Berawal dari ajaran Ibu Tiri Cantik yang Baik 1
Esok paginya, setelah sarapan pagi aku pun mengeluarkan mobilku, menuju rumah Bu Shanti yang terletak di luar kota itu.
Ketika mobilku sudah memasuki pekarangan rumahnya, dosenku yang cantik itu sudah berdiri di ambang pintu depan, dengan senyum manis menghiasi bibir sensualnya.
“Suasananya sudah benar-benar clear?” tanyaku setengah berbisik.
“Yang jelas Mama sudah menyerahkan keputusannya padaku sendiri. Gak maksa harus menikah dengan lelaki tua itu lagi,” balas Bu Shanti
“Ayo masuk.”
Aku pun melangkah masuk, lalu duduk di sofa ruang tamu.
Bu Shanti masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia muncul lagi, lalu duduk di sampingku sambil menyerahkan sepucuk surat dengan amplop berlogo kampusku.
“Apa ini?” tanyaku heran.
“Surat tugas dari rektor,” balasnya, “Besok aku harus terbang ke Singapore, untuk mengikuti seminar..”
Lalu ku baca isi surat itu.
Bu Shanti dengan Bu Nian di tugaskan ke Singapore selama seminggu.
“Ohya.. begini.. Supaya Mama bisa tenang dan nyaman disini selama aku di Singapore, Sayang tidur di sini aja ya.”
“Tidur di sini?”
“Iya. Yang penting malam aja. Jadi satpam lah hehehe.. Siang / sorenya sih bebas.. Bisa kan Sayang?”
“Bisa,” balasku.
“Besok pagi ke sini ya, siang aku berangkat..”
“Mau dianterin ke Bandara?”
“Gak usah. Kan pakai mobil kampus. Yang penting jagain Mama dan bikin dia betah disini..”
Tiba-tiba muncul seorang wanita bule berperawakan tinggi tegap. Hmm.. itu pasti mamanya Bu Shanti. Benar kata Bu Shanti kemaren, ibunya itu tampak seperti wanita tigapuluhan, padahal sudah kepala empat.
“Mama.. ini pacarku yang ku ceritakan itu,” kata Bu Shanti sambil berdiri.
Aku pun ikut berdiri. Membungkuk dan menjabat tangan wanita yang tak kalah cantik dari anaknya itu, dengan sikap sopan.
“Chepi..” ucapku.
“Aleta..“ Mamanya Bu Shanti mengenalkan namanya juga dengan senyum di bibir, tapi dengan mata menyelidik.
“Hmm.. Pacarmu masih sangat muda Shanti..?“ ia menoleh ke arah Bu Shanti.
“Yang penting sudah dewasa Mam,” balas Bu Shanti.
“Tapi dia kan masih kuliah.”
“Gak masalah Mam. Orang sudah punya cucu juga ada yang baru masuk kuliah.”
“Terus rencana kalian mau menikah kapan?”
“Kalau Chepi sih siap menikah kapan aja..” kata Bu Shanti.
“Tapi aku mau mengambil es-tiga dulu. Setelah itu kawin Mam.” lanjutnya.
“Mama sih setuju saja..” kata Tante Aleta.
“Ohya.. selama aku di Singapore, Chepi bakal tidur di sini Mam..”
“Betul begitu Chep?” Tante Aleta menoleh padaku.
“Betul Tante,” balasku.
“Panggil mama aja deh. Kamu kan calon menantuku,” kata Tante Aleta
Lalu kami ngobrol ngalor ngidul.
===o0o===
Esok paginya..
Setelah bersiap-siap dan pamitan sama Mamie, aku berangkat ke rumah Bu Shanti.
Setibanya di rumah Bu Shanti, aku membantunya packing barang-barang yang dibawa ke Singapore. Dan secara bisik-bisik Bu Shanti bilang harus begini harus begitu dalam menghadapi wanita bule yang ibu kandungnya itu.
“Kalau dia minta diantar ke mall, salon atau restoran, antarin aja ya, please,” pinta Bu Shanti.
“Iya, santai aja Mam. Kalau minta diantar wisata gimana?”
“Ya kalau gak keberatan, anterin juga.."
"Usahakan Mama bisa senang dan kerasan selama tinggal disini. Tapi aku gak mewajibkan kok Sayang..”
“Ya nggaklah. Beliau kan calon mertuaku.”
Siangnya, sebuah minibus datang menjemput Bu Shanti. Aku hanya bisa mengantarkannya ke pintu pagar bersama Mama Aleta, sambil melambaikan tangan.
Saat di ruang tamu aku tawari Mama Aleta.
“Kebetulan hari ini gak ada kuliah Mam. Besok juga kuliahnya sore, Kalau Mama mau ke mall atau ke mana gitu, aku siap ngantar Mam.”
“Kamu baik dan sopan. Tampan pula. Pantaslah Shanti jatuh cinta padamu.” balasnya.
“Mama pengen ke pemandian air panas ****,” lanjutnya.
“Mama mau ke sana sekarang?”
“Nggak ngerepotin?”
“Nggak Mam, Asalkan besok sore aku bisa kuliah.”
“Ya udah.. kita berangkat sekarang saja. Tapi harus bawa handuk dan sabun ya?”
“Ya, sebaiknya begitu Mam.”
Beberapa saat kemudian kami menuju ke luar kota.
“Enaknya sih ke pemandian air panas itu malam-malam,” kata Mama Aleta ditengah perjalanan.
“Oh gitu ya Mam.”
“Lain kali kalau ke sana lagi, malem aja."
"Ohya, hubunganmu sudah sejauh mana dengan Shanti?” lanjutnya.
“Sangat dekat Mam.”
“Siapa yang duluan jatuh cinta? Kamu apa Shanti?”
“Aku Mam. Sudah bebereapa bulan aku jatuh cinta padanya. Hingga akhirnya bisa ku utarakan dan lansung diterima. Ya begitulah..”
“Kamu sudah pernah berhubungan seks sama dia?”
“Belum Mam,” balasku bohong.
“Masa?!”
“Betul Mam.”
“Apa perlu mama ajarin supaya bisa memuaskan Shanti kelak? Hihihi..”
“Haaa?! Diajarin gimana Mam?”
“Ah masa kamu gak ngerti?!"
"Mmm.. di matamu, mama sama Shanti cantikan mana?” lanjutnya.
Aku bingung menjawabnya. Kok ada ya seorang ibu ingin dibandingkan kecantikan dengan anaknya. Tapi aku berusaha menjawab sebisa mungkin.
“Mama sama Shanti sama cantiknya. Cuma Mama punya nilai plus di mataku.”
“Apa itu nilai plusnya?”
“Mama lebih itu.. mmm.. berat ngomonginnya.”
“Ah cuma ditanya segitu aja pakai berat segala. Mama jadi penasaran nih. Apa nilai plus mama Chep?”
“Mama.. mmm.. Mama lebih seksi.”
“Ohya?! Terima kasih ya,” ucap Mama Aleta
Tiba-tiba dia mengecup pipi kiriku, membuatku terkejut.
Pikiranku jadi ngelantur ke mana-mana apa lagi dia menggenggam tangan kiriku.
“Nanti mama ajarin kamu ya..”
“Mau ngajarin apa mam..?” tanyaku.
“Soal seks. Kamu mau kan diajarin masalah seks?”
“Ma..mau.. teori atau.. prakteknya Mam?”
“Dua-duanya.”
“Waduh.. Mama mau menguji kesetiaanku pada Shanti ya?”
“Mama tidak selicik itu Chep. Tapi jangan sampai Shanti tau ya.”
Pikiranku semakin tak menentu. Seandainya aku dan Mama Aleta.. Ahh.. Pasti wow...
“Jujur saja.. mama juga butuh laki-laki yang masih segar seperti kamu.”
“Jadi nanti kita harus take and give ya mam.”
“Ya..”
Tak lama kemudian kami sudah sampai pemandian air panas. Peralatan mandi Mama Aleta dan punyaku kujinjing menuju loket penjualan tiket.
Ketika mobilku sudah memasuki pekarangan rumahnya, dosenku yang cantik itu sudah berdiri di ambang pintu depan, dengan senyum manis menghiasi bibir sensualnya.
“Suasananya sudah benar-benar clear?” tanyaku setengah berbisik.
“Yang jelas Mama sudah menyerahkan keputusannya padaku sendiri. Gak maksa harus menikah dengan lelaki tua itu lagi,” balas Bu Shanti
“Ayo masuk.”
Aku pun melangkah masuk, lalu duduk di sofa ruang tamu.
Bu Shanti masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia muncul lagi, lalu duduk di sampingku sambil menyerahkan sepucuk surat dengan amplop berlogo kampusku.
“Apa ini?” tanyaku heran.
“Surat tugas dari rektor,” balasnya, “Besok aku harus terbang ke Singapore, untuk mengikuti seminar..”
Lalu ku baca isi surat itu.
Bu Shanti dengan Bu Nian di tugaskan ke Singapore selama seminggu.
“Ohya.. begini.. Supaya Mama bisa tenang dan nyaman disini selama aku di Singapore, Sayang tidur di sini aja ya.”
“Tidur di sini?”
“Iya. Yang penting malam aja. Jadi satpam lah hehehe.. Siang / sorenya sih bebas.. Bisa kan Sayang?”
“Bisa,” balasku.
“Besok pagi ke sini ya, siang aku berangkat..”
“Mau dianterin ke Bandara?”
“Gak usah. Kan pakai mobil kampus. Yang penting jagain Mama dan bikin dia betah disini..”
Tiba-tiba muncul seorang wanita bule berperawakan tinggi tegap. Hmm.. itu pasti mamanya Bu Shanti. Benar kata Bu Shanti kemaren, ibunya itu tampak seperti wanita tigapuluhan, padahal sudah kepala empat.
“Mama.. ini pacarku yang ku ceritakan itu,” kata Bu Shanti sambil berdiri.
Aku pun ikut berdiri. Membungkuk dan menjabat tangan wanita yang tak kalah cantik dari anaknya itu, dengan sikap sopan.
“Chepi..” ucapku.
“Aleta..“ Mamanya Bu Shanti mengenalkan namanya juga dengan senyum di bibir, tapi dengan mata menyelidik.
“Hmm.. Pacarmu masih sangat muda Shanti..?“ ia menoleh ke arah Bu Shanti.
“Yang penting sudah dewasa Mam,” balas Bu Shanti.
“Tapi dia kan masih kuliah.”
“Gak masalah Mam. Orang sudah punya cucu juga ada yang baru masuk kuliah.”
“Terus rencana kalian mau menikah kapan?”
“Kalau Chepi sih siap menikah kapan aja..” kata Bu Shanti.
“Tapi aku mau mengambil es-tiga dulu. Setelah itu kawin Mam.” lanjutnya.
“Mama sih setuju saja..” kata Tante Aleta.
“Ohya.. selama aku di Singapore, Chepi bakal tidur di sini Mam..”
“Betul begitu Chep?” Tante Aleta menoleh padaku.
“Betul Tante,” balasku.
“Panggil mama aja deh. Kamu kan calon menantuku,” kata Tante Aleta
Lalu kami ngobrol ngalor ngidul.
===o0o===
Esok paginya..
Setelah bersiap-siap dan pamitan sama Mamie, aku berangkat ke rumah Bu Shanti.
Setibanya di rumah Bu Shanti, aku membantunya packing barang-barang yang dibawa ke Singapore. Dan secara bisik-bisik Bu Shanti bilang harus begini harus begitu dalam menghadapi wanita bule yang ibu kandungnya itu.
“Kalau dia minta diantar ke mall, salon atau restoran, antarin aja ya, please,” pinta Bu Shanti.
“Iya, santai aja Mam. Kalau minta diantar wisata gimana?”
“Ya kalau gak keberatan, anterin juga.."
"Usahakan Mama bisa senang dan kerasan selama tinggal disini. Tapi aku gak mewajibkan kok Sayang..”
“Ya nggaklah. Beliau kan calon mertuaku.”
Siangnya, sebuah minibus datang menjemput Bu Shanti. Aku hanya bisa mengantarkannya ke pintu pagar bersama Mama Aleta, sambil melambaikan tangan.
Saat di ruang tamu aku tawari Mama Aleta.
“Kebetulan hari ini gak ada kuliah Mam. Besok juga kuliahnya sore, Kalau Mama mau ke mall atau ke mana gitu, aku siap ngantar Mam.”
“Kamu baik dan sopan. Tampan pula. Pantaslah Shanti jatuh cinta padamu.” balasnya.
“Mama pengen ke pemandian air panas ****,” lanjutnya.
“Mama mau ke sana sekarang?”
“Nggak ngerepotin?”
“Nggak Mam, Asalkan besok sore aku bisa kuliah.”
“Ya udah.. kita berangkat sekarang saja. Tapi harus bawa handuk dan sabun ya?”
“Ya, sebaiknya begitu Mam.”
Beberapa saat kemudian kami menuju ke luar kota.
“Enaknya sih ke pemandian air panas itu malam-malam,” kata Mama Aleta ditengah perjalanan.
“Oh gitu ya Mam.”
“Lain kali kalau ke sana lagi, malem aja."
"Ohya, hubunganmu sudah sejauh mana dengan Shanti?” lanjutnya.
“Sangat dekat Mam.”
“Siapa yang duluan jatuh cinta? Kamu apa Shanti?”
“Aku Mam. Sudah bebereapa bulan aku jatuh cinta padanya. Hingga akhirnya bisa ku utarakan dan lansung diterima. Ya begitulah..”
“Kamu sudah pernah berhubungan seks sama dia?”
“Belum Mam,” balasku bohong.
“Masa?!”
“Betul Mam.”
“Apa perlu mama ajarin supaya bisa memuaskan Shanti kelak? Hihihi..”
“Haaa?! Diajarin gimana Mam?”
“Ah masa kamu gak ngerti?!"
"Mmm.. di matamu, mama sama Shanti cantikan mana?” lanjutnya.
Aku bingung menjawabnya. Kok ada ya seorang ibu ingin dibandingkan kecantikan dengan anaknya. Tapi aku berusaha menjawab sebisa mungkin.
“Mama sama Shanti sama cantiknya. Cuma Mama punya nilai plus di mataku.”
“Apa itu nilai plusnya?”
“Mama lebih itu.. mmm.. berat ngomonginnya.”
“Ah cuma ditanya segitu aja pakai berat segala. Mama jadi penasaran nih. Apa nilai plus mama Chep?”
“Mama.. mmm.. Mama lebih seksi.”
“Ohya?! Terima kasih ya,” ucap Mama Aleta
Tiba-tiba dia mengecup pipi kiriku, membuatku terkejut.
Pikiranku jadi ngelantur ke mana-mana apa lagi dia menggenggam tangan kiriku.
“Nanti mama ajarin kamu ya..”
“Mau ngajarin apa mam..?” tanyaku.
“Soal seks. Kamu mau kan diajarin masalah seks?”
“Ma..mau.. teori atau.. prakteknya Mam?”
“Dua-duanya.”
“Waduh.. Mama mau menguji kesetiaanku pada Shanti ya?”
“Mama tidak selicik itu Chep. Tapi jangan sampai Shanti tau ya.”
Pikiranku semakin tak menentu. Seandainya aku dan Mama Aleta.. Ahh.. Pasti wow...
“Jujur saja.. mama juga butuh laki-laki yang masih segar seperti kamu.”
“Jadi nanti kita harus take and give ya mam.”
“Ya..”
Tak lama kemudian kami sudah sampai pemandian air panas. Peralatan mandi Mama Aleta dan punyaku kujinjing menuju loket penjualan tiket.
Setelah berada di dekat kolam air panas.
“Mau mandi di kolam atau mau di kamar mandi mam?” tanyaku.
“Kalau di kolam kan harus pakai baju renang. Mama gak bawa baju renang. Di kamar mandi aja.” balasnya sambil berbisik.
“Dua kamar ya Mam..”
“Satu aja. Ngapain dua?”
"Hahh..?!"
"Udah nurut aja.."
Beberapa saat kemudian aku dan Mama Aleta sudah berada di dalam kamar mandi yang tertutup dan terkunci. Ada bak mandinya yang hampir menghabiskan lantai kamar mandi ini saking besarnya dengan Air panas yang terkucur dengan derasnya, uap mengepul dari permukaan.
Mama Aleta seperti tak sabar lagi, dia melepaskan blouse putih dan celana panjang corduroy biru tuanya. Disusul dengan pelepasan beha dan celana dalam serba putihnya. Lalu Mama Aleta turun ke bak mandi yang lebih tepat disebut kolam kecil itu. Padahal airnya baru sebatas lutut.
Sementara aku masih terpaku menyaksikan betapa indahnya tubuh wanita setengah baya asal Belanda itu. Biasanya perempuan yang sudah berkepala empat, kulitnya keriput, kendor dan perut bunci. Tapi kulit tubuh Mama Aleta tampak kencang dan tidak buncit.
Sejak perjalanan menuju pemandian air panas ini kontolku ngaceng terus. Terlebih lagi setelah menyaksikan Mama Aleta telanjang bulat dengan menyiarkan aura seksual yang begitu dahsyatnya. Semakin ngaceng jugalah batang kejantananku ini. Aku jadi malu melepaskan pakaianku.
“Ayo lepasin pakaianmu dan turun ke sini. Mau nonton mama telanjang doang?” tegur Mama Aleta.
Akhirnya ku lepaskan busanaku sampai telanjang bulat, lalu turun ke bak air panas.
Mama Aleta menyambutku dengan memegang kontolku yang sudah ngaceng berat ini.
“O my God..! Penismu panjang gede gini Chep..!"
"Biasa aja mam.."
"Ngaceng gini, Udah kepengen main disini ya?” ucap Mama Aleta sambil menepuk-nepuk memeknya yang bersih dari bulu.
“Hehehe.. kalau dikasih sih Mam.”
“Nanti aja di rumah ya. Jangan di sini. Sekarang sabunin mama dong..”
Lansung ku sambar sabun cair Mama Aleta.
Mama Aleta pun membelakangiku sambil berkata, “Punggungnya dulu Chep.”
Aku pun mulai menyabuni punggungnya yang terasa padat kencang. Bokongnya pun terasa padat kencang sekali.
Ketika aku menyabuni bagian depannya, kontolku semakin ngaceng. Karena aku mulai dengan menyabuni sepasang payudaranya yang juga hanya sedikit turun tapi belum kendor.
Dan ketika tiba giliran memek Mama Aleta yang mulai ku sabuni, tanganku malah betah di bagian yang paling menggoda itu, sesekali ku selipkan jemariku kedalam celah memeknya.
Mama Aleta merengkuh leherku, kemudian menciumi bibirku, lalu menangkap kontolku, mencolek-colekkan ke celah memeknya yang sudah licin oleh sabun cair.
Tentu saja aku makin edan dibuatnya. Maka tanpa dapat ku kontrol lagi, ketika terasa kepala penisku sedikit masuk di belahan memek Mama Aleta, ku desakka kontolku.. blesss.. melesak masuk ke dalam liang memeknya.
“Ahhh.. Kok dimasukin? Gak sabar ya? Emmhh..” ucap Mama Aleta sambil menyandar ke dinding dan mendekap pinggangku.
“Iii..iya Mam.. maaf ya mam..”
“Ya udah.. Tapi jangan lama-lama ya..” kata Mama Aleta menepuk-nepuk pantatku.
Ku ayun kontol ngacengku sambil memeluk leher Mama Aleta disusul dengan pagutannya di bibirku, yang kusambut dengan lumatan penuh gairah.
Mama Aleta terasa sangat bergairah menyambut entotanku.
Liang memek Mama Aleta begini enaknya, empuk tapi legit. Seperti mengisap-isap moncong kontolku rasanya luar biasa.
Meski sambil berdiri, ternyata ngentot Mama Aleta sangat enak. Aku ciumi dan jilati lehernya.
“Penismu luar biasa enaknya Chep.. ooohhh.. ini benar-benar fantastis.. oooh.. bisa cepat ejakulasi nggak?”
“Masih lama Mam..”
“Kalau gitu cabut dulu deh penismu. Nanti kita lanjutkan di rumah aja yaa..”
Aku pun dengan agak terpaksa menikuti keinginan calon ibu mertuaku tersebut.
Setelah kami sama-sama berpakaian, kami pulang.
“Walau cuma sebentar merasakan vagina mama tadi, gaimana perasaanmu?” tanya Mama Aleta.
“Seperti bermimpi Mam..” balasku.
“Sama, mama juga seperti bermimpi, setelah belasan tahun puasa dari seks, tiba-tiba mendapatkan anak muda yang tampan dan menggemaskan ini,” kata Mama Aleta sambil menggerayangi celana jeansku dan berhasil menggenggam kontol di balik celana dalamku.
“Belasan tahun puasa dari seks?”
“Iya, Papanya Shanti sudah belasan tahun impoten.” balas Mama Aleta sambil mengelus-eslus moncong kontolku yang ngaceng.
“Ohya?!”
“Memang begitulah keadaannya. Setelah terjatuh dari motor, tulang ekornya retak dan tulang punggungnya ada yang patah. Lalu dirawat di rumah sakit selama sebulan, dia bisa jalan lagi. Tapi kejantanannya mengalami disfungsi. Sejak saat itulah dia impoten, sampai sekarang."
“Oh gitu..”
“Sudah berobat ke luar negri segala, tapi entahlah masih belum sembuh impotennya.”
Setibanya di rumah Bu Shanti, Mama Aleta mandi didalam kamarnya yang berdampingan dengan kamar Bu Shanti. Sementara aku sendiri masuk ke dalam kamar Bu Shanti seperti yang sudah diuatur oleh pemilik kamar itu tadi siang.
Setelah mandi ku kenakan baju kaus putih dan celana pendek abu-abu, tanpa mengenakan celana dalam karena kontolku masih tak mau tidur.
Saat aku duduk di ruang keluarga, Mama Aleta menghampiriku lalu mengajakku masuk ke kamarnya.
Aku pun masuk ke dalam kamar Mama Aleta.
Kamar yang ditempati oleh Mama Aleta itu fasilitasnya sama persis dengan kamar Bu Shanti (yang untuk sementara dijadikan kamarku). Ada sebuah bed luas, 1 set sofa putih, televisi layar lebar, kulkas, microwave dan banyak lagi. Kamar mandinya pun sama bagusnya dengan kamar mandi Bu Shanti sendiri.
Saat itu Mama Aleta sudah mengenakan kimono berwarna hitam, sehingga kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih.
Mama Aleta pun mengajakku duduk berdampingan di sofa.
“Sekarang kamu nilai, Mama ini seperti apa di dalam pandanganmu. Jawab jujur.“
”Mama tampak masih muda.”
“Masa sih?!” Mama Aleta tampak senang mendengar ucapanku.
“Betul Mam..”
“Begitu ya? Mmm.. jadi mama ini masih menarik bagimu?”
“Sejujurnya, Mama sangat menggiurkan bagiku.”
Mama Aleta tampak semakin tersanjung. Lalu ia menanggalkan kimono hitamnya, yang langsung telanjang bulat. Karena sudah tidak mengenakan beha maupun celana dalam di balik kimono hitam itu.
Mama Aleta menyuruhku telanjang sambil naik ke atas ranjang, setelah aku telanjang mengikuti Mama Aleta naik ke atas bed. Dan langsung merayap ke atas perutnya. Harum parfum pun semakin tersiar ke penciumanku, hasrat birahiku semakin menggila.
Mama Aleta pun menyambutku dengan pelukan hangat dan ciuman yang bertubi-tubi di bibirku.
“Mama sangat tergoda olehmu, Chep.”
Aku cuma tersenyum mendengar pengakuan Mama Aleta itu. Karena aku lebih tertarik untuk mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya.. gila.. toketnya masih padat, meski kalau sedang berdiri kelihatan menurun.
“Lakukanlah apa yang mau kamu lakukan pada mama. Jangan sungkan-sungkan ya Chepi..”
Mendengar itu, aku pun melakukan apa yang ingin kulakukan. Sambil ngemut pentil toket Mama Aleta, tanganku langsung mengusap-usap memeknya, lalu menyelinapkan jemariku ke dalam celah memeknya. Lalu ku majumu-ndurkan jari tanganku sampai terasa basah dan licin.
Lendir memeknya yang seudah cukup becek ku oleskan pada clitorisnya hinga terasa licin, ku gesek-gesek dengan jari tanganku.
“Mau mandi di kolam atau mau di kamar mandi mam?” tanyaku.
“Kalau di kolam kan harus pakai baju renang. Mama gak bawa baju renang. Di kamar mandi aja.” balasnya sambil berbisik.
“Dua kamar ya Mam..”
“Satu aja. Ngapain dua?”
"Hahh..?!"
"Udah nurut aja.."
Beberapa saat kemudian aku dan Mama Aleta sudah berada di dalam kamar mandi yang tertutup dan terkunci. Ada bak mandinya yang hampir menghabiskan lantai kamar mandi ini saking besarnya dengan Air panas yang terkucur dengan derasnya, uap mengepul dari permukaan.
Mama Aleta seperti tak sabar lagi, dia melepaskan blouse putih dan celana panjang corduroy biru tuanya. Disusul dengan pelepasan beha dan celana dalam serba putihnya. Lalu Mama Aleta turun ke bak mandi yang lebih tepat disebut kolam kecil itu. Padahal airnya baru sebatas lutut.
Sementara aku masih terpaku menyaksikan betapa indahnya tubuh wanita setengah baya asal Belanda itu. Biasanya perempuan yang sudah berkepala empat, kulitnya keriput, kendor dan perut bunci. Tapi kulit tubuh Mama Aleta tampak kencang dan tidak buncit.
Sejak perjalanan menuju pemandian air panas ini kontolku ngaceng terus. Terlebih lagi setelah menyaksikan Mama Aleta telanjang bulat dengan menyiarkan aura seksual yang begitu dahsyatnya. Semakin ngaceng jugalah batang kejantananku ini. Aku jadi malu melepaskan pakaianku.
“Ayo lepasin pakaianmu dan turun ke sini. Mau nonton mama telanjang doang?” tegur Mama Aleta.
Akhirnya ku lepaskan busanaku sampai telanjang bulat, lalu turun ke bak air panas.
Mama Aleta menyambutku dengan memegang kontolku yang sudah ngaceng berat ini.
“O my God..! Penismu panjang gede gini Chep..!"
"Biasa aja mam.."
"Ngaceng gini, Udah kepengen main disini ya?” ucap Mama Aleta sambil menepuk-nepuk memeknya yang bersih dari bulu.
“Hehehe.. kalau dikasih sih Mam.”
“Nanti aja di rumah ya. Jangan di sini. Sekarang sabunin mama dong..”
Lansung ku sambar sabun cair Mama Aleta.
Mama Aleta pun membelakangiku sambil berkata, “Punggungnya dulu Chep.”
Aku pun mulai menyabuni punggungnya yang terasa padat kencang. Bokongnya pun terasa padat kencang sekali.
Ketika aku menyabuni bagian depannya, kontolku semakin ngaceng. Karena aku mulai dengan menyabuni sepasang payudaranya yang juga hanya sedikit turun tapi belum kendor.
Dan ketika tiba giliran memek Mama Aleta yang mulai ku sabuni, tanganku malah betah di bagian yang paling menggoda itu, sesekali ku selipkan jemariku kedalam celah memeknya.
Mama Aleta merengkuh leherku, kemudian menciumi bibirku, lalu menangkap kontolku, mencolek-colekkan ke celah memeknya yang sudah licin oleh sabun cair.
Tentu saja aku makin edan dibuatnya. Maka tanpa dapat ku kontrol lagi, ketika terasa kepala penisku sedikit masuk di belahan memek Mama Aleta, ku desakka kontolku.. blesss.. melesak masuk ke dalam liang memeknya.
“Ahhh.. Kok dimasukin? Gak sabar ya? Emmhh..” ucap Mama Aleta sambil menyandar ke dinding dan mendekap pinggangku.
“Iii..iya Mam.. maaf ya mam..”
“Ya udah.. Tapi jangan lama-lama ya..” kata Mama Aleta menepuk-nepuk pantatku.
Ku ayun kontol ngacengku sambil memeluk leher Mama Aleta disusul dengan pagutannya di bibirku, yang kusambut dengan lumatan penuh gairah.
Mama Aleta terasa sangat bergairah menyambut entotanku.
Liang memek Mama Aleta begini enaknya, empuk tapi legit. Seperti mengisap-isap moncong kontolku rasanya luar biasa.
Meski sambil berdiri, ternyata ngentot Mama Aleta sangat enak. Aku ciumi dan jilati lehernya.
“Penismu luar biasa enaknya Chep.. ooohhh.. ini benar-benar fantastis.. oooh.. bisa cepat ejakulasi nggak?”
“Masih lama Mam..”
“Kalau gitu cabut dulu deh penismu. Nanti kita lanjutkan di rumah aja yaa..”
Aku pun dengan agak terpaksa menikuti keinginan calon ibu mertuaku tersebut.
Setelah kami sama-sama berpakaian, kami pulang.
“Walau cuma sebentar merasakan vagina mama tadi, gaimana perasaanmu?” tanya Mama Aleta.
“Seperti bermimpi Mam..” balasku.
“Sama, mama juga seperti bermimpi, setelah belasan tahun puasa dari seks, tiba-tiba mendapatkan anak muda yang tampan dan menggemaskan ini,” kata Mama Aleta sambil menggerayangi celana jeansku dan berhasil menggenggam kontol di balik celana dalamku.
“Belasan tahun puasa dari seks?”
“Iya, Papanya Shanti sudah belasan tahun impoten.” balas Mama Aleta sambil mengelus-eslus moncong kontolku yang ngaceng.
“Ohya?!”
“Memang begitulah keadaannya. Setelah terjatuh dari motor, tulang ekornya retak dan tulang punggungnya ada yang patah. Lalu dirawat di rumah sakit selama sebulan, dia bisa jalan lagi. Tapi kejantanannya mengalami disfungsi. Sejak saat itulah dia impoten, sampai sekarang."
“Oh gitu..”
“Sudah berobat ke luar negri segala, tapi entahlah masih belum sembuh impotennya.”
Setibanya di rumah Bu Shanti, Mama Aleta mandi didalam kamarnya yang berdampingan dengan kamar Bu Shanti. Sementara aku sendiri masuk ke dalam kamar Bu Shanti seperti yang sudah diuatur oleh pemilik kamar itu tadi siang.
Setelah mandi ku kenakan baju kaus putih dan celana pendek abu-abu, tanpa mengenakan celana dalam karena kontolku masih tak mau tidur.
Saat aku duduk di ruang keluarga, Mama Aleta menghampiriku lalu mengajakku masuk ke kamarnya.
Aku pun masuk ke dalam kamar Mama Aleta.
Kamar yang ditempati oleh Mama Aleta itu fasilitasnya sama persis dengan kamar Bu Shanti (yang untuk sementara dijadikan kamarku). Ada sebuah bed luas, 1 set sofa putih, televisi layar lebar, kulkas, microwave dan banyak lagi. Kamar mandinya pun sama bagusnya dengan kamar mandi Bu Shanti sendiri.
Saat itu Mama Aleta sudah mengenakan kimono berwarna hitam, sehingga kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih.
Mama Aleta pun mengajakku duduk berdampingan di sofa.
“Sekarang kamu nilai, Mama ini seperti apa di dalam pandanganmu. Jawab jujur.“
”Mama tampak masih muda.”
“Masa sih?!” Mama Aleta tampak senang mendengar ucapanku.
“Betul Mam..”
“Begitu ya? Mmm.. jadi mama ini masih menarik bagimu?”
“Sejujurnya, Mama sangat menggiurkan bagiku.”
Mama Aleta tampak semakin tersanjung. Lalu ia menanggalkan kimono hitamnya, yang langsung telanjang bulat. Karena sudah tidak mengenakan beha maupun celana dalam di balik kimono hitam itu.
Mama Aleta menyuruhku telanjang sambil naik ke atas ranjang, setelah aku telanjang mengikuti Mama Aleta naik ke atas bed. Dan langsung merayap ke atas perutnya. Harum parfum pun semakin tersiar ke penciumanku, hasrat birahiku semakin menggila.
Mama Aleta pun menyambutku dengan pelukan hangat dan ciuman yang bertubi-tubi di bibirku.
“Mama sangat tergoda olehmu, Chep.”
Aku cuma tersenyum mendengar pengakuan Mama Aleta itu. Karena aku lebih tertarik untuk mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya.. gila.. toketnya masih padat, meski kalau sedang berdiri kelihatan menurun.
“Lakukanlah apa yang mau kamu lakukan pada mama. Jangan sungkan-sungkan ya Chepi..”
Mendengar itu, aku pun melakukan apa yang ingin kulakukan. Sambil ngemut pentil toket Mama Aleta, tanganku langsung mengusap-usap memeknya, lalu menyelinapkan jemariku ke dalam celah memeknya. Lalu ku majumu-ndurkan jari tanganku sampai terasa basah dan licin.
Lendir memeknya yang seudah cukup becek ku oleskan pada clitorisnya hinga terasa licin, ku gesek-gesek dengan jari tanganku.
Mama Aleta pun menggeliat dengan mata terpejam-pejam.
Tampaknya Mama Aleta sudah tidak sabaran lagi. Ia langsung menangkap kontolku, yang lalu moncongnya dicolek-colekkan ke mulut memeknya, ia memberi isyarat agar aku mendorong kontolku.
Dan.. blesss.. kontolku melesak amblas ke dalam liang memek Mama Aleta.
“Oooouuuhh.. enak Chep..“ kata calon ibu mertuaku tersebut.
Aku pun langsung mengayun kontolku, bermaju mundur di dalam liang memek Mama Aleta yang “gurih” rasanya.
Mama Aleta pun mulai mendesah-desah sambil menciumi bibirku dengan mesranya, seolah menciumi bibir kekasihnya.
“Aaaahhh.. emwuaaah.. kamu tampan.. kontolmu juga luar biasa enaknyaaa.. come on.. fucking me please.."
Aku memang mempercepat entotanku. Bahkan kelihatannya Mama Aleta suka kalau aku mendorongnya dengan keras (pada saat kontolku didorong maju). Sehingga menimbulkan bunyi pada memeknya yang tertepuk dasar kontolku.
Plak.. srttt.. plak.. srttt.. plak.. srttt..
Untungnya kontolku cukup panjang. Sehingga moncong kontolku terus-terusan menyundul dasar liang memek Mama Aleta. Padahal konon liang memek wanita bule itu dalam-dalam. Lebih panjang liangnya. Tapi kontolku bisa mencapai dasar liang memek Mama Aleta ini.
Aku pun tak mau membiarkan mulut dan tanganku nganggur, ku remas toket kanannya, ku jilati leher jenjangnya disertai gigitan-gigitan kecil.
Semakin riuh rintihan histeris wanita bule itu, keringatnya semakin banyak. Aroma keringatnya yang bercampur harum parfum membuatku semakin bernafsu untuk mengentotnya habis-habisan.
Terkadang ku emut dan kujilati pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku digunakan untuk meremas-remas toket kanannya. Bahkan terkadang aku menjilati ketiaknya yang harum deodorant, disertai dengan sedotan-sedotan kuat. Tanpa peduli keringatnya tertelan olehku.
Akhirnya Mama Aleta berkelojotan sambil merintih seperti minta dikasihani,
“Oooohhh.. Cheeepiiii.. mama mau crot.. mau orgasme..”
Lalu ia terpejam sambil menahan nafasnya. Dengan tubuh mengejang tegang.
"Eeemmhhfg.."
Terasa liang memeknya mengejut-ngejut, diikuti dengan aliran lendir libidonya.
“Aaaah.. Terima kasih Chepi.. ini luar biasa rasanya.”
Tapi aku belum apa-apa. Maka setelah wajah Mama Aleta kelihatan rileks lagi, Kembali kuayun kontolku kembali. Dalam gerakan cepat, karena liang memeknya sudah becek sekali.
“Aauuhh.. Terus Chep..” ucap Mama Aleta
“Kalau begini sie, mama bisa multi orgasme nanti.” lanjutnya.
“Aku senang mama kalau orgasme lagi.”
Lalu aku mengayun kontolku dalam gerakan hardcore. Cepat dan keras. Sehingga terdengar bunyi unik dari liang memek ibunya dosenku itu, sesuai dengan gerakan kontolku.
Sttt.. crekkk.. sttt.. crekkkk.. sttt.. crekkkk..
Dan begitu seterusnya..
Keringat pun mulai membanjiri tubuhku, bercampur aduk dengan keringat Mama Aleta. Namun aku tetap tabah dan bernafsu untuk mengentot Mama Aleta habis-habisan. Sehingga Mama Aleta orgasme lagi dan orgasme lagi. Sudah tiga kali dia orgasme.
Namun aku pun sudah tiba di detik-dedtik krusial menjelang puncak kenikmatanku sendiri.
“Nanti.. aku ejakulasi di mana Mam?” tanyaku terengah, tanpa menghentikan entotanku.
“Di dalam aja please..”
Pada saatr berikutnya, aku menggelepar di atas perut Mama Aleta, sambil menancapkan kontolku sedalam mungkin, kontol yang sedang mengejut-ngejut dan memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crot..! Crot..! Crot..!
Aku pun terkapar di atas perut Mama Aleta.
Lalu Mama Aleta menciumku.
“Kamu sangat memuaskan Chepi.. Mama jadi betah tinggal lama disini..”
“Asal jangan ketahuan oleh Shanti ya Mam,” balasku.
“Tentu saja.. Kita check in hotel aja nanti..”
===o0o===
Esok paginya, Mama Aleta latihan kebugaran di fitness room yang terletak di bagian belakang rumah ini. Lagi-lagi aku tergiur olehnya. Karena Mama Aleta latihan kebugaran dalam keadaan.. telanjang bulat..!
Waktu tubuhnya mulai bermandikan keringat, Mama Aleta malah semakin sexy di mataku.
Aku pun mendekati Mama Aleta yang sedang istirahat, dengan tubuh telanjang bermandikan keringat. Namun tiba-tiba handphoneku berdering, ternyata dari Bu Shanti.
“Sttt.. dari Shanti..!” ucapku.
Aku: “Hallo Sayang udah di Singapore kan?”
Bu Shanti: “Iya, udah di Singapore. langsung sibuk mempersiapkan seminar.”
Aku: “Gak apa-apa. Yang penting dirimu sehat-sehat aja Beib.”
Bu Shanti: “Sehaaat. Lagi di mana nih?”
Aku: “Lagi di rumahmu. Kan tugasku harus standby selama dirimu di Singapore Beib.”
Bu Shanti: “Gimana keadaan Mama?”
Aku: “Sehat dan ceria, tak kurang suatu apa pun.”
Bu Shanti: “Sayaaang.. Mama itu udah belasan tahun gak pernah disentuh lelaki, sejak papaku impoten.”
Aku (pura-pura belum tahu) : “Ohya?!”
Bu Shanti: “Iya. Kasian kan. Kalau bisa sih coba deketin dia. Sukur-sukur kalau bisa sampai terjadi hubungan sex. Aku ijinkan deh kalau sama Mama sih.”
Aku: “Beib.. kamu ini ngomong apa sih? Kok bicara begitu?”
Bu Shanti: “Aku bicara secara fair dan open minded kok. Mama itu butuh sentuhan lelaki. Kalau dirimu tidak keberatan, coba rayu deh sampai dapat. Biar dia kerasan tinggal di rumah kita. Lagian supaya dia mendukungku untuk menikah dengan dirimu Sayang. Bilang aja kamu udah dapat ijin dariku gitu.”
Sebenarnya aku senang sekali mendengar saran dari Bu Shanti itu. Tapi aku masih bersikap seperti belum setuju pada sarannya itu. Padahal yang disarankannya itu sudah terjadi.
Aku (bohong): “Aku pikir-pikir dulu ya Beib. Ohya.. sebentar.. aku mau terima telepon dari mamaku dulu ya Beib. Nanti ku telepon balik ya.”
Bu Shanti: “Iya.. iya.. titip salam aja buat mamamu, dari calon menantu gitu. Hihihi..”
Aku: “Siiip! See you..”
Setelah ku tutup telpon dar Bu Shanti, ku hampiri Mama Aleta yang tengah menghanduki tubuh telanjangnya.
“Ada berita gembira Mam,” ucapku sambil memeluknya dari belakang.
Lalu ku cium leher Mama Aleta yang berkeringat yang aromanya merangsang nafsuku.
“Berita apa?” tanyanya.
Lalu kuceritakan isi pembicaraanku dengan anaknya barusan.
“Masa dia ngomong begitu?” Mama Aleta seperti tak percaya.
“Kalau Mama gak percaya, aku telepon dia sekarang ya. ku loudspeaker ya biar Mama dengar sendiri”
“Oke,“ Mama Aleta mengangguk.
Lalu ku telpon dia dengan loudspeaker.
Bu Shanti: “Hallo Sayang..”
Aku: “Hallo juga. Pembicaraan tadi belum selesai Beib. Coba sekarang perjelas lagi. Supaya aku ngggak salah langkah.”
Bu Shanti pun mengulang keinginannya, menerangkan dengan jelas.
Aku: “Aku jadi enak dong.. hihihi..”
Bu Shanti: “Iya. Tapi cukup Mama dan diriku aja ya. Jangan nyari cewek lain lagi.”
Setelah ku tutup telpon dar Bu Shanti, aku menoleh kepada Mama Aleta yang sudah membelit tubuhnya dengan handuk.
“Sudah jelas kan?” tanyaku
Mama Aleta memeluk dan menciumi sepasang pipiku.
“Shanti memang anak yang sangat menyayangi mama..”
Tampak mata Mama Aleta berlinang-linang. Mungkin dia bahagia bercampur terharu setelah mendengar suara anaknya lewat hapeku tadi.
Tapi pelukannya malah membuatku hangat dan sange. Tanpa permisi lansung ku lumat bibirnya dengan ganas, kulepas handuk yang melilit tubuhnya, dan ku rebahkan tubuhnya di matras.
Setelah kulepas semua pakaianku, lansung kutindih dan lansung ku genjotkan kontol ngacengku pada liang memek ibunya dosenku itu. Permainan kamipun berlansung penuh gairah.
===x===
Apakah aku tidak kangen kepada Mama kandungku?
Tentu saja aku selalu merindukan beliau sebagai seorang anak kepada ibu kandungnya sekaligus sebagai seorang pemuda yang haus akan wanita yang the best bagiku, dalam segalanya. Baik dalam kelembutan dan kasih sayangnya maupun dalam hal kecantikannya dan kelezatan memeknya..!
Tampaknya Mama Aleta sudah tidak sabaran lagi. Ia langsung menangkap kontolku, yang lalu moncongnya dicolek-colekkan ke mulut memeknya, ia memberi isyarat agar aku mendorong kontolku.
Dan.. blesss.. kontolku melesak amblas ke dalam liang memek Mama Aleta.
“Oooouuuhh.. enak Chep..“ kata calon ibu mertuaku tersebut.
Aku pun langsung mengayun kontolku, bermaju mundur di dalam liang memek Mama Aleta yang “gurih” rasanya.
Mama Aleta pun mulai mendesah-desah sambil menciumi bibirku dengan mesranya, seolah menciumi bibir kekasihnya.
“Aaaahhh.. emwuaaah.. kamu tampan.. kontolmu juga luar biasa enaknyaaa.. come on.. fucking me please.."
Aku memang mempercepat entotanku. Bahkan kelihatannya Mama Aleta suka kalau aku mendorongnya dengan keras (pada saat kontolku didorong maju). Sehingga menimbulkan bunyi pada memeknya yang tertepuk dasar kontolku.
Plak.. srttt.. plak.. srttt.. plak.. srttt..
Untungnya kontolku cukup panjang. Sehingga moncong kontolku terus-terusan menyundul dasar liang memek Mama Aleta. Padahal konon liang memek wanita bule itu dalam-dalam. Lebih panjang liangnya. Tapi kontolku bisa mencapai dasar liang memek Mama Aleta ini.
Aku pun tak mau membiarkan mulut dan tanganku nganggur, ku remas toket kanannya, ku jilati leher jenjangnya disertai gigitan-gigitan kecil.
Semakin riuh rintihan histeris wanita bule itu, keringatnya semakin banyak. Aroma keringatnya yang bercampur harum parfum membuatku semakin bernafsu untuk mengentotnya habis-habisan.
Terkadang ku emut dan kujilati pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku digunakan untuk meremas-remas toket kanannya. Bahkan terkadang aku menjilati ketiaknya yang harum deodorant, disertai dengan sedotan-sedotan kuat. Tanpa peduli keringatnya tertelan olehku.
Akhirnya Mama Aleta berkelojotan sambil merintih seperti minta dikasihani,
“Oooohhh.. Cheeepiiii.. mama mau crot.. mau orgasme..”
Lalu ia terpejam sambil menahan nafasnya. Dengan tubuh mengejang tegang.
"Eeemmhhfg.."
Terasa liang memeknya mengejut-ngejut, diikuti dengan aliran lendir libidonya.
“Aaaah.. Terima kasih Chepi.. ini luar biasa rasanya.”
Tapi aku belum apa-apa. Maka setelah wajah Mama Aleta kelihatan rileks lagi, Kembali kuayun kontolku kembali. Dalam gerakan cepat, karena liang memeknya sudah becek sekali.
“Aauuhh.. Terus Chep..” ucap Mama Aleta
“Kalau begini sie, mama bisa multi orgasme nanti.” lanjutnya.
“Aku senang mama kalau orgasme lagi.”
Lalu aku mengayun kontolku dalam gerakan hardcore. Cepat dan keras. Sehingga terdengar bunyi unik dari liang memek ibunya dosenku itu, sesuai dengan gerakan kontolku.
Sttt.. crekkk.. sttt.. crekkkk.. sttt.. crekkkk..
Dan begitu seterusnya..
Keringat pun mulai membanjiri tubuhku, bercampur aduk dengan keringat Mama Aleta. Namun aku tetap tabah dan bernafsu untuk mengentot Mama Aleta habis-habisan. Sehingga Mama Aleta orgasme lagi dan orgasme lagi. Sudah tiga kali dia orgasme.
Namun aku pun sudah tiba di detik-dedtik krusial menjelang puncak kenikmatanku sendiri.
“Nanti.. aku ejakulasi di mana Mam?” tanyaku terengah, tanpa menghentikan entotanku.
“Di dalam aja please..”
Pada saatr berikutnya, aku menggelepar di atas perut Mama Aleta, sambil menancapkan kontolku sedalam mungkin, kontol yang sedang mengejut-ngejut dan memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crot..! Crot..! Crot..!
Aku pun terkapar di atas perut Mama Aleta.
Lalu Mama Aleta menciumku.
“Kamu sangat memuaskan Chepi.. Mama jadi betah tinggal lama disini..”
“Asal jangan ketahuan oleh Shanti ya Mam,” balasku.
“Tentu saja.. Kita check in hotel aja nanti..”
===o0o===
Esok paginya, Mama Aleta latihan kebugaran di fitness room yang terletak di bagian belakang rumah ini. Lagi-lagi aku tergiur olehnya. Karena Mama Aleta latihan kebugaran dalam keadaan.. telanjang bulat..!
Waktu tubuhnya mulai bermandikan keringat, Mama Aleta malah semakin sexy di mataku.
Aku pun mendekati Mama Aleta yang sedang istirahat, dengan tubuh telanjang bermandikan keringat. Namun tiba-tiba handphoneku berdering, ternyata dari Bu Shanti.
“Sttt.. dari Shanti..!” ucapku.
Aku: “Hallo Sayang udah di Singapore kan?”
Bu Shanti: “Iya, udah di Singapore. langsung sibuk mempersiapkan seminar.”
Aku: “Gak apa-apa. Yang penting dirimu sehat-sehat aja Beib.”
Bu Shanti: “Sehaaat. Lagi di mana nih?”
Aku: “Lagi di rumahmu. Kan tugasku harus standby selama dirimu di Singapore Beib.”
Bu Shanti: “Gimana keadaan Mama?”
Aku: “Sehat dan ceria, tak kurang suatu apa pun.”
Bu Shanti: “Sayaaang.. Mama itu udah belasan tahun gak pernah disentuh lelaki, sejak papaku impoten.”
Aku (pura-pura belum tahu) : “Ohya?!”
Bu Shanti: “Iya. Kasian kan. Kalau bisa sih coba deketin dia. Sukur-sukur kalau bisa sampai terjadi hubungan sex. Aku ijinkan deh kalau sama Mama sih.”
Aku: “Beib.. kamu ini ngomong apa sih? Kok bicara begitu?”
Bu Shanti: “Aku bicara secara fair dan open minded kok. Mama itu butuh sentuhan lelaki. Kalau dirimu tidak keberatan, coba rayu deh sampai dapat. Biar dia kerasan tinggal di rumah kita. Lagian supaya dia mendukungku untuk menikah dengan dirimu Sayang. Bilang aja kamu udah dapat ijin dariku gitu.”
Sebenarnya aku senang sekali mendengar saran dari Bu Shanti itu. Tapi aku masih bersikap seperti belum setuju pada sarannya itu. Padahal yang disarankannya itu sudah terjadi.
Aku (bohong): “Aku pikir-pikir dulu ya Beib. Ohya.. sebentar.. aku mau terima telepon dari mamaku dulu ya Beib. Nanti ku telepon balik ya.”
Bu Shanti: “Iya.. iya.. titip salam aja buat mamamu, dari calon menantu gitu. Hihihi..”
Aku: “Siiip! See you..”
Setelah ku tutup telpon dar Bu Shanti, ku hampiri Mama Aleta yang tengah menghanduki tubuh telanjangnya.
“Ada berita gembira Mam,” ucapku sambil memeluknya dari belakang.
Lalu ku cium leher Mama Aleta yang berkeringat yang aromanya merangsang nafsuku.
“Berita apa?” tanyanya.
Lalu kuceritakan isi pembicaraanku dengan anaknya barusan.
“Masa dia ngomong begitu?” Mama Aleta seperti tak percaya.
“Kalau Mama gak percaya, aku telepon dia sekarang ya. ku loudspeaker ya biar Mama dengar sendiri”
“Oke,“ Mama Aleta mengangguk.
Lalu ku telpon dia dengan loudspeaker.
Bu Shanti: “Hallo Sayang..”
Aku: “Hallo juga. Pembicaraan tadi belum selesai Beib. Coba sekarang perjelas lagi. Supaya aku ngggak salah langkah.”
Bu Shanti pun mengulang keinginannya, menerangkan dengan jelas.
Aku: “Aku jadi enak dong.. hihihi..”
Bu Shanti: “Iya. Tapi cukup Mama dan diriku aja ya. Jangan nyari cewek lain lagi.”
Setelah ku tutup telpon dar Bu Shanti, aku menoleh kepada Mama Aleta yang sudah membelit tubuhnya dengan handuk.
“Sudah jelas kan?” tanyaku
Mama Aleta memeluk dan menciumi sepasang pipiku.
“Shanti memang anak yang sangat menyayangi mama..”
Tampak mata Mama Aleta berlinang-linang. Mungkin dia bahagia bercampur terharu setelah mendengar suara anaknya lewat hapeku tadi.
Tapi pelukannya malah membuatku hangat dan sange. Tanpa permisi lansung ku lumat bibirnya dengan ganas, kulepas handuk yang melilit tubuhnya, dan ku rebahkan tubuhnya di matras.
Setelah kulepas semua pakaianku, lansung kutindih dan lansung ku genjotkan kontol ngacengku pada liang memek ibunya dosenku itu. Permainan kamipun berlansung penuh gairah.
===x===
Apakah aku tidak kangen kepada Mama kandungku?
Tentu saja aku selalu merindukan beliau sebagai seorang anak kepada ibu kandungnya sekaligus sebagai seorang pemuda yang haus akan wanita yang the best bagiku, dalam segalanya. Baik dalam kelembutan dan kasih sayangnya maupun dalam hal kecantikannya dan kelezatan memeknya..!
Sabtu sepulangnya kuliah malam aku langsung menuju kampung Ibu kandungku, Pukul 10 malam aku sampai.
Mama mengenakan kimono membuka pintu depan.
“Belum tidur Mam?” tanyaku.
“Belum. Lagi ingat kamu terus dari siang tadi,” balas Mama sambil menutup dan mengunci pintu.
“Aku juga keingat Mama terus..” kataku sambil duduk di sofa ruang keluarga.
Mama pun duduk di samping kiriku, ku lingkarkan lengan kiriku ke pinggang Mama.
“Perasaan Mama agak langsingan sekarang,” ucapku sambil mengusap-usap perutnya.
“Ya Mama sekarang sering senam.. Kamu suka gak..?” balasnya.
"Suka lah mam.."
Tanganku meraba-raba memek Mama yang ternyata tidak mengenakan CD. Lalu aku duduk di karpet, di antara kedua paha putih mulus Mama.
Mama mengerti apa yang ku inginkan, Ia merenggangkan kedua pahanya, memajukan bokongnya ke pinggiran sofa hingga memeknya yang jembutnya senantiasa dicukur bersih berhadapan dengan mulutku.
Dua-tiga detik kemudian mulutku sudah nyungsep di permukaan memek mama yang mengobarkan gairah dalam jiwaku.
Mama mengelus-elus rambutku sambil merintih perlahan
“Aaaahh.. Chepiiii.. teruss nak.. oooh.. kamu adalah segalanya buat mama.. oooh.. Cheeepiiii..”
Kami pun bersenggama di ruang tamu itu yang berahir aku crot didalam memek mama saat posisi WOT dan berlanjut dengan ronde-ronde selanjutnya di kamar mama. Begitulah. Meski aku hanya menginap semalam di kampung Mama, sedikitnya aku menyetubuhi Mama tiga kali.
Sebelum tidur, Mama berkata, “Kamu masih ingat Tante Aini, adik bungsu Mama?”
“Iya. ada apa dengan Tante Aini mam?”
“Dia udah nikah dengan pengusaha minyak Arab yang kaya raya. Tapi jadi istri keempat. Walau pun begitu Tante Aini sangat dimanjakan oleh suaminya, karena dia itu istri termuda. Dia sering nanyain kamu, ingin bertemu kamu, ada sesuatu yang penting, katanya." terang Mama.
“Penting ya?”
“Katanya sih ada bisnis buat kamu. Mungkin dia ingin punya tangan kanan, orang yang bisa dipercaya.”
Mendengar kata “bisnis”, aku langsung tertarik.
“Dia tinggal di mana Mam?” tanyaku.
“Dia sekota denganmu.”
“Kalau memang penting, kenapa gak datang ke rumah aja? Apalagi sekota denganku gitu.”
“Mama juga udah nyuruh temui kamu di rumah papamu. Tapi gak enak katanya. Tapi besok dia ke sini. Tungguin ya.”
“Memangnya dia sudah janji mau datang besok?”
“Tadi waktu mama lihat lampu mobilmu muncul, mama ngirim WA padanya. Lalu dia balas besok ke sini.”
“Iya deh Mam.”
Lalu kami tidur sambil berpelukan dengan kontolku sedikit masuk di memeknya. Entah kenapa enak sekali saat sama Mama dalam posisi ini.
===o0o===
Jam duabelas siang aku dibangunkan Mama, “Sayang.. bangun Sayaaang.. Tante Aini sedang menuju ke sini.. ayo mandi dulu.. !”
Aku pun turun dari bed dan langsung melangkah ke kamar mandi Mama, dalam keadaan masih telanjang bulat.
Setelah mandi, kukenakan celana pendek putih dengan baju kaus berwarna hitam. Kemudian aku melangkah ke ruang makan. Ada dua roti bakar isi daging yang masih hangat.
“Ini boleh kumakan Mam?” tanyaku pada Mama yang sudah rapi dengan hijabnya.
“Iya, itu mama bikin buatmu, Minumnya apa? Kopi pahit seperti biasa?” balas Mama
“Iya Mam”
Tak lama kemudian Mama sudah muncul lagi dengan secangkir kopi di tangannya. Kopi iktu diletakkan di atas meja makan.
Baru aja aku selesai makan, terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumah Mama.
“Nah itu Tante Aini datang. Jemput ke depan gih,” kata Mama sambil masuk ke dalam kamarnya.
Aku melangkah ke ruang depan dan membukakan piuntu depan. Sebuah sedan sport merah sudah terparkir di bawah pohon kersen.
Anjrit.. Sedan sport itu jauh lebih mahal dari mobilku. Aku pernah iseng menanyakan harga sedan sport yang sejenis di showroom yang menjual mobil-mobil second. Harganya 16 milyar! Itu harga second. Apalagi harga barunya..!
Seorang wanita muda berpakaian muslimah serba coklat tua dan coklat muda turun dari sedang sport yang membuatku ngiler itu.
Aku pun spontan menghampirinya dan memuji di dalam hatiku, bahwa wanita muda yang adik bungsu Mama itu sangat cantik..!
“Tante Aini?” tanyaku sopan.
Ia menatapku dengan sepasang mata beningnya.
“Iya. Kamu Chepi?!” tanyanya.
“Iya Tante,” balasku.
Wanita muda berhijab yang kutaksir baru 22-23 tahunan mengepit sepasang pipiku dengan kedua telapak tangannya yang hyalus dan hangat.
“Chepi.. setelah gede kamu kok jadi tampan sekali sih?” cetusnya yang disusul dengan ciumannya di sepasang pipiku.
Harum parfum mahal pun tersiar ke penciumanku.
“Tante juga cantik sekali, laksana putri raja Arab.”
“Masa?! Jangan bawa-bawa Arab ah. Kita ini punya campuran darah Pakistan. Bukan Arab. Mmm.. aku sudah sering nanyain kamu sama mamamu. Baru sekarang bisa berjumpa ya?”
“Iya Tante. Mari masuk.”
Tante Aini yang jelita itu mengangguk, lalu melangkah di sampingku, masuk ke dalam rumah Mama.
Mama baru keluar dari kamarnya, kelihatan sudah bermake up sedikit. Mama berpelukan dan cipika-cipiki dengan Tante Aini. Kemudian kami duduk di ruang tamu.
Ohya.. Perawakan Tante Aini berbeda dengan Mama. Kalau Mama Tinggi montok dengan bokong dan sepasang toket gede, tubuh Tante Aini ini proporsional. Tinggi langsing tapi tidak kurus. Kulitnya pun tidak seputih kulit Mama, agak gelap warnanya. Dan wajah Tante Aini itu bukan hanya cantik manis mirip actris Tamannaah Bhatia asal india.
Setelah ngobrol singkat tentang masalah keluarga.
“Sekarang kita bicara masalah bisnis ya.” kata Tante Aini
“Siap Tante.”
“Silakan aja bahas masalah bisnisnya. Aku mau ke dapur dulu ya.” kata Mama
“Iya Kak,” balas Tante Aini sambil tersenyum.
Setelah Mama meninggalkan ruang tamu, Tante Aini menjelaskan Bisnis yang ia tawarkan. Pada dasarnya ia membutuhkan orang yang bisa dipercaya untuk mengurus usahanya. Di kotaku ada rumah yang bisa dijadikan kantor sekalian tempat tinggal. Dan ia ingin agar namaku bisa dipakai untuk perusahaannya itu.
“Aku tidak ingin suamiku tau bahwa ketiga kapal tanker itu aku yang beli. Karena penjualnya teman-teman suamiku sendiri. Sedangkan suamiku tak mengira aku punya uang sebanyak itu,” kata Tante Aini di tengah penuturannya.
“Lalu mau diapain kapal-kapal tanker yang sudah pada rusak itu Tan?”
“Ya nanti kamu tahu sendiri..” kata Tante Aini.
“Lalu peranku sebagai apa nanti Tante?”
“Kamu berperan sebagai pembeli. Tentu saja duitnya dari aku nanti.”
“Supaya tidak ketahuan oleh suami Tante?”
“Betul..”
“Tapi aku gak bisa bahasa Arab Tante.”
“Penjual pasti bawa translator, tenang aja.. Bagaimana?” tanyanya.
“Oke deh, Aku usahakan yang terbaik tan, tapi aku butuh teman, boleh..?”
“Boleh.. nanti urusan kita bukan cuma itu. Masih banyak yang akan kita kerjakan nanti. Yang penting Chepi harus jujur, ulet dan sabar.”
“Siap Tante.”
“Sekarang kuliahnya sudah semester berapa?”
“Baru semester tiga Tante.”
“Begitu ya. Sudah punya cewek?”
“Belum Tante. Mau konsen kuliah dulu.”
“Bagus.”
“Hehehee” balasku yang merasa malu sendiri.
Padahal aku sudah punya pengalaman banyak dalam masalah perempuan.
“Ayo Aini.. kita makan dulu seadanya.” ajak Mama.
“Aduuuh.. Kak Hafza suka repot terus kalau aku datang ke sini ya.”
“Walaaah.. repot apa cuma nyediain makan adik kesayanganku.. ayo Chepi temenin tantemu makan tuh..”
Aku pun bangkit berdiri dan mengikuti langkah Tante Aini menuju ruang makan.
Mama mengenakan kimono membuka pintu depan.
“Belum tidur Mam?” tanyaku.
“Belum. Lagi ingat kamu terus dari siang tadi,” balas Mama sambil menutup dan mengunci pintu.
“Aku juga keingat Mama terus..” kataku sambil duduk di sofa ruang keluarga.
Mama pun duduk di samping kiriku, ku lingkarkan lengan kiriku ke pinggang Mama.
“Perasaan Mama agak langsingan sekarang,” ucapku sambil mengusap-usap perutnya.
“Ya Mama sekarang sering senam.. Kamu suka gak..?” balasnya.
"Suka lah mam.."
Tanganku meraba-raba memek Mama yang ternyata tidak mengenakan CD. Lalu aku duduk di karpet, di antara kedua paha putih mulus Mama.
Mama mengerti apa yang ku inginkan, Ia merenggangkan kedua pahanya, memajukan bokongnya ke pinggiran sofa hingga memeknya yang jembutnya senantiasa dicukur bersih berhadapan dengan mulutku.
Dua-tiga detik kemudian mulutku sudah nyungsep di permukaan memek mama yang mengobarkan gairah dalam jiwaku.
Mama mengelus-elus rambutku sambil merintih perlahan
“Aaaahh.. Chepiiii.. teruss nak.. oooh.. kamu adalah segalanya buat mama.. oooh.. Cheeepiiii..”
Kami pun bersenggama di ruang tamu itu yang berahir aku crot didalam memek mama saat posisi WOT dan berlanjut dengan ronde-ronde selanjutnya di kamar mama. Begitulah. Meski aku hanya menginap semalam di kampung Mama, sedikitnya aku menyetubuhi Mama tiga kali.
Sebelum tidur, Mama berkata, “Kamu masih ingat Tante Aini, adik bungsu Mama?”
“Iya. ada apa dengan Tante Aini mam?”
“Dia udah nikah dengan pengusaha minyak Arab yang kaya raya. Tapi jadi istri keempat. Walau pun begitu Tante Aini sangat dimanjakan oleh suaminya, karena dia itu istri termuda. Dia sering nanyain kamu, ingin bertemu kamu, ada sesuatu yang penting, katanya." terang Mama.
“Penting ya?”
“Katanya sih ada bisnis buat kamu. Mungkin dia ingin punya tangan kanan, orang yang bisa dipercaya.”
Mendengar kata “bisnis”, aku langsung tertarik.
“Dia tinggal di mana Mam?” tanyaku.
“Dia sekota denganmu.”
“Kalau memang penting, kenapa gak datang ke rumah aja? Apalagi sekota denganku gitu.”
“Mama juga udah nyuruh temui kamu di rumah papamu. Tapi gak enak katanya. Tapi besok dia ke sini. Tungguin ya.”
“Memangnya dia sudah janji mau datang besok?”
“Tadi waktu mama lihat lampu mobilmu muncul, mama ngirim WA padanya. Lalu dia balas besok ke sini.”
“Iya deh Mam.”
Lalu kami tidur sambil berpelukan dengan kontolku sedikit masuk di memeknya. Entah kenapa enak sekali saat sama Mama dalam posisi ini.
===o0o===
Jam duabelas siang aku dibangunkan Mama, “Sayang.. bangun Sayaaang.. Tante Aini sedang menuju ke sini.. ayo mandi dulu.. !”
Aku pun turun dari bed dan langsung melangkah ke kamar mandi Mama, dalam keadaan masih telanjang bulat.
Setelah mandi, kukenakan celana pendek putih dengan baju kaus berwarna hitam. Kemudian aku melangkah ke ruang makan. Ada dua roti bakar isi daging yang masih hangat.
“Ini boleh kumakan Mam?” tanyaku pada Mama yang sudah rapi dengan hijabnya.
“Iya, itu mama bikin buatmu, Minumnya apa? Kopi pahit seperti biasa?” balas Mama
“Iya Mam”
Tak lama kemudian Mama sudah muncul lagi dengan secangkir kopi di tangannya. Kopi iktu diletakkan di atas meja makan.
Baru aja aku selesai makan, terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumah Mama.
“Nah itu Tante Aini datang. Jemput ke depan gih,” kata Mama sambil masuk ke dalam kamarnya.
Aku melangkah ke ruang depan dan membukakan piuntu depan. Sebuah sedan sport merah sudah terparkir di bawah pohon kersen.
Anjrit.. Sedan sport itu jauh lebih mahal dari mobilku. Aku pernah iseng menanyakan harga sedan sport yang sejenis di showroom yang menjual mobil-mobil second. Harganya 16 milyar! Itu harga second. Apalagi harga barunya..!
Seorang wanita muda berpakaian muslimah serba coklat tua dan coklat muda turun dari sedang sport yang membuatku ngiler itu.
Aku pun spontan menghampirinya dan memuji di dalam hatiku, bahwa wanita muda yang adik bungsu Mama itu sangat cantik..!
“Tante Aini?” tanyaku sopan.
Ia menatapku dengan sepasang mata beningnya.
“Iya. Kamu Chepi?!” tanyanya.
“Iya Tante,” balasku.
Wanita muda berhijab yang kutaksir baru 22-23 tahunan mengepit sepasang pipiku dengan kedua telapak tangannya yang hyalus dan hangat.
“Chepi.. setelah gede kamu kok jadi tampan sekali sih?” cetusnya yang disusul dengan ciumannya di sepasang pipiku.
Harum parfum mahal pun tersiar ke penciumanku.
“Tante juga cantik sekali, laksana putri raja Arab.”
“Masa?! Jangan bawa-bawa Arab ah. Kita ini punya campuran darah Pakistan. Bukan Arab. Mmm.. aku sudah sering nanyain kamu sama mamamu. Baru sekarang bisa berjumpa ya?”
“Iya Tante. Mari masuk.”
Tante Aini yang jelita itu mengangguk, lalu melangkah di sampingku, masuk ke dalam rumah Mama.
Mama baru keluar dari kamarnya, kelihatan sudah bermake up sedikit. Mama berpelukan dan cipika-cipiki dengan Tante Aini. Kemudian kami duduk di ruang tamu.
Ohya.. Perawakan Tante Aini berbeda dengan Mama. Kalau Mama Tinggi montok dengan bokong dan sepasang toket gede, tubuh Tante Aini ini proporsional. Tinggi langsing tapi tidak kurus. Kulitnya pun tidak seputih kulit Mama, agak gelap warnanya. Dan wajah Tante Aini itu bukan hanya cantik manis mirip actris Tamannaah Bhatia asal india.
Setelah ngobrol singkat tentang masalah keluarga.
“Sekarang kita bicara masalah bisnis ya.” kata Tante Aini
“Siap Tante.”
“Silakan aja bahas masalah bisnisnya. Aku mau ke dapur dulu ya.” kata Mama
“Iya Kak,” balas Tante Aini sambil tersenyum.
Setelah Mama meninggalkan ruang tamu, Tante Aini menjelaskan Bisnis yang ia tawarkan. Pada dasarnya ia membutuhkan orang yang bisa dipercaya untuk mengurus usahanya. Di kotaku ada rumah yang bisa dijadikan kantor sekalian tempat tinggal. Dan ia ingin agar namaku bisa dipakai untuk perusahaannya itu.
“Aku tidak ingin suamiku tau bahwa ketiga kapal tanker itu aku yang beli. Karena penjualnya teman-teman suamiku sendiri. Sedangkan suamiku tak mengira aku punya uang sebanyak itu,” kata Tante Aini di tengah penuturannya.
“Lalu mau diapain kapal-kapal tanker yang sudah pada rusak itu Tan?”
“Ya nanti kamu tahu sendiri..” kata Tante Aini.
“Lalu peranku sebagai apa nanti Tante?”
“Kamu berperan sebagai pembeli. Tentu saja duitnya dari aku nanti.”
“Supaya tidak ketahuan oleh suami Tante?”
“Betul..”
“Tapi aku gak bisa bahasa Arab Tante.”
“Penjual pasti bawa translator, tenang aja.. Bagaimana?” tanyanya.
“Oke deh, Aku usahakan yang terbaik tan, tapi aku butuh teman, boleh..?”
“Boleh.. nanti urusan kita bukan cuma itu. Masih banyak yang akan kita kerjakan nanti. Yang penting Chepi harus jujur, ulet dan sabar.”
“Siap Tante.”
“Sekarang kuliahnya sudah semester berapa?”
“Baru semester tiga Tante.”
“Begitu ya. Sudah punya cewek?”
“Belum Tante. Mau konsen kuliah dulu.”
“Bagus.”
“Hehehee” balasku yang merasa malu sendiri.
Padahal aku sudah punya pengalaman banyak dalam masalah perempuan.
“Ayo Aini.. kita makan dulu seadanya.” ajak Mama.
“Aduuuh.. Kak Hafza suka repot terus kalau aku datang ke sini ya.”
“Walaaah.. repot apa cuma nyediain makan adik kesayanganku.. ayo Chepi temenin tantemu makan tuh..”
Aku pun bangkit berdiri dan mengikuti langkah Tante Aini menuju ruang makan.
Pada waktu kami bertiga makan bersama, Tante Aini curhat.
Sebagai istri keempat ia sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan ketiga istri dari suaminya yang sudah berusia 65-an itu. Ketinggalan soal harta yang dimiliki. Karena itu ia sedang mengumpulkan harta melalui bisnis yang bakal dia kerjakan dengan aku yang jadi tangan kanannya.
“Silakan aja Dek. Sekalian aku titip Chepi ya. Tolong ikut pikirkan masa depannya nanti, Karena dia satu-satunya anakku.” balas Mama.
“Iya, iyaaa.. tenang saja kalau itu kak..”
Setelah makan siang selesai, kami melanjutkan obrolan di ruang tamu lagi.
Kemudian aku diajak Tante Aini untuk melihat rumah kosong yang akan jadi kantor bisnisnya.
Setelah pamitan, kami berangkat dengan mengendarai mobil masing-masing.
Di belakang setir pikiranku malah membayangkan seperti apa tubuh Tante Aini itu kalau sudah ditelanjangi nanti. Aneh memang. Perempuan berhijab selalu mendatangkan pesona tersendiri bagiku. Pesona sekaligus rasa penasaran yang mengairahkan.
Diam-diam kontolku ngaceng ketika aku masih mengikuti mobil Tante Aini menuju rumah yang belum pernah kulihat itu.
Setelah tiba aku di buat tertegun karena rumahnya besar dan megah.
Lalu aku dibawa masuk ke dalam. Ternyata rumah yang katanya kosong itu sudah lengkap segalanya. Sepintas kulihat perabotan rumah ini serba mahal.
Di bagian belakangnya ada taman dan kolam renangnya segala. Kolam ikan hias pun ada, tapi masih kosong, kalau aku sudah tinggal di sini, boleh di isi dengan ikan hias.
Ketika aku duduk di bangku kayu jati depan taman, Tante Aini duduk merapat di sampingku.
“Rumah ini kubangun secara diam-diam tanpa sepengetahuan suamiku. Tadinya akan kupakai untuk istirahat kalau suamiku tidak sedang bersamaku.”
“Kata Tante, istrinya yang tinggal di Indonesia hanya Tante sendiri, yang lainnya di timur tengah sana. Lalu bagaimana cara menggilirnya, kan jauh?” tanyaku.
“Dia punya jet pribadi, aku kebagian seminggu dalam sebulan.” balas Tante Aini.
“Owh.. iya ya.”
“Bagaimana? Kira-kira kamu nyaman tinggal di sini?”
“Nyaman Tante. Sangat nyaman.”
“Mmm.. begini Chep.. sebenarnya ada dua point yang membutuhkan dirimu. Pertama soal bisnis itu. Dan kedua.. hihihi.. malu mengatakannya..”
“Masalah apa Tante? Kok pakai malu segala?”
“Ketiga istri suamiku sudah punya anak semua. Tinggal aku yang belum. Jadi.. ada tugas rahasia buatmu Chep. Kamu mau menghamiliku?” tanya Tante Aini sambil merapatkan pipinya ke pipiku.
“Hamilin gimana Tante?" kataku sok bodoh.
"Kamu belum pernah gituan?" tanya Tante Aini sambil membuka kancing baju jubahnya satu persatu.
"Be..belum" balasku beralagak gagap.
Lalu, dengan baju jubah yang sudah terbelah dua di bagian depannya, Tante Aini melingkarkan lengannya di leherku.
"Serius?” bisisknya.
Aku mengangguk pasrah.
“Kamu setampan ini masak gak pernah sih Chepi..? aku aja rela melupakan statusmu yang keponakanku..” kata Tante Aini yang merabai wajahku.
Aku kembali mengangguk pasrah.
Ia arakan tangaku masuk lewat belahan bajunya untuk mendekap payudaranya yang masih mengenakan BH. Membuat kontolku semakin ngaceng dan sulit di kendalikan.
"Ta..ta.." Ucapanku terputus karena Tante Aini memagut bibirku.
"Gpp.. ayo remas tetekku.." pintanya
Tangan Tante Aini tahu-tahu sudah menggenggam kontolku yang sudah sangat tegang dibalik celana.
“Wow.. kontolmu international size Chepi..” bisik Tante Aini.
“Enggak lah Tante..” balasku tersipu malu karena kontolku sudah ngaceng berat.
Tiba-tiba Tante Aini membuka celanaku dan mengeluarkan kontolku, lalu ia kocok pelan.
"Hemm.. Urat kontolmu ternyata tebel ya Chep.." ucapnya lalu menjilat bibirku.
Aku mengangguk pasrah menikmati kelembutan tangannya di batang penisku sambil ku remasi toketnya.
“Mau nenen gak..?" tanyanya lalu menyingkap BHnya hingga Toketnya nyembul dengan pentil yang tegak menantang.
"Nih.. kenyoti toketku..” pintanya.
Aku lansung asyik mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya.
Tiba-tiba Tante Aini menjauhkan wajahku dari dadanya.
“Bentar ya..”
Tante Aini berdiri lalu melepas semua pakaiannya hingga bugil. Kemudian Tante Aini duduk di kursi lalu mengangkang sambil memamerkan memeknya yang plontos, tiada jembut sama sekali, tampak mengkilap saking bersihnya. Mungkin dia menggunakan wax untuk membersihkan jembutnya.
“Kamu ingin memasukkan kontolmu ke sini kan?” tanya Tante Aini sambil menepuk-nepuk memeknya dengan senyum menggoda di bibirnya.
Aku mengangguk dengan menelan ludah.
“Hihihihi.. Sini, sekarang aku sedang dalam masa subur..”
Aku mendekatinya, dengan pandangan terpusat ke arah memek Tante Aini. Lalu aku duduk di lantai, menghadap ke memeknya.
“Kenapa kamu duduk di lantai begitu?” tanya Tante Aini.
“Pengen lihat lebih jelas memek Tante,” balasku.
“Owh.. ya udah.. lihatin sepuasmu" kata Tante Aini sambil menjembeng memeknya hingga tempak lubang sempit nan basah.
Aku memandangi memek indahnya.
"Boleh kujilat Tante?"
"jilatin aja..” ucap Tante Aini sambil mmengusap-usap pahanya sendiri.
Tanpa basa basi lagi ku ciumi, lalu ku buka belahan memeknya dengan dua jariku terus ku jilat lubang sempitnya.
“Eeemmhh.. gini ya rasanya memek dijilat.. Enak Chep.."
“Memangnya suami Tante gak pernah?”
“Gak pernah.. Lansung coblos aja..”
Aku semakin bersemangat menjilati memeknya.
“Aaaah.. aaahhh.. Terus Chep..” ucap Tante Aini sambil mengusap-usap rambutku.
Ketika ku sedot dan jilati itilnya, Tante Aini semakin keenakan.
“Ooooh.. Chepppiii.. itilku.. Ooooh.. lagi Cheeep..”
Beberapa menit kemudian saat asik menikmati memeknya dengan mulutku Tante Ainik menjambak rambutku dan menekan pada memeknya, di kuti pahanya bergetar membuatku sedikit susah bernafas.
Serr! Serr! Srr!
“Sssshhh.. Nikmat banget sayang.."
Aku tidak menyahut, dan lansung melucuti semua pakaianku. Karena sudah gak tahan lagi, kontol ngacengku lansung ku sodokkan pada memeknya yang sudah becek oleh lendir orgasmenya.
Dan.. bless.. kontolku melesak ke dalamnya.
“Ouuh.. terasa benar kontolmu Cheeep..” ucap Tante Aini.
Sedetik kemudian aku pun sudah mulai mengentot liang memek yang terasa legitnya.
Peraduan dua alat kelamin kami berlansung cukup lama dalam posisi tersebut, lalu berganti posisi WOT yang berahir kami orgasme bersamaan.
"Kontol enak.. Pindah ke kamar yuk.. memekku pengen disodok lagi nih.." ucap Tante Aini sambil menarik kontolku menuju salah satu kamar.
Ku ikuti saja keinginan Tante Aini itu. Tapi aku enggan menurut begitu saja, sebelum sampai kamar, ku balik tubuhnya dan ku sodokkan kontolku pada memeknya dari belakang.
Kami melanjutkan menuju kamar dengan berhimpitan.
Sesampainya didalam kamar, ku tindihkan tubuhku hingga kami sama-sama telungkup di atas ranjang.
"Memek Tante enak.. Aku jadi pengen terus.." ucapku yang kembali menggenjot memeknya dengan posisi tersebut.
Tanganku pun meremas toketnya sambil menjilati lehernya yang keringatan, disertai denbgan gigitan-gigitan kecil.
“Sama sayang.. Tante juga pengen dientot terus Cheeeep.. kontolmu luar biasa enaknya Cheeeep..”
Sebagai istri keempat ia sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan ketiga istri dari suaminya yang sudah berusia 65-an itu. Ketinggalan soal harta yang dimiliki. Karena itu ia sedang mengumpulkan harta melalui bisnis yang bakal dia kerjakan dengan aku yang jadi tangan kanannya.
“Silakan aja Dek. Sekalian aku titip Chepi ya. Tolong ikut pikirkan masa depannya nanti, Karena dia satu-satunya anakku.” balas Mama.
“Iya, iyaaa.. tenang saja kalau itu kak..”
Setelah makan siang selesai, kami melanjutkan obrolan di ruang tamu lagi.
Kemudian aku diajak Tante Aini untuk melihat rumah kosong yang akan jadi kantor bisnisnya.
Setelah pamitan, kami berangkat dengan mengendarai mobil masing-masing.
Di belakang setir pikiranku malah membayangkan seperti apa tubuh Tante Aini itu kalau sudah ditelanjangi nanti. Aneh memang. Perempuan berhijab selalu mendatangkan pesona tersendiri bagiku. Pesona sekaligus rasa penasaran yang mengairahkan.
Diam-diam kontolku ngaceng ketika aku masih mengikuti mobil Tante Aini menuju rumah yang belum pernah kulihat itu.
Setelah tiba aku di buat tertegun karena rumahnya besar dan megah.
Lalu aku dibawa masuk ke dalam. Ternyata rumah yang katanya kosong itu sudah lengkap segalanya. Sepintas kulihat perabotan rumah ini serba mahal.
Di bagian belakangnya ada taman dan kolam renangnya segala. Kolam ikan hias pun ada, tapi masih kosong, kalau aku sudah tinggal di sini, boleh di isi dengan ikan hias.
Ketika aku duduk di bangku kayu jati depan taman, Tante Aini duduk merapat di sampingku.
“Rumah ini kubangun secara diam-diam tanpa sepengetahuan suamiku. Tadinya akan kupakai untuk istirahat kalau suamiku tidak sedang bersamaku.”
“Kata Tante, istrinya yang tinggal di Indonesia hanya Tante sendiri, yang lainnya di timur tengah sana. Lalu bagaimana cara menggilirnya, kan jauh?” tanyaku.
“Dia punya jet pribadi, aku kebagian seminggu dalam sebulan.” balas Tante Aini.
“Owh.. iya ya.”
“Bagaimana? Kira-kira kamu nyaman tinggal di sini?”
“Nyaman Tante. Sangat nyaman.”
“Mmm.. begini Chep.. sebenarnya ada dua point yang membutuhkan dirimu. Pertama soal bisnis itu. Dan kedua.. hihihi.. malu mengatakannya..”
“Masalah apa Tante? Kok pakai malu segala?”
“Ketiga istri suamiku sudah punya anak semua. Tinggal aku yang belum. Jadi.. ada tugas rahasia buatmu Chep. Kamu mau menghamiliku?” tanya Tante Aini sambil merapatkan pipinya ke pipiku.
“Hamilin gimana Tante?" kataku sok bodoh.
"Kamu belum pernah gituan?" tanya Tante Aini sambil membuka kancing baju jubahnya satu persatu.
"Be..belum" balasku beralagak gagap.
Lalu, dengan baju jubah yang sudah terbelah dua di bagian depannya, Tante Aini melingkarkan lengannya di leherku.
"Serius?” bisisknya.
Aku mengangguk pasrah.
“Kamu setampan ini masak gak pernah sih Chepi..? aku aja rela melupakan statusmu yang keponakanku..” kata Tante Aini yang merabai wajahku.
Aku kembali mengangguk pasrah.
Ia arakan tangaku masuk lewat belahan bajunya untuk mendekap payudaranya yang masih mengenakan BH. Membuat kontolku semakin ngaceng dan sulit di kendalikan.
"Ta..ta.." Ucapanku terputus karena Tante Aini memagut bibirku.
"Gpp.. ayo remas tetekku.." pintanya
Tangan Tante Aini tahu-tahu sudah menggenggam kontolku yang sudah sangat tegang dibalik celana.
“Wow.. kontolmu international size Chepi..” bisik Tante Aini.
“Enggak lah Tante..” balasku tersipu malu karena kontolku sudah ngaceng berat.
Tiba-tiba Tante Aini membuka celanaku dan mengeluarkan kontolku, lalu ia kocok pelan.
"Hemm.. Urat kontolmu ternyata tebel ya Chep.." ucapnya lalu menjilat bibirku.
Aku mengangguk pasrah menikmati kelembutan tangannya di batang penisku sambil ku remasi toketnya.
“Mau nenen gak..?" tanyanya lalu menyingkap BHnya hingga Toketnya nyembul dengan pentil yang tegak menantang.
"Nih.. kenyoti toketku..” pintanya.
Aku lansung asyik mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya.
Tiba-tiba Tante Aini menjauhkan wajahku dari dadanya.
“Bentar ya..”
Tante Aini berdiri lalu melepas semua pakaiannya hingga bugil. Kemudian Tante Aini duduk di kursi lalu mengangkang sambil memamerkan memeknya yang plontos, tiada jembut sama sekali, tampak mengkilap saking bersihnya. Mungkin dia menggunakan wax untuk membersihkan jembutnya.
“Kamu ingin memasukkan kontolmu ke sini kan?” tanya Tante Aini sambil menepuk-nepuk memeknya dengan senyum menggoda di bibirnya.
Aku mengangguk dengan menelan ludah.
“Hihihihi.. Sini, sekarang aku sedang dalam masa subur..”
Aku mendekatinya, dengan pandangan terpusat ke arah memek Tante Aini. Lalu aku duduk di lantai, menghadap ke memeknya.
“Kenapa kamu duduk di lantai begitu?” tanya Tante Aini.
“Pengen lihat lebih jelas memek Tante,” balasku.
“Owh.. ya udah.. lihatin sepuasmu" kata Tante Aini sambil menjembeng memeknya hingga tempak lubang sempit nan basah.
Aku memandangi memek indahnya.
"Boleh kujilat Tante?"
"jilatin aja..” ucap Tante Aini sambil mmengusap-usap pahanya sendiri.
Tanpa basa basi lagi ku ciumi, lalu ku buka belahan memeknya dengan dua jariku terus ku jilat lubang sempitnya.
“Eeemmhh.. gini ya rasanya memek dijilat.. Enak Chep.."
“Memangnya suami Tante gak pernah?”
“Gak pernah.. Lansung coblos aja..”
Aku semakin bersemangat menjilati memeknya.
“Aaaah.. aaahhh.. Terus Chep..” ucap Tante Aini sambil mengusap-usap rambutku.
Ketika ku sedot dan jilati itilnya, Tante Aini semakin keenakan.
“Ooooh.. Chepppiii.. itilku.. Ooooh.. lagi Cheeep..”
Beberapa menit kemudian saat asik menikmati memeknya dengan mulutku Tante Ainik menjambak rambutku dan menekan pada memeknya, di kuti pahanya bergetar membuatku sedikit susah bernafas.
Serr! Serr! Srr!
“Sssshhh.. Nikmat banget sayang.."
Aku tidak menyahut, dan lansung melucuti semua pakaianku. Karena sudah gak tahan lagi, kontol ngacengku lansung ku sodokkan pada memeknya yang sudah becek oleh lendir orgasmenya.
Dan.. bless.. kontolku melesak ke dalamnya.
“Ouuh.. terasa benar kontolmu Cheeep..” ucap Tante Aini.
Sedetik kemudian aku pun sudah mulai mengentot liang memek yang terasa legitnya.
Peraduan dua alat kelamin kami berlansung cukup lama dalam posisi tersebut, lalu berganti posisi WOT yang berahir kami orgasme bersamaan.
"Kontol enak.. Pindah ke kamar yuk.. memekku pengen disodok lagi nih.." ucap Tante Aini sambil menarik kontolku menuju salah satu kamar.
Ku ikuti saja keinginan Tante Aini itu. Tapi aku enggan menurut begitu saja, sebelum sampai kamar, ku balik tubuhnya dan ku sodokkan kontolku pada memeknya dari belakang.
Kami melanjutkan menuju kamar dengan berhimpitan.
Sesampainya didalam kamar, ku tindihkan tubuhku hingga kami sama-sama telungkup di atas ranjang.
"Memek Tante enak.. Aku jadi pengen terus.." ucapku yang kembali menggenjot memeknya dengan posisi tersebut.
Tanganku pun meremas toketnya sambil menjilati lehernya yang keringatan, disertai denbgan gigitan-gigitan kecil.
“Sama sayang.. Tante juga pengen dientot terus Cheeeep.. kontolmu luar biasa enaknya Cheeeep..”
Tante Aini menggoyangkan bokongnya yang indah bentuknya, liang memeknya semakin terasa luarbiasa legitnya.
Entah kenapa, goyangannya yang pro seperti goyangan lonte-lonte tiktok, semakin lama semakin nikmat terasa pada kontolku bikin aku kelojotan. Lalu ku ganti posisi kami jadi missionary with kissing and deep passionate.
Steleh lebih dari sepuluh menitan kami beradu dalam kenikmatan, akhirnya kami sama-sama crot.
Tante Aini menciumi bibirku.
“Terimakasih ya Chepi sayaaang.. semoga peju hangatmu bisa bikin aku hamil..” bisiknya.
Aku tak membalas, malah kembali memaju mundurkan kontolku yang masih ada didalam memeknya.
Entah kenapa penisku seakan gak mau tidur, padahal kemarin malam sudah bermain dengan mama sampai puas sekali.
"Udah Chep.. Tante mau ada urusan.." cegahnya tapi tak menjauhkanku, malah ia kembali mencium bibirku.
"Masih nagceng nih kontolku tan.."
"Maaf ya.. Tante gak bisa, walau tante juga masih pengen.." katanya yang kini sambil mendorongku agar melepaskannya.
"Iya deh tan.." kataku lalu rebaan disampingnya.
“Kalau aku sampai hamil.. aku akan kasih yang spesial buat kamu nanti.” ucap Tante Aini sambil menggenggam kontolku yang masih nagceng.
“Siap Tante.”
Kemudian kami bersih-bersih di dalam kamar mandi dan mengenakan pakaian lengkap kembali. Setelahnya kami ngobrol di pinggir taman membahas masalah bisnis secara keseluruhan.
Sebelum berpisah, Tante Aini menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat.
“Ini uang untuk biaya operasional nanti. Carilah sekretaris dan keperluan perkantoran yang kamu butuhkan. Pilihlah orang-orang yang kompeten dan bisa dipercaya, jangan asal asalan.
“Siap Tante,” ucapku sambil membuka amplop.
Wow.. ternyata isinya uang USD $ 100.000. Dan kalau dirupiahkan lebih dari 1 milyar..!
“Cari juga pembokat untuk bersih-bersih rumah dan masak untukmu. Rekrut juga empat atau lima orang satpam untuk bergiliran menjaga rumah ini. Kalau uang kurang, WA aja ke nomor hapeku nanti ku transfer"
“Siap Tante.”
Sebelum berpisah Tante Aini mencium bibirku dengan mesranya.
===o0o===
Siang-siang aku ditelepon Papa, menyuruhku menemui Mbak Nindie (kakakku seayah beda ibu) yang saat ini berada di rumah peninggalan ibunya.
Akupun lansung OTW.
Ohya.. Mbak Susie dan Mbak Nindie itu lahir dari satu ibu yang saat ini sudah meninggal. Di antara ketiga anak Papa, hanya aku yang masih punya ibu kandung.
Berbeda denganku, ibunya Mbak Susie dan Mbak Nindie asli orang Jawa.
Setelah sampai, tampak rumah peninggalan ibu mereka memang kecil, tapi tanahnya lumayan luas. Terletak di pinggir jalan besar pula. Sehingga aku bisa memasukkan mobilku ke pekarangan rumahnya.
Ketika aku turun dari mobil, ku lihat Mbak Nindie muncul dan menghampiriku. Kakakku yang berperawakan chubby itu tampak kelopak matanya bengkak.
“Chepi?! Kirain Papa..” ucap Mbak Nindie sambil memelukku.
Lalu kami cipika-cipiki.
“Papa lagi di luar kota Mbak. Nanti kalau sudah pulang pasti ke sini.”
“Kata Papa, Mamie lagi hamil ya?”
“Iya,” jawabku agak kaget.
“Kita bakal punya adek dong ya,” ucap Mbak Nindie sambil menuntunku ke dalam rumahnya.
“Iya,” balasku mengambang.
- yang di dalam perut Mamie itu calon anakku, bukan calon adik kita. - batinku
Di dalam rumah itu kelihatan serba sederhana. Di ruang tamu hanya ada sebuah dipan jati ditutup dengan sehelai tikar. Tidak ada sofa, tidak ada apa-apa.
Di atas dipan itu kami duduk.
“Mas Purwo gak ikut pulang Mbak?” tanyaku menanyakan suami Mbak Nindie.
“Aku sudah cerai dengan dia Chep,” balas Mbak Nindie sambil memegang pergelangan tanganku.
“Cerai? Kenapa?”
Dia pun meceritakan semua: Suaminya yang bernama Purwo itu sering KDRT, sedikit-sedikit mukul, main fisik pokoknya. Bahkan saat di sedang hamil aja suaminya itu gak segan-segan main fisik. Ditambah juga main cewek.
“Wah, lelaki semacam itu sih memang harus ditinggalin Mbak.”
“Iya.. hiks.. aku jadi kangen Pipit terus.. hiks..“ keluhnya sambil memelukku.
Pipit adalah anak satu-satunya Mbak Nindie.
Bukannya aku iba, Iblis dalam benakku malah berkobar, pikiranku malah melayang ke satu arah.. kenikmatan menyetubuhinya.
Saat aku masih kecil, aku juga sering ngintip Mbak Nindie mandi..! Dan aku selalu saja merasa terangsang melihat toket dan bokong gedenya..!
“Terus, untuk kebutuhan sehari-hari Mbak dari mana?” tanyaku berusaha menahan birahi.
“Belum tau. Mungkin mau nyari kerja aja.”
“Kerja sama aku mau?”
“Memangnya kamu punya perusahaan?”
“Nanti juga tau sendiri, kalau Mbak mau, sekarang ganti baju. Kita pergi sekarang.”
“Sekarang perginya?”
“Iya.”
Mbak Nindie masuk ke dalam kamarnya, meninggalkanku sendirian.
Dan.. aku mengikuti langkah Mbak Nindie dengan mengendap-endap. Kebetulan pintu kamar Mbak Nindie tidak tertutup rapat.
Di dekat pintu kamar Mbak Nindie, kucopot sepatuku, supaya bisa melangkah senyap. Lalu aku melongok ke dalam kamar yang pintunya terbuka setengahnya.
Alamaaak.. Mbak Nindie sudah melepaskan dasternya dan tinggal mengenakan celana dalam, sementara toket gedenya mengantung tanpa BH.
Saat Mbak Nindie sedang membelakangi pintu sambil memilih pakaian dari dalam lemarinya, aku mengendap-endap masuk. Setelah aku berada tepat di belakangnya, langsung kujulurkan tanganku untuk menangkap sepasang toketrnya.
“Chepi..! Apa-apaan ini“ seru Mbak Nindie sambil memberontak.
“Maaf Mbak aku sudah nafsu sama toketmu..” kataku mempertahankan posisi sambil kuremas-remas kedua gunung gedenya.
"Lepasi!" bentaknya.
Aku yang kepalang nafsu, tak menghiraukannya. Ku dorong tubuhnya hingga menghimpit tembok, menekuk kedua tangannya kebelakang, ku rogoh CDnya lalu ku kobel memeknya yang berjembut lebat.
"Aahh.. Gak boleh gini Chep.. Stop!"
“Purwo memang lelaki bodoh. Wanita semontok ini disia-siakan..” balasku.
"Stop! Stop Chep.."
"Niikmati aja Mbak.. Aku gak mau menyakitimu.." kataku dengan mempererat pitingnku dsn mempercepat kocokan jariku didalam memeknya.
"Ahh.. Uhh.. Udah.. Chepiii..!!" teriaknya.
Aku tak menghiraukannya.
Beberapa menit kemudian kujilati leher dan kupingnya saat kedutan memeknya terasa semakin insten hiangga akhirnya ia orgasme.
"Aaaaahh.. Udah Chep!!" desah panjangnya diiringi tubuhnya sedikit bergetar.
Saat Mbak Nindie masih diterjang gelombang orgasme, ku copot tali sepatuku, lalu ku ikat kedua tangnya.
Setelah ku lepas celana serta sempakku, ku rebahkan tubuh Mbak Nindie dilantai dan tanpa permisi ku gagahi tubuhnya lalu menancapkan batang penisku pada memek berlendirnya dengan agak kasar hingga terbenam setengahnya.
"Auuuggh..!!" dia mengaduh.
Walau sudah melahirkan anak, tapi memeknya terasa sempit dan sangat menggigit batang kejantananku.
"Sakit Cheep!"
“Maaf Mbak, Aku sudah berhayal sejak dulu..” ucapku sambil mengcakup sepasang toket gewdenya dengan kedua tanganku.
"Kita gak boleh gini Chep.. Stop!"
"Udah terlanjur Mbak.." balsku mulai menggenjot memeknya.
"Hiks.. Hiks.. Biadap kamu.."
Aku tak peduli dan terus memaju mundurkan kontolku sammbil meremasi toketnya dan memainkan itilnya.
Ditengah kesedihan dan berontakan kakak tiriku, kontolku yang maju mundur diliang memeknya kian intens dan semakin dalam menjajah liang kewanitaannya.
Entah kenapa, goyangannya yang pro seperti goyangan lonte-lonte tiktok, semakin lama semakin nikmat terasa pada kontolku bikin aku kelojotan. Lalu ku ganti posisi kami jadi missionary with kissing and deep passionate.
Steleh lebih dari sepuluh menitan kami beradu dalam kenikmatan, akhirnya kami sama-sama crot.
Tante Aini menciumi bibirku.
“Terimakasih ya Chepi sayaaang.. semoga peju hangatmu bisa bikin aku hamil..” bisiknya.
Aku tak membalas, malah kembali memaju mundurkan kontolku yang masih ada didalam memeknya.
Entah kenapa penisku seakan gak mau tidur, padahal kemarin malam sudah bermain dengan mama sampai puas sekali.
"Udah Chep.. Tante mau ada urusan.." cegahnya tapi tak menjauhkanku, malah ia kembali mencium bibirku.
"Masih nagceng nih kontolku tan.."
"Maaf ya.. Tante gak bisa, walau tante juga masih pengen.." katanya yang kini sambil mendorongku agar melepaskannya.
"Iya deh tan.." kataku lalu rebaan disampingnya.
“Kalau aku sampai hamil.. aku akan kasih yang spesial buat kamu nanti.” ucap Tante Aini sambil menggenggam kontolku yang masih nagceng.
“Siap Tante.”
Kemudian kami bersih-bersih di dalam kamar mandi dan mengenakan pakaian lengkap kembali. Setelahnya kami ngobrol di pinggir taman membahas masalah bisnis secara keseluruhan.
Sebelum berpisah, Tante Aini menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat.
“Ini uang untuk biaya operasional nanti. Carilah sekretaris dan keperluan perkantoran yang kamu butuhkan. Pilihlah orang-orang yang kompeten dan bisa dipercaya, jangan asal asalan.
“Siap Tante,” ucapku sambil membuka amplop.
Wow.. ternyata isinya uang USD $ 100.000. Dan kalau dirupiahkan lebih dari 1 milyar..!
“Cari juga pembokat untuk bersih-bersih rumah dan masak untukmu. Rekrut juga empat atau lima orang satpam untuk bergiliran menjaga rumah ini. Kalau uang kurang, WA aja ke nomor hapeku nanti ku transfer"
“Siap Tante.”
Sebelum berpisah Tante Aini mencium bibirku dengan mesranya.
===o0o===
Siang-siang aku ditelepon Papa, menyuruhku menemui Mbak Nindie (kakakku seayah beda ibu) yang saat ini berada di rumah peninggalan ibunya.
Akupun lansung OTW.
Ohya.. Mbak Susie dan Mbak Nindie itu lahir dari satu ibu yang saat ini sudah meninggal. Di antara ketiga anak Papa, hanya aku yang masih punya ibu kandung.
Berbeda denganku, ibunya Mbak Susie dan Mbak Nindie asli orang Jawa.
Setelah sampai, tampak rumah peninggalan ibu mereka memang kecil, tapi tanahnya lumayan luas. Terletak di pinggir jalan besar pula. Sehingga aku bisa memasukkan mobilku ke pekarangan rumahnya.
Ketika aku turun dari mobil, ku lihat Mbak Nindie muncul dan menghampiriku. Kakakku yang berperawakan chubby itu tampak kelopak matanya bengkak.
“Chepi?! Kirain Papa..” ucap Mbak Nindie sambil memelukku.
Lalu kami cipika-cipiki.
“Papa lagi di luar kota Mbak. Nanti kalau sudah pulang pasti ke sini.”
“Kata Papa, Mamie lagi hamil ya?”
“Iya,” jawabku agak kaget.
“Kita bakal punya adek dong ya,” ucap Mbak Nindie sambil menuntunku ke dalam rumahnya.
“Iya,” balasku mengambang.
- yang di dalam perut Mamie itu calon anakku, bukan calon adik kita. - batinku
Di dalam rumah itu kelihatan serba sederhana. Di ruang tamu hanya ada sebuah dipan jati ditutup dengan sehelai tikar. Tidak ada sofa, tidak ada apa-apa.
Di atas dipan itu kami duduk.
“Mas Purwo gak ikut pulang Mbak?” tanyaku menanyakan suami Mbak Nindie.
“Aku sudah cerai dengan dia Chep,” balas Mbak Nindie sambil memegang pergelangan tanganku.
“Cerai? Kenapa?”
Dia pun meceritakan semua: Suaminya yang bernama Purwo itu sering KDRT, sedikit-sedikit mukul, main fisik pokoknya. Bahkan saat di sedang hamil aja suaminya itu gak segan-segan main fisik. Ditambah juga main cewek.
“Wah, lelaki semacam itu sih memang harus ditinggalin Mbak.”
“Iya.. hiks.. aku jadi kangen Pipit terus.. hiks..“ keluhnya sambil memelukku.
Pipit adalah anak satu-satunya Mbak Nindie.
Bukannya aku iba, Iblis dalam benakku malah berkobar, pikiranku malah melayang ke satu arah.. kenikmatan menyetubuhinya.
Saat aku masih kecil, aku juga sering ngintip Mbak Nindie mandi..! Dan aku selalu saja merasa terangsang melihat toket dan bokong gedenya..!
“Terus, untuk kebutuhan sehari-hari Mbak dari mana?” tanyaku berusaha menahan birahi.
“Belum tau. Mungkin mau nyari kerja aja.”
“Kerja sama aku mau?”
“Memangnya kamu punya perusahaan?”
“Nanti juga tau sendiri, kalau Mbak mau, sekarang ganti baju. Kita pergi sekarang.”
“Sekarang perginya?”
“Iya.”
Mbak Nindie masuk ke dalam kamarnya, meninggalkanku sendirian.
Dan.. aku mengikuti langkah Mbak Nindie dengan mengendap-endap. Kebetulan pintu kamar Mbak Nindie tidak tertutup rapat.
Di dekat pintu kamar Mbak Nindie, kucopot sepatuku, supaya bisa melangkah senyap. Lalu aku melongok ke dalam kamar yang pintunya terbuka setengahnya.
Alamaaak.. Mbak Nindie sudah melepaskan dasternya dan tinggal mengenakan celana dalam, sementara toket gedenya mengantung tanpa BH.
Saat Mbak Nindie sedang membelakangi pintu sambil memilih pakaian dari dalam lemarinya, aku mengendap-endap masuk. Setelah aku berada tepat di belakangnya, langsung kujulurkan tanganku untuk menangkap sepasang toketrnya.
“Chepi..! Apa-apaan ini“ seru Mbak Nindie sambil memberontak.
“Maaf Mbak aku sudah nafsu sama toketmu..” kataku mempertahankan posisi sambil kuremas-remas kedua gunung gedenya.
"Lepasi!" bentaknya.
Aku yang kepalang nafsu, tak menghiraukannya. Ku dorong tubuhnya hingga menghimpit tembok, menekuk kedua tangannya kebelakang, ku rogoh CDnya lalu ku kobel memeknya yang berjembut lebat.
"Aahh.. Gak boleh gini Chep.. Stop!"
“Purwo memang lelaki bodoh. Wanita semontok ini disia-siakan..” balasku.
"Stop! Stop Chep.."
"Niikmati aja Mbak.. Aku gak mau menyakitimu.." kataku dengan mempererat pitingnku dsn mempercepat kocokan jariku didalam memeknya.
"Ahh.. Uhh.. Udah.. Chepiii..!!" teriaknya.
Aku tak menghiraukannya.
Beberapa menit kemudian kujilati leher dan kupingnya saat kedutan memeknya terasa semakin insten hiangga akhirnya ia orgasme.
"Aaaaahh.. Udah Chep!!" desah panjangnya diiringi tubuhnya sedikit bergetar.
Saat Mbak Nindie masih diterjang gelombang orgasme, ku copot tali sepatuku, lalu ku ikat kedua tangnya.
Setelah ku lepas celana serta sempakku, ku rebahkan tubuh Mbak Nindie dilantai dan tanpa permisi ku gagahi tubuhnya lalu menancapkan batang penisku pada memek berlendirnya dengan agak kasar hingga terbenam setengahnya.
"Auuuggh..!!" dia mengaduh.
Walau sudah melahirkan anak, tapi memeknya terasa sempit dan sangat menggigit batang kejantananku.
"Sakit Cheep!"
“Maaf Mbak, Aku sudah berhayal sejak dulu..” ucapku sambil mengcakup sepasang toket gewdenya dengan kedua tanganku.
"Kita gak boleh gini Chep.. Stop!"
"Udah terlanjur Mbak.." balsku mulai menggenjot memeknya.
"Hiks.. Hiks.. Biadap kamu.."
Aku tak peduli dan terus memaju mundurkan kontolku sammbil meremasi toketnya dan memainkan itilnya.
Ditengah kesedihan dan berontakan kakak tiriku, kontolku yang maju mundur diliang memeknya kian intens dan semakin dalam menjajah liang kewanitaannya.
Saat kontolku pada akhirnya dapat terbenam seutuhnya disaat itu juga kakak tiriku kembali mendapatkan orgasme yang dahsyat sampai mucrat (squirt) membasahi sekujur batang kontol serta selangkanganku.
"Haag! Haag! Hag!" suaranya mengejan mengekspresikan setiap semburan lendir yang keluar.
Kudekap tubuhnya yang bergetar hebat itu sabil menekan kuat kontolku pada rongga memeknya yang terdalam dan kudiamkan disana.
"Maaf mbak.. Ini udah terlanjur, kita nikmati saja sampai tuntas.." bisikku saat Mbak Nindie sudah melewati gelombang orgasmenya.
Ku ciumi dan ku jilati leharnya, telinganya, dan ku lumat bibirnya dengan gemas.
Mbak Nindie tak mersepon dan tak protes atas semua perlakuanku. Tapi saat kontolku kembali bergerak di bersuara.
"Pelan-pelan Chep.." pintanya.
Kuturuti permintannya sambil membelai wajah pasrahnya.
"Tanganku sakit, tolong lepasin.." pintanya lagi.
“Jawab dulu dengan jujur, enak gak permainanku?" balasku
"Awalnya sakit, kontolmu besar banget. Tapi akhirnya enak.. dan makin enak.."
Setelah ku lepas ikatan tangnya dan ia ingin memelukku tapi tidak jadi dan merentangkan kedua tangnya, mungkin masih jaim.
Sambil nyusu dan memainkan pentil pada toket gedenya, ku percepat sodoakn kontolku pada selangkangnnya. Mbak Nindie mulai mengeluarkan suara, bukan suara protes melainkan suara desahan dan desisan merdu.
Lama-kelamaan kakak tiriku sudah tak jaim lagi, dia mulai mengelusi lenganku, dadaku dan wajahku.
"Enak.. Terus.. Ahh.. Kontol enak.." uacpnya tanpa malu-malu lagi.
Persetbuhan itu berahir dengan aku menyemburkan peju kentalku dirongga terdalam memeknya.
===o0o===
Aku dan Mbak Nindie kini sudah sampai dirumah kosong milik Tante Aini.
“Ini rumah siapa Chep kok gede banget?”
“Rumah yang jadi kantorku ini milik Tante Aini adik Mama."
“Pasti adik mamamu itu orang tajir ya.. Tapi kok belum ada komputer dan semacamnya layaknya kantor gitu?” tanyanya saat ku ajak melihat-lihat isi rumah.
"Ya bisa dibilang begitu, suaminya juragan minyak orang Timur Tengah. Perusahaannya memang baru dibuka bulan depan..”
“Oooo.. pantesan..”
Ketika berada di kitchen seat modern yang peralatannya serba mahal ini, Mbak Nindie berkata,
“Aku jadi juru masak ajah bisa gak..?”
“Boleh..” balasku
“Aku kan punya hobby masak. Waktu di Ternate juga pernah jadi asisten chef di sebuah restoran.”
"Oh gitu.. itu kamar istirahat untuk juru masak..” kataku menunjuk ke kamar yang berdampingan dengan kitchen.
Lalu ku ajak melihat isi kamar.
“Waaaah.. kamarnya bagus sekali..” ucap Mbak Nindie
"Mbak tinggal disini aja.."
"Emang boleh?"
“Boleh.. Tapi selama seminggu Mbak bakal sendirian di sini. Aku masih banyak urusan yang belum selesai. Berani?” balasku sambil duduk di kasur.
“Berani..“
Mbak Nindie lalu duduk disebelahku sambil melepaskan jaketnya.
OMG! Ternyata dia mengenakan kaos Crop Top ketat sang menampakkan belahan dadanya yang tobrut menantang jiwa kejantannan setiap pria, apalagi kaosnya sangat tipis menampakkan toketnya tanpa BH ditambah pentilnya yang mencuat keras seakan ingin di kenyot.
“Waoo Mbak.. ooh.. pentilmu..”
“Kamu masih kuat gak..? aku pengen lagi..” bisiknya.
"Kuat kok.." Aku mengangguk dengan semangat.
Tanpa permisi dan dengan sangat tidak sopan Mbak Nindie melepas celana dan sempakku hingga kontolku terbebas. Sambil duduk disampingku ia permainkan kejantananku dengan lembut.
"Sebenarnya aku juga sudah lama membayangkan bisa ngewe sama kamu Chep.."
"Ohya..!?" aku kaget dan tak menyangka.
"Iya.. Saat kamu masih S-M-A dulu, pagi itu aku mau bangunin kamu, tapi gak jadi karena kamu terlelap, ngorok pula dengan kondisi celana pendek dan sempakmu ada di dengkul serta kontolmu lagi ngaceng." terangnya.
"Masak sih aku gitu..?"
"Iya.. Aku sempat memegangnya kala itu.. Aku jadi berhayal, 'gimana rasanya kalau kontolmu masuk dimemekku?'. dan kesampaian tadi dirumah saat kamu memperkosaku.." terangnya lagi.
"Terus..?"
"Sekarang perkosa aku lagi.. Aku pengen dientot kontolmu lagi.."
Setelah kulucuti semua pakain kakak tiriku itu, aku ajari dia nge-Blowjob penisku hingga cukup bisa menservis kejantanan pria.
Sebelum kami kembali ngewe, aku pun memberinya service jilmek dengan posisi dia nunggung.
Kuperkosa memeknya dalam posisi doggy style dengan kedua tanganku juga menservice toket gedenya, pentil dan klitorisnya.
"Ini.. Ahh.. lebih enak dari yang tadi Chep.. Ssshh.. Enak bangets.." rancaunya.
"Memek mbak juga enak.. goyangin pinggul mbak biar makin enak" kataku
Mbak Nindie desah-desah sambil menggoyangkan pinggulnya secara tertur, kontolku terombang-ambing seperti perahu oleng di tengah samudra rasanya luar biasa nikmatnya.
Ini membuatku semakin bergairah untuk mengentot kakak tiriku ini.
Aku telah merubah kakak tiriku jadi binal saat posisi kami WOT, dia bergoyang erotis layaknya biduan dangdut jaman sekarang.
Akibatnya.. kami sama-sama crot dalam posisi tersebut.
Dia ambruk diatasku.
"Haa.. Haa.. Nikmat sekali sayang.." bisiknya lemah.
Ku elus-elus punggungnya, kontolku masih tertancap di vaginanya yang sudah basah.
“Rahasiakan ini ya..” katanya.
“Tentu aja.." balasku.
“Sebenarnya saat ini ada yang sangat membutuhkanmu Chep.”
“Membutuhkan apa?”
“Membutuhkan ini,” balas Mbak Nindie sambil megoyang kontolku yang masih tertancap di memeknya.
“Maksudnya?”
“Kamu kan tahu Mbak Susie belum punya anak.. Sama suami pertama yang sebaya gak hasil.. dan sekarang sama suami yang kedua juga belum ada hasil.”
“Iya.. terus kenapa? kan suami yang sekarang tajir.. bisa adopsi anak kan..”
Lalu banyak lagi yang Mbak Nindie ceritakan mengenai Mbak Susie, yang intinya aku disuruh memperkosa Mbak Susie juga, mungkin bisa hamil.
"Eamngnya persetubuhan kita ini bakal jadi anak, kok aku haru ngewe sama Mbak Susie?"
"Aku gak mau hamil lagi.."
"Tapi aku crot didalam.."
"Aku beberapa hari yang lalu sebelum cerai dan pulang kerumah lama masih melakukan suntik KB.. jadi aman.."
"Ya atur aja lah mbak.."
Sebenarnya aku masih pengen ngentot lagi sama Mbak Nindie. Tapi aku teringat pada Mama Aleta yang pasti meminta “sesuatu” nanti setelah aku ada di rumah Bu Shanti. Karena itu aku meninggalkan Mbak Nindie di rumah itu. Tentu saja aku memberi uang Mbak Nindie, untuk kebutuhan sehari-harinya.
Setibanya di rumah Bu Shanti, jam menunjukkan pukul delapan malam.
Seperti yang telah ku prediksi sebelumnya, setelah aku mandi, calon mertuaku itu menungguku dengan senyum mengoda penuh birahi.
Untunglah aku tidak terlalu habis-habisan dengan Mbak Nindie tadi, sehingga aku masih menyisakan tenaga untuk menyetubuhi Mama Aleta.
Bahkan di malam-malam selanjutnya, Mama Aleta selalu menggugahkan kejantananku untuk menggaulinya.
Sampai akhirnya Bu Shanti pulang dari Singapore, dengan oleh-oleh yang cukup banyak.
Tadinya kukira Bu Shanti akan membahas masalah hubunganku dengan Mama Aleta. Tapi ternyata tidak sama sekali. Dia malah memperlihatkanh surat beasiswa program doctornya di Inggris.
“Minggu depan aku akan langsung terbang ke London,” kata Bu Shanti lalu mencium sepasang pipiku.
“Kok diem aja? Gak setuju aku pergi ke Inggris?” tanyanya.
"Haag! Haag! Hag!" suaranya mengejan mengekspresikan setiap semburan lendir yang keluar.
Kudekap tubuhnya yang bergetar hebat itu sabil menekan kuat kontolku pada rongga memeknya yang terdalam dan kudiamkan disana.
"Maaf mbak.. Ini udah terlanjur, kita nikmati saja sampai tuntas.." bisikku saat Mbak Nindie sudah melewati gelombang orgasmenya.
Ku ciumi dan ku jilati leharnya, telinganya, dan ku lumat bibirnya dengan gemas.
Mbak Nindie tak mersepon dan tak protes atas semua perlakuanku. Tapi saat kontolku kembali bergerak di bersuara.
"Pelan-pelan Chep.." pintanya.
Kuturuti permintannya sambil membelai wajah pasrahnya.
"Tanganku sakit, tolong lepasin.." pintanya lagi.
“Jawab dulu dengan jujur, enak gak permainanku?" balasku
"Awalnya sakit, kontolmu besar banget. Tapi akhirnya enak.. dan makin enak.."
Setelah ku lepas ikatan tangnya dan ia ingin memelukku tapi tidak jadi dan merentangkan kedua tangnya, mungkin masih jaim.
Sambil nyusu dan memainkan pentil pada toket gedenya, ku percepat sodoakn kontolku pada selangkangnnya. Mbak Nindie mulai mengeluarkan suara, bukan suara protes melainkan suara desahan dan desisan merdu.
Lama-kelamaan kakak tiriku sudah tak jaim lagi, dia mulai mengelusi lenganku, dadaku dan wajahku.
"Enak.. Terus.. Ahh.. Kontol enak.." uacpnya tanpa malu-malu lagi.
Persetbuhan itu berahir dengan aku menyemburkan peju kentalku dirongga terdalam memeknya.
===o0o===
Aku dan Mbak Nindie kini sudah sampai dirumah kosong milik Tante Aini.
“Ini rumah siapa Chep kok gede banget?”
“Rumah yang jadi kantorku ini milik Tante Aini adik Mama."
“Pasti adik mamamu itu orang tajir ya.. Tapi kok belum ada komputer dan semacamnya layaknya kantor gitu?” tanyanya saat ku ajak melihat-lihat isi rumah.
"Ya bisa dibilang begitu, suaminya juragan minyak orang Timur Tengah. Perusahaannya memang baru dibuka bulan depan..”
“Oooo.. pantesan..”
Ketika berada di kitchen seat modern yang peralatannya serba mahal ini, Mbak Nindie berkata,
“Aku jadi juru masak ajah bisa gak..?”
“Boleh..” balasku
“Aku kan punya hobby masak. Waktu di Ternate juga pernah jadi asisten chef di sebuah restoran.”
"Oh gitu.. itu kamar istirahat untuk juru masak..” kataku menunjuk ke kamar yang berdampingan dengan kitchen.
Lalu ku ajak melihat isi kamar.
“Waaaah.. kamarnya bagus sekali..” ucap Mbak Nindie
"Mbak tinggal disini aja.."
"Emang boleh?"
“Boleh.. Tapi selama seminggu Mbak bakal sendirian di sini. Aku masih banyak urusan yang belum selesai. Berani?” balasku sambil duduk di kasur.
“Berani..“
Mbak Nindie lalu duduk disebelahku sambil melepaskan jaketnya.
OMG! Ternyata dia mengenakan kaos Crop Top ketat sang menampakkan belahan dadanya yang tobrut menantang jiwa kejantannan setiap pria, apalagi kaosnya sangat tipis menampakkan toketnya tanpa BH ditambah pentilnya yang mencuat keras seakan ingin di kenyot.
“Waoo Mbak.. ooh.. pentilmu..”
“Kamu masih kuat gak..? aku pengen lagi..” bisiknya.
"Kuat kok.." Aku mengangguk dengan semangat.
Tanpa permisi dan dengan sangat tidak sopan Mbak Nindie melepas celana dan sempakku hingga kontolku terbebas. Sambil duduk disampingku ia permainkan kejantananku dengan lembut.
"Sebenarnya aku juga sudah lama membayangkan bisa ngewe sama kamu Chep.."
"Ohya..!?" aku kaget dan tak menyangka.
"Iya.. Saat kamu masih S-M-A dulu, pagi itu aku mau bangunin kamu, tapi gak jadi karena kamu terlelap, ngorok pula dengan kondisi celana pendek dan sempakmu ada di dengkul serta kontolmu lagi ngaceng." terangnya.
"Masak sih aku gitu..?"
"Iya.. Aku sempat memegangnya kala itu.. Aku jadi berhayal, 'gimana rasanya kalau kontolmu masuk dimemekku?'. dan kesampaian tadi dirumah saat kamu memperkosaku.." terangnya lagi.
"Terus..?"
"Sekarang perkosa aku lagi.. Aku pengen dientot kontolmu lagi.."
Setelah kulucuti semua pakain kakak tiriku itu, aku ajari dia nge-Blowjob penisku hingga cukup bisa menservis kejantanan pria.
Sebelum kami kembali ngewe, aku pun memberinya service jilmek dengan posisi dia nunggung.
Kuperkosa memeknya dalam posisi doggy style dengan kedua tanganku juga menservice toket gedenya, pentil dan klitorisnya.
"Ini.. Ahh.. lebih enak dari yang tadi Chep.. Ssshh.. Enak bangets.." rancaunya.
"Memek mbak juga enak.. goyangin pinggul mbak biar makin enak" kataku
Mbak Nindie desah-desah sambil menggoyangkan pinggulnya secara tertur, kontolku terombang-ambing seperti perahu oleng di tengah samudra rasanya luar biasa nikmatnya.
Ini membuatku semakin bergairah untuk mengentot kakak tiriku ini.
Aku telah merubah kakak tiriku jadi binal saat posisi kami WOT, dia bergoyang erotis layaknya biduan dangdut jaman sekarang.
Akibatnya.. kami sama-sama crot dalam posisi tersebut.
Dia ambruk diatasku.
"Haa.. Haa.. Nikmat sekali sayang.." bisiknya lemah.
Ku elus-elus punggungnya, kontolku masih tertancap di vaginanya yang sudah basah.
“Rahasiakan ini ya..” katanya.
“Tentu aja.." balasku.
“Sebenarnya saat ini ada yang sangat membutuhkanmu Chep.”
“Membutuhkan apa?”
“Membutuhkan ini,” balas Mbak Nindie sambil megoyang kontolku yang masih tertancap di memeknya.
“Maksudnya?”
“Kamu kan tahu Mbak Susie belum punya anak.. Sama suami pertama yang sebaya gak hasil.. dan sekarang sama suami yang kedua juga belum ada hasil.”
“Iya.. terus kenapa? kan suami yang sekarang tajir.. bisa adopsi anak kan..”
Lalu banyak lagi yang Mbak Nindie ceritakan mengenai Mbak Susie, yang intinya aku disuruh memperkosa Mbak Susie juga, mungkin bisa hamil.
"Eamngnya persetubuhan kita ini bakal jadi anak, kok aku haru ngewe sama Mbak Susie?"
"Aku gak mau hamil lagi.."
"Tapi aku crot didalam.."
"Aku beberapa hari yang lalu sebelum cerai dan pulang kerumah lama masih melakukan suntik KB.. jadi aman.."
"Ya atur aja lah mbak.."
Sebenarnya aku masih pengen ngentot lagi sama Mbak Nindie. Tapi aku teringat pada Mama Aleta yang pasti meminta “sesuatu” nanti setelah aku ada di rumah Bu Shanti. Karena itu aku meninggalkan Mbak Nindie di rumah itu. Tentu saja aku memberi uang Mbak Nindie, untuk kebutuhan sehari-harinya.
Setibanya di rumah Bu Shanti, jam menunjukkan pukul delapan malam.
Seperti yang telah ku prediksi sebelumnya, setelah aku mandi, calon mertuaku itu menungguku dengan senyum mengoda penuh birahi.
Untunglah aku tidak terlalu habis-habisan dengan Mbak Nindie tadi, sehingga aku masih menyisakan tenaga untuk menyetubuhi Mama Aleta.
Bahkan di malam-malam selanjutnya, Mama Aleta selalu menggugahkan kejantananku untuk menggaulinya.
Sampai akhirnya Bu Shanti pulang dari Singapore, dengan oleh-oleh yang cukup banyak.
Tadinya kukira Bu Shanti akan membahas masalah hubunganku dengan Mama Aleta. Tapi ternyata tidak sama sekali. Dia malah memperlihatkanh surat beasiswa program doctornya di Inggris.
“Minggu depan aku akan langsung terbang ke London,” kata Bu Shanti lalu mencium sepasang pipiku.
“Kok diem aja? Gak setuju aku pergi ke Inggris?” tanyanya.
“Aku senang lah.. Tapi aku bakal kesepian dong.. Kan nggak cukup setahun di sana?”
“Papie kan banyak duit. Kalau kangen sama aku, terbang aja ke UK.”
“Iya.. tapi mulai bulan depan, aku akan sangat sibuk ngurus perusahaan punya tanteku. Aku mungkin akan cuti kuliah satu tahun.”
Ahirnya obrolan kami berahir dengan aku berharap agar ia bisa cepat mengejar program S3 nya di Inggris.
Selanjutnya kami melepas rindu dengan melakukan persetubuhan yang sangat panas diatas ranjang. Aku entot dia sampai aku sendiri sangat lemas dan tak bertenag lagi.
Seminggu kemudian ku antar Bu Shanti ke bandara Soetta untuk terbang ke London.
Sesampinya di rumah, Mamie sudah tidur. Maka aku pun langsung tidur karena Bu Shanti sempat mengajakku Quick sex sebelum berangkat ke bandara.
===o0o===
Sabtu pagi aku sudah dirumah kosong Tante Aini untuk menyiapkan segala keperluan perusahaan yang masih kurasa kurang.
Sampai saat ini aku sudah mendapat beberapa pegawai untuk perusahaan.
Sekretaris ada Nike (dia adik teman lamaku yang bernama Niko).
Oprasional ada Tina aka Kristina.
Juru Masak Mbak Nindie.
4 Scurity pria kekar-kekar.
Saat sedang fokus mencatat peralatan dan berkas-berkas keperluan untuk perusahaan Mbak Nindie datang dengan senyum penuh arti.
"Ada apa Mbak..?"
"Mbak Susie lagi gak ada suaminya.."
"Hah?! Cerai lagi..?" tanyaku syok.
"Bukan, suaminya lagi pergi ke Uzbekistan, sekarang Mbak Susie sedang liburan di Villanya.."
"Terus..?"
"Ya ayo kesana.."
"Ngapain? Tahu sendiri, aku lagi sibuk nyiapin keperluan kantor yang masih banyak yang kurang gini.."
"Alah.. Bentar aja.. Aku juga butuh refresing.. ingat, aku baru cerai lo sayang.. Masak kamu tega sama aku..?"
Dengan berat hati aku pun menyetujui ajakan kakak tiriku ini, segera berangkat ke Puncak. Karena di hari Sabtu begini, biasanya jalan menuju Puncak macet.
Kurang lebih 4 jam perjalanan kami sudah sampai di Villa Mbak Susie yang dikelilingi pagar hidup tinggi (bambu / pring). Di depan villa ada mobil sedan mewah, sepertinya itu mobil Mbak Susie.
Di teras villa tampak Mbak Susie sedang duduk santai.
"Mbak Susie.." teriak Mbak Nindie didepan gerbang.
Mbak Susie melambaikan tangan lalu membuka gerbang Villa.
"Sama siapa..?" tanya Mbak Susie.
"Sama Chepi.."
"Masukin mobilnya Chep.."
Akupun memarkirkan mobilku di alaman Villa.
Setelah berkangen-kangenan, kami ngobrol ngalor ngidul di teras Villa yang suasananya amat sejuk.
BTW.. Mbak Susie berbeda jika dibandingkan dengan Mbak Nindie. Mbak Susie ini berperawakan tinggi langsing, toketnya sedang-sedang saja, namun Mbak Susie tampak awet muda, wajahnya pun lebih cantik.
Kami ngobrol dan menikmati pemandangan alam lereng bukit yang dihijaukan pepohonan rindang dan belantaran tanaman sayur dan buah-buahan milik para petani penduduk lokal.
"Nanti nginep sini aja ya.. weekend disini.." kata Mbak Susie
"Tergantung Chepi sih Mbak.." sahut Mbak Nindie.
"Ya.. Boleh deh.." balasku
"Jalan-jalan yuk, sekitar sini ada wisatanya juga lohh.." tawar Mbak Susie.
Aku setuju, Mbak Nindie sangat exaited.
Kami pun jalan-jalan dengan jalan kaki. Dalam perjalan diwilayah yang sejuk membuat pikiranku fresh dan tenang dengan suasana perbukitan yang tenang dari hiruk pikuk keramaian kota.
Setelah sampai di Wisata XXXX kami bermain dan menikmati setiap permainan yang ada disitu.
Sore hari sekitar jam 4 sore kami sudah ada divilla lagi, mandi dan makan.
Sekitar jam 6 sore hujan lebat turun menambah dinginnya suhu daerah puncak, ditengah-tengah kami bersantai ngobrol ringan Mbak Nindie berinisiatif membuatkan kami minuman hangat.
"Nih minuman hangat ramuan dari mertuaku dulu, cobain deh.." seru Mbak Nindie.
"Kok beda mbak..?" tanyaku karena minuman yang dia sajika padaku berbeda dengan minuman dia dan Mbak Susie.
"Iya nih, kok beda.." sahut Mbak Susie.
"Iya beda, emang gini ramuannya.. Ayo diminum biar anget.." balas Mbak Nindie.
Kamipun meminum ramuan itu, saat aku meneguk minumanku rasanya sangat pahit walau ada manisnya sedikit.
"Wah enak banget Nin.." kata Mbak Susie.
"Punyaku kok pahit Mbak..?" kataku.
"Ya emang gitu.. Manis buat cewek, pahit buat cowok.." terang Mbak Nindie.
Aku dan Mbak Susie pun mengangguk-ngangguk paham. Memang tubuhku terasa hangat, rileks dan ada dorongan stamina yang perlahan membuaku terasa lebih Fit dari sebelumnya.
Sekitar 10 menit kemudian Mbak Susie nguap sepertinya ngantuk menyerangnya.
"Aku mau tidur dulu ya.. Kalian pilih kamar yang kalian suka.." kata Mbak Susie
"Aku juga ngantuk nih.. Capek main air tadi sore.." sahut Mbak Nindie.
"Baiklah mbak.." balasku
Kedua kakak tiriku itu berjalan beriringan meninggalkanku. Tapi tak lama kemudian, kudengar kedua kakaku berdebat ringan didalam.
"Kita tidur satu kamar aja ya Mbak.." terdengan suara Mbak Nindie.
"Oke deh.." terdengar balasan Mbak Susie.
Aku yang sendirian masih melek, kuusir kebosananku dengan main Game Moba.
Selang 30 menit Mbak Nindie yang mengenakan piyama tipis yang tampak jelas dia sudah tak mengenakan BH dan CD menghampiriku dengan lengak lenggok layaknya model. Lalu tanpa aba-aba dia lansung membuka celanaku lalu mengeluarkan penisku.
"Mbak.. kalau Mbak Susie bangun terus mergoki kita gimana..?"
"Tenang aja, dia gak akan bangun.."
"Kok bisa?"
"Minumannya tadi sudah aku kasih obat tidur.."
Mbak Nindie lalu mengocok dan melakukan blowjob pada penisku.
"Uhh.. Makin enak aja servicenya Mbak.." pujiku.
"Iyalah.. siapa gurunya.." balasnya disela-sela kegiatannya.
Memang selama seminggu ini kakak tiriku ini selalu ku garap sambil mengajarinya cara menservice pria layaknya lonte pro kelas atas VVIP, kadang ku suruh nonton bokep agar ia pelajari sendiri. Mbak Nindie pun semakin pintar ngesex dan tentunya semakin binal.
Setelah kontolku sudah ngaceng sempurna, Mbak Nindie naik ke pangkuanku dan terjadilah persetubuhan kami. Goyangan nikmat dari Mbak Nindie pada kontolku yang tertancap didalam memeknya disertai ciuman kami saling lumat dan saling kecup.
Selang kurang lebih 5 menit Mbak Nindie mengalami squirt orgasme.
Serr! Serr! Serr! semburannya membasahi selangkanganku serta sofa yang kuduki.
"Uhhh.. Nikmat seperti biasanya sayang.. Sungguh luarbiasa kontolmu.." pujinya
"Memek Mbak juga enak banget.."
"Hehehe.. Makasih.." balasnya lalu menciumku penuh perasaan.
"Eh.. kita pindah ke kamar aja yuk.." ajaknya.
Ku gendong tubuhnya menuju salah satu kamar dengan posisi kelamin kami masih menyatu. Saat sampai dikamar yang kutuju Mbak Nindie meminta ke kamar lain saja yang dia tunjuk.
Akupun menuju kamar tersebut, dan betapa kagetnya aku saat melihat Mbak Susie sedang tertidur pulas diatas ranjang dengan bugil.
"Loh.. kok disini sih..?" tanyaku alau aku juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Mbak Susie dan juga tergoda oleh tubuh telanjangnya.
"Ya disini, ini rencanaku dari awal.." terang Mbak Nindie.
"Rencana apa..?"
"Turunin aku dulu.." kata Mbak Nindie.
Setelah kuturunkan tubuhnya hingga kelamin kami terpisah, Mbak Nindie naik ke atas ranjang dan lansung menjilati memek Mbak Susie sambil menyuruhku untuk naik keatas ranjang juga.
“Papie kan banyak duit. Kalau kangen sama aku, terbang aja ke UK.”
“Iya.. tapi mulai bulan depan, aku akan sangat sibuk ngurus perusahaan punya tanteku. Aku mungkin akan cuti kuliah satu tahun.”
Ahirnya obrolan kami berahir dengan aku berharap agar ia bisa cepat mengejar program S3 nya di Inggris.
Selanjutnya kami melepas rindu dengan melakukan persetubuhan yang sangat panas diatas ranjang. Aku entot dia sampai aku sendiri sangat lemas dan tak bertenag lagi.
Seminggu kemudian ku antar Bu Shanti ke bandara Soetta untuk terbang ke London.
Sesampinya di rumah, Mamie sudah tidur. Maka aku pun langsung tidur karena Bu Shanti sempat mengajakku Quick sex sebelum berangkat ke bandara.
===o0o===
Sabtu pagi aku sudah dirumah kosong Tante Aini untuk menyiapkan segala keperluan perusahaan yang masih kurasa kurang.
Sampai saat ini aku sudah mendapat beberapa pegawai untuk perusahaan.
Sekretaris ada Nike (dia adik teman lamaku yang bernama Niko).
Oprasional ada Tina aka Kristina.
Juru Masak Mbak Nindie.
4 Scurity pria kekar-kekar.
Saat sedang fokus mencatat peralatan dan berkas-berkas keperluan untuk perusahaan Mbak Nindie datang dengan senyum penuh arti.
"Ada apa Mbak..?"
"Mbak Susie lagi gak ada suaminya.."
"Hah?! Cerai lagi..?" tanyaku syok.
"Bukan, suaminya lagi pergi ke Uzbekistan, sekarang Mbak Susie sedang liburan di Villanya.."
"Terus..?"
"Ya ayo kesana.."
"Ngapain? Tahu sendiri, aku lagi sibuk nyiapin keperluan kantor yang masih banyak yang kurang gini.."
"Alah.. Bentar aja.. Aku juga butuh refresing.. ingat, aku baru cerai lo sayang.. Masak kamu tega sama aku..?"
Dengan berat hati aku pun menyetujui ajakan kakak tiriku ini, segera berangkat ke Puncak. Karena di hari Sabtu begini, biasanya jalan menuju Puncak macet.
Kurang lebih 4 jam perjalanan kami sudah sampai di Villa Mbak Susie yang dikelilingi pagar hidup tinggi (bambu / pring). Di depan villa ada mobil sedan mewah, sepertinya itu mobil Mbak Susie.
Di teras villa tampak Mbak Susie sedang duduk santai.
"Mbak Susie.." teriak Mbak Nindie didepan gerbang.
Mbak Susie melambaikan tangan lalu membuka gerbang Villa.
"Sama siapa..?" tanya Mbak Susie.
"Sama Chepi.."
"Masukin mobilnya Chep.."
Akupun memarkirkan mobilku di alaman Villa.
Setelah berkangen-kangenan, kami ngobrol ngalor ngidul di teras Villa yang suasananya amat sejuk.
BTW.. Mbak Susie berbeda jika dibandingkan dengan Mbak Nindie. Mbak Susie ini berperawakan tinggi langsing, toketnya sedang-sedang saja, namun Mbak Susie tampak awet muda, wajahnya pun lebih cantik.
Kami ngobrol dan menikmati pemandangan alam lereng bukit yang dihijaukan pepohonan rindang dan belantaran tanaman sayur dan buah-buahan milik para petani penduduk lokal.
"Nanti nginep sini aja ya.. weekend disini.." kata Mbak Susie
"Tergantung Chepi sih Mbak.." sahut Mbak Nindie.
"Ya.. Boleh deh.." balasku
"Jalan-jalan yuk, sekitar sini ada wisatanya juga lohh.." tawar Mbak Susie.
Aku setuju, Mbak Nindie sangat exaited.
Kami pun jalan-jalan dengan jalan kaki. Dalam perjalan diwilayah yang sejuk membuat pikiranku fresh dan tenang dengan suasana perbukitan yang tenang dari hiruk pikuk keramaian kota.
Setelah sampai di Wisata XXXX kami bermain dan menikmati setiap permainan yang ada disitu.
Sore hari sekitar jam 4 sore kami sudah ada divilla lagi, mandi dan makan.
Sekitar jam 6 sore hujan lebat turun menambah dinginnya suhu daerah puncak, ditengah-tengah kami bersantai ngobrol ringan Mbak Nindie berinisiatif membuatkan kami minuman hangat.
"Nih minuman hangat ramuan dari mertuaku dulu, cobain deh.." seru Mbak Nindie.
"Kok beda mbak..?" tanyaku karena minuman yang dia sajika padaku berbeda dengan minuman dia dan Mbak Susie.
"Iya nih, kok beda.." sahut Mbak Susie.
"Iya beda, emang gini ramuannya.. Ayo diminum biar anget.." balas Mbak Nindie.
Kamipun meminum ramuan itu, saat aku meneguk minumanku rasanya sangat pahit walau ada manisnya sedikit.
"Wah enak banget Nin.." kata Mbak Susie.
"Punyaku kok pahit Mbak..?" kataku.
"Ya emang gitu.. Manis buat cewek, pahit buat cowok.." terang Mbak Nindie.
Aku dan Mbak Susie pun mengangguk-ngangguk paham. Memang tubuhku terasa hangat, rileks dan ada dorongan stamina yang perlahan membuaku terasa lebih Fit dari sebelumnya.
Sekitar 10 menit kemudian Mbak Susie nguap sepertinya ngantuk menyerangnya.
"Aku mau tidur dulu ya.. Kalian pilih kamar yang kalian suka.." kata Mbak Susie
"Aku juga ngantuk nih.. Capek main air tadi sore.." sahut Mbak Nindie.
"Baiklah mbak.." balasku
Kedua kakak tiriku itu berjalan beriringan meninggalkanku. Tapi tak lama kemudian, kudengar kedua kakaku berdebat ringan didalam.
"Kita tidur satu kamar aja ya Mbak.." terdengan suara Mbak Nindie.
"Oke deh.." terdengar balasan Mbak Susie.
Aku yang sendirian masih melek, kuusir kebosananku dengan main Game Moba.
Selang 30 menit Mbak Nindie yang mengenakan piyama tipis yang tampak jelas dia sudah tak mengenakan BH dan CD menghampiriku dengan lengak lenggok layaknya model. Lalu tanpa aba-aba dia lansung membuka celanaku lalu mengeluarkan penisku.
"Mbak.. kalau Mbak Susie bangun terus mergoki kita gimana..?"
"Tenang aja, dia gak akan bangun.."
"Kok bisa?"
"Minumannya tadi sudah aku kasih obat tidur.."
Mbak Nindie lalu mengocok dan melakukan blowjob pada penisku.
"Uhh.. Makin enak aja servicenya Mbak.." pujiku.
"Iyalah.. siapa gurunya.." balasnya disela-sela kegiatannya.
Memang selama seminggu ini kakak tiriku ini selalu ku garap sambil mengajarinya cara menservice pria layaknya lonte pro kelas atas VVIP, kadang ku suruh nonton bokep agar ia pelajari sendiri. Mbak Nindie pun semakin pintar ngesex dan tentunya semakin binal.
Setelah kontolku sudah ngaceng sempurna, Mbak Nindie naik ke pangkuanku dan terjadilah persetubuhan kami. Goyangan nikmat dari Mbak Nindie pada kontolku yang tertancap didalam memeknya disertai ciuman kami saling lumat dan saling kecup.
Selang kurang lebih 5 menit Mbak Nindie mengalami squirt orgasme.
Serr! Serr! Serr! semburannya membasahi selangkanganku serta sofa yang kuduki.
"Uhhh.. Nikmat seperti biasanya sayang.. Sungguh luarbiasa kontolmu.." pujinya
"Memek Mbak juga enak banget.."
"Hehehe.. Makasih.." balasnya lalu menciumku penuh perasaan.
"Eh.. kita pindah ke kamar aja yuk.." ajaknya.
Ku gendong tubuhnya menuju salah satu kamar dengan posisi kelamin kami masih menyatu. Saat sampai dikamar yang kutuju Mbak Nindie meminta ke kamar lain saja yang dia tunjuk.
Akupun menuju kamar tersebut, dan betapa kagetnya aku saat melihat Mbak Susie sedang tertidur pulas diatas ranjang dengan bugil.
"Loh.. kok disini sih..?" tanyaku alau aku juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Mbak Susie dan juga tergoda oleh tubuh telanjangnya.
"Ya disini, ini rencanaku dari awal.." terang Mbak Nindie.
"Rencana apa..?"
"Turunin aku dulu.." kata Mbak Nindie.
Setelah kuturunkan tubuhnya hingga kelamin kami terpisah, Mbak Nindie naik ke atas ranjang dan lansung menjilati memek Mbak Susie sambil menyuruhku untuk naik keatas ranjang juga.
Waow sungguh pemandangan yang menggugah hasratku semakin menggebu-gebu rudalku pun semakin tak tahan untuk segera menggeber loang memk yang ada.
Aku lansung naik dan memandangi tubuh telanjang Mbak Susie dari kepala sampai kaki.
"Masak kamu gak bergairah lihat tubuh telanjang Mbak Susie?" kata Mbak Nindie.
"Ya bergairah lah.."
"Yaudah, buruan nikmati.."
Mbak Nindie kembali memainkan memek Mbak Susie dengan mulut dan lidahnya.
Akupun lansung beraksi, ku awali dari menciumi bibir Mbak Susie dengan rakus, sambil meremasi payudara proporsionalnya. Ku lanjut menjilati lehernya, lalu ku kenyot payudara proporsionalnya dengan gemas sampai terdengar suara 'mpff.. mpff..'
Dari permainanku dan Mbak Nindie, tampak mulut Mbak Susie mengeluarkan desahan lirih seakan tak terdengar.
"Subah becek nih memeknya Chep.." seru Mbak Nindie sambil mengelus-elus memek Mbak Susie.
Aku yang juga sudah cukup puas menikmati buah dada Mbak Susie lansung menyudahi aksiku.
Kami berdua berganti posisi, aku mempersiapkan diri diselangkangannya Mbak Susie. Mbak Nindie memosisikan dirinya diatas tubuh Mbak Susie dengan gaya ngungging (memeknya ada diatas wajah Mbak Susie).
"Lihat nih, sempit kan..?" kata Mbak Nindie sambil menyibak bibir kemaluan Mbak Susie.
Memang lobangnya tampak sempit sekali tapi tak serapat memek Bu Shanti saat ku perawani.
Dengan gairah menggebu-gebu kudorong batang penisku menerobos sempitnya rongga kewanitaan Mbak Susie.
"Aaahh.. Rapet bener nih memek Mbak Susie.." kataku saat kepala kontolku sudah tertelan oleh memek Mbak Susie.
"Enak mana sama punyaku Chep..?" tanya Mbak Nindie.
"Sama-sama enaknya Mbak.."
"Tunggu bentar.. Tarik dulu kontolmu.." kata Mbak Nindie.
Dia bergegas mengambil pelicin dari tasnya lalu ia balurkan pada lobang memek Mbak Susie dan pada batang kontolku setelah ku tarik keluar.
"Biar nanti dia gak kesakitan dan curiga kalau habis kamu kontolin, saat dia bangun tidur.." terang Mbak Nindie.
"Masak sih.. Kalau kesakitan, Mbak Nindie kok sampai ketagihan..?"
"Ya enak banget saat dientot kontol gedemu.. itu yang bikin aku ketagihan.. pas udahan, terasa agak ngilu juga.."
"Ohya..?"
"Iya, tapi kalau udah sering kamu entot, udah gak pernah ngilu lagi kok sayang.."
Kembali kusodokkan batang kejantananku pada memek Mbak Susie yang Labia mayoranya (bibir memek) sudah dijembeng (dibuka / disibak) oleh Mbak Nindie lagi. Uhh.. enak anget rasa saat kontolku menelusup pada lobang memeknya yang licin tapi rapet.
Setengah batang penisku sudah terbenam didalam lubang vagina Mbak Susie, ku maju mundurkan kontolku pada memeknya dengan perlahan nan lembut.
"Nikmati sayang.. jangan buru-buru crot ya.. Aku juga pengen disodok lagi.." seru Mbak Nindie yang kini sedang memainkan toket kakaknya, mermas dan nyusu disana dengan gerakan lembut.
Pemandangan yang tak pernah terbayangkan pada otakku ini menambah nafsu sangeku, tapi aku harus bisa menahanya dan tetap bermain dengan lembut.
Semakin lama semakin kudorong lebih dalam pula kontolku diliang memek Mbak Susie. Mbak Nindie juga merangsang tubuh Mbak Susie, dari menjilati ketiak, mencium serta melumat bibir dan memainkan klitoris kakanya dengan lembut tapi intens. Suara desahan lirih Mbak Susie juga semakin merdu terdengar.
Sekitar 5 menit Mbak Susie orgasme, memeknya berkedut diiringi tubuhnya sedikit bergetar dan disusul rembesan lendir yang lansung membasahi batang kontolku. Aku miringkan tubuh Mbak Susie, dan kembali ku sodok-sodok memeknya.
Tubuh bugil Mbak Nindie tak kubiarkan nganggur, ku kenyot dan ku kobel memeknya. Kami berciuman dengan mesrah bak kekasih sejati, saling lilit lidah dan bertukar liur.
Mbak Nindie juga memberiku ransangan dengan merubah posisinya dibelakangku, dis gesekkan toket gedenya pada punggungku memberiku sensasi hangat saat ia tekan toketnya pada punggungku. Tangannya merabai dada dan memainkan pentilku sambil menciumi leherku.
Setelah lama dan mulai sedikit bosan ada dibelakangku, Mbak Nindie berdiri diatas tubuh Mbak Susie, ia belek memeknya dan menyodorkannya padaku.
Aku yang tahu permintaanya lansung 'memakan' dengan rakus dan menyodok-nyodok memknya dengan jariku sambil terus menggenjot memek Mbak Susie.
Entah sudah berapa lama, kudua kakak tiriku itu mengalami orgasme bersama. Mbak Nindie yang merasa agak lemas ia rebahan disamping Mbak Susie.
Aku yang sudah mulai merasakan dorongan peju yang inging crot, ku telentangkan kembali tubuh Mbak Susie. Kembali ku geber memeknya dengan cepat dan dorongan keras. Selang beberapa menit kemudian, kutanamkan moncong kontolku pada rongga terdalam liang vagina Mbak Susie dan ku semburkan semuanya. Kunikmati setiap semburan pejuku hingga tetes terahir.
Crot! Crot! Crot!
Kujamah setiap sisi tubuh Mbak Susie yang masih terpejam, kujilati dan kuciumi dada sampai wajahnya hingga aku tindih tubuh indahnya.
- Uhh.. Nimat dunia dan pengalaman yang tak terkira indahnya - batinku.
Enah kenapa kontolku benar-benar ngaceng sempurna terus padahal sudah crot banyak. Setelah istirahat sejenak dalam posisi tersebut, kucabut kontolku dari memek Mbak Susie.
Mbak Nindie yang paham, lansung ngangkang dan membuka Labia mayoranya (bibir memek) sendiri sambil menjilati bibirnya menggodaku untuk segera mengisi lubang kewanitaanya dengan kontolku.
Maka kontolku kembali bersenang-senang dengan memek, yang kini milik Mbak Nindie. Aku dan Mbak Nindie berhubungan badan seperti biasa, PANAS dan PENUH GAIRAH.
Saat aku mau orgasme, Mbak Nindie menyuruhku crot didalam memek Mbak Susie.
Malam kenikmatan di Villa itu berlansung selama kurang lebih 4 jam dengan berbagai gaya dan scorenya aku crot 3 kali dimemek Mbak Susie dan sekali di memek Mbak Nindie. Mbak Susie menalami crot sekitar 7 kali, dan Mbak Nindie crot 9 kali dan squirt 3 kali.
Kontolku ngaceng terus selama itu dengan peju yang sebanyak itu akibat ramuan yang dibuat Mbak Nindie tadi kataya.
Selesai itu setiap tulangku terasa lepas semua, ototku terasa lemas, perut terasa kosong, tenggorokan terasa kering.
Akibat capek dan tenaga yang terkuras, aku lansun tertidur.
Minggu siang aku terbangun karena ada yang memainkan kontolku, saat ku buka mata, ternyata Mbak Susie yang sedang memainkannya.
"Ehh Mbak..?!" kataku agak kaget.
"Ohh bisa bangun juga ya.. Kirain kontolnya doang yang bisa bangun.."
Mbak Susie yang sudah berpakaian lengkap, duduk disampingku sambil mengocok kejantananku.
"Hehehe"
"Tadi malam aku ngerasa lagi mimpi ngewe sama suamiku, tapi saat bangun kok aku, kamu dan Nindie pada bugil.. dan memeku ngilu banget rasanya.. ada peju pula.."
Aku diam saja 'malu'.
"Ternyata.. Berapa kali kau ngewe aku..? Badanku capek semua berasa habis nyangkul disawah.."
"Entahlah.. Lupa.. Hehehe.." balasku.
"Lupa..?" sahut Mbak Susie sambil mempercepat kocokannya pada kontolku.
"Hehehe.. Mana Mbak Nindie..".
"Di dapur.. masak.."
"Udah mbak.. aku laper banget nih.." pintaku agar kontolku ia bebaskan, karena aku lapar sekali.
"Gak mau.."
"Kok gitu.."
"Iya.. Kamu harus janji dulu.. Habis dari Villa kamu harus nginap dirumahku 3 hari.."
"Kenapa..?"
"Ya itu hukuman buat kamu lah.."
"Aku juga ya Mbak.." sahut Mbak Nindie.
"Gak boleh.. Kamu nanti lansung pulang aja.."
Akhirnya siang itu kami makan dan kembali ngewe threesome satu ronde.
Sorenya Mbak Nindie dijemput sopir pribadi Mbak Susie. Aku dan Mbak Susie dengan mengendarai mobil masing-masing menuju rumahnya.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, aku dan Mbak Susie sampai dirumahnya yang megah nan mewah.
Setelah Mbak Susie menjamuku dengan makanan lezat, ia menyeretku ke kamar tamu dan tanpa permisi lansung melucuti celana dan CDku.
"Hukumannya, kontolmu ini harus bisa memuaskanku sampai selama tinggal disini, dan wajib crot didalam! gak boleh protes!" kata Mbak Susie sambil mengocok kontolku.
Aku hanya mengangguk pasrah, tapi senang dan bahagia.
cMaka selama 3 hari aku menginap dirumahnya itu pejuku diperas terus sampai tetes terahir. Setiap habis crot, dia kasih aku 'madu herbal' dari Turky yang bisa mempercepat reproduksi peju katanya.
BERSAMBUNG..
Aku lansung naik dan memandangi tubuh telanjang Mbak Susie dari kepala sampai kaki.
"Masak kamu gak bergairah lihat tubuh telanjang Mbak Susie?" kata Mbak Nindie.
"Ya bergairah lah.."
"Yaudah, buruan nikmati.."
Mbak Nindie kembali memainkan memek Mbak Susie dengan mulut dan lidahnya.
Akupun lansung beraksi, ku awali dari menciumi bibir Mbak Susie dengan rakus, sambil meremasi payudara proporsionalnya. Ku lanjut menjilati lehernya, lalu ku kenyot payudara proporsionalnya dengan gemas sampai terdengar suara 'mpff.. mpff..'
Dari permainanku dan Mbak Nindie, tampak mulut Mbak Susie mengeluarkan desahan lirih seakan tak terdengar.
"Subah becek nih memeknya Chep.." seru Mbak Nindie sambil mengelus-elus memek Mbak Susie.
Aku yang juga sudah cukup puas menikmati buah dada Mbak Susie lansung menyudahi aksiku.
Kami berdua berganti posisi, aku mempersiapkan diri diselangkangannya Mbak Susie. Mbak Nindie memosisikan dirinya diatas tubuh Mbak Susie dengan gaya ngungging (memeknya ada diatas wajah Mbak Susie).
"Lihat nih, sempit kan..?" kata Mbak Nindie sambil menyibak bibir kemaluan Mbak Susie.
Memang lobangnya tampak sempit sekali tapi tak serapat memek Bu Shanti saat ku perawani.
Dengan gairah menggebu-gebu kudorong batang penisku menerobos sempitnya rongga kewanitaan Mbak Susie.
"Aaahh.. Rapet bener nih memek Mbak Susie.." kataku saat kepala kontolku sudah tertelan oleh memek Mbak Susie.
"Enak mana sama punyaku Chep..?" tanya Mbak Nindie.
"Sama-sama enaknya Mbak.."
"Tunggu bentar.. Tarik dulu kontolmu.." kata Mbak Nindie.
Dia bergegas mengambil pelicin dari tasnya lalu ia balurkan pada lobang memek Mbak Susie dan pada batang kontolku setelah ku tarik keluar.
"Biar nanti dia gak kesakitan dan curiga kalau habis kamu kontolin, saat dia bangun tidur.." terang Mbak Nindie.
"Masak sih.. Kalau kesakitan, Mbak Nindie kok sampai ketagihan..?"
"Ya enak banget saat dientot kontol gedemu.. itu yang bikin aku ketagihan.. pas udahan, terasa agak ngilu juga.."
"Ohya..?"
"Iya, tapi kalau udah sering kamu entot, udah gak pernah ngilu lagi kok sayang.."
Kembali kusodokkan batang kejantananku pada memek Mbak Susie yang Labia mayoranya (bibir memek) sudah dijembeng (dibuka / disibak) oleh Mbak Nindie lagi. Uhh.. enak anget rasa saat kontolku menelusup pada lobang memeknya yang licin tapi rapet.
Setengah batang penisku sudah terbenam didalam lubang vagina Mbak Susie, ku maju mundurkan kontolku pada memeknya dengan perlahan nan lembut.
"Nikmati sayang.. jangan buru-buru crot ya.. Aku juga pengen disodok lagi.." seru Mbak Nindie yang kini sedang memainkan toket kakaknya, mermas dan nyusu disana dengan gerakan lembut.
Pemandangan yang tak pernah terbayangkan pada otakku ini menambah nafsu sangeku, tapi aku harus bisa menahanya dan tetap bermain dengan lembut.
Semakin lama semakin kudorong lebih dalam pula kontolku diliang memek Mbak Susie. Mbak Nindie juga merangsang tubuh Mbak Susie, dari menjilati ketiak, mencium serta melumat bibir dan memainkan klitoris kakanya dengan lembut tapi intens. Suara desahan lirih Mbak Susie juga semakin merdu terdengar.
Sekitar 5 menit Mbak Susie orgasme, memeknya berkedut diiringi tubuhnya sedikit bergetar dan disusul rembesan lendir yang lansung membasahi batang kontolku. Aku miringkan tubuh Mbak Susie, dan kembali ku sodok-sodok memeknya.
Tubuh bugil Mbak Nindie tak kubiarkan nganggur, ku kenyot dan ku kobel memeknya. Kami berciuman dengan mesrah bak kekasih sejati, saling lilit lidah dan bertukar liur.
Mbak Nindie juga memberiku ransangan dengan merubah posisinya dibelakangku, dis gesekkan toket gedenya pada punggungku memberiku sensasi hangat saat ia tekan toketnya pada punggungku. Tangannya merabai dada dan memainkan pentilku sambil menciumi leherku.
Setelah lama dan mulai sedikit bosan ada dibelakangku, Mbak Nindie berdiri diatas tubuh Mbak Susie, ia belek memeknya dan menyodorkannya padaku.
Aku yang tahu permintaanya lansung 'memakan' dengan rakus dan menyodok-nyodok memknya dengan jariku sambil terus menggenjot memek Mbak Susie.
Entah sudah berapa lama, kudua kakak tiriku itu mengalami orgasme bersama. Mbak Nindie yang merasa agak lemas ia rebahan disamping Mbak Susie.
Aku yang sudah mulai merasakan dorongan peju yang inging crot, ku telentangkan kembali tubuh Mbak Susie. Kembali ku geber memeknya dengan cepat dan dorongan keras. Selang beberapa menit kemudian, kutanamkan moncong kontolku pada rongga terdalam liang vagina Mbak Susie dan ku semburkan semuanya. Kunikmati setiap semburan pejuku hingga tetes terahir.
Crot! Crot! Crot!
Kujamah setiap sisi tubuh Mbak Susie yang masih terpejam, kujilati dan kuciumi dada sampai wajahnya hingga aku tindih tubuh indahnya.
- Uhh.. Nimat dunia dan pengalaman yang tak terkira indahnya - batinku.
Enah kenapa kontolku benar-benar ngaceng sempurna terus padahal sudah crot banyak. Setelah istirahat sejenak dalam posisi tersebut, kucabut kontolku dari memek Mbak Susie.
Mbak Nindie yang paham, lansung ngangkang dan membuka Labia mayoranya (bibir memek) sendiri sambil menjilati bibirnya menggodaku untuk segera mengisi lubang kewanitaanya dengan kontolku.
Maka kontolku kembali bersenang-senang dengan memek, yang kini milik Mbak Nindie. Aku dan Mbak Nindie berhubungan badan seperti biasa, PANAS dan PENUH GAIRAH.
Saat aku mau orgasme, Mbak Nindie menyuruhku crot didalam memek Mbak Susie.
Malam kenikmatan di Villa itu berlansung selama kurang lebih 4 jam dengan berbagai gaya dan scorenya aku crot 3 kali dimemek Mbak Susie dan sekali di memek Mbak Nindie. Mbak Susie menalami crot sekitar 7 kali, dan Mbak Nindie crot 9 kali dan squirt 3 kali.
Kontolku ngaceng terus selama itu dengan peju yang sebanyak itu akibat ramuan yang dibuat Mbak Nindie tadi kataya.
Selesai itu setiap tulangku terasa lepas semua, ototku terasa lemas, perut terasa kosong, tenggorokan terasa kering.
Akibat capek dan tenaga yang terkuras, aku lansun tertidur.
Minggu siang aku terbangun karena ada yang memainkan kontolku, saat ku buka mata, ternyata Mbak Susie yang sedang memainkannya.
"Ehh Mbak..?!" kataku agak kaget.
"Ohh bisa bangun juga ya.. Kirain kontolnya doang yang bisa bangun.."
Mbak Susie yang sudah berpakaian lengkap, duduk disampingku sambil mengocok kejantananku.
"Hehehe"
"Tadi malam aku ngerasa lagi mimpi ngewe sama suamiku, tapi saat bangun kok aku, kamu dan Nindie pada bugil.. dan memeku ngilu banget rasanya.. ada peju pula.."
Aku diam saja 'malu'.
"Ternyata.. Berapa kali kau ngewe aku..? Badanku capek semua berasa habis nyangkul disawah.."
"Entahlah.. Lupa.. Hehehe.." balasku.
"Lupa..?" sahut Mbak Susie sambil mempercepat kocokannya pada kontolku.
"Hehehe.. Mana Mbak Nindie..".
"Di dapur.. masak.."
"Udah mbak.. aku laper banget nih.." pintaku agar kontolku ia bebaskan, karena aku lapar sekali.
"Gak mau.."
"Kok gitu.."
"Iya.. Kamu harus janji dulu.. Habis dari Villa kamu harus nginap dirumahku 3 hari.."
"Kenapa..?"
"Ya itu hukuman buat kamu lah.."
"Aku juga ya Mbak.." sahut Mbak Nindie.
"Gak boleh.. Kamu nanti lansung pulang aja.."
Akhirnya siang itu kami makan dan kembali ngewe threesome satu ronde.
Sorenya Mbak Nindie dijemput sopir pribadi Mbak Susie. Aku dan Mbak Susie dengan mengendarai mobil masing-masing menuju rumahnya.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, aku dan Mbak Susie sampai dirumahnya yang megah nan mewah.
Setelah Mbak Susie menjamuku dengan makanan lezat, ia menyeretku ke kamar tamu dan tanpa permisi lansung melucuti celana dan CDku.
"Hukumannya, kontolmu ini harus bisa memuaskanku sampai selama tinggal disini, dan wajib crot didalam! gak boleh protes!" kata Mbak Susie sambil mengocok kontolku.
Aku hanya mengangguk pasrah, tapi senang dan bahagia.
cMaka selama 3 hari aku menginap dirumahnya itu pejuku diperas terus sampai tetes terahir. Setiap habis crot, dia kasih aku 'madu herbal' dari Turky yang bisa mempercepat reproduksi peju katanya.
BERSAMBUNG..
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru



