Cerita ini berawal dari kebencianku terhadap seorang manager marketing sebuah bank swasta ternama, sehingga aku harus melakukan hal-hal yang belum pernah terpikirkan olehku sendiri.
Sebelum menceritakan pengalamanku ini, izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Satorman (22), tinggi 170cm, dengan berat 56kg. Ya, seperti yang Anda pikirkan, perawakanku memang dengan tubuh yang sedikit kurus, dengan kulit yang cukup gelap dan rambut yang kribo, seperti halnya perawakan orang NTT.
Aku telah hampir 5 tahun meninggalkan kampung halaman aku ke kota ini, kota yang terkenal dengan pendidikannya yang lebih baik. Empat tahun aku menyelesaikan kuliahku di sebuah universitas yang cukup terkenal di kota ini, bahkan se-Indonesia. Tetapi aku tidak merasa bangga menyandang gelar sarjana ini.
Setengah tahun setelah wisuda, aku telah coba melamar kerja di banyak perusahaan di kota ini, dan tidak ada satu pun kabar panggilan. Kecewa dan putus asa tentu saja.
Walaupun tempat kost yang murah meriah, tapi sudah 6 bulan aku nunggak pembayaran sewa kamar kost. Untungnya pemilik kostnya baik hati.
Keterlambatan itu pun karna ulahku sendiri yang sedikit sombong setelah mendapat gelar sarjana, aku telepon ke kampung halaman agar orang tua tidak perlu mengirimkan uang lagi, karena aku bermaksud mencari kerja dan hidup lebih mandiri. Awalnya mereka menolak, tapi karena tidak mau merepotkan kedua orang tua aku lagi maka dengan terpaksa aku membohongi mereka bahwa aku telah mendapatkan pekerjaan.
Aku pikir dengan gelar sarjana, akan lebih muda mendapatkan pekerjaan, nyatanya tidak demikian. Mungkin karena aku yang belum pernah bekerja, baru kali ini merasakan bagaimana susahnya mencari kerja, sehingga aku berjanji pada hatiku, apa pun pekerjaan yang akan aku dapatkan nanti maka akan aku geluti dengan serius.
Tujuh bulan sudah berlalu, walaupun sang pemilik kost tidak menagih, tapi aku sangat tidak enak hati.
Suatu pagi ada berita yang sangat baik, hp aku bunyi dan dengan senang aku mengangkatnya berharap ini adalah panggilan interview. Harapanku menjadi semakin nyata setelah mendengar suara seorang perempuan yang sangat lembut.
"Hallo, ini dengan Satorman ya? Satorman ada masukkan lamaran ke perusahaan kita ya? Besok diharapkan Satorman untuk datang ke perusahaan kita jam 9 pagi, kita akan ada kan interview. Harap Satorman datang tepat waktu. Selamat pagi. Terima kasih."
Senangnya hatiku mendengar berita ini, dengan riang aku berteriak "Yes!", setidaknya ada harapanku untuk mencabut gelar pengangguran ini.
Malamnya pun aku tidak mau ngembun lagi, segera aku untuk coba terlelap di kamar kost yang kecil dan sumpek ini, berharap besok aku bisa terbangun lebih pagi dan lebih segar.
Paginya dengan pakaian rapi, aku pun segera berangkat ke perusahaan itu. Tepat pukul 8 pagi aku keluar dari kost, berharap tidak telat nantinya, walaupun aku tahu ini masih sangat awal, yah wajar saja, ini panggilan pertama dan yang sangat aku tunggu.
Sementara aku masih naik angkot, karena rencanaku adalah setelah dapat pekerjaan barulah coba kredit motor. Tepat di perusahaan yang dimaksud, aku turun dari angkot, memang tak begitu jauh dari tempat kostku.
Hmm, sebuah bank swasta yang cukup ternama di kota ini. Dalam benakku terbayang, aku yang berpakaian rapi bahkan berdasi duduk di sebuah kursi depan komputer di ruangan ber- AC.
Sesampai di depan pintu, langsung security yang membuka pintu menyambutku.
"Selamat datang pak".
Ya biasalah, bank profesional memang seharusnya begitu.
"Maaf pak, saya ke sini karna ada panggilan interview"
"Oh, silahkan naik ke lantai 2 pak, di sana ada resepsionis, tanya saja di sana ya pak", katanya sambil menunjuk ke arah tangga.
"Terima kasih pak" aku memberikan kesan yang sopan walaupun terhadap seorang security.
Aku berjalan menuju tangga dan menaikinya. Tepat di lantai 2, sebelah kanan tangga ada meja resepsionis, aku coba melangkah ke sana, dan seorang gadis yang sedang duduk di sana segera berdiri dan menebarkan senyuman.
"Ada yang bisa saya bantu pak?".
Wow, gumamku di dalam hati, senyumnya sangat manis, kulitnya putih dengan rambut lurus sampai punggung, tingginya mungkin 167cm karena lebih rendah sedikit dari aku. Vera namanya, aku liat ID Card yang terjepit di bajunya, gadis yang sangat sesuai dengan tipeku.
Terbesit dalam pikiran jika aku berhasil masuk di perusahaan ini, aku akan coba menggaetnya, maklum lah aku yang belum pernah pacaran ini juga sangat mendambakan seorang pendamping hidup.
"Saya dapat panggilan interview mbak", jawabku yang masih terkagum.
"Oh iya, silahkan tunggu ya pak, nanti saya panggil", kata gadis itu menunjuk ruangan depan yang seperti ruang tamu.
Aku pun masuk dan duduk di kursi sofa yang melingkar itu.
Ada seorang lelaki juga yang duduk bersamaku, pakaiannya rapi, tapi kulitnya kurang lebih denganku, walau kelihatan dia lebih hitam dengan kulit yang tidak terawat, namun dia memiliki tubuh yang berisi dan tegap layaknya orang yang sering fitnes. Agar suasana tidak tegang, aku coba menyapa orang tersebut.
"Hai, dapat panggilan interview juga?".
"Iya nih, mas juga ya?" jawabnya sambil tersenyum dan menjulurkan tangan kanannya bermaksud bersalaman denganku
"Namaku Andi", dia memperkenalkan diri padaku.
Tangannya terasa sangat kasar.
"Namaku Satorman, sudah lama mas tunggu di sini?" jawabku sambil melayangkan sebuah pertanyaan.
"Ga juga, lebih cepat datang kan lebih cepat pulang, tuh di ruangan sebelah ada yang sedang diinterview".
Kelihatannya orangnya memang ramah, dengan berbincang sedikit saja kami pun jadi akrab. Sambil menunggu kami pun terus melanjutkan pembicaraan kami.
"Mas Andi asal mana?"
"Aku asli Bandung, mas sendiri?"
"Wah, kebetulan sekali, ayahku juga orang Bandung, tapi ibuku NTT, maklum bapakku perantau".
Banyak sekali yang kami bicarakan bahkan sampai bertukaran nomor HP.
Dari pembicaraan ini, aku baru tahu bahwa cari kerja itu susah, Andi menceritakan semua kisahnya padaku.
Dia sudah 3 tahun menyandang gelar sarjana, tetapi tak satu pun pekerjaan yang layak dia dapatkan. Dia pernah menjadi cleaning service di sebuah restoran, tetapi dia dipecat hanya karna tidak sengaja memecahkan sebuah gelas minum. Setelah itu dia juga pernah menjadi tukang bangunan dan kuli angkut di pelabuhan.
Ya, tak heran tangannya agak kasar.
Bahkan dia pernah jadi kurir ganja demi bisa bertahan di dunia yang dia katakan fana ini. Dan sekarang ini, dia hanya bantu di kios temannya yang hanya menjual premium eceran dan melayani tambal ban.
Sebelum menceritakan pengalamanku ini, izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Satorman (22), tinggi 170cm, dengan berat 56kg. Ya, seperti yang Anda pikirkan, perawakanku memang dengan tubuh yang sedikit kurus, dengan kulit yang cukup gelap dan rambut yang kribo, seperti halnya perawakan orang NTT.
Aku telah hampir 5 tahun meninggalkan kampung halaman aku ke kota ini, kota yang terkenal dengan pendidikannya yang lebih baik. Empat tahun aku menyelesaikan kuliahku di sebuah universitas yang cukup terkenal di kota ini, bahkan se-Indonesia. Tetapi aku tidak merasa bangga menyandang gelar sarjana ini.
Setengah tahun setelah wisuda, aku telah coba melamar kerja di banyak perusahaan di kota ini, dan tidak ada satu pun kabar panggilan. Kecewa dan putus asa tentu saja.
Walaupun tempat kost yang murah meriah, tapi sudah 6 bulan aku nunggak pembayaran sewa kamar kost. Untungnya pemilik kostnya baik hati.
Keterlambatan itu pun karna ulahku sendiri yang sedikit sombong setelah mendapat gelar sarjana, aku telepon ke kampung halaman agar orang tua tidak perlu mengirimkan uang lagi, karena aku bermaksud mencari kerja dan hidup lebih mandiri. Awalnya mereka menolak, tapi karena tidak mau merepotkan kedua orang tua aku lagi maka dengan terpaksa aku membohongi mereka bahwa aku telah mendapatkan pekerjaan.
Aku pikir dengan gelar sarjana, akan lebih muda mendapatkan pekerjaan, nyatanya tidak demikian. Mungkin karena aku yang belum pernah bekerja, baru kali ini merasakan bagaimana susahnya mencari kerja, sehingga aku berjanji pada hatiku, apa pun pekerjaan yang akan aku dapatkan nanti maka akan aku geluti dengan serius.
Tujuh bulan sudah berlalu, walaupun sang pemilik kost tidak menagih, tapi aku sangat tidak enak hati.
Suatu pagi ada berita yang sangat baik, hp aku bunyi dan dengan senang aku mengangkatnya berharap ini adalah panggilan interview. Harapanku menjadi semakin nyata setelah mendengar suara seorang perempuan yang sangat lembut.
"Hallo, ini dengan Satorman ya? Satorman ada masukkan lamaran ke perusahaan kita ya? Besok diharapkan Satorman untuk datang ke perusahaan kita jam 9 pagi, kita akan ada kan interview. Harap Satorman datang tepat waktu. Selamat pagi. Terima kasih."
Senangnya hatiku mendengar berita ini, dengan riang aku berteriak "Yes!", setidaknya ada harapanku untuk mencabut gelar pengangguran ini.
Malamnya pun aku tidak mau ngembun lagi, segera aku untuk coba terlelap di kamar kost yang kecil dan sumpek ini, berharap besok aku bisa terbangun lebih pagi dan lebih segar.
Paginya dengan pakaian rapi, aku pun segera berangkat ke perusahaan itu. Tepat pukul 8 pagi aku keluar dari kost, berharap tidak telat nantinya, walaupun aku tahu ini masih sangat awal, yah wajar saja, ini panggilan pertama dan yang sangat aku tunggu.
Sementara aku masih naik angkot, karena rencanaku adalah setelah dapat pekerjaan barulah coba kredit motor. Tepat di perusahaan yang dimaksud, aku turun dari angkot, memang tak begitu jauh dari tempat kostku.
Hmm, sebuah bank swasta yang cukup ternama di kota ini. Dalam benakku terbayang, aku yang berpakaian rapi bahkan berdasi duduk di sebuah kursi depan komputer di ruangan ber- AC.
Sesampai di depan pintu, langsung security yang membuka pintu menyambutku.
"Selamat datang pak".
Ya biasalah, bank profesional memang seharusnya begitu.
"Maaf pak, saya ke sini karna ada panggilan interview"
"Oh, silahkan naik ke lantai 2 pak, di sana ada resepsionis, tanya saja di sana ya pak", katanya sambil menunjuk ke arah tangga.
"Terima kasih pak" aku memberikan kesan yang sopan walaupun terhadap seorang security.
Aku berjalan menuju tangga dan menaikinya. Tepat di lantai 2, sebelah kanan tangga ada meja resepsionis, aku coba melangkah ke sana, dan seorang gadis yang sedang duduk di sana segera berdiri dan menebarkan senyuman.
"Ada yang bisa saya bantu pak?".
Wow, gumamku di dalam hati, senyumnya sangat manis, kulitnya putih dengan rambut lurus sampai punggung, tingginya mungkin 167cm karena lebih rendah sedikit dari aku. Vera namanya, aku liat ID Card yang terjepit di bajunya, gadis yang sangat sesuai dengan tipeku.
Terbesit dalam pikiran jika aku berhasil masuk di perusahaan ini, aku akan coba menggaetnya, maklum lah aku yang belum pernah pacaran ini juga sangat mendambakan seorang pendamping hidup.
"Saya dapat panggilan interview mbak", jawabku yang masih terkagum.
"Oh iya, silahkan tunggu ya pak, nanti saya panggil", kata gadis itu menunjuk ruangan depan yang seperti ruang tamu.
Aku pun masuk dan duduk di kursi sofa yang melingkar itu.
Ada seorang lelaki juga yang duduk bersamaku, pakaiannya rapi, tapi kulitnya kurang lebih denganku, walau kelihatan dia lebih hitam dengan kulit yang tidak terawat, namun dia memiliki tubuh yang berisi dan tegap layaknya orang yang sering fitnes. Agar suasana tidak tegang, aku coba menyapa orang tersebut.
"Hai, dapat panggilan interview juga?".
"Iya nih, mas juga ya?" jawabnya sambil tersenyum dan menjulurkan tangan kanannya bermaksud bersalaman denganku
"Namaku Andi", dia memperkenalkan diri padaku.
Tangannya terasa sangat kasar.
"Namaku Satorman, sudah lama mas tunggu di sini?" jawabku sambil melayangkan sebuah pertanyaan.
"Ga juga, lebih cepat datang kan lebih cepat pulang, tuh di ruangan sebelah ada yang sedang diinterview".
Kelihatannya orangnya memang ramah, dengan berbincang sedikit saja kami pun jadi akrab. Sambil menunggu kami pun terus melanjutkan pembicaraan kami.
"Mas Andi asal mana?"
"Aku asli Bandung, mas sendiri?"
"Wah, kebetulan sekali, ayahku juga orang Bandung, tapi ibuku NTT, maklum bapakku perantau".
Banyak sekali yang kami bicarakan bahkan sampai bertukaran nomor HP.
Dari pembicaraan ini, aku baru tahu bahwa cari kerja itu susah, Andi menceritakan semua kisahnya padaku.
Dia sudah 3 tahun menyandang gelar sarjana, tetapi tak satu pun pekerjaan yang layak dia dapatkan. Dia pernah menjadi cleaning service di sebuah restoran, tetapi dia dipecat hanya karna tidak sengaja memecahkan sebuah gelas minum. Setelah itu dia juga pernah menjadi tukang bangunan dan kuli angkut di pelabuhan.
Ya, tak heran tangannya agak kasar.
Bahkan dia pernah jadi kurir ganja demi bisa bertahan di dunia yang dia katakan fana ini. Dan sekarang ini, dia hanya bantu di kios temannya yang hanya menjual premium eceran dan melayani tambal ban.
Tak sadar di sela pembicaraan kami, Vera sang resepsionis memasuki ruangan dan memanggil Andi untuk segera ke ruangan sebelah.
Bersamaan juga aku melihat seorang pria yang berjalan melewati pintu, sepertinya dia baru keluar dari ruangan sebelah. Prediksiku, dia adalah orang yang baru diinterview tadi, mukanya terlihat sedih dan seperti suram sekali, mungkin dia telah dikecewakan dengan hasil interview barusan.
Tanpa Andi, ruangan ini menjadi sepi, aku hanya duduk terdiam dan merasa sedikit tegang. Aku coba menghibur diri agar tidak begitu tegang, aku semangati diriku sendiri dan berkata dalam hati.
- Ya, setidaknya yang diinterview pertama sudah mungkin gagal, berarti aku punya peluang semakin besar - batinku
Tiba-tiba Vera masuk keruangan.
"Pak Satorman, boleh ke ruangan sebelah untuk interview".
"Oya, terima kasih"
Aku kaget dalam lamunan aku dan segera melihat arloji aku, ternyata sudah 40 menit aku menunggu tanpa ditemani Andi. Aku pun segera bangkit dan keluar dari ruangan.
Saat di depan pintu, aku berpapasan dengan Andi tampak mimik mukanya yang kelihatannya marah, bergumam "Brengsek" sambil berjalan menuju tangga.
Kelihatannya dia juga gagal diinterview, ini malah membuat aku berbalik pikir, apakah para calon karyawan yang tak sesuai dengan kriteria perusahaan, atau interview ini yang lumayan sulit?
Aku berusaha menggapai gagang pintu dengan perasaan aku yang sangat gugup, membuka pintu tersebut.
"Selaamat pagii", aku coba menyapa orang yang berada dalam ruangan itu.
Apa? Ada 2 orang wanita di dalam ruangan itu, mungkin mereka yang akan menginterview aku?
Jantungku pun berdebar kencang, ini adalah pertama kali aku mengalami interview kerja.
"Silahkan masuk", salah satu wanita yang duduk berdampingan itu menyapaku dengan senyuman yang menurutku betul-betul indah.
Sambil berjalan menuju ke meja bundar tempat mereka duduk, wanita tersebut menjulur tangannya untuk berjabat tangan denganku.
"Susi, manager HRD" dia tetap melayangkan senyumnya yang manis kepadaku.
"Satorman", balasku menjabat tangannya.
Sedangkan wanita yang satunya lagi duduk diam saja, mukanya kelihatan judes sekali, walau face-nya lebih cantik dibandingkan Susi.
"Satorman", aku coba berjabat tangan dengan wanita judes tersebut.
"Viany, manager marketing", jawabnya sambil menjabat tanganku masih dengan muka judes tanpa senyuman.
"Silahkan duduk", perintah wanita yang tersenyum tadi alias Susi.
Aku pun segera duduk, dan berpikir kalau kedua wanita ini yang akan mewawancarai aku.
Kedua wanita ini masih muda, prediksiku, mereka sekitar masih 30an tahun. Tubuh mereka pun kurang lebih sama, dengan bodi yang masih sexy dan tinggi badan yang sama, kira-kira 165-168cm. Mereka menggunakan rok yang cukup mini, sangat mempesona di balik usia mereka yang bukan lagi gadis remaja.
Bu Viany lumayan cantik, wajahnya mulus terawat, dengan rambut terurai panjang di punggungnya, mungkin waktu remajanya dulu dia adalah gadis incaran teman-teman pria sekelasnya, cuma sangat disayangkan, pandangannya terlalu sinis, jujur saja aku agak muak melihat gaya juteknya tersebut.
Sedangkan Bu Susi, mukanya tidak terlalu cantik, biasa-biasa saja menurutku. Namun senyumnya telah mengalahkan segalanya, dia terlihat sangat manis jadinya. Bisa aku tebak kalau Bu Susi ini adalah seorang yang periang.
Kalau mereka berdua digabungkan mungkin akan menjadi sedikit sempurna, dengan penampilan luar yang cantiknya Bu Viany digabung dengan inner beauty-nya Bu Susi.
"Satorman, kamu tahu ada lowongan darimana?", tanya Bu Susi dibarengi senyumannya setelah membolak-balik surat lamaran aku.
"Aku cuma coba taruh saja bu", jawabku
Aku yang sudah pasrah mencari kerja sehingga aku pun memasukkan lamaran ke mana saja walaupun tak jelas adanya informasi lowongan.
"Jadi, kamu tidak tahu kamu sedang melamar bagian apa?", sambung Bu Viany dengan judesnya, mukanya sangat masam, seperti tidak senang dengan jawabanku.
Aku pun terdiam semakin gugup dan tak tenang.
"Kami lagi butuh staff marketing, kira-kira Satorman berminat ga?", sambung Bu Susi sambil tersenyum seolah dia tak mau aku sampai gugup dan kehilangan pembicaraan.
Setiap pertanyaan Bu Viany sangatlah menjatuhkan mentalku, dan Bu Susi yang selalu menjadi malaikat pendamping yang membantu menenangkan keteganganku.
Aku hanya sesekali memandang ke arah Bu Viany karena wajahnya yang judes itu bisa menciutkan nyaliku.
"Kamu belum berpengalam kerja loh, bagaimana nanti kamu bisa yakin kerja di sini?" tanya si ratu sinis itu.
Sungguh kesal aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya, ditambah dengan wajah judesnya ini kurang enak dipandang.
"Satorman kan sudah sarjana, pasti sudah banyak belajar dong di kuliah.." senyuman Bu Susi sangatlah manis, dia selalu terlihat menjadi penolongku.
Mungkin karena gugup dan tegang aku menjadi tidak konsentrasi dan banyak pertanyaan yang sulit ku jawab. Apalagi tatapan Bu Viany yang bagai ratu iblis itu, dengan pertanyaan yang bertubi-tubi menjatuhkan mentalku, dan menghilangkan harapanku untuk diterima bekerja di bank ini.
Apa karena pengaruh jabatannya? Di usia 30-an dengan status seorag manager apalagi dengan penampilan yang menawan, itu yang membuat dia menjadi sombong seperti itu.
"Sekarang coba kamu praktekkan, coba tawarkan ini di depan kami" kata Bu Viany dengan melemparkan spidol ke arahku, tatapannya tidak berubah sama sekali, tetap sinis.
"Gini Satorman, anggap saja Satorman adalah seorang salesman spidol, dan kami ini calon konsumen, santai saja, tak perlu tegang.." sambung Bu Susi si malaikat penebar senyum.
Dengan perasaan gugup aku mencoba menawarkan spidol itu dan agak sedikit terbata-bata. Dan kelihatannya, Bu Viany sangat tidak puas dengan presentasiku. Tetapi Bu Susi tetap tersenyum dan memberi kesempatan kepadaku.
"Coba Satorman ulangi sekali lagi dari awal, tak perlu tegang, anggap saja kami ini tidak tahu mengenai spidol tersebut, seolah-olah kami tidak tahu sama sekali apa itu yang namanya spidol" kata Bu Susi.
Belum sempat aku memulai, Bu Viany langsung memotong.
"Aku mau kamu mempraktekkannya dari luar ruangan, bagaimana kamu ketemu kami, kamu harus masuk dan mempromosikannya".
What the hell is it? Gumamku dalam hati.
Kenapa tuh iblis seolah-olah tidak menghargaiku, dia mau aku mengemis padanya? Tapi apa boleh buat, aku sangat membutuhkan pekerjaan.
Dari luar aku mengetuk pintu dan permisi masuk, memperkenalkan diri kemudian menjelaskan produk yang sedang aku promosikan ini. Tak terasa hampir 1 jam aku diwawancarai.
Dan di akhir interview..
Bu Viany cuma bilang "Kalau kamu beruntung, nanti kami hubungi lagi" dia tidak mau memandangku seolah aku tak pantas bekerja di perusahaan ini.
"Satorman tunggu kabar dari kami ya, paling lama 1 minggu, kalau tidak kami hubungi berarti kita belum jodoh ya.." kata Bu Susi memberi sedikit harapan padaku. Walaupun aku tahu bahwa harapan aku tak sampai lima persen.
Aku pun menjabat tangan mereka dan mengucapkan terima kasih. Setidaknya aku sudah mencoba, dan sekarang akan meninggalkan ruangan seolah tempat berkumpulnya si hitam dan si putih.
Bersamaan juga aku melihat seorang pria yang berjalan melewati pintu, sepertinya dia baru keluar dari ruangan sebelah. Prediksiku, dia adalah orang yang baru diinterview tadi, mukanya terlihat sedih dan seperti suram sekali, mungkin dia telah dikecewakan dengan hasil interview barusan.
Tanpa Andi, ruangan ini menjadi sepi, aku hanya duduk terdiam dan merasa sedikit tegang. Aku coba menghibur diri agar tidak begitu tegang, aku semangati diriku sendiri dan berkata dalam hati.
- Ya, setidaknya yang diinterview pertama sudah mungkin gagal, berarti aku punya peluang semakin besar - batinku
Tiba-tiba Vera masuk keruangan.
"Pak Satorman, boleh ke ruangan sebelah untuk interview".
"Oya, terima kasih"
Aku kaget dalam lamunan aku dan segera melihat arloji aku, ternyata sudah 40 menit aku menunggu tanpa ditemani Andi. Aku pun segera bangkit dan keluar dari ruangan.
Saat di depan pintu, aku berpapasan dengan Andi tampak mimik mukanya yang kelihatannya marah, bergumam "Brengsek" sambil berjalan menuju tangga.
Kelihatannya dia juga gagal diinterview, ini malah membuat aku berbalik pikir, apakah para calon karyawan yang tak sesuai dengan kriteria perusahaan, atau interview ini yang lumayan sulit?
Aku berusaha menggapai gagang pintu dengan perasaan aku yang sangat gugup, membuka pintu tersebut.
"Selaamat pagii", aku coba menyapa orang yang berada dalam ruangan itu.
Apa? Ada 2 orang wanita di dalam ruangan itu, mungkin mereka yang akan menginterview aku?
Jantungku pun berdebar kencang, ini adalah pertama kali aku mengalami interview kerja.
"Silahkan masuk", salah satu wanita yang duduk berdampingan itu menyapaku dengan senyuman yang menurutku betul-betul indah.
Sambil berjalan menuju ke meja bundar tempat mereka duduk, wanita tersebut menjulur tangannya untuk berjabat tangan denganku.
"Susi, manager HRD" dia tetap melayangkan senyumnya yang manis kepadaku.
"Satorman", balasku menjabat tangannya.
Sedangkan wanita yang satunya lagi duduk diam saja, mukanya kelihatan judes sekali, walau face-nya lebih cantik dibandingkan Susi.
"Satorman", aku coba berjabat tangan dengan wanita judes tersebut.
"Viany, manager marketing", jawabnya sambil menjabat tanganku masih dengan muka judes tanpa senyuman.
"Silahkan duduk", perintah wanita yang tersenyum tadi alias Susi.
Aku pun segera duduk, dan berpikir kalau kedua wanita ini yang akan mewawancarai aku.
Kedua wanita ini masih muda, prediksiku, mereka sekitar masih 30an tahun. Tubuh mereka pun kurang lebih sama, dengan bodi yang masih sexy dan tinggi badan yang sama, kira-kira 165-168cm. Mereka menggunakan rok yang cukup mini, sangat mempesona di balik usia mereka yang bukan lagi gadis remaja.
Bu Viany lumayan cantik, wajahnya mulus terawat, dengan rambut terurai panjang di punggungnya, mungkin waktu remajanya dulu dia adalah gadis incaran teman-teman pria sekelasnya, cuma sangat disayangkan, pandangannya terlalu sinis, jujur saja aku agak muak melihat gaya juteknya tersebut.
Sedangkan Bu Susi, mukanya tidak terlalu cantik, biasa-biasa saja menurutku. Namun senyumnya telah mengalahkan segalanya, dia terlihat sangat manis jadinya. Bisa aku tebak kalau Bu Susi ini adalah seorang yang periang.
Kalau mereka berdua digabungkan mungkin akan menjadi sedikit sempurna, dengan penampilan luar yang cantiknya Bu Viany digabung dengan inner beauty-nya Bu Susi.
"Satorman, kamu tahu ada lowongan darimana?", tanya Bu Susi dibarengi senyumannya setelah membolak-balik surat lamaran aku.
"Aku cuma coba taruh saja bu", jawabku
Aku yang sudah pasrah mencari kerja sehingga aku pun memasukkan lamaran ke mana saja walaupun tak jelas adanya informasi lowongan.
"Jadi, kamu tidak tahu kamu sedang melamar bagian apa?", sambung Bu Viany dengan judesnya, mukanya sangat masam, seperti tidak senang dengan jawabanku.
Aku pun terdiam semakin gugup dan tak tenang.
"Kami lagi butuh staff marketing, kira-kira Satorman berminat ga?", sambung Bu Susi sambil tersenyum seolah dia tak mau aku sampai gugup dan kehilangan pembicaraan.
Setiap pertanyaan Bu Viany sangatlah menjatuhkan mentalku, dan Bu Susi yang selalu menjadi malaikat pendamping yang membantu menenangkan keteganganku.
Aku hanya sesekali memandang ke arah Bu Viany karena wajahnya yang judes itu bisa menciutkan nyaliku.
"Kamu belum berpengalam kerja loh, bagaimana nanti kamu bisa yakin kerja di sini?" tanya si ratu sinis itu.
Sungguh kesal aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya, ditambah dengan wajah judesnya ini kurang enak dipandang.
"Satorman kan sudah sarjana, pasti sudah banyak belajar dong di kuliah.." senyuman Bu Susi sangatlah manis, dia selalu terlihat menjadi penolongku.
Mungkin karena gugup dan tegang aku menjadi tidak konsentrasi dan banyak pertanyaan yang sulit ku jawab. Apalagi tatapan Bu Viany yang bagai ratu iblis itu, dengan pertanyaan yang bertubi-tubi menjatuhkan mentalku, dan menghilangkan harapanku untuk diterima bekerja di bank ini.
Apa karena pengaruh jabatannya? Di usia 30-an dengan status seorag manager apalagi dengan penampilan yang menawan, itu yang membuat dia menjadi sombong seperti itu.
"Sekarang coba kamu praktekkan, coba tawarkan ini di depan kami" kata Bu Viany dengan melemparkan spidol ke arahku, tatapannya tidak berubah sama sekali, tetap sinis.
"Gini Satorman, anggap saja Satorman adalah seorang salesman spidol, dan kami ini calon konsumen, santai saja, tak perlu tegang.." sambung Bu Susi si malaikat penebar senyum.
Dengan perasaan gugup aku mencoba menawarkan spidol itu dan agak sedikit terbata-bata. Dan kelihatannya, Bu Viany sangat tidak puas dengan presentasiku. Tetapi Bu Susi tetap tersenyum dan memberi kesempatan kepadaku.
"Coba Satorman ulangi sekali lagi dari awal, tak perlu tegang, anggap saja kami ini tidak tahu mengenai spidol tersebut, seolah-olah kami tidak tahu sama sekali apa itu yang namanya spidol" kata Bu Susi.
Belum sempat aku memulai, Bu Viany langsung memotong.
"Aku mau kamu mempraktekkannya dari luar ruangan, bagaimana kamu ketemu kami, kamu harus masuk dan mempromosikannya".
What the hell is it? Gumamku dalam hati.
Kenapa tuh iblis seolah-olah tidak menghargaiku, dia mau aku mengemis padanya? Tapi apa boleh buat, aku sangat membutuhkan pekerjaan.
Dari luar aku mengetuk pintu dan permisi masuk, memperkenalkan diri kemudian menjelaskan produk yang sedang aku promosikan ini. Tak terasa hampir 1 jam aku diwawancarai.
Dan di akhir interview..
Bu Viany cuma bilang "Kalau kamu beruntung, nanti kami hubungi lagi" dia tidak mau memandangku seolah aku tak pantas bekerja di perusahaan ini.
"Satorman tunggu kabar dari kami ya, paling lama 1 minggu, kalau tidak kami hubungi berarti kita belum jodoh ya.." kata Bu Susi memberi sedikit harapan padaku. Walaupun aku tahu bahwa harapan aku tak sampai lima persen.
Aku pun menjabat tangan mereka dan mengucapkan terima kasih. Setidaknya aku sudah mencoba, dan sekarang akan meninggalkan ruangan seolah tempat berkumpulnya si hitam dan si putih.
Sampai di kost, aku langsung mengistirahatkan badan, dan mencoba terlelap agar apa yang terjadi ini segera aku lupakan. Karna kekesalan di hati ini sangatlah berat, dan mungkin ini juga yang Andi dan calon karyawan sebelumnya rasakan. Nada dering lagu Ruang Rindunya Letto di hapeku mengusik tidurku dan membangunkanku.
"Halo, gimana interview tadi?" ternyata telepon dari Andi.
Aku pun menceritakan semuanya, dan ternyata nasib kami hampir sama.
"Kita ngobrol di warung kopi aja yuk, biar aku yang jemput kamu saja" ajak Andi.
Karna tidak ada kegiatan, aku pun menyetujuinya. Bergegas aku segera mandi dan menunggu jemputan dari Andi.
Bunyi klakson pun tak lama terdengar dari luar tempat kost. Aku sedikit kaget karena mengira Andi akan menjemput aku dengan sepeda motor, ternyata dia membawa mobil Suzuki APV warna hitam dengan kaca film hitam. Yang menyupir bukan dia, tetapi seseorang yang sepertinya aku kenal.
Andi duduk di bangku kedua dan membukakan pintu untukku. Dia segera menyambutku dan memintaku segera naik ke mobil.
Aku dan Andi duduk di bangku ke dua, di belakang aku lihat ada dua orang dan di depan ada dua orang termasuk sang supir. Andi pun kemudian memperkenalkan aku dengan mereka.
Yang duduk, di belakang, mereka adalah Syamsul dan Mamat, mereka berperawakan layaknya preman, tangan penuh tatto dan brewokan. Aku menjadi sedikit takut untuk bergabung dalam kelompok ini.
Dua orang di depan sedikit menenangkanku, mereka lebih kelihatan rapi dan seperti orang berpendidikan. Yang duduk di sebelah sang sopir, namanya Tono, dengan memakai kacamata, dia terlihat seperti seorang kutu buku.
Sedangkan sang sopir bernama Herman, wajahnya seperti tidak asing bagi aku, kulitnya putih dan terawat layaknya seoarang anak toke yang kaya raya. Baru ku sadari kalau si Herman ini adalah calon karyawan yang lebih dulu diwawancarai sebelum kami tadi padi.
Andi pun menjelaskan semua, Syamsul dan Mamat adalah temannya, dan Tono adalah teman si Herman, Andi memperoleh nomor hp Herman saat mereka menunggu di ruangan tunggu di bank tempat kami diinterview, seperti kami, Andi dan Herman pun banyak membagi cerita sambil menunggu interview.
Herman ternyata memang anak orang kaya, tapi dia sebenarnya orang yang mandiri dan tidak mengharapkan bantuan orang tuanya dalam bekerja, dia lebih milih berusaha sendiri mencari pekerjaan yang setidaknya tidak mengecewakan kedua orang tuanya.
Sedangkan si Tono ternyata adalah orang yang jorok dan sangat mesum, sepanjang perjalanan dia selalu membahas masalah bokep, aku sebenarnya sedikit risih.
"Jadi, kita mau ke mana nih?" tanyaku kepada Andi.
"Kita mau pergi bersenang-senang, ikut aja, pasti ga nyesal deh", jawab Andi yang sepertinya dia mempunyai sebuah ide yang cemerlang.
Dalam perjalanan Andi pun memceritakan semuanya, ternyata mereka merencanakan sesuatu hal yang buruk, mereka akan balas dendam karena hal sepele hasil dari interview tadi pagi.
"Loh, kalau kita memang tak masuk kualifikasi, ya apa boleh buat? Lagian mereka kan juga melaksanakan tugas mereka? Bu Susi pun sepertinya sangat terbuka denganku", aku coba menenangkan mereka
Aku takut mereka berencana membunuh kedua wanita itu, apalagi Andi membawa kedua temannya, Syamsul dan Mamat yang berlatar belakang berprofesi sebagai preman pasar.
Kami pun memasuki komplek perumahan elit, kondisinya sangat sepi, mungkin karena yang tinggal di sini adalah rata-rata orang kaya yang selalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku coba memandang sekeliling, seperti tidak adanya tanda-tanda kehidupan, kalaupun ada mungkin mereka sudah melepas lelah di kamar.
Sampai di ujung komplek, mobil kami berhenti tepat di depan rumah bernomor 18CC. Andi segera turun dan membunyikan bel yang ada di samping pagar.
Tak lama terlihat seorang wanita membuka pagar pintu, dan betapa kagetnya aku melihat bahwa wanita itu adalah Bu Viany. Andi dengan cepat langsung menodongkan pisau lipat yang telah dia siapkan dalam saku celananya, Bu Viany kelihatan sangat pucat.
Andi segera memberi aba-aba menyuruh kami masuk. Herman pun memasukkan mobil hingga ke dalam garasi yang sedang terbuka. Aku melihat Tono yang segera bergegas turun seperti orang yang kehilangan kesabaran, dengan membawa sebuah tas jinjing dia pun berlari langsung ke arah Andi dan Bu Viany.
Aku sangat takut sekali dengan semua ini, dan aku bepikir, apa yang telah aku lakukan? Kenapa bisa sampai ikut gerombolan ini.
"Kamu jangan diam saja, cepat tutup tuh pagar!" perintah Herman yang sontak mengagetkanku.
Dengan reflek cepat segera aku langsung pergi menutup pagar pintu depan rumah, saat itu juga aku lihat mereka semua sudah menggotong dengan paksa tubuh Bu Viany ke dalam rumah. Dengan segera aku berlari ke arah mereka.
Bu Viany yang tadi pagi terlihat sombong, kini tak berkutik, dia hanya bisa terdiam karena takut dengan pisau yang dibawa Andi.
"Cepat bawa ke kamar, dan ikat dia!" perintah Andi.
Rumahnya cukup besar, ruang tamunya terlihat mewah sekali, dengan sofa yang elit dan tv LCD yang besar, mungkin ukuran 52 inchi dengan sound system yang lengkap.
"Jangan bengong aja, ayo bersenang-senang", ajak Andi menarik tanganku menuju sebuah kamar.
Setelah mengikat Bu Viany, Syamsul dan Mamat segera keluar dari kamar dan berkata kepada Andi.
"Kami gasak hartanya dulu boss, biar tuh perek boss yang kerjai aja dulu, selamat bersenang- senang".
Bu Viany yang diikat seperti huruf Y terbalik di atas tempat tidur mulai memelas.
"Ampun, biarkan aku pergi, kalian boleh ambil hartaku, tapi jangan apa-apa kan aku", kata Bu Viany mulai meneteskan air mata.
"Aku tak perlu hartamu!" teriak Herman mendekati Bu Viany dan menamparnya.
Bu Viany semakin keras menangis dan meminta ampun.
"Akuu mo..mohon maa..af kan ak..akuu.."
Dengan kuat Herman menarik baju yang dikenakan Bu Viany hingga terkoyak dan payudara berbalut bra hitamnya menyembul keluar.
"Maaf? Itu ga cukup beib.. Kau telah mempermalukanku, dan aku pun akan mempermalukanmu.." kata Herman diikuti senyuman yang sangat menakutkan.
Aku hanya terdiam, walaupun sedikit terangsang, tapi aku coba menahan, aku ke sudut ruangan dan duduk di kursi yang tersedia.
"Santai saja dulu, liat dulu dengan permainan kami" kata Andi kepadaku sambil melemparkan sebungkus rokok Marlboro dan sebuah pemantik apinya.
Aku menyalakan rokok dan mencoba menenangkan diri dan melihat aksi mereka. Sebenarnya aku sangat takut dengan perbuatan seperti ini, tapi apa boleh buat, ini sungguh adalah pemandangan yang sangat memacu gairah.
Aku lihat Tono membuka tasnya, ia mengeluarkan sebuah handycam, gila, dia pikir ini mau dijadikan film. Sempat aku intip isi tasnya, ternyata banyak sekali alat sex. Baru aku sadari bahwa Tono adalah seorang yang hypersex, mungkin otaknya sudah sedikit tak normal, ada sedikit kelainan pada nafsu birahinya.
Tono, Andi dan Herman, mereka mengerjai Bu Viany secara bersamaan, sangat brutal menurut aku. Aku coba tenang, tapi sesuatu yang ada di balik celana aku malah tidak tenang, dia tegang terus dari tadi.
Aku melihat Herman menindih Bu Viany, duduk tepat di atas dadanya dan terus menerus menampar pipi kanan dan kirinya. Sedangkan Andi sedang sibuk melorotkan celana Bu Viany dengan paksaan. Aksi itu terus direkam oleh Tono sambil sesekali ia pun ikut menampar pipi Bu Viany.
"Halo, gimana interview tadi?" ternyata telepon dari Andi.
Aku pun menceritakan semuanya, dan ternyata nasib kami hampir sama.
"Kita ngobrol di warung kopi aja yuk, biar aku yang jemput kamu saja" ajak Andi.
Karna tidak ada kegiatan, aku pun menyetujuinya. Bergegas aku segera mandi dan menunggu jemputan dari Andi.
Bunyi klakson pun tak lama terdengar dari luar tempat kost. Aku sedikit kaget karena mengira Andi akan menjemput aku dengan sepeda motor, ternyata dia membawa mobil Suzuki APV warna hitam dengan kaca film hitam. Yang menyupir bukan dia, tetapi seseorang yang sepertinya aku kenal.
Andi duduk di bangku kedua dan membukakan pintu untukku. Dia segera menyambutku dan memintaku segera naik ke mobil.
Aku dan Andi duduk di bangku ke dua, di belakang aku lihat ada dua orang dan di depan ada dua orang termasuk sang supir. Andi pun kemudian memperkenalkan aku dengan mereka.
Yang duduk, di belakang, mereka adalah Syamsul dan Mamat, mereka berperawakan layaknya preman, tangan penuh tatto dan brewokan. Aku menjadi sedikit takut untuk bergabung dalam kelompok ini.
Dua orang di depan sedikit menenangkanku, mereka lebih kelihatan rapi dan seperti orang berpendidikan. Yang duduk di sebelah sang sopir, namanya Tono, dengan memakai kacamata, dia terlihat seperti seorang kutu buku.
Sedangkan sang sopir bernama Herman, wajahnya seperti tidak asing bagi aku, kulitnya putih dan terawat layaknya seoarang anak toke yang kaya raya. Baru ku sadari kalau si Herman ini adalah calon karyawan yang lebih dulu diwawancarai sebelum kami tadi padi.
Andi pun menjelaskan semua, Syamsul dan Mamat adalah temannya, dan Tono adalah teman si Herman, Andi memperoleh nomor hp Herman saat mereka menunggu di ruangan tunggu di bank tempat kami diinterview, seperti kami, Andi dan Herman pun banyak membagi cerita sambil menunggu interview.
Herman ternyata memang anak orang kaya, tapi dia sebenarnya orang yang mandiri dan tidak mengharapkan bantuan orang tuanya dalam bekerja, dia lebih milih berusaha sendiri mencari pekerjaan yang setidaknya tidak mengecewakan kedua orang tuanya.
Sedangkan si Tono ternyata adalah orang yang jorok dan sangat mesum, sepanjang perjalanan dia selalu membahas masalah bokep, aku sebenarnya sedikit risih.
"Jadi, kita mau ke mana nih?" tanyaku kepada Andi.
"Kita mau pergi bersenang-senang, ikut aja, pasti ga nyesal deh", jawab Andi yang sepertinya dia mempunyai sebuah ide yang cemerlang.
Dalam perjalanan Andi pun memceritakan semuanya, ternyata mereka merencanakan sesuatu hal yang buruk, mereka akan balas dendam karena hal sepele hasil dari interview tadi pagi.
"Loh, kalau kita memang tak masuk kualifikasi, ya apa boleh buat? Lagian mereka kan juga melaksanakan tugas mereka? Bu Susi pun sepertinya sangat terbuka denganku", aku coba menenangkan mereka
Aku takut mereka berencana membunuh kedua wanita itu, apalagi Andi membawa kedua temannya, Syamsul dan Mamat yang berlatar belakang berprofesi sebagai preman pasar.
Kami pun memasuki komplek perumahan elit, kondisinya sangat sepi, mungkin karena yang tinggal di sini adalah rata-rata orang kaya yang selalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku coba memandang sekeliling, seperti tidak adanya tanda-tanda kehidupan, kalaupun ada mungkin mereka sudah melepas lelah di kamar.
Sampai di ujung komplek, mobil kami berhenti tepat di depan rumah bernomor 18CC. Andi segera turun dan membunyikan bel yang ada di samping pagar.
Tak lama terlihat seorang wanita membuka pagar pintu, dan betapa kagetnya aku melihat bahwa wanita itu adalah Bu Viany. Andi dengan cepat langsung menodongkan pisau lipat yang telah dia siapkan dalam saku celananya, Bu Viany kelihatan sangat pucat.
Andi segera memberi aba-aba menyuruh kami masuk. Herman pun memasukkan mobil hingga ke dalam garasi yang sedang terbuka. Aku melihat Tono yang segera bergegas turun seperti orang yang kehilangan kesabaran, dengan membawa sebuah tas jinjing dia pun berlari langsung ke arah Andi dan Bu Viany.
Aku sangat takut sekali dengan semua ini, dan aku bepikir, apa yang telah aku lakukan? Kenapa bisa sampai ikut gerombolan ini.
"Kamu jangan diam saja, cepat tutup tuh pagar!" perintah Herman yang sontak mengagetkanku.
Dengan reflek cepat segera aku langsung pergi menutup pagar pintu depan rumah, saat itu juga aku lihat mereka semua sudah menggotong dengan paksa tubuh Bu Viany ke dalam rumah. Dengan segera aku berlari ke arah mereka.
Bu Viany yang tadi pagi terlihat sombong, kini tak berkutik, dia hanya bisa terdiam karena takut dengan pisau yang dibawa Andi.
"Cepat bawa ke kamar, dan ikat dia!" perintah Andi.
Rumahnya cukup besar, ruang tamunya terlihat mewah sekali, dengan sofa yang elit dan tv LCD yang besar, mungkin ukuran 52 inchi dengan sound system yang lengkap.
"Jangan bengong aja, ayo bersenang-senang", ajak Andi menarik tanganku menuju sebuah kamar.
Setelah mengikat Bu Viany, Syamsul dan Mamat segera keluar dari kamar dan berkata kepada Andi.
"Kami gasak hartanya dulu boss, biar tuh perek boss yang kerjai aja dulu, selamat bersenang- senang".
Bu Viany yang diikat seperti huruf Y terbalik di atas tempat tidur mulai memelas.
"Ampun, biarkan aku pergi, kalian boleh ambil hartaku, tapi jangan apa-apa kan aku", kata Bu Viany mulai meneteskan air mata.
"Aku tak perlu hartamu!" teriak Herman mendekati Bu Viany dan menamparnya.
Bu Viany semakin keras menangis dan meminta ampun.
"Akuu mo..mohon maa..af kan ak..akuu.."
Dengan kuat Herman menarik baju yang dikenakan Bu Viany hingga terkoyak dan payudara berbalut bra hitamnya menyembul keluar.
"Maaf? Itu ga cukup beib.. Kau telah mempermalukanku, dan aku pun akan mempermalukanmu.." kata Herman diikuti senyuman yang sangat menakutkan.
Aku hanya terdiam, walaupun sedikit terangsang, tapi aku coba menahan, aku ke sudut ruangan dan duduk di kursi yang tersedia.
"Santai saja dulu, liat dulu dengan permainan kami" kata Andi kepadaku sambil melemparkan sebungkus rokok Marlboro dan sebuah pemantik apinya.
Aku menyalakan rokok dan mencoba menenangkan diri dan melihat aksi mereka. Sebenarnya aku sangat takut dengan perbuatan seperti ini, tapi apa boleh buat, ini sungguh adalah pemandangan yang sangat memacu gairah.
Aku lihat Tono membuka tasnya, ia mengeluarkan sebuah handycam, gila, dia pikir ini mau dijadikan film. Sempat aku intip isi tasnya, ternyata banyak sekali alat sex. Baru aku sadari bahwa Tono adalah seorang yang hypersex, mungkin otaknya sudah sedikit tak normal, ada sedikit kelainan pada nafsu birahinya.
Tono, Andi dan Herman, mereka mengerjai Bu Viany secara bersamaan, sangat brutal menurut aku. Aku coba tenang, tapi sesuatu yang ada di balik celana aku malah tidak tenang, dia tegang terus dari tadi.
Aku melihat Herman menindih Bu Viany, duduk tepat di atas dadanya dan terus menerus menampar pipi kanan dan kirinya. Sedangkan Andi sedang sibuk melorotkan celana Bu Viany dengan paksaan. Aksi itu terus direkam oleh Tono sambil sesekali ia pun ikut menampar pipi Bu Viany.
Herman pun membuka resleting celananya, dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengacung tegak.
"Cepat kulum! Puaskan aku, atau kau ku bunuh!" ancam Herman.
"Jaa..jangan.. Sa..sayaa mo..hoon.." pinta Bu Viany ketakutan dengan air mata yang terus mengalir dan telah membasahi pipinya yang kemerahan akibat tamparan.
Herman terlihat sangat marah, ia pun berdiri dan terus melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Melihat demikian Tono dan Andi tidak mau kalah, mereka pun melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga tak tersisa sehelaipun.
Bu Viany terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan tersebut, celananya sudah melorot sampai batas lutut, terlihat CDnya yang berwarna merah muda, sedangkan bagian atas, pakaiannya sudah sobek, payudara tampak bergoyang-goyang dibalik balutan bra hitam ketika ia coba meronta lebih kuat.
Sebatang rokok sudah aku habiskan, aku belum cukup nyali untuk ikut nimbrung walau pun nafsuku terus bergejolak.
Ah, nanti saja aku nikmati sendiri, pikirku dengan tenang, toh, aku sudah terjerumus dalam keadaan seperti ini.
Aku nyalakan rokok yang kedua, kemudian kembali memandang ke arah mereka, ternyata Bu Viany sudah telanjang bulat, Herman dan Andi mengoyak semua pakaian Bu Viany dengan cutter dan gunting yang dibawa di dalam tas Tono.
Sedangkan Tono yang sedari tadi mengambil video, bergerak mundur, dia meletakkan handycam di meja belakang dan menghadapkannya ke arah tempat tidur, mungkin dia bermaksud mengambil video secara otomatis agar dia bisa melakukan kesibukan lainnya.
Jantungku berdetak dengan kencang melihat mereka berempat yang telah telanjang bulat. Aku segera mematikan rokokku, aku buang ke lantai dan menginjaknya. Aku segera bangkit dan melepaskan semua pakaian, aku sadar bahwa gairahku sudah tak tertahan lagi melihat tubuh bugil Bu Viany yang sexy. Jeritan minta ampunnya semakin membuat hatiku bergejolak.
"Ayo kita bersenang", teriak Andi.
"Sabar donk kawan, sebelum kita nikmati kue ini, sebaiknya kita test dulu kandungannya, takut mengandung racun atau bahan tak bermutu sejenisnya", kata Tono sambil membongkar tasnya dan mengeluarkan beberapa peralatan.
Alat yang satu seperti model penis tapi ada kabelnya, Tono langsung melemparkannya ke arah Herman. Satunya lagi dia pegang, seperti sejenis jepitan jemuran berkabel yang dihubungkan ke semacam accu battery.
Tanpa aba-aba, mereka langsung mengerjakan tugas mereka. Tanpa belas kasihan, Tono langsung menjepitkan kedua jepitan tersebut pada kedua moncong puting susu Bu Viany. Terlihat Bu Viany tersontak, karena jepitan tersebut teraliri listrik.
Dari mana Tono bisa dapat barang beginian? tanya aku dalam hati, benar-benar seorang yang mengidap kelainan sexual.
Sedangkan aku lihat yang dipegang Herman, terus bergetar, benda bulat lonjong panjang yang sepertinya terbuat dari karet itu bisa bergetar dan bergerak meliuk-liuk seperti ular yang mereka sebut sextoy dildo.
Bu Viany tidak mampu melakukan perlawanan, bahkan rintihannya pun sudah tak kedengaran karena bibirnya sedang dinikmati Andi. Terlihat Andi sangat bergairah menciumi bibir Bu Viany.
Aku sendiri bingung, mau menikmati apa lagi? Susah sekali berbagi dengan pria-pria yang sudah kesetanan ini. Herman sedang asyik menyodokkan sextoy yang ia pegang tadi ke dalam lubang memeknya Bu Viany.
Aku hanya bisa memandang, walaupun kali ini dalam jarak yang sangat dekat. Lebih jelas lagi melihat tubuh Bu Viany yang seksi, tak kalah dengan gadis remaja, kulitnya betul-betul mulus.
Teringat aku dengan kejadian tadi pagi membuat kekesalanku kembali muncul, sehingga aku juga ingin sekali mengerjai wanita sombong yang sekarang tak berdaya ini. Segera aku bongkar tas milik Tono, berharap aku mendapatkan sebuah mainan yang menarik.
Belum sempat menemukan barang yang menarik, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kami terdiam dan masing-masing menghentikan kegiatan.
Sialan, siapa yang datang? Pikir aku dalam hati, jangan-jangan suaminya yang pulang? Kenapa tak kepikiran oleh aku dari tadi?
"Jangan-jangan suaminya pulang?", tanyaku yang telah memecahkan keheningan.
Sambil berbicara pelan, Andi menjawab, "Bukan, suaminya lagi bertugas di Sulawesi, aku sudah minta Syamsul dan Mamat mencari informasi tadi siang".
"Lalu, ini siapa? Apa tetangganya? Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku.
Perasaanku sangat tidak enak, jantung aku pun kembali berdetak kencang, lulut pun seakan tak mampu bergerak lagi, mungkin kami akan kepergok.
"Sebelah rumah kosong, lagian ini rumah sangat besar, tak mungkin suara kita kedengaran oleh tetangga", jawab Andi yang juga was-was.
Aku benar-benar ketakutan, aku menyesali apa yang telah aku lakukan, apa aku yang baru mendapat gelar sarjana harus mendekam di penjara karena ulah tak senonoh ini?
Aku liat sekeliling, mereka bertiga pun sudah kelihatan tegang. Bu Viany tidak berani berteriak, mungkin karna kami menaruh benda tajam berserakan di lantai, ada cutter, gunting, dan pisau lipat, mungkin dia tidak berani mengambil resiko untuk berteriak.
"Mana koncomu si Syamsul dan si Mamat? Jangan sampai mereka buka pintu. Seharusnya tadi kita mematikan lampu agar rumah keliatan seperti tak ada orang", protes Herman kepada Andi.
Samar-samar kami mendengar suara pagar terbuka, aku pun meraih pakaianku dan bersiap-siap kabur jika sesuatu terjadi.
- Sialan, belum mulai saja sudah diganggu kayak gini - gumamku dalam hati
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, berjalan menuju kamar ini. Dari suara tersebut sepertinya tidak satu orang.
Herman segera meraih pisau lipat, dan Andi mengambil cutter yang berserak di bawah kakinya. Tono hanya terdiam, sepertinya dia adalah seorang yang penakut. Dua sosok pria mendekati kamar, dari jauh sangatlah tidak jelas, aku dan teman-teman sudah siap-siap bertindak apa saja agar kami selamat.
Sosok tersebut semakin terlihat jelas ketika mereka telah mencapai pintu, ternyata mereka adalah Syamsul dan Mamat.
"Bos, lihat apa yang kami temukan di depan pintu?" sahut Syamsul yang sedang merangkul seorang gadis perempuan.
Anak itu aku perkirakan berumur 13an, dengan mulut yang dibekap dengan tangan si Syamsul, gadis itu tak bisa berteriak. Rambutnya diikat seperti ekor kuda, gadis itu juga mengenakan tas di punggungnya, mungkin saja dia baru pulang dari les.
"Ini Veronica, anak perempuannya Bu Viany", jelas si Mamat.
"Aku mohon lepaskan anakku.." pinta Bu Viany dibalik isak tangisnya.
Aku tak habis pikir apa yang terjadi selanjutnya.
"Hahahaha, ikat anak itu, biar aku yang tangani", perintah Tono kepada Syamsul dan Mamat.
Tono terlihat senang sekali, senyumnya seperti serigala kelaparan yang menemukan seonggok daging segar.
Astaga, apa Tono akan mengerjai Veronica yang masih kecil ini juga? Aku tahu kalau Tono adalah orang yang punya kelainan, tapi apa dia sungguh tega?
Syamsul dan Mamat pun mengikatkan Veronica ke kursi rotan yang terletak dekat tempat tidur. Gadis itu menagis sekencang-kencangnya dan meminta tolong pada ibunya, seakan dia tidak tahu derita apa yang terjadi pada ibunya.
Tono mendekati Veronica, "Gadis yang malang, aku tidak tega sampai dia melihat mamanya bersenang-senang".
Tono pun menutup mata Veronica dengan penutup mata yang dia bawa di dalam tasnya. Sedangkan Herman meneruskan kesibukkannya, ia terus menusukkan sextoy yang terus bergetar di memek Bu Viany.
"Apa kamu tega melihat anakmu kami siksa? Lebih baik kamu layani kami dengan senang hati", bisik Tono di telinga Bu Viany.
"Tolong lepaskan dia.." mohon Bu Viany
"AAARGGG!" Bu Viany berteriak ketika Tono dengan paksa menarik jepitan di putingnya.
"Cepat kulum! Puaskan aku, atau kau ku bunuh!" ancam Herman.
"Jaa..jangan.. Sa..sayaa mo..hoon.." pinta Bu Viany ketakutan dengan air mata yang terus mengalir dan telah membasahi pipinya yang kemerahan akibat tamparan.
Herman terlihat sangat marah, ia pun berdiri dan terus melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Melihat demikian Tono dan Andi tidak mau kalah, mereka pun melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga tak tersisa sehelaipun.
Bu Viany terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan tersebut, celananya sudah melorot sampai batas lutut, terlihat CDnya yang berwarna merah muda, sedangkan bagian atas, pakaiannya sudah sobek, payudara tampak bergoyang-goyang dibalik balutan bra hitam ketika ia coba meronta lebih kuat.
Sebatang rokok sudah aku habiskan, aku belum cukup nyali untuk ikut nimbrung walau pun nafsuku terus bergejolak.
Ah, nanti saja aku nikmati sendiri, pikirku dengan tenang, toh, aku sudah terjerumus dalam keadaan seperti ini.
Aku nyalakan rokok yang kedua, kemudian kembali memandang ke arah mereka, ternyata Bu Viany sudah telanjang bulat, Herman dan Andi mengoyak semua pakaian Bu Viany dengan cutter dan gunting yang dibawa di dalam tas Tono.
Sedangkan Tono yang sedari tadi mengambil video, bergerak mundur, dia meletakkan handycam di meja belakang dan menghadapkannya ke arah tempat tidur, mungkin dia bermaksud mengambil video secara otomatis agar dia bisa melakukan kesibukan lainnya.
Jantungku berdetak dengan kencang melihat mereka berempat yang telah telanjang bulat. Aku segera mematikan rokokku, aku buang ke lantai dan menginjaknya. Aku segera bangkit dan melepaskan semua pakaian, aku sadar bahwa gairahku sudah tak tertahan lagi melihat tubuh bugil Bu Viany yang sexy. Jeritan minta ampunnya semakin membuat hatiku bergejolak.
"Ayo kita bersenang", teriak Andi.
"Sabar donk kawan, sebelum kita nikmati kue ini, sebaiknya kita test dulu kandungannya, takut mengandung racun atau bahan tak bermutu sejenisnya", kata Tono sambil membongkar tasnya dan mengeluarkan beberapa peralatan.
Alat yang satu seperti model penis tapi ada kabelnya, Tono langsung melemparkannya ke arah Herman. Satunya lagi dia pegang, seperti sejenis jepitan jemuran berkabel yang dihubungkan ke semacam accu battery.
Tanpa aba-aba, mereka langsung mengerjakan tugas mereka. Tanpa belas kasihan, Tono langsung menjepitkan kedua jepitan tersebut pada kedua moncong puting susu Bu Viany. Terlihat Bu Viany tersontak, karena jepitan tersebut teraliri listrik.
Dari mana Tono bisa dapat barang beginian? tanya aku dalam hati, benar-benar seorang yang mengidap kelainan sexual.
Sedangkan aku lihat yang dipegang Herman, terus bergetar, benda bulat lonjong panjang yang sepertinya terbuat dari karet itu bisa bergetar dan bergerak meliuk-liuk seperti ular yang mereka sebut sextoy dildo.
Bu Viany tidak mampu melakukan perlawanan, bahkan rintihannya pun sudah tak kedengaran karena bibirnya sedang dinikmati Andi. Terlihat Andi sangat bergairah menciumi bibir Bu Viany.
Aku sendiri bingung, mau menikmati apa lagi? Susah sekali berbagi dengan pria-pria yang sudah kesetanan ini. Herman sedang asyik menyodokkan sextoy yang ia pegang tadi ke dalam lubang memeknya Bu Viany.
Aku hanya bisa memandang, walaupun kali ini dalam jarak yang sangat dekat. Lebih jelas lagi melihat tubuh Bu Viany yang seksi, tak kalah dengan gadis remaja, kulitnya betul-betul mulus.
Teringat aku dengan kejadian tadi pagi membuat kekesalanku kembali muncul, sehingga aku juga ingin sekali mengerjai wanita sombong yang sekarang tak berdaya ini. Segera aku bongkar tas milik Tono, berharap aku mendapatkan sebuah mainan yang menarik.
Belum sempat menemukan barang yang menarik, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kami terdiam dan masing-masing menghentikan kegiatan.
Sialan, siapa yang datang? Pikir aku dalam hati, jangan-jangan suaminya yang pulang? Kenapa tak kepikiran oleh aku dari tadi?
"Jangan-jangan suaminya pulang?", tanyaku yang telah memecahkan keheningan.
Sambil berbicara pelan, Andi menjawab, "Bukan, suaminya lagi bertugas di Sulawesi, aku sudah minta Syamsul dan Mamat mencari informasi tadi siang".
"Lalu, ini siapa? Apa tetangganya? Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku.
Perasaanku sangat tidak enak, jantung aku pun kembali berdetak kencang, lulut pun seakan tak mampu bergerak lagi, mungkin kami akan kepergok.
"Sebelah rumah kosong, lagian ini rumah sangat besar, tak mungkin suara kita kedengaran oleh tetangga", jawab Andi yang juga was-was.
Aku benar-benar ketakutan, aku menyesali apa yang telah aku lakukan, apa aku yang baru mendapat gelar sarjana harus mendekam di penjara karena ulah tak senonoh ini?
Aku liat sekeliling, mereka bertiga pun sudah kelihatan tegang. Bu Viany tidak berani berteriak, mungkin karna kami menaruh benda tajam berserakan di lantai, ada cutter, gunting, dan pisau lipat, mungkin dia tidak berani mengambil resiko untuk berteriak.
"Mana koncomu si Syamsul dan si Mamat? Jangan sampai mereka buka pintu. Seharusnya tadi kita mematikan lampu agar rumah keliatan seperti tak ada orang", protes Herman kepada Andi.
Samar-samar kami mendengar suara pagar terbuka, aku pun meraih pakaianku dan bersiap-siap kabur jika sesuatu terjadi.
- Sialan, belum mulai saja sudah diganggu kayak gini - gumamku dalam hati
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, berjalan menuju kamar ini. Dari suara tersebut sepertinya tidak satu orang.
Herman segera meraih pisau lipat, dan Andi mengambil cutter yang berserak di bawah kakinya. Tono hanya terdiam, sepertinya dia adalah seorang yang penakut. Dua sosok pria mendekati kamar, dari jauh sangatlah tidak jelas, aku dan teman-teman sudah siap-siap bertindak apa saja agar kami selamat.
Sosok tersebut semakin terlihat jelas ketika mereka telah mencapai pintu, ternyata mereka adalah Syamsul dan Mamat.
"Bos, lihat apa yang kami temukan di depan pintu?" sahut Syamsul yang sedang merangkul seorang gadis perempuan.
Anak itu aku perkirakan berumur 13an, dengan mulut yang dibekap dengan tangan si Syamsul, gadis itu tak bisa berteriak. Rambutnya diikat seperti ekor kuda, gadis itu juga mengenakan tas di punggungnya, mungkin saja dia baru pulang dari les.
"Ini Veronica, anak perempuannya Bu Viany", jelas si Mamat.
"Aku mohon lepaskan anakku.." pinta Bu Viany dibalik isak tangisnya.
Aku tak habis pikir apa yang terjadi selanjutnya.
"Hahahaha, ikat anak itu, biar aku yang tangani", perintah Tono kepada Syamsul dan Mamat.
Tono terlihat senang sekali, senyumnya seperti serigala kelaparan yang menemukan seonggok daging segar.
Astaga, apa Tono akan mengerjai Veronica yang masih kecil ini juga? Aku tahu kalau Tono adalah orang yang punya kelainan, tapi apa dia sungguh tega?
Syamsul dan Mamat pun mengikatkan Veronica ke kursi rotan yang terletak dekat tempat tidur. Gadis itu menagis sekencang-kencangnya dan meminta tolong pada ibunya, seakan dia tidak tahu derita apa yang terjadi pada ibunya.
Tono mendekati Veronica, "Gadis yang malang, aku tidak tega sampai dia melihat mamanya bersenang-senang".
Tono pun menutup mata Veronica dengan penutup mata yang dia bawa di dalam tasnya. Sedangkan Herman meneruskan kesibukkannya, ia terus menusukkan sextoy yang terus bergetar di memek Bu Viany.
"Apa kamu tega melihat anakmu kami siksa? Lebih baik kamu layani kami dengan senang hati", bisik Tono di telinga Bu Viany.
"Tolong lepaskan dia.." mohon Bu Viany
"AAARGGG!" Bu Viany berteriak ketika Tono dengan paksa menarik jepitan di putingnya.
"Kalau mau anakmu selamat, layani kami baik-baik" ancam Tono.
Aku juga tidak melihat Syamsul dan Mamat lagi, mungkin mereka meneruskan mencari harta yang bisa mereka bawa.
Dengan bringas Tono langsung mengulum puting susu Bu Viany, tanpa berperasaan dia mengulum bahkan mengigit puting susu sebelah kiri Bu Viany, sambil tangannya meremas-remas payudara sebelahnya dengan keras.
Andi pun tak mau kehilangan kesempatan, dia kembali mendekatkan penisnya ke muka Bu Viany, dengan menjambak rambut Bu Viany, Andi memaksa memasukkan pahlawan kecilnya itu ke mulut Bu Viany. Aku lihat Bu Viany sudah tak dapat menolak, mungkin dia lebih memikirkan keselamatan anak perempuannya itu.
"Bagus.. Anak pintar.." ejek Andi dengan senangnya merasakan hangat penisnya di dalam mulut Bu Viany.
Aku tidak dapat jatah sama sekali, mereka bertiga sangat bringas, susah sekali untuk berbagi, mungkin aku mesti antri, dan aku hanya bisa memainkan penisku sendiri dengan tanganku sambil menunggu giliran.
Sedangkan Herman sudah melepaskan sextoy yang dia pakai, dicabutnya sextoy itu dan dilemparkan ke lantai, dan menggantikan kerja sextoy tersebut dengan penisnya. Bu Viany yang sombong tadi pagi sudah tidak berkutik, kini dia adalah milik kami.
Andi yang sedang memaju-mdurkan penisnya di mulut Bu Viany, melepaskan ikatan tangan Bu Viany yang terikat ke atas di ranjang. Mungkin Andi pikir Bu Viany sudah tak mungkin berontak lagi.
Dan ternyata benar, Bu Viany malah menggengam penis Andi dan memberikan pelayanan terbaik.
"Sudah, jangan sibukkan tanganmu kepadaku, cukup mulutnya saja yang aku perlu, tanganmu biar untuk temanku saja yang kasihan tuh manyun sendirian", kata Andi sambil meledekku.
Aku yang ingin merasakan bagaimana nikmatnya dilayani, aku pun mendekat, dan Bu Viany langsung memegang Mister P aku dan mengocoknya, walaupun dia juga sedang sibuk melayani 3 pria lainnya.
Anak malang yang duduk terikat di dekat kami terus menangis, dia tidak bisa melihat apa-apa dan tidak tahu apa yang sedang dialami ibunya.
Sambil menampar-nampar pipi Bu Viany, Andi terus menusukkan penisnya ke mulut Bu Viany, bahkan ia memaksakan hingga penisnya bisa sampai ke kerongkongan Bu Viany. Dan sekali-kali aku melihat Bu Viany seperti tersedak.
Aku sudah tak peduli, tangannya yang hangat dengan jari-jari yang lentik membuat penisku merasakan nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sedangkan Herman sepertinya sudah akan mencapai klimaks, gerakannya sudah dipercepat dan dia sedikit bergumam.
"Perek ini biarpun sudah berkeluarga, tapi masih sempit, ga sia-sia kita membayar mahal, kita crot didalam aja.. hahaha".
"Jangan! Jangan keluarkan di dalam!"
Teriak Bu Viany yang segera mengeluarkan penis Andi dan melepaskan genggaman tangannya di penis aku. Dia kelihatan panik dan mendorong Herman agar tidak melepaskan cairan sperma di dalam rahimnya.
Tapi usahanya gagal, Herman akhirnya mencapai klimak, dan Bu Viany pun pasrah merasakan cairan hangat mengalir ke dalam rahimnya.
Andi kelihatan kesal karena Bu Viany berhenti mengulum penisnya, dia pun kembali menampar pipi Bu Viany yang terus menerus tak henti mengeluarkan air mata.
Setelah Herman mencabut penisnya, aku lihat dengan jelas indahnya memek milik Bu Viany yang mengalir sedikit cairan berwarna putih seperti lelehan lahar yang meletus dari gunung berapi.
"Hahaha, payah sekali kau man, masa sebentar saja sudah KO?" ejek Tono kepada Herman yang mundur dan duduk di kursi yang sebelumnya aku duduki.
Sepertinya dia cape dan butuh istirahat, dia menyalakan rokok sambil memandang ke arah Tono.
"Yang penting alami, ga buatan seperti punyamu".
Tono hanya terdiam dan tersenyum kecil, dan kemudian meneruskan kesibukannya menikmati payudara Bu Viany. Aku mungkin bisa menebak kalau Tono mengunakaan obat untuk keperkasaannya.
Baru saja aku menoleh ke arah Herman, ternyata Andi sudah merubah posisi, mungkin dia sudah bosan dengan mulut Bu Viany. Andi melepaskan ikatan kaki Bu Viany agar lebih leluasa menggagahinya.
Mulutnya yang sedang nganggur menjadi kesempatan bagi penisku beraksi. Aku segera mendekatkan penisku ke arah muka Bu Viany, menggantikan posisi Andi sebelumnya. Nikmat tiada tara saat penis milikku menancap di mulut Bu Viany yang indah, apalagi kalau sempat merasakan hangatnya memek Bu Viany.
Aku harus sabar, walaupun akan mendapatkan giliran terakhir, aku tetap menikmati.
Yang dilakukan Andi seperti halnya Herman, terus memompa, menyodok-nyodok selangkangan Bu Viany maju-mundur di atas tempat tidur.
Tono yang hyper masih menikmati payudara Bu Viany seperti layaknya anak bayi, sambil sesekali, Tono berdiri dan mundur ke meja untuk memeriksa handycam yang sudah standby dari tadi, Tono hanya memastikan handycam itu merekam semua aksi kami.
Goyangan Andi mulai kuat, sepertinya kini gilirannya yang bakal ejakulasi, ia merangkul paha Bu Viany dan menariknya agar penisnya dapat tenggelam lebih dalam di lubang kenukmatan itu, dan cairan kental berwarna putih pun sedikit mengalir keluar ketika Andi mencabut kejantanannya.
Bu Viany yang masih terus menangis hanya bisa pasrah dengan perlakuan seperti ini, sudah dua lelaki yang menyemprotkan cairan benih kehidupan di dalam rahimnya, apa yang akan terjadi jika dia nanti hamil? Mungkin itu juga yang sedang dipikirkannya.
Melihatnya sebenarnya aku sedikit iba, tapi nafsuku sudah tak terbendung, apalagi mengingat sikapnya terhadapku tadi pagi, membuatku sedikit kesal.
Aku sudah tidak mendengar suara anak perempuan Bu Viany, Veronica tak bergerak, mungkin dia tertidur karena kecapekan karena dia dari tadi meronta dan menangis.
Tono kemudian memintaku menggantikan posisi Andi, "Kamu duluan saja, bukan apa nanti kalau aku yang duluan, mungkin kamu bakal bete nungguin giliran".
Aku sangat tahu maksudnya, dia ingin bercinta lebih lama dengan Bu Viany, dan dia ingin membuktikan manfaat obat kuat yang telah dia konsumsi.
Aku pun beranjak dari tempatku, menarik keluar kontolku, walaupun aku masih berpikir sayang belum ada yang berhasil menyemprotkan benih-benih cinta haram ini di mulut Bu Viany.
"Bagus banget perek ini, kalau kita jual pasti laku banget ya?" sindir Andi sambil berjalan menuju kursi sebelah Herman.
Andi dan Herman pun beristirahat dengan ditemani sebungkus rokok yang tadi sempat aku hisap juga.
Tak disangka aku yang termasuk "goodboy" bisa menjadi seperti ini.
Aku masukkan dengan perlahan batang keperkasaanku, terus melesak masuk, tidak begitu sulit karena memek Bu Viany telah basah dengan cairan sperma. Hangat sekali, rasa nikmat yang tiada tara, tubuhnya harum, sungguh aku sudah terperangkap dalam nikmatnya hubungan sex terlarang ini.
Tono sudah mulai bosan mencumbui payudara Bu Viany saja, ia pun mundur dan memeriksa handycamnya.
Kebosanan Tono memberikan aku kesempatan merangkul tubuh Bu Viany, sambil meneruskan aktivitas. Aku peluk tubuh Bu Viany, sungguh luar biasa merasakan kulit menyentuh kulit, dada aku menyentuh payudara Bu Viany. Aku tindih badannya dan segera melumat bibirnya.
Bu Viany sedikit menolak, dia selalu memalingkan wajahnya dan berusaha agar aku tidak bisa menciumnya, tapi apa daya? Sekarang dia adalah milik kami seutuhnya, dia tak bisa berkutik lagi, kami dapat memaksanya bahkan bisa menyakitinya bila ia menolak kemauan kami.
Aku juga tidak melihat Syamsul dan Mamat lagi, mungkin mereka meneruskan mencari harta yang bisa mereka bawa.
Dengan bringas Tono langsung mengulum puting susu Bu Viany, tanpa berperasaan dia mengulum bahkan mengigit puting susu sebelah kiri Bu Viany, sambil tangannya meremas-remas payudara sebelahnya dengan keras.
Andi pun tak mau kehilangan kesempatan, dia kembali mendekatkan penisnya ke muka Bu Viany, dengan menjambak rambut Bu Viany, Andi memaksa memasukkan pahlawan kecilnya itu ke mulut Bu Viany. Aku lihat Bu Viany sudah tak dapat menolak, mungkin dia lebih memikirkan keselamatan anak perempuannya itu.
"Bagus.. Anak pintar.." ejek Andi dengan senangnya merasakan hangat penisnya di dalam mulut Bu Viany.
Aku tidak dapat jatah sama sekali, mereka bertiga sangat bringas, susah sekali untuk berbagi, mungkin aku mesti antri, dan aku hanya bisa memainkan penisku sendiri dengan tanganku sambil menunggu giliran.
Sedangkan Herman sudah melepaskan sextoy yang dia pakai, dicabutnya sextoy itu dan dilemparkan ke lantai, dan menggantikan kerja sextoy tersebut dengan penisnya. Bu Viany yang sombong tadi pagi sudah tidak berkutik, kini dia adalah milik kami.
Andi yang sedang memaju-mdurkan penisnya di mulut Bu Viany, melepaskan ikatan tangan Bu Viany yang terikat ke atas di ranjang. Mungkin Andi pikir Bu Viany sudah tak mungkin berontak lagi.
Dan ternyata benar, Bu Viany malah menggengam penis Andi dan memberikan pelayanan terbaik.
"Sudah, jangan sibukkan tanganmu kepadaku, cukup mulutnya saja yang aku perlu, tanganmu biar untuk temanku saja yang kasihan tuh manyun sendirian", kata Andi sambil meledekku.
Aku yang ingin merasakan bagaimana nikmatnya dilayani, aku pun mendekat, dan Bu Viany langsung memegang Mister P aku dan mengocoknya, walaupun dia juga sedang sibuk melayani 3 pria lainnya.
Anak malang yang duduk terikat di dekat kami terus menangis, dia tidak bisa melihat apa-apa dan tidak tahu apa yang sedang dialami ibunya.
Sambil menampar-nampar pipi Bu Viany, Andi terus menusukkan penisnya ke mulut Bu Viany, bahkan ia memaksakan hingga penisnya bisa sampai ke kerongkongan Bu Viany. Dan sekali-kali aku melihat Bu Viany seperti tersedak.
Aku sudah tak peduli, tangannya yang hangat dengan jari-jari yang lentik membuat penisku merasakan nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sedangkan Herman sepertinya sudah akan mencapai klimaks, gerakannya sudah dipercepat dan dia sedikit bergumam.
"Perek ini biarpun sudah berkeluarga, tapi masih sempit, ga sia-sia kita membayar mahal, kita crot didalam aja.. hahaha".
"Jangan! Jangan keluarkan di dalam!"
Teriak Bu Viany yang segera mengeluarkan penis Andi dan melepaskan genggaman tangannya di penis aku. Dia kelihatan panik dan mendorong Herman agar tidak melepaskan cairan sperma di dalam rahimnya.
Tapi usahanya gagal, Herman akhirnya mencapai klimak, dan Bu Viany pun pasrah merasakan cairan hangat mengalir ke dalam rahimnya.
Andi kelihatan kesal karena Bu Viany berhenti mengulum penisnya, dia pun kembali menampar pipi Bu Viany yang terus menerus tak henti mengeluarkan air mata.
Setelah Herman mencabut penisnya, aku lihat dengan jelas indahnya memek milik Bu Viany yang mengalir sedikit cairan berwarna putih seperti lelehan lahar yang meletus dari gunung berapi.
"Hahaha, payah sekali kau man, masa sebentar saja sudah KO?" ejek Tono kepada Herman yang mundur dan duduk di kursi yang sebelumnya aku duduki.
Sepertinya dia cape dan butuh istirahat, dia menyalakan rokok sambil memandang ke arah Tono.
"Yang penting alami, ga buatan seperti punyamu".
Tono hanya terdiam dan tersenyum kecil, dan kemudian meneruskan kesibukannya menikmati payudara Bu Viany. Aku mungkin bisa menebak kalau Tono mengunakaan obat untuk keperkasaannya.
Baru saja aku menoleh ke arah Herman, ternyata Andi sudah merubah posisi, mungkin dia sudah bosan dengan mulut Bu Viany. Andi melepaskan ikatan kaki Bu Viany agar lebih leluasa menggagahinya.
Mulutnya yang sedang nganggur menjadi kesempatan bagi penisku beraksi. Aku segera mendekatkan penisku ke arah muka Bu Viany, menggantikan posisi Andi sebelumnya. Nikmat tiada tara saat penis milikku menancap di mulut Bu Viany yang indah, apalagi kalau sempat merasakan hangatnya memek Bu Viany.
Aku harus sabar, walaupun akan mendapatkan giliran terakhir, aku tetap menikmati.
Yang dilakukan Andi seperti halnya Herman, terus memompa, menyodok-nyodok selangkangan Bu Viany maju-mundur di atas tempat tidur.
Tono yang hyper masih menikmati payudara Bu Viany seperti layaknya anak bayi, sambil sesekali, Tono berdiri dan mundur ke meja untuk memeriksa handycam yang sudah standby dari tadi, Tono hanya memastikan handycam itu merekam semua aksi kami.
Goyangan Andi mulai kuat, sepertinya kini gilirannya yang bakal ejakulasi, ia merangkul paha Bu Viany dan menariknya agar penisnya dapat tenggelam lebih dalam di lubang kenukmatan itu, dan cairan kental berwarna putih pun sedikit mengalir keluar ketika Andi mencabut kejantanannya.
Bu Viany yang masih terus menangis hanya bisa pasrah dengan perlakuan seperti ini, sudah dua lelaki yang menyemprotkan cairan benih kehidupan di dalam rahimnya, apa yang akan terjadi jika dia nanti hamil? Mungkin itu juga yang sedang dipikirkannya.
Melihatnya sebenarnya aku sedikit iba, tapi nafsuku sudah tak terbendung, apalagi mengingat sikapnya terhadapku tadi pagi, membuatku sedikit kesal.
Aku sudah tidak mendengar suara anak perempuan Bu Viany, Veronica tak bergerak, mungkin dia tertidur karena kecapekan karena dia dari tadi meronta dan menangis.
Tono kemudian memintaku menggantikan posisi Andi, "Kamu duluan saja, bukan apa nanti kalau aku yang duluan, mungkin kamu bakal bete nungguin giliran".
Aku sangat tahu maksudnya, dia ingin bercinta lebih lama dengan Bu Viany, dan dia ingin membuktikan manfaat obat kuat yang telah dia konsumsi.
Aku pun beranjak dari tempatku, menarik keluar kontolku, walaupun aku masih berpikir sayang belum ada yang berhasil menyemprotkan benih-benih cinta haram ini di mulut Bu Viany.
"Bagus banget perek ini, kalau kita jual pasti laku banget ya?" sindir Andi sambil berjalan menuju kursi sebelah Herman.
Andi dan Herman pun beristirahat dengan ditemani sebungkus rokok yang tadi sempat aku hisap juga.
Tak disangka aku yang termasuk "goodboy" bisa menjadi seperti ini.
Aku masukkan dengan perlahan batang keperkasaanku, terus melesak masuk, tidak begitu sulit karena memek Bu Viany telah basah dengan cairan sperma. Hangat sekali, rasa nikmat yang tiada tara, tubuhnya harum, sungguh aku sudah terperangkap dalam nikmatnya hubungan sex terlarang ini.
Tono sudah mulai bosan mencumbui payudara Bu Viany saja, ia pun mundur dan memeriksa handycamnya.
Kebosanan Tono memberikan aku kesempatan merangkul tubuh Bu Viany, sambil meneruskan aktivitas. Aku peluk tubuh Bu Viany, sungguh luar biasa merasakan kulit menyentuh kulit, dada aku menyentuh payudara Bu Viany. Aku tindih badannya dan segera melumat bibirnya.
Bu Viany sedikit menolak, dia selalu memalingkan wajahnya dan berusaha agar aku tidak bisa menciumnya, tapi apa daya? Sekarang dia adalah milik kami seutuhnya, dia tak bisa berkutik lagi, kami dapat memaksanya bahkan bisa menyakitinya bila ia menolak kemauan kami.
Astaga, Tono kemudian menggenggam kameranya dan mengambil adegan kami dari dekat. Aku merasa semakin mengebu-gebu, aku di syuting dari arah yang dekat, bagaikan seorang bintang film panas yang bercerita sedang bercumbu dengan kekasihnya.
Aku alihkan perhatianku menuju lehernya, ku cium bahkan ku cupang, sampai aku bosan dan beralih lagi ke payudaranya.
Payudaranya memar-memar akibat perlakuan Tono, bekas cupangan ada di mana-mana, terus di sekitar putingnya tampak bercak merah, aku rasakan ini adalah darah, mungkin akibat jepitan di puting yang Tono tarik cerata brutal.
Aku tidak peduli lagi, aku tetap melakukan kesibukanku, menjadi seorang aktor blue film walaupun masih amitir, tapi aku tidak mau menunjukkan kekuaranganku yang belum pernah melakukan hubungan badan ini. Aku menikmati pergulatan ini dengan sabar, tidak brutal seperti mereka, dan tidak ingin lebih cepat berejakulasi dibanding mereka yang lebih berpengalaman.
Batang berganti batang, Herman dan Andi merokok sambil bergosip ria, aku tidak mendengar jelas apa yang mereka rundingkan lagi, karna aku lagi fokus pada kesibukkanku ini.
Tiba-tiba Andi menawarkan sebuah ide padaku, "Besok kita kerjain Bu Susi yuk?"
Ternyata itu yang sedang dibahas mereka.
"Orang lagi sibuk, jangan diganggu.." ujar Herman seolah mengejekku.
Bukan aku tak mendengar karna kesibukanku, tapi aku kurang setuju, Bu Susi termasuk orang yang cukup baik, kurang tega sepertinya kalau aku harus mengerjainya.
Aku terus menggenjot, hingga tubuh Bu Viany bergoncang naik turun, dalam pikiran aku malah tidak ada niat mengerjai Bu Susi, melainkan terlintas pada pikiranku sosok Vera sang resepsionis yang sangat menarik. Ah, selesaikan ini dulu, baru nanti bahas masalah selanjutnya.
Selang beberapa lama dalam aktivitas membara ini, aku rasakan penisku sudah mulai bergetar tidak tahan ingin muntah, aku kemudian memeluk erat tubuh Bu Viany yang sudah terlalu capek untuk berontak.
Terus aku genjot dan aku percepat irama genjotan hingga akhirnya penis milik aku berhasil menyemprotkan cairan kenikmatan yang membuatku seperti terbang ke langit.
Nikmat sekali, sungguh luar biasa menurut aku, rasanya tidak ingin melepaskan pelukan ini, dan aku biarkan penis aku tertancap di lubang memek Bu Viany untuk sementara waktu.
Tono masih mengambil video, dia tidak mengusikku, jadi aku biarin dulu.
Dengan keadaan yang belum berubah, aku hanya melepas lelah dengan tidur menindih Bu Viany. Aku rasakan penis aku mulai menciut di dalam lubang vagina Bu Viany.
"Sudah selesai bos?", tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu ruangan.
Syamsul dan Mamat sepertinya sudah mendapatkan yang mereka mau. Mereka memasuki kamar dengan membawa sebuah tas yang penuh terisi entah apa. Mamat langsung berjalan menuju ke lemari dalam ruangan, dibukanya dan diacak-acaknya.
Sedangkan Syamsul mendekatiku, sudah bisa aku tebak apa maunya. Terpaksa aku cabut penis aku yang sudah mengecil dan meninggalkan tubuh Bu Viany yang sedang menarik nafas panjang karena sesak tertindih olehku.
"Sorry ya bos, kita gantian..", kata Syamsul meminta ijin padaku.
"Wah, kalau begini, giliran aku kapan?" sindir Tono yang masih memegang handycam.
Syamsul sudah tak mau menghiraukan sindiran Tono, dia langsung melepas semua pakaiannya. Wah, batang penis milik Syamsul besar sekali, mungkin bukan asli menurutku, soalnya sungguh tidak masuk akal ukurannya. Jadi penasaran melihat aksi Syamsul dan bagaimana tanggapan Bu Viany.
Aku kemudian duduk berkumpul dengan Herman dan Andi, aku nyalakan sebuah rokok untuk menemani aku melihat aksi Syamsul. Sedangkan Tono keliahatan kesal, sampai dia tidak mau mengambil video lagi. Dia benar-benar ngambek, handycam langsung ditaruhnya di atas meja, dan dia bergabung dengan kami dan menyalakan rokok.
Melihat temannya kesal, Herman merasa tidak enak, dia ambil handycam Tono dan menyoroti Tono. Herman coba menghibur Tono yang lagi menghisap rokok dengan muka cemburut.
Sedangkan Bu Viany terlihat kesakitan dengan ukuran jumbo Syamsul yang mencoba mengobrak-abrik daerah kewanitaannya itu. Syamsul sudah menancapkan penis jumbonya ke liang vagina Bu Viany. Aku rasa batangnya terlalu panjang, kalau dipaksakan mungkin hanya bisa masuk 80% saja.
"Aaargh! sakiiiittt!!" jerit kesakitan Bu Viany terdengar jelas.
"Wah, bisa kaya nich kita.." terlihat Mamat mengeluarkan banyak perhiasan emas dari lemari yang dari tadi diobrak-abriknya.
Mamat mulai memasukkan semua perhiasan dalam tas besarnya itu, sempat aku lihat dalam tas tersebut banyak uang kertas pecahan seratus ribu dan beberapa buah telepon genggam.
"Terlihat dilayar monitor, model majalah playboy, bernama Tono, badannya yang gagah dengan wajah ganteng.." goda Herman yang masih menyorot muka Tono saja.
Akhirnya Tono tersenyum kecil, dibuangnya rokok yang baru dua kali dihisapnya ke lantai, terus diinjaknya agar padam apinya. Sepertinya dia kembali bersemangat karna godaan Herman.
Tono bergerak ke arah anak Bu Viany yang masih tertidur dengan penutup mata menutupi matanya. Tono menyingkap rok gadis tersebut dan kemudian menarik turun celana dalam Veronica.
"Hahahaha, datang deh kumatnya", kata Herman yang terus menyorot Tono, walau sesekali dia juga menyorot aksi Syamsul yang lagi hot.
"Jangaan apa-apakan anaak sayaaa..", Bu Viany memelas.
Syamsul sepertinya sangat brutal, ia langsung memberikan bogem mentah ke perut Bu Viany, hingga Bu Viany melonjak dan tak sadarkan diri. Syamsul tidak perduli itu, ia ingin menikmati tubuh Bu Viany tanpa gangguan.
Aku hanya bisa melihat aksi mereka walaupun tak habis pikir dengan kelainan yang diderita Tono tersebut. Sepertinya gadis itu tersadar dari tidurnya ketika Tono mulai melepaskan semua ikatan tali di tubuhnya.
"Mama..!" Gadis itu berterik meminta tolong walaupun matanya masih tertutup dan tidak tahu bahwa mamanya juga sudah tak berkutik.
Tono mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakan Veronica yang malang itu.
Aku lihat susu dia sudah tumbuh sekepalan tangan kira-kira, sepertinya enak dan pas saat digengngam dan diremas, sedangkan selangkangan Veronica terdapat jembut tipis seakan tak terlihat dengan belahan memek yang tampak rapat, mungkin lubangnya pun tak bisa ditembus jari karena saking sempitnya.
Sepertinya Mamat sudah selesai mengemas semua perhiasan yang ada, dan dia segera bergabung dengan Syamsul. Dia melepaskan semua pakaiannya juga, hingga telanjang bulat. Penis milik Mamat kurang lebih sama ukurannya dengan milik Syamsul, besar dan panjang, dengan penuh urat-urat di sekitarnya. Mamat kemudian menampar-nampar pipi Bu Viany dengan penisnya yang besar panjang.
Mereka terlihat seperti dua bersaudara, tubuh mereka juga relatif sama, kekar, berkulit hitam, dan penuh dengan tatto. Sambil menunggu giliran, Mamat menancapkan penisnya ke mulut Bu Viany yang belum juga tersadar.
Sedangkan Tono, masih mengelus tubuh putih bening bersih gadis malang tersebut.
Sambil melihat aksi mereka, aku bersama Andi dan Herman saling berbagi kisah dan cerita, sambil melepas lelah.
Tono mengambil sextoy yang terletak di lantai, kemudian ia coba masukkan ke lubang kecil milik anak Bu Viany. Kelihatannya sextoy itu terlalu besar, dan tak bisa di masukkan.
Aku alihkan perhatianku menuju lehernya, ku cium bahkan ku cupang, sampai aku bosan dan beralih lagi ke payudaranya.
Payudaranya memar-memar akibat perlakuan Tono, bekas cupangan ada di mana-mana, terus di sekitar putingnya tampak bercak merah, aku rasakan ini adalah darah, mungkin akibat jepitan di puting yang Tono tarik cerata brutal.
Aku tidak peduli lagi, aku tetap melakukan kesibukanku, menjadi seorang aktor blue film walaupun masih amitir, tapi aku tidak mau menunjukkan kekuaranganku yang belum pernah melakukan hubungan badan ini. Aku menikmati pergulatan ini dengan sabar, tidak brutal seperti mereka, dan tidak ingin lebih cepat berejakulasi dibanding mereka yang lebih berpengalaman.
Batang berganti batang, Herman dan Andi merokok sambil bergosip ria, aku tidak mendengar jelas apa yang mereka rundingkan lagi, karna aku lagi fokus pada kesibukkanku ini.
Tiba-tiba Andi menawarkan sebuah ide padaku, "Besok kita kerjain Bu Susi yuk?"
Ternyata itu yang sedang dibahas mereka.
"Orang lagi sibuk, jangan diganggu.." ujar Herman seolah mengejekku.
Bukan aku tak mendengar karna kesibukanku, tapi aku kurang setuju, Bu Susi termasuk orang yang cukup baik, kurang tega sepertinya kalau aku harus mengerjainya.
Aku terus menggenjot, hingga tubuh Bu Viany bergoncang naik turun, dalam pikiran aku malah tidak ada niat mengerjai Bu Susi, melainkan terlintas pada pikiranku sosok Vera sang resepsionis yang sangat menarik. Ah, selesaikan ini dulu, baru nanti bahas masalah selanjutnya.
Selang beberapa lama dalam aktivitas membara ini, aku rasakan penisku sudah mulai bergetar tidak tahan ingin muntah, aku kemudian memeluk erat tubuh Bu Viany yang sudah terlalu capek untuk berontak.
Terus aku genjot dan aku percepat irama genjotan hingga akhirnya penis milik aku berhasil menyemprotkan cairan kenikmatan yang membuatku seperti terbang ke langit.
Nikmat sekali, sungguh luar biasa menurut aku, rasanya tidak ingin melepaskan pelukan ini, dan aku biarkan penis aku tertancap di lubang memek Bu Viany untuk sementara waktu.
Tono masih mengambil video, dia tidak mengusikku, jadi aku biarin dulu.
Dengan keadaan yang belum berubah, aku hanya melepas lelah dengan tidur menindih Bu Viany. Aku rasakan penis aku mulai menciut di dalam lubang vagina Bu Viany.
"Sudah selesai bos?", tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu ruangan.
Syamsul dan Mamat sepertinya sudah mendapatkan yang mereka mau. Mereka memasuki kamar dengan membawa sebuah tas yang penuh terisi entah apa. Mamat langsung berjalan menuju ke lemari dalam ruangan, dibukanya dan diacak-acaknya.
Sedangkan Syamsul mendekatiku, sudah bisa aku tebak apa maunya. Terpaksa aku cabut penis aku yang sudah mengecil dan meninggalkan tubuh Bu Viany yang sedang menarik nafas panjang karena sesak tertindih olehku.
"Sorry ya bos, kita gantian..", kata Syamsul meminta ijin padaku.
"Wah, kalau begini, giliran aku kapan?" sindir Tono yang masih memegang handycam.
Syamsul sudah tak mau menghiraukan sindiran Tono, dia langsung melepas semua pakaiannya. Wah, batang penis milik Syamsul besar sekali, mungkin bukan asli menurutku, soalnya sungguh tidak masuk akal ukurannya. Jadi penasaran melihat aksi Syamsul dan bagaimana tanggapan Bu Viany.
Aku kemudian duduk berkumpul dengan Herman dan Andi, aku nyalakan sebuah rokok untuk menemani aku melihat aksi Syamsul. Sedangkan Tono keliahatan kesal, sampai dia tidak mau mengambil video lagi. Dia benar-benar ngambek, handycam langsung ditaruhnya di atas meja, dan dia bergabung dengan kami dan menyalakan rokok.
Melihat temannya kesal, Herman merasa tidak enak, dia ambil handycam Tono dan menyoroti Tono. Herman coba menghibur Tono yang lagi menghisap rokok dengan muka cemburut.
Sedangkan Bu Viany terlihat kesakitan dengan ukuran jumbo Syamsul yang mencoba mengobrak-abrik daerah kewanitaannya itu. Syamsul sudah menancapkan penis jumbonya ke liang vagina Bu Viany. Aku rasa batangnya terlalu panjang, kalau dipaksakan mungkin hanya bisa masuk 80% saja.
"Aaargh! sakiiiittt!!" jerit kesakitan Bu Viany terdengar jelas.
"Wah, bisa kaya nich kita.." terlihat Mamat mengeluarkan banyak perhiasan emas dari lemari yang dari tadi diobrak-abriknya.
Mamat mulai memasukkan semua perhiasan dalam tas besarnya itu, sempat aku lihat dalam tas tersebut banyak uang kertas pecahan seratus ribu dan beberapa buah telepon genggam.
"Terlihat dilayar monitor, model majalah playboy, bernama Tono, badannya yang gagah dengan wajah ganteng.." goda Herman yang masih menyorot muka Tono saja.
Akhirnya Tono tersenyum kecil, dibuangnya rokok yang baru dua kali dihisapnya ke lantai, terus diinjaknya agar padam apinya. Sepertinya dia kembali bersemangat karna godaan Herman.
Tono bergerak ke arah anak Bu Viany yang masih tertidur dengan penutup mata menutupi matanya. Tono menyingkap rok gadis tersebut dan kemudian menarik turun celana dalam Veronica.
"Hahahaha, datang deh kumatnya", kata Herman yang terus menyorot Tono, walau sesekali dia juga menyorot aksi Syamsul yang lagi hot.
"Jangaan apa-apakan anaak sayaaa..", Bu Viany memelas.
Syamsul sepertinya sangat brutal, ia langsung memberikan bogem mentah ke perut Bu Viany, hingga Bu Viany melonjak dan tak sadarkan diri. Syamsul tidak perduli itu, ia ingin menikmati tubuh Bu Viany tanpa gangguan.
Aku hanya bisa melihat aksi mereka walaupun tak habis pikir dengan kelainan yang diderita Tono tersebut. Sepertinya gadis itu tersadar dari tidurnya ketika Tono mulai melepaskan semua ikatan tali di tubuhnya.
"Mama..!" Gadis itu berterik meminta tolong walaupun matanya masih tertutup dan tidak tahu bahwa mamanya juga sudah tak berkutik.
Tono mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakan Veronica yang malang itu.
Aku lihat susu dia sudah tumbuh sekepalan tangan kira-kira, sepertinya enak dan pas saat digengngam dan diremas, sedangkan selangkangan Veronica terdapat jembut tipis seakan tak terlihat dengan belahan memek yang tampak rapat, mungkin lubangnya pun tak bisa ditembus jari karena saking sempitnya.
Sepertinya Mamat sudah selesai mengemas semua perhiasan yang ada, dan dia segera bergabung dengan Syamsul. Dia melepaskan semua pakaiannya juga, hingga telanjang bulat. Penis milik Mamat kurang lebih sama ukurannya dengan milik Syamsul, besar dan panjang, dengan penuh urat-urat di sekitarnya. Mamat kemudian menampar-nampar pipi Bu Viany dengan penisnya yang besar panjang.
Mereka terlihat seperti dua bersaudara, tubuh mereka juga relatif sama, kekar, berkulit hitam, dan penuh dengan tatto. Sambil menunggu giliran, Mamat menancapkan penisnya ke mulut Bu Viany yang belum juga tersadar.
Sedangkan Tono, masih mengelus tubuh putih bening bersih gadis malang tersebut.
Sambil melihat aksi mereka, aku bersama Andi dan Herman saling berbagi kisah dan cerita, sambil melepas lelah.
Tono mengambil sextoy yang terletak di lantai, kemudian ia coba masukkan ke lubang kecil milik anak Bu Viany. Kelihatannya sextoy itu terlalu besar, dan tak bisa di masukkan.
Gadis yang malang itu ketakutan sekali, dan mencoba berontak, bahkan berusaha melepas tutup matanya. Tono yang sedikit tak fokus sehingga Veronica dapat lepas dari cengkraman Tono. Veronica berlari keluar ruangan.
Tapi apa daya, Tono lebih cepat, tak sempat berlari jauh, Veronica pun berhasil disambar kembali oleh Tono. Tono menggendongnya kembali ke kamar dan melemparkannya ke lantai.
Astaga, brutal sekali.
Tono sudah kelihatan kesal sekali dengan Veronica. Gadis malang itu yang akan rusak masa depannya sebentar lagi telah tidak memakai penutup matanya lagi, rambutnya pun sudah acak-acakan di mana pita ikatan rambutnya sudah terlepas.
Pandangan Tono sungguh bringas, tatapannya sangat mengerikan, seolah-olah liurnya akan menetes keluar dari mulutnya dan segera dijilati lagi dengan lidahnya agar sekitar mulutnya kering dari liurnya.
Gadis itu menangis sekencang-kencangnya, matanya sudah mulai bengkak, pipinya penuh dengan air matanya. Tono mendekatinya dan mengangkatnya ke atas kursi yang tadi digunakan untuk mengikatnya.
"Kamu bisa diam ga? Atau kamu dan mama kamu, kami bunuh?", ancam Tono.
Tono kemudian mengambil tangan Veronica untuk disentuhkan ke penisya. Veronica masih tidak bisa menghentikan tangisnya, tapi dia tidak bisa menolak perintah Tono, badannya terlalu lemah untuk melawan. Dia pun diajari Tono untuk memainkan penis dan mengulumnya.
Mulutnya kecil sekali, batang penis milik Tono tak bisa masuk dengan penuh, jadi anak itu hanya mampu menjilati dan mengkocok-kocoknya dengan tangan mungilnya. Tubuhnya gemetaran, sangat takut dengan semua perlakuan ini.
Tono masih berdiri di depan Veronica yang sedang melayaninya.
Mungkin ini sedikit brutal dan tak seharusnya pembaca membacanya. Tapi ini hanyalah sharing dari aku, tidak perlu ditanggapi serius.
Sedangkan nasib Bu Viany masih belum sadarkan diri, dia masih terus digenjot oleh Syamsul, dan Mamat juga sedang menggagahi mulut Bu Viany. Sepertinya aku, Andi, dan Herman, telah selesai men-charge kembali tenaga kami. Penis aku kembali eraksi, namun aku hanya bisa menunggu, dan aku yakin Herman dan Andi pun sudah tak sabar menunggu giliran.
Setelah berhasil menyemprotkan sperma di dalam lubang memek Bu Viany, Syamsul segera mencabut penisnya, dia juga mengerti dengan keinginan Mamat yang tak sabar ingin juga menikmati lubang kewanitaan Bu Viany.
Daripada menunggu kelamaan, kami pun beranjak dari kursi, aku segera mengambil posisi didekat muka Bu Viany, seperti adegan sebelumnya, mulutnya masih menjadi target nikmat. Herman mengulum payudara Bu Viany, disedotnya dengan kuat dan digigit-gigitnya puting yang sudah terlanjur cedera tersebut.
Sedangkan Andi yang mempunyai ide lain, dia meminta kami sedikit pengertian untuk menghentikan aktivitas kami. Ternyata dia menemukan minyak angin di dalam tas yang dibawa Tono, ia segera menggosokkan minyak angin itu di area bawah hidung Bu Viany agar tersadar. Kami yang lebih tertarik menyetubuhi Bu Viany secara sadar, sangat mendukung aksi Andi.
Hanya Syamsul yang lebih tertarik menyetubuhi pasangannya yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Syamsul pun hanya duduk di kursi tempat sebelumnya kami duduk, sebenarnya dia kelihatan tidak begitu capek, mungkin dia hanya sedikit bosan dengan permainan tadi.
Akhirnya Bu Viany pun tersadar dari pingsannya, dan dia kemudian kembali menangis ketika melihat anak perumpuannya sedang mengulum batang kejantanan milik Tono.
"Toloong, lepaskan anak saya.." pinta Bu Viany.
"Tenang saja, temanku cuma menyuruhnya ngehisap, tak lebih, tapi kalau kamu tidak menuruti perintah kami, mungkin kami yang akan bertindak, mungkin saja anakmu akan kami perkosa bergantian, bahkan kami bunuh", ancam Andi.
Bu Viany yang masih meneteskan air mata langsung terdiam, dia tidak mau terjadi hal yang lebih mengerikan terhadap anak perempuannya. Sedangkan anaknya sendiri tidak memperhatikan lagi keadaan ibunya, matanya sudah bengkak penuh air mata, tubuhnya masih gemetaran, hanya sedikit tenaga saja yang masih tersisa padanya untuk mengulum penis milik Tono.
Andi menyuruh kami semua turun dari tempat tidur, kemudian dia memerintahkan Mamat untuk membaringkan diri terlentang, menyuruh Bu Viany untuk segera menaiki kasur dan bergaya WOT (Woman On Top). Awalnya Bu Viany menolak, tapi Herman dan Andi segera memapahnya ke atas, dan meletakkan dia di atas Mamat, memeknya tepat diatas penis Mamat yang berdiri tegak, dan..
"blezzz" kontol Mamat menancap ke lubang vagina Bu Viany.
Kemudian Andi mendorong punggung Bu Viany hinnga tubuhnya menindih tubuh Mamat. Mamatpun segera memeluk erat tubuh Bu Viany.
"Nah, ada tambahan satu lubang lagi yang nganggur, siapa mau?" Andi menawarkannya kepada kami.
Aku dan Herman hanya diam saja. Kalau aku sendiri sich merasa jijik kalau sampai harus merasakan lubang anus, mungkin karna aku belum pernah mencobanya, atau bagi mereka yang doyan, mungkin itulah sensasi menarik bagi mereka.
"Jangan, tolong jangan di sana, aku belum pernah" kata Bu Viany yang ketakutan.
"Makanya.. Dicoba dulu..", ujar Andi menanggapi Bu Viany.
Aku bergerak ke arah depan agar Bu Viany bisa mengulum penis milik aku, dan Herman menarik tangan Bu Viany untuk mengocok kejantanannya. Melihat demikian, Andi langsung menancapkan penisnya ke lubang anusnya Bu Viany.
Ketika lubang anusnya yang sempit dipaksa dengan keras oleh batang Andi yang mengeras Bu Viany berteriak keras kesakitan.
"Aaargkhhhcx...!!"
Badannya tersentak dengan mata yang membelalak, seperti orang yang tersambar petir secara tiba-tiba.
Karena kesakitan itu, hampir saja Bu Viany menggigit kemaluan aku, untung dengan cepat aku jambak rambutnya dan menjauhkan mulutnya dari penis aku. Aku tampar pipinya agar dia mengerti apa yang hampir dia lakukan, emangnya dia pikir kemaluan aku ini sosis yang tinggal digigit saja? Sialan banget, bikin aku jantungan saja.
"Wuih, terjepit dengan kuat, kalian yang ga coba, jangan nyesal ya..", goda Andi.
Aku belum berani menancapkan kembali "sosis" aku hingga Bu Viany mulai terbiasa dengan cumbuan di lubang anusnya.
Beberapa menit telah berlalu, kamipun belum sempat ada satupun yang berejakulasi. Aku lihat Tono masih dikulum oleh Veronica yang sangat-sangat kelelahan itu. Semakin dilihat bukannya aku semakin kasihan, tetapi malah sebaliknya, aku malah sangat terangsang.
Astaga, apa penyakit hypersex Tono bisa menular?
Kuluman mulut Bu Viany terhadap penisku malah tidak aku hiraukan, melainkan aku membayangkan Veronica yang mengulumnya. Dengan fantasi seks itu malah aku mencapai klimaks, aku pun mencengkram kepala Bu Viany dengan kuat, aku pun mendorongkan batangku hingga sedalam mungkin, sampai Bu Viany kehilangan napas, dan aku berhasil membasahi kerongkongannya dengan air maniku.
Aku pun mundur menjauhi Bu Viany, tetapi aku tidak beristirahat, pandanganku tidak lepas dari tubuh Veronica. Aku pun mendekatinya, aku coba mengusap tubuhnya.
"Wah, ente maniak juga ya bro..", ejek Tono yang masih memaju mundurkan pinggangnya di depan wajah gadis kecil ini.
Tapi apa daya, Tono lebih cepat, tak sempat berlari jauh, Veronica pun berhasil disambar kembali oleh Tono. Tono menggendongnya kembali ke kamar dan melemparkannya ke lantai.
Astaga, brutal sekali.
Tono sudah kelihatan kesal sekali dengan Veronica. Gadis malang itu yang akan rusak masa depannya sebentar lagi telah tidak memakai penutup matanya lagi, rambutnya pun sudah acak-acakan di mana pita ikatan rambutnya sudah terlepas.
Pandangan Tono sungguh bringas, tatapannya sangat mengerikan, seolah-olah liurnya akan menetes keluar dari mulutnya dan segera dijilati lagi dengan lidahnya agar sekitar mulutnya kering dari liurnya.
Gadis itu menangis sekencang-kencangnya, matanya sudah mulai bengkak, pipinya penuh dengan air matanya. Tono mendekatinya dan mengangkatnya ke atas kursi yang tadi digunakan untuk mengikatnya.
"Kamu bisa diam ga? Atau kamu dan mama kamu, kami bunuh?", ancam Tono.
Tono kemudian mengambil tangan Veronica untuk disentuhkan ke penisya. Veronica masih tidak bisa menghentikan tangisnya, tapi dia tidak bisa menolak perintah Tono, badannya terlalu lemah untuk melawan. Dia pun diajari Tono untuk memainkan penis dan mengulumnya.
Mulutnya kecil sekali, batang penis milik Tono tak bisa masuk dengan penuh, jadi anak itu hanya mampu menjilati dan mengkocok-kocoknya dengan tangan mungilnya. Tubuhnya gemetaran, sangat takut dengan semua perlakuan ini.
Tono masih berdiri di depan Veronica yang sedang melayaninya.
Mungkin ini sedikit brutal dan tak seharusnya pembaca membacanya. Tapi ini hanyalah sharing dari aku, tidak perlu ditanggapi serius.
Sedangkan nasib Bu Viany masih belum sadarkan diri, dia masih terus digenjot oleh Syamsul, dan Mamat juga sedang menggagahi mulut Bu Viany. Sepertinya aku, Andi, dan Herman, telah selesai men-charge kembali tenaga kami. Penis aku kembali eraksi, namun aku hanya bisa menunggu, dan aku yakin Herman dan Andi pun sudah tak sabar menunggu giliran.
Setelah berhasil menyemprotkan sperma di dalam lubang memek Bu Viany, Syamsul segera mencabut penisnya, dia juga mengerti dengan keinginan Mamat yang tak sabar ingin juga menikmati lubang kewanitaan Bu Viany.
Daripada menunggu kelamaan, kami pun beranjak dari kursi, aku segera mengambil posisi didekat muka Bu Viany, seperti adegan sebelumnya, mulutnya masih menjadi target nikmat. Herman mengulum payudara Bu Viany, disedotnya dengan kuat dan digigit-gigitnya puting yang sudah terlanjur cedera tersebut.
Sedangkan Andi yang mempunyai ide lain, dia meminta kami sedikit pengertian untuk menghentikan aktivitas kami. Ternyata dia menemukan minyak angin di dalam tas yang dibawa Tono, ia segera menggosokkan minyak angin itu di area bawah hidung Bu Viany agar tersadar. Kami yang lebih tertarik menyetubuhi Bu Viany secara sadar, sangat mendukung aksi Andi.
Hanya Syamsul yang lebih tertarik menyetubuhi pasangannya yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Syamsul pun hanya duduk di kursi tempat sebelumnya kami duduk, sebenarnya dia kelihatan tidak begitu capek, mungkin dia hanya sedikit bosan dengan permainan tadi.
Akhirnya Bu Viany pun tersadar dari pingsannya, dan dia kemudian kembali menangis ketika melihat anak perumpuannya sedang mengulum batang kejantanan milik Tono.
"Toloong, lepaskan anak saya.." pinta Bu Viany.
"Tenang saja, temanku cuma menyuruhnya ngehisap, tak lebih, tapi kalau kamu tidak menuruti perintah kami, mungkin kami yang akan bertindak, mungkin saja anakmu akan kami perkosa bergantian, bahkan kami bunuh", ancam Andi.
Bu Viany yang masih meneteskan air mata langsung terdiam, dia tidak mau terjadi hal yang lebih mengerikan terhadap anak perempuannya. Sedangkan anaknya sendiri tidak memperhatikan lagi keadaan ibunya, matanya sudah bengkak penuh air mata, tubuhnya masih gemetaran, hanya sedikit tenaga saja yang masih tersisa padanya untuk mengulum penis milik Tono.
Andi menyuruh kami semua turun dari tempat tidur, kemudian dia memerintahkan Mamat untuk membaringkan diri terlentang, menyuruh Bu Viany untuk segera menaiki kasur dan bergaya WOT (Woman On Top). Awalnya Bu Viany menolak, tapi Herman dan Andi segera memapahnya ke atas, dan meletakkan dia di atas Mamat, memeknya tepat diatas penis Mamat yang berdiri tegak, dan..
"blezzz" kontol Mamat menancap ke lubang vagina Bu Viany.
Kemudian Andi mendorong punggung Bu Viany hinnga tubuhnya menindih tubuh Mamat. Mamatpun segera memeluk erat tubuh Bu Viany.
"Nah, ada tambahan satu lubang lagi yang nganggur, siapa mau?" Andi menawarkannya kepada kami.
Aku dan Herman hanya diam saja. Kalau aku sendiri sich merasa jijik kalau sampai harus merasakan lubang anus, mungkin karna aku belum pernah mencobanya, atau bagi mereka yang doyan, mungkin itulah sensasi menarik bagi mereka.
"Jangan, tolong jangan di sana, aku belum pernah" kata Bu Viany yang ketakutan.
"Makanya.. Dicoba dulu..", ujar Andi menanggapi Bu Viany.
Aku bergerak ke arah depan agar Bu Viany bisa mengulum penis milik aku, dan Herman menarik tangan Bu Viany untuk mengocok kejantanannya. Melihat demikian, Andi langsung menancapkan penisnya ke lubang anusnya Bu Viany.
Ketika lubang anusnya yang sempit dipaksa dengan keras oleh batang Andi yang mengeras Bu Viany berteriak keras kesakitan.
"Aaargkhhhcx...!!"
Badannya tersentak dengan mata yang membelalak, seperti orang yang tersambar petir secara tiba-tiba.
Karena kesakitan itu, hampir saja Bu Viany menggigit kemaluan aku, untung dengan cepat aku jambak rambutnya dan menjauhkan mulutnya dari penis aku. Aku tampar pipinya agar dia mengerti apa yang hampir dia lakukan, emangnya dia pikir kemaluan aku ini sosis yang tinggal digigit saja? Sialan banget, bikin aku jantungan saja.
"Wuih, terjepit dengan kuat, kalian yang ga coba, jangan nyesal ya..", goda Andi.
Aku belum berani menancapkan kembali "sosis" aku hingga Bu Viany mulai terbiasa dengan cumbuan di lubang anusnya.
Beberapa menit telah berlalu, kamipun belum sempat ada satupun yang berejakulasi. Aku lihat Tono masih dikulum oleh Veronica yang sangat-sangat kelelahan itu. Semakin dilihat bukannya aku semakin kasihan, tetapi malah sebaliknya, aku malah sangat terangsang.
Astaga, apa penyakit hypersex Tono bisa menular?
Kuluman mulut Bu Viany terhadap penisku malah tidak aku hiraukan, melainkan aku membayangkan Veronica yang mengulumnya. Dengan fantasi seks itu malah aku mencapai klimaks, aku pun mencengkram kepala Bu Viany dengan kuat, aku pun mendorongkan batangku hingga sedalam mungkin, sampai Bu Viany kehilangan napas, dan aku berhasil membasahi kerongkongannya dengan air maniku.
Aku pun mundur menjauhi Bu Viany, tetapi aku tidak beristirahat, pandanganku tidak lepas dari tubuh Veronica. Aku pun mendekatinya, aku coba mengusap tubuhnya.
"Wah, ente maniak juga ya bro..", ejek Tono yang masih memaju mundurkan pinggangnya di depan wajah gadis kecil ini.
Aku coba menciumi susu Veronica yang malang ini, aku sedot kuat di bagian putingnya. Rasa capekku seolah hilang begitu saja, betul-betul obat mujarab penghilang rasa capek.
Merasa sedikit bosan, aku dan Tono pun meraba paha hingga selangkangan Veronica. Jari-jari kami pun mencoba menerobos ke dalam lubang memek milik Veronica. Perebutan kami akhirnya dimenangkan Tono, dia berhasil menusukkan jari telunjuknya ke dalam kemaluan anak perempuan Bu Viany hingga Veronica berteriak kesakitan.
Sedangkan di atas tempat tidur, perduelan Bu Viany dengan Andi dan kawan-kawan masih berlangsung, bahkan Syamsul telah bersemangat kembali dan ikut nimbrung di sana.
Beberapa menit kemudian, kami sudah tidak hanya menjamah dengan tangan saja di tubuh gadis ini, Tono sudah berhasil memperbesar lubang kemaluannya dengan jari, dan Tono sudah siap menancapkan batang kejantanannya.
Berjam-jam telah kami kerjai ibu dan anak ini secara bergantian, sudah tidak tahu berapa kali aku menggagahi mereka berdua.
Sampai pagi tiba, tepatnya pukul 4 pagi, kami akhirnya terpaksa menyudahi kegiatan kami. Tubuh Bu Viany dan anaknya penuh dengan cupangan dan cairan air mani di mana-mana.
Tetapi sebelum itu, kami masih sempat membawa mereka ke kamar mandi. Anak dan ibu yang ngos-ngosan itu kami bopong, dan kami mandikan di kamar mandi. Tak terlewatkan oleh kami untuk melakukan satu ronde lagi di bawah guyuran shower dan dalam bak mandi.
Setelah puas, kami kembali memakaikan busana ke tubuh mereka.
Syamsul dan Mamat mengemas hasil curian mereka, Tono pun kembali memasukkan peralatannya.
Setelah berkemas-kemas, dan kembali berpakaian, kamipun siap meninggalkan mereka. Tetapi sebelum itu, kami mengancam Bu Viany agar tidak mengadukan hal ini, karena kami tidak akan segan-segan untuk menyebarkan video adegan permainan sexs ini, bahkan kami juga tidak akan membiarkan keluarganya tenang apa bila dia berani macam-macam.
Bu Viany yang terduduk di atas tempat tidur sambil memeluk anaknya, hanya bisa mengangguk, dia juga tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi, cukup ini pengalaman terpahit yang tidak boleh lagi terulang.
Sebelum beranjak dari ruangan, aku mendekati Bu Viany yang sudah harum, aku cium keningnya.
"Terima kasih bu.."
Kami pun masuk ke APV dan meninggalkan rumah Bu Viany. Dalam perjalanan Andi dan Herman membahas masalah ingin mengerjai Bu Susi, tapi aku menolak.
"Lain kali saja dibahas, aku capek, ingin segera pulang dan beristirahat".
Mereka malah mempunyai ide lain, mereka malah ikut ke kost aku dan membahas rencana berikutnya di kamas kost aku. Syamsul dan Mamat pun membagi hasil curiannya.
Aku sudah tidak perduli apa yang mereka bahas, aku segera mengistirahatkan badan karena sudah capek sekali. Yang penting aku sudah mendapatkan pembagian hasil curian yang setidaknya bisa menutupi hutang sewa kost aku yang tertunggak enam bulan, bahkan bisa untuk membayar enam bulan berikutnya.
Video hasil syuting disimpan baik-baik oleh Tono, aku tidak berani meminta copy-annya, karna aku takut lalai dan mejatuhkannya. Hingga sekarang aku belum tahu apakah film itu ada diplubikasikan atau tidak. Mungkin Tono juga menyimpannya dengan baik karena Bu Viany tidak pernah menggugat kami, malahan dia telah pindah ke luar kota, dia memilih untuk tinggal di kota tempat suaminya bekerja.
Dari sini lah kami menjadi akrab, bahkan hingga sekarang.
Setelah kejadian ini, kami masih meneruskan hobi baru kami ini.
TAMAT
Merasa sedikit bosan, aku dan Tono pun meraba paha hingga selangkangan Veronica. Jari-jari kami pun mencoba menerobos ke dalam lubang memek milik Veronica. Perebutan kami akhirnya dimenangkan Tono, dia berhasil menusukkan jari telunjuknya ke dalam kemaluan anak perempuan Bu Viany hingga Veronica berteriak kesakitan.
Sedangkan di atas tempat tidur, perduelan Bu Viany dengan Andi dan kawan-kawan masih berlangsung, bahkan Syamsul telah bersemangat kembali dan ikut nimbrung di sana.
Beberapa menit kemudian, kami sudah tidak hanya menjamah dengan tangan saja di tubuh gadis ini, Tono sudah berhasil memperbesar lubang kemaluannya dengan jari, dan Tono sudah siap menancapkan batang kejantanannya.
Berjam-jam telah kami kerjai ibu dan anak ini secara bergantian, sudah tidak tahu berapa kali aku menggagahi mereka berdua.
Sampai pagi tiba, tepatnya pukul 4 pagi, kami akhirnya terpaksa menyudahi kegiatan kami. Tubuh Bu Viany dan anaknya penuh dengan cupangan dan cairan air mani di mana-mana.
Tetapi sebelum itu, kami masih sempat membawa mereka ke kamar mandi. Anak dan ibu yang ngos-ngosan itu kami bopong, dan kami mandikan di kamar mandi. Tak terlewatkan oleh kami untuk melakukan satu ronde lagi di bawah guyuran shower dan dalam bak mandi.
Setelah puas, kami kembali memakaikan busana ke tubuh mereka.
Syamsul dan Mamat mengemas hasil curian mereka, Tono pun kembali memasukkan peralatannya.
Setelah berkemas-kemas, dan kembali berpakaian, kamipun siap meninggalkan mereka. Tetapi sebelum itu, kami mengancam Bu Viany agar tidak mengadukan hal ini, karena kami tidak akan segan-segan untuk menyebarkan video adegan permainan sexs ini, bahkan kami juga tidak akan membiarkan keluarganya tenang apa bila dia berani macam-macam.
Bu Viany yang terduduk di atas tempat tidur sambil memeluk anaknya, hanya bisa mengangguk, dia juga tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi, cukup ini pengalaman terpahit yang tidak boleh lagi terulang.
Sebelum beranjak dari ruangan, aku mendekati Bu Viany yang sudah harum, aku cium keningnya.
"Terima kasih bu.."
Kami pun masuk ke APV dan meninggalkan rumah Bu Viany. Dalam perjalanan Andi dan Herman membahas masalah ingin mengerjai Bu Susi, tapi aku menolak.
"Lain kali saja dibahas, aku capek, ingin segera pulang dan beristirahat".
Mereka malah mempunyai ide lain, mereka malah ikut ke kost aku dan membahas rencana berikutnya di kamas kost aku. Syamsul dan Mamat pun membagi hasil curiannya.
Aku sudah tidak perduli apa yang mereka bahas, aku segera mengistirahatkan badan karena sudah capek sekali. Yang penting aku sudah mendapatkan pembagian hasil curian yang setidaknya bisa menutupi hutang sewa kost aku yang tertunggak enam bulan, bahkan bisa untuk membayar enam bulan berikutnya.
Video hasil syuting disimpan baik-baik oleh Tono, aku tidak berani meminta copy-annya, karna aku takut lalai dan mejatuhkannya. Hingga sekarang aku belum tahu apakah film itu ada diplubikasikan atau tidak. Mungkin Tono juga menyimpannya dengan baik karena Bu Viany tidak pernah menggugat kami, malahan dia telah pindah ke luar kota, dia memilih untuk tinggal di kota tempat suaminya bekerja.
Dari sini lah kami menjadi akrab, bahkan hingga sekarang.
Setelah kejadian ini, kami masih meneruskan hobi baru kami ini.
TAMAT
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru
