Hari itu Warso dipanggil oleh sipir penjara, karena ada suatu keperluan yang amat penting. Lalu ia pun menerima surat pembebasan yang jatuh pada hari itu. Ia amat gembira dan sangat bahagia sebab ia akan bebas dan bisa menentukan arah dan sisa hidup selanjutnya. Meski saat itu us*ianya menginjak 60 thn.
Warso adalah laki-laki asal pulau penghasil garam dari Jawa Timur. Separuh um*urnya dihabiskan didalam penjara di berbagai kota dipulau jawa. Saat masih muda ia telah terbiasa dalam lingkungan yang keras dan kasar, juga kejam. Wataknya dipengaruhi oleh cara pandang dunia hitam dan kriminal.
Saat masih muda Warso telah diusir oleh warga desa daerahnya di Pulau itu karena sifat dan prilakunya yang meresahkan warga kampung itu. Hingga akhirnya iapun sampai di kota Surabaya.
Hampir tiada hari baginya untuk selalu bertindak jahat. Merampok, jambret dan melukai orang telah beberapa kali dilakoninya. Hingga namanya menjadi tersohor atas kesadisan dan kekejamannya. Ia amat disegani kalangan dunia hitam dan menjadi buronan serta incaran aparat penegak hukum.
Semua hasil kejahatannya dihabiskan di tempat lokalisasi dan meja judi serta foya foya.
Dalam suatu perampokan dia membunuh korbannya. Peristiwa itu membuatnya menjadi buronan dan TO yang wajib ditangkap hingga berhasil.
Dalam melakukan aksinya Warso memiliki beberapa orang anggota komplotan. Tapi semua orang anggotanya telah tewas tertembak. Namun beruntung Warso masih hidup dan menjalani hukuman.
Hukuman yang diterimanya pun amat berat dan memakan waktu yang cukup lama. Hingga ia sempat ditempatkan di Nusakambangan, lalu dipindah penjara dan akhirnya ia terdampar pada sebuah penjara yang berada di sebuah kota Jawa Tengah. Itu terjadi karena us*ianya mulai tua dan kelakukannya yang baik dan tidak membahayakan.
Selama ia menjalani masa tahanan ia slalu patuh dan disiplin hingga ia mendapatkan remisi dan akhirnya dibebaskan.
Sekeluar dari penjara itu Warso berkeinginan untuk hidup dijalan yang benar dan lurus. Warso sempat merasa putus asa saat keluar penjara. Dia gelisah karena tidak memiliki kerabat dikota itu. Apalagi keluarga. Ia juga bingung memikirkan biaya untuk kembali ke Surabaya.
Untungnya ada Gondo sahabatnya saat di penjara menawarinya kerja sebagai tukang becak. Ia pun melangkahkan kaki menuju rumah temannya yang telah bebas lebih dulu dari dirinya yang berada di kota Solo itu untuk menemui Gondo.
Kebetulan rumah Gondo tidak terlalu sulit dicari bagi Warso. Tidak lama kemudian Warso bertemu Gondo yang rumahnya tidak terlalu sulit ia temukan.
Keesokan harinya ia pun mulai bekerja menarik becak meskipun masih terbatas daerahnya.
Saat menarik becak itu, nasib naas menimpanya, tanpa disangka ia pun ditabrak sebuah sedan dan tubuhnya terpelanting ke tengah jalan sedangkan becaknya rusak.
Untungnya pengemudi sedan itu mau bertanggung jawab. Warso dibawanya ke rumah sakit terdekat dan ditanggung biaya pengobatannya juga segala kerusakan becaknya.
Luka Warso tidak terlalu parah, beberapa hari dia sudah sembuh.
Pengemudi sedan itu yang di ketahui namanya Indra. Indra adalah seorang pengusaha muda dikota itu.
Ia ditawari Indra untuk bekerja di perusahaannya sebagai sopir karena Warso juga bisa mengemudikan mobil. Warso menerima dengan senang hati tawaran itu.
Tapi Warso tidak menjelaskan statusnya yang mantan narapidana. Ia khawatir Indra tidak jadi mempekerjakannya karena statusnya itu. Dan tentunya statusnya membuat orang berpikir untuk menampungnya bekerja. Sebab sangat sulit mendapatkan kerja mengingat status yang disandangnya itu.
===xxx===
Di Tempat dan waktu yang Berbeda..
Suasana dalam kamar itu masih sejuk karena hembusan AC yang dingin. Namun semenjak terhisapnya asap yang masuk ketubuh wanita itu membuat si wanita tidur dengan gelisah.
Sedangkan suaminya yang tidur disampingnya terlihat sangat nyenyak dengan sisa sisa kelelahan yang tersirat diwajah pasangan itu.
Memang sebelum tidur pasangan itu terlebih dahulu telah berhubungan badan hingga mereka kecapaian dan terlelap. Namun si wanita tidak demikian, ia terlihat kegelisahan dan lelehan keringat dingin ditubuhnya yang ramping dan wajah cantik itu. Tubuhnya basah oleh keringat padahal hawa dalam kamar itu masih sejuk.
Masih dengan mata terpejam gerakan si wanita meronta-ronta lembut seolah-olah mendengus dan merintih. Gerakannya seperti sedang melakukan hubungan badan dengan sesosok yang kasat mata.
Warso adalah laki-laki asal pulau penghasil garam dari Jawa Timur. Separuh um*urnya dihabiskan didalam penjara di berbagai kota dipulau jawa. Saat masih muda ia telah terbiasa dalam lingkungan yang keras dan kasar, juga kejam. Wataknya dipengaruhi oleh cara pandang dunia hitam dan kriminal.
Saat masih muda Warso telah diusir oleh warga desa daerahnya di Pulau itu karena sifat dan prilakunya yang meresahkan warga kampung itu. Hingga akhirnya iapun sampai di kota Surabaya.
Hampir tiada hari baginya untuk selalu bertindak jahat. Merampok, jambret dan melukai orang telah beberapa kali dilakoninya. Hingga namanya menjadi tersohor atas kesadisan dan kekejamannya. Ia amat disegani kalangan dunia hitam dan menjadi buronan serta incaran aparat penegak hukum.
Semua hasil kejahatannya dihabiskan di tempat lokalisasi dan meja judi serta foya foya.
Dalam suatu perampokan dia membunuh korbannya. Peristiwa itu membuatnya menjadi buronan dan TO yang wajib ditangkap hingga berhasil.
Dalam melakukan aksinya Warso memiliki beberapa orang anggota komplotan. Tapi semua orang anggotanya telah tewas tertembak. Namun beruntung Warso masih hidup dan menjalani hukuman.
Hukuman yang diterimanya pun amat berat dan memakan waktu yang cukup lama. Hingga ia sempat ditempatkan di Nusakambangan, lalu dipindah penjara dan akhirnya ia terdampar pada sebuah penjara yang berada di sebuah kota Jawa Tengah. Itu terjadi karena us*ianya mulai tua dan kelakukannya yang baik dan tidak membahayakan.
Selama ia menjalani masa tahanan ia slalu patuh dan disiplin hingga ia mendapatkan remisi dan akhirnya dibebaskan.
Sekeluar dari penjara itu Warso berkeinginan untuk hidup dijalan yang benar dan lurus. Warso sempat merasa putus asa saat keluar penjara. Dia gelisah karena tidak memiliki kerabat dikota itu. Apalagi keluarga. Ia juga bingung memikirkan biaya untuk kembali ke Surabaya.
Untungnya ada Gondo sahabatnya saat di penjara menawarinya kerja sebagai tukang becak. Ia pun melangkahkan kaki menuju rumah temannya yang telah bebas lebih dulu dari dirinya yang berada di kota Solo itu untuk menemui Gondo.
Kebetulan rumah Gondo tidak terlalu sulit dicari bagi Warso. Tidak lama kemudian Warso bertemu Gondo yang rumahnya tidak terlalu sulit ia temukan.
Keesokan harinya ia pun mulai bekerja menarik becak meskipun masih terbatas daerahnya.
Saat menarik becak itu, nasib naas menimpanya, tanpa disangka ia pun ditabrak sebuah sedan dan tubuhnya terpelanting ke tengah jalan sedangkan becaknya rusak.
Untungnya pengemudi sedan itu mau bertanggung jawab. Warso dibawanya ke rumah sakit terdekat dan ditanggung biaya pengobatannya juga segala kerusakan becaknya.
Luka Warso tidak terlalu parah, beberapa hari dia sudah sembuh.
Pengemudi sedan itu yang di ketahui namanya Indra. Indra adalah seorang pengusaha muda dikota itu.
Ia ditawari Indra untuk bekerja di perusahaannya sebagai sopir karena Warso juga bisa mengemudikan mobil. Warso menerima dengan senang hati tawaran itu.
Tapi Warso tidak menjelaskan statusnya yang mantan narapidana. Ia khawatir Indra tidak jadi mempekerjakannya karena statusnya itu. Dan tentunya statusnya membuat orang berpikir untuk menampungnya bekerja. Sebab sangat sulit mendapatkan kerja mengingat status yang disandangnya itu.
===xxx===
Di Tempat dan waktu yang Berbeda..
Suasana dalam kamar itu masih sejuk karena hembusan AC yang dingin. Namun semenjak terhisapnya asap yang masuk ketubuh wanita itu membuat si wanita tidur dengan gelisah.
Sedangkan suaminya yang tidur disampingnya terlihat sangat nyenyak dengan sisa sisa kelelahan yang tersirat diwajah pasangan itu.
Memang sebelum tidur pasangan itu terlebih dahulu telah berhubungan badan hingga mereka kecapaian dan terlelap. Namun si wanita tidak demikian, ia terlihat kegelisahan dan lelehan keringat dingin ditubuhnya yang ramping dan wajah cantik itu. Tubuhnya basah oleh keringat padahal hawa dalam kamar itu masih sejuk.
Masih dengan mata terpejam gerakan si wanita meronta-ronta lembut seolah-olah mendengus dan merintih. Gerakannya seperti sedang melakukan hubungan badan dengan sesosok yang kasat mata.
Pada akhir gerakannya terlihat membuka kedua pahanya dan memajukan kemaluannya kearah atas seakan telah terjadi penetrasi. Tubuh putihnya melengkung keatas lalu meregang dan melemah serta basah oleh keringatnya.
Dalam mimpinya saat itu si wanita telah bersetubuh dengan sesosok bayangan ghaib sebagai reaksi atas terhirupnya asap tadi.
Persetubuhan gaib itu mampu membuatnya orgasme dengan dasyat mengalahkan persetubuhannya dengan suaminya.
Ia lalu terkulai lemas setalah menikmati hubungan sex secara gaib itu hingga ia terlelap.
===xxx===
Indra adalah seorang pengusaha muda yang cukup mapan. us*ianya masih sangat muda yaitu 31 thn. Usaha itu dirintisnya semenjak kuliah dulu. Dan kini terlihat perkembangan yang cukup pesat.
Memang andil dari orangtuanya amat berpengaruh. Sebab ayahnya adalah seorang pejabat teras yang cukup ternama di kota itu. Keluarganya pun cukup terpandang karena status sosialnya dimasyarakat cukup bagus.
Indra telah menikah dengan seorang wanita cantik juga dari lingkungan yang terpandang dan masih berdarah biru. Namanya Vina, us*ianya pun masih muda yaitu 25 thn.
Vina menikah dengan Indra karena kepiawaian Indra menaklukan hatinya. Padahal dulu Vina telah bertunangan dengan seorang dokter yang di jodohkan oleh orangtuanya. Apalagi sang Dokter adalah tamatan luar negeri.
Namun karena ketekunan dan ketelatenan Indra, akhirnya Vina jatuh dalam pelukannya dan di persunting Indra. Apalagi melihat status sosial keluarga Indra dimasyarakat yang cukup dikenal maka memudahkannya mendekati orang tua Vina.
Ikut campurnya orang tua mereka dalam perjodohan itu amat kental. Sebab bagi mereka jika menikah dengan orang sembarangan akan membuat keturunan mereka akan rusak. Makanya baik BIBIT, BOBOT, BEBET amat di perhatikan orang tua mereka.
Mereka tidak ingin anaknya hidup susah dan melarat jika menikah dengan orang kebanyakan yang tidak jelas asal usulnya. Falsafah ini amat dipegang mereka.
Sosok Vina amat cantik dengan kulit putih, rambut sebahu. Kecantikannya tidak kalah dengan artis, malahan wajahnya mirip sekali dengan salah satu bintang presenter infotaimnent dari salah satu stasiun TV Swasta.
Mereka juga terlihat amat serasi. Yang laki-laki tampan dan wanitanya cantik. Kalau tidak salah mereka memang potret pasangan muda masa kini. Tidak heran banyak rekan dan kolega mereka yang merasa iri atas keserasian mereka.
Selain cantik dan lembut tutur katanya, Vina juga merupakan seorang sarjana. Vina pun di percaya oleh orangtuanya untuk menjalankan usaha keluarganya dibidang farmasi. Jadi tidak heran masing-masing dari mereka asyik dengan kesibukannya masing-masing.
Indra dan Vinapun amat menghormati orang-orang disekelilingnya. Tidak pernah rasanya ia berkata kasar. Dan para karyawannya pun merasa nyaman bekerja pada mereka. Apalagi kepada orang yang lebih tua mereka amat santun.
Dan dalam berpakaian baik Indra maupun Vina jarang terlihat sembrono. Mereka amat menjunjung ajaran agama dan leluhurnya.
===xxx===
Seiring perkembangan usaha dan kesibukannya, Indra melihat kinerja Warso yang bagus dan cocok dengan dirinya serta kesetiaan dan karena Indra merasa aman jika selalu bersama Warso, maka Warso diminta Indra menjadi sopir pribadinya.
Sebab ia akan sering keluar kota dan membawa uang dalam jumlah yang besar. Ia amat percaya pada Warso. Apalagi Warso pernah mengagalkan upaya perampokan atas dirinya beberapa waktu yang lalu.
Bukan hanya menjadi sopir pribadi, tapi lebih mirip asisten atau mungkin juga seperti bodyguard pribadi Indra.
Kerana tugas Warso yang harus mendampinggi Indra yang sering ke luar kota, dan untuk kelancaran tugas-tugasnya maka Warso diberi kamar pribadi dirumah Indra. Kamar itu amat bagus dan bersih.
Selama ini Warso tinggal di mess perusahaan dan hanya menyopiri mobil perusahaan.
Seiring berjalannya waktu dan aktifitasnya. Vina yang juga menjalankan usaha dari keluarganya, maka tak jarang Indra meminta Warso agar menyopiri mobil Vina. Indra tidak ingin Vina terlalu sibuk dan terlalu capai jika menyetir sendiri mobilnya dalam bepergian.
Indra ingin Warso yang menyetir mobil istrinya itu karena ia telah mengetahui dan merasa Warso amat bisa dipercaya. Ia tidak ada berkeinginan untuk mencari sopir baru. Untuk aktifitasnya sendiri, ia masih memiliki sopir kantor yang bisa sewaktu-waktu dibutuhkannya. Bagaimanapun Indra ingin agar Vina selalu fit dalam aktifitasnya.
Sebagai seorang karyawan Warso hanya menurut saja kepada perintah majikannya itu. Apalagi Indra menambahan isentif gaji juga bonus setiap Warso berganti posisi dalam pekerjaannya hingga ia bisa menabung. Vina juga sering memberinya uang dan membelikan pakaian jika sedang singgah di pusat perbelanjaan.
Memasuki tahun kedua masa kerjanya pada keluarga itu. Warso berkeinginan untuk mencari pendamping hidup. Ia merasakan hidupnya sepi dan sebagai laki-laki yang normal ia ingin menyalurkan hasrat biologisnya pada lawan jenis. Dengan menikah ia merasa dan berharap agar jerih payahnya akan ada artinya. Ia belum juga menemukan sosok wanita yang diinginkannya.
Pada suatu saat Vina pernah menanyakan padanya tentang masalah itu. Sebab Vina dan Indra merasa tidak enak hati jika di hari tuanya Warso tidak ada yang merawatnya.
Indra tahu sebagai manusia biasa dan laki-laki tentunya Warso yang telah ia anggap keluarga juga perlu sarana dalam penyaluran libido dan pelampiasan sebagai laki-laki, maka dengan itulah ia ingin Warso cepat-cepat mendapatkan pendamping hidup. Sebab jika tidak maka Warso bisa saja melakukan hal-hal yang terlarang menurut ajaran agama dan norma yang ada.
Menerima desakan dari majikannya itu, Warso pun berkata jujur bahwa ia belum menemukan wanita yang cocok untuknya.
Vina pun memberikan alternatif agar Warso mencari yang seus*ia dengannya. Sebab secara lahiriah Warso tentunya tidak akan mungkin dapat mengimbangi hasrat dan gairah wanita muda sesuai dengan us*ianya. Dan lagi pula Warso tidak mungkin lagi untuk mengikuti cara hidup gadis belia. Tentunya akan merepotkannya.
Dengan patuh dan sopan Warsopun mengangguk setuju.
Sebab bagi Vina, Warso kini telah menjadi anggota keluarganya dan ia pun merasa bertanggung jawab terhadap hidup pembantunya itu. Dan tidak heran dengan sopan ia menanyakannya. Semua itu juga merupakan hasil kesepakatannya dengan Indra suaminya.
Dalam mimpinya saat itu si wanita telah bersetubuh dengan sesosok bayangan ghaib sebagai reaksi atas terhirupnya asap tadi.
Persetubuhan gaib itu mampu membuatnya orgasme dengan dasyat mengalahkan persetubuhannya dengan suaminya.
Ia lalu terkulai lemas setalah menikmati hubungan sex secara gaib itu hingga ia terlelap.
===xxx===
Indra adalah seorang pengusaha muda yang cukup mapan. us*ianya masih sangat muda yaitu 31 thn. Usaha itu dirintisnya semenjak kuliah dulu. Dan kini terlihat perkembangan yang cukup pesat.
Memang andil dari orangtuanya amat berpengaruh. Sebab ayahnya adalah seorang pejabat teras yang cukup ternama di kota itu. Keluarganya pun cukup terpandang karena status sosialnya dimasyarakat cukup bagus.
Indra telah menikah dengan seorang wanita cantik juga dari lingkungan yang terpandang dan masih berdarah biru. Namanya Vina, us*ianya pun masih muda yaitu 25 thn.
Vina menikah dengan Indra karena kepiawaian Indra menaklukan hatinya. Padahal dulu Vina telah bertunangan dengan seorang dokter yang di jodohkan oleh orangtuanya. Apalagi sang Dokter adalah tamatan luar negeri.
Namun karena ketekunan dan ketelatenan Indra, akhirnya Vina jatuh dalam pelukannya dan di persunting Indra. Apalagi melihat status sosial keluarga Indra dimasyarakat yang cukup dikenal maka memudahkannya mendekati orang tua Vina.
Ikut campurnya orang tua mereka dalam perjodohan itu amat kental. Sebab bagi mereka jika menikah dengan orang sembarangan akan membuat keturunan mereka akan rusak. Makanya baik BIBIT, BOBOT, BEBET amat di perhatikan orang tua mereka.
Mereka tidak ingin anaknya hidup susah dan melarat jika menikah dengan orang kebanyakan yang tidak jelas asal usulnya. Falsafah ini amat dipegang mereka.
Sosok Vina amat cantik dengan kulit putih, rambut sebahu. Kecantikannya tidak kalah dengan artis, malahan wajahnya mirip sekali dengan salah satu bintang presenter infotaimnent dari salah satu stasiun TV Swasta.
Mereka juga terlihat amat serasi. Yang laki-laki tampan dan wanitanya cantik. Kalau tidak salah mereka memang potret pasangan muda masa kini. Tidak heran banyak rekan dan kolega mereka yang merasa iri atas keserasian mereka.
Selain cantik dan lembut tutur katanya, Vina juga merupakan seorang sarjana. Vina pun di percaya oleh orangtuanya untuk menjalankan usaha keluarganya dibidang farmasi. Jadi tidak heran masing-masing dari mereka asyik dengan kesibukannya masing-masing.
Indra dan Vinapun amat menghormati orang-orang disekelilingnya. Tidak pernah rasanya ia berkata kasar. Dan para karyawannya pun merasa nyaman bekerja pada mereka. Apalagi kepada orang yang lebih tua mereka amat santun.
Dan dalam berpakaian baik Indra maupun Vina jarang terlihat sembrono. Mereka amat menjunjung ajaran agama dan leluhurnya.
===xxx===
Seiring perkembangan usaha dan kesibukannya, Indra melihat kinerja Warso yang bagus dan cocok dengan dirinya serta kesetiaan dan karena Indra merasa aman jika selalu bersama Warso, maka Warso diminta Indra menjadi sopir pribadinya.
Sebab ia akan sering keluar kota dan membawa uang dalam jumlah yang besar. Ia amat percaya pada Warso. Apalagi Warso pernah mengagalkan upaya perampokan atas dirinya beberapa waktu yang lalu.
Bukan hanya menjadi sopir pribadi, tapi lebih mirip asisten atau mungkin juga seperti bodyguard pribadi Indra.
Kerana tugas Warso yang harus mendampinggi Indra yang sering ke luar kota, dan untuk kelancaran tugas-tugasnya maka Warso diberi kamar pribadi dirumah Indra. Kamar itu amat bagus dan bersih.
Selama ini Warso tinggal di mess perusahaan dan hanya menyopiri mobil perusahaan.
Seiring berjalannya waktu dan aktifitasnya. Vina yang juga menjalankan usaha dari keluarganya, maka tak jarang Indra meminta Warso agar menyopiri mobil Vina. Indra tidak ingin Vina terlalu sibuk dan terlalu capai jika menyetir sendiri mobilnya dalam bepergian.
Indra ingin Warso yang menyetir mobil istrinya itu karena ia telah mengetahui dan merasa Warso amat bisa dipercaya. Ia tidak ada berkeinginan untuk mencari sopir baru. Untuk aktifitasnya sendiri, ia masih memiliki sopir kantor yang bisa sewaktu-waktu dibutuhkannya. Bagaimanapun Indra ingin agar Vina selalu fit dalam aktifitasnya.
Sebagai seorang karyawan Warso hanya menurut saja kepada perintah majikannya itu. Apalagi Indra menambahan isentif gaji juga bonus setiap Warso berganti posisi dalam pekerjaannya hingga ia bisa menabung. Vina juga sering memberinya uang dan membelikan pakaian jika sedang singgah di pusat perbelanjaan.
Memasuki tahun kedua masa kerjanya pada keluarga itu. Warso berkeinginan untuk mencari pendamping hidup. Ia merasakan hidupnya sepi dan sebagai laki-laki yang normal ia ingin menyalurkan hasrat biologisnya pada lawan jenis. Dengan menikah ia merasa dan berharap agar jerih payahnya akan ada artinya. Ia belum juga menemukan sosok wanita yang diinginkannya.
Pada suatu saat Vina pernah menanyakan padanya tentang masalah itu. Sebab Vina dan Indra merasa tidak enak hati jika di hari tuanya Warso tidak ada yang merawatnya.
Indra tahu sebagai manusia biasa dan laki-laki tentunya Warso yang telah ia anggap keluarga juga perlu sarana dalam penyaluran libido dan pelampiasan sebagai laki-laki, maka dengan itulah ia ingin Warso cepat-cepat mendapatkan pendamping hidup. Sebab jika tidak maka Warso bisa saja melakukan hal-hal yang terlarang menurut ajaran agama dan norma yang ada.
Menerima desakan dari majikannya itu, Warso pun berkata jujur bahwa ia belum menemukan wanita yang cocok untuknya.
Vina pun memberikan alternatif agar Warso mencari yang seus*ia dengannya. Sebab secara lahiriah Warso tentunya tidak akan mungkin dapat mengimbangi hasrat dan gairah wanita muda sesuai dengan us*ianya. Dan lagi pula Warso tidak mungkin lagi untuk mengikuti cara hidup gadis belia. Tentunya akan merepotkannya.
Dengan patuh dan sopan Warsopun mengangguk setuju.
Sebab bagi Vina, Warso kini telah menjadi anggota keluarganya dan ia pun merasa bertanggung jawab terhadap hidup pembantunya itu. Dan tidak heran dengan sopan ia menanyakannya. Semua itu juga merupakan hasil kesepakatannya dengan Indra suaminya.
Sebagai laki-laki normal Warso memang terkadang hasrat nafsu sex-nya butuh penyaluran. Tidak heran Warso menjadi sering uring-uringan dan terkadang beronani. Ia melakukan itu karena tidak tahan akan tuntutan kebutuhan biologisnya.
Bermacam-macam wanita yang ia bayangkan dalam melakukan coli. Mulai dari artis sinetron hingga wanita yang sering dilihatnya pada sebuah koran atau majalah.
Dius*ianya yang tidak muda lagi itu ia merasa malu untuk mendatangi lokalisasi. Apalagi ia tinggal bersama majikannya, tentu ia akan merasa malu jika diketahui majikannya. Ia tidak ingin dikeluarkan dari pekerjaan yang halal ini. Baginya bekerja pada keluarga Indra dan Vina telah merubah hidupnya menjadi lebih baik dan terarah.
Hari demi hari keinginan itu semakin memuncak dan dalam aktifitas onaninya tidak jarang ia membayangkan bersetubuh dengan wanita yang tabu untuk ia impikan. Wanita itu adalah Vina. Sebab hampir setiap hari ia selalu bersama Vina dan terkadang terbawa kedalam mimpinya.
Padahal ia telah berusaha menepis dan menghapus bayangan Vina yang merupakan majikannya itu. Namun semua itu tidak dapat ia lakukan. Memang ia akui sosok Vina amat menggoda nafsu laki-laki, dan hanya laki-laki bloon dan impoten saja yang tidak tertarik kepada wajah dan bentuk tubuh juga kecantikan Vina.
Perasaan tabu dan bersalahnya semakin menipis selama ia terus melakukan onani dengan membayangkan wajah dan sosok Vina. Awalnya ia hanya iseng, namun lama kelamaan ia semakin ketagihan.
Warso tahu tidak sedikit dari laki-laki yang ditemuinya dan yang menjadi rekan kolega majikannya itu memandang rasa minat kepada Vina. Warso tahu dari cara mereka memandang Vina.
Lelaki kolega Vina juga sering mencuri pandang pada bagian-bagian tubuh Vina yang sensitif. Itu pernah terpergok Warso. Namun semua itu masih dalam batas toleransi karena ia sadar majikannya memang menarik.
Sudah tidak terhitung berapa banyak para laki-laki kolega Vina yang berusaha mendapatkan informasi tentang segala macam yang berkaitan dengan Vina pada Warso, walau hanya sekedar ingin mendekati majikannya itu.
Namun Warsopun masih bisa setia dan patuh pada majikannya tentu tidak mau membuat masalah.
Dan ia tetap memegang teguh kepercayaan yang diberikan Indra dan Vina hingga ia pun tidak mau menjerumuskan majikannya itu. Apalagi sikap dan sopan santun Vina, semua godaan dari relasinya itu hilang begitu saja.
Bagi Warso yang sering bepergian dan bersama Vina, amat sulit menghapus imajinasinya. Apalagi jika telah berada dalam mobil amat kentara wangi yang terpancar dari tubuh Vina tercium olehnya. Keharuman itu amat menggoda gairah kelaki-lakiannya.
Pada suatu malam saat ia beronani, Warso merasa gelisah karena ia belum juga klimaks, padahal ia telah membayangkan Vina dengan dirinya sedang bersetubuh dalam berbagai pose.
Dia memutuskan untuk tidur, namun matanya sulit terlelap malam itu.
Ia lalu keluar dari kamarnya dan menghirup udara malam.
Dilihatnya cahaya lampu dikamar majikannya masih menyala. Padahal waktu telah menunjukan pukul 23.30. Biasanya kedua majikannya itu telah tidur.
Niat isengnya muncul. Entah kemana rasa kesetiaan pada majikannya.
Warso mengendap seperti maling yang pernah dilakukannya di waktu muda dulu. Untunglah diluar kamar itu tidak ada penerang dan hanya di hiasi oleh rumput dan tiang lampu yang tidak berfungsi.
Lalu ditempelkannya telinganya ke daun jendela kamar itu. Sesaat terdengar dengusan nafas tertahan dari dua orang berlawanan jenis yang sedang bersetubuh. Warso mengetahui itu adalah suara kedua majikannya sedang berhubungan sex.
Ia berusaha mencari celah di jendela itu. Kemujuran berpihak kepadanya malam itu. Lewat celah yang tidak tertutup kordyn dari dalam kamar itu ia dengan mata telanjang dapat melihat aktifitas suami istri itu.
Keduanya sedang melakukan persenggamaan. Tubuh Indra dan Vina tidak tertutup oleh sehelai benangpun. Indra terlihat sedang menaiki tubuh Vina dan kedua alat kelamin mereka telah menyatu. Dengan gerakan teratur tubuh Indra bergerak maju mundur diantara kedua paha Vina yang terkangkang saat itu. Juga kedua tangannya sibuk menggapai kedua payudara istrinya yang putih dan mulus itu.
Melihat itu Warso memegang penisnya sendiri yang mulai mengeras sebagai reaksi atas apa yang dilihatnya. Mata tuanya terpaku melihat kedua tubuh manusia yang sedang bersetubuh itu.
Namun yang menjadi perhatian Warso hanyalah tubuh Vina. Vina yang bugil menampakkan tubuhnya yang amat putih dan tiada cacat sedikitpun. Apalagi telah basah oleh keringat saat itu. Ditambah gelantungan payudaranya yang putih indah itu basah oleh keringat hingga mengkilat dan bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya yang sedang digenjot oleh kontol suaminya pada memeknya.
Selama ini Warso hanya melihat sosok Vina yang terbungkus pakaian dan sedikit celah didadanya saat Vina memakai blus kerja. Pada malam itu ia dengan leluasa dapat menyaksikan tubuh yang selama ini jadi impiannya terbuka seutuhnya.
Terlihat Vina memejamkan mata dan memalingkan kepalanya kekiri-kanan seolah kesakitan menahan bobot tubuh dan sodokan penis suaminya di liang kemaluannya. Padahal Warso memperhatikan penis Indra tidaklah terlalu besar. Namun Vina tampaknya kesakitan terdengar dari rintihan erotis dan dengusnya saat itu.
Beberapa saat kemudian Indra menyudahi sodokannya. Tampaknya ia telah klimaks. Memang saat itu Indra telah menyudahi persetubuhan itu secara sepihak. Perlahan kemudian ia tarik kemaluannya dari liang sanggama Vina. Penisnya terlihat telah loyo dan basah oleh lendir sperma yang bercampur lendir vagina istrinya.
Namun Vina terlihat kecewa. Vina hanya memalingkan wajahnya yang juga ada burtiran keringat saat Indra rebah disampingnya. Kejadian itu terlihat jelas oleh Warso. Sisa sisa kekecewaan di timpakan Vina dengan menutup tubuh bugilnya dengan selimut lalu ia memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya.
Melihat itu Warso yakin bahwa Vina tidak pernah mendapatkan kepuasan dari perewean bersama suaminya.
Melihat aktifitas dikamar itu telah selesai, Warso lalu kembali kekamarnya. Diapun melanjutkan onaninya dengan membayangkan wajah dan tubuh Vina yang ia saksikan dengan jelas saat tadi. Tidak lama kemudian ia dapat klimaks dengan mudah, mungkin karena telah mengetahui lekuk-lekuk rahasia di tubuh Vina.
Bermacam-macam wanita yang ia bayangkan dalam melakukan coli. Mulai dari artis sinetron hingga wanita yang sering dilihatnya pada sebuah koran atau majalah.
Dius*ianya yang tidak muda lagi itu ia merasa malu untuk mendatangi lokalisasi. Apalagi ia tinggal bersama majikannya, tentu ia akan merasa malu jika diketahui majikannya. Ia tidak ingin dikeluarkan dari pekerjaan yang halal ini. Baginya bekerja pada keluarga Indra dan Vina telah merubah hidupnya menjadi lebih baik dan terarah.
Hari demi hari keinginan itu semakin memuncak dan dalam aktifitas onaninya tidak jarang ia membayangkan bersetubuh dengan wanita yang tabu untuk ia impikan. Wanita itu adalah Vina. Sebab hampir setiap hari ia selalu bersama Vina dan terkadang terbawa kedalam mimpinya.
Padahal ia telah berusaha menepis dan menghapus bayangan Vina yang merupakan majikannya itu. Namun semua itu tidak dapat ia lakukan. Memang ia akui sosok Vina amat menggoda nafsu laki-laki, dan hanya laki-laki bloon dan impoten saja yang tidak tertarik kepada wajah dan bentuk tubuh juga kecantikan Vina.
Perasaan tabu dan bersalahnya semakin menipis selama ia terus melakukan onani dengan membayangkan wajah dan sosok Vina. Awalnya ia hanya iseng, namun lama kelamaan ia semakin ketagihan.
Warso tahu tidak sedikit dari laki-laki yang ditemuinya dan yang menjadi rekan kolega majikannya itu memandang rasa minat kepada Vina. Warso tahu dari cara mereka memandang Vina.
Lelaki kolega Vina juga sering mencuri pandang pada bagian-bagian tubuh Vina yang sensitif. Itu pernah terpergok Warso. Namun semua itu masih dalam batas toleransi karena ia sadar majikannya memang menarik.
Sudah tidak terhitung berapa banyak para laki-laki kolega Vina yang berusaha mendapatkan informasi tentang segala macam yang berkaitan dengan Vina pada Warso, walau hanya sekedar ingin mendekati majikannya itu.
Namun Warsopun masih bisa setia dan patuh pada majikannya tentu tidak mau membuat masalah.
Dan ia tetap memegang teguh kepercayaan yang diberikan Indra dan Vina hingga ia pun tidak mau menjerumuskan majikannya itu. Apalagi sikap dan sopan santun Vina, semua godaan dari relasinya itu hilang begitu saja.
Bagi Warso yang sering bepergian dan bersama Vina, amat sulit menghapus imajinasinya. Apalagi jika telah berada dalam mobil amat kentara wangi yang terpancar dari tubuh Vina tercium olehnya. Keharuman itu amat menggoda gairah kelaki-lakiannya.
Pada suatu malam saat ia beronani, Warso merasa gelisah karena ia belum juga klimaks, padahal ia telah membayangkan Vina dengan dirinya sedang bersetubuh dalam berbagai pose.
Dia memutuskan untuk tidur, namun matanya sulit terlelap malam itu.
Ia lalu keluar dari kamarnya dan menghirup udara malam.
Dilihatnya cahaya lampu dikamar majikannya masih menyala. Padahal waktu telah menunjukan pukul 23.30. Biasanya kedua majikannya itu telah tidur.
Niat isengnya muncul. Entah kemana rasa kesetiaan pada majikannya.
Warso mengendap seperti maling yang pernah dilakukannya di waktu muda dulu. Untunglah diluar kamar itu tidak ada penerang dan hanya di hiasi oleh rumput dan tiang lampu yang tidak berfungsi.
Lalu ditempelkannya telinganya ke daun jendela kamar itu. Sesaat terdengar dengusan nafas tertahan dari dua orang berlawanan jenis yang sedang bersetubuh. Warso mengetahui itu adalah suara kedua majikannya sedang berhubungan sex.
Ia berusaha mencari celah di jendela itu. Kemujuran berpihak kepadanya malam itu. Lewat celah yang tidak tertutup kordyn dari dalam kamar itu ia dengan mata telanjang dapat melihat aktifitas suami istri itu.
Keduanya sedang melakukan persenggamaan. Tubuh Indra dan Vina tidak tertutup oleh sehelai benangpun. Indra terlihat sedang menaiki tubuh Vina dan kedua alat kelamin mereka telah menyatu. Dengan gerakan teratur tubuh Indra bergerak maju mundur diantara kedua paha Vina yang terkangkang saat itu. Juga kedua tangannya sibuk menggapai kedua payudara istrinya yang putih dan mulus itu.
Melihat itu Warso memegang penisnya sendiri yang mulai mengeras sebagai reaksi atas apa yang dilihatnya. Mata tuanya terpaku melihat kedua tubuh manusia yang sedang bersetubuh itu.
Namun yang menjadi perhatian Warso hanyalah tubuh Vina. Vina yang bugil menampakkan tubuhnya yang amat putih dan tiada cacat sedikitpun. Apalagi telah basah oleh keringat saat itu. Ditambah gelantungan payudaranya yang putih indah itu basah oleh keringat hingga mengkilat dan bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya yang sedang digenjot oleh kontol suaminya pada memeknya.
Selama ini Warso hanya melihat sosok Vina yang terbungkus pakaian dan sedikit celah didadanya saat Vina memakai blus kerja. Pada malam itu ia dengan leluasa dapat menyaksikan tubuh yang selama ini jadi impiannya terbuka seutuhnya.
Terlihat Vina memejamkan mata dan memalingkan kepalanya kekiri-kanan seolah kesakitan menahan bobot tubuh dan sodokan penis suaminya di liang kemaluannya. Padahal Warso memperhatikan penis Indra tidaklah terlalu besar. Namun Vina tampaknya kesakitan terdengar dari rintihan erotis dan dengusnya saat itu.
Beberapa saat kemudian Indra menyudahi sodokannya. Tampaknya ia telah klimaks. Memang saat itu Indra telah menyudahi persetubuhan itu secara sepihak. Perlahan kemudian ia tarik kemaluannya dari liang sanggama Vina. Penisnya terlihat telah loyo dan basah oleh lendir sperma yang bercampur lendir vagina istrinya.
Namun Vina terlihat kecewa. Vina hanya memalingkan wajahnya yang juga ada burtiran keringat saat Indra rebah disampingnya. Kejadian itu terlihat jelas oleh Warso. Sisa sisa kekecewaan di timpakan Vina dengan menutup tubuh bugilnya dengan selimut lalu ia memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya.
Melihat itu Warso yakin bahwa Vina tidak pernah mendapatkan kepuasan dari perewean bersama suaminya.
Melihat aktifitas dikamar itu telah selesai, Warso lalu kembali kekamarnya. Diapun melanjutkan onaninya dengan membayangkan wajah dan tubuh Vina yang ia saksikan dengan jelas saat tadi. Tidak lama kemudian ia dapat klimaks dengan mudah, mungkin karena telah mengetahui lekuk-lekuk rahasia di tubuh Vina.
Esok harinya Warso terus berkutat dengan kesibukannya. Ia sempat memperhatikan tingkah suami istri itu. Ia tidak melihat wajah muram atau masam di wajah Vina.
Pagi itu Vina memang selesai keramas dan dengan rambut basah tetap menyambut suaminya untuk sarapan pagi dengan rasa cinta. Tidak terlihat kekecewaannya malam itu.
Memang beruntung Indra mendapatkan Vina yang cukup dewasa dalam bertindak dan menempatkan masalah ranjang habis dikamar saja.
Vina tetap memegang teguh ajaran agama dan leluhurnya yang selalu di berikan oleh orang tuanya agar jadi seorang istri yang nrimo (menerima) kepada suami. Semenjak ia menikah ia telah berjanji untuk menerima suaminya apa adanya baik kekurangan maupun kelebihannya. Baginya urusan ranjang biarlah habis dikamar saja dan tidak akan ia bawa sampai keluar kamar. Itu sesuai dengan ajaran ibunya yang cukup pandai mendidik anak2nya itu.
Semenjak mengintip malam itu, Warso menjadi ketagihan untuk slalu mengikuti aktifitas ranjang pasangan itu tentu saja ia lebih fokus pada menyaksikan keindahan tubuh Vina yang sedang telanjangan.
Warso menjadi hafal saat saat pasangan itu berhubungan sex. Ia seolah mengetahui jadwal dan rutinitas suami istri itu.
Warso jadi mengetahui bahwa Vina memang tidak pernah orgasme dan Indra adalah seorang suami yang tidak mengetahui keinginan istrinya. Indra dilihatnya terlalu egois dan hanya mengejar kenikmatan sendiri. Warso jadi kasihan pada Vina, karena Vina yang cantik hanya dijadikan pajangan dan sarana kepuasan Indra semata.
Bagi Warso, sayang sekali jika istri secantik Vina disia-siakan dan seakan terabaikan keinginannya sebagai wanita dewasa.
Ia pun berandai andai jika ada wanita secantik Vina bisa jadi istrinya ia berjanji akan memuaskannya secara lahir bathin. Tidak akan ia lihat istrinya menangis dan kecewa karena hubungan sex yang tak terpuaskan, malah ia ingin istrinya mendesis, mengerang dan mendesah hingga berteriak karena mendapat kenikmatan sampai orgasme berkali-kali.
Waktu terus berjalan dan rutinitas baru itupun dilakoni Warso.
Pada akhirnya Warso terobsesi untuk mencampuri urusan rumah tangga Indra. Padahal Warso bukanlah siapa-siapa dari pasangan itu. Ia tidak sadar siapa dirinya dan apa tugasnya.
Warso menerka-nerka sebabnya kenapa Vina belum juga hamil. Padahal ia tahu segalanya telah dimiliki keluarga itu. Dan secara tak sengaja ia mendengar keluhan Vina.
Vina tanpa sengaja pernah mengeluh pada Warso saat didalam mobil setelah pulang dari periksa ke dokter.
Vina mengeluhkan tentang desakan dari orangtuanya sendiri dan mertuanya agar mereka cepat-cepat punya keturunan. Padahal selama ini Vinapun selalu berupaya agar selekasnya hamil. Merekapun tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi dalam berhubungan suami istri.
Segala upaya telah mereka lakukan dengan konsultasi pada seorg dokter langganannya. Dan kesehatan mereka berduapun cukup sehat dan subur untuk bisa hamil.
Sebagai sopir maupun sebagai bawahan, Warso hanya berucap seadanya pada Vina agar selalu sabar, mungkin saja belum saatnya Vina hamil.
Setiap Warso mengintip suami istri itu ngesex, mereka selalu polos tidak menggunakan kontrasepsi apapun. Apalagi ia yang sering mengantar Vina ke dokter kandungan untuk konsultasi soal keinginan mereka agar secepatnya memiliki momongan.
Ia seakan tau penyebab masalah Vina itu. Kuncinya adalah Indra terlalu egois.
"Aku pasti bisa menghamili Vina, jika diberi kesempatan." bati Warso.
Aktifitas onani Warso semakin menggila. Ia seakan kehilangan akal sehat. Warso tidak lagi memandang Vina sebagai majikannya yang harus di jaga kehormatannya.
Sekarang Warso terobsesi untuk memasuki kehidupan Vina dan menikmati kehangatan tubuhnya. Dan kalau bisa, ia ingin merampasnya dari tangan Indra apapun caranya baik secara halus atau kasar.
Ia amat terobsesi dan terpesona akan sosok Vina yang cantik dan masih keturunan terhormat itu. Alangkah bangganya jika kelak ia dapat keturunan dari wanita berdarah bangsawan dan cantik itu.
Apalagi yang ia tahu, saat bersetubuh dengan suaminya, Vina terlihat selalu kesakitan di kemaluannya padahal penis suaminya itu tidaklah lebih besar dari jempol Warso. Berarti jepitan liang kemaluan Vina masih amat seret dan belumlah longgar seperti wanita wanita yang dulu pernah ia gauli.
Indra yang diluar terlihat gagah, jantan dan bijaksana juga amat peduli pada semua orang ternyata di atas ranjang tidaklah ada apa-apanya. Warsopun berpikiran bisa saja Vina jatuh ketangan laki laki lain, sebab dalam menjalankan usahanya ia juga memiliki bawahan dan kolega dari pria-pria mapan dan terpelajar.
Mengingat kemungkinan terburuk yang akan melanda Vina karena tekanan mertua dan orangtuanya juga kondisi ranjangnya yang tidak pernah membuatnya puas segalanya bisa terjadi. Dan pria mana yang akan menolak jika ada sinyal dari Vina.
Namun semua perkiraan Warso itu tidaklah terbukti. Sebab tidak ada tanda sedikitpun Vina berubah, ia masih tetap setia pada suaminya. Dan Warso semakin merasa sangat berkepentingan dengan semua itu. Ia ingin Vina jatuh kepelukannya tanpa ada gangguan dari pihak manapun juga.
Pikiran sesat dan keinginan tobatnya telah terkubur didalam hati Warso. Semuanya tertutup oleh hawa nafsu kebinatangan yang menggiringnya kepada perbuatan nista.
Dengan menggunakan sedikit uang yang ada di tabungannya. Warso mendatanggi seorang dukun yang ia kenal saat di Surabaya dulu. Untuk kesanapun ia berbohong dengan alasan ada keperluan dengan kerabatnya.
Warso tidak lagi memikirkan akibat perbuatannya. Padahal selama ini Indra dan Vina amatlah baik kepadanya. Indra telah menganggapnya sebagai saudaranya dan orang tuanya, Vinapun demikian.
Pikirkan Warso itu amat berlawanan dengan kenyataan yang dialami Vina. Bagi Vina kepuasan sexuil itu merupakan masalah pribadinya dengan Indra dan ia tidak mempermasalahkannya. Ia sudah cukup merasa bahagia dengan keadaannya yang sekarang dan iapun tetap rukun-rukun saja dengan suami yang amat ia cintai.
Pagi itu Vina memang selesai keramas dan dengan rambut basah tetap menyambut suaminya untuk sarapan pagi dengan rasa cinta. Tidak terlihat kekecewaannya malam itu.
Memang beruntung Indra mendapatkan Vina yang cukup dewasa dalam bertindak dan menempatkan masalah ranjang habis dikamar saja.
Vina tetap memegang teguh ajaran agama dan leluhurnya yang selalu di berikan oleh orang tuanya agar jadi seorang istri yang nrimo (menerima) kepada suami. Semenjak ia menikah ia telah berjanji untuk menerima suaminya apa adanya baik kekurangan maupun kelebihannya. Baginya urusan ranjang biarlah habis dikamar saja dan tidak akan ia bawa sampai keluar kamar. Itu sesuai dengan ajaran ibunya yang cukup pandai mendidik anak2nya itu.
Semenjak mengintip malam itu, Warso menjadi ketagihan untuk slalu mengikuti aktifitas ranjang pasangan itu tentu saja ia lebih fokus pada menyaksikan keindahan tubuh Vina yang sedang telanjangan.
Warso menjadi hafal saat saat pasangan itu berhubungan sex. Ia seolah mengetahui jadwal dan rutinitas suami istri itu.
Warso jadi mengetahui bahwa Vina memang tidak pernah orgasme dan Indra adalah seorang suami yang tidak mengetahui keinginan istrinya. Indra dilihatnya terlalu egois dan hanya mengejar kenikmatan sendiri. Warso jadi kasihan pada Vina, karena Vina yang cantik hanya dijadikan pajangan dan sarana kepuasan Indra semata.
Bagi Warso, sayang sekali jika istri secantik Vina disia-siakan dan seakan terabaikan keinginannya sebagai wanita dewasa.
Ia pun berandai andai jika ada wanita secantik Vina bisa jadi istrinya ia berjanji akan memuaskannya secara lahir bathin. Tidak akan ia lihat istrinya menangis dan kecewa karena hubungan sex yang tak terpuaskan, malah ia ingin istrinya mendesis, mengerang dan mendesah hingga berteriak karena mendapat kenikmatan sampai orgasme berkali-kali.
Waktu terus berjalan dan rutinitas baru itupun dilakoni Warso.
Pada akhirnya Warso terobsesi untuk mencampuri urusan rumah tangga Indra. Padahal Warso bukanlah siapa-siapa dari pasangan itu. Ia tidak sadar siapa dirinya dan apa tugasnya.
Warso menerka-nerka sebabnya kenapa Vina belum juga hamil. Padahal ia tahu segalanya telah dimiliki keluarga itu. Dan secara tak sengaja ia mendengar keluhan Vina.
Vina tanpa sengaja pernah mengeluh pada Warso saat didalam mobil setelah pulang dari periksa ke dokter.
Vina mengeluhkan tentang desakan dari orangtuanya sendiri dan mertuanya agar mereka cepat-cepat punya keturunan. Padahal selama ini Vinapun selalu berupaya agar selekasnya hamil. Merekapun tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi dalam berhubungan suami istri.
Segala upaya telah mereka lakukan dengan konsultasi pada seorg dokter langganannya. Dan kesehatan mereka berduapun cukup sehat dan subur untuk bisa hamil.
Sebagai sopir maupun sebagai bawahan, Warso hanya berucap seadanya pada Vina agar selalu sabar, mungkin saja belum saatnya Vina hamil.
Setiap Warso mengintip suami istri itu ngesex, mereka selalu polos tidak menggunakan kontrasepsi apapun. Apalagi ia yang sering mengantar Vina ke dokter kandungan untuk konsultasi soal keinginan mereka agar secepatnya memiliki momongan.
Ia seakan tau penyebab masalah Vina itu. Kuncinya adalah Indra terlalu egois.
"Aku pasti bisa menghamili Vina, jika diberi kesempatan." bati Warso.
Aktifitas onani Warso semakin menggila. Ia seakan kehilangan akal sehat. Warso tidak lagi memandang Vina sebagai majikannya yang harus di jaga kehormatannya.
Sekarang Warso terobsesi untuk memasuki kehidupan Vina dan menikmati kehangatan tubuhnya. Dan kalau bisa, ia ingin merampasnya dari tangan Indra apapun caranya baik secara halus atau kasar.
Ia amat terobsesi dan terpesona akan sosok Vina yang cantik dan masih keturunan terhormat itu. Alangkah bangganya jika kelak ia dapat keturunan dari wanita berdarah bangsawan dan cantik itu.
Apalagi yang ia tahu, saat bersetubuh dengan suaminya, Vina terlihat selalu kesakitan di kemaluannya padahal penis suaminya itu tidaklah lebih besar dari jempol Warso. Berarti jepitan liang kemaluan Vina masih amat seret dan belumlah longgar seperti wanita wanita yang dulu pernah ia gauli.
Indra yang diluar terlihat gagah, jantan dan bijaksana juga amat peduli pada semua orang ternyata di atas ranjang tidaklah ada apa-apanya. Warsopun berpikiran bisa saja Vina jatuh ketangan laki laki lain, sebab dalam menjalankan usahanya ia juga memiliki bawahan dan kolega dari pria-pria mapan dan terpelajar.
Mengingat kemungkinan terburuk yang akan melanda Vina karena tekanan mertua dan orangtuanya juga kondisi ranjangnya yang tidak pernah membuatnya puas segalanya bisa terjadi. Dan pria mana yang akan menolak jika ada sinyal dari Vina.
Namun semua perkiraan Warso itu tidaklah terbukti. Sebab tidak ada tanda sedikitpun Vina berubah, ia masih tetap setia pada suaminya. Dan Warso semakin merasa sangat berkepentingan dengan semua itu. Ia ingin Vina jatuh kepelukannya tanpa ada gangguan dari pihak manapun juga.
Pikiran sesat dan keinginan tobatnya telah terkubur didalam hati Warso. Semuanya tertutup oleh hawa nafsu kebinatangan yang menggiringnya kepada perbuatan nista.
Dengan menggunakan sedikit uang yang ada di tabungannya. Warso mendatanggi seorang dukun yang ia kenal saat di Surabaya dulu. Untuk kesanapun ia berbohong dengan alasan ada keperluan dengan kerabatnya.
Warso tidak lagi memikirkan akibat perbuatannya. Padahal selama ini Indra dan Vina amatlah baik kepadanya. Indra telah menganggapnya sebagai saudaranya dan orang tuanya, Vinapun demikian.
Pikirkan Warso itu amat berlawanan dengan kenyataan yang dialami Vina. Bagi Vina kepuasan sexuil itu merupakan masalah pribadinya dengan Indra dan ia tidak mempermasalahkannya. Ia sudah cukup merasa bahagia dengan keadaannya yang sekarang dan iapun tetap rukun-rukun saja dengan suami yang amat ia cintai.
Adapun Warso bertindak dengan memakai jasa dukun karena ia sadar, tidak akan diterima Vina secara baik-baik. Apalagi melihat sosok Warso yang berwajah hitam kasar ditambah us*ianya yang lebih tua dari kedua orang tua Vina.
Warso memang tidak pantas untuk mendapatkan Vina. Apalagi Vina dari keluarga terhormat dan terpelajar.
Merasa tidak pantas itulah makanya Warso menggunakan bantuan Dukun. Dukun itu memberikan syarat pada Warso untuk membawa celana dalam yang habis dipakai Vina juga beberapa helai rambut yang cukup muda didapatkan oleh Warso.
Sedangkang untuk CD Vina, dia mencuri cd bekas pakai itu dari mesin cucian, sebelum dicuci mbok Asih. Ia lalu menyerahkan semua itu pada dukun tersebut.
Dimalam yang sepi nan dingin pada hari Jum'at Kliwon, Warso melakukan ritual yang diajurkan dukun. Ritual tersebut mengharuskan Warso untuk melakukan onani sampai klimaks dengan betelanjang bulat.
Ritualnya itu merupakan ritual yang juga akan dirasakan Vina saat tertidur. Sedang sperma yang muncrat dari kontolnya hasil onani Warso saat ritual itu akan bersenyawa didalam rahim Vina secara gaib.
Dukun tersebut juga mengatakan kalau menguna-gunai Vina sanagt susah. Ia memiliki suatu kekuatan yang sulit ditembus oleh kekuatan gaib di liang kemaluannya. Itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.
Dan jika Warso berhasil maka Vina akan sepenuhnya terikat pada Warso. Indra tidak akan bernafsu lagi untuk meniduri istrinya jika Warso telah berhasil menumpahkan spermanya. Dan juga jika Warso berhasil, Kehidupannya akan terjamin dan berwibawa dimata umum juga secara materil akan meningkat.
Itulah nasehat dari dukun itu.
Dengan bersemangat Warso tidak sabar untuk menunggu saat yang dinantikannya itu. Sesuai petunjuk si dukun, Vina telah bisa di tiduri Warso, namun ia harus melihat waktu yang tepat saat suaminya tidak ada.
Dan masih menurut dukun itu, pada awalnya Vina akan menolak keinginan Warso itu secara keras. Dan perlawanan dari Vina akan mengendor jika matanya ditatap dengan lekat saat akan di tiduri. Dan untuk menundukkannya Warso harus pintar-pintar mengatur cara dan strateginya.
Wejangan dari dukun itu bukan tanpa alasan. Sebab untuk menundukkan Vina sangat besar resikonya. Apalagi Vina masih terikat pernikahan yang sah dengan Indra.
Seminggu setelah ritual yang dilakukannya itu, Warso akhirnya mendapatkan kesempatan yang dinantikannya itu.
Kesempatan pelaksanaan aksinya itu dapat dilakukannya pada saat Indra yang setiap bulannya melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta. Biasanya Indra ke Jakarta pergi selama 5-7 hari tergantung lamanya urusannya. Warso telah hafal akan jadwal perjalanan Indra.
Sore itu Indra berangkat ke Jakarta dengan memakai mobil pribadinya. Sedang sopirnya dia pakai yang biasa di kantornya, sebab Warso diwanti-wanti untuk menjaga rumah dan Vina berikut isinya. Warsopun menerimanya dengan senang hati.
Dan yang lebih membuatnya girang adalah kebetulan saat itu Mbok Asih pembantu keluarga itupun izin pulang ke desanya karena cucunya akan khitanan. Mbok Asih minta izin pada majikannya selama 4 hari.
Nah kesempatan itu akan membuat Warso bisa leluasa dalam menjalankan aksinya untuk mereguk kepuasan kebersamaannya dengan Vina tanpa adanya gangguan dari orang lain.
Sore itu Warso menutup pagar rumah yang tinggi itu dengan rapi dan menguncinya dari dalam. Ia lalu masuk kedalam kamarnya dan mandi.
Setelahnya Warso mengambil ramuan yang telah ia sediakan, biasanya ia minum untuk menjaga kondisi tubuhnya agar bugar dan staminanya terjaga. Ramuan itu adalah ramuan khas tradisonal daerahnya yang telah terbukti khasiatnya terutama untuk pria yang akan melakukan hubungan sex.
Sengaja ia minum itu agar nanti jika benar-benar bisa melakukan persetubuhan dengan Vina akan dapat membuatnya lebih jantan dan bisa mengalahkan gejolak darah muda Vina. Sebab untuk yang pertama kali itu ia harus meninggalkan kesan yang mendalam pada Vina untuk menghantarkannya ke sorga dunia seutuhnya dalam berhubungan sex.
Selesai minum jamu kuat itu, ia beranjak kedalam rumah induk untuk makan. Dan sekalian melihat situasi kondisi rumah saat itu. Memasuki ruang belakang dan menuju dapur dan dekat sebuah meja ia berhenti lalu meraih piring dan nasi. Ia lalu duduk dan makan dengan lahap maklum rasa lapar menggerogotinya.
Sesekali Warso menoleh kedalam rumah untuk melihat majikannya, tapi dia tidak melihat Vina.
"Mungkin Vina masih dikamar" pikirnya.
Dalam keasyikannya makan itu, Vina muncul dari dalam rumah dengan pakaian kimono sutra yang amat serasi dengan kulitnya yang putih mulus. Tampak rambutnya sedikit basah, rupanya Vina barusan selesai mandi.
Tersirat kecantikannya secara alami tanpa polesan make-up dan wangi tubuhnya saat melintas didepan Warso yang sedang makan di ruang dapur yang luas dan mewah itu mereka bertemu.
“Oh.. pak Warso.. lagi makan ya? Ditambah nasi dan lauknya pak..” tawar Vina.
“Sudah bu.. Saya dari tadi makan dan hampir selesai." jawab Warso.
"Ibu mau makan juga ya?" tanya Warso.
“Iya pak.. Tapi kenapa bapak menyudahi makan? Saya jadi ndak enak lho..” kata Vina, dengan logat jawanya yang kental.
“Ah.. bener lho bu.. saya udah rampung makannya.. masak saya bohong..? Ntar mau ditaruh dimana makanan saya..? hehehe..” jawab Warso sambil bercanda.
“Tapi bapak temenin saya makan ya.. Soalnya mbok Asih nggak ada. Bapak bikin aja kopi.. biar ada yang nemenin saya..” imbuh Vina ramah.
“Tapi bapak jangan sungkan-sungkan lho ya.. Nanti saya lapor mas Indra jika bapak sungkan-sungkan..” ancam Vina.
Memang dalam keluarganya Vina dan Indra tidak membedakan para pembantunya itu. Bagi mereka soal pekerjaan adalah urusan tersendiri dan jika telah berada di rumah berarti mereka adalah keluarga. Indra akan marah jika tahu ada pembantunya yang bersifat terlalu sungkan-sungkan dan malu-malu. Mereka amat terbuka dan sering bertukar pikiran dengan pembantu-pembantunya.
“Baik bu..” jawab Warso yang kemudian berjalan dan membuat kopi setelah ia mencuci piring makannya di wastafel.
Ia lalu duduk semeja dengan Vina yang sibuk menyendok nasi ke mulutnya yang mungil.
Warso memang tidak pantas untuk mendapatkan Vina. Apalagi Vina dari keluarga terhormat dan terpelajar.
Merasa tidak pantas itulah makanya Warso menggunakan bantuan Dukun. Dukun itu memberikan syarat pada Warso untuk membawa celana dalam yang habis dipakai Vina juga beberapa helai rambut yang cukup muda didapatkan oleh Warso.
Sedangkang untuk CD Vina, dia mencuri cd bekas pakai itu dari mesin cucian, sebelum dicuci mbok Asih. Ia lalu menyerahkan semua itu pada dukun tersebut.
Dimalam yang sepi nan dingin pada hari Jum'at Kliwon, Warso melakukan ritual yang diajurkan dukun. Ritual tersebut mengharuskan Warso untuk melakukan onani sampai klimaks dengan betelanjang bulat.
Ritualnya itu merupakan ritual yang juga akan dirasakan Vina saat tertidur. Sedang sperma yang muncrat dari kontolnya hasil onani Warso saat ritual itu akan bersenyawa didalam rahim Vina secara gaib.
Dukun tersebut juga mengatakan kalau menguna-gunai Vina sanagt susah. Ia memiliki suatu kekuatan yang sulit ditembus oleh kekuatan gaib di liang kemaluannya. Itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.
Dan jika Warso berhasil maka Vina akan sepenuhnya terikat pada Warso. Indra tidak akan bernafsu lagi untuk meniduri istrinya jika Warso telah berhasil menumpahkan spermanya. Dan juga jika Warso berhasil, Kehidupannya akan terjamin dan berwibawa dimata umum juga secara materil akan meningkat.
Itulah nasehat dari dukun itu.
Dengan bersemangat Warso tidak sabar untuk menunggu saat yang dinantikannya itu. Sesuai petunjuk si dukun, Vina telah bisa di tiduri Warso, namun ia harus melihat waktu yang tepat saat suaminya tidak ada.
Dan masih menurut dukun itu, pada awalnya Vina akan menolak keinginan Warso itu secara keras. Dan perlawanan dari Vina akan mengendor jika matanya ditatap dengan lekat saat akan di tiduri. Dan untuk menundukkannya Warso harus pintar-pintar mengatur cara dan strateginya.
Wejangan dari dukun itu bukan tanpa alasan. Sebab untuk menundukkan Vina sangat besar resikonya. Apalagi Vina masih terikat pernikahan yang sah dengan Indra.
Seminggu setelah ritual yang dilakukannya itu, Warso akhirnya mendapatkan kesempatan yang dinantikannya itu.
Kesempatan pelaksanaan aksinya itu dapat dilakukannya pada saat Indra yang setiap bulannya melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta. Biasanya Indra ke Jakarta pergi selama 5-7 hari tergantung lamanya urusannya. Warso telah hafal akan jadwal perjalanan Indra.
Sore itu Indra berangkat ke Jakarta dengan memakai mobil pribadinya. Sedang sopirnya dia pakai yang biasa di kantornya, sebab Warso diwanti-wanti untuk menjaga rumah dan Vina berikut isinya. Warsopun menerimanya dengan senang hati.
Dan yang lebih membuatnya girang adalah kebetulan saat itu Mbok Asih pembantu keluarga itupun izin pulang ke desanya karena cucunya akan khitanan. Mbok Asih minta izin pada majikannya selama 4 hari.
Nah kesempatan itu akan membuat Warso bisa leluasa dalam menjalankan aksinya untuk mereguk kepuasan kebersamaannya dengan Vina tanpa adanya gangguan dari orang lain.
Sore itu Warso menutup pagar rumah yang tinggi itu dengan rapi dan menguncinya dari dalam. Ia lalu masuk kedalam kamarnya dan mandi.
Setelahnya Warso mengambil ramuan yang telah ia sediakan, biasanya ia minum untuk menjaga kondisi tubuhnya agar bugar dan staminanya terjaga. Ramuan itu adalah ramuan khas tradisonal daerahnya yang telah terbukti khasiatnya terutama untuk pria yang akan melakukan hubungan sex.
Sengaja ia minum itu agar nanti jika benar-benar bisa melakukan persetubuhan dengan Vina akan dapat membuatnya lebih jantan dan bisa mengalahkan gejolak darah muda Vina. Sebab untuk yang pertama kali itu ia harus meninggalkan kesan yang mendalam pada Vina untuk menghantarkannya ke sorga dunia seutuhnya dalam berhubungan sex.
Selesai minum jamu kuat itu, ia beranjak kedalam rumah induk untuk makan. Dan sekalian melihat situasi kondisi rumah saat itu. Memasuki ruang belakang dan menuju dapur dan dekat sebuah meja ia berhenti lalu meraih piring dan nasi. Ia lalu duduk dan makan dengan lahap maklum rasa lapar menggerogotinya.
Sesekali Warso menoleh kedalam rumah untuk melihat majikannya, tapi dia tidak melihat Vina.
"Mungkin Vina masih dikamar" pikirnya.
Dalam keasyikannya makan itu, Vina muncul dari dalam rumah dengan pakaian kimono sutra yang amat serasi dengan kulitnya yang putih mulus. Tampak rambutnya sedikit basah, rupanya Vina barusan selesai mandi.
Tersirat kecantikannya secara alami tanpa polesan make-up dan wangi tubuhnya saat melintas didepan Warso yang sedang makan di ruang dapur yang luas dan mewah itu mereka bertemu.
“Oh.. pak Warso.. lagi makan ya? Ditambah nasi dan lauknya pak..” tawar Vina.
“Sudah bu.. Saya dari tadi makan dan hampir selesai." jawab Warso.
"Ibu mau makan juga ya?" tanya Warso.
“Iya pak.. Tapi kenapa bapak menyudahi makan? Saya jadi ndak enak lho..” kata Vina, dengan logat jawanya yang kental.
“Ah.. bener lho bu.. saya udah rampung makannya.. masak saya bohong..? Ntar mau ditaruh dimana makanan saya..? hehehe..” jawab Warso sambil bercanda.
“Tapi bapak temenin saya makan ya.. Soalnya mbok Asih nggak ada. Bapak bikin aja kopi.. biar ada yang nemenin saya..” imbuh Vina ramah.
“Tapi bapak jangan sungkan-sungkan lho ya.. Nanti saya lapor mas Indra jika bapak sungkan-sungkan..” ancam Vina.
Memang dalam keluarganya Vina dan Indra tidak membedakan para pembantunya itu. Bagi mereka soal pekerjaan adalah urusan tersendiri dan jika telah berada di rumah berarti mereka adalah keluarga. Indra akan marah jika tahu ada pembantunya yang bersifat terlalu sungkan-sungkan dan malu-malu. Mereka amat terbuka dan sering bertukar pikiran dengan pembantu-pembantunya.
“Baik bu..” jawab Warso yang kemudian berjalan dan membuat kopi setelah ia mencuci piring makannya di wastafel.
Ia lalu duduk semeja dengan Vina yang sibuk menyendok nasi ke mulutnya yang mungil.
Warso yang duduk didepan Vina itu, dapat dengan bebas memandang kecantikan majikannya dari dekat. Mata Warso terus memperhatikan Vina yang terlihat sibuk makan dan mengunyah makanannya sambil melihat sebuah tabloid. Matanya terus memperhatikan sosok yang selama ini menjadi impiannya itu.
Mulai dari jari yang halus dan kuku yang agak panjang dan dihiasi cincin kawin emas putih yang dihiasi dari berlian di jari manis itu. Pandangannya beralih ke dada Vina yang sempurna tampak menyembul dari selah-selah pakaiannya dan sangat pas jika telapak tangannya yang kasar dan penuh bulu itu bisa memegang dan memainkannya.
Tanpa sadar air liutnya ditelannya membayangkan tubuh majikannya yang duduk didepanya itu. Tenggorokannya seakan kering menahan gejolak nafsu yang menyerang dirinya.
Apalagi pemandangan indah dari leher Vina yang jenjang nan putih dengan dihiasi seuntai kalung emas putih berlogo V.
Tanpa ia duga, tatapan matanya bertabrakan dengan tatapan mata Vina.
Vina pun berkata, "ada apa pak? kok memandang saya seperti itu?”.
“Abisnya ibu amat cantik dan menarik.. Jadi wajar kan saya memandang wajah ibu yang cantik..?” jawab Warso polos.
“Ah.. bapak bisa aja..” Sahut Vina.
“Saya biasa saja lho pak.. ndak ada yang istimewa lho..” imbuh Vina merendah.
“Nah makanya bapak cepat-cepat cari istri biar ada yang merawat dan bisa bapak lihat setiap hari. Kan kasian hari tua bapak nggak ada yang nemanin.. juga yang akan merawat bapak jika sakit..” sahut Vina sambil senyum.
Padahal saat itu dalam hatinya amat girang (senang) karena pujian dari Warso.
“Ah.. ibu jangan berkata begitu.. sekarang amat sulit mencari wanita yang baik dan setia seperti Ibu. Saya takut nanti ndak bisa membahagiakannya secara materil kalau bathin mungkin bisa, apalagi saya hanya seorang sopir bu..” terang Warso sambil mengeluh.
“Yang seperti Saya?” balas Vina heran.
“Apa saya baik dan setia pak?” tanya Vina lagi atas sanjungan Warso.
Ia merasa sumringah dan bangga karena sekali lagi di sanjung sopirnya itu.
“Iya bu.. selain cantik, ibu juga baik dan bisa membahagiakan suami. Makanya den Indra bisa seperti sekarang ini.” Jawab Warso.
“Ah.. bapak ada-ada aja. Piye toh pak.. apa perlu saya carikan yang seperti itu untuk bapak?”
“Bener bu..?” tanya Warso.
“Benar.. tapi bapak tenang aja, dan sabar.. ntar juga ketemu wanita baik kok..” terang Vina.
“Baiklah bu..” Warso mengangguk setuju.
“Tapi yang seperti ibu ya.. baiknya dan setianya.. atau ibu aja gimana?” gurau Warso.
“Hahhh..? apaaa? nyebut pak..” sahut Vina kaget.
“Jangan lah pak.. Itu dosa pak. Apalagi aku kan ada suami. Lagian ndak ada gunanya juga lo pak..” jawab Vina kaget.
“Ah.. guyon aja bu.."
"Bapak bisa aja..” jawab Vina sambil senyum.
“Ah... saya beneran bercanda lho buk.. Kalau iya juga nggak apa apa sih.. hehehe..” sahut Warso sambil senyum lagi.
“Ah sudahlah pak jangan bicara masalah itu lagi doang.. saya ndak enak.” Imbuh Vina lagi sambil menyuapkan sendok makan ke mulutnya lagi.
Selesai makan Vina lalu bangun dari meja makan dan berjalan kearah wastafel mencuci piring juga tangannya.
Warso memandangnya dari belakang tampak olehnya bayangan tali Bra yang halus dan garis celana dalam majikannya.
Setelah itu Vina berjalan kearah ruang tengah rumahnya. Ia duduk pada sebuah sofa dan menyetel televisi. Kemudian dia memanggil Warso untuk nonton tv di ruangan yang luas itu. Sebab tadinya ia lupa menawarkan pada Warso.
“Pak Warso.. ayo nonton TV bareng.. Kan bapak bisa nonton sambil minum kopi.” ajak Vina.
Warso datang menghampiri majikannya tersebut dengan sikap malas-malasan yang dibuat-buat sambil membawa kopi.
“Wah bagus ya bu gambarnya. Apalagi TV-nya besar dan suaranya amat jelas.” kata Warso menutupi kegugupannya.
“Iyalah pak..” jawab Vina.
“TV yang dikamar bapak apa masih bagus? Nanti saya minta mas Indra mengganti dengan yang sedang ya pak?” tanya Vina.
“Ooo.. masih bagus kok bu..” jawab Warso.
Ia gugup karena sedang mencari ide agar dia bisa memulai aksinya merayu Vina yang saat itu duduk di sofa panjang. Dalam pikiran Warso terus berkecamuk mencari cara agar bisa melaksanakan keinginannya itu. Ia terlihat gelisah dalam duduknya.
Kegelisahan Warso itu di tangkap Vina.
“Ada apa pak? Kelihatannya bapak gelisah ada yang dipikirkan ya?” tebaknya.
Dengan keringat yang mulai membasahi dahinya Warsopun menjawab.
“Bu.. saya sebenarnya merasa bersalah jika mengatakannya. Ibu tidak marah kan jika saya mengatakannya..?” jawab Warso.
“Lah kenapa marah.. ya enggak lah pak.. emang apaan sih?” tanya Vina.
“Begini lho bu..” terang Warso sambil meraih tangan Vina.
“Ibu begitu cantik.. terus terang.. setiap saya dekat ibu.. sss..sa.. sssa..saya jadi tidak tahan akan godaan nafsu yang selalu datang bu..” terang Warso polos.
Saat itu Vina membiarkan Warso meraih tangan dan meremas jemarinya yang halus nan lembut itu. Bulu kuduknya pun merinding karena ia tidak pernah dipegang laki2 lain selain suaminya. Namun ia masih mentolerir tindakan sopirnya itu yang ia anggap orang tua yang harus ia hormati.
Namun mendengar pengakuan jujur Warso itu, mimik wajah Vina yang putih menjadi bersemu merah menahan kaget, marah juga pedih. Ia tau maksud dari perkataan pembantunya itu.
Vina tidak menduga kata-kata itu keluar dari mulut orang yang selama ini ia anggap sebagai pelindung dan pembantunya bahkan saudaranya.
Tangan Vina masih di genggam Warso.
Dalam kebisuan dan kebingungngan Vina saat itu, terlihat Warso berusaha mencium jemari tangannya yang halus.
Perlakuan itu memperjelas bahwa pembantunya itu ingin mereka berdua berselingkuh dan menghendaki hubungan yang intim antara pria dan wanita.
Dengan sedikit hentakkan Vina menarik tangannya dari pegangan Warso dan menampar pipi laki-laki tua itu. Sambil berbalik Vina berlari kearah kamarnya.
Vina merasa malu karena Warso dengan berani memegang dan berusaha mencium tangannya. Ia terlihat kecewa dan bingung.
Dikamarnya ia hempaskan tubuh rampingnya keatas ranjang empuknya. Ia merasa menyesal telah menampar Warso. Seum*urnya belum pernah bertindak kasar. Jangankan menampar, berkata kasarpun tidak pernah dilakukannya. Rasa bersalah itu telah menggerogotinya.
Mulai dari jari yang halus dan kuku yang agak panjang dan dihiasi cincin kawin emas putih yang dihiasi dari berlian di jari manis itu. Pandangannya beralih ke dada Vina yang sempurna tampak menyembul dari selah-selah pakaiannya dan sangat pas jika telapak tangannya yang kasar dan penuh bulu itu bisa memegang dan memainkannya.
Tanpa sadar air liutnya ditelannya membayangkan tubuh majikannya yang duduk didepanya itu. Tenggorokannya seakan kering menahan gejolak nafsu yang menyerang dirinya.
Apalagi pemandangan indah dari leher Vina yang jenjang nan putih dengan dihiasi seuntai kalung emas putih berlogo V.
Tanpa ia duga, tatapan matanya bertabrakan dengan tatapan mata Vina.
Vina pun berkata, "ada apa pak? kok memandang saya seperti itu?”.
“Abisnya ibu amat cantik dan menarik.. Jadi wajar kan saya memandang wajah ibu yang cantik..?” jawab Warso polos.
“Ah.. bapak bisa aja..” Sahut Vina.
“Saya biasa saja lho pak.. ndak ada yang istimewa lho..” imbuh Vina merendah.
“Nah makanya bapak cepat-cepat cari istri biar ada yang merawat dan bisa bapak lihat setiap hari. Kan kasian hari tua bapak nggak ada yang nemanin.. juga yang akan merawat bapak jika sakit..” sahut Vina sambil senyum.
Padahal saat itu dalam hatinya amat girang (senang) karena pujian dari Warso.
“Ah.. ibu jangan berkata begitu.. sekarang amat sulit mencari wanita yang baik dan setia seperti Ibu. Saya takut nanti ndak bisa membahagiakannya secara materil kalau bathin mungkin bisa, apalagi saya hanya seorang sopir bu..” terang Warso sambil mengeluh.
“Yang seperti Saya?” balas Vina heran.
“Apa saya baik dan setia pak?” tanya Vina lagi atas sanjungan Warso.
Ia merasa sumringah dan bangga karena sekali lagi di sanjung sopirnya itu.
“Iya bu.. selain cantik, ibu juga baik dan bisa membahagiakan suami. Makanya den Indra bisa seperti sekarang ini.” Jawab Warso.
“Ah.. bapak ada-ada aja. Piye toh pak.. apa perlu saya carikan yang seperti itu untuk bapak?”
“Bener bu..?” tanya Warso.
“Benar.. tapi bapak tenang aja, dan sabar.. ntar juga ketemu wanita baik kok..” terang Vina.
“Baiklah bu..” Warso mengangguk setuju.
“Tapi yang seperti ibu ya.. baiknya dan setianya.. atau ibu aja gimana?” gurau Warso.
“Hahhh..? apaaa? nyebut pak..” sahut Vina kaget.
“Jangan lah pak.. Itu dosa pak. Apalagi aku kan ada suami. Lagian ndak ada gunanya juga lo pak..” jawab Vina kaget.
“Ah.. guyon aja bu.."
"Bapak bisa aja..” jawab Vina sambil senyum.
“Ah... saya beneran bercanda lho buk.. Kalau iya juga nggak apa apa sih.. hehehe..” sahut Warso sambil senyum lagi.
“Ah sudahlah pak jangan bicara masalah itu lagi doang.. saya ndak enak.” Imbuh Vina lagi sambil menyuapkan sendok makan ke mulutnya lagi.
Selesai makan Vina lalu bangun dari meja makan dan berjalan kearah wastafel mencuci piring juga tangannya.
Warso memandangnya dari belakang tampak olehnya bayangan tali Bra yang halus dan garis celana dalam majikannya.
Setelah itu Vina berjalan kearah ruang tengah rumahnya. Ia duduk pada sebuah sofa dan menyetel televisi. Kemudian dia memanggil Warso untuk nonton tv di ruangan yang luas itu. Sebab tadinya ia lupa menawarkan pada Warso.
“Pak Warso.. ayo nonton TV bareng.. Kan bapak bisa nonton sambil minum kopi.” ajak Vina.
Warso datang menghampiri majikannya tersebut dengan sikap malas-malasan yang dibuat-buat sambil membawa kopi.
“Wah bagus ya bu gambarnya. Apalagi TV-nya besar dan suaranya amat jelas.” kata Warso menutupi kegugupannya.
“Iyalah pak..” jawab Vina.
“TV yang dikamar bapak apa masih bagus? Nanti saya minta mas Indra mengganti dengan yang sedang ya pak?” tanya Vina.
“Ooo.. masih bagus kok bu..” jawab Warso.
Ia gugup karena sedang mencari ide agar dia bisa memulai aksinya merayu Vina yang saat itu duduk di sofa panjang. Dalam pikiran Warso terus berkecamuk mencari cara agar bisa melaksanakan keinginannya itu. Ia terlihat gelisah dalam duduknya.
Kegelisahan Warso itu di tangkap Vina.
“Ada apa pak? Kelihatannya bapak gelisah ada yang dipikirkan ya?” tebaknya.
Dengan keringat yang mulai membasahi dahinya Warsopun menjawab.
“Bu.. saya sebenarnya merasa bersalah jika mengatakannya. Ibu tidak marah kan jika saya mengatakannya..?” jawab Warso.
“Lah kenapa marah.. ya enggak lah pak.. emang apaan sih?” tanya Vina.
“Begini lho bu..” terang Warso sambil meraih tangan Vina.
“Ibu begitu cantik.. terus terang.. setiap saya dekat ibu.. sss..sa.. sssa..saya jadi tidak tahan akan godaan nafsu yang selalu datang bu..” terang Warso polos.
Saat itu Vina membiarkan Warso meraih tangan dan meremas jemarinya yang halus nan lembut itu. Bulu kuduknya pun merinding karena ia tidak pernah dipegang laki2 lain selain suaminya. Namun ia masih mentolerir tindakan sopirnya itu yang ia anggap orang tua yang harus ia hormati.
Namun mendengar pengakuan jujur Warso itu, mimik wajah Vina yang putih menjadi bersemu merah menahan kaget, marah juga pedih. Ia tau maksud dari perkataan pembantunya itu.
Vina tidak menduga kata-kata itu keluar dari mulut orang yang selama ini ia anggap sebagai pelindung dan pembantunya bahkan saudaranya.
Tangan Vina masih di genggam Warso.
Dalam kebisuan dan kebingungngan Vina saat itu, terlihat Warso berusaha mencium jemari tangannya yang halus.
Perlakuan itu memperjelas bahwa pembantunya itu ingin mereka berdua berselingkuh dan menghendaki hubungan yang intim antara pria dan wanita.
Dengan sedikit hentakkan Vina menarik tangannya dari pegangan Warso dan menampar pipi laki-laki tua itu. Sambil berbalik Vina berlari kearah kamarnya.
Vina merasa malu karena Warso dengan berani memegang dan berusaha mencium tangannya. Ia terlihat kecewa dan bingung.
Dikamarnya ia hempaskan tubuh rampingnya keatas ranjang empuknya. Ia merasa menyesal telah menampar Warso. Seum*urnya belum pernah bertindak kasar. Jangankan menampar, berkata kasarpun tidak pernah dilakukannya. Rasa bersalah itu telah menggerogotinya.
Warso yang mendapat perlakuan seperti itu mejadi kaget bercampur rasa marah. Seum*ur-um*ur belum pernah di tampar oleh wanita apalagi dengan telak seperti itu.
Namun ia ingat kata-kata si dukun tentang kemungkinan itu. Iapun bisa menerimanyan meski pipinya sedikit perih namun rasa optimisnya muncul dan tidak lama lagi ia akan berpesta diatas tubuh Vina yang cantik nan sintal itu.
Setelah mendapatkan perlakuan telak dari Vina, Warso berjalan ruang dapur dan mengunci pintu dari dalam sebab ia akan berada didalam rumah induk itu hingga pagi hari. Sebab bagaimanapun caranya malam itu ia harus bisa menaklukkan Vina baik secara lembut atau kasar.
Ia sudah bertekat akan menghantarkan Vina sampai puncak kepuasan dalam behubungan sex, ia berencana tidak akan memberi waktu pada Vina untuk sekedar mengenakan pakaianannya selama ia dalam genggamannya. Sebab dukunnya telah diberi lampu hijau jika guna-gunanya telah mulai bekerja.
Selesai mengunci rumah ia kembali kedalam ruang tengah, menuju kamar Vina yang ia lihat tidak tertutup rapat. Berarti secara tidak langsung Vina mengundangnya masuk kamar. Namun saat ia berjalan itu terdengar dering telpon. Ia tidak berani mengangkat.
“Bu.. bu Vina.. Ada telpon..” panggil Warso dari luar kamar Vina.
Tak lama kemudian terlihat Vina keluar kamar dengan mata sembab dan sisa air mata yang ia hapus. Ia angkat gagang telepon itu. Rupanya Indra suaminya ditelepon itu.
Kemudian mereka terlibat pembicaraan dan di tutup kembali oleh Vina setelah terlebih dahulu memberi kecupan sayang pada suaminya lewat telepon.
Warso masih di ruangan itu dan sempat mendengar pembicaran mereka. Rupanya Indra memberitahukan bahwa ia sedang dalam perjalanan.
Selesai meletakkan gagang telpon, Vina berbalik dan mengucap terima kasih pada Warso.
“Terima kasih pak..” katanya, dengan suara sengau.
“Maafkan saya tadi ya pak.. tadi saya terlalu emosi.. Dan kejadian barusan tidak pantas untuk kita pak.. apalagi saya kan seorang istri dari majikan bapak yang harus bapak lindungi dan jaga juga pak..” terang Vina lagi.
“Iya bu.. saya tahu dan mengerti bu,” jawab Warso.
“Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak nafsu dalam diri saya yang selalu datang bu, apa salah saya secara langsung mengeluarkan uneg-uneg bu?” jawab Warso pada Vina sambil mendekat.
Lalu Warso dengan berani meraih bahu Vina.
Vina menepisnya dan berlalu ke kamar sambil memandang tajam Warso. Vina lalu duduk di depan meja rias dan memandang ke kaca yang memperlihatkan Warso mengikutinya masuk kedalam kamarnya.
Sambil menyisir rambutnya yang kusut saat ia hempaskan tubuhnya di ranjang yang luas itu, Vina berkata.
“Pak.. kenapa bapak mengikuti saya? Apa yang bapak inginkan pak..?"
Warso diam saja.
"Pak Warso jangan macam-macam..! Saya tidak ingin berkhianat dan menyeleweng dari suami yang saya cintai. Saya takut pak.. Ini dosa besar pak.. Apalagi cuma kita berdua dikamar ini bukan suami istri..!” terang Vina sambil sesegukkan menahan rasa sesal dan kecewa yang amat sangat.
Entah apa yang dirasakan Vina sampai berkata begitu.
“Bapak tahu sendiri kan?” terang Vina.
Mendengar kata-kata itu Warso terus berjalan kearah tempat duduk Vina.
“Bu.. Saya menyayangi ibu..” jawab Warso.
“Saya tahu ibu tidak bahagia.. saya yakin bisa mengisi kegersangan bathin ibu itu.. meskipun saya tidak sekaya den Indra.” terang Warso.
Vina berbalik.. “Kenapa bapak bisa bilang saya tidak bahagia? Apa hak dan urusan bapak? Bagi saya.. kebagiaan itu telah saya rasakan dan saya tidak menuntut yang macam-macam..” terang Vina dengan sengit.
Lalu Warso meraih bahu Vina dan memandang matanya dalam dalam.
“Saya tahu ibu tidak pernah bahagia sebagai wanita apalagi dengan urusan diatas ranjang.. bathin ibu selalu gersang, benar kan? Ibu jangan munafik dan menyembunyikannya.. Apalagi sampai saat inipun ibu belum juga hamil dan itu adalah idaman ibu juga kan?” serang Warso.
“Apa itu yang dikatakan bahagia..? jangan ibu sembunyikan gejolak yang ibu miliki itu. Ibu masih muda, cantik dan berkecukupan. Saya bisa memberi apa yang tidak ibu dapatkan dari den Indra..” kata Warso dengan kurang ajar.
“Ibu tidak harus berpisah dengan den Indra, dan kita melakukannya dengan rahasia. Selama ibu masih bisa menutup rahasia itu siapapu tidak akan tahu bu..” terang Warso.
“Dan lagian den Indra mengharap ibu hamil apalagi orangtuanya amat ingin, apa ibu ingin den Indra mencari wanita lain dan menduakan ibu?” serang warso lagi.
Mendengar kata-kata terakhir dari sopirnya itu, membuat Vina kehabisan kata-kata pembelaan.
Vina memang amat mencintai Indra ia tidak ingin cintanya diduakan suaminya. Dan memang hingga tahun ketiga mereka menikah dirinya belum juga memiliki keturunan.
Ia semakin terpojok dan bingung untuk menghindar dari serangan kata-kata Warso itu.
Keseimbangan pikiran sehatnya hilang. Ia seakan limbung dan mudah goyah. Dalam kebimbangannya itu, ia hanya duduk dan terpaku memperhatikan mata Warso yang berubah liar seperti harimau yang lapar kearah tubuhnya.
Ditambah kesalahan fatal Vina adalah ketika ia memandang lekat-lekat mata Warso.
Sikap diam Vina itu dikira Warso adalah penyerahan dirinya. Dengan cepat ia raih kedua pipi Vina yang halus nan mulus itu dengan tangannya yang kasar dan hitam berbulu itu. Lalu ia tarik wajah Vina kearah bibirnya dan dikecup dengan dalam dan penuh nafsu.
Vina berusaha mendorong dan menghindar. Namun apalah dayanya. Syaraf motoriknya seakan lumpuh. Bulu-bulu halus ditangan dan tengkuknya berdiri merasakan aroma syahwat yang dipancarkan laki-laki tua itu. Ia pun larut akan ciuman dan permainan lidah Warso.
Sempat ia ingin meludah karena jijik oleh aroma mulut Warso yang habis merokok. Namun ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ditempel ketat oleh Warso.
Kuluman dan permainan lidah itu berlangsung cukup lama. Saat itu ludah Warso tertelan oleh Vina begitu juga sebaliknya.
Kemudian mulutWarso bermain disekitar dagu dan leher jenjang Vina. Ia sempat merasakan kelembutan dan kekenyalan payudara Vina yang menempel pada dadanya saat ciuman itu.
Apalagi wangi tubuh yang dipancarkan dari aroma parfum issey miyake yang biasa dipakai Vina amat membuatnya semakin bernafsu pada tubuh mulus majikannya itu.
Merasa tidak ada lagi penolakkan dari Vina, Warso meningkatkan serangannya kearah payudara Vina yang masih tertutup kimono dan bra itu. Sebelah tangannya meraih payudara kiri Vina. Amat terasa sekali kelembutan dan kehalusannya.
Rasa ingin menolak dan bangkitnya nafsu silih berganti muncul dan saling beradu di kepalanya. Namun nafsunya lebih berkuasa membuat Vina seakan tidak mampu untuk melakukan penolakan.
Vina hanya bisa memejamkan matanya, lalu meraih kepala Warso yang beruban itu. Kimono sutranya telah acak-acakan karena kenakalan tangan Warso.
Di saat ada kesempatan Kimono yang halus dan lembut itu berhasil di lepaskan Warso dari tubuh Vina lalu melemparkan kimono tersebut kelantai yang beralaskan karpet warna biru.
Namun ia ingat kata-kata si dukun tentang kemungkinan itu. Iapun bisa menerimanyan meski pipinya sedikit perih namun rasa optimisnya muncul dan tidak lama lagi ia akan berpesta diatas tubuh Vina yang cantik nan sintal itu.
Setelah mendapatkan perlakuan telak dari Vina, Warso berjalan ruang dapur dan mengunci pintu dari dalam sebab ia akan berada didalam rumah induk itu hingga pagi hari. Sebab bagaimanapun caranya malam itu ia harus bisa menaklukkan Vina baik secara lembut atau kasar.
Ia sudah bertekat akan menghantarkan Vina sampai puncak kepuasan dalam behubungan sex, ia berencana tidak akan memberi waktu pada Vina untuk sekedar mengenakan pakaianannya selama ia dalam genggamannya. Sebab dukunnya telah diberi lampu hijau jika guna-gunanya telah mulai bekerja.
Selesai mengunci rumah ia kembali kedalam ruang tengah, menuju kamar Vina yang ia lihat tidak tertutup rapat. Berarti secara tidak langsung Vina mengundangnya masuk kamar. Namun saat ia berjalan itu terdengar dering telpon. Ia tidak berani mengangkat.
“Bu.. bu Vina.. Ada telpon..” panggil Warso dari luar kamar Vina.
Tak lama kemudian terlihat Vina keluar kamar dengan mata sembab dan sisa air mata yang ia hapus. Ia angkat gagang telepon itu. Rupanya Indra suaminya ditelepon itu.
Kemudian mereka terlibat pembicaraan dan di tutup kembali oleh Vina setelah terlebih dahulu memberi kecupan sayang pada suaminya lewat telepon.
Warso masih di ruangan itu dan sempat mendengar pembicaran mereka. Rupanya Indra memberitahukan bahwa ia sedang dalam perjalanan.
Selesai meletakkan gagang telpon, Vina berbalik dan mengucap terima kasih pada Warso.
“Terima kasih pak..” katanya, dengan suara sengau.
“Maafkan saya tadi ya pak.. tadi saya terlalu emosi.. Dan kejadian barusan tidak pantas untuk kita pak.. apalagi saya kan seorang istri dari majikan bapak yang harus bapak lindungi dan jaga juga pak..” terang Vina lagi.
“Iya bu.. saya tahu dan mengerti bu,” jawab Warso.
“Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak nafsu dalam diri saya yang selalu datang bu, apa salah saya secara langsung mengeluarkan uneg-uneg bu?” jawab Warso pada Vina sambil mendekat.
Lalu Warso dengan berani meraih bahu Vina.
Vina menepisnya dan berlalu ke kamar sambil memandang tajam Warso. Vina lalu duduk di depan meja rias dan memandang ke kaca yang memperlihatkan Warso mengikutinya masuk kedalam kamarnya.
Sambil menyisir rambutnya yang kusut saat ia hempaskan tubuhnya di ranjang yang luas itu, Vina berkata.
“Pak.. kenapa bapak mengikuti saya? Apa yang bapak inginkan pak..?"
Warso diam saja.
"Pak Warso jangan macam-macam..! Saya tidak ingin berkhianat dan menyeleweng dari suami yang saya cintai. Saya takut pak.. Ini dosa besar pak.. Apalagi cuma kita berdua dikamar ini bukan suami istri..!” terang Vina sambil sesegukkan menahan rasa sesal dan kecewa yang amat sangat.
Entah apa yang dirasakan Vina sampai berkata begitu.
“Bapak tahu sendiri kan?” terang Vina.
Mendengar kata-kata itu Warso terus berjalan kearah tempat duduk Vina.
“Bu.. Saya menyayangi ibu..” jawab Warso.
“Saya tahu ibu tidak bahagia.. saya yakin bisa mengisi kegersangan bathin ibu itu.. meskipun saya tidak sekaya den Indra.” terang Warso.
Vina berbalik.. “Kenapa bapak bisa bilang saya tidak bahagia? Apa hak dan urusan bapak? Bagi saya.. kebagiaan itu telah saya rasakan dan saya tidak menuntut yang macam-macam..” terang Vina dengan sengit.
Lalu Warso meraih bahu Vina dan memandang matanya dalam dalam.
“Saya tahu ibu tidak pernah bahagia sebagai wanita apalagi dengan urusan diatas ranjang.. bathin ibu selalu gersang, benar kan? Ibu jangan munafik dan menyembunyikannya.. Apalagi sampai saat inipun ibu belum juga hamil dan itu adalah idaman ibu juga kan?” serang Warso.
“Apa itu yang dikatakan bahagia..? jangan ibu sembunyikan gejolak yang ibu miliki itu. Ibu masih muda, cantik dan berkecukupan. Saya bisa memberi apa yang tidak ibu dapatkan dari den Indra..” kata Warso dengan kurang ajar.
“Ibu tidak harus berpisah dengan den Indra, dan kita melakukannya dengan rahasia. Selama ibu masih bisa menutup rahasia itu siapapu tidak akan tahu bu..” terang Warso.
“Dan lagian den Indra mengharap ibu hamil apalagi orangtuanya amat ingin, apa ibu ingin den Indra mencari wanita lain dan menduakan ibu?” serang warso lagi.
Mendengar kata-kata terakhir dari sopirnya itu, membuat Vina kehabisan kata-kata pembelaan.
Vina memang amat mencintai Indra ia tidak ingin cintanya diduakan suaminya. Dan memang hingga tahun ketiga mereka menikah dirinya belum juga memiliki keturunan.
Ia semakin terpojok dan bingung untuk menghindar dari serangan kata-kata Warso itu.
Keseimbangan pikiran sehatnya hilang. Ia seakan limbung dan mudah goyah. Dalam kebimbangannya itu, ia hanya duduk dan terpaku memperhatikan mata Warso yang berubah liar seperti harimau yang lapar kearah tubuhnya.
Ditambah kesalahan fatal Vina adalah ketika ia memandang lekat-lekat mata Warso.
Sikap diam Vina itu dikira Warso adalah penyerahan dirinya. Dengan cepat ia raih kedua pipi Vina yang halus nan mulus itu dengan tangannya yang kasar dan hitam berbulu itu. Lalu ia tarik wajah Vina kearah bibirnya dan dikecup dengan dalam dan penuh nafsu.
Vina berusaha mendorong dan menghindar. Namun apalah dayanya. Syaraf motoriknya seakan lumpuh. Bulu-bulu halus ditangan dan tengkuknya berdiri merasakan aroma syahwat yang dipancarkan laki-laki tua itu. Ia pun larut akan ciuman dan permainan lidah Warso.
Sempat ia ingin meludah karena jijik oleh aroma mulut Warso yang habis merokok. Namun ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ditempel ketat oleh Warso.
Kuluman dan permainan lidah itu berlangsung cukup lama. Saat itu ludah Warso tertelan oleh Vina begitu juga sebaliknya.
Kemudian mulutWarso bermain disekitar dagu dan leher jenjang Vina. Ia sempat merasakan kelembutan dan kekenyalan payudara Vina yang menempel pada dadanya saat ciuman itu.
Apalagi wangi tubuh yang dipancarkan dari aroma parfum issey miyake yang biasa dipakai Vina amat membuatnya semakin bernafsu pada tubuh mulus majikannya itu.
Merasa tidak ada lagi penolakkan dari Vina, Warso meningkatkan serangannya kearah payudara Vina yang masih tertutup kimono dan bra itu. Sebelah tangannya meraih payudara kiri Vina. Amat terasa sekali kelembutan dan kehalusannya.
Rasa ingin menolak dan bangkitnya nafsu silih berganti muncul dan saling beradu di kepalanya. Namun nafsunya lebih berkuasa membuat Vina seakan tidak mampu untuk melakukan penolakan.
Vina hanya bisa memejamkan matanya, lalu meraih kepala Warso yang beruban itu. Kimono sutranya telah acak-acakan karena kenakalan tangan Warso.
Di saat ada kesempatan Kimono yang halus dan lembut itu berhasil di lepaskan Warso dari tubuh Vina lalu melemparkan kimono tersebut kelantai yang beralaskan karpet warna biru.
Terpampanglah tubuh putih mulus Vina yang berkeringat karena gejolak nafsunya melonjak, padahal hawa dalam kamar itu cukup dingin karena AC dinyalakan.
Aroma dalam kamar itupun memancing Warso untuk terus menikmati inci demi inci sekujur tubuh Vina.
Begitupun yang terjadi pada Vina, ia tidak lagi sadar apa yang telah terjadi pada dirinya. Segenap syaraf akal sehatnya seakan lumpuh dan melupakan dengan siapa ia bergumul saat itu.
Dalam keasyikan dua mahluk berlainan jenis kelamin yang berbeda us*ia dan status itu akhirnya membuat mereka semakin intens. Gesekan kulit mulus majikannya terasa nyata bagi Warso.
Tanpa terasa tubuh Vina semakin melekat pada sang singa tua. Bagian penting dari tubuhnya yang hanya tertutup BH dan celana dalam saja leluasa dinikmati oleh sopirnya itu.
Warso menggiring Vina ke atas ranjang yang luas nan empuk, lalu ia baringkan tubuh majikannya yang cantik nan menggoda itu dengan hati-hati. Vina menurut saja dengan bimbingan Warso untuk rebah diranjang yang biasa ia pakai dengan suaminya.
Vina pun terbaring di ranjangnya dalam keadaan tubuh yang basah oleh keringatnya sendiri akibat reaksi dari rangsangan yang diberikan pak Warso. Rasa malu yang tiba-tiba muncul pada didirinya ia ungkapkan dengan merapatkan kedua pahanya.
Seketika Vina merasakan saraf dari alat vitalnya telah memberikan sinyal bahwa ia jadi sange. Itu dirasakannya karena rasa basah pada organ intimnya yang siap untuk tahap selanjutnya.
Lalu Warso berdiri dan melepaskan pakaiannya sendiri dan menyisahkan celana dalam saja. Tubuh tuanya terlihat hitam legam berotot terlihat masih kuat dan dipenuhi tato di lengan dan pinggangnya. Lalu ia naik keatas ranjang tempat Vina terbaring.
Warso kembali meraih dagu Vina dan menghirup mulut mungil itu untuk beberapa saat. Tangan kanannya meremas-remas payudara Vina yang masih terbungkus Bra berharga mahal. Karena ia pernah melihat struk pembelian bra itu yang tercecer di rumah itu.
Lalu tangan kiri Warso bergerak melepaskan pengait BH Vina. Bra itu ia letakkan di pojokan ranjang.
Sekarang buah dada yang mulus dan putih Vina telah terbuka seutuhnya. Seakan mengundang Warso untuk menjamah dan memainkannya.
Vina berusaha menutup payudaranya itu dengan tangannya, namun Warso berhasil mencegahnya. Dengan lemah lembut Warso memainkan toket Vina dengan lembut lalu mulutnya pun menjilat puting payudara indah milik majikannya itu.
Mendapat rangsangan dan kecupan mulut pada toketnya dari Warso membuat Vina seakan terbang keawang awang.
Warso memperhatikan kedua bukit tetek Vina amat putih jernih hingga menampakkan bilur merah aliran darahnya yang halus. Warso terus saja bermain payudara itu serta mulutnya mengenyot seperti bayi yang sedang menetek pada ibunya.
Vina hanya meronta manja dengan menghentakkan kakinya ke sprei sedang tangannya meraih rambut Warso. Dengus dan rintihan manja keluar dari mulutnya yang mungil.
"Aahhs.. sshh.. emmhh.."
Setela Warso puas dengan toket Vina, wajahnya turun keperut terus kebawah dan berhenti di selangkangan Vina yang tertutup CD bewarna putih. Kain penutup itu terlihat basah. Warso tahu itu bukanlah keringat tapi lendir yang merembes keluar dari dalam kemaluan Vina yang terangsang.
Warso memandang kemaluan Vina yang masih tertutup itu dari dekat. Tampak jelas bayangan jembut halus yang tumbuh disekitar liang memek majikannya.
Warso mendekatkan wajahnya untuk menghirup aroma wangi dari kemaluan wanita cantik itu. Ia tahu Vina selalu menjaga kebersihan organ intimnya.
Vina yang tahu Warso terus memandangi organ intimnya, ia semakin merapatkan pahanya. Rasa malu pada dirinya seakan ia tutupi dengan sikap demikian.
Merasa Vina telah berada dalam genggamannya, Warso lalu berusaha melepaskan CD yang menutupi vaginanya. Ia ingin melihat lebih jelas isi kemaluan Vina dari dekat. Namun sikap Vina saat itu membuatnya berfikir lagi, dan timbulah akalnya untuk mencium kaki Vina.
Warso menciuminya mulai dari telapak kaki lalu kebetis mulus Vina nan putih bersih itu.
Vina akhirnya lengah karena kedua betis dan pahanya dijilati oleh Warso.
Warso tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Salah satu jarinya langsung meraih karet yang melingkari pinggul Vina. Lalu ia tarik karet celana dalam yang basah sebahagian itu hingga lutut Vina.
Vina yang masih sadar, berusaha merapatkan kembali pahanya. Usahanya sia-sia sebab Warso telah memposisikan dirinya berada diantara kedua paha Vina. Hingga gerakan Vina itu menyentuh pinggang Warso. Kedua pahanya tidak dapat lagi ia rapatkan.
“Oohhh.. aaddduh pak..! jangan yang satu itu pak! Pak Warso! jangan dimasukkan.. aduh.. Pak..!”
Mohon Vina pada Warso sambil merintih dan menangis. Vina sadar sesuatu yang terlarang akan terjadi dan akan merubah jalan hidupnya.
“Tenang aja Bu.. Ibu tidak akan saya sakiti..” bujuk Warso yang saat itu kembali sibuk meremasi payudara dan memilin lembut puting Vina agar mangsanya tersebut kembali larut oleh nafsunya.
Karena kedua kakinya telah terkangkang terbuka dan diantara kedua pahanya ada tubuh Warso. Vina hanya bisa terdiam dan kembali menerima suguhan kenikmatan yang diberikan sopirnya itu.
Bagi Vina saat itu tiada pilihan lain karena iapun sadar jalan hidupnya akan berubah dan semua itu akan dituntun oleh Warso yang kini sibuk menjamahi setiap lekuk tubuhnya.
Merasa Vina telah terlena, Warso turun kearah kelamin Vina dan mendekatkan wajahnya pada liang Vagina Vina. Disana ia menghirup aroma kewanitaan Vina yang khas dan bersiap menjilatnya.
Lalu lidah Warso masuk kedalam celah yang masih sempit dan tembam dengan dihiasi bulu halus yang tertata rapi. Aromanya membuat Warso seakan ingin lebih lama di celah sempit itu.
Rasa asin dan lelehan lendir dari dalam celah itu dilahap Warso tanpa rasa jijik sedikitpun.
Vina semakin tidak dapat menyembunyikan rasa nikmat, geli dan gatal pada pusat kewanitaannya. Selama ia menikah belum pernah merasakan yang namanya oral sex itu. Suaminya belum pernah melakukannya seperti itu.
Aroma dalam kamar itupun memancing Warso untuk terus menikmati inci demi inci sekujur tubuh Vina.
Begitupun yang terjadi pada Vina, ia tidak lagi sadar apa yang telah terjadi pada dirinya. Segenap syaraf akal sehatnya seakan lumpuh dan melupakan dengan siapa ia bergumul saat itu.
Dalam keasyikan dua mahluk berlainan jenis kelamin yang berbeda us*ia dan status itu akhirnya membuat mereka semakin intens. Gesekan kulit mulus majikannya terasa nyata bagi Warso.
Tanpa terasa tubuh Vina semakin melekat pada sang singa tua. Bagian penting dari tubuhnya yang hanya tertutup BH dan celana dalam saja leluasa dinikmati oleh sopirnya itu.
Warso menggiring Vina ke atas ranjang yang luas nan empuk, lalu ia baringkan tubuh majikannya yang cantik nan menggoda itu dengan hati-hati. Vina menurut saja dengan bimbingan Warso untuk rebah diranjang yang biasa ia pakai dengan suaminya.
Vina pun terbaring di ranjangnya dalam keadaan tubuh yang basah oleh keringatnya sendiri akibat reaksi dari rangsangan yang diberikan pak Warso. Rasa malu yang tiba-tiba muncul pada didirinya ia ungkapkan dengan merapatkan kedua pahanya.
Seketika Vina merasakan saraf dari alat vitalnya telah memberikan sinyal bahwa ia jadi sange. Itu dirasakannya karena rasa basah pada organ intimnya yang siap untuk tahap selanjutnya.
Lalu Warso berdiri dan melepaskan pakaiannya sendiri dan menyisahkan celana dalam saja. Tubuh tuanya terlihat hitam legam berotot terlihat masih kuat dan dipenuhi tato di lengan dan pinggangnya. Lalu ia naik keatas ranjang tempat Vina terbaring.
Warso kembali meraih dagu Vina dan menghirup mulut mungil itu untuk beberapa saat. Tangan kanannya meremas-remas payudara Vina yang masih terbungkus Bra berharga mahal. Karena ia pernah melihat struk pembelian bra itu yang tercecer di rumah itu.
Lalu tangan kiri Warso bergerak melepaskan pengait BH Vina. Bra itu ia letakkan di pojokan ranjang.
Sekarang buah dada yang mulus dan putih Vina telah terbuka seutuhnya. Seakan mengundang Warso untuk menjamah dan memainkannya.
Vina berusaha menutup payudaranya itu dengan tangannya, namun Warso berhasil mencegahnya. Dengan lemah lembut Warso memainkan toket Vina dengan lembut lalu mulutnya pun menjilat puting payudara indah milik majikannya itu.
Mendapat rangsangan dan kecupan mulut pada toketnya dari Warso membuat Vina seakan terbang keawang awang.
Warso memperhatikan kedua bukit tetek Vina amat putih jernih hingga menampakkan bilur merah aliran darahnya yang halus. Warso terus saja bermain payudara itu serta mulutnya mengenyot seperti bayi yang sedang menetek pada ibunya.
Vina hanya meronta manja dengan menghentakkan kakinya ke sprei sedang tangannya meraih rambut Warso. Dengus dan rintihan manja keluar dari mulutnya yang mungil.
"Aahhs.. sshh.. emmhh.."
Setela Warso puas dengan toket Vina, wajahnya turun keperut terus kebawah dan berhenti di selangkangan Vina yang tertutup CD bewarna putih. Kain penutup itu terlihat basah. Warso tahu itu bukanlah keringat tapi lendir yang merembes keluar dari dalam kemaluan Vina yang terangsang.
Warso memandang kemaluan Vina yang masih tertutup itu dari dekat. Tampak jelas bayangan jembut halus yang tumbuh disekitar liang memek majikannya.
Warso mendekatkan wajahnya untuk menghirup aroma wangi dari kemaluan wanita cantik itu. Ia tahu Vina selalu menjaga kebersihan organ intimnya.
Vina yang tahu Warso terus memandangi organ intimnya, ia semakin merapatkan pahanya. Rasa malu pada dirinya seakan ia tutupi dengan sikap demikian.
Merasa Vina telah berada dalam genggamannya, Warso lalu berusaha melepaskan CD yang menutupi vaginanya. Ia ingin melihat lebih jelas isi kemaluan Vina dari dekat. Namun sikap Vina saat itu membuatnya berfikir lagi, dan timbulah akalnya untuk mencium kaki Vina.
Warso menciuminya mulai dari telapak kaki lalu kebetis mulus Vina nan putih bersih itu.
Vina akhirnya lengah karena kedua betis dan pahanya dijilati oleh Warso.
Warso tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Salah satu jarinya langsung meraih karet yang melingkari pinggul Vina. Lalu ia tarik karet celana dalam yang basah sebahagian itu hingga lutut Vina.
Vina yang masih sadar, berusaha merapatkan kembali pahanya. Usahanya sia-sia sebab Warso telah memposisikan dirinya berada diantara kedua paha Vina. Hingga gerakan Vina itu menyentuh pinggang Warso. Kedua pahanya tidak dapat lagi ia rapatkan.
“Oohhh.. aaddduh pak..! jangan yang satu itu pak! Pak Warso! jangan dimasukkan.. aduh.. Pak..!”
Mohon Vina pada Warso sambil merintih dan menangis. Vina sadar sesuatu yang terlarang akan terjadi dan akan merubah jalan hidupnya.
“Tenang aja Bu.. Ibu tidak akan saya sakiti..” bujuk Warso yang saat itu kembali sibuk meremasi payudara dan memilin lembut puting Vina agar mangsanya tersebut kembali larut oleh nafsunya.
Karena kedua kakinya telah terkangkang terbuka dan diantara kedua pahanya ada tubuh Warso. Vina hanya bisa terdiam dan kembali menerima suguhan kenikmatan yang diberikan sopirnya itu.
Bagi Vina saat itu tiada pilihan lain karena iapun sadar jalan hidupnya akan berubah dan semua itu akan dituntun oleh Warso yang kini sibuk menjamahi setiap lekuk tubuhnya.
Merasa Vina telah terlena, Warso turun kearah kelamin Vina dan mendekatkan wajahnya pada liang Vagina Vina. Disana ia menghirup aroma kewanitaan Vina yang khas dan bersiap menjilatnya.
Lalu lidah Warso masuk kedalam celah yang masih sempit dan tembam dengan dihiasi bulu halus yang tertata rapi. Aromanya membuat Warso seakan ingin lebih lama di celah sempit itu.
Rasa asin dan lelehan lendir dari dalam celah itu dilahap Warso tanpa rasa jijik sedikitpun.
Vina semakin tidak dapat menyembunyikan rasa nikmat, geli dan gatal pada pusat kewanitaannya. Selama ia menikah belum pernah merasakan yang namanya oral sex itu. Suaminya belum pernah melakukannya seperti itu.
Kini Vina seakan utuh menjadi wanita dan rasa percaya dirinya pun bangkit. Hentakan kaki dan remasan tangannya pada kepala Warso merupakan wujud keinginannya untuk menumpahkan segala rasa yang selama ini terpendam.
Warso tahu itulah yang diidamkan wanita muda seperti Vina. Ia ingin Vina dapat bersamanya menikmati rasa keutuhan dalam hubungan sex. Selama ini ia amat kasihan kepada Vina.
Elusan jari tangan dan jilatan mulut Warso di kewanitaannya melambungkan Vina kealam sorga dunia yang belum pernah dirasakannya bersama laki laki yang dicintainya.
Beberapa waktu kemudian setelah menerima intensitas ransangan dan peremainan lembut dari Warso mampu membuat Vina orgasme. Sebagai perwujudan dari rasa kepuasan itu terpancar dari keluarnya cairan lendir dari liang kewanitaan Vina.
Tanpa merasa jijik Warso melahapnya hingga tandas. Ia pun memegang mitos bahwa meskipun bukan perawan, namun cairan dari liang kemaluan wanita muda seperti milik Vina itu mampu membuatnya awet muda.
Melihat kondisi Vina yang telah orgasme dan melewati masa kegersangan, Warsopu memposisikan tubuhnya diantara kedua paha mulus Vina yang terbaring telentang ngangkang menampakkan liang vaginanya yang telah basah oleh lendirnya sendiri.
Penis Warso telah berdiri menantang siap untuk masuk kedalam sangkar kenikmatan yang ada di depannya. Warso menempelkan dan menggosok-gosokkan kepala kontolnya ke celah basah memek majikannya untuk membuat jalan kemaluannya menerobos masuk kedalamnya.
Selain itu ia ingin Vina merasa gatal dan penasaran menanti detik-detik penyatuan kelamin mereka.
Celah vagina Vina yang masih rapat tentu bakal terasa seret itu begitu menggugah kejantanan Warso. Maklum selama ini hanya digunakan untuk kencing dan berhubungan sex dengan suaminya yang ukuran penisnya tidak lebih besar dari kelingking Warso.
Dengan perlahan Warso mendorong kontolnya menerobos celah itu dengan bantuan sisa lelehan lendir vagina Vina. Tapi karena saking sempitnya membuatnya kesusaan. Dengan kedua jarinya ia sibak bibir memek Vina dan kembali kontolnya ia dorong hingga kepala penisnya berhasil bersemayam dalam jepitan memek Vina.
"Auughh.. Sssaakkiiitt..!!" jerit Vina merasakan perih pada memeknya.
Tapi Warso tidak menghiraukannya. Kepalang basah kata hatinya. Ia lalu menindih tubuh Vina dan terus mendorong penisnya masuk perlahan.
Warso kembali mendorong kontolnya pelan-pelan. Ia dapat merasakan kehangatan yang dari setiap pergeseran penisnya dengan dinding vagina Vina. Namu karena besar dan panjang, penisnya seolah menemukan jalan buntu.
Gesekan yang ditimbulkan batang penis Warso dan dinding memeknya membuat Vina merasakan kesakitan dan ngilu di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Warso yang terbilang agak berat itu.
“Aduhhh.. Sakiiittt..! grhhh.. Stoppp..!! augghhh..” jerit Vina sambil mendorong tubuh Warso menjauh.
Namun Warso tetap tidak peduli.
Tidak ingin terlalu membuat Vina tersiksa Warsopun bangkit, kedua tangannya memegang pinggul Vina lalu mendorong kontolnya dengan kekuatan penuh. Hingga akhirnya amblas semuanya.
"Ampunn.. Paakk.. Ssaaakiitt.."
Warso merasakan kenikmatan tiada tara setelah lama mendekam di penjara.
Sementara Vina amat sangat tersiksa merasakan ngilu dan sakit tiada tara dikemaluannya.
Warso mendiamkan sesaat posisi penisnya yang mentok di dasar terdalam liang vagina Vina. Perasaan hangat yang dihantarkan dari dinding senggama Vina pada batang penisnya memberinya sensasi yang luarbiasa dan buatnya nyaman. Selain itu agar memek Vina bisa beradaptasi dengan panjang dan ukuran penisnya.
Dalam posisi Warso yang berada diatas tubuh Vina, membuatnya dapat memperhatikan ekspresi wajah Vina yang berasil menelan kontolnya dengan memek sempitnya. Mata Vina terpejam dengan tetesan air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya.
Namun itu tidaklah merubah tekad Warso untuk melaksanakan misinya. Baginya niat semula harus terlaksana. Dan semuanya telah berjalan dengan lancar. Tiada lagi jarak diantara mereka berdua.
Vina hanya memejamkan matanya.
Sebagai wanita dan juga istri seorang pria bermartabat ia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia tidak mampu memandang mata Warso yang kini telah berhasil menyatukan kelamin mereka dengan sempurna. Tidak ada lagi batas antara majikan dan sopir.
Tiada yang menduga bahwa seorang laki laki kalangan bawah kini bisa dengan leluasa menjamah serta menikmati tubuh wanita terhormat dan dari kelas atas.
Kedua tubuh mereka telah menempel erat dan keringat telah bercampur juga, alat kelamin mereka juga telah begitu menyatu.
Tapi dalam hati Vina bahagia sebab pria yang lebih tua dari ayahnya itu bisa memberinya kenikmatan di setiap sentuhan pada tubuh mulusnya.
Dalam hatinya Warso berkata, "Wah..!! Sungguh pencapaian yang luar biasa bisa menikmati setiap detail tubuh bugil majikanku yang cantik ini, apalagi saat liang memeknya mampu menelan batang kontolku."
Warso lantas menciumi bibir Vina berulang-ulang. Lalu bibirnya bergerak kedahi dan pipi lalu kearah bahunya yang putih bening itu. Dibahu Vina sempat ditinggalkannya cupangan merah. Lalu gerakannya keleher yang teruntai kalung berlian itu.
Keringat Vinapun ia hisap. Warso seolah ingin menikmati semua yang ada ditubuh wanita idamannya itu. Dari leher yang putih jenjang itu lalu bibir Warsopun terus merayap kearah buah dada yang telah memerah dan putingnya yang tegak menantang.
Vinapun kembali naik birahinya. Ia lalu bereaksi dengan memegang bahu Warso. Sedang matanya terlihat sayu. Vina kembali bergairah.
Warso memainkan penisnya didalam vagina yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Vina mengigit bibir bawahnya seolah rasa perih mulai hilang diganti rasa nikmat.
Goyangan maju mundur Warso terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu.
Beberapa menit berlalu sebuah erangan panjang keluar dari mulut Vina.
“Oooughhhss..! paaakk..”
Tubuhnya mengejang, kakinyapun menekan pinggul Warso. Cengkraman kukunya di lengan Warso yang bertato itu menandakan ia telah orgasme untuk kedua kalinya.
Serr.. Serr.. Serr..
Tubuhnya pun melemah dan tiada lagi daya dalam diri Vina untuk mengimbangi stamina Warso.
Warso yang merasa telah berhasil membuat Vina orgasme, ia mempercepat gerakannya, ia ingin mencapai klimaks. Namun semua itu terasa agak sedikit lama yang ada malah Vina yang kembali klimaks untuk keskian kalinya.
Mungkin karena pengaruh ramuan yang ia minum sore itu membuatnya lama dalam mendapakan orgasme.
Beberapa menit kemudian Warso baru merasakan akan crot. Iapun menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya pada memek majikannya itu dengan suaranya menggeram..
"Heeemggshh.." dan..
Crot..! Crot..! Crot..!
Spermanya yang tumpah cukup banyak hingga rahim Vina tidak mampu menampungnya hingga tumpah ke kain spey ranjang.
Ada rasa hangat yang di rasa Vina saat peju panas itu menyirami rahimnya.
Warso tahu itulah yang diidamkan wanita muda seperti Vina. Ia ingin Vina dapat bersamanya menikmati rasa keutuhan dalam hubungan sex. Selama ini ia amat kasihan kepada Vina.
Elusan jari tangan dan jilatan mulut Warso di kewanitaannya melambungkan Vina kealam sorga dunia yang belum pernah dirasakannya bersama laki laki yang dicintainya.
Beberapa waktu kemudian setelah menerima intensitas ransangan dan peremainan lembut dari Warso mampu membuat Vina orgasme. Sebagai perwujudan dari rasa kepuasan itu terpancar dari keluarnya cairan lendir dari liang kewanitaan Vina.
Tanpa merasa jijik Warso melahapnya hingga tandas. Ia pun memegang mitos bahwa meskipun bukan perawan, namun cairan dari liang kemaluan wanita muda seperti milik Vina itu mampu membuatnya awet muda.
Melihat kondisi Vina yang telah orgasme dan melewati masa kegersangan, Warsopu memposisikan tubuhnya diantara kedua paha mulus Vina yang terbaring telentang ngangkang menampakkan liang vaginanya yang telah basah oleh lendirnya sendiri.
Penis Warso telah berdiri menantang siap untuk masuk kedalam sangkar kenikmatan yang ada di depannya. Warso menempelkan dan menggosok-gosokkan kepala kontolnya ke celah basah memek majikannya untuk membuat jalan kemaluannya menerobos masuk kedalamnya.
Selain itu ia ingin Vina merasa gatal dan penasaran menanti detik-detik penyatuan kelamin mereka.
Celah vagina Vina yang masih rapat tentu bakal terasa seret itu begitu menggugah kejantanan Warso. Maklum selama ini hanya digunakan untuk kencing dan berhubungan sex dengan suaminya yang ukuran penisnya tidak lebih besar dari kelingking Warso.
Dengan perlahan Warso mendorong kontolnya menerobos celah itu dengan bantuan sisa lelehan lendir vagina Vina. Tapi karena saking sempitnya membuatnya kesusaan. Dengan kedua jarinya ia sibak bibir memek Vina dan kembali kontolnya ia dorong hingga kepala penisnya berhasil bersemayam dalam jepitan memek Vina.
"Auughh.. Sssaakkiiitt..!!" jerit Vina merasakan perih pada memeknya.
Tapi Warso tidak menghiraukannya. Kepalang basah kata hatinya. Ia lalu menindih tubuh Vina dan terus mendorong penisnya masuk perlahan.
Warso kembali mendorong kontolnya pelan-pelan. Ia dapat merasakan kehangatan yang dari setiap pergeseran penisnya dengan dinding vagina Vina. Namu karena besar dan panjang, penisnya seolah menemukan jalan buntu.
Gesekan yang ditimbulkan batang penis Warso dan dinding memeknya membuat Vina merasakan kesakitan dan ngilu di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Warso yang terbilang agak berat itu.
“Aduhhh.. Sakiiittt..! grhhh.. Stoppp..!! augghhh..” jerit Vina sambil mendorong tubuh Warso menjauh.
Namun Warso tetap tidak peduli.
Tidak ingin terlalu membuat Vina tersiksa Warsopun bangkit, kedua tangannya memegang pinggul Vina lalu mendorong kontolnya dengan kekuatan penuh. Hingga akhirnya amblas semuanya.
"Ampunn.. Paakk.. Ssaaakiitt.."
Warso merasakan kenikmatan tiada tara setelah lama mendekam di penjara.
Sementara Vina amat sangat tersiksa merasakan ngilu dan sakit tiada tara dikemaluannya.
Warso mendiamkan sesaat posisi penisnya yang mentok di dasar terdalam liang vagina Vina. Perasaan hangat yang dihantarkan dari dinding senggama Vina pada batang penisnya memberinya sensasi yang luarbiasa dan buatnya nyaman. Selain itu agar memek Vina bisa beradaptasi dengan panjang dan ukuran penisnya.
Dalam posisi Warso yang berada diatas tubuh Vina, membuatnya dapat memperhatikan ekspresi wajah Vina yang berasil menelan kontolnya dengan memek sempitnya. Mata Vina terpejam dengan tetesan air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya.
Namun itu tidaklah merubah tekad Warso untuk melaksanakan misinya. Baginya niat semula harus terlaksana. Dan semuanya telah berjalan dengan lancar. Tiada lagi jarak diantara mereka berdua.
Vina hanya memejamkan matanya.
Sebagai wanita dan juga istri seorang pria bermartabat ia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia tidak mampu memandang mata Warso yang kini telah berhasil menyatukan kelamin mereka dengan sempurna. Tidak ada lagi batas antara majikan dan sopir.
Tiada yang menduga bahwa seorang laki laki kalangan bawah kini bisa dengan leluasa menjamah serta menikmati tubuh wanita terhormat dan dari kelas atas.
Kedua tubuh mereka telah menempel erat dan keringat telah bercampur juga, alat kelamin mereka juga telah begitu menyatu.
Tapi dalam hati Vina bahagia sebab pria yang lebih tua dari ayahnya itu bisa memberinya kenikmatan di setiap sentuhan pada tubuh mulusnya.
Dalam hatinya Warso berkata, "Wah..!! Sungguh pencapaian yang luar biasa bisa menikmati setiap detail tubuh bugil majikanku yang cantik ini, apalagi saat liang memeknya mampu menelan batang kontolku."
Warso lantas menciumi bibir Vina berulang-ulang. Lalu bibirnya bergerak kedahi dan pipi lalu kearah bahunya yang putih bening itu. Dibahu Vina sempat ditinggalkannya cupangan merah. Lalu gerakannya keleher yang teruntai kalung berlian itu.
Keringat Vinapun ia hisap. Warso seolah ingin menikmati semua yang ada ditubuh wanita idamannya itu. Dari leher yang putih jenjang itu lalu bibir Warsopun terus merayap kearah buah dada yang telah memerah dan putingnya yang tegak menantang.
Vinapun kembali naik birahinya. Ia lalu bereaksi dengan memegang bahu Warso. Sedang matanya terlihat sayu. Vina kembali bergairah.
Warso memainkan penisnya didalam vagina yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Vina mengigit bibir bawahnya seolah rasa perih mulai hilang diganti rasa nikmat.
Goyangan maju mundur Warso terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu.
Beberapa menit berlalu sebuah erangan panjang keluar dari mulut Vina.
“Oooughhhss..! paaakk..”
Tubuhnya mengejang, kakinyapun menekan pinggul Warso. Cengkraman kukunya di lengan Warso yang bertato itu menandakan ia telah orgasme untuk kedua kalinya.
Serr.. Serr.. Serr..
Tubuhnya pun melemah dan tiada lagi daya dalam diri Vina untuk mengimbangi stamina Warso.
Warso yang merasa telah berhasil membuat Vina orgasme, ia mempercepat gerakannya, ia ingin mencapai klimaks. Namun semua itu terasa agak sedikit lama yang ada malah Vina yang kembali klimaks untuk keskian kalinya.
Mungkin karena pengaruh ramuan yang ia minum sore itu membuatnya lama dalam mendapakan orgasme.
Beberapa menit kemudian Warso baru merasakan akan crot. Iapun menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya pada memek majikannya itu dengan suaranya menggeram..
"Heeemggshh.." dan..
Crot..! Crot..! Crot..!
Spermanya yang tumpah cukup banyak hingga rahim Vina tidak mampu menampungnya hingga tumpah ke kain spey ranjang.
Ada rasa hangat yang di rasa Vina saat peju panas itu menyirami rahimnya.
Kedua tubuh anak manusia itupun terkulai lemas dengan kontol Warso masih tertancap di dalam liang kemaluan Vina.
Warso ingin agar Vina dapat meresapi kehangatan yang diberinya tidak terlewat begitu saja. Sebab ia slalu melihat saat Indra suami Vina selalu mencabut penisnya setelah ia sendiri klimaks.
Vinapun menikmati kehangatan itu walau didapatnya dari orang lain bukan suaminya. Malam itu adalah hal yang pertama kali dalam hidupnya ia menyerahkan diri kepada laki laki selain suaminya dan sejak malam itu pula lah ia akan terus menjadi sarana pelampiasan nafsu sopirnya itu.
Keduanya kemudian tertidur dengan kelamin mereka masih menyatu.
Pada pukul 03.00 dinihari Warso terbangun dari tidurnya. Ia melihat Vina yang ada disampingnya masih terlelap dalam keletihan dan tertutup selimut.
Warso tidak menyadari kapan ia terdampar disamping Vina padahal saat itu ia masih menindih tubuh Vina. Warso melihat tubuhnya masih bugil didalam selimut dan Vina yang tidur dengan nyenyak sekali juga masih bugil.
Memang sesaat setelah mereka tertidur, Vina terbangun karena tidak kuat menahan bobot tubuh Warso. ia geser Warso kesampingnya dan tubuh itu lalu ia tutup dengan selimut. Kejadian itu tidak disadari Warso.
Merasa kedinginan malam itu karena diluaran ternyata turun hujan ditambah hawa AC yang menyala membuatnya merapatkan tubuhnya kearah Vina lalu memeluknya seolah Vina adalah istri sah-nya.
Hangatnya tubuh Vina membangkitkan nafsunya. Tangannya yang nakalpun meraih payudara Vina. Payudara yang putih dan kencang itu ia mainkan.
Beberapa saat kemudian Vinapun terbangun dari tidurnya dan merasa ada yang memainkan toketnya.
”Udahan pak.. Saya ngantuk dan capek sekali..” mohon Vina.
Warso pura-pura tidak mendengarkannya.
“Besok aja ya pak.. pagi-pagi kan saya mesti kekantor..” kata Vina.
"Sebentar aja bu.." balas Warso
“Kan masih ada waktu lain, saya masih capai pak..” pinta Vina.
”Bu Vina.. saya masih kepengin terus.. apalagi selalu deket ibu saat ini, saya mau lagi.. abis enakk bu. Lagian ibu terlihat cantik jika selalu saya entot.” Jawab Warso sambil meraih kembali buah dada Vina.
“Kalau besok kan lain lagi ceritanya, ayolah bu.. sebentar aja..” pinta Warso seolah memelas pada Vina.
Vina pun tidak mampu untuk menolaknya meskipun tubuhnya capek. Sebab ia tidak ingin perlakuan kasar Warso tadi terulang lagi.
Warso yang merasa dapat lampu hijau dari mangsanya, tangannya lansung mencari liang kemaluan Vina. Tangannya dengan lihai membelai, mencolek itil serta mencolok-colok kedalam belahan vagina sempit Vina.
Tak berapa lama kemudian liang memek Vina mulai basah. Nafsu Vina telah bangkit kembali. Vina sadar saat itu Warso menginginkan persetubuhan kembali. Maka sebelum itu terjadi ia melepas cincin berlian simbol perkawinan resminya dengan Indra dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.
Kelakuan Vina itu diperhatikan Warso.
Iapun bertanya, “Kenapa dilepas Bu?”
“Ah.. saya merasa tidak berhak lagi memakainya pak, saya telah terlalu jauh melangkah dan mengkhianati mas Indra,” jawab Vina.
“Tadi saat kita ngewe saya tidak ingat,” terang Vina.
Warso melanjutkan aksinya lalu merubah posisi 69 dengan penis berada tepat didepan bibir Vina dan mintanya mengulum penisnya.
“Saya tidak bisa pak.. Terus terang saya tidak biasa.” kata Vina.
“Ah ibu.. awalnya memang jijik, nanti ibu juga bakal suka dan ketagihan.” terang Warso sambil mendorong penisnya kearah bibir Vina.
Merasa terpojok Vina terpaksa melakukannya walau tidak semua batang penis Warso dapat masuk ke mulutnya. Selain panjang dan besar, juga aromanya membuat perutnya serasan ingin muntah.
Warso tidak memperdulikanya karena ia asik menjilati klitoris Vina. Dan tak lama kemudian Vina mendapat orgasme.
Vina yang lemah karena orgasme tetap berusaha melayani penis Warso, tapi tak lama Vina sudah kecapekan.
"Capek pak.." keluh Vina.
Lalu Warso merubah posisi ke gaya missionary.
Tapi sebelum itu pinggul Vina ia ganjal dengan bantal tebal dan kedua kakinya ia kangkangkan selebar mungkin. Dengan 2 jari kasarnya ia buka bibir vagina Vina yang becek berlendir itu. Kemudian ia sodokkan kepala kontolnya dengan kekuatan penuh hingga amblas semuanya yang kali ini proses penetrasinya lebih mudah dari sebelumnya.
"Aaahh.." desah mereka bersamaan.
Kali ini Vina benar-benar bisa lansung menikmati penetrasi kedua kelamin mereka tanpa ada drama kesakitan. Karena dinding kemaluan Vina mulai terbiasa dengan diameter batang milik Warso.
Warso merasa bahagia dengan itu. Ia dapat membuktikan kalau permainannya bisa membuat majikannya terbang ke surga duniawi.
Dengan semangat Warso menggoyangkan kontolnya mengaduk memek Vina, membuat Vina kelojotan merasakan nikmat yang tak terkira dari persetubuhan sebelumnya.
"Enak gak bu..?" tanya Warso sambil meremarsi toket Vina
"Sshh.. Ehnak phak.." balas Vina dengan mata terpejam
"Mendesa aja bu.. jangan ditahan-tahan.. Nikmati kontol saya bu.."
Vinapun mendesah-desah mengekspresikan kenikmatan yang menjalar disekujur tubuhnya.
Persetubuhan kali ini Warso melancarakan semua keahliannya dalam menyenangkan lawan mainya. Dari menyerang daerah sensitif pada tubuh Vina, dari memainkan toket, klitoris dan lainnya.
Ia berharap dan ingin memastikan majikannya tersebut benar-benar jatuh dalam kenikmatan sex dan bakal ketagihan, sehingga majikannya tersebut akan meminta sendiri untuk kembali di ewe oleh dirinya.
Beberapa menit kemudian Vina kembali orgasme. Vinapun memohon agar dia diberi waktu istirahat sesaat.
Tapi Warso tak peduli malah merubah posisi ke Doggystyle dan kembali menggenjot memek majikannya dengan intens.
Beberapa menit kemudian Warso akan mencapai klimaks begitu juga Vina. Warso membalik dan merebahkan tubuh majikannya.
"Pak saya udah mau nyampek loh.." protes Vina.
Warso diam saja dan kembali menggenjot majikannya tersebut. Dan tak lama kemudian mereka mencapai orgasme secara bersamaan.
Efek denyutan dari kedua kelamin mereka memberi sensasi yang luar biasa nikmat menyebabkan peju kontol Warso serta lendir memek Vina menyebmur keluar lebih banyak dari sebelumnya.
Warso ingin agar Vina dapat meresapi kehangatan yang diberinya tidak terlewat begitu saja. Sebab ia slalu melihat saat Indra suami Vina selalu mencabut penisnya setelah ia sendiri klimaks.
Vinapun menikmati kehangatan itu walau didapatnya dari orang lain bukan suaminya. Malam itu adalah hal yang pertama kali dalam hidupnya ia menyerahkan diri kepada laki laki selain suaminya dan sejak malam itu pula lah ia akan terus menjadi sarana pelampiasan nafsu sopirnya itu.
Keduanya kemudian tertidur dengan kelamin mereka masih menyatu.
Pada pukul 03.00 dinihari Warso terbangun dari tidurnya. Ia melihat Vina yang ada disampingnya masih terlelap dalam keletihan dan tertutup selimut.
Warso tidak menyadari kapan ia terdampar disamping Vina padahal saat itu ia masih menindih tubuh Vina. Warso melihat tubuhnya masih bugil didalam selimut dan Vina yang tidur dengan nyenyak sekali juga masih bugil.
Memang sesaat setelah mereka tertidur, Vina terbangun karena tidak kuat menahan bobot tubuh Warso. ia geser Warso kesampingnya dan tubuh itu lalu ia tutup dengan selimut. Kejadian itu tidak disadari Warso.
Merasa kedinginan malam itu karena diluaran ternyata turun hujan ditambah hawa AC yang menyala membuatnya merapatkan tubuhnya kearah Vina lalu memeluknya seolah Vina adalah istri sah-nya.
Hangatnya tubuh Vina membangkitkan nafsunya. Tangannya yang nakalpun meraih payudara Vina. Payudara yang putih dan kencang itu ia mainkan.
Beberapa saat kemudian Vinapun terbangun dari tidurnya dan merasa ada yang memainkan toketnya.
”Udahan pak.. Saya ngantuk dan capek sekali..” mohon Vina.
Warso pura-pura tidak mendengarkannya.
“Besok aja ya pak.. pagi-pagi kan saya mesti kekantor..” kata Vina.
"Sebentar aja bu.." balas Warso
“Kan masih ada waktu lain, saya masih capai pak..” pinta Vina.
”Bu Vina.. saya masih kepengin terus.. apalagi selalu deket ibu saat ini, saya mau lagi.. abis enakk bu. Lagian ibu terlihat cantik jika selalu saya entot.” Jawab Warso sambil meraih kembali buah dada Vina.
“Kalau besok kan lain lagi ceritanya, ayolah bu.. sebentar aja..” pinta Warso seolah memelas pada Vina.
Vina pun tidak mampu untuk menolaknya meskipun tubuhnya capek. Sebab ia tidak ingin perlakuan kasar Warso tadi terulang lagi.
Warso yang merasa dapat lampu hijau dari mangsanya, tangannya lansung mencari liang kemaluan Vina. Tangannya dengan lihai membelai, mencolek itil serta mencolok-colok kedalam belahan vagina sempit Vina.
Tak berapa lama kemudian liang memek Vina mulai basah. Nafsu Vina telah bangkit kembali. Vina sadar saat itu Warso menginginkan persetubuhan kembali. Maka sebelum itu terjadi ia melepas cincin berlian simbol perkawinan resminya dengan Indra dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.
Kelakuan Vina itu diperhatikan Warso.
Iapun bertanya, “Kenapa dilepas Bu?”
“Ah.. saya merasa tidak berhak lagi memakainya pak, saya telah terlalu jauh melangkah dan mengkhianati mas Indra,” jawab Vina.
“Tadi saat kita ngewe saya tidak ingat,” terang Vina.
Warso melanjutkan aksinya lalu merubah posisi 69 dengan penis berada tepat didepan bibir Vina dan mintanya mengulum penisnya.
“Saya tidak bisa pak.. Terus terang saya tidak biasa.” kata Vina.
“Ah ibu.. awalnya memang jijik, nanti ibu juga bakal suka dan ketagihan.” terang Warso sambil mendorong penisnya kearah bibir Vina.
Merasa terpojok Vina terpaksa melakukannya walau tidak semua batang penis Warso dapat masuk ke mulutnya. Selain panjang dan besar, juga aromanya membuat perutnya serasan ingin muntah.
Warso tidak memperdulikanya karena ia asik menjilati klitoris Vina. Dan tak lama kemudian Vina mendapat orgasme.
Vina yang lemah karena orgasme tetap berusaha melayani penis Warso, tapi tak lama Vina sudah kecapekan.
"Capek pak.." keluh Vina.
Lalu Warso merubah posisi ke gaya missionary.
Tapi sebelum itu pinggul Vina ia ganjal dengan bantal tebal dan kedua kakinya ia kangkangkan selebar mungkin. Dengan 2 jari kasarnya ia buka bibir vagina Vina yang becek berlendir itu. Kemudian ia sodokkan kepala kontolnya dengan kekuatan penuh hingga amblas semuanya yang kali ini proses penetrasinya lebih mudah dari sebelumnya.
"Aaahh.." desah mereka bersamaan.
Kali ini Vina benar-benar bisa lansung menikmati penetrasi kedua kelamin mereka tanpa ada drama kesakitan. Karena dinding kemaluan Vina mulai terbiasa dengan diameter batang milik Warso.
Warso merasa bahagia dengan itu. Ia dapat membuktikan kalau permainannya bisa membuat majikannya terbang ke surga duniawi.
Dengan semangat Warso menggoyangkan kontolnya mengaduk memek Vina, membuat Vina kelojotan merasakan nikmat yang tak terkira dari persetubuhan sebelumnya.
"Enak gak bu..?" tanya Warso sambil meremarsi toket Vina
"Sshh.. Ehnak phak.." balas Vina dengan mata terpejam
"Mendesa aja bu.. jangan ditahan-tahan.. Nikmati kontol saya bu.."
Vinapun mendesah-desah mengekspresikan kenikmatan yang menjalar disekujur tubuhnya.
Persetubuhan kali ini Warso melancarakan semua keahliannya dalam menyenangkan lawan mainya. Dari menyerang daerah sensitif pada tubuh Vina, dari memainkan toket, klitoris dan lainnya.
Ia berharap dan ingin memastikan majikannya tersebut benar-benar jatuh dalam kenikmatan sex dan bakal ketagihan, sehingga majikannya tersebut akan meminta sendiri untuk kembali di ewe oleh dirinya.
Beberapa menit kemudian Vina kembali orgasme. Vinapun memohon agar dia diberi waktu istirahat sesaat.
Tapi Warso tak peduli malah merubah posisi ke Doggystyle dan kembali menggenjot memek majikannya dengan intens.
Beberapa menit kemudian Warso akan mencapai klimaks begitu juga Vina. Warso membalik dan merebahkan tubuh majikannya.
"Pak saya udah mau nyampek loh.." protes Vina.
Warso diam saja dan kembali menggenjot majikannya tersebut. Dan tak lama kemudian mereka mencapai orgasme secara bersamaan.
Efek denyutan dari kedua kelamin mereka memberi sensasi yang luar biasa nikmat menyebabkan peju kontol Warso serta lendir memek Vina menyebmur keluar lebih banyak dari sebelumnya.
Pengalaman indah kali ini membuat Vina benar-benar takluk dalam genggaman sopirnya. Ia memeluk dengan erat Warso seakan tak ingin lepas dari pria tua itu.
Dan sesuai pesan sidukun, Vina yang sekarang bukan lagi Vina yang kemaren karena ritualnya sudah sangat sempurna, maka iapun secara otomatis dan permanen Vina akan selalu menurut apa yang dikehendaki Warso. Suaminyapun tidak akan bergairah lagi untuk melakukan sex dengan Vina.
Obsesi Warsopun terkabul dan harus siap jika Vina menginginkan kenikmatan dari kontolnya.
“Pak.. jaga rahasia ini ya..”. mohon Vina.
“Tenang saja bu Vina, rahasia ini hanya kita berdua.."
"Tapi kalau saya butuh ini.. Bolehya pak.." kata Vina sambil menjuk kontol Warso yang masih tertancap didalam memeknya.
"Ibu bilang aja jika butuh.. saya akan memuaskan ibu..”, terang Warso.
Tidak lama kemudian mereka berdua lalu tidur kembali.
Keesokannya mereka bangun kesiangan itupun karena adanya bunyi telpon dari Indra. Ia mengabarkan kepada Vina bahwa ia telah sampai di Jakarta.
Vina dan Warso kemudian mandi dan tak lupa makan untuk mengemalikan stamina mereka. Setelahnya mereka minum vitamin penjaga stamina dari Vina yang sengaja selalu menyetok dirumah.
Siang itu Vina tidak pergi kekantornya.
Warso tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tubuh Vina yang masih segar dan muda itu tidak membuatnya bosan.
Siang itu permainan sex meraka kembali terulang dengan panasnya. Vina sudah tidak berdaya atas pengaruh pikat dan keperkasaan Warso.
Setelah kejadian itu libido Vina sering tak terkendali setiap bersama Warso. Iapun sudah tidak malu lagi pada Warso untuk minta jatah dalam hubungan sex. Terkadang ia sendiri yang mendatanggi kamar Warso dan menyerahkan tubuhnya pada sopirnya itu.
Vina juga sudah terbiasa untuk melakukan oral sex dan berbagai gaya ngentot lainnya.
Hampir selama suaminya berada di Jakarta tiada waktu tanpa bersetubuh. Warso serasa telah jadi suami Vina meskipun tidak resmi dan secara kucing kucingan.
Rahasia itupun tetap terjaga hingga Vina hamil dan melahirkan anak Warso. Perkawinannya pun seakan terselamatkan oleh hadirnya Warso.
Warsopun tidak terlalu khawatir lagi akan gangguan dari pria lain sebab Vina akan terus terikat dan tidak akan lepas dari pengaruhnya.
Setiap hari mereka slalu bersandiwara seoalah hubungan mereka hanyalah sebagai sopir dan tuannya, namun jika telah berdua dan lepas dari penglihatan Indra, Vina akan utuh menjadi milik Warso.
TAMAT
Dan sesuai pesan sidukun, Vina yang sekarang bukan lagi Vina yang kemaren karena ritualnya sudah sangat sempurna, maka iapun secara otomatis dan permanen Vina akan selalu menurut apa yang dikehendaki Warso. Suaminyapun tidak akan bergairah lagi untuk melakukan sex dengan Vina.
Obsesi Warsopun terkabul dan harus siap jika Vina menginginkan kenikmatan dari kontolnya.
“Pak.. jaga rahasia ini ya..”. mohon Vina.
“Tenang saja bu Vina, rahasia ini hanya kita berdua.."
"Tapi kalau saya butuh ini.. Bolehya pak.." kata Vina sambil menjuk kontol Warso yang masih tertancap didalam memeknya.
"Ibu bilang aja jika butuh.. saya akan memuaskan ibu..”, terang Warso.
Tidak lama kemudian mereka berdua lalu tidur kembali.
Keesokannya mereka bangun kesiangan itupun karena adanya bunyi telpon dari Indra. Ia mengabarkan kepada Vina bahwa ia telah sampai di Jakarta.
Vina dan Warso kemudian mandi dan tak lupa makan untuk mengemalikan stamina mereka. Setelahnya mereka minum vitamin penjaga stamina dari Vina yang sengaja selalu menyetok dirumah.
Siang itu Vina tidak pergi kekantornya.
Warso tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tubuh Vina yang masih segar dan muda itu tidak membuatnya bosan.
Siang itu permainan sex meraka kembali terulang dengan panasnya. Vina sudah tidak berdaya atas pengaruh pikat dan keperkasaan Warso.
Setelah kejadian itu libido Vina sering tak terkendali setiap bersama Warso. Iapun sudah tidak malu lagi pada Warso untuk minta jatah dalam hubungan sex. Terkadang ia sendiri yang mendatanggi kamar Warso dan menyerahkan tubuhnya pada sopirnya itu.
Vina juga sudah terbiasa untuk melakukan oral sex dan berbagai gaya ngentot lainnya.
Hampir selama suaminya berada di Jakarta tiada waktu tanpa bersetubuh. Warso serasa telah jadi suami Vina meskipun tidak resmi dan secara kucing kucingan.
Rahasia itupun tetap terjaga hingga Vina hamil dan melahirkan anak Warso. Perkawinannya pun seakan terselamatkan oleh hadirnya Warso.
Warsopun tidak terlalu khawatir lagi akan gangguan dari pria lain sebab Vina akan terus terikat dan tidak akan lepas dari pengaruhnya.
Setiap hari mereka slalu bersandiwara seoalah hubungan mereka hanyalah sebagai sopir dan tuannya, namun jika telah berdua dan lepas dari penglihatan Indra, Vina akan utuh menjadi milik Warso.
TAMAT
novel cerita dewasa sex seks ngocok semprot.com, crot peju didalam liang kewanitaan memek vagina nonok miss v, berita gadis sekolah prawan diperkosa sampai hamil pingsan tragis, janda sange sama ngentot tetangga ketahuan anak, selebgram dan tiktokers live colmek ML ngewe ngentot link viral syur, ketagihan kontol om ayah kakak ipar tiri, biduan dangdut tobrut dikeroyok kontol, fuck my pussy. good dick. Big cock. Yes cum inside. lick my nipples. my tits are tingling. drink my breast. milk nipples. play with my big tits. fuck my vagina until I get pregnant. play "Adult sex games" with me. satisfy your cock in my wet vagina. Asian girl hottes gorgeus. lonte, lc ngentot live, pramugari ngentot, wikwik, selebgram open BO,cerbung,cam show, naked nude, tiktokers viral bugil sange, link bokep viral terbaru
