x
x

Cerita Dewasa Dendam Yuni

cewek amoy


Ini malam ketiga pernikahanku serta malam keduaku di kota ini, dan kembali aku kecewa saat suami dari perjodohan orang tuaku, tak mampu menuntaskan hasrat birahiku.

Awalnya aku menolak perjodohan tersebut, namun bisnis perhotelan keluarga yang sebagai sumber penghasilan keluarga satu-satunya kini hampir bangkrut.

Dengan berat hati ku terima perjodohan itu karena dengan pernikahan ini bisnis perhotelan keluarga yang dikelola papaku di Bali bisa terselamatkan dengan suntikan dana dari mertua.

Koh Andrew (35), suamiku yang usianya 11tahun lebih tua dariku, pria yang secara fisik jauh dari bayangan pria impianku, bahkan jauh dari pria-pria yang selama ini sering menghabiskan malam bersamaku.

Sebagai gadis yang besar di tempat seperti Bali, dan ditunjang dengan penampilan fisik yang banyak orang bilang cantik dan seksi, serta wajahku yang oriental, aku tidak kesulitan untuk mendapakan teman pria tampan.

Seperti kehidupan remaja disini pada umumnya, keluar masuk diskotik dan seks bebas sudah jadi hal biasa buatku. Dari pertama kali merasakan bersetubuh, aku sangat menyukai dan ketagihan akan seks, hampir tiap hari aku bersetubuh dengan para pria tampan dan bisa memuaskan hasratku.

Namun kini aku harus menikah dengan pria yang secara kemampuan seksual sangat payah sekali, aku benar-benar kecewa, dua malam sudah disetubuhi, dua malam sudah memekku di siram cairan spermanya, tapi selama itu juga aku tidak pernah sekalipun mengalami orgasme.

Apakah aku bisa bertahan dengan semua ini..? Entahlah.

===x0x===

"pagi ci.." sapa si mbok, pembantu dirumah ini, ketika aku baru saja keluar dari kamarku.
"yang lain sudah pada berangkat mbok..?" Tanyaku, karena aku tinggal disini tidak hanya bersama suamiku tapi juga papa mertuaku.
"sudah ci, ci yuni mau sarapan.." tanyanya lagi.
"saya minta teh aja ya mbok, nanti saya tunggu diteras samping.."

Rumah ini cukup besar dengan halaman yang luas dan indah dimana teras samping menghadap matahari terbit, mengingatkan akan keadaan ketika masih di Bali dulu.

Ku buka website pribadiku melalui tab-ku, sudah lumayan lama aku membagikan pengalamanku bersama para bule, dalam bentuk cerita panas di website pribadiku.

Terbesit dikepalaku untuk mencari obat untuk ejakulasi dini, yang mungkin bisa ku berikan pada koh Andrew. Ku buka FB, tapi ada new message dari user Cheverboyz, seseorang yang selama ini suka ssi ke aku, isinya menanyakan apakah aku sudah di jakarta dan memintaku untuk menghubunginya jika sudah di jakarta.

Ku batalkan niat mencari obat untuk suamiku, karena tiba-tiba terbesit pikiran nakal untuk menemui orang itu. Ku kirim pesan untuk mengabarkan kalo aku sudah di jakarta, dan tak lama langsung ada balasan yang menanyakan apakah bisa bertemu, dan kamipun janjian ketemu siang ini.

"permisi ci, ini teh manisnya dan ini pisang goreng.." si mbok membuyarkan lamunanku,
"oh iya makasih mbok.."

Selesai sarapan dan mandi aku langsung berangkat ke tempat yang dijanjikan, karena memang aku disediakan mobil dan sopir, aku jadi tidak kesulitan menuju ke alamat janjian tadi.

Beberapa pasang mata memandangku saat aku memasuki cafe ini. Karen aku memakai celana pendek ketat dan tanktop yang ku padukan dengan cardigan kuning, pakaian yang memang sehari-hari biasa ku pakai waktu masih diBali.

Belum sempat aku mencari tempat duduk seseorang sudah menyapaku dari belakang.

"yuni ya..?" katanya.

Ketika berpaling kutahu kalau ini adalah si Cheverboyz, orang yang janjian bertemu denganku karena kami sudah sering bertukar foto, bahkan foto bugil.

Untuk sesaat keakraban di chat FB berubah menjadi kecanggungan dipertemuan pertama di dunia nyata ini.

"silakan.." suara pelayan yang menyajikan pesanan kami, membuyarkan kecanggungan kami.
"kamu ga kerja, bisa ketemuan jam segini..?" tanyaku, pada pria didepanku,
"ga, aku kerja shiff malam.." jawab
"owh satpam kah.. Hihihi.." tanyaku.

Karena kalau dilihat dari postur tubuhnya, si Cheverboyz ini, cocok jadi satpam.

"hehe.. Aku kerja di pabrik.." balasnya.

Sambil menikmati hangatnya cappucino, kami pun mulai larut dalam obrolan.

Ternyata si Cheverboyz ini nama asli nya Junno, entah bener atau tidak, karena untuk ukuran orang Indonesia nama Junno agak terkesan janggal, apalagi ketika dia cerita kalau ayahnya Batak dan ibunya Jepang, jujur kalo dilihat dari tampangnya, sulit menemukan bagian Jepang dari dirinya.

Dan seperti yang sudah kuduga pembicaraannya pun mulai mengarah ke arah seks, dan menggodaku untuk main ke kontrakannya, siapa takut.

"yakin gak apa, kalo kamu diantar sopir ke tempatku.. Nanti kalo dia bilang ke suamimu..?" tanya Junno ragu ketika aku mengajaknya ke mobil.
"udah gak apa.. Sopirku nanti aku yang urus.." kataku sambil menarik tangannya.

Toh kalaupun pak Sodik ngadu ke suamiku juga, pastilah yang dicari si Junno ini. pikirku.

Pak Sodik terlihat terkejut ketika aku membawa seorang pria ke mobil.

"pak, tolong antar ke tempat teman saya.." Kataku pada pak Sodik, sambil mengedipkan mata memberinya kode untuk tidak banyak bicara,
"Dimana alamat nya Jun..?" tanyaku pada Junno.

Pak Sodikpun melajukan mobil ke alamat yang disebutkan Junno.
1 2 3 5 >
Karena kontrakannya di gang sempit dan mobil tak bisa mesuk, terpaksa ku suruh pak Sodik untuk menunggu diparkiran minimarket dan kuberi uang untuk makan siang.

Aku dan Junno menyusuri gang kecil sekitar 100m dari jalan raya, akhirnya sampai juga dideretan rumah petak, dan Junno mengajak ku masuk ke salah satu yang berada disisi kiri.

"sorry ya, tempatnya cuma kaya gini.." katanya ketika aku sudah didalam.
"gak apa.." kataku sambil menuju ke kaca jendela belakang, ternyata dibelakang kontrakan ini, ada sungai, dan diseberang sungai ada banyak rumah-rumah kumuh.

Ketika pandanganku terpaku melihat sekelompok anak kecil berlarian diseberang sungai, kurasakan tangan Junno memelukku dari belakang dan sebelum sempat aku tersadar, tubuhku sudah dibalikan menghadapnya, ternyata dia sudah bugil.

Bibirku dilumat habis, dan kubalas dengan lumatan yang tak kalah panas, tangannya menyelusup ke dalam bajuku, dan meremasi kedua payudaraku.

Tak mau kalah tanganku juga memegang dan meremas kontolnya yang tergantung bebas. Ujung kontolnya terasa sudah berlendir.

Dia lepas lumatannya dan dia angkatnya kedua tanganku keatas, dilolosi semua pakaianku hingga payudaraku terpampang bebas, didorongnya tubuhku ke tembok, dan Junno berjongkok dikakiku, dipelorotkannya celana pendek beserta g-string hitamku, diangkatnya kaki kananku kepundaknya, dan kepalanya langsung terbenam di rimbunnya selangkanganku.

"akh.. Eahh.. Terus.. akh.. ah..!" aku mendesah keenakan menikmati sentuhan lidahnya menjilati bibir memek yang sudah basah oleh lendir nafsu birahiku.

"akhhh..!" aku kembali menjerit kecil ketika itilku disentuh oleh lidahnya.

Ku gerakan pantatku, mengimbangi, setiap sentuhan lidahnya, sungguh nikmat sekali, hingga tanpa sadar aku meremas dadaku sendiri.

Dituntunnya aku untuk rebah di kasur tipis yang tergeletak dilantai, aku telentang dan ia mengangkangi wajahku, disodorkan batang beruratnya kemulutku.

Aku tahu apa yang dia mau, ku lumat batangnya, ku jilat dan kuhisap dan ku nikmati batang itu.

"arrghh.." suaranya mengerang keenakan, dan erangannya semakin menjadi ketika dua bijinya ku kulum bergantian.

"masukin sekarang dong.." Pintaku sambil meremas pantatnya.

Dan seperti anjing yang penurut dia posisikan dirinya diantara kedua kakiku yang ditekuknya, dan mengarahkan kontolnya ke memekku yang sudah basah.

"bless.." batangnya terbenam kedalam lobangku, dan mulai begerak keluar masuk dengan irama yang terkadang cepat dan terkadang lambat sungguh nikmat rasanya, inilah rasa yang ku inginkan, kenikmatan persetubuhan yang tak ku rasakan bersama suamiku.

Dan selang beberapa menit akupun merasakan orgasme, disusul Junno tidak lama kemudian.

Seharian itu aku menuntaskan hasrat birahiku dengan Junno, dan bahkan akupun rela ketika Junno memfoto tubuh bugilku, memfoto memekku yang berlumur spermanya, untuk di postnya diforum gambar dewasa.

Sekitar jam 5 sore aku kembali ke rumah, koh Andrew dan papah mertuaku belum pulang. "aman" pikirku.

"pak Sodik tolong jangan cerita kemana kita tadi." kataku kepada pria paruhbaya yang jadi sopirku itu.
"iya ci saya ngerti.." katanya.

Sebelum masuk rumah, ku beri dia dua lembar seratus ribuan untuk tutup mulut.

Seperti malam-malam sebelumnya, Koh Andrew tidak mampu memuaskanku, dan seolah tanpa beban dia langsung tidur setiap kali habis menggauliku.

"koko.. Usaha dikit kek, minum obat atau ke dokter, aku juga butuh dipuaskan koh, aku bukan pelacur yang hanya dijadikan tempat buang sperma, aku istrimu.." kataku dengan emosi, ketika Ko Andrew hendak tidur sehabis menyetubuhiku.
"dengar ya, aku tahu kau menjadi istriku hanya untuk uang, agar usaha orangtuamu tetap berjalan, jadi jangan menuntut macam-macam, terima saja, aku juga menggaulimu hanya karena papa ingin punya cucu.. paham!" kata-kata yang sungguh tidak kuduga keluar dari mulut ko Andrew.

"kamu keterlaluan koh bicara seperti itu.." entah kenapa aku merasa begitu sedih.
"setelah kamu hamil dan melahirkan, kamu bisa pergi, kembali menjadi pelacur di Bali, kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu, perempuan sundal.." katanya lagi.

Dia langsung pergi keluar kamar meninggalku yang menangis, aku sungguh sakit hati dengan kata-katanya itu, bahkan ketika paginya saat koh Andrew meminta maaf atas perkataannya itu aku hanya diam dan tidak bisa memaafkannya.

Sejak kejadian malam itu, aku pun mulai tidak perduli lagi aku mulai mempunyai teman disini, sehari-hari yang ku lakukan hanya ke salon, shoping, jalan-jalan, clubbing, atau menuntaskan gairah bersama orang yang ku kenal dari dumay. Dan setiap pulang aku pasti bertengkar dengan suamiku itu.

"mungkin kalo koko bisa menjadi lelaki sejati, aku bisa betah dirumah.." kataku suatu malam ketika aku baru saja pulang dan ko Andrew menegurku.

Entah apa yang terjadi belakangan ini koh Andrew selalu diam menanggapi perkataan ketus ku. Dia lebih memilih pergi dan tidur dikamar lain.

Seperti kebiasaanku selama ini, jika tidur aku selalu tanpa mengenakan sehelai pakaianpun, dan karena malam ini papa mertuaku di luar kota, aku cuek aja keluar dalam keadaan bugil, ketika hendak mengambil handphoneku yang tertinggal dimobil.

"pak Sodik.." aku terperanjat ketika membuka pintu garasi ternyata sopirku itu, masih disana.
"ci yuni.." dan diapun terlihat gugup melihatku yang telanjang bulat didepanku.
"pak Sodik ga pulang?" tanyaku.
"eh.. anu.. eh.. besok kan mau jemput Bapak pagi-pagi, jadi saya tidur disini biar ga telat.." katanya sambil berdiri dan merapikan kain sarungnya.

Saat itu ia mengenakan kain sarung dan kaos singlet.

"hp saya ketinggalan di mobil, tolong ambilkan.."

Pak Sodik pun bergegas membuka pintu mobil.

Pandanganku tak bisa menghindari untuk tak melihat tonjolan dibalik sarungnya ketika ia berjalan menyerahku handphone kepadaku.

"ini ci.." katanya menyodorkan hp ku

Tapi tanganku malah memegang tonjolan disarungnya.

"ci.." dia kaget dan berusaha mundur namun terlanjur ku genggam erat batangnya.
"udah keras gini, kasian kalo ga dilemesin pak.." kataku sambil menggerakan tanganku maju mundur.

Rupanya pak Sodikpun sudah terangsang, tangannya langsung menyentuh selangkanganku.

"jembut ci Yuni.. Lebat." katanya sambil menggosok rambut diselangkanganku itu.
"Ahh.. pak, ngewe yuk.." desahku pelan ditelinganya sambil lidahku menjilat daun telinganya.

Lalu aku berjalan untuk merebahkan diri dikursi sandar yang terbuat dari bambu dimana tadi pak Sodik tidur.

Satu kakiku ku tekuk diatas sandaran samping, mempertontonkan liang merekah ku.

"ayo pak.. masukan kontol bapak.." kataku dengan ekspresi wajah nakal, sambil ku pancing dengan mengusap lobangku menggunakan tangan yang sudah kubasahi ludahku sendiri.

Pak Sodik yang sudah telanjang, langsung mengarahkan batang besarnya ke memekku dan menghujamkannya dengan penuh nafsu.

"ah.. ah.. Terus pak.. Ah.." suaraku keenakan.

Saat gerakan pak Sodik yang mulai diluar kendali, menimbulkan suara derit yang lumayan kencang dari bangku bambu ini, ternyata usia tak mempengaruhi kemampuan seksual seseorang, pak Sodik yang paruhbaya ini cukup tangguh menggenjotku.

"ayo.. Pak.. Ah ah.. Terus..! Kontolin aku ah..!" sengaja ku teriak agak keras karena aku melihat ada bayangan dibalik pintu garasi yang terbuka separuh itu, aku yakin itu koh Andrew.
< 1 2 3 5 >
Selang 20 menit pak Sodikpun mengalami ejakulasi dan menyemprotkan cairan spermanya di dalam memekku, sementara aku sudah sejak tadi mencapai puncak kenikmatan.

Ku tinggalkan pak Sodik yang masih terkapar dilantai, dan ketika aku memasuki rumah ku lihat ko Andrew duduk diruang tengah.

"menjijikan.." katanya sinis.

Ku balas kesinisannya dengan menyentuh memekku yang masih berlumuran sperma pak sodik, dan ku jilat didepannya dengan gaya seolah menikmati makanan lezat.

Kejadian dengan pak Sodik malam itu, cukup membuat murka koh Andrew, aku disuruh pindah ke rumah yang lain. karena dia mengatakan, tidak ingin papanya melihat kelakuan bejadku.

Tak masalah buatku, karena dengan begitu aku bisa semakin bebas.

"Tet.. tet.." suara bel dipagar depan mengangguku yang baru saja selesai mandi.

Karena tidak memiliki pembantu dan pak Sodik juga belum datang, terpaksa dengan hanya masih mengenakan handuk melihat siapa yang memencet bel, ternyata papa mertuaku.

Dengan sedikit bergegas aku menuju gerbang.

"maaf pah, lama, tadi Yuni lagi mandi.." kataku.
"iya ga apa.." jawabnya, sambil matanya melirik ke dadaku, handuk yang melilit tubuhku ini tidak mampu menutupi seluruh payudaraku.

Setelah pamit sebentar untuk memakai baju ku temui kembali papa mertuaku itu.

Ternyata kedatangannya untuk menanyakan masalah diantara aku dan anaknya, akhirnya akupun menceritakan semua dengan jujur termasuk kejadian dengan pak Sodik, aku sudah pasrah jika papah mertuaku ini juga memandang jijik padaku.

"maafin papah ya, karena menikah dengan Andrew, Yuni jadi tersiksa.." katanya pelan, sambil menepuk pahaku.

Memang saat itu aku mengenakan celana pendek, sentuhan tangannya yang langsung menyentuh kulit pahaku, menimbulkan sensasi berbeda didalam diriku.

Untuk sesaat mata kami bertatapan.

"Yuni sabar dulu ya.. Nanti papa yang coba bicara ke Andrew!" katanya sambil tangannya yang dipahaku bergerak mengelus pelan.

Aku tidak lagi fokus akan ucapannya, sentuhan tangannya dipahaku telah membuat birahiku terpancing.

"apa yang Yuni ingin papa lakukan..?" tanya lagi, dan kali ini tangannya membelai wajahku menyusuri leher dan bahuku.

"Yuni mau papa masukin tangan papa ke baju yuni.." kataku dengan nafas memburu.
"seperti ini.." katanya ketika tangannya sudah mengusap perutku.
"iya.. Remas dadaku pah.." kataku semakin tak bisa lagi mengontrol diri.

Tangannya meremas tetekku yang masih terbungkus bra itu.

Merasa sudah kepalang tanggung, ku putuskan untuk melepas kaos juga bra yang ku kenakan, dan kini kedua gunung kembar 34c miliku ini terpampang bebas dihadapan mertuaku yang duduk disampingku.

"akh.. Terus pah.." rintihku dengan mata terpejam menikmati setiap remasan tangannya.
"Yuni suka teteknya papa remas..?" Tanyanya.
"iya pah.. ahh.. Yuni sukahh.." jawabku mendesah.
"sekarang apalagi yang Yuni mau papa lakukan..?" tanyanya lagi..

"Yuni mau disentuh didalam sini..!" ujarku mengarahkan tangannya ke selangkanganku dan menatapnya dengan tatapan memohon.

Dan tangannya langung menyelusup ke dalam celanaku.

"wow.. Basah sekali disini.." ucapnya ketika jemarinya sudah menyentuh bibir memekku.
"ahh.. hu'um.." desahku
"apa yang yuni pikirkan sampai bisa sebasah ini..?" tanyanya lagi sambil terus mempermainkan jarinya di celah basah selangkanganku.
"yuni memikirkan papah.." jawabku sambil menatapnya.
"apa yang ada di pikiran Yuni..?"
"wajah tampan papah, berada diselangkangan Yuni.." jawabku sambil membelai mesra wajahnya.

Dian segera bangkit dan berjongkok didepanku, lalu memelorotkan celana pendek dan juga celana dalamku bersamaan. Dilebarkannya kedua kakiku.

"seperti ini..?" serunya menatapku sebentar lalu membenamkan wajahnya di memekku.
"iya.. Pah.. Seperti itu.. Ah..ah.." jeritku ketika merasakan nikmatnya sentuhan lidah di memekku.
"enak..?" tanya nya.
"enak banget pah.." jawabku sambil tanganku menekan kepalanya untuk kembali menjilat.

Memang permainan lidah papa mertuaju ini sungguh hebat.

"papah enak banget jilatannya, belajar sama siapa.. ah..ah.. Ah.. Terus ah.." aku meracau keenakan.
"belajar sama gadis-gadis nakal.." jawabnya.
"Yuni mau jadi gadis nakalnya papah.." kataku sambil meremasi buah dadaku sendiri.

Semakin terbawa rangsangan birahi, akupun bangkit dari dudukku, dan papa mertuaku juga berdiri, sementara ia melepas bajunya, aku juga memelorotkan celananya.

"ini apa pah..?" tanyaku ketika melihat beberapa bulatan seperti kelereng kecil di ujung kontolnya yang sudah sangat tegang itu.

"itu yang akan memberi Yuni kepuasan.. yang selama ini Yuni cari.." jawabnya sambil menelentangkan tubuhku diatas karpet lantai.

Digosok-gosokan ujung kontolnya yang bergerenjul itu dicelah rongga memekku.

"masukin pah.." pintaku.

Dan perlahan batang keras itu terbenam ditelan memekku, dan rasa dari ujung kontolnya benar-benar menimbulkan sensasi berbeda ketika menyentuh rongga bagian dalam memekku.

"ah.. ah.. ah.. Terus pah.. Akh.." suara rintihanku ketika batang kontol mertuaku itu mulai menggenjot memekku.

"akh.. ah.. ah.." suara desahan dan deru nafas mengiringi persetubuhan terlarang pagi itu.

Dan tak lama kemudian akupun mencapai orgasmeku, sementara papa mertuaku masih terus menggenjotku sampai beberapa menit kemudian juga ambruk menindih tubuhku.

Sejak itulah aku seolah menemukan suami pengganti yang bisa selalu memuaskanku, dan imbasnya hubunganku dengan koh Andrew semakin jauh, apalagi ketika dia harus ke Singapur untuk urusan bisnis selama 3 bulan, kami totaly lost contact.

"ah.. Siapa sih.. Ganggu aja.." gerutuku ketika suara bel mengganggu niatku untuk makan siang.

"Astri..!" aku sedikit berteriak ketika melihat siapa yang datang, sahabat karibku waktu di Bali.

"kenapa semalam ga bilang kalo mau kemari sekarang, kan aku bisa jemput.." kataku setelah ku ajak dia masuk.
"ga apa kok Yun,.." Jawabnya letih.
"Lo keliatan letih, ya udah istirahat dulu, gua udah siapin kamar buat lu.." kataku sambil mengajaknya untuk ke kamar.

Senang juga ada Astri disini aku jadi ada teman mengobrol, cuma sejak kedatangannya kunjungan birahi mertuaku jadi terhenti.

Ketika aku bilang sahabatku itu kesini untuk kerja, langsung saja ia memasukan kerja disalahsatu hotel miliknya.

Dan kembali hubungan terlarang kami berlanjut, karena Astri memilih untuk kost didekat tempat kerjanya.

===x0x===

Hubunganku dengan ko Andrew sudah tak bisa lagi dipertahankan, bahkan ketika dia kembali dari luar negeri, dan bekerja di Jakarta lagi, kami sudah tidak pernah saling ketemu, aku semakin larut dalam hura-hura dan berpetualang dalam nafsu birahi.

Sejak papah mertuaku kerap meniduriku, aku jadi tidak khawatir dengan kondisi keuanganku dan semakin tidak memperdulikan koh Andrew.

Ketika aku mendengar tentang gosip dia ada main dengan pegawainya, bahkan ketika aku tahu ia sudah membelikan rumah untuk perempuan itu aku juga tidak perduli.

Namun emosiku menjadi tidak terkendali ketika ku tahu kalau wanita itu adalah Astri, teman baikku, teman yang sering ku tolong sejak di Bali dan juga ketika ia mempunyai masalah lari dari Bali aku yang menampungnya, kini balasannya ia merebut pria yang masih berstatus suamiku.
< 1 2 3 5 >
Dengan tanpa merasa malu, ku labrak Astri dicafe itu, ku tampar, ku jambak rambutnya dan ia hanya diam menangis bertingkah seolah tak tahu apa yang terjadi, aku terus meradang memaki dan memukulinya hingga beberapa orang menarikku keluar dari cafe itu.

Dengan emosi ku temui papa mertuaku, bermaksud meminta dukungannya, tapi yang ku dapat sungguh diluar dugaan, setelah semua yang dia lakukan padaku dengan teganya ia berkata bahwa ia tidak keberatan hubungan mereka,

"kau pikir aku akan terus membiarkan anakku dengan wanita binal sepertimu, sudah jauhi keluarga ini, dan ini uang kurasa sangat cukup untuk hidupmu..!" sambil memberikan selembar cek yang entah berapa jumlahnya.

Aku hanya diam benar-benar tak bisa mengerti semua ini.

Aku pun menaiki mobilku pergi dari rumah itu, dan tiba-tiba tanpa sadar aku merasakan benturan keras, dan rasa sakit diperutku. Kesadaranku menghilang dalam kegelapan.

===x0x===

"Anda sudah sadar..?" suara dari seorang perempuan yang terdengar disisiku.
"dimana aku..?" tanyaku sambil mengintari pandanganku ditempat yang penuh warna putih ini.
"anda mengalami kecelakaan, dan sudah 2 hari anda tidak sadar.." jelas suster.

Aku sungguh tidak ingat, ah iya aku ingat benturan itu dan sakit diperutku.

"arkhh.." sakit sekali ketika tanganku menyentuh permukaan perutku yang diperban.
"Anda terluka di bagian perut.. Nanti dokter akan menjelaskan secara rinci kondisi anda.." jelas suster itu lagi, sambil memeriksa infus di tanganku.

Satu persatu bagai rangkaian puzzle kembali ku ingat semua yang terjadi, ya Astri lah yang menyebabkan semua ini.

"apaa..? Jadi.. Jadi.. Saya ga akan bisa hamil dok...!" aku setengah berteriak mendengar penjelasan dari dokter Bagas.
"maaf kami tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan anda, besi yang menusuk anda tembus kerahim dan membuat pendarahan yang sulit dihentikan, satu-satunya cara hanya mengangkat rahim anda, atau anda tidak tertolong.." jelas dokter Bagas.

"jangan salahkan dokter, saya yang menyetujui operasi itu, karena saya tidak bisa menghubungi keluargamu, dan waktu itu sangat dibutuhkan tindakan cepat,." suara seorang wanita paruh baya yang tak ku sadari kehadirannya.

"siapa Anda...?" Tanyaku bingung.

"mobil yang terlibat kecelakaan dengan kamu adalah milik perusahaan saya.. Hasil penyelidikan sementara, kecelakaan terjadi karena mobil truk yang membawa pipa besi itu berhenti mendadak, jadi dengan itu atas nama perusahaan dan saya pribadi, akan bertanggung jawab sepenuhnya." kata wanita yang dari penampilannya terlihat sangat elegan.

Aku juga menyadari kondisiku saat itu, jadi akupun tidak ingin memperpanjang lagi masalah, mungkin ini sudah takdirku. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah bagaimana membalas dendam terhadap Astri.

"jadi seperti itu, tante mengerti apa yang kamu rasa, tapi keinginan mu untuk membalas dendam tante tidak setuju.." kata tante Anna menasehatiku, ketika aku sudah dinyatakan sembuh dan bisa pulang.

Tante Anna adalah pengusaha properti yang lumayan sukses, sejak kecelakaan itu, dan mungkin karena rasa tanggung jawabnya ia hampir setiap hari menjengukku, dan ketika aku dinyatakan sembuh ia memintaku untuk tinggal dengannya.

"tante tahu, kamu tidak terima atas perlakuan keluarga suamimu, untuk itu kamu harus bisa menunjukan kepada mereka kalau kamu tidak serendah pandangan mereka.."

"lalu Yuni harus bagaimana tante..?"

"sudah, nanti kita bicarakan dirumah, sekarang ayo pulang.. Nah tuh dokter Bagas datang bisa sekalian pamitan.." kata tante Anna ketika dokter muda yang selama hampir sebulan ini merawatku masuk ke kamarku.

"ingat seminggu sekali masih harus kontrol.." kata dokter Bagas mengingatkan sambil menjabat tanganku.

"sudah.. Sudah nanti juga ketemu lagi.." tante Anna berkata menarik tanganku yang masih digenggam dokter Bagas, hal itu membuat kami berdua menjadi tersipu.

Tante Anna membawaku kerumahnya di kawasan Menteng Jakarta, rumahnya tidak terlalu besar namun terkesan mewah tidak bisa dilepaskan.

"nah ini rumah tante, disini hanya ada tante dan pembantu.." katanya ketika kami sampai.
"siang bu, non.." sambut seorang gadis muda seusiaku, yang keluar dari dalam rumah.
"ini Ratna, dia yang ngurus rumah ini, dia juga yang tadi ngambil barang2mu dirumahmu.." tante Anna mengenalkan kami.

Memang kemarin tante Anna meminta ijin untuk memindahkan barang-barangku kerumahnya.

"ya sudah kamu istirahat dulu, Ratna antarkan non Yuni ke kamarnya.." perintah tante Anna.

Akupun mengikuti, ternyata semua barang-barangku sudah ditata rapi dikamar itu.

"makasih ya Rat.."
"iya sama-sama non, kalau perlu apa-apa bilang saya aja.." katanya lalu pamit meninggalkanku.

Selama dua hari dirumah itu, tante Anna belum menceritakan rencananya padaku, dan akupun tidak bertanya dulu, karena ku lihat dia sangat sibuk.

Baru di hari ketiga ia memanggilku dan mengatakan aku harus kuliah bisnis di luar negeri selama 1 tahun. Aku pikir tidak ada ruginya sekalian melupakan sedikit kenangan buruk disini, dengan kemampuan bahasa inggrisku tidak sulit buatku beradaptasi menempuh pendidikan singkat disalah satu kota di Inggris.

Dan akupun benar-benar memfokuskan diri untuk belajar.

===x0x===

Satu tahun kemudian.

Sengaja aku tidak bilang kepulanganku pada tante Anna, karena ingin memberikan kejutan padanya karena hari ini ulang tahunnya.. Saat hendak mencari taksi ada suara pria memanggil namaku.

"ci.. Ci Yuni..!"
"pak Sodik..!" teriakku ketika melihat pria paruh baya bekas sopirku itu.
"ayo ci, mau naik taksi kan..?"
"pak Sodik jadi supir taksi sekarang?" tanyaku ketika sudah didalam taksinya.
"iya ci.. Maaf ya ci waktu itu saya ga datang lagi jadi sopir ci Yuni, karena pak Nugraha memecat saya.. Saya dengar ci Yuni kecelakaan.."
"iya lupain aja, dah berlalu, sekarang tolong antar saya ke menteng.." kataku tidak ingin mengungkit lagi hal itu.

Ketika sampai dirumah, tante Anna belum pulang. Bersama Ratna ku atur pesta kejutan untuk tante Anna.

"tinggal cari kue tartnya Rat, dimana yah yang dekat?" tanyaku pada Ratna,
"didekat perempatan sana ada non, dekat kok, kalau non mau biar saya beli.." tawar Ratna.
"biar aku aja, kamu bersih-bersih aja.."

Toko kue itu memang tidak lah jauh, dan dengan jalankaki pun aku bisa mencapainya dan ketika hendak kembali aku berpapasan dengan seseorang yang sudah lama tak bertemu.

"yuni.." sapanya
"dokter Bagas.."
"kapan pulang?, kata bu Anna kamu di London.."
"baru tadi siang dok.."
"gimana kabarnya baik-baik aja kan.."
"iya baik.. Dokter gimana, kok ada disini..?" aku balik bertanya,
"sekarang saya tinggal disekitar sini, dua blok dari rumah bu Anna.."
"owh.. Kalau gitu bisa dong nanti malam datang ke rumah, tante Anna ulang tahun hari ini.."

Ups.. aku tanpa pikir panjang mengundangnya apa nanti pikir tante Anna.

"oh ya, bisa bisa.." jawabnya.

Senang juga mendengar jawabannya, walau bingung juga gimana nanti jelasin ke tante.

Dan kejutan ultah serta kepulanganku benar-benar membuat tante terkejut dan terharu, ternyata ini adalah kali pertamanya ia merayakan ulang tahun setelah kematian suaminya 5 tahun lalu.

"siapa itu Rat, coba lihat..?" perintah tante pada Ratna saat bell rumah berbunyi.
"mungkin dokter Bagas.." ucapku
"dokter Bagas..?" tante Anna memandangku dengan pandangan menyelidik.
< 1 3 4 5 >
"tadi Yuni ketemu pas beli kue, terus sekalian deh ku undang kesini.." jawabku sedikit malu.
"ehm.. Ternyata ada yang bergerak cepat ya.." guman tante Anna sambil mencubit pipiku..

Malam itu kami rayakan ultah tante Anna dengan makan malam bersama, dan selesai makan malam tante Anna pamit untuk istirahat, sementara aku masih menemani dokter Bagas ngobrol.

"ga usah pakai dokter lah, Bagas saja." protesnya ketika aku terus menggunakan sebutan dok didepan namanya.
"nanti kalo panggil mas, ada yang marah lagi.." godaku.
"Bagas aja.. Lagipula kalo kamu yang panggil mas, nanti malah dikira aku tukang bakso.."
"masa ganteng gini.. dikira tukang bakso.." godagu.

Ah kenapa aku berkata seperti itu.

"jadi aku ganteng ya.." kali ini dia yang balik menggodaku.
"ga tau ah.." kataku bingung dan salah tingkah.

Tapi ia malah semakin mendekatkan wajahnya dan kamipun berciuman, bibir kami saling lumat dan lidah kami bertautan saling menjilat.

Tangannya mulai memelukku, tubuh kami berpelukan semakin erat, dan kini ciumannya telah berpindah dari bibirku menyusuri leherku, menjilati daun telingaku dan bergerak ke wajah, dan kembali bibir, kami bertautan.

"dikamar aja yuk.." kataku menahan tangannya yang ingin melepas kancing bajuku.

Ku tuntun tangannya menuju kamarku, dia sedikit menghentikan langkahnya ketika melihat Ratna yang baru saja dari dapur. Ku tempelkan telunjuk dibibir memberi kode pada Ratna untuk diam, dan Ia balas dengan senyum mengerti.

Sesampainya dikamar kami saling melucuti pakaian hingga sama-sama bugil, dan kembali bergumul Bagas menindihku.

"ah.. ah.. eah.." aku mengerang menikmati sentuhan lidahnya diujung putingku dan juga remasan dipayudaraku.
"Akh.. eah.." kedua tanganku turut menekan kepalanya.

"kamu cantik sekali yun.." katanya lalu beringsut turun ke bawahku, dan menjadikan memekku sasaran kenakalan lidahnya.

Jilatan nya membelah liang itu, menyusuri bagian bergerenjul didalam nya, yang entah kenapa begitu cepat basah.

"yeah.. Terus.. Jilat.. Akh.."

Setelah sekian lama tak ada yang menyentuhnya, kini hangatnya lidah Bagas terasa begitu nikmat di memekku. Mungkin kalau Bagas tak segera menghentikan jilatannya dan mengarahkan batangnya ke mulutku, aku sudah orgasme.

Setelah hampir setahun tidak pernah merasakan lagi, kini aroma khas dari kontol itu seolah menjadi pembangkit birahi yang luar biasa, ku jilati dengan penuh kenikmatan batang berurat itu.

"ya ah.. Hisap.. Terus.. Ah.." Bagas meracau sambil menekan masuk kontolnya dimulutku.

Ku emut, ku hisap dan ku jilati batang itu hingga erangannya begitu terkesan memburu.

"aku masukin yah.." katanya ketika kontolnya ditarik dari mulutku.
"ya masukin ke memekku cepat.." bisikku.

Dan dalam hitungan detik kontolnya sudah bersarang di lubangku dan perlahan ia mulai bergerak naik turun, menggerakan kontolnya mengocok memekku.

"ah.. ah.. ah.. Yeah.. Ah.." suara erangan tertahan diantara beratnya dengusan nafas mengiringi setiap hentakannya yang selalu ku sambut dengan goyangan.

"kamu tahu ga.. Waktu pertama kali melihat tubuh telanjang mu di meja operasi dulu dan melihat bagian memekmu, aku yakin sangat nikmat untuk disetubuhi, dan ternyata emang nikmat sekali.." katanya sambil menekan lebih batangnya pada liangku.

"dasar dokter mesum.." kataku sambil memeluk lehernya dan langsung ku gigit bahunya.
"akh.. Sakit.." protesnya
"biarin ini hukuman untuk dokter mesum.." kataku sambil merajuk.

Gerakannya semakin lama semakin cepat, akupun juga semakin cepat menggerakan pinggulku dan aku merasakan sedikit lagi orgasme menggapaiku.

"akhhhh.." akupun mencapai klimaksku.

Sementara nafas Bagas pun semakin memburu dan ku tahu ia juga sedang diambang klimaks.

Tiba-tiba Bagas menarik kontolnya, dan mengocoknya diatas perutku sebelum akhirnya cairan putih kental itu memuncrat dari ujung kontolnya, beberapa kali muncrat membasahi perutku. Ia lalu ambruk disisiku.

Jujur aku memang lelah sehabis orgasme tadi, tapi kelakuannya itu benar-benar membuatku tak bisa menahan tawa.

"kenapa..?" Tanyanya bingung dengan nafas yang masih terlihat ngos-ngosan.
"kenapa dikeluarin diluar..?" tanyaku sambil tertawa.

"aku takut nanti kamu..."

Bagas pun tidak meneruskan ucapannya, baru ingat rupanya kalau aku tak mungkin bisa hamil, lalu ia pun turut tertawa menyadari kebodohannya itu.

Hari-hari berikutnya tante Anna mengajariku untuk berkerja dikantor, dan akupun sungguh-sungguh mempelajari setiap ilmu yang diberikannya, dalam 2 bulan aku sudah cukup pandai untuk menangani proyek-proyek kecil, hingga akhirnya siang itu dikantor tante Anna memanggilku.

"ini proyek besar mu, mungkin secara nilai tidak terlalu besar, tapi tante tahu, ini yang kamu tunggu selama ini.." katanya sambil menyerahkan sebuah map kepadaku.
"ini proyek hotel milik koh Andrew..?" tanyaku ketika melihat isi berkas di map itu.
"ya, dan jika kita sepakat untuk mendanai proyek pengembangan hotel itu, secara otomatis 65% sahamnya, menjadi milik kita dan itu cukup untuk membuat mantan suamimu itu mengikuti segala perintah dan keputusanmu karena seluruh operasional manajemen akan berada dibawah kendalimu.." jelas tante Anna.

"tante.. Makasih.." aku bangkit dan memeluk tante Anna, aku sangat terharu, ini jauh sekali melebihi apa yang kubayangkan.

===x0x===

"oah.. ah.. ah.." desahan disertai nafas memburu dokter Bagas, yang sedang menindih dan menggagahi tubuhku.

"terus.. yeah.. ah.. ah.. aku.. Udah mauu nyampeehh.."

Desahku merasakan detik-detik puncak kenikmatan yang sebentar lagi menderaku akibat gesekan batang nikmat dr.Bagas, yang keluar masuk didalam rongga kelaminku.

"Aaargkhhh..!" aku menjerit dalam kepuasan.

Tubuhku bergetar akibat gelombang puncak kenikmatan dari pergesekan kelamin ini. Tubuhku mengejang sesaat sebelum akhirnya tubuhku lemas tak berdaya, dan hanya bisa pasrah membiarkan ikut terbawa gerakan dari dr.Bagas yang semakin cepat memompa batangnya di memekku.

"jangan disitu.. Keluarin dimulutku.." kataku sambil mendorong tubuh dr.Bagas ketika ku lihat ia hampir sampai.
"aku ingin merasakan spermamu.." kataku

Dia pun beranjak, mengangkangi tubuhku, sambil menggenggam batangnya, dikocok-kocoknya batang yang terlihat sudah sangat basah karena baru saja terbenam lama di memekku, lalu dimasukan kedalam mulutku yang sudah ternganga sejak tadi menanti.

"ahhh.."

Dia gerakan batang itu keluar masuk dimulutku beberapa kali sebelum akhirnya dibenamkan seluruhnya keadalam mulutku hingga menyentuh rongga tenggorokanku, dan memuncratkan beberapa kali cairan hangat kental yang langsung tertelan dan ku hisap serta kujilati hingga tiada tersisa, karena setelah malam ini entah kapan kami bisa melakukan hal ini lagi.

Kami berbaring tanpa busana dalam lelah berbalut nikmat memandang kosong langit-langit kamar ini, entah apa yang ada dipikiran kami yang jelas untuk sesaat kami diam.

"setelah urusanmu disana selesai, apakah kau akan kembali kesini..?" tanya dr.Bagas memecah keheningan.
"entahlah.. Setelah semua selesai, aku juga tidak tahu apakah akan kembali kesini atau tetap disana, atau pergi memulai sesuatu yang baru ditempat baru.." jawabku datar.
"jika aku katakan aku akan menunggumu, apakah kamu akan kembali..?"

"jangan menungguku, aku bukanlah orang yang pantas kau tunggu, cari wanita lain, wanita baik yang bisa kau ajak untuk membangun sebuah keluarga yang sempurna, keluarga yang penuh tawa dan canda riang anak-anak.." ucapku lirih.
< 1 4 5 6 >
"apakah kau tidak ada perasaan padaku.?" tanya nya.

"perasaanku padamu biarlah menjadi rahasiaku, nanti jika ku katakan aku mencintaimu kau akan galau, jika ku katakan aku tidak ada perasaan apa-apa, kau patah hati, jadi karena aku tidak mau meninggalkanmu dalam kegalauan ya aku ga mau jawab.." kataku menggodanya, untuk menutup rasa sesungguhnya dihati ini.

Ku rubah posisiku menyamping agar bisa menatap wajahnya, kami saling tatap, tangannya membelai wajah dan rambutku.

"aku merasa nyaman jika bersamamu, andai saja ada yang bisa ku lakukan untuk menahanmu agar tetap disini.." ucapnya pelan disertai tatapan mata yang begitu tulus, dadaku terasa bergemuruh mendengarnya.

"hey katakan apa yang paling kau rindukan dari tubuhku nanti..?" tanyaku berusaha mengalihkan.

"aku akan merindukan bibirmu yang begitu manis saat dikulum, terasa begitu hangat saat mengulum.." ujarnya sambil jarinya menyentuh bibirku dan lalu masuk kemulutku.

"lalu apa lagi..? Tanyaku lagi.

"aku akan merindukan payudara ini, yang begitu hangat dan lembut saat disentuh dan diremas juga puting ini yang terasa begitu menggelitik ketika dimainkan dengan lidah,." ucapnya sambil meremas pelan buah dadaku dan menarik putingku.

"dokter kau benar-benar mesum... Lalu apalagi..?" kataku sambil meremas batangnya yang mulai mengeras lagi, namun entah kenapa suaraku terdengar parau dan mataku berkaca-kaca.

"dan yang akan paling ku rindukan adalah ini.." katanya sambil menyentuh kemaluanku.
"benda ini selalu terasa lembut jika disentuh, begitu mudah basah, dan sangat rapat jika dimasuki.." lanjutnya sambil menyelipkan jemarinya ke sela lubang selangkanganku.

"kau sangat mesum dokter.." kataku sambil memukul dadanya.

Dia balas merangkulku membenamkan wajahku didadanya. Aku tak kuasa lagi bertahan, aku menangis dalam pelukannya, andai saja aku masih sempurna aku tidak akan pernah mau pergi darinya.

Ada seseorang disana yang harus membayar deritaku ini, orang yang telah membuatku tidak berani bertahan disisi orang yang ku sayangi, orang yang telah membuatku tidak lagi bisa meneruskan garis keturunan keluargaku, mereka akan membayar semua ini, aku akan membuat mereka membayar dengan airmata dan darah.

===x0x===

Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali lagi kesini, Bali, tempat sebagian besar hidupku ku jalani.

"ibu Yuni..?" tanya seorang pria yang membawa papan bertuliskan namaku ketika ku hampiri.
"iya" jawabku

Ia lalu mengambil tas yang ku pegang.

"saya Giman bu, saya yang akan jadi sopir ibu.." katanya mengenalkan diri.

Usia Giman mungkin sama denganku, kulitnya hitam, asalnya dari jogja.

Dari bandara aku langsung menuju rumahku, sudah sangat kangen dengan papa dan mama.

Tangis haru mewarnai pertemuanku dengan kedua orangtuaku, mereka memang sudah tahu semua yang terjadi padaku, bahkan mama juga pernah melabrak ibunya Astri setelah tahu bahwa koh Andrew menceraikanku dan menikahi Astri, aku dapat merasakan betapa terpukulnya mereka.

Ku putuskan untuk menginap disini dulu sambil melepas semua kangen dan sedikit belajar tentang manajemen hotel pada papa.

Hotel orangtuaku ini adalah hotel kecil namun posisinya tepat ditepi hamparan pasir pantai, papa juga bercerita bahwa koh Andrew sempat berniat mengambil hotel ini, untunglah papa bisa mengembalikan bantuan dana yang pernah diberikan perusahaan ko Andrew dulu.

Sungguh tak bisa diceritakan betapa nyamannya duduk dihamparan pasir ini, memandang laut yang luas.

"nak Yuni..." suara seorang wanita memanggilku dan aku sangat terkejut ketika melihat siapa wanita itu.
"ibu..!" ucapku setengah berteriak ketika melihat sosok paruh baya itu yang tak lain adalah ibunya Astri.

"maafkan Astri ya nak.. Ini semua salah ibu yang tidak bisa mendidiknya dengan benar, ibu tidak menyangka dia bisa seperti itu sama nak Yuni.." ucapnya dengan nada penuh penyesalan.

Aku sedikit heran mendengarnya, dan semakin heran ketika melihatnya masih membawa keranjang berisi sovenir.

"ibu masih jualan souvenir..?" tanyaku
"iya nak" jawabnya pelan.

Aku sangat akrab dengan keluarga Astri, aku tahu bagaimana sifat ibunya.

"ibu gimana kabarnya sehat..?" tanyaku mengalihkan pembicaraan
"sehat nak.." jawabnya.

Aku dekati dia, ku peluk tubuhnya, "udah lama banget ya kita ga ketemu, Yuni kangen makan petis bikinan ibu.." kataku.

Dia terdiam airmata menetes diwajahnya, ku usap dengan tanganku.

"Yuni udah ga apa-apa, ibu jangan banyak pikiran nanti sakit.." ucapku.
Ia hanya mengangguk "terimakasih nak,." katanya terisak.

"ibu.." kami tersentak sejenak, ternyata seorang gadis muda.
"Diah.."

Aku mengenalinya, dia adiknya Astri, wajahnya terlihat ketakutan, aku yakin diusianya sekarang ia pasti sudah tahu dan mengerti apa yang terjadi antara aku dan kakaknya.

"Diah sudah jadi gadis cantik sekarang.. Kok disitu aja, ga kangen sama cici..?" Kataku menyapanya.

Diah memandang ibunya, dan mendekatiku, ku peluk dia.

Dulu kami memang cukup dekat, ternyata Diah juga berjualan souvenir membantu ibunya seperti Astri dulu. Diah sudah lulus S-M-A dan tidak kuliah, aku yakin jika ia mau kuliah Astri pasti akan membiayainya, ku rasa ibunya lah yang melarang.

Ketika ku tawarkan akan mencarikan pekerjaan ia terlihat sangat senang.

Bersiaplah Astri, pertama-tama akan ku buat kau kehilangan keluargamu.

Hari yang dinanti pun tiba.

Semua staf yang akan membantuku sudah datang semua sebagian dari Jakarta dan sebagian dari Bali.

Ku bagi mereka jadi dua grup. Satu fokus di bagian konstruksi dan satu lagi mempelajari manajemen hotel. Setelah semua mengerti, kami berangkat beiringan dengan 5 mobil yang cukup mewah, Tante Anna benar-bener membuatku merasa begitu percaya diri dengan semua ini.

Sesampainya dihotel beberapa staf menyambutku, ada beberapa yang ku kenal, salah satunya Niken temanku satu sekolah dulu, yang menatapku dengan pandangan bingung.

Kami langsung menuju ruang meeting dimana staf dan direktur hotel sudah menunggu.

Dan inilah, setelah sekian lama aku kembali bertemu koh Andrew, ia tampak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"apa kabar pak Andrew.." sapaku sambil menyodorkan tangan mengajak berjabat tangan.

Beberapa staf mamandang ke arah kami, ketika untuk sesaat koh Andrew diam tak menjabat tanganku. Namun menyadari tatapan dari semua orang ia pun menjabat tanganku.

Kendati masih tampak jelas kebingungan diwajah koh Andrew, namun meeting itu berakhir sukses dengan resmi ditandatanganinya perjanjian kerjasama antara dua perusahaan, dimana mulai hari ini, aku lah yang menjadi direktur utama dihotel ini.

Setelah itu akupun menuju ruanganku, karena letaknya satu lantai dengan ruang koh Andrew, ku putuskan untuk menyapanya, ku masuki ruangannya tanpa mengetuk pintu, karena memang pintunya tidak tertutup rapat.

Ia sedang duduk dibalik meja kerjanya, matanya menatapku dengan tatapan penuh amarah.

"apapun rencanamu, aku akan mengawasimu.." katanya dengan nada bergetar.
"kenapa kokoh kok berfikiran buruk ke aku.." kataku sambil mendekatinya dan duduk di atas meja didepannya.

"aku tahu kamu punya rencana buruk.. Jangan harap aku bisa mempercayaimu.." katanya lagi.

Aku dapat melihatnya begitu emosi, wajahnya begitu berkeringat.

< 1 5 6 7 >
Aku mendekat kesampingnya, ku dekatkan wajahku ke telinganya.

"dengar baik-baik, aku hanya ingin mengembalikan apa yang pernah kalian berikan padaku.." bisikku ditelinganya.

Ku julurkan lidahku menjilat daun telinganya dan tanganku menyentuh depan celananya, ku genggam tonjolan kelaminnya itu.

"bersiaplah koh.." kataku sambil meremas gundukan didepan celananya itu.

Lalu ku tinggalkan dia, tapi sebelum keluar, ku balikan tubuhku dan berkata,

"ternyata yang itu belum bisa tumbuh besar juga ya.. Upps lupa, kan sarangnya juga kualitas rendah, kurang gizi, mana ada vitaminnya.." ejekku dan langsung meninggalkannya.

Hari-hari berikutnya aku sibuk dengan rutinitas baruku dikantor ini, sambil berusaha mencari hal yang bisa ku gunakan untuk menjatuhkan koh Andrew, ternyata tidak butuh waktu lama untuk menemukannya.

Selang seminggu kemudian, aku tahu kalo koh.Andrew tertipu oleh kontraktor yang sebelumnya direncanakan menjadi pengembang di hotel ini, uang muka proyek sebesar 10 milyar yang berasal dari orang yang diajak join sudah dibayarkan namun tidak jelas rimbanya, dan kini si pemilik modal hanya tahu kalau koh Andrew lah yang bertanggung jawab.

"apa maksud semua ini? Ini hutang pribadi saya? dan jadi tanggung jawab saya..?" ko Andrew berkata penuh emosi didepan rapat direksi, yang ku adakan untuk membahas masalah hutangnya.

"oleh sebab itu, sebelumnya kami telah memutuskan bahwa sebelum anda menyelesaikan hutang ini, sebaiknya anda di non-aktif dulu dari posisi anda, karena kami tidak ingin nanti masalah hutang ini jadi membawa-bawa hotel ini.." kata salah seorang direksi pada koh Andrew..

"ini pasti rencana kamu perempuan sundal..!" katanya menunjukku geram, lalu menggebrak meja dan meninggalkan ruangan.

Akhirnya aku berhasil menyingkirkan koh Andrew dari hotel ini, namun itu tak cukup buatku, ini baru awalnya.

Diam-diam ku kirim orang untuk menemui Astri dan membawanya ke hadapanku dihotel.

"kamu tahu untuk apa kamu ada disini..?" tanyaku.

Dia hanya menggeleng.

"suamimu punya hutang, kamu pasti sudah tahu itu kan, dan kini si pemilik uang ingin melapor ke polisi.." kataku padanya.
"tolong yun, kamu sudah mengeluarkannya dari hotel, apa masih kurang cukup.." Astri berkata dengan mata tampak menangis.

"untuk itu aku kamu ada disini, kesempatanmu untuk menolong suamimu ada ditanganmu sendiri sekarang.."

"apa yang kamu mau aku lakukan.."
"datang lagi ke hotel ini nanti malam, tanpa sepengetahuan suamimu.." perintahku.
"tapi Yun, aku tidak bisa keluar malam, aku punya anak yang masih kecil, trus bagaimana aku memberitahu koh Andrew.." protesnya.

"nanti malam atau lupakan.. Sudah sana, aku banyak pekerjaan.." ucapku mengusirnya.

Sepeninggal Yuni ku temui pak Nyoman, orang yang memberi uang kepada koh Andrew, pak Nyoman ini pengusaha terkenal di Bali, memiliki beberapa klub malam dari kuta sampai legian. Dan yang terpenting, pak Nyoman adalah seorang yang mata keranjang, sangat mudah dimanipulasi oleh paha dan dada seksi.

Untuk itulah ku gunakan pakaian kantor, rok span mini nan ketat, blouse putih dan blazer yang tampak seksi untuk menemuinya.

"ibu yakin ga perlu saya temani..?" tanya pak Giman ketika sudah sampai didepan rumahnya.
"bapak tunggu saja disini, saya bisa sendiri.." ucapku.

Rumah pak Nyoman lumayan besar dengan taman luas dan dekorasi khas Bali, menunggu sejenak akhirnya pria paruh baya berkumis tebal itu keluar.

Setelah berkenalan dan ku jelaskan tawaranku untuk mengubah hutang koh Andrew menjadi kepemilikan saham, iapun menyetujuinya.

"tapi dengan satu syarat.." katanya

Sebetulnya tanpa ia katakan pun aku sudah tahu apa yang ada di otaknya, karena sejak tadi pandangan matanya menatapku dengan mesum.

"saya mengerti pak..".
"hahaha.. Pintar, ayo.."

Dia bangkit dan menuntun tanganku masuk kedalam rumah, menuju ke kamar yang ada disudut ruang utama.

Kamar ini hanya berisi sebuah ranjang besi dengan sprei bermotif batik berwarna coklat, sebuah meja kecil dan kursi, dan pintu yang mungkin kamar mandi.

Pak Nyoman memelukku dari belakang ketika aku masih berdiri terpaku memandang kamar ini, tangannya langsung melingkar diperutku, dengusan nafasnya terasa dileher belakangku.

"kau seksi sekali.." katanya sambil melepas satu persatu kancingku.

"kenyal dan lembut.." ucapnya lagi ketika semua kancingku sudah terbuka dan dia meremas dadaku yang masih terbungkus bra, sementara hidungnya ditempelkan di leherku menikmati aroma tubuhku.

"akhhh." desahku ketika bra yang menutup dadaku itu ditarik kebawah, dan kedua gundukan daging kembarku itu langsung terekspos bebas, yang lalu diremas oleh tangan kasarnya dan dia tarik-tarik putingnya.

"ahh.." desahku.

Sambil meremas dan sesekali menarik putingku lidah pak Nyoman juga menjilati leherku, dan tak mau hanya diam akupun menggerakan tanganku kebelakang berusaha menyentuh tonjolan dicelananya yang sedari tadi sudah sangat terasa begitu keras menggesek pantatku.

"bagaimana.. Cukup besar untukmu.?" tanyanya ketika tanganku berhasil menggenggam tonjolan dibalik celananya.
"hu-um.." jawabku sambil meremas benda itu.

Sambil menjilati daun telingaku tangannya menyusuri perutku, menyelinap masuk kedalam rok, terus menyelusup kedalam celana dalamku, menyetuh bulu-bulu halus disana.

"basah sekali.. Sudah tidak sabar ingin dimasuki ya..?" katanya ketika ujung jemarinya sampai dicelah kemaluanku.

"iyahhh,." rintihku pelan.

Dia menarik lagi tangannya, melepas rok itu, lalu membalikan tubuhku menghadapnya, dilepasnya juga baju dan bra yang sedari tadi sudah tidak pada tempat seharusnya.

Aku juga turut melepas bajunya.

Karena tinggi badannya lebih tinggi dariku, aku terpaksa mendongak ketika ia ingin mengecup bibirku, memainkan lidahnya didalam rongga mulutku. Sementara kedua tangannya begitu aktif meremasi kedua gumpalan daging didadaku.

Sambil membalas lumatannya tanganku melepas kancing celananya, menurunkan resletingnya dan celananya pun langsung melorot kebawah, ternyata Pak Nyoman tidak memakai celana dalam, pantas tadi juga ketika masih bercelana begitu terasa ketika dipegang.

Tanganku langsung meremas benda bulat panjang berurat itu.

Ia melepas lumatannya "kau menyukai kontolku..?" tanyanya

"iya.. besar dan berurat.." jawabku dengan suara mendesah karena ia bertanya tanpa menghentikan remasan tanganya dipayudaraku.

"apa yang akan kau lakukan pada kontolku..?"
"aku ingin melumatnya.. Aku ingin menghisapnya.."
"apakah kau sangat menyukai ketika mulutmu dimasuki kontol..?" tanyanya lagi sambil menarik putingku.
"akhhh.. Iyah.." jawabku pelan merintih karena sakit.
"hisaplah sepuasmu.."

Dia melepas tangannya dari dadaku dan menyentuh bahuku lalu menekan agar aku berlutut.

Batang itu kini mengacung tepat didepanku, kedua tanganku memegang pahanya, lidahku menjulur menggapai batang itu, menjilati ujungnya , memainkan lidah dilubang kencingnya dan mengulas keatas kebawah.

"akhh..! Yeah..! Akh..!" teriaknya menikmati.

< 1 6 7 8 >
Dari diujung kontolnya, lidahku bergerak menyelusuri urat-urat yang menghiasi batang itu, membasahinya dengan liurku, terus berulang hingga batang itu semua basah.

Lalu kedua bola kembarnya pun tak luput dari jelajahan lidahku, ku masukan kedalam mulut, ku kulum bergantian satu persatu, hingga si pemiliknya mengerang.

"akhhh yeahaa.."

Ku lakukan semua dengan lidah tanpa tanganku menyentuh sedikitpun.

Selesai dengan bola-bola kenyal itu, kembali lidahku menjilati batang kontolnya menuju ujung kepalanya, menjilat cairan yang keluar dari ujungnya, lalu ku masukan semua batangnya kedalam mulutku.

Aku menyukai ukuran kontolnya yang tidak terlalu besar, tidak juga terlalu panjang, terasa begitu pas dimulutku.

Kepalaku bergerak maju mundur, sesekali ku diamkan batang itu didalam mulut dan ku belai dengan lidah, atau ku gigit-gigit kecil, lalu kembali ku gerakan kontol itu keluar masuk dimulut.

"akh.. akh.. arrgh.. Hisap teruuss.. Owhh akh.." suaranya bergemuruh diantara dengusan nafasnya.

Kini tangannya juga sudah menjambak rambutku dan turut menggerakan kepalaku mengatur irama kontolnya yang bergerak keluar masuk dimulutku.

"akh.. akh.. Luaar biasaa mulutmu.." erangnya, terdengar begitu menikmatinya.

Dia terus menggerakan kepalaku menumbuk dirimbunnya bulu jembut itu, membenamkan batangnya didalam mulutku.

"plak.. plak.. plah." suara dari kepalaku yang menyentuh dinding atas kemaluannya, juga dari daguku yang bertumbu dengan kedua biji kembarnya, akibat dari tangannya yang menggerakan kepalaku begitu cepat.

"ah.. ahkh.. akh.. Makan nih kontol akh.. Akh.." suaranya begitu dalam, mengiringi gerakannya menikmati kocokan mulutku dikontolnya.

Aku pun terbawa birahi, tanganku memainkan memekku sendiri dari luar celana dalam yang sudah sangat basah, kuelus-elus pelan sambil menikmati kerasnya kontol yang keluar masuk dimuluku.

Tak lama kemudian pak Nyoman menarikku berdiri, dengan menjambak rambutku, kontolnya lepas dari mulutku.

"sekarang gantian aku yang ingin menikmati kelaminmu.." katanya sambil meremas memekku dari balik cd ku yang basah.

"nikmatilah pak.. Akhh.." ucapku.

Dia melumat bibirku ku balas lumatannya, untuk sesaat kami saling melumat sampai kemudian, tangan satunya memegang pipiku, menekannya jarinya agar mulutku terbuka, lalu ia melepas kulumannya, mengambil jarak sedikit, lalu..

"cuih..cuih ..cuih..!" ia meludah kedalam mulutku yang terbuka.

Dan dengan ekspresi menggoda ku telan ludahnya itu sambil menatap matanya.

Ku tatap matanya, ku pegang kontolnya dan menariknya agar ia mengikuti langkahku menuju ranjang. Lalu aku berbaring telentang diatas ranjang.

"lihatlah sudah begitu basah, tak inginkah untuk segera membukanya.." godaku sambil menyentuh celana dalamku yang basah, mengelus dengan jariku.
"ehmm nikmat.." desahku sambil menjilat jemariku yang basah oleh cairan memekku.

"betul-betul binal.." ucapnya.

Kemudian dia memelorotkan CDku, lalu ditariknya tubuhku hingga kepinggiran ranjang, satu kakiku dibiarkan terjuntai disisi ranjang, satu lagi ditekuk diatas ranjang dengan posisi dikangkangkan.

Lalu dia berlutut tepat didepan memekku. Langsung dibenamkan kepalanya, dan lidahnya langsung menerobos celah basah diselangkanganku itu. Ia mengangkat kepalanya sebentar menunjukan mulutnya yang belepotan cairanku.

"sedaapp.." ucapnya sambil menjilat bibir.
"jilat lagi.." kataku sambil berusaha menggapai kepalanya dan menekannya lagi agar terbenam dilembah kenikmatanku.

"makan memekku.. ouggh,." erangku ketika lidahnya itu kembali menjilati bibir sensitif kemaluanku.

"ah.. ah.. yeah.. akh." aku mengerang menikmatinya, sambil meremasi payudaraku sendiri.
"eakhh.. terusss.. akhh.." nikmat sekali rasanya, dan semakin nikmat ketika daging kecil dicelahnya juga ikut tersapu oleh jilatan lidah.

Aku menggelinjang, sambil sesekali mengangkat pantatku agar sentuhan lidahnya terasa lebih dalam.

Sedang asyik-asyiknya menimati jilatannya, pak Nyoman menghentikan kegiatannya itu, ia membalikan tubuhku.

"nungging..." katanya.

Tanpa protes akupun menungging diatas ranjang, ia menyusul naik.

"plak.. plak.." dipukul-pukulnya pantatku.

"akhh." erangku.
"rasakan ini anak nakal." katanya Sambil menyelipkan jari tengahnya kedalam memeku, dan mengocok-ngocoknya.

"Ah.. ah.. ah.." aku mendesah, dan iapun menambah jadi dua jari yang mengaduk memekku.
"Akh.. yeah.. aowh akh..".

Irama jari yang begitu cepat membuatku tidak tahan dan menggelinjang.

"ahh.. Akh..."

Dia menghentikan kocokan jemarinya, dan mulai menempelkan ujung kontolnya didepan bibir memekku, di usapnya belahan basah itu dengan kepala kontolnya, sebelum akhirnya didorongnya masuk mengisi rongga diselangkanganku itu.

"akhh.." erangku.

Kontol itu terasa begitu pas dimemekku. Setelah diam untuk sesaat iapun mulai menggerakannya perlahan keluar masuk menggesek memekku.

"akh.. akh.. Iya terus akh.. Enak ak.." erangku sambil menggoyangkan pinggul.

Dia mempercepat gerakannya keluar masuk, sambil kedua tangannya mencengkram pantatku.

"Akh.. Akh.." suara desahan bercampur dengan suara kecipak dari cairan akibat beradunya kelamin kami..
"akh.. ah.. Memekmu benar-benar nikmat.." katanya sambil terus menggenjot.
"akh..ah.. Kontol bapak juga enaak... Akh.." balasku, sambil terus menikmati genjotannya.

Aku merasakan tangannya yang sedari tadi mencengkram pantatku, kini mulai membuka belahan pantatku, dan tiba-tiba..

"arrrggh" aku terperanjat ketika lubang anus dimasuki jempolnya.

Sambil mempercepat gerakannya, ia juga menekan dan menusuk-nusuk duburku dengan jempolnya, sensasinya sungguh luar biasa, rasa sakit dan gesekan kenikmatan itu bercampur aduk menghantarkan aku lebih dekat ke puncak kenikmatan.

"akh.. akh... Terus.. Pak.. Akh.." teriakku dalam desah menjelang puncak birahi.

"ah.. ah.. ah.."

Pak Nyoman juga terlihat mulai mencapai titik orgasme, ia bergerak semakin cepat, dan aku yang sudah diujung kenikmatan tak mampu bertahan lagi.

"akkkkhh!" teriakku bersamaan dengan orgasmeku.

Dengan sigap pak Nyoman menahan pantat ku agar tetap nungging, dan ia terus mengocok memekku hingga ku rasakan tubuhnya menegang, dan batang didalam memekku itu terasa membesar sebelum akhirnya kembali mengecil bersamaan dengan menyemprotnya cairan hangat didalam memekku.

Tubuhnya ambruk menindihku.

"akhhh.. nikmat.. sekali.." desahnya dan bergulir kesampingku.

Kami terbaring kelelahan..

"jika kau memberi servis seperti ini pada setiap partner bisnismu, aku yakin tak akan ada kontrak yang gagal.." ucap pak Nyoman sambil membelai tubuhku.
"memang semua pebisnis seperti bapak, yang deal kalo ada memek.." balasku.
"hahaha.. Aku sepertinya menyukaimu nona manis.. Tak pernah ada yang berani bicara seperti itu padaku hahaha.." ia berkata sambil tertawa.

"tapi memang benar kan seperti itu..?" tanyaku lagi.
"hahaha.. Antara benar dan tidak,.." jawabnya sambil tertawa
"maksudnya..?"
"mungkin benar aku selalu meminta wanita sebagai imbalan, tapi tidak benar kalau aku yang pakai wanita-wanita itu.." jelasnya.

< 1 7 8 9 >
"kenapa..?" tanyaku lagi Sambil tanganku memegang kontolnya.
"kamu lihat sendiri, aku baru sekali ngecrotin kamu, tubuhku sudah terkapar tak berdaya seperti ini.. Padahal aku masih penasaran dengan jepitan lubang anusmu.." jelasnya

"lalu untuk siapa cewek-cewek bonus itu.."
"sebentar.."

Dia membuka laci dimeja kecil disamping ranjang itu, mengambil handphone.

"suruh Dodo kesini.." ucapnya ditelepon.

"siapa Dodo..?" tanyaku
"orang yang selalu kusuruh menikmati wanita wanita hasil deal bisnis.. Dan aku hanya menikmati pertunjukannya saja.." jawabnya
"kalau begitu kenapa repot-repot, selalu minta dicarikan wanita, nonton bf aja.." ucapku.
"hahaha.. Sensasinya beda sayang..." ucapnya sambil menarik pentilku,
"aww.." teriakku.

"tok.. tok.." suara ketukan dipintu.

"Masuk.." perintah pak Nyoman.

Aku duduk, pintupun terbuka, seorang pria bertubuh kurus hitam dan hanya mengenakan sarung bermotif kotak, tanpa baju.

"inilah dodo, namanya alfredo asli timor, biar gampang aku panggil dodo.. Dodo coba lepas sarungmu dan tunjukan pada nona cantik ini senjata khas timor.." perintahnya.

Dan pria itu langsung melepas sarung..

"W0000WW!! GILA..!!" tanpa sadar aku berteriak, dan beringsut duduk sambil refleks menutup selangkanganku.

"hahaha.. Tidak perlu sepanik itu, aku tidak akan menyuruh dodo mengerjaimu.." ucap pak Nyoman.

Gila ukuran kontolnya panjang menjuntai nyaris sampai dengkul, dengan diameter yang tidak bisa dibilang kecil juga.

"apakah sepanjang itu bisa masuk semua ke memek..?" gumanku masih terpana.

Aku pernah tidur dengan bule bahkan negro, tapi tidak ada yang seperti ini.

"hahaha.. Kalo kamu penasaran nanti bisa mencobanya, setelah dia sembuh.." ujar pak Nyoman.
"memang dia sakit..?"
"dia terkena herpes, entah tertular darimana.."
"apakah bisa menular..?" tanyaku.
"tentu saja.." jawabnya
"bolehkah aku pinjam dia malam ini..?" tanyaku.

Tiba-tiba terbesit ide dipikiranku, awalnya aku ingin menawarkan Astri pada pak Nyoman. tapi orang ini lebih pantas kayanya.

"jangan gila kamu, berbahaya.." kata pak Nyoman.
"bukan untukku.. Tenang saja. Dia tidak sakitpun aku belum tentu berani dimasuki kontolnya.." ujarku.

Sambil duduk mengangkangi pak Nyoman.

"ayolah..." pintaku merengek manja sambil ku genggam batang kontolnya yang mulai kembali mengeras.

Ku usap-usapkan batangnya dimemekku dan sebentar saja batang itu kembali keras.

"pak.. Boleh ya.." pintaku dengan nada manja.
"ya ya boleh.." jawabnya.

"Makasi, dan sebagai tanda terima kasih nikmati lubang spesialku,.." ujarku sambil merubah posisi membelakangi pak Nyoman, si dodo rupanya masih diam berdiri disitu.

"sini.." panggilku dan si dodo pun mendekat.

Sementara aku memasukan kontol Pak Nyoman dilubang anusku, agak susah, namun setelah dibaluri cairan ludah akhirnya berhasil juga.

"ajhkkhh.." erangku sedikht sakit.
"aku pengen liat kamu ngocok.." kataku mendesah.

Dan diapun langsung memegang tongkatnya itu, dan mulai bergerak mengocok, bersamaan dengan pantatku yang bergerak naik turun.

"akh.. akh.. Terus kocok, bayangkan kontol itu sedang terbenam dimemekku.." ucapku sambil mengelus memekku didepan dodo yang berdiri tepat disisi tempat tidur.

"akh.. akh.."

Aku terus bergerak naik turun sambil sesekali ku diamkan sebentar dan ku gunakan otot anusku menjepit kontol pak Nyoman.

Sementara itu Dodo juga nampak mulai semakin cepat mengocok kontolnya yang panjang itu.

"ah.. ah.. ah.. Terus do ah.. Kocok terus bayangkan lagi ngewein aku,.." desahku sambil merojoki memekku dengan tanganku sendiri, dan terus bergerak naik turun.

Terpana dengan kemaluan Dodo, aku tak sadar kalau pak Nyoman sudah hampir mencapai puncaknya.

"akhhhhh...!" teriaknya berbarengan dengan keluarnya cairan kontol yang kental hangat itu memenuhi duburku.

Aku berhenti bergerak. Tapi tetap membiarkan kontol Pak Nyoman terjepit di anusku.

"ah..ah.. Ah.." aku terus mengocok dan memainkan jemariku dimemekku sendiri sambil membayangkan kontol panjang didepanku itu menghajar memekku.

"akh.. ah.. Gila.. Baru bayangin aja bikin lemes akhhh.." dan akupun akhirnya terhempas dalam orgasme.

Tak berapa lama dodo juga mempercepat kocokannya sebelum akhir cairan putih menyemprot dari ujung kontolnya membasahi lantai kamar itu.

===x0x===

Jam 8 malam, Astri belum juga datang awas saja kalau berani tidak datang.

"tok..tok..!"
"masuk..!" kataku sedikit keras.
"permisi bu, ada yang mau ketemu.." kata belboy itu.
"ya suruh kesini.." jawabku

"akhirnya datang juga, tapi apa-apaan ini, bawa anak segala, mau minta belas kasihan..!" bentakku ketika ku lihat Astri datang sambil menggendong anaknya.
"maaf Yun aku, ga bisa tinggalin anakku dirumah, koh Andrew ga akan ijinin aku keluar sendiri.." jawabnya.

"tak berguna! ayo!" kataku sambil menarik tangannya.

"Tidurkan anakmu disini.. Setelah itu temui aku.." ucapku menyuruhnya menidurkan anaknya dikamar yang biasa ku pakai istirahat.

Ku temui Dodo yang sejak tadi menunggu di salah satu kamar yang ada dihotel ini.

"ingat kerjai semua lubangnya, kalau perlu masukan semua kontolmu sampai hancur memeknya.." kataku berpesan pada Dodo.

"iya bu.." jawabnya.
"awas kalau ga beres ku laporkan pak Nyoman.." ancamku sambil meninggalkannya.

Ketika aku kembali ke ruangku, Astri sudah menunggu.

"apa yang harus kulakukan..?" tanyanya.
"layani seseorang.." jawabku.
"apa.. Tolong Yun, jangan seperti ini, aku punya suami.."
"ya suami yang kau dapat dari menikam aku.." kataku.

"kalau tidak ingin suamimu itu masuk penjara.. Lakukan perintahku, karena kalau tidak suamimu akan dilaporkan ke polisi.." lanjutku sedikit memberi tekanan.

Astri masih terdiam ku tarik tangannya, ia berjalan mengikutiku, ku bawa dia kedepan kamar dimana Dodo sudah menunggu.

"masuk ke kamar itu dan layani pria didalam sana, jika kau ingin menyelamatkan suamimu.." perintahku.
"tolong Yun, jangan seperti ini.." Astri menangis sambil memohon.
"dengar ya, ini yang bisa ku lakukan untuk menolongmu, lagipula kau ini pelacur, apa susah melayani satu orang demi menyelamatkan suamimu..!" kataku sambil membentak.

Astri diam sejenak lalu melangkah menuju pintu kamar, ia membalikan badan menatapku dengan pandangan sayu. Ku gerakan tanganku menyuruhnya masuk.

Rasakan tri, sakit yang ku alami karena penghianatanmu, akan kau bayar mahal malam ini, tapi jangan kuatir ini baru awal, hari masih terlalu pagi. Hutangmu kepadaku masih jauh dari lunas.


=== SELESAI===

< 1 6 7 8 9
Klik Nomor dibawah untuk lanjutannya
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak