan-teriakan Shinta sama sekali tak digubris oleh Pak Reman. Terus saja dia menggenjot vagina Shinta dengan cepatnya.

"Shintaaa. Hentikan Pak Reman, dasar biadab"

Tiba-tiba Eva bereaksi melihat sahabatnya itu diperkosa. Dia segera menerjang kearah Pak Reman.

Namun belum sempat memukul, tangan Eva sudah ditangkap oleh Pak Reman. Pak Reman terpaksa menghentikan dulu goyangannya dan mengurus Eva. Masih dengan penis menancap di vagina Shinta, dia meraih tengkuk Eva dan menampari kedua sisi pipinya.

Mendapat perlakuan seperti itu Eva sama sekali tak bisa melawan, hingga akhirnya lemas karena kesakitan. Tangisnya pecah mendapati keadaan ini. Sahabat baiknya sedang diperkosa, sedangkan dirinya kini juga hanya tinggal memakai beha dan celana dalam, tinggal menunggu giliran saja.

Tangan kiri Pak Reman yang masih memegang tengkuk Eva kemudian menarik kepalanya hingga berada di perut Shinta. Dia dipaksa untuk melihat vagina sahabatnya dihajar oleh penis besar milik Pak Reman.

Sama seperti Shinta, Eva begitu terkejut melihat ukuran penis itu, sangat besar, jauh melebihi milik suaminya. Dia tak bisa membayangkan apa rasanya dimasuki penis sebesar itu. Tak heran jika Shinta tadi berteriak keras saat vaginanya ditembus oleh penis itu.

"Lihat baik-baik bagaimana kontolku di memek temenmu Va, karena setelah ini giliran kamu, hahaha.." Pak Reman kembali mengeluar masukan penisnya di vagina Shinta yang masih rapat itu.

Shinta sendiri sudah semakin lemas karena kelelahan dan juga rasa sakit yang mendera di sekujur tubuhnya.

Tak pernah ada yang melihat dirinya telanjang selain suaminya. Tak pernah ada yang menyentuh tubuhnya selain suaminya. Tapi kini pria yang baru saja dikenalnya tadi sudah berhasil menancapkan penisnya di liang surga yang seharusnya hanya milik suaminya itu.

Terlebih penis itu sangat besar dan panjang. Benar-benar menyakitinya, bahkan berhasil menyentuh bibir rahimnya yang selama ini tak tersentuh oleh ujung penis suaminya.

Sudah sepuluh menit lebih Pak Reman menyetubuhi Shinta tapi belum ada tanda-tanda perkosaan itu segera berakhir. Tangan kanan Pak Reman yang bebaspun menjamahi buah dada Shinta yang padat menantang.

Buah dada itu masih padat karena memang belum pernah dipakai untuk menyusui. Lagi pula sejak menikah, bisa dihitung berapa kali tubuh Shinta dijamah oleh suaminya, sehingga membuat tubuhnya masih seperti layaknya gadis.

Vagina Shinta mulai becek karena rangsangan yang diberikan oleh Pak Reman di kedua buah dadanya. Meskipun menolak dan tak rela, dan merasakan sakit yang luar biasa diawal tadi, tapi tak bisa dipungkiri bahwa keperkasaan Pak Reman memberinya sensasi tersendiri. Kedua puting susunya yang kemerahanpun sudah mulai mengeras, tanda bahwa tubuhnya menerima perlakuan Pak Reman.

Shinta sudah tak lagi berteriak seperti tadi, karena memang sudah kelelahan. Air matanya terus mengalir dan sesekali rintihannya terdengar setiap penis itu menyodok kasar dinding rahimnya.

Hampir 20 menit Pak Reman menyetubuhi Shinta, membuat vaginanya semakin becek dan kedua puting susunya semakin mengeras. Tubuhnya benar-benar menghianatinya.

Shinta benar-benar lemas, namun mulai merasakan sesuatu yang nikmat di vaginanya. Meskipun begitu dia menolak untuk menikmatinya, karena masih dirasakannya rasa sakit akibat penis Pak Reman yang terlalu besar itu.

Sementara itu sudah sedari tadi Eva menutup matanya, tak tega melihat vagina sahabatnya itu diperkosa habis-habisan oleh Pak Reman. Dia diam mencoba mengumpulkan tenaganya untuk melawan Pak Reman. Dia menunggu saat lelaki itu lengah agar bisa memukulnya. Dia harus mengerahkan seluruh tenaganya agar paling tidak bisa membuat Pak Reman kesakitan sambil nantinya mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melumpuhkan lelaki itu.

Eva teringat akan pisau yang tadi dibawa Pak Reman. Dia tak tahu dimana pisau itu sekarang, tapi seharusnya ada di kamar ini.

"Uugh uugh aahh, enak banget memek kamu Shin, jauh lebih enak daripada lonte-lonte yang sering aku pakai. Lebih nikmat juga ketimbang milik istriku.. Aku nggak tahan lagi Shin" mulut Pak Reman meracau saking nikmatnya dia menyetubuhui wanita muda itu.

"Jangan, jangan didalam. Saya mohon pak, jangan keluarin didalam"

Seketika Shinta menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi. Pak Reman akan mengeluarkan maninya di dalam vaginanya.

Sudah sebulan lebih sejak suaminya kembali ke tempat kerjanya, dia tak lagi meminum pil KB. Jika Pak Reman benar-benar ejakulasi di dalam vaginanya, dia pasti akan hamil karena ini adalah masa suburnya.
< 1 3 4 5 >
"Hahaha kenapa? Takut hamil ya? Tenang aja Shin, aku pastiin setelah ini kamu dan Eva akan hamil anakku, hahaha.."

Pak Reman justru semakin bersemangat melihat Shinta yang panik. Dia memang pernah mendengar pembicaraan Eva dan rekan kerjanya yang membahas tentang meminum pil KB setiap suaminya datang karena masih menunda untuk memiliki momongan.

Dia yakin Shintapun demikian, dan karena saat ini suami mereka tidak ada, pasti mereka sedang tidak minum pil KB itu.

"Jangan paak, aahh aahh jangaaan aahh" Shinta semakin panik saat merasakan goyangan Pak Reman semakin cepat.

Dia bisa merasakan penis di dalam vaginanya mulai berkedut. Tapi dia benar-benar lemas tak mampu untuk berbuat apa-apa.

"Aahh aahh Shinta, aku keluar. Rasakan pejuhku Shin, aku hamilin kau, Aaaacghh!!"

Sebuah sentakan keras dari penis Pak Reman ketika maninya keluar menyemprot rahim Shinta.

"Jangaan Aaaahhs!!"

Shinta tak menyangka bahwa saat menerima sperma Pak Reman dirinyapun ikut orgasme. Dan ini bukan orgasme biasa, tapi lebih dahsyat daripada yang pernah dia rasakan saat bercinta dengan suaminya.

Banyak sekali cairan Pak Reman yang keluar di dalam vaginanya. Seketika tangis Shinta kembali meledak, menyadari bisa saja dirinya hamil karena ini.

Pak Reman langsung mencabut penisnya yang masih keras itu. Terlihat vagina Shinta menganga dan berkedut-kedut. Cairan putih kentalpun mengalir keluar dari vaginanya.

Shinta langsung lemas. Selain karena kecapekan dan kesakitan, dia juga lemas karena baru saja mendapat orgasme yang luar biasa. Orgasme paling hebat yang pernah dia rasakan, dan itu bukan dari suaminya.

"Hahaha dasar lonte, nolak, nangis, tapi muncrat juga kamu Shin" ucap Pak Reman merendahkan Shinta.

Shinta sendiri makin menangis karena mengingat tadi Pak Reman sering berhubungan dengan para pelacur. Dia takut lelaki itu membawa penyakit seksual dan menularkan ke dirinya.

Eva ikut terisak melihat keadaan sahabatnya itu. Dia sudah bersiap untuk melakukan perlawanan kepada Pak Reman. Namun belum sempat bertindak, tiba-tiba saja Pak Reman memaksa penisnya untuk masuk kedalam mulutnya.

Eva yang tidak siappun gelagapan. Bau sperma yang kuat ditambah cairan kewanitaan Shinta membuatnya mual.

Eva mencoba untuk melawan tapi Pak Reman dengan kasar menusukan penisnya dalam-dalam di mulut Eva, membuatnya tersedak.

Beruntung tak lama kemudian Pak Reman menarik lagi penisnya itu, dan membuat Eva terbatuk-batuk.

Saat merasa tangan Pak Reman tak lagi menyentuhnya diapun mencoba untuk bangkit. Namun belum apa-apa Pak Reman sudah menamparinya lagi, hingga membuatnya tersungkur di samping tubuh Shinta yang masih kelelahan.

Dengan cepat Pak Reman membuka beha dan menarik lepas celana dalam Eva. Kini tubuhnya yang selalu terjaga dengan pakaian tertutup itu sudah telanjang bulat di depan lelaki yang bukan suaminya.

Evapun sama seperti Shinta tadi, tak bisa melakukan apa-apa untuk melawan karena rasa sakit disekujur tubuhnya. Diapun menangis saat dirasakan kepala penis Pak Reman menggesek-gesek bibir vaginanya.

Eva heran dan tak mengerti kenapa penis itu masih keras setelah tadi berejakulasi di vagina Shinta, padahal penis suaminya setelah berejakulasi biasanya langsung lemas, dan perlu waktu yang cukup lama untuk bisa keras lagi.

Eva tak tahu bahwa selain Pak Reman memang memiliki stamina yang luar biasa dia juga sudah mempersiapkan dirinya dengan meminum obat kuat yang diramunya sendiri.

Kali ini Pak Reman tidak langsung menancapkan penisnya seperti yang dilakukan pada Shinta tadi. Dia ingin lebih menikmati tubuh Eva. Diciumi dan dijilatinya wajah cantik Eva, membuat wanita itu semakin risih.

Leher dan buah dada Evapun tak luput dari sapuan lidah lelaki itu. Buah dada Eva juga masih begitu padat dan kenyal, tak bosan-bosannya Pak Reman memainkan kedua buah dada itu. Sambil melakukan itu, Pak Reman terus menggesekan penisnya di bibir vagina Eva.

Setelah merasa puas menjamahi tubuh Eva, Pak Remanpun bangkit. Dia memegang penisnya mengarahkan ke vagina Eva. Vagina itu tak kalah indahnya dengan milik Shinta. Berwarna kemerahan, terlihat masih sempit, dengan bulu halus yang tercukur rapi semakin mengundang Pak Reman untuk segera menikmatinya.

"Jangan pak, saya mohon, jangan lakukan itu" pinta Eva disela tangisnya, meskipun sadar permintaan itu tak akan digubris oleh Pak Reman.

Dan benar saja, kepala penis yang besar itu segera membuka paksa bibir vagina Eva. Eva sedikit menggerakkan pinggulnya untuk menghindari penis itu, tapi langsung mendapat hadiah tamparan di buah dadanya, membuatnya memekik kesakitan dan semakin deras air matanya.

Pak Reman kembali meneruskan usahanya. Dia tak mengerti mengapa vagina Eva ini masih begitu sempit dan cukup sulit untuk dimasuki, padahal dia sudah tidak perawan lagi.

"Aaarrghh!! sakiiiiitt!! sakit paakk!, udah jangan diterusin" Eva berteriak kencang saat sebagian penis Pak Reman berhasil memasuki vaginanya. Benar-benar terasa sangat sakit, bahkan lebih sakit daripada saat dia diperawani oleh suaminya.

"Uugh.. gila, sempit banget Va, lebih sempit daripada punya Shinta. kontol suamimu itu bener-bener kecil ya?" Pak Reman merasakan betapa sempitnya vagina Eva, membuatnya seperti sedang memerawani seorang gadis.

"Aaarrhh!! udaah paak, sakiiiit!!" teriakan Eva kembali terdengar saat Pak Reman sedikit menarik penisnya lalu menusukannya lagi.

Walau masih belum bisa masuk sepenuhnya penis itu, tapi vagina Eva serasa benar-benar robek, sangat menyakitkan.

"Aaaaarrghh..!!" Eva berteriak panjang ketika dengan sebuah sodokan keras penis pesar nan panjang Pak Reman amblas di vaginanya hingga menyentuh bibir rahimnya.

Pak Reman menarik penis itu setengahnya lalu menyodokannya lagi dengan keras, membuat Eva semakin kesakitan.

Pak Reman kemudian menarik lagi penisnya hingga tinggal menyisakan kepalanya saja karena dia penasaran, seperti ada cairan membasahi penisnya. Dan begitu melihatnya dia terkejut, sekaligus tertawa puas.

"Hahaha, kok masih ada darahnya Va? Sekecil apa sebenarnya kontol suamimu itu sampai memekmu masih berdarah aku entotin gini?" Pak Reman tertawa terbahak-bahak membayangkan sekecil apa ukuran penis Wahyu, suami Eva.

Shinta yang penasaranpun ikut melihat penis Pak Reman yang terlihat ada bercak merah darah. Dia juga heran, sekaligus ngeri membayangkan rasa sakit yang diterima oleh sahabatnya itu, pasti lebih menyakitkan ketimbang yang dia rasakan tadi.

"udah paak, aduh sakitt!!, pelaan aawhh!" Eva mulai merintih saat Pak Risman dengan kecepatan tinggi menusuk-nusukan penis dalam-dalam.

Rasa sakit luar biasa yang dirasakan Eva berbanding terbalik dengan kenikmatan yang dirasakan oleh Pak Reman. Vagina itu benar-benar menjepit erat penis besarnya. Penisnya serasa dipijit-pijit oleh dinding vagina Eva, dan itu benar-benar nikmat.

"Aahh gilaa, kayak ngentotin perawan bener deh, uhh aah" racau mulut Pak Reman sambil terus menggenjot vagina Eva.

Hanya tangis dan rintihan Eva yang terdengar selain suara kedua kelamin mereka beradu.

Shinta yang melihatnya pun ikut menangis membayangkan penderitaan sahabatnya itu.

Kedua tangan Eva meremas keras sprei kasur, kedua matanya tertutup rapat. Telihat sekali dia begitu kesakitan dengan apa yang dilakukan Pak Reman.
< 1 4 5 6 >
Tangan Pak Reman tak mau tinggal diam. Sambil terus menusuk vagina Eva, tangan kirinya meremasi buah dada Eva yang padat itu bergantian. Sedangkan tangan kanannya tak membiarkan Shinta yang tergeletak di samping Eva menganggur. Dua jari tangan kanannya langsung dia masukkan ke vagina Shinta dan langsung mengocoknya.

"Aahh paak, jangan. Udah pak, Shinta capek aah aah"

Shinta yang tak menyangka akan diperlakukan seperti itu sempat menolak tapi tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya masih lemas. Kedua tangannya memegang tangan Pak Reman berharap lelaki itu menghentikan aksinya, tapi Pak Reman masih terus mengocok vagina Shinta. Shinta hanya bisa mendesah dan menggelengkan kepalanya.

Namun lama kelamaan Shinta menikmati kocokan tangan Pak Reman, tapi menyadari dirinya itu diperkosa, juga sahabatnya sedang diperkosa disampingnya membuatnya tak ingin terlalu terlihat menikmati permainan tangan Pak Reman, meskipun vaginanya menunjukkan hal yang sebaliknya.

Vagina Shinta kini sudah sangat basah.

Desahan dari Shinta dan teriakan kesakitan dari Eva benar-benar terdengar seperti musik yang sangat indah di telinga Pak Reman. Dia tak menyangka bisa menikmati kedua wanita cantik itu. Mereka berdua adalah wanita tercantik yang pernah dia setubuhi. Dan vagina Eva adalah yang tersempit selain perawan istrinya yang dia ambil dulu. Dia benar-benar menikmati permainan ini.

Teriakan dan jeritan Eva sudah tak terdengar lagi. Suaranya sudah serak karena sedari tadi berteriak terus. Sekujur tubuhnya yang terasa sakit terutama di bagian selangkangan itu membuatnya hanya terbaring pasrah disodoki oleh penis Pak Reman. Air matanya masih terus mengalir menandakan dia masih merasakan rasa sakit itu.

Sudah 5 menit seperti itu dan penderitaannya belum akan berakhir.

Disampingnya, Shinta yang semakin lama desahannya kian terdengar dan sepertinya sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Permainan kedua jari Pak Reman ini terasa seperti ketika dia disetubuhi oleh suaminya.

Melihat itu Pak Reman semakin cepat mengocoki vagina Shinta, hingga akhirnya wanita itu mendapatkan orgasme untuk kedua kalinya ditandai dengan desahan panjangnya.

Tubuh Shinta semakin lemas setelah mendapat orgasme keduanya itu. Dia diam saja ketika Pak Reman menarik tubuhnya, lalu menelungkupkan di tubuh Eva yang terbaring.

Kini terlihat oleh Pak Reman punggung putih Shinta yang tak tertutup oleh rambut hitamnya yang memang dipotong pendek layaknya polwan. Pantat Shinta yang putih dan semok itu mengundang tangan Pak Reman untuk meremasnya, sesekali menamparnya, membuat bibir Shinta yang berada di dekat telihat Eva mengeluarkan desahan.

"Shin, kasihan temenmu kesakitan, kasih dia rangsangan biar nggak terlalu kesakitan" perintah Pak Reman.

Shinta diam saja. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Pak Reman, tapi dia masih cukup sadar untuk tidak menyentuh sahabatnya itu.

"Aahh paak udahh aahh" Shinta kembali mendesah saat Pak Reman kembali memasukkan dua jarinya dan mengocok kembali vaginanya.

"Ayo cepet lakuin apa yang aku suruh" perintah Pak Reman lagi.

Rupanya dia ingin membuat Eva lebih menikmati permainan ini dengan menyuruh Shinta merangsangnya.

Shinta yang diperlakukan seperti itu oleh Pak Reman mau tak mau melakukannya juga. Dia langsung menjilat telinga Eva yang tak jauh dari bibirnya.

"Sshh aahh Shin, jangann" Eva merasa kegelian dengan jilatan Shinta itu.

Sementara itu vaginanya masih terus digenjot oleh penis Pak Reman. Entah sudah berapa lama penis itu menggenjotnya tapi belum ada tanda-tanda akan berhenti.

Pak Reman memang jika sudah keluar sekali, yang kedua akan cukup lama dia bertahan, dan itu merupakan siksaan untuk Eva, karena itulah dia menyuruh Shinta untuk membantunya merangsang Eva.

Shinta semakin hilang akal karena kocokan jari Pak Reman di vaginanya. Dia bahkan langsung menyambar mulut Eva dan melumatnya. Tangannya pun tak tinggal diam dengan meremasi buah dada Eva.

Tentu saja Eva gelagapan dengan perbuatan Shinta itu. Belum pernah seumur-umur dia berciuman dengan sesama wanita, dan kali ini sahabatnya yang melumat bibirnya dengan penuh nafsu.

Shinta sendiri sebenarnya juga belum pernah berciuman dengan sesama wanita. Justru ini adalah bibir kedua yang dia cium setelah suaminya karena tadi Pak Reman tidak menciumnya sama sekali.

Bahkan, Shinta juga belum pernah berciuman senafsu ini sebelumnya. Tapi kocokan jari Pak Reman membuatnya seperti ini, sudah benar-benar dikuasai oleh birahinya.

Eva sendiri mendapat serangan bertubi-tubi seperti ini mau tak mau akhirnya menyerah juga. Dia kemudian meladeni ciuman Shinta. lidah mereka saling membelit dan saling hisap. Kedua tangan Eva kini memeluk tubuh Shinta yang menindihnya.

Pak Reman kini merasakan tubuh Eva sudah mulai rileks. Vaginanya juga sudah mulai becek. Dia kemudian mencabut jarinya dari vagina Shinta dan berkonsentrasi menyetubuhi Eva.

Rasa sakit yang dirasakan Eva perlahan menghilang dan digantikan oleh kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dengan suaminya, dia belum pernah merasa seperti ini.

Sodokan penis Pak Reman yang kencang yang tadi membuatnya kesakitan itu sekarang terasa memberinya kenikmatan luar biasa. Namun karena tak ingin dilihat oleh Pak Reman kalau dia mulai menikmatinya, Eva dengan bernafsu menciumi bibir Shinta untuk menyamarkan desahannya.

Tentu saja Pak Reman mengetahui semua itu karena memang sudah sangat berpengalaman. Dia terus menggenjot vagina Eva dengan kasar, dan dia rasakan vagina Eva semakin basah, tanda kalau tubuh wanita itu mulai bisa menerimanya.

Tak lama kemudian terlihat Eva semakin erat memeluk tubuh Shinta, vaginanya juga terasa berkedut-kedut.

Pak Reman tahu atasannya itu sebentar lagi akan orgasme, karena itulah dia semakin mempercepat sodokannya.

"Aaaaaaahh..!!" desahan panjang terdengar dari bibir Eva yang terlepas dari ciuman Shinta.

Tubuh Eva mengejang-ngejang. Vaginanya berkedut-kedut dan terasa cairan hangat membasahi penis Pak Reman yang masih ada didalamnya. Eva orgasme, dan sama seperti Shinta tadi, ini adalah orgasme terhebat yang pernah dia rasakan selama ini.

Pak Reman tersenyum bangga karena telah membuat wanita yang tadi menolaknya itu kini orgamse, takluk kepada keperkasaannya. Dia segera mencabut penisnya dari vagina Eva, lalu segera menancapkan di vagina Shinta yang tepat berada diatasnya.

Shinta pun langsung mendesah nikmat saaat Pak Reman menggoyangnya. Kembali dia melumat bibir Eva dengan penuh nafsu.

Kedua wanita itu saling tindih dan saling peluk, sementara seorang lelaki yang bukan suami mereka sedang menyodoki vagina mereka bergantian.

Tak perlu waktu lama sampai akhirnya Shinta kembali merasakan orgasme untuk yang ketiga kalinya. Desahannya benar-benar terdengar erotis di telinga Pak Reman. Tubuhnya benar-benar lemas.

Tiba-tiba penis Pak Reman dicabut dari vaginanya. Namun tak lama kemudian terasa oleh Shinta kepala penis itu menempel di bibir anusnya. Tiba-tiba Shinta menjadi panik mengetahui apa yang diinginkan oleh Pak Reman.

"Jangan, jangan disitu pak, saya mohon jangan disitu. Pake vagina saya aja pak"

Shinta mencoba untuk bangkit namun tangan Pak Reman menahannya dengan kuat. Dia sudah tak peduli lagi dengan penolakan Shinta, dia ingin merasakan bagaimana keperawanan lubang anus wanita itu.

< 1 5 6 7 >
Eva yang mengetahui apa yang akan terjadi ikutan panik, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya sedang ditindih oleh badan Shinta yang ditahan dengan kuat oleh Pak Reman.

"Aaaaarrhh udah paak, sakit, jangan disitu aahh" teriakan Shinta langsung terdengar saat kepala penis Pak Reman yang sangat keras itu memaksa menerobos lubang anus Shinta yang sangat sempit.

Tentu saja sangat sulit bagi Pak Reman untuk memasukinya, lalu dia menarik penisnya dan menggantikannya dengan jariya. Ditusuk-tusuk anus Shinta dengan jarinya untuk membuatnya semakin lebar.

Shinta hanya bisa berteriak kesakitan sementara itu Eva terdiam tak tahu apa yang harus dilakukan.

Jari-jari Pak Reman masih terus berusaha untuk membuka lubang anus Shinta agar penisnya yang besar bisa memasukinya. Setelah dirasa lubang itu sudah cukup terbuka, Pak Reman kembali mengarahkan penisnya kesana.

"Aaaaaarrrrhhh!!"

Teriakan panjang Shinta menandai jebolnya keperawanan lubang anusnya oleh penis Pak Reman. Saking sakitnya sampai-sampai Shinta pingsan tak sadarkan diri dalam pelukan Eva.

Pak Reman merasakan betapa sempitnya lubang itu terus menyodokinya hingga penisnya terlihat ada bercak-bercak darah disana.

Hampir 5 menit Pak Reman menyodomi Shinta. selama itu pula Shinta tak sadarkan diri.

Pak Reman merasa sebentar lagi dia akan orgasme, tapi tentu saja dia tidak ingin orgasme di anus Shinta, karena dia ingin menghamili Eva. Segera ditarik penisnya dari anus Shinta yang langsung terlihat ada darah yang mengalir disana. Secepat kilat Pak Reman langsung menancapkan penisnya di vagina Eva.

"Aaahh pak pelaan" Eva yang tak siap pun kembali berteriak.

Pak Reman tak mempedulikannya. Dia menggenjot vagina Eva dengan sangat cepat. Vagina yang masih cukup basah itu membuat penetrasinya menjadi lancar.

Evapun kemudian mendesah-desah menerima sodokan dari Pak Reman.

"Aahh aahh Va, memek kamu yang terbaik. Memek kamu enak banget sayang. Sekarang rasain semprotan pejuhku ya. Kamu juga harus hamil, sama kayak Shinta" racau Pak Reman sambil terus menggenjot Eva.

"Jangan pak, jangan di dalam. Eva nggak mau hamil sama bapak. cabut pak, cabut"

Eva kini yang menjadi panik. Sama seperti Shinta, ini adalah masa suburnya. Jika Pak Reman mengeluarkan spermanya didalam vaginanya, besar kemungkinan dia akan hamil karenanya. Dia mencoba untuk berontak tapi sangat sulit karena tubuhnya masih ditindih oleh tubuh Shinta yang masih pingsan.

"Aahh aahh, rasakan pejuhku ini Va, aku hamili kamu, AAAAHHHH!!"

Dengan sentakan keras penis Pak Reman mengeluarkan cairan maninya yang masih cukup banyak ke dalam rahim Eva.

"Jangaaan AAAAAHHH!!" pada saat yang bersamaan Evapun mendapatkan orgasmenya.

Namun tak sampai menikmatinya, tangisnya langsung pecah merasakan betapa banyak sperma Pak Reman yang keluar di vaginanya. Dia teringat akan suaminya yang berada di kota lain. Penyesalannya begitu dalam, dan akan semakin bertambah jika dirinya benar-benar hamil oleh Pak Reman.

Pak Reman masih mendiamkan penisnya beberapa saat di vagina Eva sampai sedikit melemas, lalu menariknya keluar. Terlihat lelehan spermanya mengalir keluar dari vagina yang menganga itu.

Pak Reman benar-benar puas sudah menyetubuhi kedua wanita cantik itu, terutama Eva. Dia berhasil membalas sakit hatinya kepada atasannya itu.

Setelah beristirahat sejenak dia mengambil HP-nya, lalu memotret kedua wanita yang masih berpelukan dalam kondisi telanjang bulat itu. Dia kemudian memindahkan tubuh Shinta agar bisa memotret tubuh telanjang Eva.

Eva hanya pasrah saja. Dia tahu setelah ini pasti Pak Reman tidak akan berhenti, dan terus memintanya melayaninya.

Setelah puas mengambil foto Eva dan Shinta dengan berbagai pose, Pak Reman beristirahat sejenak. Dia mengambil air minum dan kembali ke kamar itu lagi.

Nampak Eva menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Shinta yang sudah sadarpun juga menangis terutama karena merasa kesakitan di lubang anusnya.

Setelah membiarkan kedua wanita itu beristirahat Pak Reman menyeret mereka berdua ke kamar mandi, memaksa mereka untuk membersihkan dirinya.

Setelah mandi kedua wanita itu tak diijinkan untuk memakai pakaian. Pak Reman menyuruh Shinta untuk memasak karena perutnya sudah sangat lapar, hari memang sudah beranjak siang.

Sementara Shinta sedang memasak, Pak Reman yang mengawasinya dari meja makan menyuruh Eva untuk mengoral penisnya. Eva yang tak pernah melakukan itu kepada suaminya awalnya kesulitan, tapi karena takut diperlakukan kasar lagi oleh Pak Reman diapun berusaha sebaik-baiknya.

Setelah makan siang bersama, mereka melanjutkan lagi permainannya.

Kali ini Eva dan Shinta lebih pasrah menuruti kemauan Pak Reman. Berbagai posisi mereka praktekan siang itu. Eva dan Shinta dibuat terkesan oleh keperkasaan Pak Reman. Lelaki itu mampu membuat mereka berdua orgasme berkali-kali hingga tak punya tenaga lagi.

Pak Reman juga beberapa kali menyemprotkan spermanya kedalam vagina Eva dan Shinta, sepertinya dia benar-benar ingin menghamili mereka berdua.

Menjelang petang permainan mereka baru berhenti. Eva dan Shinta sudah benar-benar tak bertenaga akibat permainan Pak Reman. Namun Pak Reman belum mau mengambil keperawanan anus Eva, masih ada hari esok, pikirnya.

Tanpa berpamitan Pak Remanpun pergi meninggalkan rumah itu.

Eva dan Shinta kembali menangisi nasib mereka. Mereka tak bisa membayangkan apa jadinya kalau sampai hamil akibat perbuatan Pak Reman. Apalagi tadi sebelum pulang Pak Reman menyita semua pil KB yang mereka punya.

Eva dan Shinta mengira hari mereka sudah berakhir. Tapi beberapa jam kemudian ternyata Pak Reman kembali lagi kerumah mereka, bahkan membawa tas berisi baju ganti. Rupanya Pak Reman ingin menginap disini dan masih ingin menikmati mereka berdua.

Eva dan Shinta hanya bisa tertunduk lesu, terlebih lagi saat mendengar alasan lain kenapa Pak Reman mau menginap.

"Aku besok ikut kalian ke nikahan temen kalian. Tadi aku lihat di undangannya, kayaknya temen kalian itu cantik juga, aku jadi pengen berkenalan dengannya, hehehe"

Eva dan Shinta tahu apa yang dimaksud Pak Reman dengan berkenalan itu, tapi mereka tak bisa melarangnya, karena mereka berdua kini sudah takluk dalam kuasa Pak Reman.

Malam itu kembali mereka bertiga mengulangi perbuatan mereka.

Semenjak kedatangan Pak Reman kedua wanita itu tak lagi diijinkan untuk memakai pakaian. Mereka harus melakukan apapun dengan telanjang bulat.

Bahkan saat Wahyu menghubungi Evapun Pak Reman memaksanya untuk mengangkat telpon dan di loudspeaker.

"Halo, assalamualaikum mas"

"Waalaikumsalam. Lagi ngapain dek?" tanya Wahyu dari seberang telpon.

"Nggak lagi ngapa-ngapain kok ini. Mas lagi ngapain?" tanya Eva.

"Lagi nonton bola aja sayang. Eh, kok kayaknya ada suara cowok itu dek?" tanya Wahyu yang mendengar suara Pak Reman.

< 1 6 7 8 >
"Oh iya, ini ada Pak Reman main ke rumah mas" jawab Eva waswas.

"Pak Reman? Oh, temen kantor yang sering kamu ceritain itu?" tanya Wahyu.

"Iya mas" jawab Eva.

"Lha ada apa dia kesana malem-malem gini dek?" tanya Wahyu lagi.

"Dia mau silaturahmi aja, sambil minta maaf sama adek" jawab Eva.

"Minta maaf kenapa dek?" tanya Wahyu heran.

"Ya yang kemarin adek ceritain itu. Dia minta maaf dan janji bakal berubah" jawab Eva.

"Wah syukur deh kalau gitu, moga-moga dia bisa berubah jadi lebih baik ya dek. Eh tapi ini kok kamunya nerima telpon dari mas, kan lagi ada tamu?" tanya Wahyu.

"Ini lagi mau buatin minum buat dia mas. Dia lagi ngobrol sama Shinta kok itu" jawab Eva.

"Oh ya udah. Mas juga mau keluar cari makan. Udahan dulu ya dek" ucap Wahyu.

"Iya mas, makan yang banyak, biar nggak makin kurus" jawab Eva.

"Iya sayang. Ya udah, mas pergi dulu. I love you. Assalamualaikum"

"I love you too. Waalaikumsalam"

Eva langsung menangis setelah menutup telponnya.

Saat ini dia sedang terduduk lemas di sofa ruang tengahnya dalam kondisi telanjang bulat. Vaginanya masih terasa basah oleh cairannya sendiri dan cairan sperma Pak Reman.

Sementara itu Pak Reman berada disampingnya, sedang ditunggangi oleh Shinta yang setengah mati menahan desahannya saat Eva menerima telpon dari Wahyu.

Mereka pun melanjutkan malam yang panas itu hingga tertidur karena kehabisan tenaga.

===x0x===

Sudah sebulan lebih ini Eva tunduk kepada Pak Reman. Setiap dikantor memang mereka terlihat wajar-wajar saja, Eva atasan dan Pak Reman bawahan, tapi jika sudah diluar kantor sudah beda lagi ceritanya.

Eva sudah memeriksakan dirinya dan dia positif hamil. Beruntungnya seminggu setelah diperkosa Pak Reman suaminya datang dan dia berhasil mengajak suaminya bercinta tanpa menggunakan KB seperti biasanya.

Wahyu senang sekali mendengar kabar kalau Eva hamil, begitu juga keluarga mereka. Tapi mereka benar-benar tak tahu siapa yang sebenarnya menghamili Eva.

Pak Reman juga sudah diberitahu oleh Eva, tapi reaksinya biasa-biasa saja, bahkan bukan menyesal, malah terlihat senang karena berhasil menghamili wanita muda atasannya itu.

Shintapun sama saja, dia juga positif hamil. Dia sempat bingung karena suaminya belum datang juga waktu Shinta tahu kalau dia hamil, tapi akhirnya 2 minggu setelah diperkosa itu suaminya datang juga.

Sama seperti Eva, dia berhasil mengajak suaminya bercinta tanpa menggunakan pil KB.

Kini kedua wanita yang tinggal serumah itu keduanya hamil oleh lelaki yang bukan suami mereka, tapi hanya mereka saja yang tahu. Mereka tak bisa membayangkan apa kata orang jika tahu mereka tidak hamil oleh suami mereka sendiri, terlebih dengan keseharian mereka yang selalu santun dan berpakaian tertutup, membuat siapa saja segan.

Semenjak berhasil memperkosa dan menjadikan Eva budak seksnya, Pak Reman memang banyak sekali mengajari Eva tentang berbagai variasi bercinta. Diapun semakin pandai mengoral penis Pak Reman, padahal sebelumnya belum pernah sama sekali dia melakukan itu.

Kadang kalau pulang kantorpun Pak Reman menyempatkan minta jatah kepada Eva, entah itu cuma sekedar blowjob ataupun quickie. Sesekali saja Pak Reman datang ke rumah Eva tapi untuk menemui dan minta jatah kepada Shinta.

===xo0ox===

- Fika -

Kini Pak Reman sudah punya target mangsa baru, yang tak lain adalah teman Eva dan Shinta. dia sempat ikut mereka berdua datang ke pernikahan wanita itu dan sempat berkenalan disana.

Wanita itu bernama Rafika Anggraeni, atau lebih akrab dipanggil Fika, seorang PNS di kota ini. Suaminya ternyata adalah anak dari seorang pejabat pemda kota ini, sehingga banyak sekali tamu yang datang pada waktu pernikahan mereka.

Fika adalah teman Eva dan Shinta saat kuliah, karena itulah banyak dari tamu itu yang seumuran mereka.

Mata Pak Reman jelalatan melihat begitu banyak perempuan muda yang cantik. Tapi tetap target utamanya saat ini adalah Fika.

Pak Reman sudah banyak bertanya kepada Shinta dan Eva tentang Fika. Bahkan seminggu ini dia sampai ijin tidak masuk kerja untuk mengikuti Fika yang baru saja pulang dari bulan madunya.

Selain itu Pak Reman juga mencari tahu tentang suami Fika yang bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Kebetulan sekali dia memiliki kenalan di perusahaan itu, dan setelah mencari info dia tahu kalau suami Fika akan pergi keluar pulau selama 2 minggu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan disana, tapi waktunya saja yang belum tahu.

Pak Remanpun mulai menyusun rencana untuk bisa menikmati tubuh Fika.

Selama menunggu suami Fika pergi itu Pak Reman mulai mendekati Fika.

Suatu hari setelah pulang kerja, Pak Reman sengaja melewati daerah rumah Fika. Dia sengaja menunggu sampai suami Fika pulang, dan setelah melihat mobilnya Pak Remanpun mendekat kearah rumah Fika. Pada saat itulah dia berpura-pura terjatuh.

Melihat seseorang yang yang terjatuh membuat suami Fika menghentikan mobilnya, lalu mendekat untuk melihat kondisi orang itu.

“Pak, bapak nggak papa?”

“Aduuh, nggak mas nggak papa”

“Wah kok bisa jatuh gini pak?”

“Iya salah saya mas, tadinya mau bales sms malah jatuh gini” jawab Pak Reman sambil menunjuk HPnya yang terjatuh tak jauh dari situ.

“Eh, mas ini, mas Agung kan?” tanya Pak Reman.

“Iya pak, kok bapak tahu?”

“Saya Reman mas, kemarin dateng ke nikahannya mas Agung”

“Ooh iya saya ingat, saudaranya Eva kan kalo nggak salah?”

“Iya mas, hehehe”

Waktu datang Pak Reman ke pernikahan Fika dan Agung memang mengaku sebagai saudara Eva yang diminta menemani datang ke acara itu karena suami Eva yang sedang ada di luar kota.

“Yaudah pak ke rumah saya dulu aja, itu lukanya diobatin dulu”

“Aduh nggak usah mas, malah ngerepotin saya nanti”

“Halah nggak papa pak, rumah saya didepan itu lho, deket”

“Hmm, terus motor saya gimana mas?”

“Udah gampang nanti biar saya ambil”

Akhirnya Pak Remanpun menyetujui ajakan Agung, karena memang dia sudah merencanakan semua itu.

Agung memapah Pak Reman ke dalam mobilnya, lalu membawa menuju rumahnya.

Rumah ini lumayan besar dan hanya dihuni oleh 3 orang saja yaitu Agung, Fika dan pembantu mereka.

Sesampainya dirumah Agung langsung membantu Pak Reman turun dan membawanya ke ruang tamu. Mendengar suaminya pulang Fikapun segera menemuinya.

“Eh mas, lho ini siapa? Kok jalannya gitu?” tanya Fika.

“Ini Pak Reman dek, saudaranya Eva teman kamu itu, yang kemarin datang ke nikahan kita. Tadi Pak Reman jatuh di depan situ” jawab Agung.

“Sore mbak Fika” sapa Pak Reman.

“Sore pak. Sebentar kalo gitu saya ambilkan obat dulu”

Fika langsung masuk ke dalam mengambil kotak obatnya.

Untung dia tadi belum sempat membuka jilbabnya karena ternyata suaminya datang dengan orang lain. Selama ini didepan orang yang bukan muhrimnya Fika selalu memakai pakaian tertutup, termasuk jilbab yang menutupi kepala hingga ke dadanya.

Tak lama kemudian Fika kembali keruang tamu.

“Mas ini obatnya” kata Fika.

“Coba minta obat urut aja dek, kayaknya tangan Pak Reman kesleo ini” jawab Agung.

“Ini mas” Fika menyerahkan obat urut kepada suaminya.

“Maaf ya pak, saya urut dulu”

< 1 7 8 9 >
“Iya mas silahkan. Aduuh duh duh” Pak Reman berteriak kesakitan, tapi sebenarnya hanya pura-pura saja.

“Eh maaf pak”

“Nggak papa mas, kebetulan kena yang sakit”

Agung terus mengurut tangan Pak Reman sementara Fika kebelakang untuk membuatkan minuman hangat untuk Pak Reman.

Merekapun kemudian ngobrol di ruang tamu itu, menanyakan tujuan Pak Reman.

“Emangnya tujuan bapak kemana?” tanya Agung.

“Saya sebenernya mau kerumah temen saya mas” jawab Pak Reman.

“Oh temennya ada yang didaerah sini?” tanya Agung.

“Iya mas, namanya Satrio” jawab Pak Reman.

“Loh, bapak temennya Pak Satrio?” tanya Agung terkejut.

“Loh, mas Agung kenal?”

“Lha itu temen kantor saya pak”

“Oalah ternyata dunia ini sempit ya, hahaha”

“Iya pak, hahaha. Oh iya, kunci motor bapak mana? Biar saya ambil dulu”

“Ini mas kuncinya” Pak Reman menyerahkan kunci motornya kepada Agung.

“Dek, aku keluar dulu bentar ya ngambil motornya Pak Reman”

“Iya mas”

Setelah Agung pergi Pak Remanpun melanjutkan ngobrol dengan Fika. Sesekali dia meringis seolah-oleh menahan sakit ditangannya. Padahal sedari tadi dia terus mengamati wajah wanita cantik yang ada di depannya itu.

Fika masih memakai pakaian kerjanya karena memang belum lama dia pulang. Dengan jilbab yang sewarna dengan bajunya dan juga kacamata yang dia pakai, benar-benar terlihat sangat cantik, bahkan menurut Pak Reman lebih cantik daripada Eva maupun Shinta. tubuh Fika juga terlihat indah dibalik seragam dinasnya itu.

Meskipun tertutup jilbab, tapi Pak Reman masih bisa melihat gundukan yang membusung didada Fika, mungkin sama atau malah lebih besar daripada dada Eva.

“Mbak Fika ini temen kuliahnya Eva ya?” tanya Pak Reman.

“Iya pak. Kalo bapak ini persisnya siapanya Eva ya?” tanya Fika.

“Saya sebenernya masih saudara jauhnya. Saya ini sepupuan sama bapaknya Eva, jadi ya bisa dibilang omnya lah” jawab Pak Reman menjelaskan.

“Oh gitu, pantesan saya nggak tahu. Soalnya setahu saya saudaranya Eva atau orang tuanya nggak tinggal dikota ini”

“Iya mbak, saya juga baru ketemu Eva waktu dia masuk kantor, kan saya ini sekantor sama dia”

“Wah kebetulan banget ya, hehehe”

Fika sebenarnya agak risih ditinggal berdua begini bersama dengan orang yang belum terlalu dikenalnya, tapi mau bagaimana lagi. Apalagi kondisi Pak Reman yang baru saja kecelakaan membuatnya tak enak untuk meninggalkan lelaki itu sendirian.

Fika sendiri tak menyadari kalau sedari tadi beberapa kali tatapan tajam Pak Reman mengarah ke tubuhnya, terutama di bagian dadanya.

Untungnya tak lama kemudian suaminya datang membawa motor Pak Reman sehingga dia bisa pamit ke belakang untuk mandi.

Cukup lama Fika mandi dan setelah selesai ternyata Pak Reman sudah pulang.

Setelah kejadian itu Pak Reman mulai dekat dengan Agung. Bahkan pernah Agung mengundangnya untuk kerumah. Ternyata mereka memiliki hobi yang sama yaitu main catur. Pernah sekali waktu malam minggu Pak Reman sampai pulang menjelang subuh karena diajak main catur.

Agung senang dengan Pak Reman karena selain bisa main catur Pak Reman juga asyik diajak ngobrol. Selama ini karena kesibukannya Agung memang jarang punya teman terutama didaerah rumahnya, karena itulah dengan adanya Pak Reman dia seperti memiliki teman yang bisa diajak ngobrol bahkan sampai larut malam.

Tak hanya Agung, lama kelamaan Fika juga mulai akrab dengan Pak Reman. Malah pernah Pak Reman mengajak Eva kerumahnya, sehingga waktu suaminya bermain catur dengan Pak Reman didepan, dia dan Eva asyik ngerumpi di belakang. Banyak sekali yang saling mereka ceritakan, termasuk kehamilan Eva, tapi tentu saja Eva tidak menceritakan hubungan terlarangnya dengan Pak Reman.

Hanya saja yang membuat Pak Reman jengkel adalah kenapa sudah selama ini Agung belum juga berangkat ke luar pulau, padahal dia sudah sangat tidak sabar untuk bisa meniduri Fika. Ketika bertanya kepada temannya yang sekantor dengan Agungpun dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan.

Pak Reman jengkel karena hampir setiap malam minggu dia diundang main ke rumah Agung sehingga tidak bisa mendapatkan jatah dari Eva ataupun Shinta. tapi meski begitu dia masih terus bersabar menunggu saat-saat keinginannya itu bisa diwujudkan.

Akhirnya saat yang ditunggu Pak Reman datang juga. Bukannya temannya yang memberi tahu tapi malah Agung sendiri yang cerita kalau dia akan pergi keluar pulau sekitar 2 minggu. Tujuan Agung mengatakan itu kepada Pak Reman sebenarnya adalah untuk memberitahu kalau untuk minimal 2 minggu kedepan mereka tidak bisa main catur bersama.

Tapi hal itu bukanlah masalah buat Pak Reman karena waktu Agung pergi keluar pulau dia akan bermain-main dengan Fika, istrinya.

Seperti yang sudah dikatakan kepada Pak Reman, hari jumat Agungpun berangkat. Fika mengantarkannya ke bandara. Setelah mengantarkan suaminya Fika kembali kerumah.

Sebenarnya dia ingin ikut dengan suaminya, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak ditinggal seperti ini, tapi sayang pekerjaannya tidak bisa ditinggal selama itu.

Fika semakin cemas karena Agung mengatakan kalau tidak ada masalah ditempat yang akan dia tuju maka 2 minggu lagi akan pulang, tapi kalau ada masalah disana bisa jadi lebih lama lagi dia disana.

Sabtu malam Fika sedang duduk sendirian menonton TV. Dia baru saja menerima telpon dari suaminya yang mengabari bagaimana keadaannya disana. Dia merasa senang waktu suaminya menelpon, tapi kini merasa sedih lagi karena kembali kesepian.

Ini adalah malam minggu pertamanya tanpa Agung setelah mereka menikah.

Sebenarnya tidak terlalu beda dengan malam minggu sebelumnya karena Agung lebih banyak menghabiskan dengan main catur bersama Pak Reman. Tapi tetap saja tidak ada suaminya ini membuat Fika merasa begitu sepi.

Kalau ada suaminya, paling tidak dia masih bisa mendengar percakapan Agung dengan Pak Reman disela main catur, kadang dia juga ikut nimbrung ngobrol dengan mereka.

Tapi malam ini sepi sekali. Pembantunya sudah pamit untuk tidur dikamar belakang. Sedangkan lingkungan perumahannya ini juga sepi, tidak seperti dulu waktu dia masih ngekos.

Malam ini Fika memakai pakaian tidur berbahan sutera yang sangat halus. Rambutnya dia biarkan tergerai tanpa ditutup jilbab karena memang dia dirumah hanya sendiri.

Tak lama kemudian dia mendengar suara motor yang cukup familiar berhenti di depan rumahnya. Lalu terdengar pintu gerbang rumah itu terbuka. Fika yakin kalau orang itu adalah Pak Reman, karena memang sudah biasa dia datang seperti itu.

Yang dia heran adalah kenapa gerbang rumahnya tidak terkunci, pasti pembantunya lupa dan ketiduran.

“Apa mas Agung belum ngasih tahu Pak Reman kalo dia lagi pergi ya” batin Fika dalam hati.

Agung memang tidak mengatakan kepada Fika kalau dia sudah memberitahu Pak Reman kalau akan pergi. Pikir Agung cukup dengan memberitahu Pak Reman maka lelaki itu tidak akan datang ke rumahnya malam minggu ini.

Tapi Agung sama sekali tak tahu kalau sedari lama Pak Reman menyimpan rencana tersendiri untuknya, lebih tepatnya untuk Fika istrinya.

Tok tok tok

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam. Bentar pak” jawab Fika dari dalam rumah. Dia mengambil dan memakai jilbabnya dulu sebelum menemui Pak Reman.

< 1 8 9 10 >
“Malem mbak Fika” sapa Pak Reman waktu Fika membukakan pintu.

“Malem pak. Nyari mas Agung ya?” tanya Fika.

“Iya mbak, biasalah, hehe” jawab Pak Reman.

“Waduh, mas Agungnya nggak ada pak” kata Fika.

“Lha emang kemana mbak?”

“Pergi ke Sulawesi pak. Baru kemarin berangkat” jawab Fika.

“Loh, ke Sulawesi? Walah, nggak tahu saya. Lama ya mbak?” tanya Pak Reman.

“Ya sekitar 2 minggu sih pak” jawab Fika.

“Waduuh, gimana yaa”

Melihat Pak Reman yang kebingungan membuat Fika merasa sedikit tidak enak. Dia tahu jarak dari rumahnya ke rumah Pak Reman cukup jauh. Kasihan kalau baru sampai langsung pulang. Tapi Fika juga ragu-ragu menyuruhnya masuk karena sedang tidak ada suaminya.

Bagaimanapun bagi Fika dilarang menerima tamu jika sedang tidak ada suaminya dirumah. Tapi sekali lagi melihat wajah Pak Reman yang nampak kecewa dan bingung, membuat Fika kasihan. Meskipun merasa tidak enak dan ragu-ragu, akhirnya dia mempersilahkan lelaki itu untuk masuk.

“Hmm, masuk dulu aja pak” kata Fika.

“Waduh, gimana ya, nggak enak saya mbak” jawab Pak Reman.

“Nggak papa pak, kan bapak udah jauh-jauh kesini, kasihan kalo langsung pulang”

“Hmm, yaudah deh”

Pak Reman akhirnya masuk dan duduk di ruang tamu. Fika tetap membiarkan pintu rumahnya terbuka sebagai tanda kalau ada tamu dirumahnya. Lagipula dia pikir motor Pak Reman juga ada dihalaman rumahnya dengan pintu gerbang terbuka, tapi Fika tidak tahu kalau sebenarnya Pak Reman sudah menutup dan mengunci gerbang rumah itu.

Mereka berdua ngobrol diruang tamu.

Fika melihat Pak Reman seperti masih canggung. Padahal dia sendiri sebenarnya juga canggung karena baru pertama kali ini dia menerima tamu seorang pria malam-malam begini saat suaminya sedang tidak ada dirumah.

Tapi tentu saja muka canggung Pak Reman itu hanya akting saja. Dia sengaja membuat kesan seperti itu agar Fika tidak langsung curiga kepadanya.

“Emangnya mas Agung nggak ngasih tahu ya pak?” tanya Fika.

“Nggak mbak, orang sabtu kemarin pas main catur nggak ngomong apa-apa” jawab Pak Reman.

“Oh, ya emang baru kamis kemarin sih pak mas Agung disuruh berangkat sama kantornya, dan jumatnya langsung berangkat” kata Fika.

Tentu saja Pak Reman berbohong karena hari kamis kemarin setelah mendapat perintah dari kantornya, Agung yang langsung memberitahu Fika langsung menghubungi Pak Reman.

“Kalo gitu saya buatin minum dulu ya pak” kata Fika.

“Aduh nggak usah repot-repot mbak” jawab Pak Reman.

“Ah nggak kok. Mau kopi kayak biasanya?” tanya Fika.

“Boleh deh mbak” jawab Pak Reman.

Fikapun masuk untuk membuatkan minuman meninggalkan Pak Reman sendirian diruang tamu.

Pak Reman tahu pembantu Fika pasti sudah tidur. Dia sudah hapal dengan hal itu setelah beberapa kali main kerumah ini, karena setiap kali datang malam-malam begini pasti Fika yang selalu membuatkannya minuman.

Tak lama kemudian Fika kembali dengan membawa dua gelas minuman, satu untuk Pak Reman dan satu untuk dirinya.

Kembali mereka berdua ngobrol sampai tak terasa sudah lebih dari setengah jam Pak Reman disitu.

Sebenarnya Fika sudah merasa jengah tapi tidak mungkin rasanya mengusir Pak Reman pulang.

Pak Reman bukan tidak menyadari itu, tapi dia memang tidak akan pulang malam ini. Dia sudah mempersiapkan diri seharian untuk bisa menghabiskan malam yang panjang dengan wanita cantik yang kini ada didepannya itu.

“Oh iya Fik, maaf ya kemarin pas nikahan kamu aku nggak bawa hadiah apa-apa” kata Pak Reman.

“Ah nggak papa kok pak. Bapak udah datang aja juga udah cukup” jawab Fika.

Dia agak terkejut dan kurang nyaman dengan Pak Reman yang tidak lagi memanggilnya mbak, tapi langsung namanya.

“Ya tapi tetep aja aku nggak enak. Makanya sekarang aku datang ini mau ngasih hadiah buat pernikahan kamu kemarin” kata Pak Reman.

“Waduh kok repot-repot sih pak” jawab Fika.

“Nggak repot kok, malah seneng aku, hehe. Bentar ya” kata Pak Reman.

Pak Reman lalu berdiri dan keluar.

Fika pikir dia sedang menuju ke motornya untuk mengambil hadiah yang akan diberikan kepadanya.

Beberapa saat kemudian Pak Reman kembali dengan kedua tangan berada dipunggungnya.

Fika tersenyum sendiri melihat kelakuan Pak Reman itu, seperti seorang pria hendak memberikan kejutan kepada kekasihnya. Tapi kemudian Fika terkejut saat tiba-tiba Pak Reman menutup pintu rumahnya. Dia bingung dan tiba-tiba saja perasaannya menjadi semakin tidak enak.

“Loh pak kok ditutup pintunya?” tanya Fika.

“Ya kan aku mau ngasih hadiah buat kamu” jawab Pak Reman.

“Tapi kok pake ditutup segala? Emang hadiahnya apa sih pak?” tanya Fika yang kebingungan.

“Hadiah buat pernikahan kamu, yang paling nggak akan kamu lupain seumur hidup kamu Fik” jawab Pak Reman.

“Apaan sih pak?” Fika semakin bingung, bahkan sampai ikut berdiri.

“Anak” jawab Pak Reman singkat.

“Hah? Maksudnya?”

“Ya, aku bakal ngasih anak buat kamu. Lebih tepatnya, aku bakal bikinin kamu anak”

“Apa maksud bapak? lebih baik bapak pergi sekarang juga” bentak Fika yang menyadari niat buruk Pak Reman.

Bukannya pergi Pak Reman malah semakin mendekat.

Dan betapa terkejutnya Fika ketika tangan Pak Reman yang berada dipunggungnya diarahkan kedepan. Ternyata dia memegang sebuah pisau. Pisau yang dulu pernah dipakai untuk mengancam Eva dan Shinta saat memperkosa mereka berdua.

“Pak apa apaan ini? Saya minta bapak pergi atau saya akan teriak” gertak Fika.

Tanpa menjawab Pak Reman dengan cepat melesat kearah Fika dan langsung memeluk wanita itu. Fika yang baru saja mau berontak langsung terdiam saat dirasakan pisau yang dipegang Pak Reman tadi ditempelkan ke lehernya.

“Lebih baik kamu diam kalau masih ingin hidup Fik” ancam Pak Reman.

“Bunuh aja saya sekalian. Saya nggak sudi disentuh sama orang biadab macam kammpphh”

Belum selesai bicara, bibir Fika sudah langsung disosor oleh Pak Reman.

Fika yang terkejut langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia benar-benar tidak rela jika disentuh oleh lelaki yang bukan suaminya itu.

Fika terus meronta dan tidak peduli dengan pisau yang menempel dilehernya itu. Dia merasa lebih baik dibunuh daripada harus diperkosa oleh laki-laki itu.

Merasakan perlawanan dari Fika, Pak Reman berpikir kalau ancamannya dengan pisau itu tidak akan mempan pada wanita ini. Dia lalu membuang pisaunya asal saja.

Tangannya lalu meraih kedua tangan Fika dan menguncinya dibelakang punggungnya. Tangan kanan Pak Reman yang bebas tiba-tiba saja menampar pipi Fika dengan keras.

“Aaakkhh toloo aakkhh”

Pak Reman tak ingin memberikan kesempatan kepada Fika untuk berteriak meminta tolong. Meskipun kondisi sedang sepi, dia tak mau ambil resiko, sebab siapa tahu ada satpam komplek yang sedang berkeliling.

Fika yang merasa kesakitan karena beberapa tamparan Pak Reman terus berontak dan menangis, hingga membuat kesabaran lelaki itu habis.

BUG!

Sebuah pukulan keras diberikan Pak Reman di perut Fika, membuat wanita muda itu membungkuk kesakitan.

“Sudah dibilang diam. Kalo nggak bisa diam bakalan makin aku sakitin kamu Fik”

Fika tak menjawab karena masih merasakan sakit yang luar biasa diperutnya. Belum pernah dia menerima pukulan sekeras itu. Tamparan-tamparan dipipinya tadi juga masih membekas sakitnya. Pipinya yang putih bersih itu kini menjadi kemerahan.

< 1 9 10 11 >
Perlakuan kasar dari Pak Reman itu membuat Fika ketakutan, karena belum pernah dia mendapatkan perlakuan seperti ini.

Fika yang masih kesakitanpun akhirnya tak bisa melawan saat Pak Reman membawanya paksa masuk kedalam kamarnya. Dengan ringan langsung saja tubuhnya dilemparkan ke ranjang.

Pak Reman lalu menutup dan mengunci pintu kamar itu. Dia tidak mau ada yang mengganggunya malam ini. Setelah mengunci pintu dia menuju ke ranjang.

Fika masih terbaring memegangi perutnya yang sakit. Pipinya telah basah oleh air matanya. Dia menyadari nasib malang bakal menimpanya malam ini.

Pak Reman yang sudah diranjang langsung naik dan menduduki tubuh Fika. Kedua tangan Fika yang tadi memegangi perutnya kini diraih dan dikunci diatas kepalanya sendiri.

Kondisi ini membuat Fika tak lagi bisa bergerak. Dia terus menangis menyadari apa yang akan terjadi kepadanya malam ini.

“Hahaha, nangis aja dulu, nanti juga bakal keenakan kamu. Sama aja kayak temen kamu si Eva sama Shinta itu” ucap Pak Reman.

Fika terkejut ketika Pak Reman menyebut nama kedua temannya itu. Dia menebak-nebak apa yang telah dilakukan oleh Pak Reman kepada mereka berdua. Tapi bagaimana mungkin? Bukankah Eva itu masih saudaranya sendiri?

Melihat Fika yang terkejut tawa Pak Reman semakin lebar.

“Asal kamu tahu Fik, Eva itu bukan saudaraku. Dia itu atasanku di kantor, tapi diluar kantor dia itu budakku. Budak seksku. Sama seperti Shinta, yang siap ngasih memeknya setiap aku butuh. Dan mulai malam ini, kamu akan jadi budak seksku selanjutnya, hahaha”

“Aku sengaja ikut mereka berdua ke nikahan kamu karena aku ngelihat undangan dirumah Eva. Dan sejak itu aku udah ngincer kamu. Sekarang giliran kamu yang ngerasain keperkasaan kontolku, hahaha”

Fika menjadi semakin ketakutan. Dia tak menyangka kalau kedua temannya itu ternyata sudah menjadi budak nafsu lelaki yang saat ini sedang menindihnya, yang sebentar lagi akan memperlakukannya seperti dia memperlakukan kedua temannya.

Fika semakin menangis dan menggelengkan kepalanya, tidak rela dirinya dilecehkan seperti ini.

“Sekarang, mari kita lihat seindah apa tubuh yang selalu kamu sembunyikan ini” Pak Reman kemudian mengangkat jilbab Fika yang masih terpakai hingga sebatas leher.

“Jangan pak, jangan, saya mohon lepasin saya”

Breeet!

Sebuah tarikan keras membuat kancing baju Fika terlepas hingga menampakan dada dan perutnya yang putih bersih.

“Kyaaa! JANGAAANN!”

Plak plak plak.

Kembali pipi Fika menerima beberapa tamparan keras dari Pak Reman yang membuatnya semakin memerah.

Fika hanya bisa terus menangis tanpa melakukan perlawanan. Tubuhnya benar-benar sulit digerakan karena sudah dikunci oleh Pak Reman. Dia memejamkan mata, tidak mau melihat lelaki itu yang sedang tersenyum menjijikan menatap tubuhnya yang sudah mulai terbuka.

Tangan Pak Reman bergerak dengan cepat, sehingga kini baju dan beha Fika tak lagi menutupi bagian depan tubuhnya. Tangannya meremas-remas buah dada Fika yang masih begitu padat, mirip dengan yang dipunyai Eva, baik itu ukuran ataupun kekenyalannya.

Puting susunya yang mungil dan berwarna kemerahan itu dipelintir-pelintir oleh Pak Reman membuat Fika meringis kesakitan. Dia begitu terhina karena bagian tubuh yang selama ini hanya pernah dilihat oleh suaminya kini dijamah dengan seenaknya oleh lelaki lain yang usianya jauh lebih tua darinya.

Tak ingin berlama-lama bermain di dada Fika, tangan Pak Reman dengan cepat menarik celana panjang dan celana dalam Fika sekaligus.

Kini Fika sudah telanjang bulat, hanya menyisakan jilbab yang sengaja dibiarkan oleh Pak Reman.

Dengan kasar jari-jari Pak Reman menggesek bibir vagina Fika yang masih kering itu.

Fika masih terus menutup matanya, tak mau melihat lelaki yang sebentar lagi akan memperkosanya itu. Tangisnya masih belum reda juga. Dia merasa Pak Reman bergerak, tidak lagi menindih tubuhnya dan juga melepaskan tangannya.

Tapi begitu dia mau bergerak untuk menghindar, kembali beberapa tamparan dan diakhiri dengan sebuah pukulan keras dia terima, membuatnya kembali terbaring kesakitan memegangi perutnya. Dia tidak sadar kalau Pak Reman sedang menelanjangi dirinya sendiri.

Kemudian Fika merasa kedua kakinya dibuka paksa oleh Pak Reman. Mau tak mau Fika membuka matanya. Dan dia sangat terkejut ketika melihat benda yang berdiri mengacung tegak dibawah perut Pak Reman. Penis itu sudah ngaceng.

Fika terkejut melihat ukuran penis yang begitu besar itu, melebihi ukuran penis suaminya.

“Aahh jangan paak, udahh JANGAAANN!!”

Fika mulai berteriak waktu Pak Reman menggesekan kepala penisnya yang sudah keras itu di bibir vaginanya yang masih kering. Dia hendak berontak tapi tangan Pak Reman langsung menahannya.

Fika seperti mendapatkan tenaganya kembali, dia meronta sejadinya, benar-benar tak rela dirinya dimasuki oleh penis laknat itu. Tapi kuncian dari Pak Reman membuatnya sangat sulit bergerak. Apalagi tubuh lelaki itu sudah berada diantara kedua kakinya.

Fika menggerakkan pinggulnya kekiri dan kekanan menghindari penis itu saat akan dimasukan oleh Pak Reman.

Apa yang dilakukan Fika itu membuat Pak Reman jengkel juga. Dia kemudian menarik kepala Fika hingga terbangun, tapi sesaat kemudian kembali menamparnya dengan keras membuat tubuh Fika terbanting lagi di ranjang.

Tangan kiri Pak Reman langsung mengunci gerakan pinggul Fika, dan tangan kanannya mengarahkan penisnya ke bibir vagina itu, siap untuk memasukkan penis kebanggannya kesarangnya.

“AAAARRGHH..!! UDAAAH!, SAKIIIIITT..!!”

Teriak Fika saat kepala penis Pak Reman mulai menembus bibir vaginanya.

“Wuaah, sempit bener Fik, enak banget” racau Pak Reman.

“AAAARRG SAKIIIITT!!”

Teriakan Fika kembali pecah saat penis Pak Reman dengan kasar dihujamkan hingga seluruhnya masuk kedalam rongga vaginanya yang masih benar-benar kering.

Fika merasa tubuhnya robek dibagian bawah sana. Dia pernah merasakan ini beberapa minggu yang lalu saat diperawani oleh suaminya, tapi saat itu suaminya melakukan dengan sangat lembut, dan lagi saat itu vagina Fika sudah basah karena dirangsang oleh suaminya. Tapi sekarang, tanpa rangsangan yang membuat vaginanya basah, lubang sempitnya itu dipaksa untuk menerima penis yang ukurannya lebih besar lagi.

“Aaah, nikmat bener Fik. Sama kayak punya Eva dan Shinta. gila memek kalian bener-bener nikmat”

Tak menunggu lama Pak Reman langsung menggerakkan penisnya dengan kasar maju mundur. Dia tak peduli dengan Fika yang kesakitan. Dia hanya menutup mulut Fika agar teriakannya tak sampai didengar orang lain.

Pak Reman merem melek menikmati jepitan vagina Fika yang terasa memijit-mijit penisnya. Dia juga tak peduli dengan kedua tangan Fika yang mencekram tangannya menandakan betapa sakit yang dirasakan wanita itu.

Perlahan vagina Fika mulai basah. Bukan karena dia menikmati tapi sebagai reaksi alami dari vaginanya agar tidak merasa semakin sakit akibat gesekan dengan permukaan penis Pak Reman yang besar.

Pak Reman yang merasa Fika sudah tidak berteriak lagi melepaskan tangannya. Kemudian tangannya meremas-remas kedua buah dada Fika yang sekal itu.

Fika masih menangis sesenggukan. Bandannya tergoncang mengikuti hujaman penis Pak Reman.

Pak Reman kemudian menciumi bibir Fika. Dia melumat bibir tipis itu sambil lidahnya masuk dan mencari-cari lidah Fika.

< 1 10 11 12 >
Fika sendiri diam, tidak mau membalas ciuman itu, tapi Pak Reman tak peduli, dia masih saja melumat bibir itu dengan ganasnya.

Kedua tangan Pak Reman juga masih meremas-remas buah dada Fika, tapi kali ini dengan lebih lembut. Sodokan penisnya juga tidak secepat dan sekasar tadi. Rupanya Pak Reman juga ingin agar calon budak seksnya yang baru itu ikut menikmati permainanya juga.

Fika yang masih hijau dalam urusan seperti ini lama-kelamaan birahinya naik juga. Meskipun dia setengah mati melawannya, tapi rangsangan yang diberikan Pak Reman di titik sensitifnya itu mau tak mau membuat vaginanya semakin lama semakin basah juga. Dalam tangisan dan juga bibir yang masih dilumat Pak Reman, sesekali terdengar lenguhan darinya.

Pak Reman yang sudah sangat berpengalaman tentu tahu kalau mangsanya sudah mulai menikmati juga. Tapi dia juga tahu kalau Fika masih terus berusaha melawan, karena bagaimanapun juga dia sedang diperkosa.

Pak Reman mulai memaikan tempo sodokannya. Kadang dibuat pelan kadang dibuat cepat.

Semakin lama Fika semakin merasakan kenikmatan yang semakin tidak bisa dia lawan. Vaginanya sudah sangat basah. Hanya harga diri dan rasa bersalah kepada suaminya yang membuatnya masih terus menahan desahannya agar tak sampai keluar.

Pak Reman melepaskan ciumannya di bibir Fika. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi wajah wanita yang sedang dia setubuhi itu.

Fika menutup erat mata dan mulutnya. Dia berusaha menahan desahannya agar tak sampai keluar. Meskipun sesekali lenguhan terdengar darinya.

Pak Reman mulai mempercepat sodokannya, rupanya dia ingin membuat Fika takluk dengan mengakui keperkasaannya.

Fika sendiri tanpa sadar beberapa kali menggoyangkan pinggulnya mengikuti gerakan Pak Reman.

Sampai akhirnya Pak Reman melihat ekspresi wajah Fika seperti sedang menahan sesuatu. Kedua tangan Fika juga meremas kasur itu dengan keras.

Pak Reman tersenyum tahu kalau wanita itu akan segera orgasme. Dia semakin mempercepat genjotannya sambil masih meremas kedua buah dada Fika.

Setelah sekian lama ditahan akhirnya Fika tidak kuat juga. Tubuhnya tiba-tiba mengejang, mulutnya terbuka lebar tanpa mengeluarkan suara. Matanya masih tertutup rapat. Kedua tangannya meremas kasur semakin kuat. Dan vaginanya banjir. Dia orgasme. Fika mencapai puncak kenikmatannya dengan penis orang lain.

Wanita pengantin baru yang selalu menutupi tubuhnya dengan pakaian tertutup serta jilbab dikepalanya itu dibuat orgasme oleh lelaki yang bukan suaminya, yang sedang memperkosanya.

Sesaat kemudian tangisan Fika kembali pecah. Dia benar-benar tak menyangka akan mengalami hal seperti itu. Dia yang selama ini selalu menjaga tubuhnya yang hanya pernah dijamah oleh suaminya saja, malam ini dengan bebas dijamah oleh pria lain. Yang lebih memalukan lagi, dia orgasme oleh pemerkosanya itu.

Saat matanya terpejam tiba-tiba muncul bayangan suaminya. Dia semakin merasa bersalah dan merasa begitu kotor.

Pak Reman membelai kepala Fika yang masih tertutup jilbab merah muda itu. Kembali dia menggerakan penisnya yang masih keras.

Lelaki itu baru saja membuat mangsanya tak berdaya dalam orgasmenya, tapi itu baru sekali. Dia ingin Fika seperti Eva dan juga Shinta yang dibuat orgesmu berkali-kali olehnya hingga lemas tak bertenaga.

Fika hanya bisa pasrah saat Pak Reman kembali menggenjotnya. Tubuhnya sudah lemas. Bukan cuma karena orgasmenya barusan, tapi rasa malu dan terhina membuatnya semakin lemas.

“Hmmp, uuhh, aahh, mmpp”

Desahan Fika mulai terdengar seiring dengan genjotan penis Pak Reman di vaginanya. Genjotan Pak Reman yang kadang pelan kadang cepat ini terasa begitu nikmat dia rasakan.

Tapi tetap saja harga dirinya membuatnya sebisa mungkin menahan semua itu, meskipun beberapa kali dia kelepasan mendesah.

Beberapa saat genjotan Pak Reman membuat birahi Fika yang tadinya surut setelah orgasme mulai naik lagi. Dia kembali terlihat meremas kasur tempatnya berbaring.

Pak Reman senang melihatnya. Tidak seperti Eva dan Shinta, wanita ini ternyata cukup gampang mendapatkan orgasmenya. Mengetahui itu Pak Reman kembali mempercepat sodokannya.

Kocokan penis yang semakin cepat itu membuat tubuh Fika kembali tergoncang-goncang. Desahannya tak bisa lagi dia tahan, hingga akhirnya dia mendesah panjang saat orgasmenya kembali datang.

“AAAAAAARHHHS!!”

Kembali tubuh Fika melemas.

Pak Reman menghentikan sejenak genjotannya. Memberi waktu kepada Fika untuk beristirahat menarik nafasnya. Pak Reman lalu menarik keluar penisnya.

Fika sedikit lega, tapi dia tahu Pak Reman belum selesai. Tubuhnya yang terbaring lemas kini dibalik hingga tertelungkup. Pinggulnya sedikit diangkat oleh Pak Reman, dan penis besar itu kembali menghujam lubang vaginanya yang sudah sangat becek.

“Aahh aahh udahh paak, saya capeek aahh aahh”

“Udah? Lha aku belum apa-apa lho ini. Kita bakalan kayak gini semalam suntuk Fik, sampai buat jalan aja kamu susah, haha”

Pak Reman kembali menghujamkan penis besarnya sambil menindih tubuh mungil Fika. Sesekali dia mencium dan menggigit kecil kuping Fika yang masih tertutup jilbab itu.

Semakin lama genjotan Pak Reman semakin cepat, dan Fika merasa kalau lelaki yang sedang menyetubuhinya itu akan segera orgasme.

“Fik, aku mau keluar. Aku keluarin di dalem ya” dan benar saja, rupanya Pak Reman benar-benar berniat untuk menghamilinya.

“Nggak, jangan, saya nggak mau pak. Cabut pak, jangan didalem” tolak Fika dengan panik.

“Oke, aku nggak keluar di memek kamu, tapi aku pengen ngecrot dimulut kamu”

“Nggak aahh, saya belum pernaaahh” tolak Fika yang mengerti maksud Pak Reman.

“Belum pernah apa?”

“Aahh aahh, belum pernahh aahh ngemut penis”

“Penis? Ini namanya kontol Fik, ayo bilang, kontol”

Fika terdiam menggelengkan kepalanya. Dia tak mau mengucapkan kata-kata kotor itu, meskipun tubuhnya sudah dibuat kotor oleh Pak Reman.

“Kalo nggak mau bilang, aku bakalan ngecrot didalem lho, aku bikin kamu hamil”

“Jangan, nggakk mau, aahh aahh, saya nggak mau”

“Kalo gitu ayo cepet bilang, sebelum aku ngecrot nih” kata Pak Reman sambil mempercepat genjotannya.

“Koo,, aahhh kon,, kontol”

“Apanya kontol hah?”

“Saya belum pernah, aahh, ngemut kontol”

“Jadi sekarang kamu pengen ngemut kontol Fik?”

“Nggak, nggak mau aahh”

“Oke kalo nggak mau, aku keluarin di memek kamu”

“Jangan pak, saya mohon jangan didalem”

“Jadi kamu pengen aku keluar dimemek apa mulut kamu hah?”

“Aahh aahh nggak mau, diluar aja aahh”

“Ah lama, aku keluarin di memek kamu aja”

“Jangaaan, dimulut saya aja”

Entah kenapa tiba-tiba Fika mengatakan itu. Tapi dia merasa lebih baik lelaki itu mengeluarkan spermanya dimulutnya, daripada harus didalam vaginanya yang bisa saja membuatnya hamil.

“Hmm, jadi kamu pengen ngemut kontolku sekarang?”

“Ii, iyaa”

“Iya apa?”

“Iyaa, mau ngemut”

“Ngomong yang jelas Fik, ngemut apa?” tanya Pak Reman yang semakin cepat menggenjot penisnya.

“Iyaa aahh aahh, saya mau ngemut kontol Pak Remaaan”

Seketika tawa Pak Reman meledak. Dia sudah berhasil membuat Fika semakin takluk masuk kedalam pelukannya.

< 1 11 12 13 >
Pak Reman semakin senang menyadari betapa wanita yang sedang dia genjot itu ternyata sama lugunya dengan Eva dan Shinta. Entah apa yang dipikirkan wanita-wanita itu sampai tidak mau melakukan oral, padahal selama ini dia sendiri sangat menyukai bila ada wanita yang mengoral penisnya.

Fika baru saja bersedia mengulum penisnya meskipun terpaksa, tapi dia punya rencana lain. Seperti sebelumnya pada Eva dan Shinta, Pak Reman ingin membuat wanita yang sedang digenjotnya ini hamil anaknya.

“Baiklah kalo itu mau kamu, aku bakal keluarin pejuhku dimulut kamu Fik”

“Aahh aahh iyaa paak, jangan keluarin didalem”

“Iya, aku keluarin dimulut kamu. Tapi nanti, ronde kedua, sekarang aku bakal hamilin kamu dulu, haha”

“Nggak, jangaan! paak jangaaan!!”

Fika langsung panik mendengar ucapan Pak Reman. Dia berusaha untuk berontak, tapi tubuhnya yang ditindih tubuh besar Pak Reman itu tak bisa berbuat apa-apa.

“Haha, rasakaan pejuhku ini Fika. Hamillah anakku seperti Eva dan Shintaa, AAAAHHH!”

“JANGAAAANNHH!!”

Dengan sekali sodokan kuat Pak Reman membenamkan penisnya dalam-dalam di vagina Fika. Bermili-mili sperma kentalnya memenuhi rahim wanita bersuami itu. Jutaan calon anak Pak Reman berlomba-lomba untuk membuahi sel telur pengantin baru itu.

Pak Reman mengerang menunjukkan kepuasannya telah melepas cairan spermanya di rahim Fika.

Sedangkan sang wanita semakin menjadi tangisnya menyadari dia bisa saja hamil oleh lelaki yang bukan suaminya itu.

Keduanya masih terdiam dengan posisi menelungkup dengan Pak Reman mendekap tubuh Fika.

Tangis Fika semakin menjadi menyadari saat Pak Reman melepaskan benihnya tadi dia juga mengalami orgasme yang dahsyat. Selama bercinta dengan suaminya, dia memang berkali-kali mendapat kepuasan, tapi kepuasan yang baru saja dia dapat dari lelaki yang bukan suaminya itu jauh lebih nikmat dia rasakan.

Pak Reman masih mendiamkan Fika yang masih sesenggukan. Dia juga masih mendiamkan penisnya yang masih saja keras didalam vagina Fika, sambil menikmati kedutan-kedutan dari vagina wanita itu yang belum juga selesai.

Setelah cukup lama dan merasa Fika sudah mulai tenang, Pak Reman kembali menggerakan penisnya maju mundur.

Kali ini Fika sudah benar-benar pasrah. Dia menurut saja apa yang diminta oleh Pak Reman.

Bahkan ketika diminta diposisi atas, dia menurut bahkan menggoyangkan badannya sendiri mengikuti instingnya.

Dia merasa sudah tak ada lagi yang perlu dipertahankan. Tubuh indahnya yang selalu tertutup kini sudah dilihat semua oleh Pak Reman. Tubuhnya yang tak pernah tersentuh pria selain suaminya kini sudah bebas dijamahi oleh Pak Reman. Bahkan vaginanya yang selama ini hanya menerima benih dari suaminya kini sudah dibanjiri oleh sperma dari Pak Reman.

Fika melepaskan hasratnya sendiri. Tapi dia melakukan semua itu dengan memejamkan matanya. Dia membayangkan wajah suaminya, membayangkan dia sedang bercinta dengan suaminya.

Entah sudah berapa kali dia orgasme, yang jelas sekarang dia sudah begitu letih sehingga pasrah saja berbaring waktu Pak Reman menggenjot kembali vaginanya.

Diantara rasa marah dan bersalah kepada suaminya, Fika merasa kagum dengan keperkasaan yang dimiliki oleh Pak Reman. Belum pernah dia berccinta selama ini dengan suaminya. Paling banyak cuma 2 ronde saja. Sedangkan dengan Pak Reman ini dia sudah tak tahu lagi.

Waktu sudah menunjukkan tengah malam.

Fika sudah sangat lelah, tapi Pak Reman masih terus menggenjotnya. Dia kembali pasrah ketika diposisikan menungging. Tapi kemudian dia tersentak waktu merasakan jari Pak Reman meraba lubang belakangnya. Dia mengangkat kepalanya dan menengok ke Pak Reman yang ada dibelakangnya.

Pak Reman hanya tersenyum saja melihatnya.

“Memek kamu udah, sekarang giliran bool kamu Fik”

“Nggak, jangan disitu pak, saya belum pernah”

“Udah nurut aja. Dulu Shinta juga nolak, sekarang nagih”

“Nggak mau. Saya bukan Shinta. jangan disitu pak, dimemek saya saja”

Pak Reman nampak tak peduli, bahkan sudah memposisikan penisnya dilubang pembuangan yang sangat sempit itu.

Fika berusaha menghindar tapi lagi-lagi kuncian dari Pak Reman tak mampu membuatnya bergerak. Tapi terus dia mencoba meronta sambil memohon agar Pak Reman tak menyodominya. Pak Reman tetap saja tak peduli.

“AAAARRRHH!! SAKIIITTT!! PAKK!!”

“Bentar Fik, rileks aja biar nggak sakit”

“Nggak mauu, jangan disitu”

Pak Reman masih berusaha keras memasukan penisnya ke lubang perawan itu. Baru kepalanya saja yang masuk dan itu sudah membuat Fika berteriak kesakitan.

Tak ingin teriakan itu sampai terdengar Pak Reman mengambil celana dalam Fika dan menyumpalkan ke mulutnya. Kembali dia berusaha memasukan penisnya ke lubang itu.

“Mmppphh”

Lenguh Fika panjang saat penis itu berhasil mengoyak dan masuk seluruhnya ke lubang anusnya yang selama ini tak pernah digunakan selain untuk membuang kotorannya.

Fika merasakan sakit yang teramat sangat. Jauh lebih sakit ketika dulu vaginanya diperawani suaminya. Jauh lebih sakit waktu tadi Pak Reman berhasil menghajar vaginanya.

Fika hanya bisa menangis waktu Pak Reman mulai menggenjot penisnya dilubang anusnya.

Kepala Fika bahkan terasa berkunang-kunang menahan sakit itu. Dia merasa ingin pingsan saja daripada harus merasakan sakit itu. Apalagi kini genjotan Pak Reman semakin kencang dia rasakan.

Sudah begitu tangan Pak Reman tak bisa diam. Beberapa kali tangan nakalnya menampar-nampar pantat indah miliknya sampai berwarna kemerahan. Tangan satunya meremas bukit buah dada Fika dengan kasarnya.

Entah sudah berapa lama Pak Reman menggenjot anusnya, sama sekali tak ada yang dia rasakan selain rasa sakit. Perutnya terasa mual setiap kali penis Pak Reman masuk seluruhnya.

Tapi tak lama kemudian Pak Reman mencabut penisnya dan kembali menghujamkan ke vaginanya. Genjotannya kasar sekali membuat tubuh Fika terlonjak-lonjak.

“AAAAHHHH..!!”

Terdengar Pak Reman melenguh panjang waktu dia kembali berejakulasi di vagina Fika.

Seketika Fika langsung ambruk di kasur dengan kedua lubang miliknya yang menganga lebar, selebar penis Pak Reman.

Fika bersyukur paling tidak penderitaan dilubang anusnya berakhir sementara ini. Tapi ternyata dugaannya salah. Pak Reman yang sudah 3 kali orgasme itu penisnya masih keras. Kembali dia menyodomi Fika, kali ini tidak sekasar tadi.

Cukup lama kali ini Pak Reman menggenjot anusnya hingga dia merasakan sesuatu yang lain. Sensasi aneh yang dia dapatkan itu membuat tubuhnya kembali menghangat. Rasa sakit yang dia rasakan tadi perlahan menghilang.

Kini justru vaginanya mengeluarkan cairan pada waktu anusnya sedang dijajah penis besar lelaki itu.

Saking capeknya Fika sudah tak tahu lagi apa yang diperbuat oleh Pak Reman. Badannya kembali dibalik berbaring dan kembali dihujam penis perkasa itu. Sebersit bayangan dikepala Fika, seandainya saja suaminya seperkasa itu.

Tapi bayangan itu mendadak hilang waktu dia rasakan sebuah benda berbau aneh menempel dibibirnya. Dia membukan mata dan langsung terkejut karena benda itu tak lain adalah penis Pak Reman.

“Emut Fik, kamu tadi yang pengen kan”

Dan entah bagaimana, Fika menurut saja perintah Pak Reman itu. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan membiarkan penis itu kemudian masuk. Karena tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya dia hanya diam saja.

< 1 12 13 14 >
Pak Reman maklum kalau Fika memang belum tahu caranya memanjakan penis menggunakan mulutnya. Karena itulah dia menggerakkan penisnya maju mundur dengan pelan. Kadang dia tekan sedalam-dalamnya penis itu hingga membuat Fika tersedak dan ingin muntah.

Beberapa saat mengentoti mulut Fika, Pak Reman akhirnya tak tahan juga. Tangannya langsung menahan kepala Fika saat penisnya dia tekankan dalam-dalam. Tubuh Pak Reman kelojotan saat kembali benih-benihnya mengalir keluar, kali ini bukan di vagina Fika tapi dimulutnya.

Fika yang merasa jijik sebenarnya ingin segera memuntahkan cairan kental itu, tapi kepalanya ditahan sangat kuat oleh Pak Reman, sehingga mau tak mau dia harus menelan cairan itu daripada kesulitan bernapas.

Setelah itu Fika langsung tersungkur di kasurnya. Dia sudah sangat lemas, tak memiliki tenaga lagi. Dia berharap Pak Reman menyudahi semua ini karena sudah sangat ingin istirahat.

Tapi ternyata Pak Reman belum puas juga. Fika benar-benar tak mengerti darimana tenaga yang dimiliki oleh lelaki itu. Akhirnya dia hanya pasrah saja diperlakukan apapun oleh Pak Reman, termasuk direkam saat sedang disetubuhi.

Permainan mereka baru berakhir waktu subuh. Keduanya tertidur berpelukan telanjang bulat dengan kedua alat kelamin masih menyatu.

Keesokannya Fika terbangun lebih dulu. Dia kembali terkejut mendapati dirinya yang telanjang sedang dipeluk oleh Pak Reman. Dia kembali menangisi keadaannya kini.

Hal itu rupanya membuat Pak Reman terbangun juga.

Setelah beberapa saat merekapun kemudian mandi bersama. Setelah cukup merasa segar baru mereka keluar untuk makan.

Hari rupanya sudah cukup siang. Fika meminta pembantunya menyiapkan makanan. Pembantunya sebenarnya heran dengan adanya Pak Reman, tapi dia lebih memilih untuk diam.

Setelah selesai makan, atas perintah dari Pak Reman, Fika menyuruh pembantunya untuk pulang kerumahnya. Dia diberi ijin selama 3 hari.

Tentu saja 3 hari ini Pak Reman masih ingin bersenang-senang dengan Fika.

Setelah pembantu Fika pulang, Pak Reman kemudian menghubungi Eva dan Shinta, memintanya untuk datang kerumah ini.

Awalnya terasa canggung, terutama bagi Fika yang baru semalam diperkosa oleh Pak Reman. Tapi lama-kelamaan suasanapun cair juga, hingga merekapun meneruskan permainan gila itu seharian penuh.

Karena kondisi Eva dan Shinta yang sedang hamil, dan Pak Reman memang masih belum puas dengan Fika, maka Fika yang lebih banyak bertugas melayani lelaki itu.

Sedangkan Eva dan Shinta lebih banyak menjadi penonton, atau bertugas merekam apa saja yang mereka lakukan, bahkan sesekali mengajari Fika bagaimana untuk memuaskan Pak Reman.

Dan hari itu resmilah Fika menjadi budak seks Pak Reman seperti halnya Eva dan Shinta yang harus selalu siap untuk melayani kapanpun Pak Reman memintanya.

Pak Reman kemudian meminta Eva dan Shinta untuk menginap dirumah itu 3 hari kedepan. Mereka diminta untuk ijin tidak bekerja dikantornya masing-masing.

Selama 3 hari itu Pak Reman telah berhasil mengubah wanita-wanita alim yang tadinya lugu soal seks menjadi binal jika didepannya. Peraturan yang dibuat Pak Reman selama dirumah itu hanya 1 saja, yaitu mereka tidak boleh memakai sehelai bajupun didalam rumah.

Pada hari ketiga, Eva dan Shinta pamit pulang.

Tapi Pak Reman masih ingin menginap dirumah itu. Terpaksa Fika menelpon pembantunya agar libur lebih lama lagi. Dia tentu tak ingin apa yang terjadi dirumah itu diketahui oleh orang lain.

Selama 3 hari kedepannya lagi terpaksa pula Fika ijin tidak masuk kerja. Dia beralasan sedang keluar kota karena ada acara keluarga.

Dan hari-hari selanjutnya sudah bisa ditebak, Pak Reman selalu menyetubuhi Fika kapanpun dia mau, membuat wanita itu menjadi wanita binal yang haus akan seks.


BERSAMBUNG..

< 1 12 13 14
Klik Nomor dibawah untuk lanjutannya
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak